Jihad Dengan Al-Qur’an

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

Teriakan Jihad terus terdengar dan semakin menggema dari berbagai tempat. Tetapi jihad macam apa yang diinginkan oleh Allah taala dan Rasulullah? Dan sekarang jihad seperti apa yang tampakkan oleh orang-orang? Jihad yang diinginkan oleh Allah adalah apa yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka (dengan Alquran) dengan jihad yang besar. “ (25:53)

jihad dengan alquran

Kecaman kelima yang ditujukan terhadap Ahmadiyah adalah bahwa kami mengingkari Jihad. Saya selalu bertanya-tanya, bagaimana tuduhan palsu semacam itu dapat diarahkan kepada kami, karena mengatakan bahwa kami mengingkari Jihad adalah dusta. Menurut kami, keimanan tidaklah sempurna tanpa jihad. Kelemahan Islam dan umat Islam, kemunduran bahkan hilangnya keimanan, yang kita saksikan di segala sisi, adalah disebabkan karena tidak memperhatikan jihad. Jadi, menuduh kami mengingkari jihad adalah dusta.

Ajaran tentang jihad terdapat di beberapa tempat dalam Al-Qur’an dan kita sebagai Muslim dan sebagai pengikut Al-Qur’an tidak mungkin menyangkalnya. apa yang kami sangkal dengan keras adalah pandangan yang membenarkan penumpahan darah, menyebarkan kekacauan dan pemberontakan, dan mengacaukan perdamaian masyarakat atas nama Islam. Melakukan semua hal itu berarti menodai nama baik Islam. Kami tidak dapat mentolerir bahwa ajaran-ajaran Islam dapat dirusak karena mengikuti keinginan dan hawa nafsu sendiri. Jadi kami tidak menentang Jihad. Kami hanya menentang kencenderungan yang menyebut bahwa segala bentuk kezaliman itu sebagai Jihad.

Pembaca yang budiman dapat memahami jika suatu upaya dilakukan untuk untuk mencela orang yang dicintai, dan begitu besarnya penghinaan itu ditujukan kepada sang kekasih, maka betapa marahnya ia kepada orang yang mencela itu. Demikian juga kami marah kepada orang yang telah mencermarkan nama baik Islam dengan kata-kata atau perbuatan mereka. Dunia pada umumnya menganggap Islam sebagai agama yang biadab, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai raja yang kejam. Sudahkah mereka menemukan sesuatu dalam kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang mendukung penggambaran seperti itu, yaitu sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kesalehan dan kebajikan? Tidak, Sekali-kali tidak!

Tindakan umat Islam sendiri telah menyebabkan purbasangka dari dunia pada umumnya, sehingga sulit untuk mengubah pandangan mereka. Salah satu kesalahan yang dilakukan oleh umat Islam terhadap sosok Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah menampilkan wujud suci beliau dengan citra yang negatif di hadapan orang-orang. Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam merupakan perwujudan kasih sayang dan pengampunan. Beliau tidak suka melukai bahkan terhadap makhluk Tuhan yang paling rendah sekalipun. Tetapi kenyataannya beliau telah digambarkan sedemikian rupa sehingga orang-orang menyimpan purbasangka terhadap beliau.

Teriakan Jihad terus terdengar dan semakin menggema dari berbagai tempat. Tetapi jihad macam apa yang diinginkan oleh Allah taala dan Rasulullah? Dan sekarang jihad seperti apa yang tampakkan oleh orang-orang? Jihad yang diinginkan oleh Allah adalah apa yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an: فَلا تُطِعِ الكافِرينَ وَجاهِدهُم بِهِ جِهادًا كَبيرًا “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka (dengan Alquran) dengan jihad yang besar. “(25:53)

Jadi jihad tertinggi adalah jihad dengan bantuan Al-Qur’an. Apakah jihad seperti ini yang diserukan oleh umat Islam saat ini? Berapa banyak orang-orang yang berjuang melawan orang kafir dengan Alquran di tangan mereka? Apakah di dalam Islam dan di dalam Alquran sama sekali tidak memiliki keindahan yang dapat menarik hati orang-orang terhadapnya? Jika Islam dan Al-Quran tidak membuat orang tertarik dengan keindahannya, lalu bukti apa yang kita miliki untuk menunjukkan kebenaran Islam? Perkataan manusia dapat mengubah hati orang-orang. Apakah kalam Ilahi tidak dapat mengubah hati orang-orang? Benarkah Al-Qur’an tidak membawa perubahan di dunia ini kecuali dengan bantuan pedang?

Terkait:   Islam Agama Universal

Pengalaman manusia yang panjang menunjukkan bahwa pedang tidak dapat mempengaruhi hati seseorang, dan menurut Islam, adalah suatu dosa memaksa orang-orang untuk masuk Islam melalui ketakutan atau iming-iming. Bukankah Allah dengan jelas telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِذا جاءَكَ المُنافِقونَ قالوا نَشهَدُ إِنَّكَ لَرَسولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعلَمُ إِنَّكَ لَرَسولُهُ وَاللَّهُ يَشهَدُ إِنَّ المُنافِقينَ لَكاذِبونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepada engkau, mereka berkata, “Kami menyaksikan sesungguhnya engkau Rasul Allah.” Dan Allah telah mengetahui sesungguhnya engkau benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah menyaksikan sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. “(63:2)

Seperti itulah gambaran orang-orang yang munafik. Jika dibenarkan untuk menyebarkan Islam dengan pedang, maka apakah pantas atau perlu menggambarkan dengan cara ini terhadap orang-orang yang telah menerima Islam secara lahiriah tetapi dalam hati mereka belum beriman? Jika dibenarkan untuk memasukkan orang ke dalam Islam dengan paksaan, maka apakah menurut Al-Qur’an mereka yang beriman di mulut tetapi tidak di hati tersebut dapat dikatakan benar-benar telah menjadi orang yang beriman? Tidak ada yang dapat mengharapkan ketulusan dari orang yang beriman karena pedang.

Jadi sangat keliru menganggap bahwa Islam mengajarkan menggunakan pedang untuk memaksa orang lain beriman. Sebaliknya, Islam adalah agama yang pertama yang menetapkan prinsip kebebasan beragama secara jelas dan tidak ambigu.

Islam mengajarkan:

لا إِكراهَ فِي الدّينِ ۖ قَد تَبَيَّنَ الرُّشدُ مِنَ الغَيِّ

“Tidak diperkenankan suatu paksaan di dalam agama. Sesungguhnya telah nyata bedanya kebenaran dari kesesatan. “ (2:257)

Menurut Islam, setiap orang bebas untuk beriman atau tidak beriman. Dia bebas mengikuti pertimbangannya sendiri. Islam juga mengajarkan:

وَقاتِلوا في سَبيلِ اللَّهِ الَّذينَ يُقاتِلونَكُم وَلا تَعتَدوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ المُعتَدينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangimu, namun jangan kamu melampaui batas, Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas. “(2:191)

Di sini hukum peperangan diatur dengan jelas. Perang agama hanya dilancarkan terhadap mereka yang memerangi Islam karena alasan agama; yang berupaya memurtadkan umat Islam secara paksa. Bahkan dalam peperangan seperti itu Islam dilarang untuk melampaui batas. Jika non-Muslim yang berupaya memurtadkan umat Islam secara paksa menarik diri dari upaya semacam itu, maka umat Islam harus menghentikan peperangan.

Dengan ajaran seperti ini maka tidak ada yang dapat mengatakan bahwa Islam mengajarkan cara berperang untuk ekspansi. Kalaupun Islam menetapkan untuk berperang, maka tujuannya bukanlah untuk menghancurkan atau merusak agama manapun, tetapi perang itu dilakukan untuk menegakkan kebebasan beragama, dan melindungi tempat-tempat ibadah agama lain. Hal ini jelas disebutkan di dalam Al-Qur’an:

Terkait:   Dunia dalam Krisis, Bagaimana Kita Mengatasinya?

أُذِنَ لِلَّذينَ يُقاتَلونَ بِأَنَّهُم ظُلِموا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلىٰ نَصرِهِم لَقَديرٌ
الَّذينَ أُخرِجوا مِن دِيارِهِم بِغَيرِ حَقٍّ إِلّا أَن يَقولوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَولا دَفعُ اللَّهِ النّاسَ بَعضَهُم بِبَعضٍ لَهُدِّمَت صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذكَرُ فيهَا اسمُ اللَّهِ كَثيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزيزٌ

“Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. (QS Al-Hajj [22]: 40-41).

Ayat ini dengan tegas menerangkan bahwa perang agama tidak diizinkan oleh Islam kecuali terhadap orang-orang yang memaksa pihak lain untuk keluar dari agama mereka; Misalnya umat Islam dipaksa untuk meninggalkan agama Islam.

Perang agama dapat dibenarkan ketika terdapat gangguan dalam agama. Tetapi izin peperangan itu pun bukan dimaksudkan untuk memaksa orang lain melepaskan agama mereka, bukan pula untuk menodai atau menghancurkan tempat ibadah, atau untuk membunuh. Tujuan peperangan agama adalah untuk melindungi agama, melindungi setiap penganut agama dan untuk menyelamatkan kesucian dan penghancuran semua tempat ibadah, apapun golongan agama mereka. Hanya peperangan jenis itu yang diizinkan oleh Islam.

Islam adalah saksi dan pelindung agama lain. Islam bukanlah agama yang melakukan kekerasan atau kekejaman dan tidak mengakui kebebasan. Singkatnya, Jihad yang diizinkan oleh Islam adalah berperang melawan pihak-pihak yang menghalangi orang lain untuk menerima Islam, atau pihak-pihak yang memaksa orang lain untuk mengingkari Islam, atau ditujukan kepada mereka yang telah membunuh orang-orang karena masuk Islam. Hanya terhadap orang-orang seperti itulah peperangan diizinkan dalam Islam, melakukan jihad terhadap orang-orang selain itu maka hal itu bertentangan dengan Islam.

Peperangan yang tidak didukung oleh kondisi-kondisi seperti itu bisa jadi peperangan yang bersifat politik, yaitu perang antar negara atau antar individu, atau bahkan peperangan antar dua bangsa Muslim. Tetapi itu bukanlah perang agama. Pandangan Jihad yang ada saat ini, yang tidak lain merupakan bentuk kekerasan dan pelanggaran hukum telah dipinjam oleh umat Islam dari pihak lain. Tidak ada persetujuan untuk itu dalam Islam bahkan tidak dikenal di dalam Islam.

Tampaknya aneh, yang bertanggung jawab menyebarkan pandangan ini di tengah-tengah umat Islam adalah orang-orang Kristen, pihak yang paling keras dalam mengecam Islam karena ajaran jihadnya. Pada abad pertengahan peperangan agama semacam itu merupakan sesuatu yang lumrah. Seluruh Eropa ambil bagian di dalamnya. Para prajurit dan tentara salib menyerang perbatasan negara-negara Muslim sebagaimana suku-suku lintas perbatasan yang setengah merdeka yang menyerang perbatasan India. Pada saat yang sama mereka juga menyerang bangsa-bangsa Eropa yang mundur dari agama Kristen. Orang-orang Kristen yang melakukan peperangan semacam ini dengan niat untuk mendapatkan keridhoan dari Tuhan.

Terkait:   Mencari Islam Sejati

Tetapi tampaknya, disebabkan serangan-serangan orang-orang Kristen yang kejam dan tanpa alasan itu, umat Islam hilang keseimbangan. Mereka mencontoh orang Kristen dengan mulai menyerang perbatasan wilayah dan negeri-negeri lain. Mereka lupa ajaran agama mereka sendiri. Mereka benar-benar tampak telah berasimilasi dengan apa yang dicontohkan oleh Kristen sehingga orang-orang Kristen berbalik mulai mengajukan keberatan.

Tetapi sayang sekali, kendatipun sekarang keberatan datang dari orang Kristen, umat Islam gagal membaca permainan orang-orang Kristen. Saat ini di seluruh dunia keberatan ini diarahkan kepada Islam. Di mana-mana, ini menjadi senjata untuk melawan Islam; tetapi umat Islam tidak menyadarinya. Tanpa disadari mereka terus menerus menyediakan berbagai tulisan dan argumen kepada musuh-musuh untuk melawan Islam. Musuh sekarang dapat menyerang Islam dengan senjata yang ditempa sendiri oleh umat Islam.

Perang yang mereka sebut sebagai Jihad tidaklah membantu Islam, justru hanya merugikan Islam. Umat Islam telah kehilangan pandangan tentang hakikat kemenangan. Kemenangan bukanlah sesuatu yang didapatkan dari senjata atau angka-angka, tetapi berupa keterampilan, organisasi, pendidikan, perlengkapan, akhlak dan kebaikan negara lain. Bangsa yang sangat kecil terkadang dapat memperoleh kemenangan atas bangsa-bangsa yang besar, karena bangsa yang lebih kecil memiliki moral kemenangan pada diri mereka. Tanpa sifat-sifat ini, pasukan yang sangat besar sekalipun dapat menjadi tidak berguna.

Jauh lebih seandainya umat Islam mengupayakan kejayaan bukan dengan menyalahartikan Jihad, tetapi menciptakan kebajikan dan keterampilan yang dapat menjadikan sebuah bangsa sukses. Dengan menerapkan Jihad yang keliru, mereka akan mencemarkan nama baik Islam dan merusak kepentingan mereka sendiri.

Jika suatu negara terlibat dalam suatu perang politis yang berkedok agama, maka hal itu hanya akan mendorong negara-negara lain bersatu untuk melawannya. Bangsa-bangsa lain mulai merasa tidak aman. Ketika konflik internasional diketahui karena didasari perbedaan agama, maka negara yang memiliki niat baik sekalipun tidak akan luput dari serangan musuh eksternal. Ketika negara dikotak-kotakkan atas dasar agama, masing-masing akan takut pada yang lain. Tindakan dan niat yang baik tidak akan membantu. Kebaikan seperti itu dapat mencegah perang politik tetapi bukan perang agama.

Singkatnya, kami tidak mengingkari jihad, melainkan kami menegaskan pentingnya jihad. Kami hanya menyangkal penafsiran yang salah tentang jihad yang telah merugikan Islam. Dalam pandangan kami, masa depan Islam tergantung seberapa jauh mereka berhasil memahami hakikat jihad.

Apabila mereka dapat memahami bahwa bentuk terbaik dari Jihad adalah Jihad dengan Al-Qur’an (QS 25: 53), bukan jihad dengan pedang; sekiranya mereka memahami bahwa perbedaan agama tidak lantas menghalalkan kekerasan terhadap kehidupan, harta benda atau kehormatan orang lain (QS 4: 91, 2: 191, 60: 9), niscaya pikiran dan pandangan mereka akan muncul perubahan yang bermanfaat, perubahan yang akan membawa mereka lebih dekat ke jalan yang lurus. Kemudian mereka akan mengamalkan ajaran Al-Qur’an:

“Bukanlah kebajikan kalau kamu memasuki rumah-rumah dari beIakangnya, akan tetapi kebajikan sejati ialah orang yang bertakwa. Dan masukilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu berbahagia” (2:190)

Maka mereka akan mendapatkan kesuksesan demi kesuksesan.

Sumber: Al Islam