Islam Agama Universal

oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

islam agama universal

Berulang kali Al-Qur’an menjelaskan bahwa Islam adalah suatu agama yang ajarannya terkait dengan fitrat manusia. Islam menekankan bahwa suatu agama yang berakar pada fitrat manusia akan dapat mengatasi waktu dan ruang. Fitrat manusia tidak akan berubah. Dengan demikian, agama yang benar-benar berakar pada fitrat manusia juga tidak akan mengalami perubahan asal saja agama tersebut tidak terlalu mencampuri situasi-situasi transien manusia dalam kurun waktu mana pun dalam sejarah kehidupannya. Bila agama tersebut tetap bersiteguh pada prinsip-prinsip yang bersumber pada fitrat manusia maka agama itu memiliki potensi untuk menjadi agama universal.

Islam malah selangkah lebih maju. Dengan kebesaran hati, Islam menyatakan bahwa semua agama di dunia sedikit banyak juga sama memiliki sifat universal tersebut. Dengan kata lain, dalam setiap agama samawi dapat ditemukan inti ajaran yang terkait dengan fitrat manusia dan kebenaran abadi. Inti ajaran agama itu akan tetap tidak berubah kecuali jika pengikutnya mencemari ajaran tersebut di kemudian hari.

Ayat berikut ini akan memperjelas masalah di atas:

وَما أُمِروا إِلّا لِيَعبُدُوا اللَّهَ مُخلِصينَ لَهُ الدّينَ حُنَفاءَ وَيُقيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤتُوا الزَّكاةَ ۚ وَذٰلِكَ دينُ القَيِّمَةِ

“Padahal mereka (Ahli Kitab) tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus serta mendirikan salat dan membayar zakat. Dan itulah agama yang benar.” (QS.98 Al-Bayyinah : 6)

فَأَقِم وَجهَكَ لِلدّينِ حَنيفًا ۚ فِطرَتَ اللَّهِ الَّتي فَطَرَ النّاسَ عَلَيها ۚ
لا تَبديلَ لِخَلقِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ الدّينُ القَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكثَرَ النّاسِ لا يَعلَمونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu untuk berbakti kepada agama dengan kebaktian selurus-lurusnya. Dan turutilah fitrat yang diciptakan Allah, yang sesuai dengan fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS.30 Ar-Rum : 31)

Berdasarkan pandangan di atas muncul pertanyaan lalu apa gunanya menurunkan agama demi agama dengan ajaran yang sama. Selanjutnya orang mungkin akan bertanya juga mengapa Islam mengaku bahwa secara relatif Islam bersifat lebih universal dan sempurna dibanding semua agama-agama sebelumnya jika agama lain juga memiliki ajaran yang bersifat universal dan berlaku bagi manusia di segala zaman.

Pertama, Untuk menjawab pertanyaan pertama, Al-Qur’an menjelaskan bahwa berdasarkan fakta historis, semua kitab dan naskah suci yang turun sebelum Al-Quran telah mengalami perubahan-perubahan. Ajaran Kitab-kitab tersebut secara berangsur telah mengalami penyesuaian-penyesuaian atau karena dimasukkannya unsur-unsur baru secara interpolatif sehingga validitas dan otentisitasnya menjadi diragukan.

Terkait:   Mencari Islam Sejati

Dengan demikian menjadi kewajiban para pengikut agama-agama tersebut untuk membuktikan kesahihan Kitab-kitab mereka. Al-Qur’an sendiri menduduki posisi yang unik dan jelas di antara semua Kitab-kitab dan Naskah suci. Bahkan musuh-musuh Islam yang paling gigih yang tidak meyakini bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Tuhan, harus mengakui bahwa Al-Qur’an tidak mengalami perubahan atau pun perombakan sejak diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai contoh:

There is otherwise every security, internal and external, that we possess the text which Mohamet himself gave forth and used.

(h.xxvii Life of Mohamet, Sir William Muir, London 1878)

(Kami meyakini adanya pengamanan internal maupun eksternal sehingga dapat disimpulkan bahwa teks yang ada di tangan kita adalah sama dengan teks/ayat yang disampaikan oleh Muhammad)

We may, upon the strongest assumption, affirm that every verse in the Quran is the genuine and unaltered composition of Mohamet himself. (h.xxviii Life of Mohamet, Sir William Muir, London 1878)
(Kita dapat meyakini seyakin-yakinnya bahwa setiap ayat Al Quran adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhammad tanpa ada perubahan)

Slight clerical errors there may have been, but the Quran of Uthman contains none but genuine elements, though sometimes in very strange order. The efforts of European scholars to prove the existence of later interpolations in the Quran have failed.

(Prof. Noldeke dalam Encyclopaedia Brittanica, ed.9 dalam judul Quran)

(Mungkin ada kesalahan kecil yang lebih banyak bersifat klerikal namun Quran susunan Usman mengandung hanya unsur-unsur yang asli saja meskipun urutannya terlihat aneh. Upaya para ilmiahwan Eropa untuk membuktikan adanya perubahan dalam Al Quran di masa berikutnya ternyata telah gagal).

Lain lagi kalau kita bicara mengenai kontroversi tentang Kitab mana yang dikarang oleh siapa. Sebuah Kitab yang oleh Ahli Kitab lainnya diragukan kesahihannya berasal dari Tuhan nyatanya memang berasal dari wahyu Tuhan yang sama, hanya saja jika kemudian hari terdapat kontradiksi di dalamnya maka hal ini adalah akibat campur tangan atau buatan manusia. Jelas dalam hal ini bahwa sikap Al-Qur’an adalah yang paling realistis dan kondusif bagi kedamaian antar agama.

Kedua, Adapun mengenai pertanyaan kedua, Al-Qur’an mengingatkan kita akan proses evolusi di semua sisi masyarakat manusia. Agama baru dibutuhkan tidak saja sebagai restorasi dari ajaran-ajaran fundamental dari agama lama yang telah mengalami perubahan karena campur tangan manusia, tetapi juga sebagai tambahan pada agama lama guna mengadaptasi kemajuan sejalan dengan perkembangan evolusi masyarakat.

Terkait:   Konsep Pemerintahan Menurut Islam

Tidak itu saja. Faktor lain yang ikut bekerja dalam proses perubahan adalah unsur ajaran turunan kedua yang terkait dengan kurun waktu dimana ajaran itu diturunkan guna memenuhi kebutuhan sekelompok orang atau periode tertentu. Dengan kata lain, agama tidak saja terdiri dari ajaran pokok prinsip-prinsip yang baku tetapi juga diikuti dengan ajaranajaran tambahan.

Yang terakhir patut dipahami adalah manusia tidak memperoleh pelatihan dan pendidikan dalam ajaran-ajaran samawi dalam satu hentakan. Manusia dibawa secara bertahap sampai ke tingkatan kedewasaan mental dimana ia dianggap telah cukup matang dan siap untuk menerima keseluruhan prinsip-prinsip dasar yang diperlukan sebagai bimbingan baginya. Menurut pandangan Al-Qur’an, ajaran turunan kedua yang terkait erat berdasarkan pada prinsip-prinsip fundamental yang baku adalah juga merupakan bagian dari Islam sebagai agama yang sempurna, terakhir dan menyeluruh. (lihat Al-Quran S.4 ayat 14-16).

Ini pada dasarnya adalah konsep universalitas keagamaan yang dimiliki Islam. Tinggal apakah manusia mau meneliti dan menilai kelebihan satu per satu dari semua agama yang diperbandingkan.

Sekarang kita kembali ke pertanyaan mengenai agama-agama yang menyatakan dirinya sebagai terunggul di dunia. Islam memang menyatakan dirinya demikian. Melalui nubuatan, Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam suatu waktu nanti akan menjadi agama tunggal bagi seluruh umat manusia.

“Dia-lah yang mengirimkan rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia menyebabkannya menang atas semua agama, betapapun orang musyrik tidak akan menyukainya.” (QS.61 Ash-Shaf : 10)

Walaupun Islam menghendaki berkembangnya kedamaian dan kerukunan antar agama, namun Islam pun tidak melarang penyebaran ajaran dan ideologinya secara kompetitif dengan tujuan memperoleh keunggulan di atas agama-agama lainnya. Bahkan Islam menetapkan keunggulan dirinya di atas agama-agama lain sebagai tujuan mulia yang harus dikejar oleh semua penganutnya.

Berbicara mengenai Rasulullah saw Al-Qur’an menyatakan:

“Katakanlah, “Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah rasul kepada kamu sekalian dari Allah, yang mempunyai kerajaan seluruh langit dan bumi. Tak ada yang patut disembah melainkan Dia. Dia menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-Nya; nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk” (QS.7 Al-Araf : 159)

Sarana Perjuangan – Bukan Pemaksaan

Bagaimana mungkin suatu agama mengaku dirinya universal atau global tanpa menimbulkan perselisihan?

Suatu agama yang memiliki ajaran universal dan berambisi untuk mempersatukan seluruh umat manusia di bawah satu bendera tentunya tidak akan mempertimbangkan penggunaan kekerasan untuk menyebarkan pesan-pesannya.

Terkait:   Khotbah Idul Fithri

Pedang bisa memenangkan negeri tetapi tidak mungkin hati.

Paksaan dapat menundukkan kepala tetapi tidak mungkin pikirannya.

Islam melarang penggunaan paksaan sebagai sarana penyebaran ajarannya. Difirmankan:

“Tidak diperkenankan suatu paksaan dalam agama. Sesungguhnya telah nyata bedanya kebenaran dari kesesatan.” (QS 2 Al-Baqarah: 257)

Dengan demikian tidak perlu adanya paksaan dalam bentuk apapun. Biarkanlah manusia menentukan mana yang benar. Tuhan tegas mengingatkan Rasulullah saw untuk jangan sekali-kali berpikir menggunakan kekerasan untuk mengubah masyarakat. Status Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembaharu ditegaskan dalam ayat berikut ini:

“Oleh sebab itu nasihatilah, karena engkaku hanyalah seorang pemberi nasihat. Engkau tidak diangkat menjadi penjaga atas mereka.” (QS 88 Al-Ghasyiyah: 22-23)

Dengan tema yang sama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diingatkan untuk:

Tetapi sekiranya mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau sebagai penjaga atas mereka. Kewajiban engkau hanya menyampaikan amanat.” (QS.42 Asy-Syura : 49)

Meskipun dalam proses penyebaran ajaran baru itu mungkin timbul pergulatan dan muncul reaksi yang keras, Islam tetap meminta para pengikutnya agar bersabar, teguh dan sedapat mungkin menghindari konflik. Itulah sebabnya dimana pun jika seorang Muslim dilarang menyiarkan ajaran Islam kepada sekelilingnya, ada seperangkat aturan yang patut dipatuhinya. Dari sekian banyak ayat yang terkait dengan masalah tersebut, di bawah dikutipkan ayat:

“Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, dan hendaknya bertukar pikiran dengan mereka dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalan-Nya dan Dia mengetahui pula siapa yang telah mendapat petunjuk.” (QS.16 An-Nahl : 126)

“Tolaklah kejahatan dengan apa yang sebaik-baiknya. Kami lebih mengetahui apa yang mereka tuduhkan sebagai sifat-Nya.” (QS.23 Al-Muminun : 97)

Di sini kata Ahsan bermakna suatu yang terbaik, paling menarik dan sesuatu yang indah.

Menguraikan aturan perilaku bagi seorang Muslim dalam menyampaikan amanat agama. Al-Quran menyatakan:

“Demi masa, sesungguhnya manusia senantiasa ada dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan menasihati satu sama lain supaya menyampaikan kebenaran, dan menasihati satu sama lain untuk bersabar. (S.103 AlAshr : 2-4)

Begitu juga terdapat ayat:

“Kemudian seyogyanya ia menjadi dari antara orang-orang beriman dan menasihati satu sama lain supaya bersabar dan mengajak satu sama lain berbelas kasih.” (QS 90, Al-Balad: 18)

Sumber: Islam & Isu Kontemporer, Hadrat Mirza Tahir Ahmad, Neratja Press, 2018, hlm. 27-35