Etika Berdoa dan Tekun Dalam Berdoa

etika berdoa, doa

Doa adalah suatu hal yang sangat indah. Sayang sekali mereka yang berdoa tetapi tidak memahami cara berdoa yang benar, apalagi mengetahui cara-cara pengabulan doa. Bagi mereka ini, realitas doa merupakan suatu hal yang asing. Bahkan ada dari antara mereka yang sama sekali menyangkal kemakbulan doa. Ada pula mereka yang tidak menyangkal, namun karena doa mereka tidak dikabulkan akibat dari kurangnya pemahaman cara berdoa dan bahkan bukan seorang pendoa yang benar maka sebenarnya keadaan mereka lebih buruk lagi dari mereka yang menyangkal kemujaraban doa. Keadaan seperti itulah yang telah mendorong banyak dari mereka ke arah atheisme.

Persyaratan pertama untuk berdoa adalah si pemohon jangan sampai jemu dan putus asa karena tidak ada suatu apa pun yang terjadi. Terkadang ada yang berdoa terus sampai sudah akan dikabulkan, tetapi si pemohon kemudian menjadi jemu dan hasilnya mengecewakan serta menimbulkan frustrasi. Frustrasi muncul sebagai akibat dari keraguan atas efektivitas suatu doa dan berakhir menjadi penyangkalan terhadap Tuhan. Mereka menyatakan, jika memang ada Tuhan yang menerima doa- doa manusia, kenapa doa mereka tidak dikabulkan padahal mereka sudah lama memohonkannya? Kalau saja mereka yang berpikir demikian itu mau merenungi kurangnya keteguhan hati mereka, mereka akan menyadari bahwa frustrasi mereka itu adalah hasil dari ketergesaan dan ketidak- sabaran mereka sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan pandangan salah terhadap kekuatan Allah Swt dan berakhir dengan keputus-asaan. Karena itu janganlah pernah jemu.

Tekun dalam Berdoa

Berdoa itu sama seperti petani yang menebar benih. Ia menyemaikan benih yang bagus ke dalam tanah dan pada saat itu siapa yang bisa memperkirakan apakah benih itu akan tumbuh baik dan memberikan hasil? Orang luar dan si penanam itu sendiri tidak bisa melihat bagaimana benih itu di dalam tanah mengambil bentuk sebagai tanaman. Realitasnya dalam waktu beberapa hari, benih itu berubah dan mengambil bentuk sebagai tanaman yang tunasnya menyembul ke permukaan tanah dan terlihat oleh siapa pun. Sejak saat ditanam sebenarnya benih itu telah mengadakan persiapan untuk menjadi tanaman, namun mata kita yang hanya bisa melihat suatu yang kasat mata tidak menyadarinya sampai kecambah benih muncul di atas permukaan tanah.

Terkait:   Mendekatkan diri Kepada Allah

Seorang anak yang awam pada tahapan demikian tidak bisa memahami bahwa tanaman tersebut akan memberikan hasil hanya pada saatnya berbuah, ia menginginkan tanaman tersebut langsung menghasilkan buah. Seorang penanam yang cerdas lebih mengetahui bila saatnya tanaman itu akan memberikan hasil. Ia akan menjaganya secara tekun dan merawatnya hingga waktunya tanaman itu menghasilkan buah sampai saat masaknya.

Begitu juga halnya dengan berdoa yang harus dirawat dengan cara sama sampai membuahkan hasil. Mereka yang selalu tergesa-gesa akan cepat jemu dan menyerah, sedangkan mereka yang tekun akan berteguh hati sampai mencapai sasaran.

Sesungguhnya ada beberapa tahapan dalam cara berdoa, yang jika tidak diketahui akan meluputkan si pemohon dari buah hasil doanya. Mereka selalu merasa tergesa dan tidak sabar menunggu, padahal kinerja Allah Swt selalu mengikuti proses tertentu. Tidak pernah terjadi ada manusia yang menikah hari ini lalu keesokan harinya sudah mendapat seorang anak. Meski pun Tuhan itu Maha Kuasa dan bisa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya, namun tetap saja Dia akan mengikuti kaidah dan sistem yang telah diterapkan-Nya sendiri. Pada tahapan awal dari proses kandungan seorang anak, tidak ada suatu apa pun yang terlihat seperti halnya perawatan tanaman. Selama empat bulan pertama belum ada kepastian. Baru kemudian terasa ada gerakan dan setelah waktunya yang penuh barulah anak itu lahir dengan cara yang sulit.

Kelahiran anak itu sepertinya memberikan kehidupan baru kepada ibunya. Susah bagi seorang laki-laki membayangkan kesulitan yang harus dialami seorang wanita selama masa mengandung, tetapi nyatanya kelahiran anak tersebut seolah memberi kehidupan baru bagi sang ibu. Ia bersedia mati guna kegembiraan telah melahirkan anaknya. Begitu juga halnya dengan seorang pendoa dimana ia harus meninggalkan ketergesaan dan bersedia menanggung semua kesulitan dan jangan pernah membayangkan bahwa doanya tidak diterima. Pada saatnya yang tepat nanti hasil doa akan mewujud sebagaimana seorang anak yang menjadi dambaan telah lahir.

Terkait:   Doa Orang Yang Mulia Tidak Selalu Dikabulkan

Suatu doa harus terus ditekuni sampai memberikan hasil yang diharapkan. Kalian tentunya tahu jika sepotong perca kain ditaruh di bawah kaca pembesar di bawah sinar matahari, sinar yang terkonsentrasi akan menaikkan suhu sampai suatu titik yang membakar perca tersebut. Begitu juga caranya dalam membawa doa sampai kepada titik yang memberikan kekuatan yang membakat segala kegagalan dan frustrasi serta mencapai hasil yang diharapkan.

Kalian harus berdoa dalam waktu yang panjang, barulah Tuhan akan memanifestasikan hasilnya. Adalah pengalamanku sendiri yang juga sama dengan pengalaman para muttaqi di masa lalu bahwa biasanya jika diawali dengan kesunyian untuk jangka waktu lama maka ada harapan permohonan doa itu dikabulkan, tetapi jika ada responsi segera maka hasilnya tidak pasti menguntungkan si pemohon.

Manakala seorang pengemis mendatangi seseorang dan memohon dengan rendah hati dan tekun serta tidak pindah dari tempatnya duduk meski telah diusir untuk terus saja memohon maka yang dimintai walaupun ia bersifat kikir pada akhirnya akan tergugah untuk memberikan sesuatu. Tidakkah sepatutnya seorang pemohon doa juga memiliki ketekunan sebagai seorang pengemis? Ketika Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih melihat hamba-Nya yang lemah bersujud demikian lama di hadirat- Nya, Dia pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya itu merugi.

Bila seorang wanita hamil setelah empat atau lima bulan menjadi tidak sabaran untuk melihat anaknya dan mengupayakan melahirkan cepat dengan bantuan obat-obatan, tidak saja anaknya tidak akan lahir hidup tetapi ia sendiri juga akan mengalami kekecewaan berat. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak sabar melihat hasil sebelum waktunya, bukan saja ia akan merugi tetapi juga membahayakan keimanannya sendiri. Dalam keadaan demikian itu orang lalu menjadi atheis. Dulu ada seorang tukang kayu di desa kami yang isterinya sakit dan kemudian meninggal dunia. Ia mengatakan bahwa jika ada Tuhan, tentunya semua doanya akan dikabulkan dan isterinya tidak harus mati. Karena itulah ia kemudian menjadi atheis.

Terkait:   Tiga Syarat Tobat

Seorang saleh yang melaksanakan kesetiaan dan ketulusan, maka keimanannya menjadi bertambah baik dan ia akan mencapai hasil yang diharapkan. Kekayaan duniawi ini tidak ada artinya dalam pandangan Allah Yang Maha Perkasa. Dia bisa melakukan apa pun setiap saat. Tidakkah kalian melihat bagaimana Dia menganugerahkan kerajaan kepada umat yang tadinya sama sekali tidak dikenal dan menjadikan kerajaan-kerajaan besar tunduk kepada mereka serta telah menjadikan hamba sahaya menjadi raja-raja?

Seorang bertakwa yang menjadikan dirinya milik Tuhan semata, akan memperoleh kehidupan luhur sepanjang ia tulus dan bersiteguh hati. Hatinya tidak boleh guncang atau riya (memegahkan diri) atau pun syirik. Apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim as diakui sebagai bapak bangsanya dan bapak dari para pengikut Tuhan serta dianugerahi demikian banyak berkat atas dirinya? Adalah ketakwaan dan ketulusan beliau itulah. Nabi Ibrahim as telah mengajukan permohonan doa kepada Tuhan agar muncul seorang Nabi di Arab dari antara keturunan beliau. Apakah permohonannya dikabulkan secara langsung dan seketika? Setelah sekian lama sepeninggal Nabi Ibrahim as dan orang tidak ada lagi yang mengingat doa itu, nyatanya Tuhan kemudian mengabulkan permohonannya dengan menurunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan betapa agungnya pengabulan doa tersebut.

(Al-Hakim, vol. 7, no. 8, 28 Pebruari 1903, hal. 1-3)

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 183