Kecintaan Rasulullah Kepada Allah

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

kecintaan Rasulullah kepada Allah
Sumber: Deviantart.com by AhmadiMuslim

Tiap-tiap kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas tampak diliputi dan diwarnai oleh cinta dan bakti kepada Allah. Walaupun pertanggung-jawaban yang sangat berat terletak di atas bahu beliau, bagian terbesar dari waktu, siang dan malam, dipergunakan untuk beribadah dan berzikir kepada Allah.

Beliau biasa bangkit meninggalkan tempat tidur tengah malam dan larut dalam beribadah kepada Allah sampai saat tiba untuk pergi ke mesjid hendak shalat subuh. Kadang kala beliau begitu lama berdiri dalam shalat tahajud sehingga kaki beliau menjadi bengkak dan mereka yang menyaksikan beliau dalam keadaan demikian sangat terharu.

Sekali peristiha Aisyah ra berkata kepada beliau, “Tuhan telah memberi kehormatan kepada engkau dengan cinta dan kedekatan-Nya. Mengapa engkau membebani diri sendiri dengan menanggung begitu banyak kesusahan dan kesukaran?” Beliau menjawab, “Jika Tuhan, atas kasih-sayangNya, mengaruniai cinta dan kedekatan-Nya kepadaku, bukankah telah menjadi kewajibanku senantiasa menyampaikan terima kasih kepada Dia? Bersyukurlah hendaknya sebanyak bertambahnya karunia yang diterima.” (Kitab al-Kusuf).

Beliau tidak pernah melangkah untuk menyelesaikan suatu usaha tanpa perintah Ilahi atau izin-Nya. Telah diuraikan sebelumnya bahwa kendati menderita karena penindasan yang sangat aniaya oleh kaum Mekkah, beliau tidak meninggalkan kota itu sebelum mendapat perintah Ilahi. Ketika perlahanan memuncak dan beliau mengizinkan para Sahabat mengungsi ke Abessinia, beberapa di antara mereka menyatakan keinginan supaya beliau berangkat bersama mereka. Beliau menolak atas dasar belum mendapat izin Ilahi. Jadi, di masa percobaan dan penindasan juga, ketika biasa orang senang jika Sahabat-sahabat dan sanak saudaranya berkumpul di sekitarnya, beliau menyarankan kepada para Sahabat untuk mencari perlindungan di Abessinia dan beliau sendiri tetap tinggal di Mekkah, sebab Tuhan belum memberi perintah.

Jika beliau mendengar Kalamullah dibacakan, beliau sangat terharu dan air mata mulai menitik, terutama jika beliau mendengar ayat-ayat yang menekankan pada kewajiban beliau sendiri. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, sekali peristiwa ia disuruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca beberapa ayat Al-Quran. Ia berkata, “Ya Rasulullah, Al-Quran telah diturunkan kepada Anda (artinya: Anda telah lebih mengetahui daripada siapa pun). Mengapa kemudian harus membacakannya kepada Anda?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku suka juga mendengar Al-Quran dibaca oleh orang lain.” Maka Abdullah bin Mas’ud mulai membacakan ayat-ayat dari Surah An-Nisa. Ketika membaca:

“Maka, bagaiman keadaan mereka apabila Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini.” (QS. Al-Nisa 4:42).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru: “Cukup!” Abdullah bin Mas’ud melihat ke arah beliau dan melihat air mata mengalir dari mata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Bukhari, Kitab Fada’il al-Quran).

Shalat Berjamaah

Beliau begitu memandang penting ikut dalam shalat berjamaah sehingga dalam keadaan sakit keras, yang dalam m kamar tetapi bahkan diizinkan untuk mengerjakan shalat di atas tempat tidur sambil berbaring, beliau memaksakan diri pergi ke mesjid untuk menjadi imam.

Sekali peristiwa, ketika beliau tidak sempat pergi ke mesjid, beliau menyuruh Abu Bakar untuk menjadi imam. Tetapi, kemudian beliau merasakan ada perubahan dalam kesehatannya dan minta supaya beliau dipapah berjalan ke mesjid. Beliau bertumpu pada pundak dua orang, tetapi keadaan beliau begitu lemahnya sehingga menurut Siti Aisyah ra kaki beliau terseret-seret. (Bukhari).

Menurut kebiasaan umum dalam mengungkapkan kegembiraan atau menarik perhatian kepada sesuatu ialah dengan bertepuk tangan dan orang Arab juga berbuat seperti itu. Tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian suka berzikir Ilahi sehingga untuk pengungkapan rasa gembira itu juga memuji dan berzikir Ilahi ditetapkan untuk mengganti tepuk tangan.

Sekali peristiwa ketika beliau sibuk dengan urusan penting, waktu shalat pun mendekat dan beliau menyuruh Abu Bakar untuk menjadi imam. Tak lama kemudian beliau dapat menyelesaikan urusan beliau dan segera pergi ke mesjid. Abu Bakar menjadi imam, tetapi ketika jemaat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba, mereka segera bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan beliau dan menarik perhatian Abu Bakar dan memberi tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah tiba. Maka Abu Bakar mundur dan memberi tempat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami salat.

Sesudah shalat selesai, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, “Mengapa engkau mundur sesudah aku menunjuk engkau sebagai imam?” Abu Bakar menjawab, “Ya Rasulullah, bagaimana akan pantas untuk anak Abu Quhafa menjadi imam sedang Rasulullah sendiri hadir?” Maka Rasulullah bertanya kepada jemaat, “Mengapa kamu sekalian bertepuk tangan? Adalah tidak pantas bila kalian sedang larut dalam berzikir kepada Allah maka kalian bertepuk tangan. Jika kebetulan dalam haktu shalat perhatian harus tercurah kepada sesuatu, daripada bertepuk tangan kamu lebih baik menyebut “Subhanallah” dengan suara nyaring. Hal itu akan menujukan perhatian kepada perkara yang harus mendapat perhatian.” (Bukhari)

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 37)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai shalat dan beribadah yang dilakukan sebagai hukuman atau sanksi atas diri sendiri untuk penebus dosa. Sekali peristiwa beliau sampai ke rumah dan melihat tali terentang antara dua tiang. Beliau menanyakan tujuannya dan mendapat keterangan bahwa isteri beliau, Zainab, biasa berdiri tegak dengan bantuan tali jika dalam waktu mendirikan shalat ia menjadi letih dan payah. Beliau memerintahkan supaya membuang tali tersebut dan menerangkan bahwa shalat sebaiknya didirikan selama dirasakan mudah dan ringan, dan jika ia menjadi terlalu lelah seseorang hendaknya ia duduk. Shalat itu bukan sanksi dan jika diteruskan juga sesudah badan menjadi letih, maka shalat itu menyalahi tujuannya. (Bukhari, Kitabal-Kusuf).

Rasulullah Membenci Syirik

Beliau mencela sekali setiap tindakan dan perbuatan yang berbau syirik walau sedikit. Ketika akhir hayat beliau telah mendekat dan telah dicekam oleh derita sakratul maut, beliau dalam keresahan membalikan badan dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sambil berseru, “Terkutuklah orang-orang Yahudi dan Kristen yang telah mengubah kuburan nabi-nabi mereka menjadi tempat ibadah” (Bukhari).

Beliau memaksudkan, orang-orang Yahudi dan Kristen yang bersujud pada kuburan nabi-nabi dan orang-orang suci mereka dan berdoa kepada mereka; dan beliau maksudkan bahwa jika kaum Muslimin terjerumus ke dalam perbuatan semacam itu, mereka tidak berhak atas doa-doa beliau; tetapi, sebaliknya, mereka telah memutuskan perhubungan mereka dengan beliau.

Semangat Rasulullah Memuliakan Allah

Gairat beliau akan kemuliaan Tuhan telah diuraikan di atas. Kaum Mekkah telah berusaha menyampaikan segala macam bujukan dan mendesak beliau menghentikan celaan terhadap penyembahan kepada berhala (Tabari). Paman beliau, Abu Thalib, juga mencoba mencegah beliau dengan membayangkan kekhawatirannya, jika beliau bersikeras melancarkan serangan terhadap kemusyrikan, Abu Thalib akan terpaksa memilih antara berhenti melindungi beliau atau ia siap menerima perlawanan hebat dari kaumnya. Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam satu-satunya kepada pamannya pada peristiwa itu, “Jika orang-orang itu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri, aku tidak akan berhenti mengumumkan dan menablighkan ajaran Tauhid.” (Zurqani)

Di tengah berkecamuknya Perang Uhud, ketika sisa pasukan Muslim yang luka-luka berkumpul di sekitar beliau di kaki bukit dan musuh melampiaskan kegembiraan dengan teriakan kemenangan setelah mematahkan barisan Muslim, dan pimpinan mereka, Abu Sufyan, berpekik: “Hidup Hubal (satu dari antara berhala utama kaum Mekkah). Hidup Hubal!” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun tahu dan sadar bahwa keselamatan beliau dan rombongan kecil kaum Muslim sekitar beliau bergantung pada sikap tutup mulut, tidak dapat menahan kesabaran dan memerintahkan kepada para Sahabat untuk menjawab dengan pekikan: “Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan! Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan!” (Bukhari).

Menjauhi Takhayul

Suatu salah pengertian yang biasa terjadi pada para pengikut berbagai agama sebelum kedatangan Islam ialah, peristiwa alam di langit dan di bumi ditafsirkan sebagai tanda ikut bergembira atau belasungkawa untuk nabi-nabi, wali-wali, dan orang-orang besar lainnya; dan bahkan gerakan-gerakan benda langit dikendalikan oleh mereka. Umpamanya, diriwayatkan tentang beberapa di antara mereka dapat membuat matahari berhenti beredar, menghentikan perputaran bulan atau air menghentikan aliran air.

Islam mengajarkan bahwa paham demikian sama sekali tak beralasan dan bahwa ceritera keajaiban semacam itu dalam Kitab-kitab suci hanya dipergunakan sebagai simbol atau lambang yang bukan ditafsirkan menurut arti yang sebenarnya malah telah menimbulkan takhayul. Walaupun demikian, sebagian orang Muslim cenderung menghubungkan keajaiban itu dengan kejadian dalam kehidupan nabi-nabi besar.

Pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam putera beliau Ibrahim, meninggal dalam umur dua setengah tahun. Pada hari itu terjadi gerhana matahari. Beberapa di antara orang-orang Muslim di Medinah menyebarkan paham bahwa matahari telah menjadi gelap pada peristiwa meninggalnya putera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tanda dukacita langit. Ketika hal itu diceriterakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tampak sangat kecewa dan mencela paham itu. Beliau menerangkan bahwa matahari dan bulan dan benda-benda langit lainnya, semuanya diatur oleh hukum-hukum Tuhan dan bahwa peredaran matahari, bulan, dan gejala alam yang berkaitan dengan matahari dan bulan tidak ada sangkut-paut dengan hidup dan mati seseorang. (Bukhari)

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 41)

Arabia adalah daerah yang sangat tandus dan hujan selalu di sambut gembira. Bangsa Arab biasa menggambarkan dalam ingatan mereka bahwa hujan itu diatur oleh peredaran bintang. Ketika seseorang mengungkapkan pikiran itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bingung dan memperingatkan kaumnya untuk tidak mengaitkan karunia yang mereka terima dari Tuhan kepada sumber lain. Beliau menerangkan bahwa hujan dan gejala alam lain diatur oleh hukum-hukum Ilahi, bukan dikendalikan oleh kesenangan atau ketidak-senangan suatu dewa atau dewi atau suatu kekuatan lain. (Muslim, Kitabal-Iman).

Ketawakalan kepada Allah

Beliau mempunyai ketawakalan yang sempurna kepada Tuhan dan tidak akan goyah oleh keadaan yang tidak bersahabat. Sekali peristiwa seorang musuh melihat beliau tidur dan tidak dikawal; ia berdiri di hadapan beliau dengan pedang terhunus dan siap membunuh dengan seketika. Sebelum melakukan ia bertanya, “Siapa dapat menyelamatkan kamu sekarang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan tenang, “Allah.” Beliau menyatakan dengan keyakinan yang begitu sempurna sehingga bahkan hati musuh yang kafir pun terpaksa mengakui keluhuran iman dan keikhlasan beliau kepada Allah Taala. Pedangnya terlepas dan jatuh; dan ia, yang sejenak sebelumnya telah siap membinasakan beliau, berdiri di hadapan beliau seperti seorang penjahat yang menunggu keputusan hakim. (Muslim, Kitab al-Fada’il dan Bukhari, Kitab al-Jihad).

Di pihak lain tampak sikap rasa merendahkan diri yang sempurna di hadapan Tuhan-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan: “Pada suatu hari aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa tidak ada manusia meraih keselamatan melalui amal salahnya sendiri. Atas keterangan itu aku berkata, “Ya, Rasulullah, Anda pasti masuk surga melalui amal saleh Anda.’ Dijawab oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak, aku pun tidak dapat masuk surga dengan perantaraan amal baikku, melainkan oleh Kasih Sayang Tuhan. (Bukhari, Kitab al-Riqaq).

Beliau senantiasa menganjurkan orang-orang untuk memilih dan menempuh jalan yang benar dan rajin berikhtiar, dengan itu mereka dapat mencapai Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan). Beliau mengajarkan, jangan ada yang menginginkan kematian untuk dirinya, sebab jika ia orang baik, maka dengan kehidupan yang lebih lama akan dapat meraih kebaikan yang lebih besar; dan jika ia jahat, ia dapat bertobat dari perbuatannya dan memulai menempuh jalan yang baik. Cinta dan ibadah beliau kepada Tuhan tampak dalam berbagai-bagai cara. Umpamanya, manakala sesudah musim kemarau tetesan hujan pertama mulai turun, beliau mengeluarkan lidah untuk menangkap tetesan hujan itu dan berseru, “Inilah karunia rahmat terakhir dari Tuhan-ku.”

Doa dan Istighfar Rasulullah

Beliau senantiasa sibuk berdoa memohon ampunan dan rahmat Tuhan, terutama jika beliau duduk di antara orang banyak supaya mereka yang beserta beliau, bergaul dengan beliau dan orang-orang Muslim pada umumnya akan terhindar dari murka Tuhan dan menjadi layak meraih ampunan Allah. Kesadaran bahwa beliau senantiasa ada di hadapan Tuhan tidak pernah lepas dari beliau. Jika beliau berbaring untuk tidur, beliau bersabda, “Ya, Allah, matikan aku (tidurkan aku) dengan nama-Mu di bibirku, dan dengan nama-Mu di bibirku bangkitkan lagi hamba-Mu ini.” Jika beliau bangun, beliau biasa bersabda, “Segala puji bagi Tuhan Yang menghidupkan diriku sesudah mati (tidur) dan pada suatu hari kita semua akan dikumpulkan di hadapan Dia.” (Bukhari).

Beliau senantiasa mendambakan Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan), dan salah satu doa yang beliau seringkali mengulangi, ialah: “Ya Allah! Penuhilah kiranya hatiku dengan nur-Mu dan penuhi mataku dengan nur-Mu dan penuhi telingaku dengan nur-Mu dan letakkan nur-Mu di kananku dan letakkan nur-Mu di kiriku dan letakkan nur-Mu di atasku dan letakkan nur-Mu dibawahku dan letakkan nur-Mu dihadapanku dan letakkan nur-Mu di belakangku, dan wahai Tuhan, jadikanlah seluruh diriku nur.” (Bukhari).

Ibnu Abbas meriwayatkan: “Tak lama sebelum wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Musailamah (seorang nabi palsu) datang ke Medinah dan menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mau menunjuk dia sebagai pengganti beliau, ia bersedia menerima beliau. Musailamah diikuti oleh suatu rombongan pengiring yang berjumlah sangat besar, dan kabilahnya adalah terbesar dari antara kabilah-kabilah yang ada di Arab. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi tahu tentang kedatangannya, beliau menjumpainya disertai oleh Tsabit bin Qais bin Syams. Beliau memegang ranting pohon kurma kering. Ketika beliau datang ke kemah Musailamah beliau menuju kepadanya dan berdiri di hadapannya.

Terkait:   Rasulullah, Kebebasan Berbicara dan Kontroversi Kartun

Pada waktu itu telah banyak Sahabat-sahabat datang dan berdiri di sekitar beliau. Beliau bersabda kepada Musailamah “Telah disampaikan kepadaku bahwa Anda telah mengatakan jika aku tunjuk Anda sebagai penggantiku, Anda bersedia menjadi pengikutku, tetapi aku katakan tidak akan memberikan ranting pohon kurma kering ini sekalipun kepada Anda jika bertentangan dengan perintah Tuhan. Kesudahan Anda akan menjadi sebagaimana telah ditetapkan Tuhan. Jika Anda berpaling dari padaku, Tuhan akan memberi Anda kegagalan. Aku melihat dengan jelas bahwa Tuhan akan memperlakukan Anda seperti yang telah diwahyukan kepadaku.” Beliau kemudian meneruskan, “Sekarang aku akan pergi. Jika Anda ingin mengatakan sesuatu, Anda dapat menghubungi Tsabit bin Qais bin Syams yang akan bertindak sebagai wakilku.”

Kemudian beliau berangkat. Abu Hurairah juga beserta beliau. Salah seorang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa maksud beliau dengan kata-kata “Tuhan akan memperlakukan Musailamah seperti yang telah dihahyukan kepada beliau.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Saya melihat dalam mimpi, aku disuruh Tuhan untuk meniup gelang-gelang. Ketika kutiup gelang-gelang itu, kedua-duanya lenyap. Aku menantikan bahwa sesudahku akan timbul dua pendakwah (nabi) palsu.” (Bukhari, Kitab al-Maghazi).

Perisitiwa ini terjadi pada waktu mendekatnya wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Suku Arab terakhir dan terbesar pada waktu itu belum menerima beliau, telah bersiap-siap untuk masuk Islam dan satu syarat ialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk pemimpin mereka menjadi pengganti beliau.

Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit saja didorong oleh alasan pribadi, maka tidak ada lagi yang menjadi rintangan untuk mempersatukan seluruh Arabia dengan menjanjikan pengganti beliau kepada pemimpin suku terbesar di Arabia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak punya putera dan tidak ada keinginan mendirikan dinasti yang dapat merintangi pengaturan demikian, tetapi beliau tidak pernah memandang hal sekecil apapun sebagai hak beliau dan menjadi milik beliau secara mutlak. Maka beliau tidak dapat memandang kepemimpinan kaum Muslim itu seakan-akan hak beliau untuk memberikannya menurut kehendak beliau sendiri. Beliau memandangnya sebagai amanat Tuhan yang suci dan beranggapan bahwa Tuhan akan memberikannya kepada siapa yang dipandang-Nya layak.

Maka beliau menolak usul Musailamah dengan tegas dan mengatakan bahwa jangankan kedudukan kepemimpinan kaum Muslim, ranting pohon korma kering sekalipun beliau tidak bersedia memberikan kepadanya.

Kapan saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyinggung atau membicarakan Tuhan, nampak kepada yang menyaksikan seolah-olah seluruh wujud beliau ada dalam haribaan cinta dan pengabdian kepada Tuhan.

Beliau senantiasa menekankan kesederhanaan dalam beribadah. Mesjid yang didirikan beliau dan di dalamnya beliau senantiasa mendirikan shalat, lantainya dari tanah biasa tanpa alas atau tikar dan atapnya dibuat dari dahan dan daun pohon korma, bocor jika hujan. Dalam keadaan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para jemaah basah kuyup karena air hujan dan lumpur, tetapi beliau terus menyelesaikan shalat sampai akhir dan tak pernah beliau memberi isyarat supaya menunda shalat atau pindah ke tempat yang lebih terlindung. (Bukhari, Kitab al-Saum).

Beliau sangat waspada terhadap keadaan para Sahabat. Abdullah bin Umar adalah orang yang sangat bertakwa dan zuhud. Mengenainya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada sekali peristiwa, “Abdullah bin Umar akan lebih baik lagi jika ia lebih dawam shalat tahajud.” Ketika sabda itu disampaikan kepada Abdullah bin Umar, maka sesudah itu tak pernah lagi ia meninggalkan shalat tahajud. Diriwayatkan, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah puterinya, Fatimah, menanyakan apa Fatimah dan suaminya, Ali, dawam menjalankan shalat tahajud, Ali menjawab, “Ya Rasulullah, kami berusaha bangun untuk shalat tahajud, tetapi bila menurut kehendak Tuhan kami tidak dapat bangun, kami meninggalkannya.” Beliau pulang dan dalam perjalanan beliau mengulangi beberapa kali ayat Al-Quran yang mengandung arti bahwa orang seringkali segan mengakui kesalahannya dan mencoba menutupinya dengan berbagai alasan. (Bukhari, Kitab al-Kusuf).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermaksud mengatakan, Ali hendaknya tidak melemparkan kesalahan kepada Tuhan dengan mengatakan bahwa jika Tuhan menghendaki mereka tidak bangun, mereka tidak dapat bangun untuk shalat tahajud, tetapi hendaknya ia mengakui kelemahannya itu.

Sumber: Pengantar Mempelajari Al-Quran, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Neratja Press, 2018, hlm. 426-435