Meraih Tujuan Hakiki Pembangunan sebuah Masjid

Mirza masroor ahmad masjid baitul ikram

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 07 Oktober 2022 (07 Ikha 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 11 Rabi’ul Awwal 1444 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Ikram, Dallas City, negara bagian Texas, Amerika Serikat.[1]


Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ * (آمين)


“قل أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ ۖ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۚ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

*فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۗ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

* يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ”

Terjemahan dari ayat-ayat tersebut adalah: Katakanlah, “Tuhan-ku memerintahkan berbuat adil. Dan pusatkanlah perhatianmu di setiap tempat ibadah dan serulah Dia dengan setulus ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana Dia memulai penciptaan kamu pertama kali, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya.

Satu golongan telah Dia beri petunjuk dan segolongan lain telah pasti atas mereka kesesatan. Sesungguhnya mereka itu meninggalkan Tuhan dan menjadikan setan-setan sebagai sahabat selain Allah dan mereka mengira bahwa mereka telah mendapat petunjuk. 

Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu di setiap tempat ibadah dan makanlah, serta minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf; 7:30-32)[2]

Hari ini, Allah Ta’ala memberikan taufik kepada Anda untuk meresmikan masjid anda. Pembangunannya telah selesai beberapa waktu lalu, namun peresmiannya dilaksanakan sekarang ini. Pada awalnya, di sini dibangun sebuah aula sebagai masjid, namun sekarang Masjid secara resmi telah dibangun oleh anda. Bagaimanapun, kini telah dibangun masjid yang indah dan cukup luas dari segi daya tampung.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada mereka semua yang telah ikut ambil bagian dalam pembangunan masjid ini untuk dapat memenuhi hak masjid ini. Semoga Anda membangun masjid ini murni semata-mata demi meraih ridho Allah Ta’ala dan meraih keberkatan dari sabda Hadhrat Rasulullah (saw) ini, di mana beliau (saw) bersabda: مَنْ بَنَى مَسْجِدًا للهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ ‘Man bana Masjidan liLlaahi banAllahu fil jannati mitslahu.’ – ‘siapa yang membangun Masjid karena Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan membangunkan rumah untuknya di surga.’[3]

Tujuan masjid yang dibangun untuk memperoleh keridhoan Allah Ta’ala tidak berakhir setelah selesainya pembangunan, melainkan seseorang akan menjadi penerima keridhaan Allah Ta’ala hanya apabila dia menjalankan perintah-perintah-Nya, memenuhi hak ibadah kepada-Nya, memenuhi hak-hak para hamba, mengutamakan agama di atas duniawi dengan kesetiaan dan keikhlasan serta memenuhi hak baiatnya.

Kita beruntung bahwa kita telah menerima Imam zaman dan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw). Kita hendaknya senantiasa ingat, dengan mengimani Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan berbaiat kepada beliau (as), kita telah diberikan tanggung jawab besar. Tugas kita tidak berhenti dengan berbaiat kepada beliau (as) saja, bahkan lebih bertambah dari sebelumnya yang dengan melaksanakan itu maka barulah kita akan menjadi pewaris nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala telah janjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dengan demikian, setiap kita hendaknya memahami tanggung jawab-tanggung jawab kita. Memakmurkan masjid ini juga merupakan tanggung jawab kita untuk. Tanggung jawab kita juga untuk saling bersikap kasih sayang satu sama lain. Tanggung jawab kita juga untuk menyebarkan pesan toleransi dan persaudaraan di dunia. Tanggung jawab kita untuk menyampaikan pesan ajaran Islam yang indah kepada dunia. Adalah tanggung jawab kita untuk memberikan perhatian terhadap perbaikan diri kita dengan doa-doa yang tak pernah putus. Adalah tanggung jawab kita untuk memikirkan perbaikan generasi keturunan kita. Kemudian, barulah kita akan bisa memenuhi hak masjid.

Pada satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Bangunlah masjid di mana pun Islam akan diperkenalkan.” Kini, dengan dibangunnya masjid ini, Islam akan diperkenalkan di kawasan ini. Beberapa tetangga juga datang dan mengungkapkan kesan baik mereka. Meskipun akhir-akhir ini banyak orang yang datang dan terjadi keramaian dan kebisingan, beberapa hari yang lalu seorang tetangga yang sangat dekat datang berkunjung dan beliau mengatakan, “Kami senang bertetangga dengan Anda.” Tetapi, saya katakan bahwa kita tetap harus menjaga perasaan tetangga kita dan hendaknya tidak membuat keributan dan kebisingan yang tidak perlu di sini serta melakukan segala sesuatunya dalam batas-batas hukum. Bagaimanapun, para tetangga akan mengenal masjid ini dan mereka yang lewat di jalan pun akan mengenalinya, dan jalan pengenalan yang telah terbuka ini juga akan membuka jalan-jalan pertablighan Anda. Oleh karena itu, setiap Ahmadi harus menjadi suri teladan ajaran Islam dan hendaknya demikian.

Dunia harus melihat perbedaan yang jelas bahwa di tengah masyarakat duniawi ini terdapat orang-orang yang bersamaan dengan tinggal di dunia ini dan melakukan pekerjaan duniawi, mereka juga mengutamakan agama di atas duniawi dan menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan juga bersimpati kepada makhluk serta memberikan manfaat kepada makhluk. Ketika orang-orang duniawi melihat hal ini, rasa ingin tahu akan muncul dalam diri mereka dan kemudian ini akan membuka jalan bagi tabligh Islam. Jadi, sekarang setiap Ahmadi perlu menjadi cerminan dari pengamalan ajaran Islam lebih dari sebelumnya.

Dalam ayat-ayat yang saya tilawatkan tadi, Allah Ta’ala telah menarik perhatian pada beberapa tanggung jawab orang-orang yang berhubungan dengan masjid. Hal pertama, Allah Ta’ala berfirman, “Tegakkanlah keadilan”, dan di tempat lain dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman berkenaan dengan berlaku adil, وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا “Permusuhan suatu kaum sekalipun hendaknya jangan menjauhkan kalian dari menjalankan keadilan.” (Surah al-Maaidah, 5:9) Sekarang, dengan standar yang merupakan penegak keadilan ini, seseorang bahkan tidak dapat menyimpan pemikiran keliru mengenai orang lain. Tidak ada lagi pemikiran bagaimana mendatangkan kerugian dan kehancuran pada orang lain, bahkan orang-orang yang seperti ini akan mencari kesempatan untuk bagaimana ia dapat ikut serta memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang lain. Ketika orang-orang yang menegakkan hak-hak seperti ini ada maka secara pasti ia akan memberikan pengaruh baik terhadap lingkungan, dan pengaruh yang baik ini akan membuka jalan-jalan pertablighan. Alhasil, kaitannya dengan masjid, nasihat pertama yang disampaikan Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman dan orang-orang yang datang ke mesjid adalah, “Penuhilah hak-hak sesama para hamba Allah dan untuk itu, perkara yang terpenting adalah menegakkan keadilan.”

Sekarang, ketika Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menegakkan keadilan kepada yang kita sayangi dan bahkan terhadap pihak di luar kita serta mereka yang memusuhi kita maka betapa kita harus bersikap kasih sayang terhadap orang-orang di dalam kalangan kita sendiri. Ketika keadaan ini kita lakukan maka pandangan kasih sayang Allah Ta’ala akan tertuju kepada para pelaku seperti itu. Ketika mereka memasuki masjid untuk beribadah kepada Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan menerima ibadah mereka.

Namun, jika seseorang tidak memperlakukan istrinya dengan baik di rumahnya, selalu menjadikannya sasaran ejekan dan hinaan, anak-anak menjauh karena takut kepadanya dan dengan perbuatannya itu, dia juga menyebabkan anak-anaknya menjauh dari agama maka pengkhidmatan orang tersebut terhadap Jemaat maupun amalan-amalan ibadahnya tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala. Bahkan, dikarenakan dua perbuatannya ini, ia tidak sedang menipu orang lain, tetapi menipu dirinya sendiri. Dengan demikian, seorang beriman sejati adalah yang menegakkan keadilan di kalangan internal [sesama golongannya] maupun eksternal [di luar golongannya] yang ucapan dan tindakannya sama baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Inilah orang-orang yang pada hakikatnya memenuhi hak memakmurkan masjid karena hati mereka dipenuhi dengan rasa rakut kepada Allah Ta’ala.

Dengan demikian, tugas kita untuk meraih tolok ukur ini. Jika tidak maka hanya sekedar membangun masjid atau datang ke sini dan melaksanakan salat dengan tergesa-gesa untuk meringankan beban, hal ini sama sekali tidak berarti. Ketika seseorang meraih tolok ukur ini maka kemudian ia layaknya seorang anak kecil yang maksum (tanpa dosa) dalam pandangan Allah Ta’ala. Ia akan meraih kesudahan yang baik, karena bersamaan dengan memenuhi hak Allah Ta’ala, ia pun memenuhi hak para hamba. Maka dari itu, seseorang hendaknya jangan berbangga diri bahwa ia telah rajin salat, datang ke masjid lima kali dan mengerjakan tugas-tugas Jemaat dan merasa ini sudah cukup, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, “Siapa yang tidak memenuhi hak-hak para hamba, dia juga tidak memenuhi hak Allah Ta’ala.”[4] Alhasil, hendaknya kita jangan berpuas diri. Hamba yang sejati dan orang yang memakmurkan masjid adalah yang memiliki rasa takut terhadap Allah Ta’ala dan mengamalkan perintah-perintah-Nya.

Kemudian, Allah Ta’ala kembali memberikan penekanan, “Jika kalian tidak mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala, tidak berusaha keras untuk mengarahkan urusan-urusan kalian di jalan yang benar seraya memurnikan agama hanya untuk Allah Ta’ala maka kalian tidak akan berhasil. Jika kalian tidak secara terus menerus memberikan perhatian terhadap taubat dan istighfar maka setan akan menguasai kalian.” Pendek kata, seraya bersujud di hadapan Allah Ta’ala, berilah perhatian secara terus menerus terhadap taubat dan istighfar. Dalam lingkungan duniawi di masa sekarang ini, secara khusus perlu untuk memberikan perhatian terhadap hal ini, barulah kita akan meraih kesuksesan dan hadir di hadapan Allah Ta’ala layaknya seorang anak kecil yang maksum.

Kemunduran Islam dimulai karena rusaknya keadaan umat Islam. Ketika mereka menjadikan keadilan dan amal-amal ibadah sebagai ajang pamer atau tidak menunaikan haknya maka semuanya menjadi sia-sia. Memang, mereka membangun masjid-masjid yang indah dan sedang terus membangunnya dan akhir-akhir ini ada upaya mereka untuk menghancurkan masjid-masjid Ahmadiyah di Pakistan dengan alasan karena bentuk masjid-masjid Ahmadiyah tidak seperti masjid-masjid mereka, tidak memiliki menara, tidak memiliki mihrab, namun ‘ibaadurrahman (para hamba Allah yang Maha Penyayang) tidak lahir di masjid-masjid mereka tersebut. Mereka menganggap ini sebagai suatu kebanggaan dengan mereka berbuat zalim terhadap para Ahmadi atau berupaya membujuk para Ahmadi untuk mengikuti jalan yang benar menurut versi mereka. Bagaimanapun, pada masa-masa sebelum Hadhrat Masih Mau’ud (as), kemerosotan ini juga terjadi dikarenakan masjid-masjid hanya ramai secara lahiriah. Memang terlihat juga segelintir Muslim sejati, namun secara umum telah terjadi kemerosotan. Bagaimanapun, semua ini pasti akan terjadi dan Hadhrat Rasulullah (saw) telah mengabarkan mengenai hal ini.

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Al-Khaththab (5)

Namun, setelah zaman kegelapan, zaman terang benderang telah tiba dengan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan kita telah mendapatkan taufik untuk baiat kepada pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw) ini dengan janji bahwa kita akan mengutamakan agama di atas duniawi dan akan menjalankan perintah-perintah Al-Qur’an, maka – sebagaimana telah saya katakan – kita hendaknya memberikan banyak perhatian terhadap keadaan diri kita.

Kita hendaknya menyelamatkan masjid-masjid kita dari keadaan seperti masjid-masjid bukan Ahmadi tadi, yang mengenai itu terdapat riwayat dari Hadhrat Ali (ra) bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِىْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الْاِسْلَامِ اِلاَّ اسْمُهُ وَلاَ يَبْقَ مِنَ الْقُرْآنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَآءُهُمْ شَرُّمَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمآءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ ‘Yuusyiku ay ya-ti ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illasmuhu, wa laa yabqa minal Qur-aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu.’ – “Tidak lama lagi akan datang suatu zaman ketika tidak ada yang tersisa dari Islam selain namanya, tidak ada yang tersisa dari Al-Qur’an selain kata-kata, masjid-masjid orang-orang di masa itu secara zahir nampak ramai, namun kosong dari petunjuk. Ulama mereka adalah seburuk-buruk makhluk di antara semua makhluk yang menghuni kolong langit. Fitnah akan muncul dari mereka dan akan berbalik kepada mereka.”[5] Dan inilah yang kita saksikan di banyak masjid orang-orang Islam akhir-akhir ini. Jadi, situasi yang kita lihat hari ini merupakan peringatan bagi kita. Tiada lain yang mereka lakukan di dalam masjid-masjid tersebut selain gencar menimbulkan kekacauan, seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka memprovokasi untuk merobohkan menara dan mihrab-mihrab mesjid kita, karena mereka menganggapnya bukan masjid melainkan tempat ibadah para Ahmadi. Mereka tidak melakukan pengkhidmatan terhadap Islam dan tidak menegakkan keadilan. Alhasil, keadaan ini memberikan pelajaran bagi kita untuk bagaimana kita harus memenuhi hak-hak masjid dan sesama manusia dengan penuh ketulusan.

Dalam menafsirkan ayat pertama dari ayat-ayat yang saya tilawatkan ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keadaan Islam telah menjadi lemah bahkan dalam corak lahiriah dan fisiknya. Kekuatan dan ketangguhan tidak dimiliki oleh pemerintahan Islam masa ini. Begitu pun dari sisi ruhani, hal-hal yang dulu diajarkan dalam مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ mukhlisiina lahud diin tidak tampak lagi contohnya. Secara internal, keadaan Islam sudah sedemikian lemah, sedangkan pihak musuh ingin melancarkan serangan untuk menghancurkan Islam dari arah luar, pihak musuh Islam beranggapan bahwa umat Islam bahkan lebih buruk dari anjing dan babi sekalipun. Tujuan dan niat mereka semata mata hanya ingin menghancurkan Islam dan membinasakan umat Islam. Saat ini tidaklah mungkin untuk menghadapi mereka tanpa kitab Ilahi dan tanpa dukungan dan tanda tandanya yang terang. dan untuk tujuan ini Allah Ta’ala telah mendirikan jemaat ini dengan tangan-Nya.”[6]

Oleh karena itu, dalam keadaan seperti ini, kita yang  merupakan murid Hadhrat Masih Mau’ud (as), jika kita tidak memenuhi hak baiat dan tidak memperbaiki keadaan diri sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan tidak selalu mengawasi keadaan diri sendiri, maka kita tidak akan termasuk golongan yang memenuhi hak baiat pada masa kebanhkitan Islam kedua kali ini. Kitalah yang harus mengembalikan kredibilitas Islam yang telah hilang. Keadaan yang dilukiskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah gambaran yang sangat mengerikan dan seperti inilah pada faktanya. Kita harus memberitahu dunia, “Kalian yang menaruh kebencian terhadap Islam dan umat Muslim dan menurut kalian, mereka lebih buruk dari binatang sekalipun, tetapi ingatlah, mereka inilah orang-orang yang dengan mengamalkan ajarannya dapat menjaga kelangsungan hidup dunia.”

Maka, dengan penuh keyakinan diri dan memohon ridho Allah Ta’ala sambil bersujud di hadapan-Nya, kita harus bekerja untuk membimbing dunia.

Beberapa anak muda bertanya, seorang anak muda bertanya bagaimana kita bisa menghadapi orang yang mengolok-olok kita. Saya katakan hal yang sama kepadanya yakni kembangkan rasa percaya diri dan berpegang pada keyakinan bahwa hari ini kelangsungan hidup dunia ada di tangan kita karena kita adalah orang-orang yang beriman kepada Almasih yang dijanjikan dan kekasih sejati Rasulullah (saw) yang telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk menghidupkan dunia. Allah Ta’ala telah mengutusnya untuk menyebarkan ajaran yang dibawa oleh Nabi (saw) dan sekarang hanya dengan menjalinkan diri dengannyalah Anda dapat menata kehidupan dunia dan akhirat.

Beritahukan kepada orang-orang duniawi, “Kalian tidak boleh senang dengan gemerlap dunia dan kemajuannya. Kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang kekal dan jika seseorang pergi ke sana dengan tangan kosong, maka dia akan menghadapi kemurkaan Allah dan kemudian Dia Maha Tahu apa yang Dia lakukan.”

Tetapi, kita harus selalu memperhatikan bahwa ketika kita membuat dunia menyadari akan rincian tersebut maka setiap kata dan tindakan kita pun harus sesuai dengan ajaran ini. Standar ibadah kita pun harus tinggi, begitu juga standar pemenuhan hak-hak hamba.

Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian bersabda lebih lanjut dalam menggambarkan keadaan umat Muslim dan Islam, “Saat ini, telah timbul perubahan dalam menyebut nama Islam. Semua akhlak buruk telah memenuhi. (Artinya, akhlak mulia sudah sedemikian pudar) dan keikhlasan yang disebutkan dalam ‘Mukhlishiina Lahuddin’ telah terbang ke langit. Kesetiaan kepada Tuhan, ketulusan, cinta dan ketawakkalan kepada Tuhan telah menjadi seperti tidak ada. Sekarang Tuhan menghendaki untuk menghidupkan kembali kekuatan-kekuatan itu lagi.”[7]

Maka kita patut bersyukur bahwa kita telah menyatukan diri dengan utusan yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menopang keadaan Islam yang telah jatuh ini. Orang-orang bukan Muslim dan orang-orang anti-Islam yang menyerang Islam dan menganggap agama agung ini memalukan dan hina, di dalam keadaan ini ada andil umat Islam juga. Jika keadaan umat Islam tidak rusak maka pihak musuh tidak akan pernah berani untuk menyerang Islam.

Namun, pada masa ini kitalah yang akan menegakkan standar kesetiaan kepada Tuhan, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah bersabda, “Kita yang harus mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dengan ketulusan dan kesetiaan.”

Kitalah yang harus menebar kecintaan di setiap tempat dan menghilangkan kebencian. Kitalah yang harus  memiliki ketawakkalan sempurna terhadap Allah Ta’ala, bahwa Tuhanlah pencipta segalanya dan Islamlah yang saat ini merupakan agama sempurna dan akan unggul di dunia dan untuk itu kita harus mengerahkan segenap kapasitas kita dan menjadi penolong Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ini adalah takdir Tuhan. Pekerjaan yang Dia serahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan janji-janji yang Dia berikan kepada beliau, akan tergenapi, insya Allah. Jika kita membantu dalam hal ini maka kita akan menjadi peraih karunia Allah Ta’ala. Jika kita tidak bergerak maju, Allah Ta’ala akan mengirim kaum lain untuk membantu Hadhrat Masih Mau’ud (as), namun walau bagaimanapun pekerjaan tersebut pasti akan tergenapi (terjadi).

Jadi, kita harus memperhatikan keadaan kita dan berusaha menghilangkan kekurangan dan kelemahan yang ada. Kelemahan-kelemahan apa saja yang harus dihilangkan? Berkenaan dengan hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Sekarang adalah zaman di mana terdapat riya, kesombongan dan keangkuhan dan sejenis ketakabburan. Egoisme menganggap diri segala-galanya. Arogansi, bangga diri, angkuh dll, yakni sifat sifat buruk telah mengalami perkembangan, sedangkan Mukhlisiina Lahuddin yakni sifat-sifat baik telah menguap ke udara. Tawakkal dan tadbir dll semuanya seperti tidak berbekas. Sekarang Tuhan berkehendak untuk menyemai kembali benih-benih kebaikan tersebut.”

Beliau (as) bersabda: “Semua keburukan itu sekarang telah meningkat sedangkan perbuatan baik telah sirna, tetapi Allah Ta’ala yang paling penyayang kepada hamba-hamba-Nya, tidak ingin menyia-nyiakan hamba-Nya. Dia sekarang telah menghendaki agar kebaikan terus meningkat dan keburukan hilang.”

Alhasil, masing-masing dari kita harus memeriksa apakah kita memainkan peran kita untuk memenuhi misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini. Apakah Anda berusaha keras untuk melenyapkan keburukan? Apakah Anda berjuang keras untuk menerapkan kebajikan? Apakah kita berusaha keras untuk mencapai peningkatan standar ibadah? Taufik untuk beramal shaleh memang berasal dari karunia Allah Ta’ala. Jika kita tidak berusaha keras untuk mendapatkan karunia Allah Ta’ala, yang itu diperoleh melalui ibadah yaitu ibadah yang semata-mata untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala dan bukan hanya untuk memenuhi kepuasan diri saja maka usaha kita sia-sia atau keinginan untuk mencapai hal tersebut adalah sia-sia. Jadi, perlu untuk mengevaluasi dengan penuh ketelitian, perlu untuk banyak-banyak istighfar, perlu untuk terus-menerus melakukan amalan sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keikhlasan adalah prasyarat untuk amalan. Seperti yang difirmankan-Nya, ‘mukhlisina lahuddin’. Keikhlasan ini ditemukan di kalangan para abdaal. Dia berfirman, ‘Ingatlah dengan baik, siapa pun yang menjadi milik Tuhan maka Tuhan akan menjadi miliknya.’”

Jadi, hal ini merupakan resep yang perlu diterapkan. Jika kita sendiri tidak memenuhi hak Allah Ta’ala lantas mengatakan, “Allah tidak mendengarkan doa-doa kami.” Ada sebagian orang yang mengeluhkan demikian. Perlu untuk ditinjau dan dilihat sejauh mana kita telah memenuhi hak-hak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala begitu penyayang, sehingga meskipun banyak kesalahan yang telah kita lakukan, Dia tetap terus menurunkan anugerah-Nya kepada kita. Jadi, kita harus memperhatikan, bagaimana kita akan memenuhi hak Allah Ta’ala dan hak terbesar Allah Ta’ala adalah memenuhi hak untuk beribadah kepada-Nya.

Jika kita telah membangun masjid, maka penuhilah haknya. Datanglah untuk beribadah di dalam Masjid dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah’. Memang, ibadah dan berdiri di hadapan Allah Ta’ala dengan penghambaan abadi tidak mungkin akan terwujud tanpa kecintaan pribadi, dan yang dimaksud kecintaan di sini bukanlah kecintaan satu pihak, melainkan kecintaan dua arah, yaitu kecintaan Sang Pencipta yang menimpa manusia yang siap mati ibarat api kilat dan [kecintaan kedua] ialah yang juga memancar dari dalam orang seperti itu pada saat seperti itu akan membakar semua kelemahan manusiawinya lalu kedua kecintaan itu bergabung bersama mengendalikan segenap wujud ruhani.

Terkait:   Kunjungan ke Amerika Serikat tahun 2022

Jadi, seseorang harus menjaga shalatnya dengan segenap tawajjuh dan perhatian yang langgeng, dan itu akan terwujud ketika seseorang mencintai Allah dengan kecintaan pribadi yang tidak diperuntukkan bagi siapapun selain-Nya. Dengan begitu maka kecintaan seorang hamba kepada Allah akan menimbulkan hasil yang membawa revolusi.

Jadi, mereka yang lelah setelah sedikit berdoa atau mereka yang ingin mengetahui falsafah doa dan yang ingin mengembangkan hubungan dengan Allah Ta’ala, harus mempertimbangkan hal ini. Jangan hanya mendatangi pintu Allah Ta’ala untuk memohon pada saat membutuhkan, melainkan kembangkanlah kecintaan pribadi kepada Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan mencintai orang seperti itu dan untuk itu perlu sepenuhnya mematuhi perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Penting juga untuk mencintai Rasulullah (saw) dan menaatinya dengan semangat kecintaan. Kemudian, kecintaan kepada Allah dinyatakan dan ketika dua kecintaan ini bertemu, maka seperti yang saya katakan, hujan karunia Allah Ta’ala akan tercurah yang mana hal itu di luar jangkauan pikiran manusia.

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Dikarenakan secara fitrah manusia dilahirkan untuk Tuhan, sebagaimana firman-Nya, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ‘wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’budun‘ – ‘tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku’ – maka Allah Ta’ala telah menyimpan sesuatu untuk diri-Nya dalam fitrat manusia dan menjadikannya untuk diri-Nya sendiri melalui sarana tersembunyi. Ini menunjukkan bahwa tujuan sebenarnya penciptaan kalian adalah kalian harus beribadah kepada Allah. Tetapi, orang-orang yang meninggalkan tujuan sebenarnya dan sesuai dengan fitrah lalu beranggapan satu-satunya tujuan hidup adalah untuk makan, minum dan tidur seperti binatang maka orang yang seperti itu telah terjauh dari karunia Ilahi dan Allah Ta’ala tidak memberikan penjagaan khusus lagi atasnya. Hidup yang berada dalam penjagaan khusus-Nya itu adalah dengan pengamalan وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ‘wamaa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’budun‘. Tetapi, setelah beriman lalu mengubah sisi kehidupan yaitu, berkomitmen penuh padanya dan menjadikan ibadah sebagai maksud dan tujuannya.” Artinya, hendaknya patuh secara seutuhnya dalam hal ini, yaitu menjadikan ibadah sebagai maksud dan tujuan dirinya.

Beliau (as) bersabda: “Tiada yang tahu akan kematian. Pahamilah hal ini olehmu, tujuan Allah Ta’ala dalam membuatmu lahir adalah supaya kamu beribadah kepada-Nya dan supaya segenap dirimu menjadi untuk-Nya, dan janganlah dunia menjadi tujuan keberadaanmu.”

Beliau bersabda, “Aku berulang kali menjelaskan hal ini karena inilah satu-satunya hal yang untuknya manusia lahir, dan inilah perkara yang darinya mereka jauh. Aku tidaklah bermaksud bahwa kalian meninggalkan pekerjaan dunia, lalu meninggalkan istri dan anak serta menyendiri di hutan atau gunung. Islam tidak memperkenankan hal demikian. Berdaganglah di muka bumi dan penuhilah juga hak-hak anak dan istrimu; Inilah yang merupakan ajaran Islam.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: Kerahiban adalah bukan kehendak Islam. Islam ingin membentuk manusia menjadi sigap, cerdas, dan berkemampuan. Maka dari itu, saya sampaikan, berupayalah sungguh-sungguh dalam perniagaan kalian. Di dalam hadits tertera, ‘Siapa saja yang memiliki tanah lalu ia tidak memberdayakannya maka kelak ia akan dihisab [dimintai pertanggungjawaban] darinya.’ Alhasil, jika ada yang mengartikan untuk memisahkan diri dari pekerjaan duniawi maka ia telah melakukan kesalahan. Jadi, hal yang sebenarnya adalah, lihatlah bahwa segenap perniagaan yang kalian upayakan ini adalah bertujuan meraih keridaan Allah Ta’ala, dan janganlah kalian keluar dari kehendak-Nya lalu mendahulukan gejolak-gejolak keinginan kalian.”[8] Alhasil, ini merupakah hal yang patut direnungi. 

Beliau (as) bersabda demikian dengan penuh kepedihan, yaitu, “Aku berulang kali menekankan pada hal ini, janganlah melupakan hal ini yakni apa yang menjadi tujuan kehidupanmu.”

Jika kita mengaku berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) namun melupakan tujuan kehidupan kita maka baiat kita menjadi tidak berguna dan ucapan kita menjadi kosong belaka. Maka dari itu, setiap Ahmadi hendaknya sekuat tenaga memikirkan, merenungkan, dan menilai, “Berapa menitkah waktu yang saya berikan sepanjang hari untuk beribadah kepada Allah Ta’ala? Apakah dengan shalat yang hanya dilakukan beberapa menit (baik dengan kita memahami maknanya atau tidak) maka lantas kita dapat meraih tujuan keberadaan kita? Allah Ta’ala tidak melarang kita dari mengerjakan pekerjaan-pekerjaan duniawi. Bahkan, seorang mukmin sejati, ia dalam pekerjaannya, dalam perdagangannya, dalam pertaniannya, berupaya untuk menggapai standar tertinggi. Meski demikian, beliau (as) pun bersabda, “Janganlah kalian melupakan tujuan kelahiran kalian dalam segenap usaha duniawi itu.”

Anda sekalian harus menjaga shalat-shalat Anda. Jika masjid telah berdiri, janganlah bangga dengan keindahan lahiriahnya saja. Tetapi, perhatikanlah keindahan sejati yang adalah lahir dari orang-orang yang beribadah secara hakiki. Berjalanlah di atas ketakwaan dan berupayalah menggapai derajat-derajat ketakwaan. Ketika hal ini terwujud, Anda akan dapat disebut sebagai orang-orang yang beribadah secara hakiki.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman bahwa pekerjaan dari hamba-hamba yang beribadah secara hakiki adalah mereka pun mengupayakan kesucian lahiriah dan batiniah. Maka dari itu, orang-orang yang shalat, secara umum mereka diperintahkan untuk menjaga kebersihan pakaian-pakaiannya dan berwudu setiap sebelum shalat karena kesucian lahir pun memberi pengaruh kepada keadaan batin manusia. Selain itu, dengan berwudu pun manusia menjadi lebih segar dan ia dapat memberi perhatian yang benar ke arah shalat. 

Kemudian bersama dengan perintah shalat terdapat juga perintah, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا yaitu makan dan minumah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Salah satu makna umum darinya adalah makan makanan secara seimbang, yaitu seorang mukmin tidak berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum, sehingga dari perintah untuk tidak berlebihan dalam kedua hal tadi maka kesehatannya akan terus baik dan ia pun dapat beribadah dengan corak sebenarnya.

Kedua, hal ini pun bermakna bahwa tujuan kehidupan mukmin hakiki bukan makan, minum dan berbaring saja, karena Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa hal demikian adalah kekhususan dari hewan. Saya baru saja mengutip sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) dimana di dalamnya pun beliau menjelaskannya bahwa ini – hanya makan dan minum – adalah sifat-sifat pekerjaan hewan. Bahkan, dengan membaca lebih lanjut, maka hal ini pun bermakna bahwa janganlah mengejar (bahkan janganlah terus-menerus mengejar) hanya sarana-sarana dan keinginan duniawi semata, tetapi kenalilah apa yang menjadi tujuan dari kelahiranmu. Seorang hamba Tuhan yang hakiki pun pasti melakukan pekerjaan duniawi, tetapi ia tidak sedemikian tenggelam di dalamnya hingga ia kehilangan kesadarannya bahwa kini telah tiba waktu shalat dimana ia harus shalat; seharusnya, hendaklah ia segera berpikir saat tiba waktu shalat, “Kini waktu pekerjaan duniawi saya telah habis dan saya harus hadir di hadapan Allah Ta’ala dan shalat saya haruslah sedemikian rupa demi memenuhi hak-hak Allah Ta’ala, yaitu shalat dengan seindah-indahnya dan tidak dengan tergesa-gesa.” Bersama dengan kebersihan dan keindahan lahiriah, penuhilah juga hati kalian dengan perhiasan takwa.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Memang benar bahwa kalian diizinkan untuk makan dan minum. Segala sesuatu yang baik dan suci – halal dan thayyib – telah diciptakan untuk kalian dan jaiz bagi kalian; dan kalian diizinkan dalam berbagai perdagangan dan pekerjaan duniawi. Tetapi, apabila hal-hal ini justru menghalangi kalian dari ibadah kepada Allah Ta’ala, melupakan kalian untuk pergi ke masjid dan beribadah, maka ini adalah melampaui batas dan Allah Ta’ala tidak menyukai sesuatu yang melampaui batas.”

Orang-orang ada yang berkata bahwa mengapa sampai ada 5 shalat yang diwajibkan, hal ini sangat sulit untuk era sekarang ini. Bagaimana bisa manusia meluangkan diri dari pekerjaannya untuk melaksanakan shalat 5 waktu itu? Allah Ta’ala berfirman: “Ini tidaklah sulit; karena sesungguhnya kalian hanyalah memikirkan hal-hal duniawi dan melupakan Allah Ta’ala dan [ini] adalah hal yang melampaui batas. Lalu tindakan yang melampaui batas ini secara perlahan akan membawa kalian menjauh selangkah demi selangkah dari Allah Ta’ala.”

Tatkala Allah Ta’ala menampakkan ketidaksenangan-Nya kepada seseorang, maka orang itu tidak lagi menjadi sesuatu yang penting. Terserah ia ingin berkata apa saja bahwa ia adalah Muslim, atau ia adalah Ahmadi dan telah berbaiat kepada imam zaman sesuai dengan perintah Rasulullah (saw), tetapi amalannya terus menjadikannya menuai ketidaksenangan Allah Ta’ala. Alhasil, Allah Ta’ala telah memberikan ajaran yang berimbang, yaitu carilah penghidupan dunia, tetapi agama pun harus senantiasa dikedepankan. Janganlah melampaui batas dalam hal ini. Mukmin hakiki adalah ia yang mendahulukan agama dari dunia. Tatkala seorang insan secara hakiki mendahulukan agama daripada dunia, maka Allah Ta’ala pun akan membukakan jalan-jalan baru untuk penghidupannya; dan Dia pun akan menganugerahkan keberkatan di dalam pekerjaannya. Alhasil, siapa saja yang berjalan di atas perintah-perintah Allah Ta’ala, dan ia menjalankan kehidupannya sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala, dan ia berupaya untuk meraih standar dalam ibadah-ibadahnya, maka dengan karunia Allah Ta’ala ia pun akan mendapatkan keperluan-keperluan duniawi. 

Ya, keinginan-keinginan akan ketertarikan duniawi kini semakin meningkat. Jika ini semakin meningkat, maka ini adalah laksana api yang tidak akan padam. Jika insan tegak di atas agama, maka kehendak-kehendak duniawi ini tidak akan menyala setiap waktu. Sebab, sesungguhnya ini adalah api yang tidak pernah padam dan manusia menjadi sama sekali larut di dalamnya, sedangkan di akhirat yang merupakan kehidupan hakiki, ia tidak mendapatkan apapun.

Baginda Rasulullah (saw) bersabda: إنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ “Mereka yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah mereka yang yakin akan Tuhan dan hari Akhir.”[9] Maka dari itu hendaklah kita termasuk diantara orang-orang beriman tersebut yang memakmurkan masjid-masjid. Tanda-tanda orang yang memakmurkan masjid adalah ia yang menantikan shalat yang satu dengan shalat lainnya, yakni kapan tiba waktu shalat dan kita pergi untuk menunaikannya. Jadi, inilah tujuan pembangunan masjid, yaitu kita harus memakmurkannya dan apa upaya kita untuk memakmurkannya. 

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 09)

Alhasil, setelah membangun masjid ini, mereka yang tinggal di sini pun harus memakmurkannya, dan inilah jalan untuk menarik karunia-karunia Allah Ta’ala, untuk mengislah diri dan keturunan kita, serta mengikatkan keturunan-keturunan kita dengan Allah Ta’ala. Jika tidak, gemerlap era di zaman ini akan menjauhkan keturunan kita dari agama. Dari masa kanak-kanak lah mereka perlu untuk dipautkan dengan masjid dan diajarkan tentang pentingnya agama, dan ini adalah tugas dari kedua orang tua.

Bersama dengan itu hendaknya juga diingat bahwa dengan membangun masjid ini (sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya) dan dengan peresmian masjid ini maka jemaat akan semakin dikenal luas. Masjid ini dan Islam akan menjadi tersebar. Jalan-jalan pertabligan akan terbuka dan hubungan-hubungan akan terjalin lebih luas. Jadi, seraya menarik faedah dari hal-hal ini, setiap Ahmadi pun bertugas untuk menyebarkan pesan Ahmadiyah yang merupakan Islam hakiki. 

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) bersabda, “Saat ini Jemaat kita sangat membutuhkan masjid-masjid. Ini merupakan Rumah Tuhan. Di desa dan kota mana saja masjid kita berdiri, maka yakinlah bahwa pondasi kemajuan Jemaat telah berdiri. Namun syaratnya adalah bahwa pembangunan masjid ini disertai dengan niat yang benar dan dengan penuh keikhlasan. Tempuhlah itu semata-mata demi Allah.” 

Alhasil, sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa dengan masjid maka pondasi kemajuan jemaat telah berdiri, maka jika upaya-upaya para Ahmadi disini adalah berdasarkan keikhlasan, jika para Ahmadi mencapai standar ibadahnya, maka Insya Allah jemaat disini pun akan maju. Anggaplah bahwa kini pondasi kemajuan telah tertanam. Jadi, tingkatkanlah terus standar ibadah-ibadah dan keikhlasan Anda sekalian. Teruslah juga mewariskan keikhlasan dan pentingnya doa serta ibadah ini kepada segenap keturunan Anda sekalian, sehingga di dalam dunia materi yang penuh daya tarik ini pun kita dapat melihat lahirnya suatu revolusi.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keindahan sebenarnya dari masjid bukanlah berkaitan dengan bangunannya, tetapi dengan orang-orang di dalamnya yang shalat dengan penuh keikhlasan.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada semua untuk dapat menjadi orang-orang yang ikhlas dalam beribadah dan memakmurkan masjid ini. Semoga Allah Ta’ala pun menerima doa-doa dan ibadah-ibadah kita.[10]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Kota Dallas terletak di negara bagian Texas, di bagian selatan-tengah Amerika serikat. Wilayah ini berbatasan negara Meksiko di selatannya.

[2] Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah.

[3] ShahihMuslim: عَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لَبِيْدٍ:أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ أَرَادَ بِنَاءَ الْمَسْجِدِ فَكَرِهَ النَّاسُ ذٰلِكَ فَأَحَبُّوْا أَنْ يَدَعَهُ عَلَى هَيْئَتِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا للهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ dari Mahmud bin Labid ra bahwa Utsman bin Affan ra bermaksud hendak merenovasi Masjid, tetapi dicegah oleh orang banyak. Mereka lebih suka membiarkan Masjid itu sebagaimana adanya. Maka dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw, bersabda : ‘Siapa yang membangun Masjid karena Allah, maka Allah membuatkan (rumah yang mulia) di surga untuknya seperti Masjid itu.’”

[4] Musnad Ahmad, Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha nomor 25476 (مسند أحمد ابن حنبل حديث السيدة عائشة رضي الله عنها حديث رقم 25476) dan al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), kitab tentang fitnah dan malapetaka peperangan (كتاب الفتن والملاحم), catatan ada tiga macam (الدواوين ثلاثة): عَنْ يَزِيدَ بْنِ بَابَنُوسَ ، عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّوَاوِينُ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةٌ : دِيوَانٌ لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا ، وَدِيوَانٌ لَا يَتْرُكُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا ، وَدِيوَانٌ لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ ، فَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لَا يَغْفِرُهُ اللَّهُ : فَالشِّرْكُ بِاللَّهِ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ ، فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ } وَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لَا يَعْبَأُ اللَّهُ بِهِ شَيْئًا : فَظُلْمُ الْعَبْدِ نَفْسَهُ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ مِنْ صَوْمِ يَوْمٍ تَرَكَهُ ، أَوْ صَلَاةٍ تَرَكَهَا ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَغْفِرُ ذَلِكَ وَيَتَجَاوَزُ إِنْ شَاءَ ، وَأَمَّا الدِّيوَانُ الَّذِي لَا يَتْرُكُ اللَّهُ مِنْهُ شَيْئًا : فَظُلْمُ الْعِبَادِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا ، الْقِصَاصُ لَا مَحَالَةَ – “Dari Yazid bin Babanus, dari ‘Aisyah (ra) berkata bahwa Rasulullah (saw) bersabda, ‘Catatan (catatan dosa) di sisi Allah ada 3 (tiga). Pertama, catatan dosa yang tidak dipedulikan Allah sama sekali. Kedua, catatan dosa yang tidak ditinggalkan Allah sama sekali, dan ketiga, catatan dosa yang tidak diampuni Allah. Catatan yang tidak Allah ampuni adalah menyekutukan Allah. Allah berfirman, ‘Barang siapa yang berbuat syirik kepada Allah akan diharamkan surga baginya.’ (QS. Al-Maidah)

Adapun catatan dosa yang tidak dipedulikan Allah sama sekali yaitu seorang hamba yang mezalimi dirinya sendiri antara dia dengan Rabbnya, seperti: meninggalkan puasa, meninggalkan salat. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa yang seperti ini dan tidak menganggapnya jika Dia menghendaki.

Adapun catatan dosa yang tidak ditinggalkan Allah sama sekali yaitu kezaliman seorang hamba yang dia lakukan kepada orang lain. Tidak ada jalan keluar kecuali dengan ‘qishash’ (mendapatkan hukuman yang semisal).’” Terjemahan mengutip dari https://bekalislam.firanda.com/6418-kezaliman-merupakan-kegelapan-yang-bertumpuk-tumpuk-pada-hari-kiamat-hadis-3.html

[5] Ibnu Addiy dalam Al-Kamil; Kanzul-Umal, Juz IX, Hadits nomor 31136, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989. Tercantum dalam Al-Jaami’ li Syuabil Iman (Kumpulan cabang-cabang Iman) karya al-Baihaqi, cabang ke-18, bab nasyril ‘ilmi (penyebarluasan ilmu), pasal berkata, ‘yanbaghi li thalibil ‘ilmi..’, jilid 3, halaman 317-318, hadits 1763, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh-Saudi Arabia, 2004. يُوْ شِكُ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ, وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ, مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ.  ‘Yuusyiku ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illa ismuhu, wa laa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnatu wa fiihim ta’uudu.’ “Akan datang suatu zaman, Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an hanya tulisannya, masjid-masjidnya ramai akan tetapi kosong dari petunjuk dan para ulama mereka adalah seburuk-buruk orang yang ada di bawah kolong langit, dari sisi mereka keluar fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.” Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Ibnu Umar; Ad-Dailami dari Mu’adz ra dan Kanzul-Umal, Juz IX, Hadits nomor 31135, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989: سَيَأْتِىْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ مَا يَبْقَ مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ وَلاَ مِنَ الْاِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ يَتَسَمَّوْنَ بِهِ وَهُمْ أَبْعَدُ النَّاسِ مِنْهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, فُقَهَاءُ ذلِكَ الزَّمَانِ شَرُّ فُقَهَاءِ تَحْتَ ظَلِّ السَّمَآءِ مِنْهُمْ خَرَجَتِ الْفِتْنَةُ وَإِلَيْهِمْ تَعُوْدُ saya-ti alan naasi zamaanun maa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu wa laa minal Islami illasmuhu, yatasammauna bihi wa hum ab’adun naasi minhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, fuqahaa-u dzalikaz zamaani syarru fuqahaa-i tahta zhallis samaa-i, minhum kharajatil fitnatu wa ilaihim ta’uudu.’ – “Akan datang kepada manusia suatu zaman yang tiada Al-Quran kecuali tinggal tulisannya, dan tiada Islam kecuali namanya, mereka menamakan diri dengan Islam itu, padahal mereka itu orang-orang yang paling jauh dari Islam itu. Masjid-masjid mereka sunyi dari petunjuk, Ahli Fiqih mereka seburuk-buruk Fuqaha (Ahli Fiqih) di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.” Tercantum juga dalam Biharul Anwar (بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ٥٢ – الصفحة ١٩٠); al-Kafi karya al-Kulaini (الكافي – الشيخ الكليني – ج ٨ – الصفحة ٣٠٨); Syarh Ushul al-Kafi karya al-Mazandarani (شرح أصول الكافي – مولي محمد صالح المازندراني – ج ١٢ – الصفحة ٤٣٤).

[6] Al-Hakam (الحكم، 31/ 10/1902، ص2).

[7] Al-Hakam (الحكم، 15/3/1904، ص9)

[8] Al-Hakam (الحكم، مجلد 5، رقم 29، عدد 10/ 8/1901 م، ص 2)

[9] HR. At Tirmidzi No. 2617, Ahmad No. 11725, Ibnu Majah No. 802 Kitab al-Masaajid wal Jamaa’aat (كتاب المساجد والجماعات) bab kebiasaan ke Masjid dan menunggu shalat (باب لُزُومِ الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارِ الصَّلاَةِ): عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَالَ ‏”‏ إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالإِيمَانِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ‏{إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ}‏ الآيَةَ Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Apabila kamu sekalian melihat seseorang yang biasa ke masjid maka saksikanlah bahwa ia benar-benar beriman. Allah ‘azza wajalla berfirman, ‘Innamaa ya’muru masaajidallaahi man aamana billaahi wal yaumil aakhir wa aqaamash shalah wa aataz zakaah.’ (Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menegakkan shalat dan menunaikan zakat).

[10] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.IslamAhmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.