Para Penentang Keras Menerima Islam Setelah Fatah Makkah

menerima islam setelah fatah Mekkah

Peristiwa-Peristiwa dalam Kehidupan Hazrat Rasulullah saw. – Para Penentang Keras Menerima Islam Setelah Fatah Makkah



Khotbah Jumat Sayyidinā Amīrul Mu’minīn, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalīfatul Masīḥ al-Khāmis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullāhu Ta’ālā binashrihil ‘azīz) pada 8 Agustus 2025 di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝١ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝٢ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ۝٣ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۝٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝٥ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ۝٧

Sebelum Jalsah, sedang dibahas peristiwa-peristiwa Fatah Makkah. Saya telah menyebutkan beberapa penentang Islam yang keras dan bagaimana mereka masuk Islam. Di antara mereka, ada beberapa lagi. Wahsyi bin Harb adalah salah satunya. Dalam Perang Uhud, dialah yang mensyahidkan Hazrat Hamzah r.a.. Setelah Fatah Makkah, ia melarikan diri ke Thaif. Ketika penduduk Thaif menerima Islam, ia pun datang dan memeluk Islam.

Dalam riwayat Bukhari, masuk Islamnya Wahsyi disebutkan dengan cara yang ia sendiri ceritakan. Ia berkata, “Saya tinggal di Makkah hingga ketika Islam menyebar di dalamnya, kemudian saya pergi ke Thaif. Orang-orang mengirim utusan kepada Rasulullah saw. dan saya diberi tahu bahwa beliau saw. tidak berkeberatan dengan datangnya utusan.” Wahsyi melanjutkan, “Saya keluar bersama mereka hingga sampai kepada Rasulullah saw. Ketika beliau saw. melihat saya, beliau saw. bersabda, ‘Apakah kamu Wahsyi?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau saw. bersabda, ‘Kamu telah membunuh Hamzah.’ Saya berkata, ‘Peristiwa itu memang seperti yang telah sampai kepada Anda.’ Beliau saw. bersabda, ‘Apakah mungkin bagimu untuk menyembunyikan wajahmu dariku?’”

Ia berkata, “Setelah beliau mengatakan ini kepada saya, maka saya keluar dari sana dan pergi.” Maksud beliau saw. memintanya untuk tidak memperlihatkan wajahnya di hadapan beliau adalah agar tidak timbul lagi perasaan sedih dalam diri beliau.

            Kemudian, ketika Rasulullah saw. wafat dan Musailamah Kazzab memberontak, Wahsyi berkata, “Saya memutuskan bahwa saya pasti akan pergi menuju Musailamah untuk membunuhnya agar melalui hal itu saya dapat membalas kewafatan Hazrat Hamzah.” Ia melanjutkan, “Saya pun keluar bersama yang lainnya. Kemudian keadaannya menjadi seperti yang terjadi, yaitu Musailamah dibunuh. Saya melihat seorang laki-laki berdiri di celah dinding, tampak seperti seekor unta berwarna gandum. Rambut di kepalanya kusut.” (Ini adalah Musailamah Kazzab yang dilihat oleh Wahsyi.) “Saya lalu melemparkan tombak kepada Musailamah dan mengenainya di antara dadanya hingga tombak itu menembus keluar di antara kedua bahunya.” Ia menuturkan, “Seorang laki-laki dari kalangan Ansar berlari ke arahnya dan menyerang kepalanya dengan pedang. Akhirnya ia pun terbunuh.”

Demikian pula, ada seorang budak perempuan bernama Sarah, milik Amr bin Hasyim. Dia adalah seorang penyanyi yang datang menghadap Rasulullah saw. sebelum Fatah Makkah dan meminta sesuatu kepada beliau serta mengadukan kemiskinannya. Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana dengan nyanyianmu? Kamu dulu sering bernyanyi dan mencari uang.” Ia berkata, “Sejak para pemimpin orang-orang musyrik terbunuh dalam Perang Badar, mereka telah berhenti mendengarkan nyanyian.” Beliau saw. memberikan kepadanya seekor unta beserta gandum, kemudiandia kembali kepada kaum Quraisy.

Ibnu Khathal mengajarkan kepadanya syair-syair caci maki tentang Rasulullah saw. Meskipun telah menerima hadiah ini, ia tidak berhenti dari perbuatannya dan tetap menyanyikan syair-syair caci maki tersebut. Dari dirinya jugalah surat Hazrat Hatib r.a. ditemukan. Ia memeluk Islam dan hidup hingga masa Khilafat Hazrat Umar r.a..

Demikian pula, ada seorang budak perempuan Ibnu Khathal bernama Fartanah. Ia juga menyanyikan syair-syair caci maki tentang beliau, lalu ia pun memeluk Islam.

Kemudian tertera tentang masuk Islamnya Hazrat Harits bin Hisyam. Ia adalah seorang pemimpin yang dicintai semua orang di Makkah dan merupakan saudara Abu Jahal dari pihak ayah. Istrinya adalah saudara dari Hazrat Khalid bin Walid r.a.. Pada saat Fatah Makkah, ia dan Abdullah bin Abi Rabi‘ah masuk ke rumah Hazrat Ummu Hani r.a. karena Hazrat Ali r.a. mengejar mereka untuk membunuh mereka. Hazrat Umm Hani menyembunyikan keduanya di rumahnya, kemudian menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Saya telah memberikan perlindungan kepada mereka.” Maka Rasulullah saw. bersabda kepada Hazrat Ummu Hani r.a., “Siapa yang kamu berikan perlindungan, maka Kami pun memberikan perlindungan kepadanya.”

Harits bin Hisyam menuturkan, “Kami tinggal di rumah itu selama dua hari, kemudian kami pergi ke rumah masing-masing. Kami duduk di halaman dan tidak ada yang mengganggu kami; kami takut kepada Hazrat Umar r.a..” Ia melanjutkan, “Demi Allah, saat itu saya sedang duduk di depan pintu rumah dengan mengenakan selendang. Tiba-tiba Hazrat Umar r.a. datang bersama beberapa orang Muslim. Mereka mengucapkan salam dan berlalu.” Ia berkata, “Saya merasa malu jika Rasulullah saw. melihat saya karena beliau saw. telah melihat saya di mana-mana bersama orang-orang musyrik. Kemudian saya teringat akan kebaikan, rahmat, dan silaturahmi beliau saw. Saya lalu menemui beliau saw. ketika beliau saw. sedang memasuki Masjidil Haram. Beliau saw. menyambut saya dengan wajah yang berseri-seri. Saya mengucapkan salam kepada beliau saw. dan membaca kalimat syahadat.”

Beliau saw. bersabda, “Segala puji bagi Allah Taala yang telah memberi petunjuk kepadamu. Bagaimana mungkin orang sepertimu dapat menjauh dari Islam.” Harits berkata, “Demi Allah, saya telah melihat bahwa tidaklah mungkin menjauh dari Islam.”

Demikian pula tentang masuk Islamnya Suhail bin Amr; dia juga adalah pemimpin Makkah dan dialah yang datang sebagai wakil dari pihak Quraisy saat Perjanjian Hudaibiyah. Suhail bin Amr menuturkan, “Ketika beliau saw. memasuki Makkah dan memperoleh kemenangan, saya masuk ke rumah saya. Saya menutup pintu rumah dan mengirim putra saya, Hazrat Abdullah r.a., untuk menghadap beliau saw. agar ia memohon perlindungan dari Muhammad saw. bagi saya. Saya takut jangan-jangan saya akan dibunuh.”

Hazrat Abdullah r.a. menghadap beliau saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah saw., ayah saya memohon perlindungan dari Anda.” Penduduk Makkah memang telah diberi pengampunan dan perlindungan umum, tetapi Suhail adalah pemimpin kekafiran dan penentang yang keras, sehingga ia masih tidak merasa tenang dan yakin akan keselamatannya. Sesuai pemikiran jahiliahnya, ia terus merasa khawatir akan ada pembalasan terhadapnya. Karena itu, ia mengirim putranya sekali lagi untuk menghadap Rasulullah saw.

Beliau saw. bersabda, “Baiklah, ia dalam perlindungan Allah Taala dan dalam keamanan. Hendaklah ia keluar,” yakni berkeliling dengan bebas. Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat yang duduk di sekelilingnya, “Siapa pun di antara kalian yang bertemu dengan Suhail, janganlah menatapnya dengan pandangan tajam. Suhail yang memiliki akal dan kehormatan seperti itu tidak akan dapat bertahan lama jauh dari Islam. Ia telah melihat bahwa apa yang ia ikuti itu tidak bermanfaat baginya,” yakni keadaan kekafirannya.

Hazrat Abdullah r.a. pergi menemui ayahnya dan memberitahukan kepadanya tentang sabda Rasulullah saw. Suhail berkata, “Demi Allah, beliau saw. adalah sosok yang berbuat kebajikan sejak masa kecil, dan di usia ini pun beliau saw. tetap berbuat kebajikan.” Hazrat Suhail r.a. pun berjalan ke sana kemari dengan rasa aman. Dalam Ghazwah Hunain, beliau ikut serta bersama Rasulullah saw. dalam keadaan masih musyrik; beliau ikut serta dalam Perang Hunain tetapi belum masuk Islam pada waktu itu. Setelah kembali dari Ghazwah Hunain, di tempat bernama Ji’ranah—yang berjarak dua puluh tujuh kilometer dari Makkah dan merupakan sebuah sumur di jalan menuju Thaif—beliau menerima Islam.

Setelah menerima Islam, terjadi revolusi rohani yang menakjubkan dalam diri Hazrat Suhail r.a.. Tertera bahwa di antara para pemimpin Quraisy yang menerima Islam pada Fatah Makkah, tidak ada yang lebih taat dalam salat dan puasa serta lebih dermawan dalam sedekah daripada Hazrat Suhail r.a.. Beliau adalah orang yang sering menangis; ketika membaca Al-Qur’an, beliau kerap meneteskan air mata.

Hazrat Abu Bakar r..a. berkata, “Aku melihat dalam Haji Wadak bahwa Suhail bin Amr berdiri di tempat penyembelihan hewan kurban dan ia mendekatkan hewan kurban Rasulullah saw. kepada beliau saw. Rasulullah saw. menyembelihnya dengan tangan beliau saw. sendiri. Kemudian beliau saw. memanggil pencukur dan mencukur rambut beliau saw.” Hazrat Abu Bakar r.a. berkata, “Aku melihat Suhail menempelkan rambut mulia Rasulullah saw. yang telah dicukur itu ke matanya. Rambut Rasulullah saw. yang telah dicukur itu ketika sampai ke tangan Suhail, ia menempelkannya ke matanya.”

Hazrat Abu Bakar r.a. berkata, “Pada saat itu aku teringat bahwa Suhail inilah yang pada waktu Perjanjian Hudaibiyah melarang beliau saw. menulis Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm pada perjanjian itu dan juga berkeberatan atas penulisan kata Rasul bersama dengan nama Muhammad. Selama kata Rasulullah tidak dihapus, dia tidak mau mulai menulis perjanjian tersebut.” Hazrat Abu Bakar r.a. berkata, “Aku panjatkan puji sanjung ke hadirat Allah Taala yang telah memberi hidayah kepada Suhail menuju Islam, dan kemudian ketika diberi hidayah, ia menjadi sangat luar biasa dalam keikhlasan dan kesetiaan.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 20)  

Satu lagi jasa dari Hazrat Suhail bin Amr r.a. adalah bahwa beliau merupakan orator hebat di kalangan Quraisy. Beliau menjadi tawanan kaum Muslimin dalam keadaan kafir pada Perang Badr; beliau telah membuat tanda pada bibirnya. Hazrat Umar pada kesempatan itu mengajukan permohonan kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., cabut saja kedua gigi depannya di tempat ia membuat tanda itu. Ia tidak akan pernah bisa berdiri untuk berpidato menentang Anda saw. Cabutlah giginya, karena jika tidak ada gigi di mulutnya, maka dia tidak akan bisa berbicara dengan baik.”

Beliau saw. bersabda, “Wahai Umar, biarkanlah ia. Dalam waktu yang tidak lama lagi, ia akan berdiri pada posisi yang membuatmu memujinya.” Hazrat Umar r.a. saat itu ingin memberikan hukuman kepadanya, tetapi Rasulullah saw. bersabda, “Tidak, jangan katakan apa-apa. Akan datang suatu kesempatan ketika ia akan berdiri dalam keadaan tersebut dan berkata sedemikian rupa sehingga engkau akan memujinya.”

Keadaan ini datang ketika Rasulullah saw. wafat, saat penduduk Makkah menjadi goyah. Ketika Quraisy melihat penduduk Makkah menjadi murtad, dan Hazrat Uttab bin Usaid Umawi—yang diangkat oleh Rasulullah saw. sebagai amir untuk penduduk Makkah—bersembunyi karena keadaan menjadi sangat buruk, maka pada saat itu Hazrat Suhail bin Amr r.a. berdiri sambil berpidato dan berkata, “Wahai kaum Quraisy, kalian memeluk Islam di akhir masa; namun janganlah setelah memeluk Islam di akhir masa pun kalian menjadi yang pertama memilih kemurtadan. Demi Tuhan, agama ini akan tersebar sebagaimana bulan dan matahari tersebar dari terbit hingga tenggelam.”

Dengan demikian, Hazrat Suhail r.a. memberikan pidato panjang yang memberi pengaruh pada hati penduduk Makkah, dan mereka pun berhenti. Hazrat Uttab bin Usaid r.a. yang telah bersembunyi juga dipanggil kembali, dan kaum Quraisy pun teguh berdiri di atas Islam.

Kemudian mengenai masuk Islamnya Hazrat Utbah r.a. dan Hazrat Mu’attab r.a., tertera sebuah riwayat dari Hazrat Abbas r.a.: Pada hari Fatah Makkah, ketika Rasulullah saw. datang ke Makkah, beliau saw. bersabda kepada saya, “Di mana kedua keponakanmu, putra Abu Lahab, yaitu Utbah dan Mu’attab?”

Saya berkata, “Saya tidak melihat mereka.” Rasulullah saw. bersabda, “Saya tidak melihat mereka, di mana mereka?” Hazrat Abbas r.a. berkata, “Mereka menghindar seperti kaum musyrik lainnya.” Beliau saw. bersabda, “Bawalah mereka kepada saya.”

Hazrat Abbas r.a. lalu berkendara dan pergi ke Aranah—sebuah lembah dekat Arafat—dan membawa mereka. Beliau saw. menyeru mereka kepada Islam, lalu mereka menerima Islam dan keduanya berbaiat. Kemudian beliau saw. berdiri, memegang tangan mereka, dan membawa mereka ke Multazam, yaitu bagian dinding Baitullah antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah yang menjadi sunnah untuk dirangkul sambil berdoa. Tempat ini adalah salah satu lokasi khusus untuk dikabulkannya doa. Beliau saw. berdoa di sana beberapa waktu, kemudian kembali dengan kebahagiaan yang tampak di wajah beliau saw.

Hazrat Abbas r.a. berkata, “Wahai Rasulullah saw., semoga Allah menjaga Anda tetap bahagia. Saya melihat tanda-tanda kebahagiaan di wajah Anda.” Beliau saw. bersabda, “Aku telah meminta kepada Rabb-ku untuk kedua putra pamanku, maka Dia telah menganugerahkan mereka kepadaku.”

Kemudian mengenai masuk Islamnya Safwan bin Umayyah, putra Umayyah bin Khalaf yang merupakan pemimpin Makkah. Pada zaman jahiliah, ia termasuk di antara bangsawan Quraisy, salah satu orang paling fasih berbicara di antara mereka, dan musuh Islam yang keras. Ia adalah salah satu yang menyakiti dan menyiksa kaum Muslimin di Makkah. Setelah Perang Badr, ia juga merencanakan pembunuhan Nabi saw. dan menugaskan Umair bin Wahab untuk melaksanakan rencana tersebut.

Meskipun namanya tidak termasuk di antara orang-orang yang diperintahkan untuk dibunuh, Safwan melarikan diri dari Makkah karena takut dan khawatir akan dibunuh. Ia menuju Laut Merah ke arah Jeddah. Temannya, Hazrat Umair bin Wahab r.a., telah memeluk Islam. Inilah Umair yang dahulu dikirim Safwan ke Madinah untuk membunuh Rasulullah saw. dengan janji, “Jika kamu membunuhnya, maka pemeliharaan dan tanggung jawab anak-anak serta keluargamu akan menjadi tanggung jawabku.” Namun ketika Umair tiba di Madinah, Rasulullah saw. mengetahui seluruh rencana tersebut, dan melihat mukjizat ini, Umair langsung memeluk Islam.

Pada kesempatan Fatah Makkah, Hazrat Umair r.a. sangat berharap temannya Safwan memeluk Islam. Beliau menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah saw., Safwan adalah pemimpin kaumku. Ia telah melarikan diri karena takut kepada Anda. Mohon berikanlah ia jaminan keamanan.” Rasulullah saw. bersabda, “Ia mendapat jaminan keamanan.” Umair r.a. meminta, “Mohon berikanlah saya suatu tanda dari Anda yang dapat saya tunjukkan kepadanya sebagai bukti jaminan keamanan.” Rasulullah saw. melepas sorban yang sedang beliau saw. kenakan dan memberikannya kepada Umair r.a.

Hazrat Umair r.a. pun berangkat hingga menemui Safwan yang hendak naik kapal. Ia berkata, “Saya datang dari sosok yang paling suci dari seluruh manusia, yang paling menjalin hubungan kekerabatan dari seluruh manusia. Oleh karena itu, janganlah engkau menjerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan. Saya membawa jaminan keamanan dari Rasulullah saw. untukmu.” Safwan berkata, “Aku tidak akan kembali bersamamu hingga kamu menunjukkan kepadaku suatu tanda darinya yang aku kenali.” Maka beliau menunjukkan sorban yang diberikan Rasulullah saw.

Safwan lalu datang bersama Hazrat Umair r.a. dan menghadap Rasulullah saw. ketika beliau saw. sedang mengimami salat Asar bersama para sahabat di masjid. Ketika beliau saw. mengucapkan salam, Safwan berkata dengan suara keras, “Wahai Muhammad saw., Umair datang kepadaku membawa sorban Anda dengan mengatakan bahwa Anda telah memberikan jaminan keamanan kepadaku.” Beliau saw. bersabda, “Benar sekali.” Safwan berkata, “Berikanlah saya tenggang waktu dua bulan. Saya belum ingin memeluk Islam sekarang.” Beliau saw. bersabda, “Diberikan empat bulan, semoga kamu akan memeluk Islam.”

Safwan pun tinggal di Makkah dalam keadaan masih musyrik. Ketika Rasulullah saw. berangkat ke Hawazin, dan setelah Perang Ta’if dan Hunain beliau saw. membagi-bagikan harta ganimah, beliau saw. melihat Safwan memandangi lembah yang penuh dengan domba dan kambing. Safwan terus memandanginya, dan Rasulullah saw. juga memperhatikan hal itu. Beliau saw. bersabda, “Apakah lembah ini membuatmu takjub karena banyaknya harta di dalamnya?” Safwan berkata, “Ya.” Beliau saw. bersabda, “Lembah ini dan semua yang ada di dalamnya milikmu. Ambillah semuanya.”

Safwan mengambil semua harta tersebut dan berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat bersikap murah hati seperti jiwa Nabi ini. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw. adalah hamba dan Rasul-Nya.” Di tempat itu juga ia memeluk Islam.

Hazrat Safwan r.a. wafat di Makkah pada tahun 42 Hijriah pada masa Khilafat Hazrat Muawiyah r.a.. Ada pula yang mengatakan beliau syahid pada saat kerusuhan yang menyebabkan syahidnya Hazrat Usman r.a. Sebagian besar pemimpin Makkah yang memeluk Islam pada Fatah Makkah kemudian mengalami revolusi rohani yang luar biasa dalam kehidupan mereka.

Hazrat Muslih Mau’ud r.a. menyebutkan hal ini dengan bersabda:

Suatu kali, Hazrat Umar r.a. datang ke Makkah pada masa kekhalifahannya. Para pemimpin besar kota yang berasal dari keluarga-keluarga terkenal datang untuk menemui beliau r.a. Mereka berpikir bahwa Hazrat Umar r.a. sangat mengenal keluarga-keluarga mereka; maka dari itu, ketika beliau r.a. kini adalah seorang khalifah, beliau r.a. akan sepenuhnya menghormati keluarga-keluarga mereka, dan mereka dapat memperoleh kembali kehormatan yang hilang.

Mereka datang dan mulai berbicara dengan Hazrat Umar r.a. Saat mereka masih berbicara, Hazrat Bilal r.a. datang ke majelis Hazrat Umar r.a. Setelah beberapa saat, Hazrat Khabbab r.a. datang, dan dengan cara ini para sahabat yang termasuk awwalul īmān (orang-orang yang pertama beriman) datang satu demi satu. Mereka adalah orang-orang yang pernah menjadi hamba sahaya para pemimpin ini atau bapak-bapak mereka.

Para pemimpin Makkah saat itu sedang duduk di sana. Semua yang datang ini adalah orang-orang yang dahulu merupakan budak para pemimpin tersebut atau nenek moyang mereka, dan pada masa kekuasaan mereka dahulu, orang-orang ini biasa mendapatkan kezaliman yang sangat keras.

Hazrat Umar r.a. menyambut setiap kedatangan para sahabat tersebut dengan penuh penghormatan. Yaitu, kepada mereka yang dahulu adalah budak dan kini menjadi orang-orang terhormat, beliau r.a. menyambut mereka seperti para pemimpin. Sedangkan kepada para pemimpin Makkah, beliau r.a. berkata agar mundur sedikit ke belakang. Para pemimpin yang awalnya duduk di depan majelis, ketika para sahabat awwalin ini datang, dipersilakan mundur agar para sahabat tersebut duduk di depan.

Akibatnya, para pemimpin muda Makkah yang datang menemui Hazrat Umar itu pun terus mundur hingga mencapai pintu. Pada masa itu tidak ada aula besar, hanya ruangan kecil. Karena mereka tidak muat di dalamnya, para pemimpin itu terpaksa duduk di tempat alas kaki.

Ketika para pemimpin Makkah tersebut sampai ke tempat alas kaki dan menyaksikan langsung bagaimana satu demi satu sahabat yang dahulu budak datang, lalu demi memberi tempat kepada mereka di depan, para pemimpin Makkah itu diperintahkan untuk mundur ke belakang, maka hati mereka pun terluka sangat dalam.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 20)

Hazrat Muslih Mau’ud r.a. menulis: Allah Taala pada saat itu menciptakan keadaan sedemikian rupa sehingga satu demi satu datanglah beberapa orang Muslim yang pada suatu masa pernah menjadi budak orang-orang kafir. Jika hanya sekali para pemimpin itu diminta mundur, mereka mungkin tidak akan merasa apa-apa. Tetapi karena berulang kali mereka harus mundur, mereka tidak tahan, lalu bangkit dan keluar.

Di luar, mereka saling mengeluh, “Lihatlah betapa hinanya dan memalukannya kejadian hari ini bagi kita. Dengan kedatangan setiap hamba sahaya, kita terpaksa mundur hingga ke tempat alas kaki.”

Salah seorang pemuda di antara mereka berkata, “Siapa yang bersalah dalam hal ini? Umar atau nenek moyang kita? Jika kalian berpikir, akan jelas bahwa tidak ada kesalahan Hazrat Umar r.a. Ini adalah kesalahan nenek moyang kita yang karenanya hari ini kita menerima hukumannya. Ketika Allah mengutus Rasul-Nya, nenek moyang kita menentang beliau saw., sedangkan para budak itu menerimanya dan rela menanggung segala macam kesulitan. Maka jika hari ini kita dihinakan di majelis, tidak ada kesalahan Umar, ini kesalahan kita sendiri.”

Mendengar hal ini, yang lain berkata, “Kita memang mengakui bahwa ini akibat kesalahan nenek moyang kita. Tetapi, apakah ada cara untuk menghilangkan noda kehinaan ini?”

Mereka bermusyawarah, lalu memutuskan, “Dalam pandangan kita, tidak ada jalan keluar, mari kita tanyakan kepada Hazrat Umar r.a.”

Mereka datang dan berkata kepada Hazrat Umar r.a., “Apa yang terjadi pada kami hari ini, Anda mengetahuinya dengan baik, kami pun mengetahuinya dengan baik.”

Hazrat Umar r.a. bersabda, “Maafkan aku, aku terpaksa melakukannya karena mereka adalah orang-orang yang terhormat dalam majelis Rasulullah saw. Mungkin mereka dahulu budak kalian, tetapi dalam majelis Rasulullah saw. mereka adalah terhormat. Oleh karena itu, kewajiban ku juga untuk menghormati mereka.”

Mereka berkata, “Kami mengetahui bahwa ini akibat kesalahan kami sendiri. Tetapi, apakah ada cara untuk menghilangkan kehinaan ini?”

Hazrat Muslih Mau’ud r.a. bersabda:

Pada masa sekarang, sangat sulit bagi kita untuk memperkirakan seberapa besar pengaruh dan kekuasaan yang dimiliki oleh orang-orang yang merupakan para pemimpin Makkah sebelumnya, tetapi Hazrat Umar r.a. mengetahui dengan baik keadaan keluarga mereka karena beliau lahir di Makkah dan dibesarkan di Makkah, oleh karena itu Hazrat Umar r.a. mengetahui seberapa besar kehormatan yang dimiliki oleh nenek moyang dari para pemuda ini. Hazrat Umar r.a. mengetahui bahwa tidak ada seorang pun yang berani mengangkat mata di hadapan mereka. Beliau mengetahui seberapa besar kewibawaan dan kebesaran yang mereka miliki. Ketika mereka [para pemimpin Makkah] mengatakan hal itu, maka satu per satu, semua peristiwa itu muncul di hadapan Hazrat Umar r.a. dan beliau dipenuhi oleh perasaan kasihan.

Pada saat itu karena rasa terharu yang sangat mendalam Hazrat Umar r.a. tidak dapat berbicara, hanya mengangkat tangan dan menunjuk dengan jari ke arah utara yang maksudnya adalah bahwa di utara yaitu di Syam sedang terjadi beberapa perang Islam, jika mereka bergabung dalam perang-perang tersebut, mungkin hal itu dapat menjadi penebus dosa mereka.

Kemudian mereka bangkit dari sana dan segera berangkat untuk bergabung dalam perang-perang tersebut. Sejarah menyebutkan bahwa dari semua anak bangsawan itu, tidak ada seorang pun yang kembali hidup–semuanya gugur sebagai syahid di tempat itu dan dengan demikian mereka telah menghapuskan noda kehinaan dari nama keluarga mereka.

Diriwayatkan bahwa dalam perang Yarmuk, para pemimpin ini menunjukkan keberanian dan pengorbanan jiwa yang patut dipuji, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Hazrat Muslih Mau’ud r.a., yakni ketika perang berakhir, kaum Muslimin secara khusus mencari Ikrimah dan teman-temannya, maka tampaklah bahwa dari orang-orang itu ada 12 orang yang tengah terluka parah, di antaranya adalah Ikrimah juga. Seorang prajurit muslim datang kepada mereka dan melihat keadaan Ikrimah yang sangat buruk. Ia berkata, “Wahai Ikrimah, aku mempunyai air minum, minumlah sedikit air.” Ikrimah menoleh dan melihat bahwa di sampingnya ada Hazrat Fadhl r.a.–putra Hazrat Abbas r.a.–yang sedang terbaring dalam keadaan terluka. Ikrimah berkata kepada prajurit muslim itu, “Harga diriku tidak dapat menerima bahwa orang-orang yang telah menolong Rasulullah saw. ketika aku menjadi penentang keras beliau saw., mereka dan anak keturunan mereka mati kehausan, sedangkan aku minum air dan tetap hidup. Oleh karena itu, minumkanlah air terlebih dahulu kepada mereka yaitu Hazrat Fadhl bin Abbas r.a., jika masih tersisa barulah bawa kepadaku.”

Jadi, semangat pengorbanan baru untuk satu sama lain telah tumbuh di antara mereka. Prajurit muslim itu pergi kepada Hazrat Fadhl r.a., kemudian Hazrat Fadhl r.a. menunjuk ke arah prajurit yang terluka berikutnya dan berkata, “Minumkanlah air kepadanya terlebih dahulu. Dia lebih berhak daripada aku.” Ketika ia pergi kepada prajurit yang terluka itu, ia menunjuk ke arah prajurit yang terluka berikutnya dan berkata, “Ia lebih berhak daripada aku, minumkanlah air kepadanya terlebih dahulu.” Demikianlah, setiap prajurit yang didatanginya menyuruhnya pergi kepada prajurit lain dan tidak ada yang minum; ketika ia sampai kepada prajurit yang terluka terakhir, ia telah wafat, ia kembali kepada yang lain hingga sampai kepada Ikrimah, tetapi mereka semua telah wafat.

Kemudian Untuk Da’wat Ilallah atau bertablig, dan untuk menghancurkan beberapa berhala besar, Rasulullah saw. telah menetapkan pasukan-pasukan dan mengirim mereka. Hal ini disebutkan bahwa setelah Fatah Makkah, Rasulullah saw. mengirim pasukan-pasukan ke berbagai tempat. Pada dasarnya ini bukanlah untuk perang dan pertempuran. Tujuan mereka adalah menyampaikan seruan kepada Allah dan meruntuhkan berhala-berhala yang didirikan di beberapa tempat yang menjadi penghalang dalam beriman kepada tauhid, karena dengannya ketakutan palsu telah tertanam dalam hati manusia dan keberadaan berhala-berhala ini menjadi penghalang dalam beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan Tunggal.

Dalam pikiran sebagian besar bangsa Arab terdapat pengagungan yang sangat besar terhadap tiga berhala atau dewi. Nama-nama mereka adalah Lāt, Manāt, dan ‘Uzzā. Lāt adalah dewi yang berada di kota Ta’if. Seluruh bangsa Arab memuliakan dan menghormatinya; mereka sering bersumpah atas namanya dan mempersembahkan sesaji kepadanya. Amr bin Luhay, yang dianggap sebagai pelopor penyembahan berhala di kalangan bangsa Arab, menanamkan keyakinan dalam hati masyarakat bahwa, na‘ūżubillāh, Allah menghabiskan musim dingin di Taif di sisi Lāt, sedangkan musim panas di sisi ‘Uzzā.

Manāt adalah berhala tertua bangsa Arab. Letaknya di pesisir laut di Qudaid, antara Makkah dan Madinah. Masyarakat Arab menghormatinya dan mempersembahkan kurban untuknya. Suku Aus dan Khazraj secara khusus begitu mengagungkannya hingga mereka mengenakan ihram atas nama Manāt. Karena penghormatan tersebut, mereka bahkan tidak melakukan sai antara Safa dan Marwah. Ketika menunaikan haji, mereka tidak mencukur rambut kepala hingga kembali ke Manāt, kemudian mencukur rambut di sisinya, berdiam di sana, dan menganggap hajinya belum sempurna tanpa itu.

‘Uzzā adalah berhala terbesar suku Quraisy yang ditempatkan di dekat Nakhlah. Mereka membangun tempat penyembelihan khusus untuk mempersembahkan kurban kepadanya. Nama ‘Uzzā digunakan untuk menamai sebagian dari mereka, dan mereka pun bersumpah atas namanya. Amr bin Luhay, yang dianggap sebagai pelopor penyembahan berhala di kalangan bangsa Arab, telah menanamkan berbagai anggapan keliru mengenai berhala-berhala ini sehingga masyarakat tidak hanya sangat menghormati mereka, tetapi juga merasa takut terhadapnya. Mereka percaya bahwa, na‘ūżubillāh, Allah melewati musim-musim tertentu di sisi berhala-berhala tersebut, sebagaimana yang telah saya jelaskan.

Keyakinan semacam ini membuat kedudukan dewi ‘Uzzā semakin tinggi di mata masyarakat, sehingga sesaji dan hadiah yang biasanya dibawa ke Ka‘bah, mulai pula dibawa ke ‘Uzzā. Inilah berhala yang pada peristiwa Perang Uhud disebut oleh Abu Sufyan ketika bergembira atas kemenangan:

إِنَّ لَنَا ٱلْعُزَّى وَلَا ٱلْعُزَّى لَكُمْ

“Sesungguhnya kami memiliki al-‘Uzzā, dan tidak ada al-‘Uzzā bagi kalian.”

Secara umum, bangsa Arab memuliakan ketiga berhala ini. Namun, ‘Uzzā khusus bagi suku Quraisy, Lāt khusus bagi Banu Tsaqif, sedangkan Manāt khusus bagi suku Aus dan Khazraj.

Menurut keyakinan masyarakat Arab, ketiga berhala tersebut berjenis kelamin perempuan, yakni dianggap sebagai dewi. Qur’an Karim menyebut mereka dalam firman-Nya:

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَالْعُزّٰى- وَمَنٰوةَ الثَّالِثَةَ الْاُخْرٰى- اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى- تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى- اِنْ هِيَ اِلَّآ اَسْمَاۤءٌ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّآ اَنْزَلَ اللّٰهُ بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُۚ وَلَقَدْ جَاۤءَهُمْ مِّنْ رَّبِّهِمُ الْهُدٰىۗ

“Apakah kamu memperhatikan Lata dan ‘Uzza. Dan selain itu, tuhan yang ketiga adalah Manat. Apakah bagi kamu anak-anak laki-laki dan bagi Dia anak-anak perempuan? Yang demikian itu sungguh pembagian yang curang. Ini tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu telah memberinya, kamu dan bapak-bapakmu, yang untuk itu Allah tidak pernah memberikan kewenangan. Mereka tidak mengikuti sesuatu melainkan dugaan-dugaan dan apa yang diri mereka inginkan, padahal sesungguhnya telah datang kepada mereka petunjuk dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 20-24)

Bagaimanapun juga, sebagaimana telah disebutkan, segera setelah peristiwa Fatah Makkah, Nabi Muhammad saw. memerintahkan agar tempat-tempat penyembahan berhala tersebut dihancurkan, supaya lenyap dari hati manusia rasa takut dan penghormatan yang semu terhadapnya. Keputusan penuh hikmah ini terbukti sangat membawa keberkahan, karena dengan robohnya berhala-berhala itu, lenyap pula rasa takut dan wibawa palsu yang sebelumnya bersemayam di hati mereka. Mereka pun mulai meyakini bahwa konsep Tuhan Yang Esa dan Tunggal, yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah saw., adalah kebenaran yang sejati.

Terkait:   Pengorbanan Harta; Berakhirnya Waqf-e-Jadid tahun ke-63 dan mulai tahun ke-64 (1957-2021)

Bagaimana berhala-berhala itu diruntuhkan, bagaimana tempat-tempat itu dihancurkan, serta bagaimana reaksi yang timbul setelahnya—apakah pada awalnya terjadi perlawanan atau tidak—dan beberapa peristiwa kecil yang berkaitan dengannya, insyaallah akan dijelaskan pada bagian berikutnya.

Setelah salat, saya juga akan memimpin dua salat jenazah gaib. Salah satunya adalah untuk almarhum Tn. Chaudhry Abdul Ghafoor bin Chaudhry Ghulam Qadir dari Jamshoro, Hyderabad, yang beberapa hari lalu wafat pada usia 92 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Beliau berasal dari keluarga tuan tanah. Dari Begora Kot, pada awal tahun 1900-an, keluarga beliau pindah ke Kot Ahmadiyyah. Ayah beliau, karena kecintaannya kepada Jemaat dan Khilafat, mengirim beliau pada tahun 1942 ke Qadian untuk menempuh pendidikan tinggi, baik agama maupun duniawi. Di sana beliau menimba ilmu hingga masa Hijrah ke Pakistan, dan mendapat manfaat dari pergaulan dengan wujud-wujud suci dalam Jemaat dan para sahabat.

Setibanya di Pakistan, Tn. Chaudhry Ghafoor melanjutkan pendidikannya di Chiniot dan Rabwah, lalu kemudian meraih gelar sarjana teknik mesin di Karachi. Setelah pensiun pada tahun 1993, beliau mewakafkan hidupnya. Beliau mendapatkan taufik berkhidmat di Uganda selama dua tahun dalam sebuah proyek. Beliau adalah sosok Ahmadi pemberani, pengkhidmat kemanusiaan, berhati lapang, dan senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan finansial siapa pun tanpa membedakan latar belakang. Beliau selalu berada di barisan terdepan dalam pengorbanan harta.

Beliau pernah menjabat sebagai Qaid Daerah, aktif memberikan pengkhidmatan yang menonjol di Anṣārullāh, serta dalam jangka waktu lama mengemban amanah sebagai Sekretaris Umur Amah di Hyderabad. Beliau juga pernah diangkat oleh Hazrat Khalifatul Masih IV r.h. sebagai Amir Distrik Nawabshah dan Naushahro Feroze, yang beliau jalankan dengan penuh kesungguhan. Almarhum adalah seorang Mushi. Beliau meninggalkan tiga putra dan lima putri.

Salah satu putri beliau, Ny. Humaira, menuturkan bahwa ayahnya sering menyebut pengkhidmatan kepada sesama sebagai “saldo bank” miliknya dan meyakininya sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah Taala. Banyak sekali baik Ahmadi maupun non-Ahmadi yang kebutuhannya terpenuhi melalui beliau. Tanpa membedakan siapa pun, beliau selalu memperhatikan kebutuhan finansial para musafir, orang-orang sakit, dan orang-orang yang tidak berdaya, bahkan kerap memberikan sejumlah besar dana untuk membantu mereka.

Semangat pengorbanan harta demi kepentingan Jemaat juga sangat menonjol dalam diri beliau. Ketika Hazrat Khalifatul Masih III r.h. meluncurkan gerakan pengumpulan dana untuk perayaan seratus tahun berdirinya Jemaat, beliau segera menyambutnya. Keesokan harinya, beliau menjual rumahnya di Rabwah dan menyerahkan seluruh hasil penjualannya untuk keperluan tersebut.

Pada tahun 1966, ketika Hazrat Khalifatul Masih III r.h. melakukan kunjungan ke Sindh pasca terpilih sebagai Khalifah, beliau juga berkunjung ke rumah Tn. Chaudhry Abdul Ghafoor di Kot Ahmadiyyah, Hyderabad. Pada tahun 1981, ketika Qasr-e-Khilafat sedang dibangun di Rabwah, pemerintah hendak mengirim beliau ke Afrika untuk sebuah proyek yang sangat baik prospeknya bagi beliau. Namun, ketika beliau memohon nasihat kepada Hazrat Khalifatul Masih III r.h., beliau bersabda agar tidak pergi dan memintanya untuk mengawasi pembangunan Qasr-e-Khilafat, seperti pemasangan atap-atapnya dan lain-lain.

Maka keesokan harinya, beliau pun langsung melaksanakan pekerjaan itu dan menetap di sana. Akan tetapi, Allah Taala kemudian menganugerahkan karunia-Nya; setelah beliau kembali dan menyelesaikan masa cuti, pemerintah kembali menawarkan kontrak yang sama kepada Beliau. Beliau sering mengatakan bahwa semua itu semata-mata terjadi berkat keberkahan khilafat.

Beliau juga memiliki hubungan yang sangat erat dengan Hazrat Khalifatul Masih III r.h. dan Hazrat Khalifatul Masih IV r.h.; keduanya pernah mengunjungi beliau bahkan menginap di rumahnya. Demikian pula, ketika saya berada di Pakistan, saya juga berkesempatan mengunjungi rumah beliau dan menginap di sana. Beliau adalah sosok yang sangat ramah terhadap tamu.

Suatu ketika, saya harus melakukan perjalanan malam di wilayah Sindh pada saat kondisi tidak baik. Beliau bersikeras untuk mengantar saya sendiri. Saat itu sedang turun hujan lebat disertai badai, hingga jalanan tergenang air. Namun, beliau tetap membawa saya hingga tiba di tujuan pada malam hari. Setelah itu, saya meminta beliau untuk bermalam dan melanjutkan perjalanan di pagi hari agar tidak pergi sendirian, tetapi beliau menolak, langsung menaiki mobilnya, dan berangkat kembali pada malam itu juga. Beliau adalah seorang yang sangat pemberani.

Untuk para tahanan di jalan Allah, jasa beliau sangatlah berharga. Beliau kerap mendatangi penjara, berhubungan dengan pihak administrasi, dan mengatur fasilitas yang diperlukan bagi mereka. Semangat pelayanan kemanusiaan begitu mengakar dalam diri beliau. Beliau memperhatikan kerabat dekat, serta banyak membantu orang miskin dan yang membutuhkan. Putrinya mengatakan bahwa beliau banyak mengkhidmati mereka.

Beliau memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Nizam khilafat, selalu siap menyambut setiap seruan Khalifatul Masih, dan khilafat selalu menjadi bagian dari percakapan sehari-hari beliau. Bahkan, para kenalan beliau yang non-Ahmadi banyak memuji kebaikan beliau, serta mengakui kesan positif yang ditinggalkannya. Lingkaran pertemanan beliau sangat luas, dan di mana pun beliau berada, beliau dikenal sebagai seorang Ahmadi.

Beliau memiliki hubungan baik dengan para pejabat pemerintah dan keluarga-keluarga politik terkemuka di Sindh. Kepada mereka, beliau sering menghadiahkan Al-Qur’an yang diterbitkan Jemaat, memperkenalkan Jemaat secara terbuka, bahkan jika memungkinkan mengajak mereka berkunjung ke Rabwah.

Semoga Allah Taala mengampuni dan melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, serta menganugerahkan taufik kepada anak-anak beliau untuk melanjutkan amal-amal saleh beliau.

            Yang kedua adalah almarhum Mukarram Muhammad Ali Sahib dari Chak 275, Kartarpur, Faisalabad. Beliau wafat beberapa hari yang lalu pada usia 70 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Dengan karunia Allah Taala, beliau adalah seorang Mushi. Beliau meninggalkan tiga putra dan lima putri. Salah seorang putra beliau adalah mubalig Jemaat yang bertugas di Lusaka, Zambia, dan saat ini sedang berada di Inggris untuk menghadiri Jalsah Salanah UK, sehingga tidak dapat hadir di pemakaman ayahnya.

Tuan Taher Ahmad Saifi yang merupakan seorang mubalig mengatakan bahwa Ahmadiyah masuk dalam keluarga beliau pada awal masa Khilafat Tsaniah, ketika kakek beliau, Tn. Nasrat, menerima Ahmadiyah dan bergabung dengan Jemaat. Almarhum adalah seorang yang teratur dalam salat dan puasa, rajin tahajud, berperangai ramah, pendiam, mudah bergaul, penuh semangat pelayanan kepada sesama, serta selalu menyambut orang lain dengan senyum, serta sosok yang saleh dan mukhlis. Beliau memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Khilafat.

Dalam setiap urusan, beliau senantiasa terlebih dahulu menulis surat kepada Khalifah untuk memohon doa. Beliau berpartisipasi dengan diam-diam dalam kegiatan Jemaat dan hal-hal keagamaan, dan sejauh kemampuan, turut serta dalam pengorbanan harta. Ketika MTA dimulai, di rumah beliau belum ada televisi. Namun, begitu MTA diluncurkan, beliau segera membeli televisi agar dapat mendengarkan suara Khalifah secara langsung.

Anak beliau mengatakan, “Saya tidak ingat ada satu pun seruan Khalifah yang tidak direspons ayah saya dengan penuh semangat.” Kepada orang luar pun beliau selalu bersikap penuh kasih sayang. Di pabrik tempat beliau bekerja, beliau membantu banyak non-Ahmadi mendapatkan pekerjaan. Namun, seperti kebiasaan sebagian orang non-Ahmadi, sebagian mereka yang tidak memiliki kelapangan hati, meskipun pernah dibantu, malah mempengaruhi pihak manajemen untuk memecat beliau.

Akhirnya, beliau diberhentikan, tetapi tidak membuat keributan; beliau hanya mengadu kepada Allah Taala. Beberapa waktu kemudian, pemilik pabrik memanggil kembali dan mempekerjakan beliau pada posisi yang sama. Akan tetapi, kepada orang-orang yang pernah berbuat demikian, beliau tetap memperlakukan mereka dengan baik dan terus membantu pekerjaan mereka.

Karena perilaku baik beliau inilah—lebih daripada tablig secara  langsung—sebanyak delapan orang di kota Faisalabad menerima Ahmadiyah. Semoga Allah Taala mengampuni dan melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, serta menganugerahkan taufik kepada anak-anak beliau untuk melanjutkan amal-amal saleh beliau.[1]

Khotbah II:

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ وَنُؤْمِنُ بِهٖ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ – وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ -عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْ االلهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Shd., Mln. Fazli Umar Faruq, Shd., dan Mln. Muhammad Hasyim. Editor: Mln. Muhammad Hasyim

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.