Hadhrat Yazid Bin Ruqaisy radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan keikutsertaannya dalam perang Yamamah.

Hadhrat Abdullah Bin Makhramah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan doa meminta kesyahidan.

Hadhrat Amru bin Ma’bad radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, salah seorang dari 100 orang yang bertahan saat serangan dalam perang Hunain.

Hadhrat Nu’man Bin Malik radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan beberapa Hadits termasuk shalat sunnah Jumat saat Khatib sedang berkhotbah.

Hadhrat Khubaib bin ‘Adiyy al-Anshari radhiyAllahu ta’ala ‘anhu: Eksekusi dengan disalib oleh orang-orang Kuffar Makkah. Akhlak baiknya saat ditahan. Pengabulan doanya supaya Allah Ta’ala sendiri yang menghukum para eksekutor.

Departemen Tarikh Ahmadiyyat telah membuat satu website dalam dua Bahasa Urdu dan English yang berisikan materi-materi Tarikh Ahmadiyah dan juga yang berkaitan dengan riwayat hidup yang sudah diterbitkan di kalangan Jemaat.

Satu kabar duka wafatnya Muballig senior kita Safiyur Rahman Khurshid Sahib, yang pernah bertugas di Afrika dan tempat-tempat lainnya dan juga sebagai manager Nusrat Art Press, beliau adalah putra dari Hakim Fazlurrahman Sahib, wafat pada tanggal 16 september pada usia 75 tahun.

 

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 20 September 2019 (20 Tabuk 1398 Hijriyah Syamsiyah/21 Muharram 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Sahabat Badr pertama adalah Hadhrat Yazid Bin Ruqaisy (يزيد بن رقيش بن رئاب) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau berasal dari kabilah Quraisy, keluarga banu Asad Bin Khuzaimah dan beliau adalah pendukung banu Abdu Syams. Sebagian menyebutkan bahwa nama beliau adalah Arbad, namun tidaklah benar. Ayahanda beliau bernama Ruqaisy bin Riyab. Beliau dipanggil Abu Khalid. Beliau ikut serta pada perang Badr, Uhud, Khandaq dan segenap peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah (saw) (saw). Di perang Badr, beliau berhasil membunuh salah seorang dari kabilah Thayyi (طيّئ) bernama Amru Bin Sufyan (عَمْرو بْن سُفْيَان).[1]

Seorang saudara beliau bernama Hadhrat Said Bin Ruqaisy yang hijrah dari Mekah ke Madinah beserta dengan keluarganya dan tergolong Muhajirin awal. Salah seorang saudara beliau juga Hadhrat Abdur Rahman Bin Ruqaisy yang ikut serta pada perang Uhud. Seorang saudari beliau Hadhrat Aminah Binti Ruqaisy yang pada masa awal menerima Islam dan hijrah bersama dengan keluarga ke Madinah. Beliau syahid pada perang yamamah tahun 12 Hijri.

Berikut adalah keterangan berkenaan dengan perang tersebut dan sebagian telah sampaikan secara singkat sebelumnya. Perang Yamamah terjadi pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakar pada tahun 11 Hijri. Sebagian sejarawan berpendapat terjadi pada tahun 12 Hijriyah. Perang ini melawan Musailamah Al Kadzdzab yang bertempat di daerah Yamamah.[2]

Hadhrat Abu Bakar mengutus satu pasukan untuk menghadapi Musailamah di bawah komando Hadhrat Ikrimah Bin Abu Jahl (عِكْرِمَةَ بْنَ أَبِي جَهْلٍ). Beliau juga mengutus satu pasukan lagi menyusul di belakangnya untuk membantu di bawah komando Hadhrat Syarjil (Syurahbil) Bin Hasanah (شُرَحْبِيلُ بْنُ حَسَنَة). Hadhrat Ikrimah – demi cepat mendapat keberhasilan – sudah memulai bertempur menghadapi Musailamah sebelum sampainya Hadhrat Syarjil namun mengalami kekalahan atas Musailamah. Ketika Hadhrat Syarjil mendapatkan kabar kejadian tersebut, beliau berhenti di jalan. Hadhrat Ikrimah mengabarkan kejadian yang telah menimpanya kepada Hadhrat Abu Bakar. Hadhrat Abu Bakar menulis surat padanya, لَا أَرَيَنَّكَ وَلَا تَرَانِي، لَا تَرْجِعَنَّ فَتُوهِنَ النَّاسَ، امْضِ إِلَى حُذَيْفَةَ وَعَرْفَجَةَ فَقَاتِلْ أَهْلَ عُمَانَ وَمَهْرَةَ، ثُمَّ تَسِيرُ أَنْتَ وَجُنْدُكَ تَسْتَبْرُونَ النَّاسَ، حَتَّى تَلْقَى مُهَاجِرَ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بِالْيَمَنِ وَحَضْرَمَوْتَ. “Jangan kamu menjumpai saya dalam keadaan demikian. Saya juga tidak ingin menemui kalian. Jangan juga kamu kembali ke Madinah karena [kembalinya kalian dalam keadaan kalah] dapat menimbulkan rasa ciut di dalam diri orang-orang. Bawalah lasykarmu untuk bergabung dengan Hudzaifah dan ‘Arfajah lalu bertempur menghadapi para pemberontak di Oman dan Mahrah, setelah itu bertempurlah menghadapi para pemberontak di Yaman dan Hadhra Maut.”

Hadhrat Abu Bakar menulis kepada Hadhrat Syarjil, bersabda: فَكَتَبَ إِلَى شُرَحْبِيلَ بِالْمُقَامِ إِلَى أَنْ يَأْتِيَ خَالِدٌ، فَإِذَا فَرَغُوا مِنْ مُسَيْلِمَةَ تَلْحَقُ بِعَمْرِو بْنِ الْعَاصِ تُعِينُهُ عَلَى قُضَاعَةَ. “Kalian tunggu saja di tempat kalian hingga tiba Hadhrat Khalid Bin Walid.”

Hadhrat Abu Bakar mengutus Hadhrat Khalid untuk menghadapi Musailamah Al Kadzdzab disertai dengan pasukan besar dari kalangan muhajirin dan anshar. Yang bertindak sebagai pemimpin Anshar adalah Hadhrat Tsabit Bin Qais (ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ) sementara kaum Muhajirin dipimpin oleh Hadhrat Abu Hudzaifah (أَبُو حُذَيْفَةَ) dan Zaid Bin al-Khaththab (زَيْدُ بْنُ الْخَطَّابِ). Hadhrat Syarjil memulai bertempur melawan Musailamah sebelum tiba Hadhrat Khalid Bin Walid dan kalah. Hadhrat Abu Bakar mengutus satu pasukan lagi di bawah komando Hadhrat Salith supaya tidak ada yang dapat menyerang pasukan Hadhrat Khalid dari belakang.

وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يَقُولُ: لَا أَسْتَعْمِلُ أَهْلَ بَدْرٍ، أَدَعُهُمْ حَتَّى يَلْقَوُا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ يَدْفَعُ بِهِمْ وَبِالصَّالِحِينَ أَكْثَرَ مِمَّا يَنْتَصِرُ بِهِمْ. وَكَانَ عُمَرُ يَرَى اسْتِعْمَالَهُمْ عَلَى الْجُنْدِ وَغَيْرِهِ. Hadhrat Abu Bakar selalu bersabda, “Saya tidak ingin menggunakan sahabat Badr. Saya memilih untuk meninggalkan mereka dalam keadaan dimana mereka berjumpa dengan Allah Ta’ala bersama dengan amalan salehnya. Allah Ta’ala menjauhkan musibah dengan keberadaan mereka dan orang-orang saleh yang mana itu lebih afdhal daripada meminta bantuan dari mereka secara amal perbuatan.” Namun disebabkan oleh keterpaksaan mereka pun ikut serta. “Pendapat Hadhrat Umar bertentangan dengan itu, beliau biasa menggunakan sahabat Badr untuk urusan militer dan lain-lain.”[3]

Jumlah pasukan Muslim pada peperangan tersebut adalah 13.000 sementara pasukan Musailamah Al Kadzdzab adalah 40.000.

Musailamah A Kadzab disertai seseorang bernama Naharur Rajjal Bin ‘Unfuwah (نَهَارٌ الرَّجَّالُ بْنُ عُنْفُوَةَ) yang dulu pernah hadir ke hadapan Rasulullah (saw) untuk mempelajari Al Quran dan mendalami urusan agama. Rasulullah (saw) mengirimnya sebagai Muallim ke penduduk Yamamah untuk membantah pendakwaan kenabian Musailamah Al-Kadzdzab. Namun sesampainya di sana orang ini malah murtad dan dia (ar-Rajjal) mengatakan [membuat pernyataan bohong] mengenainya (Musailamah), “Saya telah mendengar dari Rasulullah (saw) (saw) bahwa beliau (saw) telah menyertakan Anda dalam hal Kenabian.” Naudzubillah.[4] Walhasil, ketika seseorang murtad, membuat-buat pernyataan palsu adalah perbuatan biasa orang-orang demikian.

Bagi kabilah Musailamah yaitu Banu Hanifah kemurtadan Naharur Rajjal Bin ‘Unfuwah lebih jauh berpengaruh dibanding dengan pendakwaan Musailamah karena orang itu tadinya dikirim oleh Nabi (saw) sebagai Mu’allim (untuk memberikan tarbiyat) kepada mereka. Ketika ia mengatakan hal demikian kepada orang-orang, mereka pun mulai terpengaruh. Semuanya mengakui kesaksiannya sehingga menaati Musailamah. Akibatnya, orang-orang itu berkata kepadanya, tulislah surat kepada Nabi Saw, jika Rasul tidak mau menuruti, maka kami akan siap untuk membantumu dalam menghadapinya. Pernyataan pembangkangan dari merekalah yang sebetulnya menjadi penyebab utama pecahnya peperangan.

Ketika Musailamah mengetahui Hadhrat Khalid semakin mendekat, maka Musailamah menyiapkan pasukan di daerah Uqraba lalu memanggil orang-orang untuk membantunya. Orang-orang berdatangan dalam jumlah yang banyak. Pada saat itu, Muja’ah ibn Murarah (مُجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ) bersama dengan grupnya muncul lalu umat Muslim menangkapnya dan pasukannya. Hadhrat Khalid membunuh kawan-kawannya dan membiarkan Muja’ah ibn Murarah hidup. Muja’ah ibn Murarah muncul untuk berperang tadinya karena di kalangan Banu Hanifah, Muja’ah ibn Murarah sangat dihormati.[5]

Ketika ia ditangkap, Syurahbil putra Musailamah (شُرَحْبِيلُ بْنُ مُسَيْلِمَةَ), menghasut Banu Hanifah dengan mengatakan, يَا بَنِي حَنِيفَةَ، قَاتِلُوا؛ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ الْغَيْرَةِ، فَإِنِ انْهَزَمْتُمْ تُسْتَرْدَفُ النِّسَاءُ سَبِيَّاتٍ، وَيُنْكَحْنَ غَيْرَ خَطِيبَاتٍ، فَقَاتِلُوا عَنْ أَحِسَابِكُمْ، وَامْنَعُوا نِسَاءَكُمْ “Hari ini adalah saatnya memperlihatkan keberanian, jika hari ini kalian kalah, maka wanita wanita kalian akan dijadikan budak, akan dimanfaatkan tanpa dinikahi. Untuk itu kalian harus memperlihatkan keberanian pada hari ini dan jagalah wanita-wanita kalian, demi kehormatan kalian.”

Dimulailah perang. Bendera Muhajirin dipegang oleh Hadhrat Salim Maula Abu Hudzaifah yang mana sebelumnya berada di tangan Abdullah Bin Hafash, namun beliau syahid. Bendera Anshar berada di tangan Hadhrat Tsabit Bin Qais. Sedemikian rupa dahsyatnya perang tersebut sehingga tidak pernah dialami sebelumnya oleh umat Muslim yang serupa itu. Pada perang tersebut pasukan Muslim kalah.

Banu Hanifah terus maju untuk melepaskan Muja’ah yang tengah ditawan pasukan Muslim. Mereka menuju kemah Hadhrat Khalid. Saat itu istri Hadhrat Khalid tengah berada di kemah. Mereka ingin membunuh istri Hadhrat Khalid, namun Muja’ah berkata, “Saya melindunginya. Saya larang kalian membunuhnya. Kalau hendak menyerang, seranglah kaum pria.” Mereka kembali setelah merobohkan kemah.

Peperangan semakin dahsyat dan kabilah Banu Hanifah bersatu lalu menyerang. Pada saat itu, terkadang pasukan Muslim yang kewalahan dan terkadang sebaliknya. Pada peperangan tersebut, sahabat agung seperti Hadhrat Salim, Hadhrat Abu Hudzaifah dan Hadhrat Zaid Bin al-Khaththab syahid. Ketika Hadhrat Khalid melihat keadaan umat Islam demikian, beliau memisah-misahkan setiap kabilah agar berkumpul sesuai kabilahnya masing-masing supaya dapat diperkirakan musibah yang dialami dan dapat diketahui dari mana serangan yang dialami umat Muslim dan umat Muslim bagian mana yang tertimpa kekalahan. Begitu juga beliau memisah-misahkan barisan perang. Umat Muslim saling mengatakan satu sama lain bahwa pada hari ini kami merasa malu melihat keadaan yang dialami saat itu. Tidak ada musibah yang lebih berat bagi umat Muslim lebih dari hari itu.

Musailamah masih bertahan pada tempatnya dan merupakan markas perang dari pihak kuffar. Hadhrat Khalid menyadari sebelum Musailamah dibunuh, peperangan tidak akan berakhir. Hadhrat Khalid tampil merangsek ke depan pasukan musuh dan meminta pasukannya untuk mengumandangkan semboyan-semboyan perang yang berbunyi يَا مُحَمَّدَاهُ!  “Ya Muhammadah” dan lain-lain. Banyak dari antara pasukan Muslim yang terbunuh di medan perang. Khalid meneriaki Musailamah untuk ditantang duel, namun ia tidak muncul dan melarikan diri lalu terpaksa mencari perlindungan di kebunnya bersama kawan-kawannya kemudian mengunci pintu kebun dari dalam.

Pasukan Muslim mengepung kebun tersebut. Hadhrat Bara Bin Malik (الْبَرَاءُ بْنُ مَالِكٍ) mengatakan, يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، أَلْقُونِي عَلَيْهِمْ فِي الْحَدِيقَةِ “Wahai umat muslim! Lemparlah aku ke atas banteng dan turunkan di dalam kebun.” (beliau seorang pemberani) Pasukan Muslim berkata, “Kami tidak bisa melakukannya.”

Akan tetapi, Hadhrat Bara tetap bersikeras untuk diangkat ke atas benteng. Akhirnya pasukan Muslim mengangkat beliau ke benteng lalu beliau melompat ke dalam kebun. Dari dalam beliau membuka pintu kebun sehingga umat Muslim merangsek masuk melewati pintu kebun dan terjadilah pertempuran di sana.

Wahsyi membunuh Musailamah. Wahsyi inilah yang telah mensyahidkan paman Nabi, Hadhrat Hamzah. Berdasarkan satu riwayat Wahsyi membunuh Musailamah bersama seorang sahabat anshar. Wahsyi melontarkan tombaknya kepada Musailamah lalu seorang Anshar menyerang Musailamah dengan pedang. Keduanya menyerang dalam satu waktu sehingga Wahsyi sering mengatakan, “Allah-lah yang lebih mengetahui serangan siapa diantara kami yang telah membunuhnya.”

Hadhrat Abdullah Bin Umar meriwayatkan, فَصَرَخَ رَجُلٌ: قَتَلَهُ الْعَبْدُ الْأَسْوَدُ “Ada seseorang yang berteriak berkata bahwa Musailamah telah dibunuh oleh budak belian berkulit hitam.” Untuk itu kemungkinannya lebih besar bahwa Wahsyi-lah yang membunuh Musailamah.

Hadhrat Khalid dengan perantaraan Muja’ah mencari tahu perihal mayat Musailamah. Muja’ah dalam menghadapi pasukan Muslim berkata kepada Hadhrat Khalid, مَا جَاءَكَ إِلَّا سَرَعَانُ النَّاسِ، وَإِنَّ الْحُصُونَ مَمْلُوَّةٌ، فَهَلُمَّ إِلَى الصُّلْحِ عَلَى مَا وَرَائِي “Kalian tergesa-gesa dan tidak berpengalaman. Di dalam benteng dipenuhi pasukan yang berpengalaman. Saya mengajak berdamai dari pihak mereka. Jika masih terjadi peperangan, pasukan Muslim akan mengalami kerugian besar.”

Terkait:   Tahun Baru Periode Tahrik Jadid ke-86 (November 2019-Oktober 2020)       

Dia melancarkan kelicikan. Hadhrat Khalid berdamai dengan Muja’ah dengan syarat, “Hanya nyawa yang akan dimaafkan, kalian akan dilepaskan, tidak akan ditawan, selain itu umat Muslim akan menguasai segala sesuatu.”

Muja’ah mengatakan, أَنْطَلِقُ إِلَيْهِمْ فَأُشَاوِرُهُمْ Saya akan pergi dulu menjumpai pasukan yang ada di benteng untuk bermusyawarah dengan mereka lalu kembali lagi. (Musailamah telah mati sehingga kekuatan mereka telah melemah) Muja’ah sampai di banteng, yang ada di banteng selain dari para wanita dan anak anak dan orang tua dan yang lemah, tidak ada lagi yang lainnya. Dia bertindak dengan memakaikan pakaian besi kepada para wanita dan berkata, kalian pergilah ke dekat benteng dan berdiri di sana sampai aku kembali.

Orang itu datang menemui Khalid dan berkata: “Orang-orang yang ada di benteng tidak mau mengikuti syarat perdamaian. Sebagian dari mereka tampak di pintu gerbang untuk menyatakan penolakannya dan saya tidak mau bertanggung jawab atas hal ini karena mereka tidak mampu ditahan lagi.”

Hadhrat Khalid melihat ke arah benteng yang dipenuhi dengan pasukan padahal para wanita yang dipakaikan baju besi. Pada peperangan yang dahsyat tersebut umat Muslim mengalami kerugian, peperangan berlangsung lama. Pihak Muslim ingin mendapatkan kemenangan dan segera kembali. Hadhrat Khalid berdamai dengan Muja’ah dengan syarat semua emas, perak dan peternakan serta setengah budak belian diserahkan ke pihak Hadhrat Khalid. Berdasarkan satu pendapat ialah berdamai dengan mengembalikan seperempatnya.

وَقَدْ قُتِلَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ثَلَاثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ، وَمِنَ الْمُهَاجِرِينَ مِنْ غَيْرِ الْمَدِينَةِ ثَلَاثُمِائَةِ رَجُلٍ Pada peperangan tersebut, dari pihak Muslim yakni dari antara muhajirin dan anshar pemukim di Madinah sejumlah 360 orang sedangkan dari selain Madinah berjumlah 300 muhajirin syahid. Sementara dari pihak Banu Hanifah terbunuh di Medan Uqraba 7000, 7000 di kebun dan 7000 ketika melarikan diri.

وَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ قَالَ عُمَرُ لِابْنِهِ عَبْدِ اللَّهِ، وَكَانَ مَعَهُمْ: Ketika lasykar tersebut sampai di Madinah, Hadhrat Umar bersabda kepada putranya, أَلَا هَلَكْتَ قَبْلَ زَيْدٍ؟ هَلَكَ زَيْدٌ وَأَنْتَ حَيٌّ! أَلَا وَارَيْتَ وَجْهَكَ عَنِّي؟ “Abdullah, kenapa kamu tidak syahid sebelum Zaid? Zaid telah syahid, sementara kamu masih hidup, kenapa kamu tidak menyembunyikan wajahmu dariku?”

Hadhrat Abdullah menjawab: سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ فَأُعْطِيَهَا، وَجَهَدْتُ أَنْ تُسَاقَ إِلَيَّ فَلَمْ أُعْطَهَا. “Beliau (Hadhrat Zaid) memohon mati syahid kepada Allah ta’ala dan Allah Ta’ala mengabulkannya. Saya pun berusaha untuk itu, namun saya tidak meraihnya [Tuhan tidak menganugerahi kesyahidan kepada saya].”[6]

Disebabkan oleh banyaknya umat Muslim yang syahid pada peperangan tersebut, akhirnya Hadhrat Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan ayat ayat Al Quran, supaya jangan sampai hilang.[7] Demikianlah kisah lengkap mengenai perang Yamamah.

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Abdullah Bin Makhramah (عبد الله بن مخرمة بن عبد العزى) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Nama beliau Abdullah Bin Makhramah dan dipanggil Abu Muhammad. Beliau berasal dari Kabilah Banu Amir Bin Luayy (عَامِرِ بْنِ لؤي). Beliau disebut juga Abdullah Akbar. Beliau termasuk Muslim awal.

Ayahanda beliau bernama Makhramah Bin Abdul Uzza (مَخْرَمَةَ
بْنِ عَبْدِ العزى بن أبي قيس
). Ibunda beliau bernama Bahnanah Binti Abu Shafwan (بهنانة بِنْت صَفْوان). Berkenaan dengan anak beliau, disebutkan putra beliau yang bernama Musahik (مُسَاحِقٌ) yang terlahir dari istri beliau, Zainab Binti Suraqah (زَيْنَبُ بِنْتُ سُرَاقَةَ بْنِ الْمُعْتَمِرِ).

Beliau termasuk Muslim awal. Beliau mendapatkan kehormatan melaksanakan dua hijrah. Pertama ke Habsyah dan kedua ke Madinah. Ibnu Ishaq menuliskan beliau termasuk sahabat yang hijrah ke Habsyah bersama Hadhrat Ja’far ibn Abu Thalib. Yunus Bin Bukair Salma dan Bakaiy mengutip perkataan Ibnu Ishak yang menyebutkan bahwa Hadhrat Abdullah Bin Makhramah hijrah ke Habsyah.

Ketika beliau sampai di Madinah, tinggal di rumah Hadhrat Kultsum bin Hidm. Rasulullah (saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Farwah Bin Amru (فروة بن عمرو بن ودقة البياضي). Hadhrat Abdullah Bin Makhramah ikut serta pada perang Badr dan seluruh peperangan setelahnya. Ketika beliau ikut serta pada perang Badr, saat itu beliau berusia 30 tahun. Beliau syahid pada zaman kekhalifahan Hadhrat Abu Bakar pada perang Yamamah pada usia 41 tahun.[8]

Gejolak semangat Hadhrat Makhramah untuk mati syahid sedemikian rupa tingginya, sehingga beliau selalu memanjatkan doa, “Ya Allah! Jangan wafatkan daku sebelum kulihat setiap luka pada setiap sendi tubuhku.” Pada perang Yamamah beliau mengalami luka pada bagian sendi yang membuat beliau syahid. Beliau adalah orang yang rajin ibadah, ketika muda pun beliau rajin beribadah. [9]

Hadhrat Ibnu Umar meriwayatkan, أتيت على عبد الله بن مخرمة صريعا يوم اليمامة، فوقفت عليه فقال:  “Pada tahun perang Yamamah, Hadhrat Abdullah Bin Makhramah bersama dengan bekas budak Hadhrat Abu Huzaifah, Hadhrat Salim. Kami bertiga biasa bergantian menggembala kambing dan ada harta milik lasykar yang harus dijaga. Ketika peperangan dimulai, saat itu tiba giliran saya menggembala, ketika saya kembali dari menggembala, saya melihat Hadhrat Abdullah Bin Makhramah tengah terjatuh dalam keadaan luka dalam peperangan. Saya menghampiri beliau. Beliau berkata: يَا عَبْدَ اللَّهِ ابن عُمَرَ، هَلْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ؟  ‘Wahai Abdullah Bin umar! Apakah orang yang tengah berpuasa sudah berbuka?’ Saat itu sore hari. Saya jawab: ‘Ya.’

Beliau berkata: فَاجْعَلْ فِي هَذَا الْمِجَنِّ مَاءً لَعَلِّي أُفْطِرُ عَلَيْهِ ‘Bawakan air dengan menggunakan tameng ini untuk saya berbuka puasa.’ فَأَتَيْتُ الْحَوْضَ وَهُوَ مَمْلُوءٌ مَاءً فَضَرَبْتُهُ بِحَجَفَةٍ مَعِي. ثُمَّ اغْتَرَفْتُ فِيهِ فَأَتَيْتُ بِهِ فَوَجَدْتُهُ قَدْ قَضَى نَحْبَهُ. رَضِيَ اللَّهُ عنه Saya (Hadhrat Abdullah Bin Umar) pergi mengambil air di telaga, namun ketika kembali beliau sudah wafat.”[10]

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Amru bin Ma’bad (عَمْرو بنَ مَعْبَد بن الأَزْعَر بن زيد بن العَطَّاف بن ضُبَيعة بن زيد بن مالك بن عَوْف بن عَمْرو بن عوف بن مالك بن الأَوس الأَنصاري الأَوسي ثم الضُّبيعي). Beliau juga bernama Umair Bin Ma’bad (عمير بن معبد بن الأزعر). Ayah beliau bernama Ma’bad Bin al-Az’ar. Beliau berasal dari Anshar Kabilah Aus ranting Banu Dhabai’ah. Beliau ikut serta pada perang Badr, Uhud, khandak dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah (saw). وهو أحد المائة الصابرة يوم حنين الذين تكفّل الله تعالى بأرزاقهم Beliau termasuk kedalam golongan 100 pemberani yang bertahan melawan pada perang Hunain dan mereka yang bertahan bersama dengan Rasulullah (saw), Allah ta’ala telah menjadi pencukup bagi rezekinya.

Diriwayatkan, وروى ابن مردويه عن ابن عمر – رضي الله عنهما – قال: لقد رأينا يوم بدر وإن الفئتين لموليتان، وما مع رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مائة رجل. Hadhrat Abdullah bin ‘Umar mengatakan, “Pada saat perang Hunain keadaan kami sedemikian rupa dimana dua grup umat Muslim mundur dan yang tertinggal bertahan bersama dengan Rasulullah (saw) tidak lebih dari 100.” Berkenaan dengan jumlah sahabat yang bertahan pada saat itu terdapat perbedaan pendapat yakni. Ada yang mengatakan antara 80-100 orang ada yang mengatakan 100 orang. Walhasil, jumlahnya sangat sedikit.[11]

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Numan Bin Malik (النعمان بن مالك بن ثعلبة بن دعد) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Hadhrat Nu’man Bin Malik disebut juga Nu’man Bin Qauqal (النعمان بن قوقل). Imam Bukhari menyebut nama beliau Ibnu Qauqal. Allamah Badrudin Aini, seorang ulama menulis dalam Syarh al-Bukhari, nama lengkap beliau adalah Nu’man Bin Malik Bin Tsa’labah bin Ashram. Nu’man ternisbah dari kakek beliau, karena itu beliau disebut Nu’man Bin Qauqal. Beliau sedikit cacat dan berpengaruh ketika berjalan.

Ayahanda beliau bernama Malik Bin Tsa’labah dan ibunda beliau bernama Umrah Binti Ziyad. Beliau adalah kakak ipar Hadhrat Mujadzdzar Bin Ziyad. Beliau berasal dari Anshar kabilah Khazraj ranting Banu Ghanam. Kabilah tersebut dikenal dengan sebutan Qauqal. Menurut Ibnu Hisyam, Hadhrat Nu’man bin Malik dikenal dengan nama Nu’man Qauqal. Ibnu Hisyam menyebutkan kabilah dengan Banu Da’d.

Kenapa disebut Qauqal pernah saya sampaikan pada khotbah terdahulu yakni ketika di Madinah. Ada orang yang datang kepada seorang tokoh untuk meminta jaminan perlindungan, dikatakan kepada beliau panjatlah gunung itu sesukamu, yakni sekarang kamu sudah aman, hiduplah sesukamu. Kembalilah dalam keadaan leluasa, janganlah takut pada siapapun. Orang yang memberikan perlindungan itu disebut dengan Qawaqil. Ibnu Hisyam berkata, seorang ketua yang memberi perlindungan seperti itu, ia memberikan anak panah dan berkata, bawalah anak panah ini dan pergi sesukamu.

Kakek Hadhrat Nu’man, Tsalabah Bin Da’d disebut sebagai Qauqal. Begitu juga pemimpin kabilah Khazraj Ghanam bin Auf disebut dengan qauqal. Begitu juga Hadhrat Sa’d Bin Ubadah, Banu Salim, Banu Ghanam, Banu Auf Bin Khazraj disebut juga Qauqal. Pemimpin Banu Auf adalah Hadhrat Ubadah Bin Shamit.

Beliau ikut serta pada perang Badr dan Uhud dan syahid pada perang Uhud. Beliau disyahidkan oleh Safwan Bin Umayyah. Berdasarkan riwayat lain, beliau disyahidkan oleh Aban bin Said. Hadhrat Nu’man Bin Malik, Hadhrat Mujadzdzar Bin Ziyad dan Hadhrat Ubadah Bin Khasykhasy dikuburkan dalam satu kuburan ketika perang Uhud.[12]

Ketika berangkat menuju perang Uhud, beliau berkata kepada Rasulullah (saw) ketika disampaikan musyawarah perihal Abdullah Bin Ubay Bin Salul, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لا تَحْرِمْنِي الْجَنَّةَ ، فَوَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ ، لأَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ “Wahai Rasulullah (saw)! Demi Tuhan! Saya pasti akan masuk ke surga.”

Rasul bertanya, بِمَ ؟ “Bagaimana?”

Hadhrat Nu’man menjawab: بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ ، وَأَنِّي لا أَفِرُّ مِنَ الزَّحْفِ “Dikarenakan saya memberikan kesaksian, tidak ada sembahan selain Allah dan Rasulullah (saw) adalah rasulNya dan saya sama sekali tidak akan melarikan diri dari pertempuran.”

Rasul bersabda: صَدَقْتَ “Benar apa yang kamu katakan.”

Beliau lalu syahid pada hari itu.[13]

Khalid Bin Abu Malik Ja’di meriwayatkan, saya mendapatkan riwayat dalam buku ayah saya bahwa Hadhrat Nu’man Bin Qauqal Anshari berdoa: demi Engkau yang Tuhan! Sebelum matahari terbenam, saya sudah tengah berjalan-jalan di surga yang hijau bersama kelumpuhanku. Beliau syahid pada hari itu.

Rasulullah (saw) bersabda: Allah ta’ala mengabulkan doanya karena saya melihat dalam kasyaf tengah berjalan jalan di surga dan tidak ada ciri ciri kelumpuhan apapun dalam diri beliau.

Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan, “Saya datang ke hadapan Rasulullah (saw) dan beliau tengah berada di Khaibar sementara sahabat telah menaklukan Khaibah. Saya berkata: يا رسولَ اللهِ، أَسهِمْ لي ‘Wahai Rasulullah (saw)! Berikan juga saya bagian.’

Putra Sa’id Bin al-’Ash mengatakan, لا تُسْهِمْ له يا رسولَ اللهِ ‘Wahai Rasul Allah! Jangan berikan bagian padanya.’

Saya (Hadhrat Abu Hurairah) berkata: هذا قاتلُ ابنِ قَوْقَلٍ ‘Ia adalah pembunuh Nu’man bin Qauqal.

Ibnu Sa’id Bin al-’Ash berkata: واعَجَبًا لوَبْرٍ، تَدَلَّى علينا من قَدُومِ ضَأنٍ، يَنعَى عليَّ قتلَ رجلٍ مسلمٍ ‘Saya heran, pegunungan Dha’n yang berada di daerah Tihamah, merupakan salah satu bukit tempat asal kabilah Hadhrat Abu Hurairah, kabilah Dos, tengah berada di puncaknya. Ia tengah menggembala di sana lalu datang kepada kami dan memburuk-burukan saya dengan berkata bahwa saya telah membunuh seorang Muslim.’

Terkait:   Apakah Khilafah dalam Islam Didirikan untuk Menaklukkan Dunia?

Ia lalu berkata, أكرَمَه اللهُ على يَدَيَّ، ولم يُهِنِّي على يَدَيْهِ ‘[Nu’man bin Qauqal] ialah seorang yang telah diberikan kehormatan oleh Allah Ta’ala melalui tangan saya dan saya tidak dihinakan dengan tangannya.’”[14]

Sufyan berkata, فلا أَدرِي أَسهَمَ له أم لم يُسهِمْ له “Entahlah apakah Rasulullah (saw) memberikan bagian kepadanya ataukah tidak.”

Hadhrat Jabir meriwayatkan, “Hadhrat Nu’man Bin Qauqal datang ke hadapan Rasulullah (saw) dan bertanya, يا رسولَ اللَّهِ ! أرأيتَ إذا صَلَّيتُ المَكتوبةَ ، وحرَّمتُ الحرامَ ، وأحلَلتُ الحلالَ ، أَأدخُلُ الجنَّةَ ‘Wahai Rasulullah (saw)! Jika saya melaksanakan shalat wajib dan berpuasa di bulan Ramadhan, mengharamkan barang yang haram dan menghalalkan barang yang halal dan tidak melampaui batas tersebut, apakah saya akan masuk ke surga?’

Rasulullah (saw) bersabda, نعَم . وفي روايةٍ : ولَم أزِد على ذلك شيئًا ‘Ya.’

Beliau berkata, ‘Demi Tuhan. Saya tidak akan melampaui batas dari itu.’”[15]

Hadhrat Jabir meriwayatkan, دَخَلَ النُّعْمَانُ بْنُ قَوْقَلٍ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  “Nu’man Bin Qauqal masuk ke masjid, Rasulullah (saw) saat itu tengah menyampaikan khutbah. Rasulullah (saw) bersabda kepada beliau: صَلِّ رَكْعَتَيْنِ تَجَوَّزْ فِيهِمَا  ‘Wahai Nu’man! Shalatlah dua rakaat.’”

Di riwayat ini juga dijelaskan berkenaan dengan shalat sunnat ketika Jumat.

“Rasulullah (saw) yang tengah menyampaikan khotbah mengatakan kepada Hadhrat Nu’man, ‘Shalatlah dua rakaat dengan singkat.’

Rasul bersabda: فَإِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَلِيُصَلِّ رَكْعَتَيْنِ وَلْيُخَفِّفْهُمَا ‘Siapa datang ketika khatib tengah menyampaikan khotbah, ia hendaknya shalat dua rakaat secara singkat.’”[16]

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Khubaib bin Adiyy al-Anshari (خُبَيْب بن عدي بن مالك الأوسي الأنصاري) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau berasal dari anshar kabilah Aus keluarga Banu Jahjahah Bin Auf. Ketika Hadhrat Umair Bin Abu Waqqash hijrah dari Mekah ke Madinah, Rasulullah (saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Khubaib Bin Addi. Beliau ikut s erta pada perang Badr. Pada perang Badr beliau membunuh Harits Bin Amir. Ketika perang beliau ditugaskan untuk mengawasi perlengkapan prajurit.

Hadhrat Khubaib Bin Addi termasuk dalam pristiwa Raji pada tahun 4 hijri. Beliau dan Hadhrat Zaid Bin Dasnah ditawan oleh kaum musyrik dan dibawa ke Mekah. Sesampainya di mekah kedua sahabat tersebut dijual. Anak Harits Bin Amir membeli Hadhrat Khubaib supaya dapat membalas dendam atas terbunuhnya ayahnya, Harits yang telah dibunuh oleh Khubaib pada perang Badr. Menurut Ibnu Ishak Hujair Bin Abu Ihab Tamimi membeli Hadhrat Khubaib yang merupakan pendukung anak Harits. Lalu anak Harits membelinya darinya supaya bisa membalas dendam atas kematian ayahnya. Dikatakan juga bahwa Uqba Bin Harits membelinya dari Banu Najjar. Dikatakan juga bahwa anak Abu Ihab, Ikrimah bin Abu Jahal, Ahnats Bin Syariq, Ubaidah Bin Hakim, Umayyah Bin Abi Utbah Hazami dan Safwan Bin Umayyah bersama-sama membelinya. Mereka semua adalah yang ayah-ayahnya terbunuh pada perang Badr. Mereka semua membelinya lalu menyerahkan Khubaib kepada Uqba Bin Harits lalu dipenjara di rumahnya.

Dalam kitab Bukhari, berkenaan peristiwa Raji selengkapnya sebagai berikut, Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah (saw) shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus 10 orang yang dipimpin oleh ‘Ashim bin Tsabit -dia adalah kakek ‘Ashim bin Umar bin ‘Ashim– Lalu mereka berangkat, mereka kemudian singgah di Badah tempat antara ‘Usfan dan Makkah, keberadaan mereka diberitahukan kepada suatu perkampungan dari suku Hudzail, mereka biasa disebut dengan Bani Lahyan. Maka mereka diikuti oleh orang-orang dari perkampuangan tersebut, yaitu sekitar dua ratus orang pemanah, mereka mengiuti jejak para sahabat tersebut, sesampainya mereka di suatu persinggahan yang pernah disinggahi oleh para sahabat, mereka mendapati biji kurma Madinah yang dibawa oleh para sahabat sebagai perbekalan mereka, mereka berkata, ‘Ini adalah kurma Madinah.’

Mereka terus mengikuti para sahabat sehingga berhasil menyusulnya, ketika ‘Ashim bin Tsabit dan para sahabatnya merasakan kehadiran orang-orang itu, para sahabat langsung berlindung dibalik bukit, orang-orang itu datang dan langsung mengepung, mereka berkata, ‘Turunlah kalian, kalian dapat membuat perjanjian dan kesepakatan, supaya kami tidak membunuh seorangpun dari kalian, ‘ ‘Ashim bin Tsabit menimpali, ‘Demi Allah, saya tidak akan berada dalam lindungan orang kafir, ya Allah beritahukanlah kabar kami kepada Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘ Lalu mereka menyerang para sahabat hingga berhasil membunuh ‘Ashim bersama tujuh pemanah lainnya, tinggal tersisa Khubaib al-Anshari, Ibnu Datsanah dan seorang sahabat lagi. Lalu mereka membuat perjanjian dan kesepakatan dengan mereka jika bersedia untuk turun dan menyerahkan diri.

Tatkala pasukan tersebut telah menyandera tiga utusan Nabi, mereka memudar tali anak panah mereka untuk mengikat sandera mereka dengan tali itu, maka laki-laki yang ketiga berkata, ‘Ini adalah pengkhinatan pertama, demi Allah aku tidak akan mengikuti kalian, bagiku yang menentramkan adalah bersama dengan orang-orang yang syahid itu, aku disini, jika kamu ingin mensyahidkanku silahkan. lalu mereka menyeretnya, namun ia tetap berontak, akhirnya mereka membunuhnya dan mereka pergi dengan membawa Khubaib dan Zaid hingga mereka menjualnya di Makkah.

Banu Harits bin ‘Amir bin Naufal (بنو الحارث بن عامر بن نوفل ابن عبد مناف) lalu membeli Khubaib. -Khubaib adalah orang yang telah membunuh Al-Harits ketika perang Badr- Khubaib menjadi tawanan bagi mereka hingga mereka sepakat untuk membunuhnya.

Ibnu syahab berkata bahwa Ubaidullah bin Ayyaz memberitahukan saya bahwa Khubaib meminjam pisau kecil dari salah satu anak perempuan Al-Harits untuk bercukur, lalu ia meminjamkannya kepada Khubaib. Wanita itu berkata, ‘Namun aku lalai dengan anak laki-laki kecilku, anak itu datang kepadanya, lalu ia mengambilnya dan mendudukkanya diatas pangkuannya. Ketika aku melihatnya, aku sangat takut dengan rasa takut yang bisa ia pahami, sedangkan pisau kecil masih ada dalam tangannya. Khubaib berkata, ‘Apakah kamu takut kalau aku akan membunuhnya? Insya Allah aku tidak akan melakukan itu.’

Wanita itu berkata, ‘Demi Allah aku tidak pernah melihat tawanan yang sangat baik seperti Khubaib, aku pernah melihatnya memakan setangkai anggur di tangannya dalam keadaan terikat dengan rantai besi, padahal di Makkah tidak ada buah anggur, tidaklah hal itu melainkan rizqi yang Allah berikan kepada Khubaib.’

Lalu mereka membawa Khubaib keluar dari Haram untuk membunuhnya. Khubaib berkata, ‘Berikanlah kesempatan kepadaku untuk mengerjakan (shalat) dua raka’at!’ Setelah itu Khubaib kembali kepada mereka dan berkata, ‘Sekiranya aku tidak khawatir kalian menganggapku takut dari kematian, niscaya aku akan menambah bilangan raka’atku.’ kemudian ia berkata, ‘Ya Allah hitunglah jumlah mereka dan binasakanlah mereka, ‘ kemudian dia melanjutkan, وَلَسْتُ أُبَالِي حِينَ أُقْتَلُ مُسْلِماً         على أي شِقِّ كَانَ لله مَصْرَعِي Demi Allah, aku tidak takut bagaimana pun bentuk kematianku
dalam membela agama Allah
asalkan aku mati dalam keadaan Muslim
[17]

Allamah Hajar Asqalani, pensyarah bukhari menulis syarah berkenaan dengan peristiwa Raji bahwa Hadhrat Khubaib ketika disyahidkan memanjatkan doa, اللهم أَحْصِهِمْ عَدَدًا وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا Allaahumma ahshihim adada waqtulhum badada..” – “Ya Tuhan hitunglah mereka satu persatu dan bunuhlah mereka. supaya dapat dibalaskan dendam atas mereka dalam riwayat lain terdapat kalimat, وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا ولا تُبْقِ منهم أَحَدً waqtulhum bidada wa laa tabqii minhum ahada. Bunuhlah mereka satu per satu, jangan lepaskan seorang pun dari mereka.

Setelah melaksanakan shalat nafal Hadhrat Khubaib dibunuh oleh anak Harits, Uqbah.

Berdasarkan riwayat Bukhari lainnya, Hadhrat Khubaib dibunuh oleh Abu Saraa’a dan khubaib lah yang menegakkan contoh bagi umat Islam untuk melakukan shalat dua rakaat ketika menghadapi peristiwa serupa. Allah ta’ala mengabulkan doa Asim Bin Tsabit ketika disyahidkan dan Rasulullah (saw) mengabarkan kepada para sahabat. Yakni doa yang dipanjatkan tadi: Ya Tuhan kabarkanlah ini kepada Rasulullah (saw).

Ketika dikabarkan kepada Kuffar Quraisy bahwa Asim telah dibunuh lalu mereka mengirim beberapa orang untuk mengambil potongan jasad beliau [yaitu kepala beliau] sehingga dapat dikenali. Pada saat perang Badr, Asim telah membunuh tokoh mereka, maka Allah ta’ala mengaturkan sedemikian rupa dengan dikirim satu kumpulan serangga pada jenazah Asim, sehingga menaungi jenazah beliau, sehingga utusan kuffar tadi tidak dapat merugikan jenazah beliau.

Ketika Hadhrat Khubaib disyahidkan, atau ketika akan disyahidkan, saat itu beliau memanjatkan doa, “Ya Allah! Hamba tidak memiliki perantara yang dapat menyampaikan salam kepada Rasulullah (saw), mohon Engkau sampaikan sendiri salam hamba kepada Rasulullah (saw).”

Ketika Hadhrat Khubaib dinaikkan ke tempat tinggi untuk dibunuh, berdoa dan ketika mendengar doa tersebut yang berbunyi: اللهم أَحْصِهِمْ عَدَدًا وَاقْتُلْهُمْ بَدَدًا ولا تُبْقِ منهم أَحَدًا “Allaahumma ahshihim ‘adada waqtulhum bidada..” – “Ya Tuhan hitunglah mereka satu per satu dan bunuhlah mereka.”

Orang Musyrik itu ketakutan lalu berbaring di tanah. Diriwayatkan bahwa belum berlalu satu tahun sejak saat itu, kecuali orang yang berbaring di tanah itu, semua orang yang ikut serta dalam pembunuhan Hadhrat khubaib kesemuanya mati.

Hadhrat Muawiyah Abu Sufyan meriwayatkan, “Saya berada saat itu bersama dengan ayah saya. Ketika ayah saya mendengar doa Hadhrat Khubaib, beliau menjatuhkan saya ke tanah.

Urwah meriwayatkan, “Mungkin ada juga yang lainnya, walhasil, diantara orang musyrik yang ada pada saat itu Abu Ihab, Akhnats Bin Syariq, Ubaidah Bin Hakim dan Umayyah Bin Utbah ikut serta.”

Diriwayatkan juga Jibril datang kepada Rasulullah (saw) dan mengabarkan kejadian tersebut kepada Rasulullah (saw) lalu Rasulullah (saw) mengabarkan kepada para sahabat.

Sahabat berkata: Pada hari itu Rasul tengah duduk Rasul bersabda: Wa alaikum salaam ya Khubaib.” – “Wahai Khubaib! Semoga keselamatan tercurah kepada engkau.”

Kaum Quraisy lalu mengeksekusinya.

Rasul bersabda; Allah Ta’ala telah telah membuat sarana untuk menyampaikan salam. Ini adalah Syarh Bukhari, tertulis: Ketika Hadhrat Khubaib disyahidkan, wajahnya diarahkan ke arah lain selain kiblat. Namun setelah orang-orang Musyrik itu melihat tidak lama kemudian bahwa wajah Hadhrat Khubaib mengarah ke kiblat, mereka berkali kali mengarahkan wajah beliau ke arah selain kiblat, namun tidak berhasil. Lalu mereka meninggalkan beliau dalam keadaan demikian. Dalam riawayat lain dikatakan, Orang-orang Quraisy menggantungkan jenazah Hadhrat Khubaib pada dahan pohon lalu dibunuh dengan cara ditusuktusuk dengan tombak.

Dalam kumpulan tersebut ikut juga Said Bin Amir, orang tersebut di kemudian hari masuk Islam. Keadaannya sampai zaman Hadhrat Umar ketika mengingat kejadian yang menimpa Khubaib karena beliau termasuk salah satu diantara orang yang menganiaya pada masa itu, membuat beliau pingsan ketika mengingatnya.[18] Masih ada lagi beberapa kisah lainnya dari rujukan lainnya, namun akan disampaikan pada khotbah berikutnya.

Saat ini saya akan umumkan bahwa Departemen Tarikh Ahmadiyyat telah membuat satu website dalam dua Bahasa Urdu dan English yang berisikan materi-materi Tarikh Ahmadiyah dan juga yang berkaitan dengan riwayat hidup yang sudah diterbitkan di kalangan Jemaat. Seperti Hadhrat Masih Mauud As, pada Khulafa, para sahabat, para Syuhada Ahmadiyyat, para Darwiesy Qadian, Muballighin Silsilah dan buku-buku berkenaan dengan riwayat hidup tokoh tokoh jemaat lainnya, makalah, phot bersejarah dan sekian banyak jilid Tarikh Ahmadiyyat yang sudah terbit, badan-badan, sejarah jemaat di negara-negara dan kota-kota, tulisan-tulisan para tokoh jemaat, photo-photo tabarruk, surat kabar dan risalah yang penting dan pilihan.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 47)

Dimuat juga makalah makalah penelitian dan bersejarah. Acara-acara jemaat yang penting dan photo bangunan bangun jemaat seperti masjid, rumah misi, lembaga lembaga Pusat markaz, lembaga pendidikan, rumah sakit, klinik Guest house dan diberikan pengenalan secukupnya. Dimuat juga beberapa dokumenter dari MTA melalui dengan perantaraan satu kanal video Youtube. Dalam Website tersebut dimuat juga peristiwa peristiwa sejarah penting dari awal mula berdirinya jemaat sampai saat ini disertai dengan timelinenya. Insya Allah bada jumat nanti saya akan meresmikan website tersebut.

Kedua, satu kabar duka wafatnya Muballig senior kita Safiyur Rahman Khurshid Sahib, yang pernah bertugas di Afrika dan tempat-tempat lainnya dan juga sebagai manager Nusrat Art Press, beliau adalah putra dari Hakim Fazlurrahman Sahib, wafat pada tanggal 16 september pada usia 75 tahun. Disebabkan karena serangan jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Setelah shalat jumat nanti saya akan memimpin shalat jenazah untuk beliau. Beliau adalah cucu dari Hadhrat Maulwi Qudratullaah Sanauri Sahib, sahabat Hadhrat Masih Mauud As. Ayah beliau juga telah mewakafkan hidup dan atas petunjuk Hadhrat Muslih Mauud Ra beliau melaksanakan pengkhidmatannya di tanah Sindh.

Pendidikan dini beliau dapatkan di Rabwah, lalu ibu beliau melihat mimpi yang berdasarkan itu pada tahun 1961 beliau masuk jamiah. Pada tahun 1970 beliau meraih gelar syahid dari. Beliau memiliki dua istri, dari istri pertama terlahir satu putri sedangkan dari yang kedua tidak memiliki anak. Putri beliau juga tinggal disini bernama Roshan Ara istri dari Jamil Ahmad Sahib. Setelah lulus jamiah, beliau bertugas untuk beberapa masa di perkantoran Markazi, setelah itu bertugas di Cakwal sebagai muballig, di sana beliau mendapat taufik untuk berkhidmat bersama dengan sahabat Hadhrat Masih Mauud As, Hadhrat Hakim Abdullah Sahib sampai satu tahun.

Pada tahun 1972 beliau ditugakan ke Sierra Leon. Ketika berangkat ke Afrika, Hadhrat Khalifatul Masih yang ketiga memberikan petunjuk untuk selalu mencintai Afrika. Almarhum menuturkan bahwa beliau selalu memegang nasihat tersebut lalu beliau menceritakan satu kisah pertolongan Allah Ta’ala, suatu ketika setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki dan perahu pada sore kami sampai di sebuah desa, saat itu almarhum disertai oleh seorang Ahmadi Afrika yang suda tua. Ketika sampai di kampung tersebut, kepala kampung tengah tidak ada, untuk itu berdasarkan aturan mereka, tamu dibawa ke kepala imam di sana. Namun pa Imam menolak untuk mendengarkan lalu mengusir kami dari kampung. Saat itu malam, tidak ada tempat untuk menginap, lalu pergi.

Setelah mulai jauh dari Kampung memasuki hutan dan merupakan daerah yang ombak laut atau sungai sampai ke tepi. Kami berjalan dengan bersedih. Tiba tiba ada orang yang memanggil dari satu arah yang tengah berada di ketinggian. Orang itu memberikan tempat kepada kami di gubuknya. Tidak lama kemudian, terdengar beberapa suara panggilan orang-orang dan suara itu semakin terdengar dekat. Orang-orang itu datang dan berkata bahwa pa Imam memanggil anda kembali karena semenjak kalian pergi setelah diusir, diserang sakit kepala yang keras. Beliau memerintahkan kami untuk memanggil anda mungkin sakit kepalanya itu karena anda. Kembalilah beliau ke kampung itu dan pa Imam mengumpulkan orang-orang lalu bertablighlah kami kepada penduduk kampung pada malam hari. Setelah itu 10, 12 orang baiat pada saat itu. Untuk sakit kepalanya pa Imam, kami membacakan surat Al Fatihah lalu meniupkannya, dengan karunia Allah Ta’ala sembuh. Dengan demikian, Allah Ta’ala pun mengaturkan bagi mereka tempat bermalam dan tidak hanya itu, bahkan mendapatkan pembaiatan juga.”

Beliau mendapatkan kesempatan untuk mendirikan percetakan di Siearaleon. Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits Rah mengirimkan mesin percetakan kesana. Pada masa itu belum mengalami kemajuan dan almarhum telah berhasil menjalankan percetakan tersebut sehingga Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits kerap memuji almarhum. Setelah itu beliau ditugaskan ke Nigeria. Di Nigeria pun beliau sukses menjalankan percetakan jemaat, bahkan pada masa itu pernah terjadi kecelakaan dimana ketika bekerja salah satu tangan beliau patah ketika menggunakan mesin. Beliau telah berobat namun belum sembuh.

Ketika Hadhrat Khalifatul Masih ke 3 mendapatkan kabar tersebut dan mungkin saat itu beliau tengah berada di London, lalu beliau bersabda kepada almarhum untuk menjalani pengobatan di London dan dengan karunia Allah Ta’ala hasilnya baik.

Ketika Raqeem Press akan didirikan di London, Hadhrat Khalifatul Masih ke empat memerinatahkan beliau untuk berusaha menjalankan percetakan di London. Komite yang dibentuk pada masa itu diantaranya termasuk Mustafa Sabir Sahib dan Mubarak Saqi Sahib dan sejak saat itu percetakan berjalan sampai saat ini. Beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat di negeri Afrika diantaranya Sierra Leon dan Nigeria selama 17 tahun.

Pada tahun 1988 ketika Hadhrat Khalifatul Masih Ar Rabi melakukan lawatan ke Afrika, memerintahkan almarhum berangkat ke Kamerun guna mendirikan jemaat disana. Beliau mendapatkan visa Kamerun dengan sulit akhirnya berangkat kesana dan tinggal selama satu bulan disana. Muncul banyak peluang untuk melakukan tabligh, interview beliau ditayangkan di radio dan dengan karunia Allah Ta’ala dalam masa kunjungan itu baiat satu keluarga.

Pada tahun 1988 beliau kembali ke Pakistan dan di Lahore bertugas sebagai Muballigh. Dalam berbagai kesempatan beliau hadir pada jalsah London dan juga berkhidmat di kantor Private Secretary. Pada tahun 1991 beliau mendapatkan taufik berkhidmat di Nusrat Art Press sebagai manager. Disebabkan karena stroke sekian masa lalu beliau mengambil pension. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kasih sayang dan maghfirah-Nya, meninggikan derajat beliau dan semoga putri beliau diberikan kesabaran begitu juga istri beliau.

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

[1] Ansabul Asyraf (أنساب الأشراف للبلاذري) dan (عند ابن هشام (ص 510) حابر)

[2] Musailamah al-Kadzdzab ialah salah seorang pengaku kenabian. Ia mengaku Nabi pada tahun akhir masa hidup Nabi Muhammad (saw). Seorang lagi pengaku Nabi ialah Aswad al-Ansi. Mereka tidak hanya mengaku Nabi tetapi juga mengumpulkan milisi berjumlah ribuan. Mereka menganiaya umat Muslim yang sudah ada di wilayah mereka. Mereka juga membunuh atau mengusir para Amir dan Qari (pengajar Qur’an) yang ditugaskan oleh Nabi Muhammad (saw) di daerah tersebut.

[3] Al-Kaamil fith Thaarikh (الكامل في التاريخ).

[4] Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari gurunya, dari Abu Hurairah radhiallahu anhu. (Lihat: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzab). Perkataan Abu Hurairah radhiallahu anhu yang mengatakan bahwa fitnah Ar-Rajjal bin Unfuwah lebih besar daripada Musailamah (فَكَانَتْ فِتْنَةُ الرَّجَّالِ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ مُسَيْلِمَةَ) ini disebabkan akibat yang ditimbulkannya sangat besar. Karena sejak Ar-Rajjal bin Unfuwah membela Musailamah Al Kadzab, pengikut nabi palsu ini semakin yakin kepada Musailamah dan semakin bertambah jumlahnya. Maka disinilah fitnah terbesarnya.

[5] Muja’ah ibn Murarah (مُجَّاعَةُ بْنُ مُرَارَةَ), Nahaarur Rajjaal ibn ‘Unfuwah – termasuk juga Musailamah, ialah anggota rombongan utusan dari Raja dari Yamamah, Haudzah ibn ‘Ali (هَوْذَةُ بْنُ عَلِيٍّ) yang dikirim ke Madinah untuk melakukan pembicaraan dengan Nabi Muhammad (saw). Haudzah beragama Kristen dan baru saja mendapat kunjungan Da’i (utusan penabligh) dari Nabi (saw), Salith ibn ‘Amru (سَلِيطُ بْنُ عَمْرٍو) yang menyerunya kepada Islam. Hal itu terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah ketika Nabi (saw) mengirim utusan dan surat kepada raja-raja. Haudzah meminta Nabi (saw) memberinya kekuasaan sepeninggal wafat Nabi (saw) sebagai syarat masuk Islam. Nabi (saw) menolak, لَا، وَلَا كَرَامَةَ، اللَّهُمَّ اكْفِنِيهِ!  “Tidak! Tidak Ada kemuliaan. Ya Allah! Cukupkanlah hamba dari orang itu.” Tidak lama kemudian, Haudzah meninggal.  Musailamah pun menggantikan sebagai pemimpin kaum. Rajjal dan Muja’ah masuk Islam. Rajjal tinggal di Madinah.

[6] Al-Kaamil fith Thaarikh (الكامل في التاريخ).

[7] Al-Kaamil fith Thaarikh (الكامل في التاريخ).

[8] Ath-Thabaqaat al-Kubra.

[9] Ibn ʿAbd al-Barr (d. 1071 CE) – al-Istīʿāb fī maʿrifat al-ṣaḥāba (ابن عبد البر – الاستيعاب في معرفة الصحابة).روى عَنْهُ أَنَّهُ دعا الله عز وجل ألا يميته حَتَّى يرى فِي كل مفصل منه ضربة فِي سبيل الله. فضرب يَوْم اليمامة فِي مفاصله. واستشهد، وَكَانَ فاضلا عابدا

[10] Ath-Thabaqaat al-Kubra.

[11] Subuulul Huda war Rasyaad (سبل الهدى والرشاد – الصالحي الشامي – ج ٥ – الصفحة ٣٢٩)

Dalam perang Hunain, saat 10.000 pasukan Muslim yang juga diikuti 2.000an orang Makkah yang baru masuk Islam dan sebagian belum baiat melewati celah di dua bukit, kabilah musuh menyerang mendadak, secara otomatis pasukan menjadi cerai-berai karena pasukan 2000an yang dari Makkah memulai kocar-kacir yang berakibat kuda-kuda dan unta-unta yang dikendarai pasukan lain ikut gentar dan kabur. Setelah dipanggil oleh Nabi (saw) barulah mereka berhimpun lagi.

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 417, Mujadzdzar Bin Ziyad, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990;

[13] Takhrij (تخريج أحاديث كتاب تاريخ الطبري – حديث رقم : 593)

[14] Shahih al-Bukhari. Aban bin Sa’id bin al-‘Ash bin Umayyah masuk Islam setelah perjanjian Hudaibiyah. Sebelumnya, ia di pihak Kuffar Quraisy. Ia adalah pelindung ‘Utsman bin ‘Affan bin al-‘Ash bin Umayyah saat diutus Nabi (saw) untuk berunding ke Makkah. Pada waktu itu 1500 umat Muslim ingin berhaji di Ka’bah. Serangkaian perundingan menghasilkan perjanjian Hudaibiyah.

[15] Shahih Muslim.

[16] Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir (الطَّبَرَانِيُّ فِي مُعْجَمِهِ الْكَبِيرِ مِنْ رِوَايَةِ مَنْصُورِ بْنِ أَبِي الأَسْوَدِ عَنْ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ). ‘Umdatul Qari (عمدة القاري – ج 6 – 753 – 989 – تتمة الأذان – صلاة العيدين); Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Jumu’ah (كتاب الجمعة ) bab (باب: إذا رأى الإمام رجلا جاء وهو يخطب، أمره أن يصلي ركعتين ) nomor 902: عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الجُمُعَةِ ، فَقَالَ : أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ ؟ قَالَ : لاَ ، قَالَ : قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ

                                                    

[17] Shahih al-Bukhari. Sajak-sajak Khubaib dilantunkan saat mengetahui kaum Quraisy akan membunuhnya. Diantara sajaknya ialah Hanya kepada Allah sajalah kuadukan keterasingan dan kesedihanku serta kelaliman tentara Ahzab saat kutemui ajalku; Wahai Allah pemilik Arsy, berilah daku kesabaran menanggung siksa yang mereka tujukan kepadaku kala telah mereka potong-motong kulitku dan telah pupus harapanku; Semua itu demi Allah, jika Dia berkehendak niscaya ‘kan Dia berkahi cabikan dagingku nan berserak; Mereka beri aku pilihan: kekufuran dan kematian namun pandangan mataku tidak bergeming dari kematian; Sesekali takkan dapat kuhindari kematian bila tiba ajalnya ‘ku pasti mati; Namun lebih kupilih hindari jilatan api Neraka. Takkan kutampakkan kerendahan dan kegoncangan pada musuh, sesungguhnya kepada Allah jualah kukan kembali..

[18] Sa’id bin ‘Aamir al-Jumahi ialah gubernur Homs. Sebelumnya Muawiyah namun Hadhrat Khalifah Umar menggantinya dengan Sa’id.