Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 2) – Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 96)

Pembahasan lanjutan mengenai salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

  • Keistimewaan Hadhrat ‘Ali (ra)
  • Pemegang panji (bendera) ketika bertempur
  • Penjelasan tentang panggilan Abu Turab pada dua kesempatan
  • Riwayat mengenai duel Hadhrat ‘Ali (ra) dengan musuh di perang Badr Kubra
  • Pernikahan Hadhrat ‘Ali (ra) dengan Hadhrat Fathimah (ra).
  • Doa-doa Nabi (saw) kepada mereka berdua
  • Tarbiyat Nabi (saw) kepada mereka berdua terkait Tahajjud
  • Sudut pandang Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) mengenai Hadhrat ‘Ali (ra)
  • Sudut pandang Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) mengenai beberapa Hadits yang membahas Hadhrat ‘Ali (ra)
khotbah jumat masroor ahmad, ali bin abi thalib

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 04 Desember 2020 (Fatah 1399 Hijriyah Syamsiyah/19 Rabi’ul Akhir 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah sebelumnya telah saya sampaikan tentang Hadhrat Ali (ra). Hari ini saya kembali akan menyampaikan tentang beliau ra. Berkaitan dengan persaudaraan Hadhrat Ali dalam riwayat diterangkan, وآخَاهُ رَسُولُ اللَهِ صلى‌ اللَهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ مَرَّتَينِ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَهِ آخَى‌ بَينَ المُهَاجِرينَ، ثُمَّ آخَى بَينَ الْمُهَاجِرِينَ والانصَارِ بَعْدَ الْهِجْرَةِ، وقَالَ لِعَليٍّ فِي‌ كُلِّ واحِدَةٍ مِنهُمَا: أَنتَ أَخِي‌ فِي‌ الدُّنيَا والآخِرَةِ “Rasulullah (saw) dua kali menetapkan Hadhrat Ali sebagai saudara. Pertama kali beliau (saw) menetapkan persaudaraan dengan Hadhrat Ali di Mekah di tengah-tengah kaum muhajirin. Kemudian setelah hijrah ke Madinah ketika Rasulullah (saw) menetapkan persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar, beliau (saw) untuk kedua kalinya bersabda pada Hadhrat Ali, ‘Anta akhi fid dunya wal akhirah.’ – ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat.’”[1]

Menurut sebuah riwayat, وآخى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ سهل بْن حُنَيْف وعلي بْن أبي طَالِب “Rasulullah (saw) menjadikan Hadhrat Ali bin Abi Talib bersaudara dengan Hadhrat Sahl bin Hunaif.”[2]

Berkaitan dengan kapan-kapan saja ditetapkannya persaudaraan ini dalam sejarah ditemukan keterangan bahwa persaudaraan ini terjadi dua kali sebagaimana ‘Allamah Qasthalani dalam syarh (komentar atas) Sahih Bukhari menjelaskan, وكانت المؤاخاة مرتين الأولى بين المهاجرين بعضهم وبعض قبل الهجرة على الحق والمواساة، آخى بينهم النبي صلى الله عليه وسلم، فآخى بين أبي بكر و عمر ، وبين حمزة و زيد بن حارثة ، وبين عثمان و عبد الرحمن بن عوف ، وبين الزبير و ابن مسعود ، وبين عبيدة بن الحارث و بلال ، وبين مصعب بن عمير و سعد بن أبي وقاص، وبين أبي عبيدة و سالم مولى أبي حذيفة ، وبين سعيد بن زيد و طلحة بن عبيد الله ، وبين علي ونفسه صلى الله عليه وسلم. “Persaudaraan terjadi dua kali. Pertama sebelum hijrah di mekah di antara muhajirin. Saat itu Rasulullah (saw) menetapkan persaudaraan antara Hadhrat Abu Bakr dengan Hadhrat ‘Umar, [antara Hamzah dan Zaid bin Haritsah], Hadhrat Utsman dengan Hadhrat Abdurrahman bin Auf, Hadhrat Zubair dengan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud,…. dan antara Hadhrat Ali dengan diri beliau (saw) sendiri… فلما نزل عليه السلام المدينة آخى بين المهاجرين والأنصار على المواساة والحق في دار أنس بن مالك  Kemudian ketika beliau (saw) sampai di Madinah, beliau (saw) menetapkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar di rumah Hadhrat Anas bin Malik.”[3]

Ibnu Sa’ad menerangkan bahwa Rasulullah (saw) menetapkan persaudaraan antara 100 sahabat, yakni antara 50 muhajirin dengan 50 anshar.[4]

Hadhrat Ali (ra) ikut perang Badr dan seluruh perang bersama Rasulullah saw, kecuali perang Tabuk. Pada perang Tabuk Rasulullah (saw) menunjuk beliau (ra) untuk menjaga keluarga.

Hadhrat Tsa’labah bin Abu Malik (ثعلبة بن أبي مالك) meriwayatkan, كان سعد بن عبادة صاحب راية رسول الله صلى الله عليه وسلم في المواطن كلها، فإذا كان وقت القتال أخذها علي بن أبي طالب “Hadhrat Sa’d bin Ubadah dalam setiap kesempatan selalu menjadi pembawa bendera dari pihak Rasulullah saw. Namun, ketika tiba saatnya bertempur maka Hadhrat Ali-lah yang membawa bendera.”[5]

Ghazwah Asyirah terjadi pada bulan Jumadil Awwal tahun ke-2 Hijriyyah. Di dalam kitab-kitab Tarikh dan Sirah, perang itu selain disebut perang Ghazwah Dzul ‘Asyirah disebut juga dengan Dzatul ‘Asyirah dan ‘Asyirah. Asyirah adalah nama sebuah benteng yang terletak di Hijaz antara Yanbu’ dan Dzul Marwah.

Berkaitan dengan rincian perang ini Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib menulis, “Pada bulan Jumadil Awwal tahun ke-2 Hijriyyah setelah mendapatkan kabar dari Quraisy Makkah, Rasulullah (saw) pergi meninggalkan Madinah bersama sekelompok orang Muhajirin setelah sebelum itu menetapkan Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai Amir Maqami (Pejabat atau yang berwenang di Madinah di tengah beliau tidak ada di dalam kota). Pada perang itu Hadhrat Rasulullah (saw) setelah menempuh perjalanan jauh beberapa kali memutar pada akhirnya sampai di Asyirah, sebuah tempat di dekat pantai daerah Yanbu’ dan meskipun tidak bertempur dengan Quraisy, namun saat itu beliau menempuh satu perjanjian dengan Qabilah banu Mudlij yang persetujuannya seperti persyaratan yang telah ditempuh dengan Banu Dhamrah. Kemudian beliau kembali.”[6]

Hadhrat Ali ikut dalam perang itu. Berkaitan dengan ini dalam Musnad Ahmad bin Hambal, (عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ) Hadhrat ‘Ammar Bin Yasir meriwayatkan, كُنْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ رَفِيقَيْنِ فِي غَزْوَةِ ذَاتِ الْعُشَيْرَةِ فَلَمَّا نَزَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَقَامَ بِهَا رَأَيْنَا أُنَاسًا مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ يَعْمَلُونَ فِي عَيْنٍ لَهُمْ فِي نَخْلٍ فَقَالَ لِي عَلِيٌّ “Suatu ketika pada perang Dzatul ‘Asyirah saya kawan seperjalanan dengan Hadhrat Ali. Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) sampai di suatu tempat dan memasang kemah di situ, kami melihat beberapa orang Banu Mudlij (بَنِي مُدْلِجٍ) yang tengah bekerja di sumber mata air kebun. Hadhrat Ali berkata kepada saya, يَا أَبَا الْيَقْظَانِ ، هَلْ لَكَ أَنْ تَأْتِيَ هَؤُلاءِ فَتَنْظُرَ كَيْفَ يَعْمَلُونَ ؟ ‘Wahai Abu Yaqzhan (panggilan untuk Hadhrat Ammar]! Bagaimana menurutmu, apakah kita pergi ke tempat mereka dan melihat apa yang sedang mereka lakukan?’

Kami pun pergi menghampiri mereka. Kami melihat mereka bekerja sebentar saja, lalu kami mengantuk. Saya (‘Ammar bin Yasir) dan Hadhrat Ali lalu beranjak dari sana dan berbaring tidur di atas tanah di antara pohon kurma.

Demi Allah, selain Rasulullah (saw) tidak ada yang membangunkan kami. Rasulullah (saw) membangunkan kami dengan sentuhan lembut kaki beliau. Sementara di badan kami menempel tanah. Saat itu Hari itu melihat tanah di badan Hadhrat Ali, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ali, يَا أَبَا تُرَابٍ ‘Wahai Abu Turab (bapak tanah)! أَلا أُحَدِّثُكُمَا بِأَشْقَى النَّاسِ رَجُلَيْنِ ؟  ‘Maukah saya beritahukan perihal dua orang yang paling malang?’

Sudah saya sampaikan dalam khotbah sebelumnya tentang gelar “Abu Turab” bahwa suatu ketika Hadhrat Ali (ra) tengah berbaring di masjid dan di badan beliau menempel tanah. Rasulullah (saw) bersabda, “Wahai Abu Turab!”

Rasulullah (saw) memanggil beliau Abu Turab. Mulai saat itu Hadhrat Ali (ra) dikenal dengan gelar itu (Abu Turab). Bisa saja mulai peristiwa itu Rasulullah (saw) memberikan nama ini pada beliau (ra), atau bisa jadi setelah itu, atau bisa saja dalam kedua kesempatan itu. Walau bagaimanapun, sepertinya riwayat yang inilah yang pertama atau lebih dulu terjadi.

Bagaimanapun juga, beliau (saw) bersabda, أَلا أُحَدِّثُكُمَا بِأَشْقَى النَّاسِ رَجُلَيْنِ ؟ ‘Maukah saya beritahukan perihal dua orang yang paling malang?’

Kami berkata, بَلَى ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Tentu, kami mau, wahai RasuluLlah!’

Beliau bersabda, أُحَيْمِرُ ثَمُودَ الَّذِي عَقَرَ النَّاقَةَ

Pertama, Uhaimir (laki-laki berwarna kemerahan) di kaum Tsamud yang telah memotong kaki unta betina nabi Saleh ‘alaihis salaam.

وَالَّذِي يَضْرِبُكَ يَا عَلِيُّ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي قَرْنَهُ حَتَّى تُبَلَّ مِنْهُ هَذِهِ يَعْنِي لِحْيَتَهُ Yang kedua – wahai Ali! – adalah orang yang menyerang kepala Anda sehingga jenggot Anda nanti dibasahi dengan darah.’”[7]

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis mengenai perang Shafwan yang disebut juga sebagai Ghazwah Badrul Ula (perang Badr pertama) yang terjadi pada Jumadil Akhir tahun ke-2 Hijriyah, “Setelah Ghazwah (perang yang diikuti Nabi) Usyairah (‘Asyirah), belum berlalu 10 hari keberadaan Rasulullah (saw) di Madinah, seorang pemuka Makkah bernama Kurz bin Jabir al-Fihri dengan penuh kelicikan membawa pasukan kuffar Quraisy menyerang secara tiba-tiba ke area peternakan Madinah yang berjarak hanya 3 mil dari kota. Mereka mencuri unta dan lain-lain milik umat Muslim. Ketika Rasulullah (saw) mendapatkan kabar kejadian ini, maka beliau (saw) seketika itu menetapkan Zaid Bin Harisah sebagai Amir Maqami di Madinah sedangkan beliau (saw) bersama sekelompok Muhajirin mengejar para perampok itu. Beliau (saw) bersama para sahabat berhasil mengikuti para perampok itu sampai kawasan Shafwan di dekat bukit Badr namun mereka berhasil lolos. Perang tersebut pun disebut dengan Ghazwah Badr Ula (perang Badr pertama).”[8]

Pada kesempatan perang itu Rasulullah (saw) memberi Hadhrat Ali sebuah bendera putih. Perang Badr terjadi pada tahun kedua Hijriyyah bertepatan dengan Maret 623 masehi. Dalam kisah perang itu tentang Hadhrat Ali disebutkan, وَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَدْنَى بَدْرٍ عِشَاءَ لَيْلَةِ جُمُعَةٍ لِسَبْعَ عَشْرَةَ مَضَتْ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَبَعَثَ عَلِيًّا وَالزُّبَيْرَ وَسَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ وَبَسْبَسَ بْنَ عَمْرٍو يَتَحَسَّسُونَ خَبَرَ الْمُشْرِكِينَ عَلَى الْمَاءِ ، فَوَجَدُوا رَوَايَا قُرَيْشٍ فِيهَا سُقَّاؤُهُمْ فَأَخَذُوهُمْ . وَبَلَغَ قُرَيْشاً خَبَرَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَنَّهُ قَدْ أَخَذَ سُقَّاؤُهُمْ ، فَمَاجَ الْعَسْكَرُ وَأُتِيَ بِالسُّقَّاءِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “[Saat tiba di dekat Badr itu] Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Ali, Hadhrat Zubair, Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash dan Hadhrat Basbas bin Amru supaya pergi ke mata air Badr untuk mencari tahu tentang kaum Musyrikin. Sesampainya di sana, mereka melihat beberapa kaum Quraisy sedang memberi minum binatang-binatang mereka. Mereka menangkap beberapa orang Musyrik dan membawanya pada Rasulullah saw.”[9]

Dalam perang Badr ketika kedua lasykar berhadap-hadapan, awalnya kedua putra Rabi’ah yang bernama Syaibah (شيبة بن ربيعة) dan Utbah (عتبة بن ربيعة) serta putra Utbah yang bernama Walid bin Utbah maju. Mereka menantang umat Muslim untuk bertarung satu lawan satu. Tiga orang Anshar dari Qabilah Banu Haris yang bernama Mu’adz, Mu’awwidz dan Auf yang merupakan putra-putra ‘Afra, maju untuk menghadapi mereka. Namun Rasulullah (saw) tidak suka kaum Anshar ikut dalam pertempuran pertama antara kaum Muslim dan Musyrik. Bahkan, beliau (saw) lebih suka keagungan ini terlihat melalui anak-anak paman beliau dan kaum beliau sehingga beliau (saw) memerintahkan kaum Anshar untuk kembali ke barisan. Mereka pun kembali ke barisannya dan Rasulullah (saw) mendoakan kebaikan untuk mereka.

Kemudian kaum Musyrikin berkata, يَا مُحَمّدُ أَخْرِجْ إلَيْنَا أَكْفَاءَنَا مِنْ قَوْمِنَا “Wahai Muhammad (saw), kirimlah lawan sepadan untuk menghadapi kami dari antara kaum kami sendiri.”

Rasulullah (saw) bersabda, يَا بَنِي هَاشِمٍ ، قُومُوا قَاتِلُوا بِحَقِّكُمُ الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ بِهِ نَبِيَّكُمْ إِذْ جَاؤُوا بِبَاطِلِهِمْ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ “Wahai Banu Hasyim! Bangkitlah dan berperanglah demi kebenaran yang dengannya Allah Ta’ala mengutus Nabi kalian. Sedangkan mereka datang dengan kebatilan mereka bahwa mereka ingin memadamkan nur Allah.”

Hadhrat Hamzah bin Abdul Muththalib, Hadhrat Ali Bin Abu Thalib dan Hadhrat Ubaidah bin Harits bangkit dan maju ke arah mereka. [10]

Utbah berkata, تَكَلَّمُوا نَعْرِفْكُمْ “Ucapkanlah sesuatu supaya kami mengenal kalian.”

Mereka memakai pelindung wajah sehingga wajah mereka tidak kelihatan.

Hadhrat Hamzah berkata, أَنَا حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَسَدُ اللَّهِ ، وَأَسَدُ رَسُولِهِ “Aku Hamzah bin Abdul Mutalib, Singa Allah dan Rasul-Nya.”

Atas itu Utbah berkata, كُفْءٌ كَرِيمٌ ، وَأَنَا أَسَدُ الْحُلَفَاءِ ، مَنْ هَذَانِ مَعَكَ “Lawan yang bagus dan aku adalah singa para Halif (persekutuan suku-suku). Siapa dua orang bersamamu?”

Hadhrat Hamzah berkata, عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَعُبَيْدَةُ بْنُ الْحَارِثِ “Ali bin Abu Thalib dan Ubaidah bin Harits.”

Utbah berkata, كُفْآنِ كَرِيمَانِ “Keduanya lawan yang bagus.” Kemudian Utbah berkata pada putranya, قُمْ يَا وَلِيدُ “Wahai Walid, bangunlah!”[11]

Hadhrat Ali maju menghadapinya dan pedang keduanya mulai berkecamuk. Hadhrat Ali membunuhnya. Kemudian Utbah bangkit dan Hadhrat Hamzah maju menghadapinya. Pedang keduanya mulai berkecamuk dan Hadhrat Hamzah membunuhnya. Kemudian Syaibah bangkit dan untuk menghadapinya Hadhrat Ubaidah Bin Harits maju. Padahal saat itu Hadhrat Ubaidah adalah sahabat yang paling berumur diantara para sahabat Rasulullah saw. Syaibah memukul kaki Hadhrat Ubaidah dengan ujung pedang mengenai daging betis beliau dan melukainya. Hadhrat Hamzah dan Hadhrat Ali menyerang Syaibah dan membunuhnya.[12] Riwayat ini juga pernah saya sampaikan dua tahun lalu. Saya menyampaikan sebagiannya.

Ada riwayat lain tentang ini, yang di dalamnya Hadhrat Ali meriwayatkan bahwa Utbah ibn Rabi’ah bersama saudaranya, Syaibah ibn Rabi’ah dan putranya, Al-Walid ibn Utbah ibn Rabi’ah yang berada di belakangnya tampil dan meneriakkan, مَنْ يُبَارِزُ ؟ “Siapa yang berani duel melawan kami?” فَانْتَدَبَ لَهُ شَبَابٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ Banyak pemuda Anshar menjawabnya dan maju ke depan. Utbah bertanya, مَنْ أَنْتُمْ؟ “Siapa kalian?”

Kaum Anshar menjawab, “Kami kaum Anshar (orang-orang Madinah).”

Utbah berkata, لاَ حَاجَةَ لَنَا فِيكُمْ إِنَّمَا أَرَدْنَا بَنِي عَمِّنَا “Kami tidak ada urusan dengan kalian. Kami hanya ingin berperang dengan anak-anak paman kami (umat Muslim yang asal Makkah)”

Nabi yang mulia (saw) bersabda: قُمْ يَا حَمْزَةُ قُمْ يَا عَلِيُّ قُمْ يَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْحَارِثِ “Wahai Hamzah, majulah! Wahai Ali, majulah! Wahai Ubaidah ibn Harits, majulah.”

Hadhrat Ali mengatakan, فَأَقْبَلَ حَمْزَةُ إِلَى عُتْبَةَ وَأَقْبَلْتُ إِلَى شَيْبَةَ وَاخْتُلِفَ بَيْنَ عُبَيْدَةَ وَالْوَلِيدِ ضَرْبَتَانِ فَأَثْخَنَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ ثُمَّ مِلْنَا عَلَى الْوَلِيدِ فَقَتَلْنَاهُ وَاحْتَمَلْنَا عُبَيْدَةَ “Hamzah melangkah ke arah Utbah. Saya melangkah ke arah Syaibah. Ubaidah berhadapan dengan Walid, yang mana keduanya saling melukai satu sama lain. Kami berdua (Hamzah dan Ali) lalu berpindah kepada Walid dan membunuhnya. Kami lalu membawa Ubaidah keluar dari medan perang.”[13]

Hadhrat Ali meriwayatkan perihal perang Badr, “Pada saat itu jumlah kaum kafir jauh lebih banyak jumlahnya dibanding pasukan Muslim. Semalaman Rasulullah (saw) menyibukkan diri untuk berdoa dan merintih di hadapan Allah Ta’ala. إِنَّ جَمْعَ قُرَيْشٍ تَحْتَ هَذِهِ الضِّلَعِ الْحَمْرَاءِ مِنْ الْجَبَلِ فَلَمَّا دَنَا الْقَوْمُ مِنَّا وَصَافَفْنَاهُمْ إِذَا رَجُلٌ مِنْهُمْ عَلَى جَمَلٍ لَهُ أَحْمَرَ يَسِيرُ فِي الْقَوْمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Ketika pasukan Musyrikin (Makkah) mendekati kami, kami siap berbaris menghadapi mereka. Pandangan kami tak sengaja langsung tertuju kepada seseorang yang berada di atas unta merah dari kalangan mereka dan berjalan-jalan di tengah pasukan mereka.

Rasulullah (saw) bersabda, يَا عَلِيُّ نَادِ لِي حَمْزَةَ وَكَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنْ الْمُشْرِكِينَ مَنْ صَاحِبُ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ وَمَاذَا يَقُولُ لَهُمْ ‘Wahai Ali! Tanyakan kepada Hamzah yang sedang berdiri di dekat kaum Musyrikin siapakah yang sedang berada di atas unta merah? Dan apa yang sedang dikatakannya?’

Hadhrat Rasulullah (saw) kemudian bersabda, إِنْ يَكُنْ فِي الْقَوْمِ أَحَدٌ يَأْمُرُ بِخَيْرٍ فَعَسَى أَنْ يَكُونَ صَاحِبَ الْجَمَلِ الْأَحْمَرِ ‘Jika diantara mereka ada yang dapat memberi nasihat kebaikan kepada mereka, mungkin orang yang diatas unta merah-lah orangnya.’ فَجَاءَ حَمْزَةُ فَقَالَ Tidak lama kemudian Hadhrat Hamzah (ra) datang dan mengabarkan, هُوَ عُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ وَهُوَ يَنْهَى عَنْ الْقِتَالِ وَيَقُولُ لَهُمْ يَا قَوْمُ إِنِّي أَرَى قَوْمًا مُسْتَمِيتِينَ لَا تَصِلُونَ إِلَيْهِمْ وَفِيكُمْ خَيْرٌ يَا قَوْمُ اعْصِبُوهَا الْيَوْمَ بِرَأْسِي وَقُولُوا جَبُنَ عُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ وَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي لَسْتُ بِأَجْبَنِكُمْ فَسَمِعَ ذَلِكَ أَبُو جَهْلٍ فَقَالَ أَنْتَ تَقُولُ هَذَا وَاللَّهِ لَوْ غَيْرُكَ يَقُولُ هَذَا لَأَعْضَضْتُهُ قَدْ مَلَأَتْ رِئَتُكَ جَوْفَكَ رُعْبًا فَقَالَ عُتْبَةُ ‘Orang itu adalah Utbah Bin Rabi’ah yang tengah melarang kaum Musyrikin untuk berperang. Ia berkata, “Saya melihat mereka (kaum Muslim) telah siap untuk mati. Kalian tidak akan mampu mencapai mereka.” Sebagai jawabannya Abu Jahl mengatakan kepadanya, “Kamu pengecut dan tidak ada nyali untuk berperang.” Dengan emosi karena terhasut kebanggaannya, Utbah menjawab, إِيَّايَ تُعَيِّرُ يَا مُصَفِّرَ اسْتِهِ سَتَعْلَمُ الْيَوْمَ أَيُّنَا الْجَبَانُ “Kita lihat nanti, siapa yang sebetulnya pengecut?”’”[14]

Dengan demikian dia ikut berperang.

Hadhrat Ali meriwayatkan, قيل لأبي بكر ولي يومئذ : مَعَ أَحَدِكُمَا جِبْرِيلُ ، وَمَعَ الْآخَرِ مِيكَائِيلُ ، وَإِسْرَافِيلُ مَلَكٌ عَظِيمٌ ، يَشْهَدُ الْقِتَالَ ، أَوْ قَالَ يَشْهَدُ الصَّفَّ. “Pada kesempatan perang Badr, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda berkenaan dengan saya dan Hadhrat Abu Bakr, ‘Diantara kalian berdua, pada sebelah kanan salah satunya terdapat Hadhrat Jibril, sementara pada sebelah kanan salah satunya lagi terdapat Hadhrat Mikail. Hadhrat Israfil adalah malaikat agung yang hadir dalam saf ketika perang.’”[15]

Dalam menjelaskan perihal perang Badr, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis, “Hadhrat Ali berkata, ‘Tiap kali saya teringat dengan Rasulullah (saw) saat perang, saya berlari menuju tenda beliau (saw). Namun bila mana saja saya pergi ke sana, saya mendapati beliau tengah merintih dalam sujud. Saya mendengar beliau (saw) tengah mengucapkan, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ “Yaa hayyu yaa qayyum” – “Wahai Tuhan, Tuhanku yang Maha Hidup! Tuhanku yang menganugerahkan kehidupan.” يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ “Yaa hayyu yaa qayyum” – “Wahai Tuhan, Tuhanku yang Maha Hidup! Tuhanku yang menganugerahkan kehidupan.”’”[16]

Melihat keadaan beliau (saw) seperti itu, Hadhrat Abu Bakr (ra) gelisah dan terkadang spontan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku rela mngorbankan ibu bapakku demi engkau! Anda tidak perlu khawatir, Allah Ta’ala pasti akan memenuhi janji-Nya.’

Namun, meskipun demikian Rasulullah (saw) tetap menyibukkan diri dengan doa. Beliau diliputi kekhawatiran bahwa terkadang janji Allah Ta’ala pun bersyarat.”[17]

Hadhrat Ali menikahi Hadhrat Fathimah pada tahun ke-2 Hijriyyah. Hadhrat Ali (ra) datang menemui Rasulullah untuk menyampaikan lamaran kepada Hadhrat Fathimah dan Hadhrat Rasulullah menerimanya dengan senang hati.

Hadhrat Anas meriwayatkan, Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Umar (ra) keduanya datang ke hadapan Rasulullah untuk menyampaikan lamaran kepada Hadhrat Fathimah (ra), namun Rasulullah (saw) terdiam dan tidak memberikan tanggapan.

Hadhrat Ali meriwayatkan, ‘Saya pergi menemui Hadhrat Rasulullah (saw) dan berkata, “Mohon kiranya Hudhur (yang mulia) berkenan menikahkan saya dengan Fathimah.’

Rasul bersabda, ‘Apakah kamu memiliki sesuatu sebagai maharnya?’

Saya menjawab, ‘Saya memiliki kuda dan baju besi.’

Rasul bersabda, ‘Kuda diperlukan olehmu, kalau begitu jual saja pakaian besimu.’

Saya lalu menjual baju besi saya seharga 480 dirham untuk digunakan sebagai mahar.[18]

Sebagian orang mengatakan, “Tetapkan saja dulu besaran hak maharnya, untuk pelunasannya kita pikirkan lagi nanti.”

Padahal, Rasulullah memerintahkan untuk mempersiapkan hak mahar terlebih dulu. Artinya hak mahar merupakan hak yang perlu segera dibayarkan.

Sebagian pria menulis kepada saya mengeluhkan, “Para wanita menuntut kepada kami untuk melunasi hak mahar di awal, padahal kehidupan kami baik-baik saja dan bahagia.”

Jika para wanita menuntut hak maharnya, itu memang haknya. Hak mahar seyogyanya diberikan segera saat itu juga. Kadang masalah tersebut dapat menimbulkan pertengkaran antara suami istri. Kemudian pada saat Thalaq atau Khula harus dilunasi. Padahal hak mahar tidak ada kaitannya dengan Thalaq atau Khula.

Dalam satu Riwayat disebutkan Hadhrat Ali menjual baju besinya kepada Hadhrat Utsman. Hadhrat Utsman pun membayarkan uangnya dan mengembalikan lagi baju besinya kepada Hadhrat Ali.[19]

Hadhrat Ali berkata, “Saya bawa uang tersebut dan meletakkannya di pangkuan Rasulullah (saw).”

Hadhrat Rasulullah (saw) mengambil satu genggam uang dari dalamnya dan memberikannya kepada Hadhrat Bilal lalu bersabda, “Belilah wewangian dengan uang ini.”

Rasul bersabda kepada beberapa orang, “Persiapkanlah jahez (hadiah pernikahan) untuk Fathimah.” Selanjutnya, dipersiapkan untuk Fathimah, sebuah tempat tidur dan bantal yang di dalamnya dipenuhi dengan ijuk (serabut) kurma.[20]

Dalam satu Riwayat, “Ketika perjodohan ini, Rasulullah (saw) bersabda kepada saya (Hadhrat Ali), ‘Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk melakukan demikian.’

Setelah rukhstanah, Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ali, ‘Setelah Fathimah tiba di tempatmu, janganlah berbicara apa-apa sebelum saya datang.’

Kemudian, Hadhrat Fathimah datang bersama dengan Ummu Aiman. Mereka berdua duduk pada satu bagian rumah dan saya (Hadhrat Ali) pun duduk pada bagian lainnya. Kemudian Rasulullah (saw) datang dan bersabda, ‘Apakah saudara saya (Hadhrat Ali) ada di sini?’

Ummu Aiman berkata, ‘Saudara anda? Anda menikahkan dia dengan putri Anda?’

Rasul bersabda, ‘Ya.’ (Karena hubungan kekerabatan seperti itu dapat menikah, karena Hadhrat Ali bukan saudara kandung Rasulullah)

Beliau (saw) lalu masuk ke dalam dan bersabda kepada Hadhrat Fathimah, ‘Bawakan saya air.’ Fathimah pun bangun dan mengambilkan wadah berisi air yang sudah tersedia di rumah. Rasulullah (saw) mengambilnya dan berkumur dengan air tersebut.

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Majulah.’

Hadhrat Fathimah (ra) pun maju.

Rasulullah (saw) memercikkan air ke kepala Hadhrat Fathimah lalu mendoakan, اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ Allahumma innii u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minasy syaitaanir rajiim. – ‘Ya Allah, hamba serahkan dia dan anak keturunannya ke dalam perlindungan Engkau dari setan yang terkutuk.’[21]

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Mengarah ke arah lain!’

Ketika Hadhrat Fathimah mengarah ke arah lain, Rasulullah (saw) memercikkan air ke bagian pertengahan antara dua pundaknya (bahunya) dengan air. Beliau (saw) pun melakukan hal yang sama kepada Hadhrat Ali. Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ali (ra), ‘Pergilah kepada istrimu dengan nama Allah dan keberkatan-Nya.’”[22]

Demikian juga ada satu Riwayat lain dari Hadhrat Ali, Rasulullah (saw) berwudlu dalam satu wadah kemudian memercikkan Hadhrat Ali dan Hadhrat Fathimah dengan air lalu bersabda, اللَّهُمَّ بَارك فيهمَا وَبَارك عَلَيْهِمَا وَبَارك لَهما فِي شملهما ‘Allahumma baarik fiihimaa wa baarik lahumaa fii syamlihimaa’ – ‘Ya Allah tempatkanlah keberkatan untuk mereka berdua dan berkatilah persatuan mereka berdua.’[23]

(عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَتَا) Hadhrat Aisyah dan Hadhrat Ummu Salamah meriwayatkan, أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُجَهِّزَ فَاطِمَةَ حَتَّى نُدْخِلَهَا عَلَى عَلِيٍّ “Rasulullah bersabda kepada kami, ‘Kita persiapkan untuk Fathimah hingga kita mempertemukannya dengan Hadhrat Ali.’ فَعَمَدْنَا إِلَى الْبَيْتِ فَفَرَشْنَاهُ تُرَابًا لَيِّنًا مِنْ أَعْرَاضِ الْبَطْحَاءِ ثُمَّ حَشَوْنَا مِرْفَقَتَيْنِ لِيفًا فَنَفَشْنَاهُ بِأَيْدِينَا ثُمَّ أَطْعَمْنَا تَمْرًا وَزَبِيبًا وَسَقَيْنَا مَاءً عَذْبًا وَعَمَدْنَا إِلَى عُودٍ فَعَرَضْنَاهُ فِي جَانِبِ الْبَيْتِ لِيُلْقَى عَلَيْهِ الثَّوْبُ وَيُعَلَّقَ عَلَيْهِ السِّقَاءُ فَمَا رَأَيْنَا عُرْسًا أَحْسَنَ مِنْ عُرْسِ فَاطِمَةَ Kami lalu menata rumah dengan membalurkan lumpur halus yang diambil dari sekitar daerah Bathha. Kami membuat bantal yang diisi penuh dengan ijuk (serabut daun) kurma dan kami menghaluskannya dengan tangan sendiri. Kami juga menyediakan kurma, kismis dan juga air yang segar. Kami pasangkan kayu di kamar untuk menggantungkan pakaian, wadah air dari kulit dan lain-lain. Kami mengambil sebatang kayu dan kami pasang di sisi rumah untuk mencantelkan baju dan menggantungkan tempat air minum dari kulit. Kami tidak pernah melihat pernikahan yang lebih baik dari pernikahan Hadhrat Fathimah.”[24]

Hidangan untuk undangan walimah diantaranya kurma, jou (jelai), paneer (sejenis keju lembut) dan Hais. Hais adalah makanan yang dibuat dengan mencampurkan kurma, ghee (sejenis mentega), paneer dan lain-lain.”[25]

Hadhrat Asma Binti Umais (أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ) (ra) meriwayatkan, وَلَقَدْ أَوَلَمَ عَلِيٌّ عَلَى فَاطِمَةَ فَمَا كَانَتْ وَلِيمَةٌ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ أَفْضَلَ مِنْ وَلِيمَتِهِ “Di zaman itu tidak ada walimah yang lebih baik dari undangan walimah ini.”[26]

Penjelasan rinci berkenaan dengan pernikahan Hadhrat Fathimah dan Hadhrat Ali tertulis sebagai berikut dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyin, “Hadhrat Fathimah adalah putri bungsu yang lahir dari perut Hadhrat Khadijah.[27] Diantara putra-putri beliau, Hadhrat Fathimah paling dicintai oleh Rasulullah (saw).[28] Ditinjau dari sisi keistimewaan pribadi pun, Hadhrat Fathimah lah yang paling layak untuk mendapatkan kecintaan istimewa tersebut. Ketika beliau berusia sekitar 15 tahun, lamaran kepada beliau untuk menikah mulai berdatangan. Pertama, Hadhrat Abu Bakr menyampaikan lamaran untuk menikahi Fathimah, namun Rasulullah (saw) tidak menerimanya. Setelah itu Hadhrat Umar pun menyampaikan lamaran, namun Rasulullah (saw) tidak merestuinya.[29] Kedua wujud suci itu beranggapan bahwa tampaknya Rasulullah (saw) bermaksud untuk menjodohkannya dengan Hadhrat Ali. Akhirnya mereka berdua mendorong Hadhrat Ali agar mengajukan lamaran untuk menikahi Fathimah. Hadhrat Ali pun sejak semula tampaknya berkeinginan seperti itu juga, namun karena merasa segan, sehingga beliau tidak mengungkapkannya. Mendengar itu, Hadhrat Ali segera menemui Rasulullah (saw) dan menyampaikan lamaran nikah.[30]

Di sisi lain, Hadhrat Rasulullah telah mendapatkan isyarat dari Allah Ta’ala dengan perantaraan wahyu bahwa pernikahan Hadhrat Fathimah seharusnya dengan Hadhrat Ali.[31]

Hadhrat Ali menyampaikan lamaran. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saya sudah mendapatkan isyarat dari Allah Ta’ala sebelumnya mengenai ini.’

Rasulullah (saw) pun menanyakan kesediannya kepada Hadhrat Fathimah. Hadhrat Fathimah terdiam karena sifat malu beliau.[32] Sikap demikian sama halnya dengan memperlihatkan persetujuan.

Rasulullah (saw) mengumpulkan satu kelompok Anshar dan Muhajirin lalu menikahkan Hadhrat Ali dan Hadhrat Fathimah.[33] Peritiwa itu terjadi pada awal atau pertengahan tahun ke-2 Hijri.

Setelah itu diusulkan supaya Rukhstanah dilakukan pada sekitar bulan Dzul Hijjah tahun ke-2 Hijriyyah setelah selesai perang Badr.[34] Hadhrat Rasulullah (saw) memanggil Hadhrat Ali dan bertanya, ‘Apakah kamu memiliki sesuatu untuk maharnya?’

Hadhrat Ali berkata, ‘Wahai Rasulullah! Saya tidak memiliki apa-apa?’

Hadhrat Rasulullah (saw), ‘Bagaimana dengan baju besi yang telah saya berikan padamu dari antara harta ghanimah?’

Hadhrat Ali berkata, ‘Kalau itu ada.’

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Itu saja kamu bawa.’[35]

Baju besi itu dijual seharga 480 dirham. Hadhrat Rasulullah (saw) lalu membelikan perlengkapan pernikahan dari uang tersebut.[36]

Jahez (hadiah pernikahan) yang Hadhrat Rasulullah (saw) berikan kepada Fathimah diantaranya adalah: sehelai kain cadar, sebuah bantal kulit yang dipenuhi dengan daun kurma kering, wadah air dari kulit.[37]

Dalam Riwayat lain dikatakan, Hadhrat Rasulullah (saw) juga memberikan sebuah mesin penggiling.[38] Setelah perlengkapan dipenuhi, timbul pemikiran untuk rumah tempat tinggal.

Sampai saat itu mungkin Hadhrat Ali masih tinggal bersama dengan Rasulullah (saw) di suatu ruangan yang berdekatan dengan masjid. Namun paska pernikahan dipandang perlu untuk menempati rumah terpisah bagi suami istri itu. Kemudian, Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ali, ‘Sekarang carilah rumah untuk kalian berdua tempati.’

Selanjutnya, Hadhrat Ali menempati suatu rumah sementara dan telah diadakan Rukhstanah (serah terima dari wali perempuan ke pengantin laki-laki) untuk Hadhrat Fathimah juga. [39]

Pada hari yang sama setelah Rukhstanah (menjelang malam pengantin), Rasulullah (saw) berkunjung ke rumah mereka berdua lalu meminta sedikit air, berwudhu dengannya dan berdoa. Beliau lalu memercikkan air tersebut pada Hadhrat Ali dan Hadhrat Fathimah sambil memanjatkan doa, اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيهِمَا وَبَارِكْ عَلَيْهِمَا ، وَبَارِكْ لَهُمَا فِي نَسْلِهِمَا Allaahumma baarik fiihimaa wa baarik alaihimaa wa baarik lahumaa fii naslihimaa. Artinya, ‘Wahai Tuhanku! Berkatilah jalinan antara mereka berdua dan curahkanlah keberkatan dalam hubungan mereka yang terjalin dengan orang lain dan berkati jugalah anak keturunan mereka.’ [40] Selanjutnya, beliau pergi meninggalkan pasangan yang baru menikah itu dan pulang.

Kemudian, suatu hari Hadhrat Rasulullah (saw) berkunjung lagi ke rumah Hadhrat Fathimah. Hadhrat Fathimah menyampaikan kepada Rasulullah (saw) bahwa Haritsah bin Nu’man Anshari memiliki rumah lebih dari satu. Beliau memohon berkenan untuk menyampaikan kepadanya supaya memberikan salah satu rumahnya.

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Sebelum ini ia telah beberapa kali pindah rumah demi kita, sekarang saya merasa malu untuk memohon lagi.’

Berita tersebut sampai kepada Haritsah lalu segera datang menemui Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apapun yang saya miliki adalah milik Anda. Demi Tuhan! Apapun yang Anda terima dari saya lebih membahagiakan bagi saya daripada harta yang saya miliki.’

Sahabat yang tulus ikhlas tersebut mengosongkan rumahnya dan meminta dengan memelas supaya Rasulullah (saw) berkenan menerimanya.” Hadhrat Ali dan Hadhrat Fathimah kemudian tinggal menetap di rumah tersebut.” [41]

Meskipun melalui hidup dengan kesederhanaan dan kekurangan, namun Hadhrat Ali dan Hadhrat Fathimah memperlihatkan contoh teladan dalam sifat zuhud dan qana’ah. Sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits bahwa Hadhrat Ali meriwayatkan, أَنَّ فَاطِمَةَ، عَلَيْهَا السَّلاَمُ شَكَتْ مَا تَلْقَى مِنْ أَثَرِ الرَّحَا، فَأَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَبْىٌ، فَانْطَلَقَتْ فَلَمْ تَجِدْهُ، فَوَجَدَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا، فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ “Hadhrat Fathimah mengeluhkan sakitnya tangan beliau ketika menggiling gandum. Pada saat itu Hadhrat Rasulullah (saw) menerima beberapa budak. Mendengar hal itu, Hadhrat Fathimah datang menemui Rasulullah (saw), namun beliau (saw) sedang tidak ada di rumah. Hadhrat Fathimah menemui Hadhrat Aisyah mengabarkan tujuan kedatangannya. Setelah Rasulullah (saw) datang, Hadhrat Aisyah mengabarkan tujuan kedatangan Fathimah kepada beliau (saw).”

Hadhrat Ali menuturkan, فَجَاءَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِلَيْنَا، وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْتُ لأَقُومَ فَقَالَ “Setelah itu Rasulullah (saw) datang berkunjung ke rumah kami, saat itu kami tengah berbaring diatas tempat tidur. Ketika kami akan bangkit, Rasul bersabda, عَلَى مَكَانِكُمَا Kalian berbaring saja.

فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِي وَقَالَ Rasulullah (saw) duduk diantara kami sehingga saya dapat merasakan dinginnya kaki beliau di dada saya. beliau (saw) bersabda, أَلاَ أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِي إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا تُكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ، وَتُسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَتَحْمَدَا ثَلاَثَةً وَثَلاَثِينَ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ‘Maukah kuberitahukan kepada kalian perkara yang lebih baik dari apa yang kalian minta? Itu ialah ketika kalian berbaring di atas tempat tidur bacalah takbir (Allahu akbar) sebanyak 34 kali, tasbih (yaitu subhanallah) 33 kali dan tahmid (alhamdulillah) 33 kali. Ini lebih baik bagi kalian daripada pelayan.”[42]

Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan, أَنَّ فَاطِمَةَ، أَتَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَسْأَلُهُ خَادِمًا وَشَكَتِ الْعَمَلَ فَقَالَ “Hadhrat Fathimah datang menemui Rasulullah (saw) guna meminta seorang pelayan. Beliau (saw) bersabda, مَا أَلْفَيْتِيهِ عِنْدَنَا ‘Kamu tidak akan mendapatkan pelayan dari kami.’”

Rasulullah (saw) tidak ingin memberikannya, padahal Hadhrat Ali pun memiliki hak untuk mendapatkan bagian dari harta rampasan perang, namun beliau (saw) tidak memberikannya.

Rasulullah (saw) bersabda, أَلاَ أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكِ مِنْ خَادِمٍ تُسَبِّحِينَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتَحْمَدِينَ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَتُكَبِّرِينَ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ حِينَ تَأْخُذِينَ مَضْجَعَكِ ‘Maukah kuberitahukan kepada kalian perkara yang lebih baik dari apa yang kalian minta? Itu ialah ketika kalian berbaring di atas tempat tidur bacalah tasbih (yaitu subhanallah) 33 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali dan takbir (Allahu akbar) sebanyak 34 kali.’”[43]

Dalam menjelaskan Riwayat hidup Rasulullah (saw), Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peristiwa tersebut yang beliau kutip dari Sahih Bukhari, “Hadhrat Fathimah (ra) mengeluh kepada Rasulullah (saw) tentang penderitaan yang beliau rasakan ketika menggiling tepung. Pada kesempatan itu Hadhrat Rasulullah (saw) mendapatkan beberapa budak. Hadhrat Fathimah pergi menemui Rasulullah (saw) namun saat itu Rasulullah (saw) sedang tidak ada di rumah. Fathimah (ra) mengabarkan tujuan kedatangannya kepada Hadhrat Aisyah lalu pulang. Ketika Rasulullah (saw) pulang, Hadhrat Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada Rasulullah (saw). Kemudian Rasulullah (saw) pergi menemui Fathimah. Hadhrat Fathimah menuturkan, ‘Saat itu kami telah berbaring di ranjang. Setelah melihat Rasulullah (saw), saya bergegas bangun, namun beliau bersabda, “Tetaplah di tempatmu.”

Beliau (saw) lalu duduk diantara kami berdua sehingga dinginnya kaki beliau dapat dirasakan di dada saya. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Maukah kuberitahukan kepada kalian suaru perkara yang lebih baik dari apa yang kamu minta? Itu adalah, ketika kalian berbaring di tempat tidur kalian, bacalah takbir 34 kali, subhanallah 33 kali dan alhamdulillah 33 kali. Ini lebih baik dari pelayan bagi kalian.”’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Dari kejadian ini kita mengetahui bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) sangat berhati-hati dalam pembagian harta. Meskipun saat itu Hadhrat Fathimah (ra) memerlukan seorang pelayan karena tangan beliau menderita ketika menggiling gandum, namun Rasulullah (saw) tidak memberikan pelayan kepada Hadhrat Fathimah. Melainkan Rasulullah (saw) menasihatkan untuk berdoa dan mengalihkan perhatian kepada Allah Ta’ala. Jika berkehendak, Rasulullah (saw) bisa saja memberikan pelayan untuk Fathimah, karena harta yang datang kepada Rasulullah (saw) untuk dibagikan, itu pun untuk dibagikan kepada para sahabat, bisa saja Hadhrat Ali memiliki hak di dalamnya begitu juga Hadhrat Fathimah.

Namun Rasulullah (saw) bersikap hati-hati dalam hal ini. Beliau tidak ingin membagikan harta tersebut kepada keluarga dan kerabat beliau sendiri karena bisa saja dari hal tersebut orang orang mengambil kesimpulan bahwa seorang penguasa menganggap harta rakyat sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk pribadinya saja. Rasulullah (saw) bersikap hati-hati dengan tidak memberikan kepada Fathimah, salah satu diantara budak belian pria maupun wanita yang beliau terima untuk tujuan dibagikan.

Dalam hal ini perlu diingat bahwa dari antara harta yang diterima itu, Allah Ta’ala telah menetapkan bagian untuk Rasulullah (saw) dan keluarga beliau. Rasulullah (saw) biasa membelanjakan harta bagian yang beliau terima dan juga membagikan kepada keluarga beliau, bagian mereka. Akan tetapi, Rasulullah (saw) tidak akan membelanjakan harta yang bukan bagian beliau dan tidak juga membagikannya kepada keluarga beliau. Apakah dunia dapat memberikan contoh sikap seorang raja (penguasa) yang sedemikian rupa menjaga Baitul Maal (harta Jemaat atau harta publik/negara)?

Jika pun mendapatkan contoh dalam hal ini, itu pun hanya akan didapatkan dari antara pengikut wujud suci ini. Adapun agama-agama lain tidak akan mampu untuk memperlihatkan tandingannya.”

Hadhrat Ali bin Abi Thalib meriwayatkan, “Suatu malam Rasulullah (saw) datang menemui kami di rumah dan bersabda, أَلاَ تُصَلُّونَ ‘Apakah kalian tidak shalat Tahajjud?’

Saya (Hadhrat Ali) menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللَّهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا ‘Wahai Rasulullah (saw)! Jiwa kami berada dalam kekuasaan Tuhan, jika Dia berkehendak untuk membangunkan kami, Dia akan melakukannya.’

Rasulullah (saw) tidak berkata apa-apa lalu kembali.”

(Yakni maksudnya, jika mata kami tidak terbuka, itu adalah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, Allah Ta’ala membangunkan kami dan kami shalat. Rasulullah (saw) tidak mendebatnya lalu kembali.)

فَانْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ قُلْتُ ذَلِكَ، وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَىَّ شَيْئًا، ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهْوَ مُدْبِرٌ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَيَقُولُ Ketika Rasulullah (saw) beranjak pulang, kami mendengar beliau (saw) bersabda sambil memukulkan tangan pada paha: ‏{‏وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلاً‏}‏‏ ‘wa kaanal insaanu aktsara syaiin jadala – ‘Manusia paling banyak berbantah.’”[44]

Dalam menjelaskan kisah tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Suatu malam Hadhrat Rasulullah (saw) berkunjung ke rumah Hadhrat Ali dan putri beliau, Fathimah. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Apakah kalian biasa melaksanakan shalat tahajjud (Shalat yang dilakukan pada pertengahan malam)?’

Hadhrat Ali berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Kami berusaha untuk melakukannya, namun jika mata kami tidak terbuka atas kehendakNya, maka kami tidak melakukannya.’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Biasakanlah tahajjud.’

Rasulullah (saw) lalu bangkit dan pulang sambil mengucapkan berkali-kali {‏وَكَانَ الإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَىْءٍ جَدَلاً‏}‏‏ ‘wa kaanal insaanu aktsara syai-in jadala’ (ini adalah ayat Al Quran) yang artinya, seringnya manusia takut untuk mengakui kesalahannya dan memberikan banyak alasan untuk menutupi kesalahannya. Maksudnya, bukannya mengatakan, ‘Kadang-kadang kami luput dari shalat tahajjud’, kenapa malahan berkata, ‘Jika Allah Ta’ala menghendaki agar kami tidak bangun, kami terus tertidur’, kenapa menghubungkan kesalahannya kepada Allah Ta’ala.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda lebih lanjut, “Mengenai kisah yang diriwayatkan oleh Hadhrat Ali yang darinya terbukti pada satu kesempatan Hadhrat Ali memberikan jawaban kepada Rasulullah (saw) yang di dalamnya terkesan ada bantahan dan perdebatan. Namun, bukannya marah atau emosi Rasulullah (saw) menempuh cara-cara yang halus sehingga pastinya Hadhrat Ali terus merasakan kelezatan manisnya kejadian itu sampai akhir hayat beliau dan kelezatan yang beliau rasakan merupakan hak beliau. Saat ini pun setelah mengetahui bagaimana Rasulullah (saw) menyatakan kekecewaan beliau, setiap mata yang memandang sampai ke kedalaman kagum dan takjub dibuatnya.

Terdapat riwayat dari Bukhari bahwa Hadhrat Ali karramallahu wajhahu (كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ) bersabda (meriwayatkan), ‘Suatu malam, yang mulia Hadhrat Rasulullah (saw) datang kepada saya dan Fathimah Az-Zahra (ra) yang merupakan putri beliau (saw) dan bersabda, “Apakah kalian tidak melaksanakan shalat tahajud?”

Saya menjawab, “Ya Rasulullah! Jiwa kami ada di tangan Allah Ta’ala, jika Dia berkehendak membangunkan kami maka Dia akan membangunkan.”

Setelah mendengar ini, beliau (saw) berbalik dan tidak mengatakan sepatah kata pun kepada saya. Kemudian saya mendengar beliau (saw) dan beliau (saw) membelakangi, dan seraya memukul pahanya beliau (saw) mengatakan bahwa manusia banyak membantah dalam berbagai perkara.’

Allah! Allah! Begitu halusnya cara yang Rasulullah (saw) lakukan untuk menasihati Hadhrat Ali (ra) bahwa beliau (saw) tidak berkeinginan memberikan jawaban terhadap perkataan Hadhrat Ali (ra). Jika itu orang lain maka ia akan memulai perdebatan, ‘Lihatlah posisi dan kedudukan saya, kemudian lihatlah jawabanmu, apakah kamu punya hak untuk menanggapi ucapan saya dengan cara seperti itu.’

Sekurang-kurangnya akan mulai terjadi perdebatan, ‘Pernyataan kamu ini salah bahwa manusia dalam keterpaksaan dan semua perbuatannya ada di tangan Allah Ta’ala. Dia membuat manusia melakukan apa yang Dia kehendaki. Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan taufik untuk melaksanakan shalat, jika tidak maka tidak akan memberikannya dan masalah ketidakberdayaan ini adalah bertentangan dengan Al-Qur’an’, namun beliau (saw) tidak melakukan kedua cara ini dan tidak pula marah terhadap Hadhrat Ali (ra).

Beliau (saw) tidak mendebat dan tidak membuktikan kekeliruan perkataan Hadhrat Ali (ra), namun beliau (saw) berbalik dan mengungkapkan keheranan beliau (saw) atas jawaban Hadhrat Ali (ra), ‘Manusia itu aneh, mereka selalu mengungkapkan sudut pandangnya sendiri dalam segala hal dan memulai perdebatan.’

Pada hakikatnya, apa yang beliau (saw) katakan ini di dalamnya terdapat faedah-faedah yang sedemikian rupa, yang seperseratusnya pun tidak bisa diberikan oleh ratusan perdebatan yang dilakukan oleh seseorang.”

Dari hadits ini kita bisa mengetahui banyak hal yang darinya tampak berbagai segi akhlak Rasulullah (saw) dan tampaknya tepat untuk menjelaskannya di tempat ini. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Pertama, tampak bahwa beliau (saw) sedemikian rupa memperhatikan kesalehan sehingga malam-malam beliau (saw) berkeliling memperhatikan sanak keluarganya. Banyak orang yang ia sendiri baik dan mengajarkan juga kebaikan kepada orang lain, tetapi keadaan rumah mereka sendiri rusak dan di dalam dirinya tidak ada kekuatan untuk memperbaiki anggota keluarganya dan mengenai orang-orang yang seperti itu terdapat permisalan yang masyhur yaitu, ‘kegelapan di bawah lentera.’ Artinya, sebagaimana lentera menerangi segala sesuatu di sekelilingnya, namun di bawahnya sendiri gelap, demikian pula orang-orang semacam ini memberikan nasihat kepada orang lain namun tidak memikirkan rumahnya sendiri, yaitu apakah anggota keluarganya mengambil faedah dari cahayanya.

Namun, Hadhrat Rasulullah (saw) tampak memberikan perhatian supaya anggota keluarga beliau (saw) pun tersinari dengan nur yang dengannya beliau (saw) ingin menyinari dunia dan beliau (saw) pun berkomitmen dalam hal ini serta selalu memeriksa dan menguji mereka. Dan tarbiyat keluarga adalah suatu kecakapan berderajat tinggi yang jika ini tidak ada dalam diri beliau (saw) maka dalam akhlak beliau (saw) terdapat kekurangan sesuatu yang sangat berharga.

Hal kedua yang tampak adalah, beliau (saw) sepenuhnya yakin terhadap ajaran yang beliau (saw) sampaikan ke hadapan dunia dan semenit pun beliau tidak merasa ragu atas hal ini, dan sebagaimana orang-orang mengajukan keberatan bahwa na’uudzubillah beliau (saw) membuat semua rancangan ini untuk membodohi dunia dan menegakkan kekuasaan beliau (saw), sebaliknya tidak ada wahyu yang datang kepada beliau, tidaklah seperti itu, melainkan beliau dianugerahi hati keyakinan atas kerasulan dan pengutusan beliau (saw) oleh Allah Ta’ala, yang tidak didapati tandingannya di dunia ini, karena mungkin saja beliau dengan berpura-pura di depan orang-orang membuktikan kebenaran beliau (saw), namun hal ini tidak bisa terbayangkan bahwa pada malam hari seseorang secara khusus datang kepada putri dan menantunya dan menanyakan apakah mereka melaksanakan ibadah yang tidak Dia wajibkan, bahkan pelaksanaannya Dia serahkan pada keadaan masing-masing orang-orang mukmin dan yang dilaksanakan di tengah malam.

Pada waktu itu perginya beliau (saw) dan nasihat beliau (saw) kepada putri dan menantu beliau (saw) untuk melaksanakan shalat tahajud membuktikan keyakinan beliau (saw) yang sempurna atas ajaran yang beliau (saw) ingin membimbing orang-orang kepadanya. Jika tidak, seorang pendusta yang mengetahui melaksanakan atau tidak melaksanakan ajaran tersebut adalah sama saja, ia tidak akan bisa memberikan nasihat kepada anaknya untuk mengamalkan hal ini di waktu yang sunyi. Ini hanya bisa dilakukan ketika terdapat keyakinan di hati seseorang bahwa tanpa mengamalkan ajaran itu tidak akan bisa meraih kesempurnaan.

Hal ketiga yang untuk membuktikannya saya menyampaikan peristiwa ini adalah, untuk menasihatkan mengenai segala sesuatu Hadhrat Rasulullah (saw) melakukannya dengan kesabaran dan bukannya bertengkar, beliau (saw) menjelaskan kepada seseorang kekeliruannya dengan kecintaan dan kasih sayang. Oleh karena itu pada kesempatan tersebut Hadhrat Ali (ra) ingin menanggapi pertanyaan beliau (saw) dengan mengatakan, ‘Ketika kami tidur maka apa daya kami untuk bisa bangun, karena ketika tidur manusia tidak bisa mengendalikan dirinya. Ketika seseorang tertidur bagaimana ia tahu sekarang telah waktu apa dan sekarang saya akan melaksanakan hal ini dan itu. Jika Allah Ta’ala membukakan mata, maka kami akan melaksanakan shalat, jika tidak, kami tidak berdaya’, karena pada masa itu belum ada jam alarm.

Mendengar hal ini Hadhrat Rasulullah (saw) merasa heran, karena keimanan yang ada di dalam hati Hadhrat Rasulullah (saw) tidak pernah membiarkan diri beliau (saw) lalai sehingga waktu tahajud terlewat dan beliau (saw) tidak menyadarinya. Oleh karena itu, beliau (saw) berpaling ke arah lain dan hanya mengatakan bahwa manusia biasa berbantah. Artinya, ‘Kedepannya kamu harus berusaha untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan lambat seperti ini.’ Hadhrat Ali karramallahu wajhahu  (كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ) bersabda, ‘Saya setelah itu tidak pernah absen melaksanakan shalat tahajud.’”[45]

Pembahasan mengenai Hadhrat Ali (ra) masih terus berlanjut di masa yang akan datang, insya Allah Ta’ala.

Keadaan yang terjadi di Pakistan akhir-akhir ini terus semakin parah. Beberapa pejabat pemerintah mengikuti para Maulwi dan bersama-sama dengan mereka berusaha untuk sebisa mungkin menyakiti kita. Oleh karena itu berdoalah secara khusus dan semoga Allah Ta’ala melindungi para Ahmadi yang tinggal di Rabwah, di kota-kota lainnya di Pakistan dan di mana pun, melindungi para Ahmadi dari keburukan mereka dan menyelamatkan mereka dari rencana mereka yang sangat mengerikan dan berbahaya, dan membuat sarana untuk mencengkeram orang-orang itu dengan segera.

Setelah shalat Jumat saya akan memimpin beberapa shalat jenazah gaib. Saya akan sampaikan mengenai mereka secara singkat. Yang pertama, yang terhormat Commander Chaudry Muhammad Aslam Sahib dari Kanada yang wafat pada 2 November 2020. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Commander Sahib lahir pada 1929 di Gujranwala. Beliau menyelesaikan matrik di Gujranwala dan mendapatkan posisi pertama, kemudian menyelesaikan Ta’limul Islam College dan meraih BSc di FSC College milik pemerintah di Lahore. Di Punjab University beliau mendapatkan taufik menyelesaikan MSc di bidang Fisika di bawah bimbingan Dokter Abdussalam.

Pada 1948 beliau bergabung dengan Furqan Force dan ditugaskan di pembebasan Kashmir yang mana beliau dianugerahi sertifikat pejuang Kashmir dan medali kemerdekaan Kashmir. Pada tahun 1955 Almarhum terdaftar di angkatan laut Pakistan dimana beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Direktur di Akademi Angkatan Laut Pakistan dan sebagai Deputy President of Inter-Services Selection Board di Kohat, sebagai Deputy Director Naval Educational Services di Naval Headquarter, Islamabad, serta berbagai jabatan penting lainnya.

Di sektor pendidikan, Almarhum juga mendapatkan taufik untuk berperan penting dalam perencanaan pembukaan sekolah dan perguruan tinggi baru angkatan laut dan pendirian Universitas Kelautan. Setelah pensiun dari angkatan laut Pakistan Almarhum pindah ke Kanada dan selama satu tahun melakukan waqaf arzi di Mission House Toronto.

Setelah itu pada tahun 1993 mengajukan permohonan waqaf pasca pensiun yang mana dikabulkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rh) dan masa pengkhidmatan beliau kepada Jema’at ini berlangsung selama 28 tahun. Di masa itu Almarhum mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Jaidad, Sekretaris Rishtanata, Additional Secretary Mission House, Mu’awin Klinik Homeopathy dan lain-lain.

Almarhum seorang yang berbicara dengan lemah lembut, rendah hati, memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih sayang. Almarhum seorang yang disiplin dalam shalat, memiliki jalinan kecintaan dengan Khilafat, setelah mewaqafkan diri beliau berusaha keras untuk menjalani setiap detik dalam hidupnya untuk mengkhidmati Jema’at. Sudah sejak lama Almarhum sakit, meskipun demikian kapan pun keadaannya membaik Almarhum segera datang ke mission house dan hingga akhir hayatnya sibuk dalam pengkhidmatan terhadap agama.

Almarhum meninggalkan istri dan tiga anak. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum dan meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum pada anak keturunannya.

Menantu Almarhum, Nusrat Jahan menuturkan, “Almarhum adalah sosok yang penuh kasih sayang, murah hati dan seorang yang baik. Almarhum menjalankan waqafnya dengan penuh kesetiaan. Seorang suami dan ayah teladan. Hingga sebelum kewafatannya Almarhum senantiasa menasihatkan kepada anak-anaknya bahwa hubungan dengan Jema’at dan Allah Ta’ala serta dawam dalam shalat adalah sangat penting dan sepanjang hidupnya Almarhum sendiri melaksanakan tahajud dan shalat-shalat lainnya dengan dawam.”

Jenazah kedua, yang terhormat Shahinah Qamar Sahibah, istri Qamar Ahmad Shafiq Sahib, Driver Nazarat Ulya. Shahinah Qamar Sahibah dan Putranya, yang tercinta Tsamar Ahmad Qamar wafat pada 12 November 2020 di siang hari pukul 13.15 dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Pada saat wafat Almarhumah berusia 38 tahun dan yang tercinta Tsamar Ahmad Qamar berusia 17 tahun. Selain suami, dua putri dan satu putra, Shahinah Qamar Sahibah meninggalkan tiga orang saudara kandung.

Putri Almarhumah mengatakan, “Ibunda saya wanita yang sangat baik. Beliau senantiasa menasihatkan hal-hal yang baik kepada saya, beliau sendiri selalu terdepan dalam kebaikan-kebaikan dan menceritakan segala hal kepada saya. Beliau teman baik saya. Beliau masya Allah senantiasa sibuk dalam pekerjaan-pekerjaan agama dan senantiasa siap berkhidmat setiap saat.”

Suami Almarhumah juga mengatakan, “Meskipun tidak terlalu terpelajar Almarhumah mengurusi rumah dengan baik dan memberikan tarbiyat dalam corak yang luhur kepada anak-anak.”

Selanjutnya berkenaan dengan putra Almarhumah, yang tercinta Tsamar Ahmad Qamar Ibnu Qamar Ahmad Shafiq Sahib yang wafat pada kecelakaan bersama dengan ibundanya. Almarhum siswa tahun pertama di Ta’limul Islam College dan dengan karunia Allah Ta’ala Almarhum baik dalam pelajaran. Almarhum juga dengan penuh semangat bertugas bersama para Khuddam. Banyak terlibat dalam tugas-tugas Jema’at. Ketika datang panggilan tugas dari Za’im, Almarhum segera meninggalkan semua pekerjaan dan datang.

Ayahanda Almarhum menulis, “Terkadang saya selama 3-4 hari dalam perjalanan tugas, maka Almarhum mengatakan kepada saya, ‘Tidak perlu khawatir ayah, saya yang akan mengurusi rumah, bertugaslah dengan tenang.’ Dan seperti itulah yang terjadi. Almarhum seorang anak yang sangat bertanggung jawab.”

Kakak perempuan Tsamar Ahmad Qamar menuturkan, “Adik saya masya Allah seorang yang sangat baik. Tidak pernah marah. Jika terkadang saya membentaknya, Almarhum sama sekali tidak marah, bahkan memiliki hubungan penuh kasih sayang dengan anak-anak dan dengan saudara-saudaranya. Adik-adiknya pun menuliskan hal yang sama.”

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan ampunan-Nya dan memberikan kesabaran dan ketabahan kepada seluruh keluarga, baik itu kepada anak-anak yang masih kecil maupun kepada ayah mereka. Seorang putra beliau telah wafat, demikian juga istri beliau.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Sa’idah Afzal Khokhar Sahibah, istri Muhammad Afzal Khokhar Sahib Syahid, dan ibunda dari Ashraf Mahmud Khokhar Sahib Syahid. Suami dan putra Almarhumah keduanya syahid. Almarhumah wafat pada 12 September di Kanada. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Setelah kesyahidan istri dan putranya Almarhumah menghadapi keadaan yang sangat sulit, namun beliau menghadapi setiap kesulitan dengan kesabaran dan ketabahan. Almarhumah menjalani hidupnya dengan penuh kewibawaan, tidak pernah mengeluh. Almarhumah menjalankan kewajibannya menikahkan tiga orang putrinya.

Beberapa tahun sebelumnya beliau juga menghadapi kesedihan atas kewafatan yang mendadak dari putranya yang masih muda, Asif Mahmud Khokhar. Pada kesempatan itu pun Almarhumah bersikap sabar dan memperlihatkan contoh kesabaran yang tinggi. Almarhumah sosok yang memperlakukan seluruh anggota keluarga dengan kasih sayang, pengkhidmat tamu, memperhatikan orang-orang miskin. Memiliki jalinan yang kokoh, penuh rasa hormat dan cinta dengan khilafat. Senantiasa bersemangat dalam mengikuti gerakan-gerakan dalam Jema’at. Sepanjang usianya Almarhumah selalu memberikan sedeqah dan khairat atas nama kedua orang tuanya, suami beliau yang syahid, putra-putra beliau dan sesepuh-sesepuh lainnya dalam keluarga.

Kedua orang tua Almarhumah, yang terhormat Mirza Fazal Karim Sahib dan Shugra Begum Sahibah adalah orang-orang yang sangat mencintai Jemaat. Almarhumah adalah kakak sulung dari yang terhormat Mirza Mujib Ahmad Sahib dan Mirza Fazlurrahman Sahib, dari London Timur. Almarhumah adalah kakak ipar Mubarak Khokhar Sahib dari Lahore. Bibi dari Mubarak Shiddiqi Sahib.

Almarhumah dengan karunia Allah Ta’ala seorang mushi. Almarhumah meninggalkan seorang putra, yang terhormat Bilal Ahmad Khokhar Sahib dan tiga orang putri, Thayyibah Qureshi, Tahirah Majid dan Tsaminah Khokhar. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat Almarhumah, menganugerahkan rahmat dan ampunan-Nya dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhumah untuk bisa meneruskan kebaikan-kebaikan ibunya.

 Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Saefullah M.A. (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab).


[1] Usdul Ghaabah. أُسد الغابة‌ ج‌ ٤، ص‌ ١٦. ويروى‌ في‌ أُسد الغابة‌ أيضاً ج‌ ٣، ص‌ ٣١٧ عن‌ عبدالرحمن‌ بن‌ عويم‌ بن‌ ساعدة‌ الانصاريّ أنـّه‌ قال‌: رَسُولُ اللَهِ صلى‌ اللَهُ عَلَيهِ وآلِهِ وسَلَّمَ: تَواخَوا فِي‌ اللهِ أَخَوينِ أَخَوينِ، وأَخَذَ بِيَدِ عَلِي‌ٍّ وقَالَ: هَذَا أَخِي‌. أخرجه‌ ابن‌ منده‌، وأبونعيم‌.

[2] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d dan Biharul Anwar karya al-Majlisi(بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ١٩ – الصفحة ١٣٠)

[3] Irsyadus Saari li Syarh Shahih al-Bukhari (إرشاد الساري لشرح صحيح البخاري 1-15 ج8) karya Syihabuddin Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani (شهاب الدين أبي العباس أحمد بن محمد/القسطلاني), (بَابُ كَيْفَ آخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَصْحَابِهِ); tercantum juga dalam ‘Uyuunul Atsar (السيرة النبوية كما في عيون الأثر), persaudaraan antara Muhajir dan Anshar (المؤاخاة بين المهاجرين والأنصار),

[4] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab (ذِكْرِ مُؤَاخَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ): عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ يَحْيَى بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ (ح) وَحَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ ضَمْرَةَ بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالُوا : لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم الْمَدِينَةَ آخَى بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ بَعْضَهُمْ لِبَعْضٍ ، وَآخَى بَيْنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ آخَى بَيْنَهُمْ عَلَى الْحَقِّ وَالْمُؤَاسَاةِ وَيَتَوَارَثُونَ بَعْدَ الْمَمَاتِ دُونَ ذَوِي الأَرْحَامِ ، وَكَانُوا تِسْعِينَ رَجُلاَّ : خَمْسَةٌ وَأَرْبَعُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينِ ، وَخَمْسَةٌ وَأَرْبَعُونَ مِنَ الأَنْصَارِ ، وَيُقَالُ : كَانُوا مائَةً ؛ خَمْسُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينِ ، وَخَمْسُونَ مِنَ الأَنْصَارِ ، وَكَانَ ذَلِكَ قَبْلَ بَدْرٍ ، فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ بَدْرٍ وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَأُولُو الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللهِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} فَنَسَخَتْ هَذِهِ الآيَةُ مَا كَانَ قَبْلَهَا ، وَانْقَطَعَتِ الْمُؤَاخَاةُ فِي الْمِيرَاثِ ، وَرَجَعَ كُلُّ إِنْسَانٍ إِلَى نَسَبِهِ وَوَرِثَهُ ذَوُو رَحِمِهِ. .

[5] Usdul Ghaabah.

[6] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 329

[7] Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 6, h. 262, Hadits ‘Ammar ibn Yasir, hadits 18511 Terbitan ‘Alamul Kutub, Beirut, 1998. tercantum juga dalam Fadhailush Shahaabah karya Imam Ahmad ibn Hanbal (فضائل الصحابة لأحمد بن حنبل), Kabar mengenai Amirul Mu’minin Ali (أَخْبَارُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ), keutamaan Amirul Mu’minin Ali radhiyAllahu ‘anhu (وَمِنْ فَضَائِلِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), no. 1026. Di masa Khilafatnya [tahun 35-40 Hijriyyah atau 656-661], Hadhrat Ali mengutus Hadhrat Abdullah ibn Abbas untuk menyadarkan golongan Khawarij yang keluar dari barisan Khalifah lalu membuat kerusuhan. Ribuan dari mereka bertaubat. Sisa dari mereka yang tidak bersedia bertaubat, diantaranya Abdurrahman ibn Muljam dan kawan-kawannya yang membuat konspirasi untuk melakukan pembunuhan terhadap tiga tokoh yang mereka anggap mengacaukan dunia Muslim; Hadhrat Ali ra, Hadhrat Amru bin Ash dan Hadhrat Muawiyah. Hadhrat Amru dan Hadhrat Muawiyah selamat dari upaya pembunuhan, sedangkan Hadhrat Ali ra dapat mereka syahidkan pada 40 Hijriyah (661) di waktu Shubuh di Kufah. Beberapa bulan kemudian Hadhrat Muawiyah dan Hadhrat Hasan ra putra Hadhrat Ali ra mengadakan perundingan yang dengan beberapa syarat hasilnya ialah Hadhrat Muawiyah memegang kekuasan seluruh wilayah Muslim.

[8] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A. dalam Sirat Khatamun Nabiyyin Volume II, Attack of Kurz bin Jābir and Ghazwah of Safwān – Jamādiyul-Ākhir5 2 A.H. As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 412, Ghazwatu Safwān Wa Hiya Ghazwatu Badril-Ūlā, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[9] Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad.

[10] Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. As-Sirah al-Halabiyyah (السيرة الحلبية), (باب غزوة بدر الكبرى) karya ‘Ali Burhanuddin al-Halabi (علي بن برهان الدين الحلبي).

[11] Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. Tercantum juga dalam Tafsir al-Qummi karya ‘Ali bin Ibrahim al-Qummi (تفسير القمي – علي بن إبراهيم القمي – ج ١ – الصفحة ٢٦٥) dan A’yaanusy Syi’ah.

[12] Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad, jilid 2, h. 12, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[13] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Jihad, bab fil mubarazah atau duel (باب في المبارزة), no. 2665

[14] Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 1, h. 338-339, Hadits 948, Musnad Ali ibn Abi Thalib (وَمِنْ مُسْنَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), Penerbit Alamul Kutub, Beirut, 1998. Utbah mengatakan, “Kalau kalau bersedia pulang ke Makkah dan membatalkan perang, saya rela kalian sebut saya pengecut, asal kalian selamat. Meskipun demikian, saya bukan penakut.” Utbah menasehati kaumnya demi keselamatan mereka sendiri. Namun, mereka menolak dan bersikeras ingin memerangi umat Muslim. Walaupun ditolak nasehatnya, Utbah tetap yang terdepan berperang di pihak Quraisy. Salah satu aspek sifat jahiliyyah ialah kehormatan dan solidaritas kesukuan, meski dalam hal kesalahan.

[15] Al-Ahaadits al-Mukhtarah (الأحاديث المختارة أو المستخرج من الأحاديث المختارة مما لم يخرجه البخاري ومسلم في صحيحيهما), Hadits dari Amirul Mu-minin Abul Hasan ‘Aliyy bin Abi Thalib (من حديث أمير المؤمنين أبي الحسن علي بن أبي طالب), Perawi Abdurrahman bin Qais al-Hanafi Abu Shalih (عبد الرحمن بن قيس الحنفي أبو صالح عن علي عليه السلام) karya Dhiyauddin Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdul Wahid al-Maqdisi wafat 643 Hijriyyah (ضياء الدين أبو عبد الله محمد بن عبد الواحد المقدسي (المتوفى: 643هـ)). Tercantum juga dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal, Hadits 1257, Musnad Ali ibn Abi Thalib (وَمِنْ مُسْنَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ): عَنْ أَبِي صَالِحٍ الْحَنَفِيِّ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ قِيلَ لِعَلِيٍّ وَلِأَبِي بَكْرٍ يَوْمَ بَدْرٍ مَعَ أَحَدِكُمَا جِبْرِيلُ وَمَعَ الْآخَرِ مِيكَائِيلُ وَإِسْرَافِيلُ مَلَكٌ عَظِيمٌ يَشْهَدُ الْقِتَالَ أَوْ قَالَ يَشْهَدُ الصَّفَّ‏ .

[16] As-Sunanul-Kubrā, By Imām Abū ‘Abdir-Raḥmān Aḥmad bin Shu‘aib An-Nasa’ī, Kitābu ‘Amalil-Yaumi Wal-Lailati, Bābul-Istinṣāri ‘Indal-Liqā’i, Volume 6, pp. 156-157, Ḥadīth No. 10447, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1991):لما كان يزم بدر قاتلت شيئا من قتال ثم جئت إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم أنظر ما صنع فجئت فإذا هو ساجد يقول يا حي يا قيوم يا حي يا قيوم ثم رجعت إلى القتال ثم جئت فإذا هو ساجد لا يزيد على ذلك ثم ذهبت إلى القتال ثم جئت فإذا هو ساجد يقول ذلك ففتح الله عليه ; Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 262, Ghazwatu Badr, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[17] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A. dalam Sirat Khatamun Nabiyyin. Ṣaḥīḥu Muslim, Kitābul-Jihād Was-Siyar, Bābul-Imdādi Bil-Malā’ikati Fī Ghazwati Badr, Ḥadīth No. 4588.

[18] Al-Mu’jamul Kabir (المعجم الكبير للطبراني), (ابو خلاد), nomor 18448.

[19] Biharul Anwar karya al-Majlisi (بحار الأنوار للمجلسي), Kasyful Ghummah karya al-Arbili (كشف الغمة للأربلي). Al-Manaqib (المناقب – الموفق الخوارزمي – الصفحة ٣٤٩): فأخذت درعي فانطلقت به إلى السوق فبعته بأربعمائة درهم سود هجرية من عثمان بن عفان فلما ان قبضت الدراهم منه وقبض الدرع مني قال لي: يا أبا الحسن الست أولى بالدرع منك وأنت أولى بالدراهم منى؟ فقلت: نعم قال فان الدرع هدية منى إليك قال فأخذت الدرع والدراهم وأقبلت إلى رسول الله صلى الله عليه وآله فطرحت الدرع والدراهم بين يديه .

[20] Al-Mu’jamul Kabir (المعجم الكبير للطبراني), (ابو خلاد), nomor 18448.

[21] Kalau yang didoakan ialah pengantin laki-laki maka teks Arabnya ialah, اللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ – Allahumma innii u’iidzuhu bika wa dzurriyyatahu minasy syaitaanir rajiim.   dengan arti yang sama.

[22] Riyaadhun Naadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة) “Pembahasan Sepuluh orang Mulia”, bahasan Amirul Mukminin ‘Aliyy bin Abi Thalib (الباب الرابع: في مناقب أمير المؤمنين علي بن أبي طالب) pasal (الفصل السادس: في خصائصه) bab (ذكر قدم اختصاصه بتزويج فاطمة -عليها السلام).

[23] Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 79 – 80 – فهرس أطراف الحديث والآثار). Tercantum juga dalam (الصواعق المحرقة على أهل الرفض والضلال والزندقة نویسنده : الهيتمي، ابن حجر    جلد : 2  صفحه : 470) dan (شرح إحقاق الحق – السيد المرعشي – ج ٢٠ – الصفحة ٥٩٧).

[24] Sunan Ibnu Maajah, Kitab tentang pernikahan.

[25] Jelai ialah sejenis gandum yang bisa disiapkan dalam bentuk sereal (semacam bubur). Ghee ialah sejenis mentega yang dipanaskan hingga mendidih. Paneer ialah sejenis keju cottage yang tidak dimatangkan. Ia diasamkan dengan cara memadatkan susu yang dihangatkan dengan jus sitrun, cuka, atau zat asam lainnya. Di Arab saat itu sudah mengenal susu asam yang dikeringkan dan dipadatkan.

[26] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d. Subulul Huda war Rasyaad (سبل الهدى والرشاد – الصالحي الشامي – ج ١١ – الصفحة ٤٢)

[27] Al-Iṣābah Fī Tamīziṣ-Ṣaḥābah, By Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, p. 263, Kitābun-Nisā’, Fāṭimatuz-Zahrā’, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2005).

[28] Sunanut-Tirmidhī, Kitābul-Manāqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), Bābu Faḍli Fāṭimata binti Muḥammad (saw), Ḥadīth No. 3868: عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ كَانَ أَحَبَّ النِّسَاءِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَاطِمَةُ وَمِنَ الرِّجَالِ عَلِيٌّ ‏.‏  Buraidah meriwayatkan bahwa wanita yang paling disayangi Rasulullah (saw) ialah Fathimah.

[29] Tentang tidak diterimanya lamaran Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Umar (ra), Sunanun-Nasa’ī, Kitābun-Nikāḥ, Bābu Tazawwujil-Mar’ati Mithlahā Fis-Sinni, Ḥadīth No. 3221. Tentang umur dan waktu menikah Hadhrat Fathimah (ra): Muhibbuddin ath-Thabari (محب الدين الطبري ،العلامة‎) dalam Dzakhair al Uqba (ذخائر العقبى في مناقب ذوى القربى), pada bab (ذكر تزويجها بعلى بن أبى طالب كرم الله وجهه) dan bab (ذكر ما جاء في مهرها وكيف تزويجها).

[30] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 8, p. 252, Dhikru Banāti Rasūlillāhi saw Fāṭimatu bintu Rasūlillāhi saw, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, pp. 358-359, Dhikru Tazwīji ‘Aliyyin Bi-Fāṭimata Raḍiyallāhu ‘Anhumā, Dārul-Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[31] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, p. 362, Dhikru Tazwīji ‘Alī ra Bi Fathimah ra, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[32] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 8, p. 252, Dhikru Banāti Rasūlillāhi saw Fāṭimatu bintu Rasūlillāhi saw, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[33] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, p. 362, Dhikru Tazwīji ‘Alī ra Bi Fathimah ra, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[34] Al-Iṣābah Fī Tamīziṣ-Ṣaḥābah, By Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, pp. 263-264, Kitābun-Nisā’, Fāṭimatuz-Zahrā’, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2005); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 53-54, Thumma Dakhalatis-Sanatuth-Thāniyatu Minal-Hijrah / Ghazwatus-Sawīq, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Sunanu Abī Dāwūd (سنن أبي داود), Kitābun-Nikāḥ (كتاب النكاح), Bābu Fir-Rajuli Yadkhulu Bimratihī atau tentang seorang laki-laki (yaitu Hadhrat ‘Ali) yang ingin menikmati pernikahan sebelum membayar mahar dan Nabi saw tidak mengizinnya hingga membayar mahar (باب فِي الرَّجُلِ يَدْخُلُ بِامْرَأَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُنْقِدَهَا شَيْئًا), Ḥadīth No. 2125: عَنْ رَجُلٍ، مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلاَمُ لَمَّا تَزَوَّجَ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَرَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ بِهَا فَمَنَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى يُعْطِيَهَا شَيْئًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَيْسَ لِي شَىْءٌ ‏.‏ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ أَعْطِهَا دِرْعَكَ ‏”‏ ‏.‏ فَأَعْطَاهَا دِرْعَهُ ثُمَّ دَخَلَ بِهَا ‏.‏ .

[35] Al-Iṣābah Fī Tamīziṣ-Ṣaḥābah, By Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, pp. 263-264, Kitābun-Nisā’, Fāṭimatuz-Zahrā’, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2005).

[36] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 2, pp. 359-360, Dhikru Tazwīji ‘Alī ra Bi Fathimah ra, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[37] Sunanun-Nasa’ī, Kitābun-Nikāḥ, Bābu Jihāzur-Rajulibnatahu, Ḥadīth No. 3384

[38] Al-Iṣābah Fī Tamīziṣ-Ṣaḥābah, By Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, p. 267, Kitābun Nisā’, Fāṭimatuz-Zahrā’, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2005).

[39] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 8, p. 253, Dhikru Banāti Rasūlillāhi saw Fāṭimatu bintu Rasūlillāhi saw, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[40] Al-Iṣābah Fī Tamīziṣ-Ṣaḥābah, By Aḥmad bin ‘Alī bin Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, p. 265, Kitābun Nisā’, Fāṭimatuz-Zahrā’, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (2005). Sunan al-Kubra karya Imam an-Nasa’i (السنن الكبرى للنسائي). Musnad ar-Rayyaani (مسند الروياني), Musnad Buraidah (مُسْنَدُ بُرَيْدَةَ بْنِ الْحَصِيبِ ), Ibnu Buraidah, dari Buraidah (ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ بُرَيْدَةَ). Di dalam Kitab Biharul Anwar dan Kasyful Ghummah, disebutkan Rasulullah (saw) berkata kepada Asma’ binti Umais (saat itu istri Ja’far bin Abi Thalib), “Bawakanlah bejana hijau untukku.” Asma’ pun berdiri dan membawakan sebuah bejana yang penuh dengan air dan membawanya ke hadapannya. Nabi (saw) mengambil segenggam air dan memercikkannya di atas kepala Sayidah Fatimah dan telapak satunya mengambil air dan mengusapkan ke tangannya dan kemudian memercikkannya ke leher dan badannya. Kemudian berkata, “Ya Allah! Fatimah dariku dan aku dari Fatimah. Sebagaimana Engkau jauhkan kotoran dariku dan menyucikanku sesuci-sucinya, maka sucikanlah ia.” Kemudian dia berkata supaya meminum air dan membasuh mukanya dengan air tersebut dan berkumur-kumur. Kemudian beliau meminta air dari bejana lain dan memanggil Ali dan beliau melakukan hal yang serupa dan berdoa dengan doa yang sama dan kemudian beliau berkata, قوما إلى بيتكما جمع الله بينكما وبارك في نسلكما، وأصلح بالكما “Semoga Allah mendekatkan hati kalian, menciptakan kasih sayang, memberkati keturunan kalian dan memperbaiki urusan-urusan kalian.”

[41] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 8, pp. 253-254, Dhikru Banāti Rasūlillāhi saw, Fāṭimatu bintu Rasūlillāhi saw, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[42] Shahih al-Bukhari 3705, Kitab keutamaan para Sahabat Nabi saw (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), bab keutamaan Ali bin Abi Thalib (باب مَنَاقِبُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ الْقُرَشِيِّ الْهَاشِمِيِّ أَبِي الْحَسَنِ رضى الله عنه).

[43] Shahih Muslim nomor 2728, Kitab tentang Dzikr, Doa, Taubat dan Istighfar (كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار), bab bertasbih di awal siang dan menjelang tidur (باب التَّسْبِيحِ أَوَّلَ النَّهَارِ وَعِنْدَ النَّوْمِ).

[44] Surah yang dimaksud tercantum dalam Surah al-Kahfi, 18:55 dengan bismillahir rahmanir rahim sebagai ayat pertama. Hadits tercantum dalam Shahih al-Bukhari nomor 7465, Kitab tentang Tauhid atau Keesaan Allah (كتاب التوحيد), bab kehendak Allah (باب فِي الْمَشِيئَةِ وَالإِرَادَةِ): عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، أَنَّ حُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ ـ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ ـ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم طَرَقَهُ وَفَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَقَالَ لَهُمْ

[45] Doa karramallahu wajhahu artinya semoga Allah memuliakan wajahnya. Di khotbah ini adalah juga sabda Hudhur atba mengutip tulisan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Ucapan karramallahu wajhahu untuk Hadhrat Ali (ra) populer di kalangan Ahlus Sunnah, meski sebagian menolaknya. Ucapan doa ‘alaihis salaam untuk Hadhrat Ali (ra) dan ‘alaihas salaam untuk Hadhrat Fathimah (ra) biasa dituliskan oleh kalangan Syi’ah, walau pun sebenarnya di beberapa Kitab yang menjadi rujukan kaum Ahlus Sunnah menuliskannya seperti Shahih al-Bukhari.

(Visited 321 times, 1 visits today)