Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 34)

pernyataan pemimpin ahmadiyah perang rusia ukraina

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 168, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 34)

  • Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz melanjutkan uraian tentang sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.
  • Dukungan Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu terhadap berbagai perintah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu contohnya ialah setelah selesai perang Badr, Nabi (saw) ingin memastikan kepulangan pasukan musuh dari wilayah Madinah dan beliau (saw) meminta para Sahabat membuntuti pergerakan pasukan musuh. Tujuh puluh pasukan Muslim termasuk  Hadhrat Abu Bakr (ra).
  • Pembahasan berdasarkan beberapa Kitab Hadits, Tarikh (sejarah) dan Sirah (biografi) mengenai berbagai segi kehidupan dan keteladanan Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.
  • Uraian mengenai peristiwa menyegarkan keimanan dan contoh tidak terbandingi Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dalam hal kecintaan kepada Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.
  • Penjelasan pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihish shalaatu was salaam mengenai Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra).
  • Penjelasan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang merupakan Mushlih Mau’ud dan Khalifatul Masih II, mengenai Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra).
  • Hudhur (atba) akan menyebutkan lebih lanjut berbagai mengenai Hadhrat Abu Bakr (ra) di khotbah mendatang.
  • Berita kewafatan dan dzikr-e-khair untuk yang terhormat Samiullah Sayyal Sahib yang merupakan Wakiluz Ziro’at di Tahrik Jadid. Beliau wafat pada usia 89 tahun. Jenazah selanjutnya, yang terhormat Sidiqah Begum Sahibah, istri Almarhum Ali Ahmad Sahib, Mu’allim Waqaf Zindegi, yang wafat beberapa hari yang lalu di usia 85 tahun. Shalat jenazah setelah shalat Jumatan.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 23 September 2022 (Tabuk 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 26 Shafar 1444 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 23 September 2022 (Tabuk 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 26 Shafar 1444 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Saya tengah membahas manaqib [keistimewaan-keistimewaan] Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra). Hari ini pun masih berlanjut topik tersebut. Hadhrat Aisyah (ra) meriwayatkan, عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها {الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ} قَالَتْ لِعُرْوَةَ يَا ابْنَ أُخْتِي كَانَ أَبُوكَ مِنْهُمُ الزُّبَيْرُ وَأَبُو بَكْرٍ، لَمَّا أَصَابَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا أَصَابَ يَوْمَ أُحُدٍ، وَانْصَرَفَ عَنْهُ الْمُشْرِكُونَ خَافَ أَنْ يَرْجِعُوا قَالَ ” مَنْ يَذْهَبُ فِي إِثْرِهِمْ “. فَانْتَدَبَ مِنْهُمْ سَبْعُونَ رَجُلاً، قَالَ كَانَ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ وَالزُّبَيْرُ “Ayat, الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar (Ali Imran :173) Berkenaan dengan itu Hadhrat Aisyah (ra) bersabda kepada Hadhrat Urwah, ‘Wahai putra saudariku, ayahmu Hadhrat Zubair dan Hadhrat Abu Bakr (ra) termasuk diantara mereka yang ketika Rasulullah (saw) terluka pada perang Uhud dan pasukan musyrik pergi, lalu Rasulullah (saw) khawatir jangan-jangan musuh akan kembali lagi. Rasulullah (saw) bersabda, “Siapa yang akan membuntuti musuh?” Diantara mereka ada 70 (tujuh puluh) orang yang menawarkan diri untuk tugas tersebut. Diantara mereka adalah Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Zubair juga.’”[1]

Ketika Abu Sufyan berada di lembah pada akhir perang Uhud dan mengatakan bahwa tahun depan di hari yang sama di tempat Badar, ada janji pertempuran lain dan Nabi (saw) menerimanya, maka Abu Sufyan segera membawa pasukannya ke Makkah.[2]

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib telah menggambarkan peristiwa selanjutnya. sebagai tindakan kewaspadaan, “Hadhrat Rasulullah (saw) segera menyiapkan sekelompok sahabat yang berjumlah 70 (tujuh puluh) orang, yang di dalamnya termasuk Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Zubair (ra), dan mengirimkan mereka untuk mengikuti laskar Quraisy. Ini adalah riwayat Bukhari.

Para sejarawan secara umum meriwayatkan bahwa beliau (saw) mengutus Hadhrat Ali (ra) dan menurut sebagian riwayat, beliau mengutus Hadhrat Sa’ad bin Abi Waqqash (ra) untuk mengikuti mereka dan bersabda kepada beliau, ‘Dapatkanlah informasi, apakah mereka berniat menyerang Madinah atau tidak.’ Beliau (saw) bersabda kepadanya, ‘Jika Quraisy menunggangi unta dan membiarkan kuda-kuda tanpa muatan, hendaknya ini dipahami bahwa mereka sedang kembali ke Makkah dan tidak memiliki niat untuk menyerang Madinah. Jika mereka menunggangi kuda, hendaknya dipahami bahwa niat mereka tidak baik.’ Beliau (saw) menekankan kepadanya bahwa jika Quraisy mengarah ke Madinah maka segera beritahu beliau (saw) dan dengan penuh gairat beliau (saw) bersabda, ‘Jika Quraisy saat ini telah menyerang Madinah, demi Allah! Kita akan menghadapi mereka dan membuat mereka merasakan serangan ini.’ Bagaimanapun, delegasi yang pergi tersebut segera pulang kembali dengan membawa kabar laskar Quraisy tengah berjalan menuju Makkah.”[3]

Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan, قَالَ أَبُو بَكْرٍ رضى الله عنه بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزُورُهَا . فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالاَ لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لاَ أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صلى الله عليه وسلم وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْىَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ . فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلاَ يَبْكِيَانِ مَعَهَا “Setelah kewafatan Hadhrat Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata kepada Hadhrat ‘Umar (ra), ‘Mari kita pergi ke rumah Ummu Ayman untuk menjumpai beliau, seperti halnya Rasulullah (saw) biasa sering mengunjungi beliau.’”

Hadhrat Anas mengatakan, “Ketika kami sampai di rumah beliau, kami dapati beliau – Ummu Ayman – tengah menangis lalu kedua orang itu bertanya, ‘Kenapa Anda menangis? Apa pun yang dimiliki Allah adalah lebih baik bagi Rasul-Nya.’

Hadhrat Ummu Ayman berkata, ‘Saya tahu bahwa apa pun yang dimiliki Allah lebih baik untuk Rasul-Nya, namun saya menangis karena sekarang wahyu telah terputus dari langit.’ Jawaban tersebut membuat kedua orang itu menangis sehingga mereka bertiga menangis bersama-sama.”[4]

Nabi (saw) bersabda: إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي “Hai manusia, Allah mengutus saya kepada kalian, namun kalian mengatakan bahwa saya pembohong, tetapi Abu Bakr (ra) membenarkan saya dan ia memperlihatkan rasa simpati kepada saya dengan jiwa dan hartanya.”[5]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengatakan, “Hadhrat Abu Bakr (ra) adalah satu-satunya yang berkenaan dengannya Rasulullah (saw) bersabda, ‘Setiap dari kalian pernah menolak saya, tapi Abu Bakr (ra) adalah orang yang di dalam dirinya tidak saya temukan kebengkokan.’”[6]

Pada kesempatan Perdamaian Hudaybiyah, ketika perjanjian damai dibuat antara Nabi (saw) dan Quraisy Makkah dan Abu Jandal dikembalikan oleh Nabi (saw) sesuai dengan syarat-syarat perjanjian, saat itu para sahabat diliputi kekecewaan yang sangat. Dalam menjelaskan hal tersebut, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad telah menulis, “Orang-orang Muslim menyaksikan pemandangan ini dan air mata mengalir disebabkan gejolak keislaman mereka, namun di hadapan Rasulullah (saw) mereka diam tidak melakukan apapun. Akhirnya, Hadhrat ‘Umar (ra) tidak sanggup menahannya lalu mendekati Nabi (saw) dan dengan gemetar beliau berkata, ‘Bukankah tuan benar-benar Nabi Allah?’

Beliau (saw) bersabda, ‘Ya, tentu saja.’

‘Umar (ra) berkata, ‘Bukankah kita ada diatas kebenaran dan musuh kita ada diatas kebatilan?’

Beliau (saw) menjawab, ‘Ya, sungguh benar.’

‘Umar (ra) berkata, ‘Lantas kini mengapa kita menanggung kehinaan jika agama kita adalah yang benar.’

Beliau (saw) melihat keadaan tabiat Hadhrat ‘Umar (ra) dan menjawab dengan singkat, ‘Perhatikan, ‘Umar (ra). Aku adalah Rasul Tuhan. Aku mengetahui kehendak Tuhan. Aku tidak dapat berjalan menentang kehendak-Nya. Dialah penolongku. Maksudnya, Allah Ta’ala-lah penolongku.’

Namun tabiat Hadhrat ‘Umar (ra) membuatnya semakin bertanya. Beliau bertanya, ‘Bukankah tuan (saw) telah bersabda kepada kami bahwa kita akan Thawaf di Baitullah?’

 Beliau bersabda, ‘Ya, aku tentu telah mengatakannya. Namun apakah aku telah berkata bahwa thawaf itu pasti akan terjadi tahun ini?’

‘Umar (ra) berkata, ‘Tidak, tuan tidak mengatakannya.’

Beliau bersabda, ‘Oleh karena itu, tunggulah, engkau pasti akan memasuki Makkah dan melakukan Thawaf di Ka’bah.’

Meskipun demikian, pergolakan hati ini tidak kunjung menentramkan Hadhrat ‘Umar (ra). Namun, karena ketinggian wibawa Rasulullah (saw), Hadhrat ‘Umar (ra) pun beranjak dari beliau (saw) dan mendatangi Hadhrat Abu Bakr (ra) serta mengutarakan gejolak sama yang beliau rasakan itu. Hadhrat Abu Bakr (ra) pun memberi jawaban seperti demikian lantas beliau memberi nasihat, ‘Wahai ‘Umar (ra), jagalah dirimu, dan janganlah engkau membiarkan renggang tali yang telah engkau eratkan kepada Rasul Allah. Karena demi Tuhan, pribadi yang kepadanya kita telah menyerahkan tangan kita, ia adalah sosok yang benar.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Saat itu saya mengutarakannya lagi akibat gejolak yang mengguncang diri saya, namun setelahnya saya sangat menyesalinya. Dan untuk bertobat darinya dan membersihkan kelemahan ini, saya telah banyak menunaikan amalan-amalan nafal, yakni saya bersedekah, berpuasa, menjalankan shalat-shalat nafal, dan memerdekakan budak-budak supaya saya terbebas dari kelemahan ini.’”[7]

Dalam menjelaskan peristiwa tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) juga telah bersabda, “Suatu ketika Rasulullah (saw) bersabda kepada para Sahabat: ‘Saya telah memberikan banyak perintah kepada kalian, tetapi kadang-kadang saya melihat corak keberatan bahkan di antara orang-orang yang sangat tulus sekalipun, tetapi saya tidak pernah melihat corak – keberatan – tersebut dalam diri Abu Bakr (ra).’

Hal ini sebagaimana pada kesempatan Perdamaian Hudaybiyyah, bahkan orang seperti Hadhrat ‘Umar (ra) pun dilanda ketakutan dan dalam keadaan panik, beliau pergi menemui Hadhrat Abu Bakr (ra). Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Bukankah Tuhan telah berjanji kepada kita bahwa kita akan melakukan umrah?’

Hadhrat Abu Bakr (ra) mengatakan, ‘Ya, itu adalah janji Tuhan.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata: berkata, ‘Bukankah Tuhan telah berjanji kepada kita bahwa Dia akan mendukung dan membantu kita?’

Hadhrat Abu Bakr (ra) mengatakan, ‘Ya.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Lalu apakah kita melakukan umrah?’

Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, ‘’Umar, kapan Tuhan mengatakan bahwa kita akan melakukan umrah tahun ini?’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Apakah kita telah meraih kemenangan dan pertolongan?’

Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih memahami dari kita arti kemenangan dan pertolongan.’

Tetapi ‘Umar (ra) tidak puas dengan jawaban ini kemudian menemui Rasulullah (saw) dalam keadaan panik seperti itu.

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw), bukankah Tuhan telah berjanji kepada kita bahwa kita akan memasuki Makkah dan tawaf.’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Ya.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, “Bukankah kita Jemaat Ilahi dan tidakkah Tuhan telah menjanjikan kita kemenangan dan pertolongan Tuhan?”

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Ya.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Ya Rasulullah (saw), apakah kita melakukan umrah?’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Kapan Tuhan mengatakan bahwa kita akan melakukan umrah tahun ini? Tadinya saya mengira umrah akan dilaksanakan tahun ini. Tuhan tidak membuat keputusan apapun.’

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Lalu apa arti dari janji kemenangan dan pertolongan?’

Nabi (saw) bersabda, ‘Pertolongan Tuhan pasti akan datang, dan apa yang Dia janjikan akan terpenuhi.’ Seolah-olah jawaban yang diberikan oleh Hadhrat Abu Bakr (ra) adalah jawaban yang sama dengan yang diberikan oleh Rasulullah (saw).”[8]

Satu-satunya perbedaan antara kedua riwayat tersebut adalah pada riwayat pertama Hadhrat ‘Umar (ra) pertama kali datang menemui Rasulullah (saw), kemudian setelah itu menemui Hadhrat Abu Bakr (ra). Sedangkan berdasarkan yang disabdakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) adalah sama, namun Hadhrat ‘Umar (ra) pertama pergi menemui Hadhrat Abu Bakr (ra) dan kemudian datang ke hadapan Rasulullah (saw).

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah, اسْتَبَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَرَجُلٌ مِنَ الْيَهُودِ. فَقَالَ الْمُسْلِمُ وَالَّذِي اصْطَفَى مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم عَلَى الْعَالَمِينَ. فِي قَسَمٍ يُقْسِمُ بِهِ. فَقَالَ الْيَهُودِيُّ وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَى الْعَالَمِينَ. فَرَفَعَ الْمُسْلِمُ عِنْدَ ذَلِكَ يَدَهُ، فَلَطَمَ الْيَهُودِيَّ، فَذَهَبَ الْيَهُودِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ الَّذِي كَانَ مِنْ أَمْرِهِ وَأَمْرِ الْمُسْلِمِ فَقَالَ  ” لاَ تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى ‘Ada dua orang yang sedang cekcok. Yang satu adalah Muslim sedangkan orang yang kedua adalah Yahudi. Si Muslim berkata, ‘Demi Dia yang telah memberikan keunggulan kepada Muhammad (saw) diatas seluruh alam.’

Si Yahudi menimpali, ‘Demi Dia yang telah memberikan keunggulan kepada Musa diatas seluruh alam.’

Mendengar itu, si Muslim menampar si Yahudi. Kemudian Si Yahudi pergi mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah (saw) apa yang terjadi antara dia dan si Muslim. Lalu Rasulullah (saw) memanggil si Muslim dan mengkonfirmasi mengenai hal itu. Si Muslim menjelaskan kepada beliau. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Jangan berikan keutamaan kepadaku melebihi Musa.’” (Riwayat Bukhari).[9]

Dalam syarh (penjelasan) hadits tersebut tertulis, “Orang Muslim yang menampar si Yahudi itu adalah Hadhrat Abu Bakr (ra).”[10]

 Dalam menjelaskan kejadian tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda sbb, “Beliau (saw) juga sangat memperhatikan perasaan para pengikut agama lain. Suatu ketika seorang Yahudi berkata di depan Hadhrat Abu Bakr (ra), ‘Aku bersumpah demi Musa, yang telah Allah unggulkan diatas semua Nabi.’ Mendengar hal ini Hadhrat Abu Bakr (ra) menamparnya.

Ketika Nabi (saw) mendengar berita tentang kejadian ini, beliau (saw) menegur seseorang seperti Hadhrat Abu Bakr (ra).”

Terkait:   Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 2) - Manusia-Manusia Istimewa Seri 96

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Coba perhatikan, saat itu yang berkuasa adalah pemerintahan Muslim. Seorang Yahudi memberikan keutamaan kepada Hadhrat Musa diatas Rasulullah (saw) dan mengatakan sesuatu yang membuat seorang yang berhati lembut seperti Hadhrat Abu Bakr (ra) pun marah lalu beliau (ra) menamparnya. Tetapi, Nabi (saw) tidak menegur si Yahudi melainkan menegur Abu Bakr (ra) dengan bersabda: ‘Mengapa Anda melakukan demikian? Dia – orang Yahudi itu – berhak untuk memiliki keyakinan apapun yang dia mau. Jika itu adalah keyakinannya, dia boleh mengatakannya.’”[11]

Dalam menjelaskan perihal kecintaan Hadhrat Abu Bakr (ra) kepada Rasulullah (saw), Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menyatakan, “Hadhrat Abu Bakr (ra) juga memiliki jalinan kecintaan kepada Rasulullah (saw). Ketika Rasulullah (saw) meninggalkan Makkah untuk memasuki Madinah, pada saat itu pun terlihat hubungan kecintaan beliau (ra). Begitupun ketika tiba waktu kewafatan Rasulullah (saw), pada saat itu pun terlihat hubungan kecintaan beliau (ra) sebagaimana ketika turun wahyu kepada Nabi (saw): إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا ‘Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia akan masuk dalam agama Allah berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau, dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.’ (Surah an-Nashr)

Di dalam ayat tersebut tersirat kabar kewafatan Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) menyampaikan khotbah dan di dalam khotbah tersebut Rasulullah (saw) mengabarkan perihal turunnya surat tersebut dan bersabda, ‘Allah Ta’ala telah memberikan izin kepada seorang hamba-Nya untuk memilih satu diantara dua pilihan yakni persahabatan dengan-Nya atau kemajuan duniawi. Lalu saya mengutamakan persahabatan dengan Allah Ta’ala.’

Ketika mendengar surah ini, wajah segenap para sahabat berseri-seri dan penuh kegembiraan dan mereka semua menyuarakan takbir memuji Allah dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah, saat itu akan datang.’

Namun tatkala semua orang bahagia, Hadhrat Abu Bakr (ra) diliputi kesedihan dan menangis. Beliau (ra) berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Biarkan orang tua, ayah, istri dan anak-anak kami dikorbankan untuk Anda. Kami siap mengorbankan segalanya untuk Anda.’

Seolah-olah sebagaimana seekor kambing disembelih ketika orang yang dicintai sakit, begitu pula Hadhrat Abu Bakr (ra) mengorbankan dirinya dan semua orang yang dicintainya demi Rasulullah.

Melihat Hadhrat Abu Bakr (ra) menangis, beberapa sahabat berkata, ‘Lihat apa yang terjadi pada orang tua ini.’ Allah Ta’ala telah memberikan pilihan kepada seorang hamba apakah dia memilih persahabatan ataukah kemajuan duniawi lalu sang hamba menyukai persahabatan. Lantas mengapa Anda menangis? Di tempat dimana janji kemenangan Islam sedang disampaikan.

Bahkan, sahabat agung seperti Hadhrat ‘Umar (ra) mengungkapkan keterkejutannya.

Rasulullah (saw) dapat merasakan tanggapan orang-orang dan melihat ketidakberdayaan Hadhrat Abu Bakr (ra) lalu berkata untuk menghiburnya, ‘Abu Bakr (ra) sangat saya sayangi sehingga jika diizinkan untuk menjadikan seseorang sebagai khalil (sahabat dekat) selain Allah Ta’ala, saya akan jadikan Abu Bakr (ra) sebagai khalil bagi saya, namun saat ini pun ia tetap teman dan sahabat saya.’

Kemudian, Rasul bersabda, سُدُّوا عَنِّي كُلَّ خَوْخَةٍ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ غَيْرَ خَوْخَةِ أَبِي بَكْرٍ ‘Saya perintahkan bahwa mulai hari ini semua jendela rumah orang yang terbuka di masjid harus ditutup, kecuali jendela Abu Bakr (ra).’[12] Dengan cara ini Nabi (saw) memuji kecintaan Hadhrat Abu Bakr (ra) karena itu adalah kecintaan yang sempurna.

Kecintaan yang telah memberi tahu Hadhrat Abu Bakr (ra) bahwa di balik berita kemenangan dan pertolongan ini adalah berita kewafatan Nabi (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra) mempersembahkan jiwanya dan jiwa orang-orang terkasih sebagai tebusan seolah-olah mengatakan, ‘Biarlah kami mati, tetapi engkau  (Rasulullah (saw))  tetap hidup.’

Bahkan, pada saat kewafatan Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr (ra) menampilkan contoh kecintaan yang luar biasa. Alhasil, Hadhrat Abu Bakr (ra) tidak mengkhawatirkan jiwanya sendiri ketika di gua Tsur, melainkan kekhawatirannya ialah demi Rasul yang mulia (saw) dan itulah sebabnya Allah secara khusus menghiburnya.”[13] Di setiap tempat dan kapan pun beliau berekspresi itu didasari kecintaan beliau kepada Nabi (saw).

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di satu tempat bersabda: “Di dalam hadits tertera bahwa suatu saat Hadhrat ‘Umar (ra) dan Hadhrat Abu Bakr (ra) saling berselisih dalam suatu hal. Perselisihan ini semakin meningkat. Hadhrat ‘Umar (ra) memiliki tabiat yang keras. Maka dari itu, Hadhrat Abu Bakr (ra) berpikir lebih baik jika beliau beranjak dari tempat itu supaya perselisihan itu tidak memanas.

Tatkala Hadhrat Abu Bakr (ra) berupaya untuk pergi, Hadhrat ‘Umar (ra) maju ke depan dan memegang kemeja beliau sembari meminta untuk menjawab ucapannya. Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) berupaya melepaskannya, kemeja beliau robek. Hadhrat Abu Bakr (ra) pun pulang ke rumah beliau.

Tetapi, Hadhrat ‘Umar (ra) meragukan dan berpikir Hadhrat Abu Bakr (ra) akan pergi mengadu kepada Rasulullah (saw). Hadhrat ‘Umar (ra) pun membuntuti dari belakang supaya ia pun dapat menyampaikan alasannya di hadapan Rasulullah (saw). Tapi, jejak Hadhrat Abu Bakr (ra) hilang dari pandangan Hadhrat ‘Umar (ra).

Hadhrat ‘Umar (ra) menganggap Hadhrat Abu Bakr (ra) pergi mengadu kepada Rasul yang mulia (saw) sehingga ia pun langsung menghadap kepada Rasul yang mulia (saw). ketika tiba di sana, ia tidak melihat Hadhrat Abu Bakr (ra). Tetapi karena di dalam hatinya telah muncul penyesalan, maka dari itu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw), saya telah melakukan kesalahan. Saya telah berlaku keras kepada Hadhrat Abu Bakr (ra). Hadhrat Abu Bakr (ra) tidak salah apapun dan sayalah yang salah.’

Tatkala Hadhrat ‘Umar (ra) tampak ada di hadapan Rasul yang mulia (saw), maka seseorang pergi menemui Hadhrat Abu Bakr (ra) untuk menyampaikan bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) pergi ke hadapan Rasul yang mulia (saw) untuk mengadu tentang Hadhrat Abu Bakr (ra). Di dalam hati Hadhrat Abu Bakr (ra) timbul pemikiran bahwa beliau pun hendaknya pergi untuk membersihkan nama beliau dan supaya tidak menjadi kesimpulan sepihak dan beliau pun ingin mengungkapkan pandangan beliau. Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) tiba di majlis Rasulullah (saw), saat itu Hadhrat ‘Umar (ra) tengah menyampaikan, “Wahai Rasulullah (saw), saya telah salah. Saya telah berselisih dengan Abu Bakr (ra), dan kemejanya telah robek akibat saya.”

Tatkala Rasulullah (saw) mendengar ini, maka muncul rona marah di wajah beliau. Beliau (saw) bersabda, إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي ‘Wahai segenap manusia! Apa yang terjadi padamu? Tatkala seluruh dunia dahulu mengingkariku, dan engkau pun memusuhiku, di saat itu Abu Bakr (ra)-lah yang mengimaniku dan menolongku dalam setiap coraknya.’ Kemudian beliau bersabda seraya sedih, ‘Apakah sekarang ini pun engkau tidak meninggalkanku dan Abu Bakr (ra)?’[14] Beliau tengah bersabda demikian tatkala Hadhrat Abu Bakr (ra) masuk.”

Dalam menjelaskan hal ini secara lebih jauh, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Inilah contoh kecintaan yang sesungguhnya.” (Yaitu peristiwa tatkala Hadhrat Abu Bakr (ra) masuk dan apa corak yang beliau tempuh). Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Inilah contoh kecintaan sesungguhnya, yakni bukannya beliau – Hadhrat Abu Bakr (ra) – menyampaikan alasan, ‘Wahai Rasulullah (saw) ini bukanlah salahku tetapi ini adalah salah ‘Umar (ra)!’, malahan, tatkala Hadhrat Abu Bakr (ra) melihat timbul kesedihan di hati Rasulullah (saw), beliau sebagai seorang pecinta sejati pun tidak dapat menanggung Rasulullah (saw) mengalami kesedihan karenanya. Seketika beliau tiba, beliau lantas berlutut di hadapan Rasulullah (saw) dan berkata, “Wahai Rasulullah (saw), ini bukan salah ‘Umar (ra) tetapi ini salah saya.”

Lihatlah betapa tingginya kecintaan Hadhrat Abu Bakr (ra). Beliau tidak sanggup menerima bila hati kekasih sejati beliau bersedih. Tatkala Hadhrat Abu Bakr (ra) melihat Rasulullah (saw) marah kepada Hadhrat ‘Umar (ra), beliau (ra) tidak merasa senang. Pada umumnya, manusia memiliki kebiasaan merasa senang tatkala ia melihat lawannya dimarahi. Tetapi, pecinta sejati ini tidak menyukai bila hati Rasulullah (saw) mengalami kesedihan, apapun sebabnya itu.

Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, ‘Saya boleh dipenjara, tetapi saya tidak akan membiarkan hati kekasih saya mengalami kesedihan.’ Dengan sangat memohon ia berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw), itu bukanlah kesalahan ‘Umar (ra), tetapi adalah kesalahan saya.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jika Hadhrat Abu Bakr (ra), semata-mata demi menjauhkan kepedihan di hati Rasulullah (saw), beliau menyatakan diri beliau bersalah meskipun telah terzalimi supaya hati Rasulullah (saw) tidak bersedih, apakah mungkin seorang hamba beriman tidak melakukan suatu amal perbuatan demi keridaan Allah Ta’ala yang mana itu akan mendekatkan keridaan Allah Ta’ala kepadanya?”[15]

Inilah juga tanda seorang mukmin, yaitu demi meraih keridaan Allah Ta’ala, ia melakukan suatu perbuatan dan ia tidak melakukan apapun pekerjaan yang darinya Allah Ta’ala akan marah. Terkait ini, peristiwa ini memberikan permisalannya.

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di satu tempat bersabda, “Suatu saat, dibawakanlah satu naskah Taurat ke hadapan Rasulullah (saw) dan dikatakan, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Ini adalah Taurat.’ Menyaksikan hal ini, Rasulullah (saw) pun diam. Namun, Hadhrat ‘Umar (ra) membuka Taurat itu dan mulai membacanya. Atas hal ini, tampak rona ketidaksenangan di wajah Rasulullah (saw). Hadhrat Abu Bakr (ra) yang melihat hal ini, beliau lantas memarahi Hadhrat ‘Umar (ra) dan berkata, ‘Apakah Anda tidak melihat bahwa Rasulullah (saw) tidak menyukainya?’

Mendengar ucapan beliau ini, timbul jugalah perhatian dalam diri Hadhrat ‘Umar (ra) sehingga beliau melihat wajah Rasulullah (saw). Tatkala Hadhrat ‘Umar (ra) melihat tanda-tanda ketidaksenangan di wajah beliau (saw), Hadhrat ‘Umar (ra) pun memohon maaf kepada Rasulullah (saw).”[16]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) telah menerangkan peristiwa ini dalam menyampaikan tafsir suatu ayat Al-Quran. Mengenai kemarahan Rasulullah (saw), ini dikarenakan Hadhrat ‘Umar (ra) yang telah menilawatkan suatu ayat dari Taurat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Jadi, inilah alasannya, dan bukan disebabkan ia membaca Taurat. Jika ada yang tertarik untuk membaca tafsir tentang ini, rincian tentang ini pun tertera di Tafsir Kabir Jilid 6 surah An-Nur ayat 3, dan dapat dibaca di sana.[17]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Bukti betapa kecintaan sahabat kepada Rasul yang mulia (saw) dapat dilihat dari satu peristiwa Hadhrat Abu Bakr (ra) berikut: ‘Setelah kewafatan Rasulullah (saw), tatkala sebagian kabilah Arab telah menolak untuk membayar zakat, Hadhrat Abu Bakr (ra) pun siap untuk berperang menghadapi mereka. Kondisi di saat itu adalah sedemikian rupa genting dimana sosok berpengaruh seperti Hadhrat ‘Umar (ra) pun menyampaikan saran agar hendaknya bersikap lunak terhadap orang-orang itu. Namun, Hadhrat Abu Bakr (ra) menjawab, ‘Putra Abu Quhafah tidaklah memiliki kekuatan untuk membatalkan perintah yang telah diberikan oleh Rasulullah (saw). Demi Allah, jika orang-orang ini pun memberikan hanya seutas tali pengikat unta sebagai zakat di masa Rasulullah (saw), saya pun akan mengambilnya dari mereka. Dan saya tidak akan berhenti selama zakat itu tidak dibayar oleh mereka.’ Ini adalah riwayat Bukhari.”

Hadhrat Abu Bakr (ra) bersabda, ‘Jika Anda sekalian tidak dapat mendukung saya dalam perkara ini, tidak mengapa. Saya sendiri yang akan menghadapi mereka.’ Betapa ini merupakan contoh kesetiaan kepada Rasul, karena dalam keadaan yang sangat genting ini, dimana para sahabat terkemuka pun mengusulkan agar menghindari peperangan, namun demikian beliau siap untuk menanggung segala macam bahaya demi memenuhi perintah Rasulullah (saw).

Demikian pula saat para sahabat berupaya keras menahan kepergian pasukan Usama, Hadhrat Abu Bakr (ra) tetap bersabda, ‘Kendati pun musuh sedemikian rupa tangguh, dimana mereka sanggup menaklukkan Madinah, sehingga mayat para wanita Muslim pun akan diseret oleh anjing-anjing, saya tetap tidak dapat menahan pasukan yang telah disiapkan oleh Rasulullah (saw) untuk dikirim.’”[18]

Hadhrat Jabir menjelaskan, قَالَ لِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم  ” لَوْ جَاءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا ثَلاَثًا “. فَلَمْ يَقْدَمْ حَتَّى تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، فَأَمَرَ أَبُو بَكْرٍ مُنَادِيًا فَنَادَى مَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عِدَةٌ أَوْ دَيْنٌ فَلْيَأْتِنَا. فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَعَدَنِي. فَحَثَى لِي ثَلاَثًا “Rasulullah (saw) bersabda, ‘Jika harta dari Bahrain datang kepadaku, maka aku akan memberi Anda semua sekian dan sekian.’ (beliau menyampaikan dengan isyarat tangan beliau). Namun harta itu datang tatkala Nabi (saw) telah wafat. Ketika harta dari Bahrain tiba, Hadhrat Abu Bakr (ra) lalu memerintahkan kepada penyeru agar mengumumkan bahwa siapa saja yang telah mendapatkan janji dari Rasulullah (saw), hendaknya mereka datang kepada beliau. Mendengar ini seseorang berkata “Saya pun datang menemui beliau dan berkata bahwa Rasulullah (saw) telah menjanjikan sekian dan sekian kepada saya. Hadhrat Abu Bakr (ra) memberikan 3 lab (genggam penuh) kepada saya.’”[19] Itu artinya, Ali bin al-Madini [perawi Hadits ini] berkata, “Sufyan [perawi Hadits ini menggambarkan] mengangkat kedua telapak tangannya yang rapat penuh dan memberikan seperti ini 3 kali kepada saya.”[20]

Hadhrat Abu Said Khudri menjelaskan, “Tatkala datang harta dari Bahrain, saya mendengar penyeru yang mengumumkan bahwa siapa saja yang telah dijanjikan sesuatu oleh Rasulullah (saw) maka hendaknya ia datang. Orang-orang lalu datang ke hadapan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan beliau pun memberikannya kepada mereka.

Kemudian datanglah Hadhrat Abu Basyir al-Mazini. Ia berkata, ‘Rasulullah (saw) telah bersabda, “Wahai Abu Basyir, jika datang harta kepada kami, maka datanglah kemari.”’ Atas hal ini Hadhrat Abu Bakr (ra) lalu memberi 2 atau 3 lab (genggam penuh) kepadanya, dimana semua itu berjumlah 1400 dirham.”[21] Lab artinya kedua genggam tangan penuh

Suatu saat para sahabat tengah berbincang dengan Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra), dan beberapa saat kemudian beliau berkata kepada pelayan beliau, “Berilah air minum.” Pelayan itu beberapa saat kemudian membawa mangkuk tanah. Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) memegang mangkuk itu dengan kedua tangan beliau. Tatkala beliau mendekatkannya ke mulut demi menghilangkan haus, beliau melihat bahwa mangkuk itu penuh dengan madu yang dicampur juga dengan air. Beliau meletakkan mangkuk itu dan tidak meminumnya. Lalu beliau melihat ke pelayan beliau dan bertanya kepadanya apakah ini. Pelayan itu menjawab, “air itu telah dilarutkan dengan madu.” Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) lalu melihat ke mangkuk itu dengan seksama. Baru beberapa saat saja air mata pun jatuh mengalir dari kedua mata beliau. Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) menangis dengan sangat tersedu-sedu. Sembari menangis, suara beliau pun meninggi hingga jeritan yang keras pun keluar dari diri beliau.

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Khattab Ra (Seri 19)

Orang-orang mendatangi beliau dan berupaya menghibur beliau dengan berkata, “Wahai Khalifah Rasul, Apa yang terjadi? Mengapa Hudhur sedemikian rupa menangis? Ayah Ibu kami siap berkorban demi Anda. Mengapa Hudhur menangis dengan sangat terisak-isak?”

Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) tidak menghentikan tangisan beliau sehingga orang-orang di sekeliling beliau pun mulai menangis melihat beliau. Mereka terus menangis hingga terdiam, namun Hadhrat Abu Bakr (ra) terus menangis tanpa henti. Tatkala air mata beliau berhenti mengalir, orang-orang lantas menanyakan sebab beliau menangis. Mereka berkata, “Wahai Khalifah Rasul (saw), tangisan apakah ini? Apakah sesuatu yang telah membuat Hudhur menangis?”

Hadhrat Abu Bakr (ra) mengusap air mata dengan ujung kain beliau serta berupaya menguasai diri beliau dan bersabda, “Saya saat itu ada di hari-hari sakit menjelang kewafatan Nabi yang mulia (saw). saya saat itu melihat Rasulullah (saw) tengah menjauhkan sesuatu dari tangan beliau, namun saya tidak melihat sesuatu itu. Saat itu, beliau dengan suara lemah bersabda, “Menjauhlah dari saya, menjauhlah dari saya.”

Saya melihat ke sekeliling saya namun saya tidak melihat sesuatu pun.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah (saw), saya melihat Hudhur (yang mulia) tengah menjauhkan sesuatu dari diri Hudhur, namun saya tidak melihat sesuatu pun di sekitar Hudhur.”

Hudhur Akram – Baginda yang mulia Nabi – (saw) menengadah ke arah saya dan bersabda, “Pada hakikatnya itu adalah dunia yang datang ke arah saya dengan segala kemegahannya. Saya berkata kepadanya, ‘Menjauhlah’ (Yaitu, saat itu beliau telah melihat suatu pemandangan kasyaf) Alhasil ia [yakni dunia] pun menjauh sembari berkata demikian, “Jika Anda telah terbebas dari saya, maka bagaimana dengan orang-orang yang akan datang setelah Anda? Mereka tidak akan selamat dari saya.”

Kemudian Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) dengan penuh kegelisahan menggelengkan kepala beliau, dan dengan suara penuh kesedihan bersabda, “Wahai manusia, saya pun telah merasa takut karena madu yang terlarut di dalam air ini, yaitu jangan sampai dunia ini menguasai saya. Karena itulah saya menangis tersedu-sedu.”[22] Jadi, inilah rasa takut beliau kepada Allah Ta’ala.

Di penaklukan Irak, didapatlah satu kain sangat mahal. Hadhrat Khalid atas usulan dari penasihat pasukan, beliau mengirim kain itu sebagai hadiah kepada Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) dan menulis agar Hudhur mengambilnya. Hadiah itu disampaikan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) tetapi beliau tidak bersedia mengambilnya dan tidak pula beliau memberinya kepada keluarga beliau, namun beliau memberikannya kepada Hadhrat Imam Husain.[23]

Lanjutan bagian ini, Insya Allah akan disampaikan kemudian.

Saat ini saya ingin menyampaikan riwayat dua Almarhum dan setelah ini saya juga akan memimpin salat jenazah gaib untuk mereka. Insya Allah.

Pertama, yang terhormat Samiullah Sayyal Sahib yang merupakan Wakiluz Ziro’at di Tahrik Jadid. Beliau wafat pada usia 89 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau seorang Mushi. Ayahanda beliau adalah Rahmatullah Sayyal Sahib. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga Samiullah Sayyal Sahib melalui ayahanda beliau, Rahmatullah Sayyal Sahib, yang baiat pada tahun 1938 di masa Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra). Pada saat itu Samiullah Sayyal Sahib berusia 4 tahun. Ketika ibunda beliau mengetahui perihal baiat tersebut, beliau meninggalkan suaminya dan membawa Almarhum yang anaknya besertanya.

Ketika peristiwa ini disampaikan ke hadapan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra), Hudhur (ra) bersabda kepada ayahanda beliau, “Ajukan ke pengadilan dan ambillah kembali anak tersebut.” Maka, setelah dilakukan persidangan, anak tersebut diambil kembali. Demikianlah Almarhum jatuh dalam pengasuhan ayahandanya dan beliau merawat Almarhum. Ayahanda Samiullah Sahib syahid dalam kerusuhan di Punjab Timur. Setelah itu, semua kerabat beliau yang ghair Ahmadi berusaha untuk mengambil kembali beliau dan berupaya menjauhkan beliau dari Jemaat, namun beliau tidak meninggalkan Ahmadiyah.

Pada tahun 1949, beliau lulus matrik dari Ta’limul Islam School. Pada tahun 1954, beliau meraih gelar B.A. dari Ta’limul Islam College. Kemudian pada tahun 1956 beliau meraih gelar M.A. Statistika dari Government College Lahore. Beliau memiliki dua orang putra. Salah satu putra beliau adalah seorang dokter di Kanada dan yang kedua, Iftikharullah Sayyal Sahib adalah seorang waqaf zindegi yang bertugas di Rabwah.

Pada tahun 1949 Sayyal Sahib mewaqafkan diri dan bersama dengan para waqifin zindegi lainnya beliau dites dan diwawancarai dan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) sendiri yang menguji beliau. Setelah itu, atas instruksi dari Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), beliau mendaftar untuk pendidikan lanjutan di Ta’limul Islam College, Lahore, di mana beliau sebelumnya menyelesaikan gelar B.Sc dan kemudian memperoleh gelar M.Sc. Statistik.

Pada 1953, beliau pertama kali ditugaskan di kantor, kemudian seterusnya beliau berkhidmat di berbagai kantor yang berbeda. Dari tahun 1960 hingga 1963 beliau mendapatkan taufik berkhidmat di Sierra Leone.

Pada tahun 1983, Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rh) menetapkan beliau sebagai Wakiluz Ziro’at dan Sana’at wa Tijarot. Dari tahun 1988 hingga 1999 beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Wakilud Diwan dan dari tahun 1999 hingga 2012 sebagai Wakiluz Ziro’at dan Sana’at wa Tijarot. Dari tahun 2012 hingga wafat beliau menjabat sebagai Wakiluz Ziro’at. Masa pengkhidmatan beliau mencakup 69 tahun. Selain itu beliau juga sebagai anggota dari berbagai komite di Anjuman dan Tahrik Jadid serta sebagai Direktur dari beberapa perusahaan yang terdaftar. Demikian juga di Khudamul Ahmadiyah beliau mendapatkan taufik berkhidmat di berbagai departemen dalam kurun waktu yang sangat lama.

Istri beliau, Amatul Hafiz Sayyal Sahibah menuturkan, “Dalam 60 tahun kehidupan pernikahan, saya melihat beliau seorang yang sangat baik, bersimpati pada sesama, bertawakal dan penuh kasih sayang. Beliau mendahulukan orang lain daripada dirinya sendiri dalam segala hal dan mengutamakan perintah-perintah Khalifah-e-Waqt di atas segala perkara.” Beliau menuturkan, “Ketika menikah dengan saya, beliau sejak awal memberikan pemahaman kepada saya bahwa beliau seorang Waqif Zindegi dan istri dari seorang Waqif Zindegi adalah Waqfi Zindegi juga.”

Istri beliau kemudian menuturkan, “Beliau seorang yang menyantuni orang-orang miskin dan beliau juga sangat mengkhidmati tamu yang datang ke rumah kami.”

Putra beliau, Iftikharullah Sayyal menuturkan, “Sejak masih kanak-kanak pun beliau sangat setia dan cinta terhadap Jemaat. Ketika ayahanda beliau syahid pada peristiwa kerusuhan di tahun 1947, beliau menjadi benar-benar sendiri dan sebagaimana telah disampaikan, di antara kaum kerabat beliau hanya ayah beliau yang Ahmadi dan ibunda beliau juga pergi meninggalkan beliau. Kaum kerabat beliau mengatakan kepada beliau bahwa, “Tinggalkanlah Ahmadiyah, kami akan menanggung seluruh biaya hidup dan pendidikanmu.”

Namun dikarenakan kecintaannya pada Ahmadiyah dan keyakinannya pada kebenaran Ahmadiyah, beliau memberikan jawaban dengan mengatakan, “Sekalipun saya harus mati kelaparan, saya tetap tidak akan meninggalkan Ahmadiyah”, dan selanjutnya beliau senantiasa teguh pada keimanannya ini. Beliau sangat menginginkan silsilah waqaf terus berlangsung dalam keturunan beliau.”

Putra beliau menuturkan, “Ketika saya mewaqafkan diri, beliau sangat senang dan datang ke London. Lalu beliau sendiri memberitahukan hal ini kepada Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. Beliau (rh) mengungkapkan kegembiraan beliau bahwa waqaf yang sejati adalah yang mata rantainya terus berlangsung di antara anak keturunan. Ketika kesulitan agama maupun duniawi datang, beliau bersujud di hadapan Allah Ta’ala dan berdoa dengan penuh rintihan untuk mendapat solusi  dari kesulitan tersebut.”

Kemudian seorang putra beliau lainnya menulis, “Saya tidak pernah melihat beliau terlewat melaksanakan tahajud satu kali pun sepanjang hidupnya. Beliau biasa membantu orang-orang miskin dengan segala cara yang memungkinkan.” Putra beliau menuturkan, “Setelah kewafatan beliau, banyak orang datang kepada saya dan secara khusus menceritakan, ‘Ketika kami memerlukan uang untuk suatu keperluan, kami datang kepada Sayyal Sahib dan beliau selalu membantu kami.’

Dalam beberapa kesempatan, di rumah sedang menghadapi suatu permasalahan dan pada saat bersamaan ada kesempatan untuk mengkhidmati Jemaat, maka pada kesempatan seperti itu beliau biasa pergi untuk tugas Jemaat dan menyerahkan segala permasalahan rumah tangga beliau kepada Allah Ta’ala.”

Menantu beliau menuturkan, “Almarhum senantiasa mengajarkan kepada saya kecintaan dan kesetiaan pada Jemaat dan beliau sangat yakin terhadap setiap perkataan yang keluar dari lisan Khalifah-e-Waqt. Kaitannya dengan hal ini, Almarhum menceritakan bahwa ketika di masa-masa awal mewaqafkan diri, beliau datang ke hadapan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra). Pada masa itu, untuk kedua kalinya Churcill menjadi Perdana Menteri [Inggris] di usia 80 tahun, Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) berkata kepada beliau, ‘Jika Churcill bisa menjadi Perdana Menteri di usia 80 tahun, mengapa anda tidak bisa mengkhidmati Jemaat hingga usia tersebut?’

Maka, pada waktu itu Almarhum mengambil kesimpulan dari sabda Hudhur (ra) tersebut, ‘Kita yang tergabung dalam kelompok pewaqaf zindegi ini, usia kita pasti minimal akan mencapai 80 tahun dan Allah Ta’ala akan memberikan taufik untuk berkhidmat hingga usia 80 tahun. Oleh karena itu, Chaudry Hamidullah Sahib dan Muslihuddin Sahib yang merupakan sahabat beliau, semuanya mencapai usia lebih dari 80 tahun.’” Ini bukan dikisahkan oleh menantu beliau, melainkan oleh putra beliau.

Menantu beliau menuturkan, “Ayah saya wafat ketika saya masih kecil dan di rumah mertualah saya mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari beliau. Dalam 20 tahun kehidupan pernikahan saya, saya selalu melihat kebaikan dan kasih sayang seorang ayah dari beliau. Beliau adalah seorang pecinta sejati Ahmadiyah dan Khilafat. Beliau biasa menyantuni orang-orang miskin, pengkhidmat tamu dan seorang yang jujur. Beliau biasa berdzikr Ilahi sambil berdiri maupun duduk. Beliau mensyukuri hal-hal yang kecil.

Beliau juga berperan besar dalam tarbiyat anak-anak saya. Beliau mengingatkan mereka untuk mempelajari terjemahan Al-Qur’an dan membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan kemudian menguji mereka juga.

Setiap kali anak-anak duduk bersama kakek, beliau senantiasa menceritakan sejarah Jemaat dan peristiwa-peristiwa yang menggambarkan kasih sayang dan cinta dari para Khalifah. Jika ada anak kecil sekalipun yang datang ke rumah, beliau tidak akan membiarkannya pergi meninggalkan rumah tanpa menyambutnya dan menjamunya.”

Basil Sahib, Naib Wakiluz Ziro’at menulis, “Sami’ullah Sayyal Sahib adalah sosok yang penuh simpati terhadap sesama. Beliau sangat mencintai Khilafat. Beliau juga biasa membantu para karyawan di kantor secara finansial. Beliau selalu menasihatkan untuk senantiasa menjalin hubungan dengan Khalifah-e-Waqt. Beliau selalu mengajarkan bahwa setiap senuang Jemaat harus dijaga dan dipertanggungjawabkan dan sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa jangan khawatir dari mana uang itu akan datang, yang harus menjadi perhatian adalah orang-orang yang mengurusi uang itu.”[24]

Kemudian Basil Sahib menuturkan, “Kapan pun seorang waqaf zindegi, karyawan Jemaat atau seorang Ahmadi datang untuk bertemu, beliau biasa mengatakan bahwa begitu banyak keberkatan dalam pengkhidmatan terhadap Jemaat dan barangsiapa yang melakukan pengkhidmatan, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan karunia-Nya dengan berlimpah dan Allah Ta’ala sendiri yang akan memenuhi keperluan-keperluan mereka. Beliau memberikan contoh diri beliau sendiri, ‘Saya dulu bukan apa-apa, lalu Allah (swt) menganugerahi saya banyak hal dan ini semata-mata berkah dari waqaf.’”

Nasrin Hayy Sahibah menuturkan, “Beliau adalah salah seorang figur penting dalam keluarga kami. Ayahanda dan ibunda saya senantiasa sangat menghormati beliau. Beliau tidak memiliki anak perempuan. Ketika saya berusia 7-8 tahun, beliau beserta bibi mengadopsi saya. Setelah itu, saya tinggal bersama mereka hingga menikah. Keduanya senantiasa memperlakukan saya layaknya putri mereka sendiri dan memperhatikan setiap keinginan saya sejak kecil. Beliau memberikan saya pendidikan yang terbaik dan menikahkan saya dengan seorang muballigh.”

Mahmud Tahir Sahib, Sekretaris Fazli ‘Umar (ra) Foundation menuturkan bahwa Almarhum menceritakan, “Suatu kali, ketika saya meraih gelar B.A. dan mendapatkan penugasan pertama, atas petunjuk dari Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) saya dikirim untuk meraih gelar M.A. saya.

Pada saat itu, seseorang di kantor mengutarakan kekhawatirannya kepada Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), ‘Setelah Hudhur (ra) membiayainya hingga meraih M.A., jangan sampai ia pergi dan memilih pekerjaan duniawi.’

Atas hal itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, ‘Sayyal bukanlah seorang pengkhianat.’”

Imran Babar Sahib, seorang Waqif Zindegi yang bertugas sebagai Pengawas Jaidad Tahrik Jadid menuturkan, “Saya mendapatkan kesempatan bekerja bersama beliau selama 15 tahun. Beliau seorang yang sangat energik. Beliau tidak pernah ragu untuk bertemu atau berbicara dengan pejabat pemerintah mengenai pekerjaan Jemaat. Ketika beliau mendapatkan kesempatan bepergian dengan kereta api, beliau biasa bertabligh selama perjalanan dan melakukannya dengan suara keras supaya semua orang di dekatnya bisa mendengar.”

Luqman Sahib, Wakilul Mal Awwal menuturkan, “Beliau adalah sosok yang mengucapkan labaik terhadap suara Khilafat dan juga biasa mengingatkan orang lain berkenaan dengan hal ini. Setiap kali Tahrik Jadid diumumkan, beliau senantiasa segera datang untuk menuliskan perjanjian dan membayarkan candahnya.

Syekh Harits Sahib yang bertugas di Tahrik Jadid menuturkan, “Ketika mewaqafkan diri, beliau membimbing saya dalam setiap langkah. Beliau memperlakukan saya dengan penuh kecintaan dan kasih sayang. Beliau seorang Waqif Zindegi yang pemberani dan lugas.”

Harits Sahib juga menulis, “Pada tahun 2008, Insinyur Javed, Ketua Dewan Persatuan Pakistan datang ke Rabwah dari Islamabad secara khusus. Selain dengan para sesepuh lainnya, beliau juga bertemu dengan Sayyal Sahib. Sayyal Sahib tidak menyia-nyiakan kesempatan tabligh tersebut dan bertabligh kepada beliau dengan cara yang sangat baik.”

Semoga Allah Ta’ala mengenugerahkan rahmat dan maghfiroh kepada Almarhum dan memberikan taufik kepada putra beliau yang merupakan Waqif Zindegi untuk dapat menjalankan waqafnya. Semoga Allah Ta’ala menjaga anak keturunan beliau tetap terhubung dengan Jemaat dan menganugerahkan ketentraman kepada mereka yang ditinggalkan.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Sidiqah Begum Sahibah, istri Almarhum Ali Ahmad Sahib, Mu’allim Waqaf Zindegi, yang wafat beberapa hari yang lalu di usia 85 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Putra beliau, Abdul Hadi Tariq Sahib adalah seorang Muballigh dan bertugas sebagai dosen di Jamiah Ahmadiyah Ghana. Beliau lahir di Qadian. Ayahanda beliau wafat di usia muda pada tahun 1944. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengambil ibunda beliau yang janda beserta anak-anaknya dalam perwalian beliau. Mereka dipanggil ke Qadian, lalu Hadhrat Nawab Amatul Hafiz Begum Sahibah (ra) menempatkan mereka di rumah peristirahatan beliau (Bungalo).

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 47)

Mubaligh Sahib mengatakan, “Nenek saya mendapatkan taufik untuk mengkhidmati Hadhrat Nawab Amatul Hafiz Sahibah (ra). Demikian juga, setelah pemisahan India, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengirim nenek saya bersama anak-anaknya ke Nasirabad, Sind, tempat di mana Almarhumah dibesarkan.”

Almarhumah adalah menantu seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang bernama Hadhrat Mia Allah Datah Sahib, beliau juga istri seorang Waqif Zindegi dan juga ibu seorang Waqif Zindegi. Beliau bersama dengan suami beliau yang merupakan Waqif Zindegi menjalani hidup sepenuhnya dengan ruh waqaf dan mendukung suami beliau dalam segala situasi yang sulit. Beliau sepanjang hidup tidak pernah meminta atau menuntut kepada seseorang. Beliau adalah sosok yang memiliki banyak sifat istimewa, di antaranya yang menonjol adalah kerendahan hati, ketakwaan, kesederhanaan, keramahan terhadap tamu, kelemahlembutan, kebersahajaan, qana’ah, menutupi kesalahan orang lain, penyabar dan memiliki semangat yang tinggi. Sepanjang hidup, beliau tidak pernah mengadu dan mengeluh kepada siapapun, beliau juga tidak pernah mendengarkan keburukan seseorang dan menceritakan keburukan seseorang. Beliau selalu memperlakukan orang lain yang merupakan kerabat maupun bukan kerabat beliau dengan kecintaan dan ketulusan. Selain salat lima waktu, beliau juga dawam melaksanakan salat tahajud.

Demikian juga beliau dawam menilawatkan Al-Qur’an dan di hari-hari terakhir beliau, meskipun kondisi kesehatan yang buruk, ketika beliau tidak bisa melaksanakan salat dengan cara yang semestinya, maka beliau berdoa, “Ya Allah! Anugerahkanlah kesehatan dan kekuatan yang sedemikian rupa, sehingga saya bisa beribadah kepada engkau dengan cara yang semestinya.”

Di antara yang ditinggalkan antara lain dua putri dan tiga putra. Sebagaimana telah saya sampaikan, salah seorang putra beliau, Abdul Hadi Tariq Sahib adalah mubaligh yang bertugas di Ghana dan dikarenakan berada di lapangan pengkhidmatan, beliau tidak bisa hadir dalam pengurusan jenazah ibunda beliau.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada mereka, memberikan taufik kepada mereka untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhumah dan menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya kepada Almarhumah serta meninggikan derajat Almarhumah.[25]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا –

 مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ –

 عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

 أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Sahih al-Bukhari 4077; Military Expeditions led by the Prophet (pbuh) (Al-Maghaazi) (كتاب المغازى), Chapter: “Those who answered (the Call of) Allah and the Messenger atau bab mereka yang menanggapi positif seruan Allah dan Rasul-Nya (باب {الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ}), in-book reference : Book 64, Hadith 122; USC-MSA web (English) reference : Vol. 5, Book 59, Hadith 404.

[2] Tafsir ath-Thabari (نام کتاب : تفسير الطبري جامع البيان ت شاكر نویسنده : الطبري، ابن جرير    جلد : 7  صفحه : 402). Tercantum juga dalam Kitab Anis as-Saari (كتاب أنيس الساري (تخريج أحاديث فتح الباري)) karya Nabil al-Basharah (نبيل البصارة), (المجموعة الثانية  كتاب المغازي  باب الذين استجابوا لله والرسول): عن أبيه ، عن ابن عباس قال : إن الله قذف في قلب أبي سفيان الرعب يوم أحد بعد ما كان منه ما كان ، فرجع إلى مكة ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ” إن أبا سفيان قد أصاب منكم طرفا ، وقد رجع ، وقذف الله في قلبه الرعب .

[3] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad M.A. (ra) dalam Sirat Khataman Nabiyyin (سیرت خاتم النبیینؐ صفحہ 499-500) merujuk dari Kitab Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 76, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thālithatu Minal-Hijrah / Ghazwatu Uḥud, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 542, Sha’nu ‘Āṣim ibni Thābit, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[4] Sunan Ibni Maajah 1635 (سنن ابن ماجہ، کتاب الجنائز حدیث نمبر 1635) bab (باب ذِكْرِ وَفَاتِهِ وَدَفْنِهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ); Shahih Muslim, Kitab Fadhail ash-Shahabah (كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم) atau The Book of the Merits of the Companions, bab keistimewaan Ummu Ayman (باب مِنْ فَضَائِلِ أُمِّ أَيْمَنَ رضى الله عنها) atau Chapter: The Virtues Of Umm Ayman, Hadith no. 2454. In-book reference : Book 44, Hadith 148, USC-MSA web (English) reference : Book 31, Hadith 6009.

[5] Sahih al-Bukhari 3661, Companions of the Prophet – Kitab tentang para Sahabat Nabi (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), bab sabda Nabi, “Lau kuntu muttakhidzan khalilan” (باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ” لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً ” قَالَهُ أَبُو سَعِيدٍ).

[6] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 26, halaman 277-278 (خطبات محمودجلد 26 صفحہ 277-278). Tidak ada masa bagi Hadhrat Abu Bakr (ra) (ra) untuk menolak kebenaran Nabi Muhammad (saw) baik sebelum pernyataan kenabian beliau (saw) maupun sesudahnya.

[7] Sirah Khataman Nabiyyiin oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) halaman 766-768 (سیرت خاتم النبیین از حضرت مرزا بشیر احمد صاحبؓ ایم اے صفحہ 766-768).

[8] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 20, halaman 382 (خطبات محمود جلد 20صفحہ382)

[9] Sahih al-Bukhari 3408, (كتاب أحاديث الأنبياء), Chapter: The death of Musa (Moses)bab kewafatan Musa (باب وَفَاةِ مُوسَى، وَذِكْرُهُ بَعْدُ), Book 60, Hadith 81, USC-MSA web (English) reference : Vol. 4, Book 55, Hadith 620; tercantum  juga dalam Shahih al-Bukhari, Kitab fil Khushuumaat (mengenai perselisihan) bab maa yadzkuru fil asykhaash wal khushuumah bainal Muslim wal Yahud, nomor 2411 (صحیح البخاری کتاب الخصومات باب ما یذکر فی الاشخاص والخصومۃ بین المسلم والیہود،حدیث نمبر 2411).

[10] ‘Umdatul Qari (عمدۃ القاری جزء 12 صفحہ351 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2001ء). Fathul Bari (فتح الباري شرح صحيح البخاري » كتاب أحاديث الأنبياء » باب وفاة موسى وذكره بعد): كان بين رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وبين رجل من اليهود كلام في شيء ” فقال عمرو بن دينار : هو أبو بكر الصديق .

[11] Tafsir Kabir jilid 6 halaman 531 (تفسیر کبیر جلد 6 صفحہ 531)

[12] Sahih al-Bukhari 467, Kitab Shalat (كتاب الصلاة), bab Khaukhan atau pintu kecil dan jalan menuju ke dalam Masjid (باب الْخَوْخَةِ وَالْمَمَرِّ فِي الْمَسْجِدِ).

[13] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 16, halaman 815 disampaikan pada tanggal 18 Oktober 1935 (خطبات محمود جلد 16صفحہ814-815 خطبہ جمعہ بیان فرمودہ 18 اکتوبر 1935ء)

[14] Sahih al-Bukhari 3661, Companions of the Prophet – Kitab tentang para Sahabat Nabi (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), bab sabda Nabi, “Lau kuntu muttakhidzan khalilan” (باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ” لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً ” قَالَهُ أَبُو سَعِيدٍ): عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِذْ أَقْبَلَ أَبُو بَكْرٍ آخِذًا بِطَرَفِ ثَوْبِهِ حَتَّى أَبْدَى عَنْ رُكْبَتِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” أَمَّا صَاحِبُكُمْ فَقَدْ غَامَرَ “. فَسَلَّمَ، وَقَالَ إِنِّي كَانَ بَيْنِي وَبَيْنَ ابْنِ الْخَطَّابِ شَىْءٌ فَأَسْرَعْتُ إِلَيْهِ ثُمَّ نَدِمْتُ، فَسَأَلْتُهُ أَنْ يَغْفِرَ لِي فَأَبَى عَلَىَّ، فَأَقْبَلْتُ إِلَيْكَ فَقَالَ ” يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ يَا أَبَا بَكْرٍ “. ثَلاَثًا، ثُمَّ إِنَّ عُمَرَ نَدِمَ فَأَتَى مَنْزِلَ أَبِي بَكْرٍ فَسَأَلَ أَثَمَّ أَبُو بَكْرٍ فَقَالُوا لاَ. فَأَتَى إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَسَلَّمَ فَجَعَلَ وَجْهُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَتَمَعَّرُ حَتَّى أَشْفَقَ أَبُو بَكْرٍ، فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ أَنَا كُنْتُ أَظْلَمَ مَرَّتَيْنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ” إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ. وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ صَدَقَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي “. مَرَّتَيْنِ فَمَا أُوذِيَ بَعْدَهَا .

[15] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 27, halaman 314 (خطبات محمود جلد27 صفحہ313تا 314).

[16] Tafsir Kabir jilid 6 halaman 253 (تفسیر کبیر جلد6 صفحہ 253). Tercantum juga dalam karya Muhammad bin ‘Abdullah al-Khathib at-Tabrizi (محمد بن عبد الله الخطيب التبريزي) dalam Mishkat al-Masabih (مشكاة المصابيح), Kitab keimanan (كتاب الإيمان), Chapter: Reliance on the Book and the Sunnah atau bab tentang berpegang teguh terhadap Kitab dan Sunnah (باب الاعتصام بالكتاب والسنة – الفصل الثالث), (الناشر : المكتب الإسلامي – بيروت), (الطبعة : الثالثة – 1405 – 1985), 194, in-book reference : Book 1, Hadith 185: عَن جَابِرٍ: (أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنُسْخَةٍ مِنَ التَّوْرَاةِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ نُسْخَةٌ مِنَ التَّوْرَاةِ فَسَكَتَ فَجَعَلَ يقْرَأ وَوجه رَسُول الله يَتَغَيَّرُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ ثَكِلَتْكَ الثَّوَاكِلُ مَا تَرَى مَا بِوَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ عُمَرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَعُوذُ بِاللَّه من غضب الله وَغَضب رَسُوله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ بَدَا لَكُمْ مُوسَى فَاتَّبَعْتُمُوهُ وَتَرَكْتُمُونِي لَضَلَلْتُمْ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ وَلَوْ كَانَ حَيًّا وَأَدْرَكَ نُبُوَّتِي لَاتَّبَعَنِي) رَوَاهُ الدَّارمِيّ .

[17] Tafsir Kabir https://www.alislam.org/urdu/tafseer/V06%5B22-25%5D.pdf

[18] Tafsir Kabir jilid 8 halaman 108-109 (تفسیر کبیر جلد8 صفحہ 108-109).

[19] Sahih al-Bukhari 2598, Kitab tentang Hibah (كتاب الهبة وفضلها والتحريض عليها), Chapter: If somebody gives another a present and dies before the gift reaches the other person atau bab jika seseorang memberikan hibah kepada orang lain dan wafat sebelum pemberian itu sampai (باب إِذَا وَهَبَ هِبَةً أَوْ وَعَدَ ثُمَّ مَاتَ قَبْلَ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ) in-book reference : Book 51, Hadith 32, USC-MSA web (English) reference: Vol. 3, Book 47, Hadith 770.

[20] Shahih al-Bukhari (صحیح البخاری), Kitab Fardh al-khums (كتاب فرض الخمس), bab dalil bahwa khumus dipakai untuk keperluan kaum Muslimin (بَابُ وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَى أَنَّ الْخُمُسَ لِنَوَائِبِ الْمُسْلِمِينَ مَا سَأَلَ هَوَازِنُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَضَاعِهِ فِيهِمْ فَتَحَلَّلَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ), (حدیث نمبر3137 مترجم اردو نظارت اشاعت ربوہ جلد 5 صفحہ485-486). al-Qasthalani dalam karyanya Irsyaadus Saari yang merupakan syarh atau penjelasan atas Shahih al-Bukhari (كتاب شرح القسطلاني = إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري), Kitab al-Kafalah dan bab tentang (كتاب الكفالة  4 – باب جوار أبي بكر في عهد النبي -صلى الله عليه وسلم- وعقده): وبه قال: (حدّثنا علي بن عبد الله) المديني قال: (حدّثنا سفيان) بن عيينة قال: (حدّثنا عمرو) هو ابن دينار أنه (سمع محمد بن علي) أي ابن الحسين بن علي بن أبي طالب (عن جابر بن عبد الله) الأنصارى (رضي الله عنهم) أنه (قال: قال النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: لو قد جاء مال البحرين) موضع بين البصرة وعمان أي لو تحقق المجيء (قد أعطيتك هكذا وهكذا) زاد في غير رواية أبي الوقت وهكذا زاد في الشهادات فبسط يديه ثلاث مرات .

[21] Muhammad ibnu Sa’d dalam karyanya ath-Thabaqatul Kubra (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٢ – الصفحة ٣١٨), juz ke-2, halaman 243, penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut-Lebanon, 1990 (الطبقات الکبریٰ لابن سعد، ذکر من قضی دین رسول اللّٰہؐ و عداتہ، جلد2 صفحہ243 دارالکتب العلمیۃ بیروت 1990ء); Kanzul ‘Ummal (كنز العمال (صفحة 3614)): 14102- عن أبي سعيد الخدري قال: سمعت منادي أبي بكر ينادي بالمدينة حين قدم عليه مال البحرين: من كانت له عدة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فليأت فيأتيه رجال فيعطيهم فجاء أبو بشير المازني فقال: إن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لي: يا أبا بشير إذا جاءنا شيء فائتنا فأعطاه أبو بكر حفنتين أو ثلاثا فوجدها ألفا وأربع مائة [درهم] . Tercantum juga dalam al-Ikmal fi Asmaa-ir Rijal  (الإكمال في أسماء الرجال – الخطيب التبريزي – الصفحة ٢٤)

[22] Hadhrat Abu Bakr (ra) ke so kisse – Seratus Kisah Abu Bakr (ra), hlm. 68-70, Baitul ‘Ulum, Lahore-Pakistan, penulis: Syaikh Muhammad Shiddiq Al-Minshawi (مُحَـمّـد صِـدّيْـق المِـنـشَـاوي), penerjemah dari bahasa Arab ke Urdu: Khalid Mahmud Shahib (حضرت ابوبکر صدیقؓ کے 100 قصے صفحہ 68 تا 70 بیت العلوم لاہور) link https://ia600705.us.archive.org/15/items/Sahabahr.a/HazratAbuBakrSiddeeqKay100QissayByMuhammadSiddeeqMinshawi.pdf.  

Muhammad Siddiq Al-Minshawi, seorang Qari dan Hafiz al-Qur’an kelahiran Mesir. Beliau lahir pada January 20, 1920, Al Minshah, Mesir dan wafat pada 20 June 1969 di Sohag, Mesir. Tercantum juga dalam Hilyatul Auliya, (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء), dzikr (ذكر طوائف من جماهير النساك والعباد), (عبد الواحد بن زيد), (ماأسنده عبد الواحد عن أسلم والحسن البصري) atau pada dzikr ash-Shahabah minal Muhajirin, Abu Bakr ash-Shiddiq, jilid 1, halaman 30-31, Maktabatul Imanil Manshur, 2007 (حلیۃ الاولیاء و طبقات الاصفیاء، ذکر الصحابۃ من المھاجرین، ابوبکر الصدیقؓ جلد1 صفحہ30-31،مکتبۃ الایمان المنصورہ2007ء).: عن زيد بن أرقم ، عن أبي بكر الصديق – رضي الله تعالى عنه – : أنه استسقى فأتي بماء وعسل ؛ فلما وضع على يده بكى ورد الإناء وانتحب ،.

[23] Sayyidana Siddique E Akbar RA Kay Shab O Roz; penulis: Molana Huzaifa Lahori, penerbit Maktaba Yadgar E Shaikh-Lahore atau Maktabatul Haramain-Lahore (سیدنا صدیق اکبرؓ کے شب وروز صفحہ 107 مکتبۃ الحرمین لاہور 1437ھ).

[24] Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, halaman 319 (ماخوذ از الوصیت، روحانی خزائن جلد 20 صفحہ 319).

[25] Sumber referensi: https://www.alfazl.com/2022/10/09/56822/; https://www.alislam.org/friday-sermon/2022-09-23.html

 (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan https://www.islamahmadiyya.net/cat.asp?id=116 (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar (ra) Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.