بسم اللہ الرحمن الرحیم

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada pada 24 Mei 2019 (Ramadhan 1440 Hijriyah Qamariyah/Hijrah 1398 Hijriyah Syamsiyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania).

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ()

 وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ ()
۞ وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ قُل لَّا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ()
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ ()
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ()
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ()
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۖ وَلَبِئْسَ الْمَصِيرُ ()

Ayat-ayat dari surat An-Nur yang saya tilawatkan baru saja tersebut salah satunya merupakan ayat Istikhlaf yang mana Allah Ta’ala berjanji kepada orang-orang beriman untuk terus menjadikan Khilafat di kalangan mereka. Sebelum dan sesudah ayat tersebut terdapat ayat-ayat lainnya yang di dalamnya ditekankan kepada orang-orang beriman untuk taat dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Jika itu diamalkan, maka Allah Ta’ala akan memenuhi janji-Nya untuk menganugerahkan nimat Khilafat dan akan merobah keadaan yang mencekam dengan kedamaian dan akan menghukum mereka yang memusuhi.

Arti ayat-ayat tersebut adalah: “Sesungguhnya perkataan orang-orang mukmin (beriman) apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya supaya Dia menghakimi di antara mereka itu ialah, mereka berkata, ‘Kami dengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.” (ayat 52)

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang menang.” (ayat 53)

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah mereka yang sebenar-benarnya, bahwa jika engkau perintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan keluar segera. Katakanlah, ‘Janganlah bersumpah; apa yang dituntut dari kamu adalah ketaatan kepada yang apa yang benar. Sesungguhnya Allah Mahawaspada atas apa yang kamu kerjakan.’” (54)

“Katakanlah, ‘Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul ini.’ Maka jika kamu berpaling, maka ia bertanggungjawab tentang apa yang dibebankan kepadanya, dan kamu bertanggungjawab tentang apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, kamu akan mendapat petunjuk. Dan tidaklah kewajiban Rasul melainkan menyampaikan secara jelas.” (55)

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amalsaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu Khalifah di bumi ini, sebagaimana Diatelah menjadikan Khalifah orangorang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka.” (56)

“Dan dirikanlah shalat, dan bayarlah zakat, dan taatlah kepada Rasul itu supaya kamu mendapat rahmat”, (57)

“Janganlah engkau mengira, bahwa orang-orang yang ingkar akan dapat melumpuhkan rencana-rencana Kami di muka bumi; dan tempat tinggal mereka adalah neraka. Dan sungguh buruklah tempat kembali itu.” (58)

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah menjelaskan segala sesuatu dengan jelas yaitu, “Meskipun kalian ribuan kali mengaku diri sebagai orang beriman, namun sebelum kalian tetap teguh dalam menghadapi ujian dan cobaan serta mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan lapang dada dan keyakinan sepenuhnya maka kalian tidak dapat meraih keberhasilan.” Ketaatan sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan hal yang penting untuk meraih kesuksesan hakiki. Suatu keharusan untuk mengamalkan perintah Allah disertai rasa takut kepada-Nya demi meraih keridhaan-Nya, jangan sampai Tuhan kita yang tercinta marah kepada kita disebabkan suatu perbuatan kita. Demikian pula perlu juga untuk teguh dalam ketakwaan yakni mengamalkan setiap kebaikan dan akhlak mulia dengan dilandasi karena itu semua merupakan perintah Tuhan. Jika itu dapat kita amalkan maka akan meraih kesuksesan dan kedamaian dari Allah Ta’ala. Jika kita perhatikan amal-amal kita, akan tampak dalam banyak kesempatan, belum memiliki standar ketaatan sebagaimana seharusnya. Jikapun mengamalkan suatu perintah yang bertentangan dengan keinginannya, itu pun dilakukan dengan tidak tulus.

Perintah untuk taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya pada ayat-ayat tersebut, beriringan dengan janji Allah untuk menghidupkan Khilafat. Hal ini berarti Allah Ta’ala tengah berfirman bahwa Nizham Khilafat pun merupakan satu bagian dari Nizham Ilahi dan hal itu berdasarkan pada perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Jadi, mengamalkan perintah Khilafat pun adalah penting bagimu karena itu merupakan salah satu dari perintah Allah. Bahkan, sangat penting bagi orang-orang beriman untuk meningkatkan standar ketaatan demi keberlangsungan kehidupan mereka secara perkauman dan keruhanian. Nabi (saw) bersabda, مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي ‘man atha’ani faqad atha’aLlaha wa man ‘ashaani faqad ‘ashaLlaha wa man atha’a amiirii faqad atha’ani wa man ‘ashaa amiiri faqad ‘ashaanii.’ – “Siapa taat kepada Amir saya, berarti ia taat pada saya. Orang yang menaati saya berarti taat kepada Allah. Begitu juga siapa yang tidak taat pada Amir saya, berarti tidak menaati saya. Jika seseorang tidak menaati saya berarti tidak taat pada Allah Ta’ala.” [1]

Adapun ketaatan kepada Khilafat jauh lebih penting dari ketaatan kepada Amir umumnya. Bagaimana teladan ketaatan dengan setulus hati dalam kehidupan para sahabat, saya akan sampaikan beberapa contohnya: Pada suatu ketika Hazrat Khalid Bin Walid ditugaskan sebagai komandan dalam suatu peperangan [yaitu di masa Khilafat Abu Bakr]. Namun disebabkan sesuatu hal, Hazrat Umar Ra [yang menjadi Khalifah setelah Hazrat Abu Bakr ra] memberhentikan Hazrat Khalid dan menggantinya. Hal itu dilakukan pada saat terjadi peperangan. Khalifah menunjuk Hazrat Abu Ubaidah sebagai penggantinya.

Karena Hazrat Abu Ubaidah berpikiran Hazrat Khalid Bin Walid tengah memimpin peperangan dengan sangat baik sehingga beliau tidak mengambil alih kepemimpinannya. Namun Hazrat Khalid bin Walid mengatakan, “Silahkan segera ambil alih kepemimpinan ini, karena ini merupakan perintah Khalifah dan apapun yang anda perintahkan saya siap untuk mengikutinya tanpa rasa berat hati.”[2]

Inilah standar ketaatan yang harus dimiliki seorang beriman, bukannya mengeluh jika ada keputusan yang memberatkan. Bukannya meninggalkan tanggung jawab jika posisi kepengurusannya digantikan orang lain. Siapa melakukan demikian berarti di dalam dirinya tidak ada ketaatan, tidak ada rasa takut kepada Allah Ta’ala dan juga takwa.

Saya baru mengetahui ada beberapa ketua Jemaat yang meninggalkan tanggung jawabnya sebelum berakhir masa jabatannya pada bulan Juni nanti. Mereka berkata, “Untuk apa kami melanjutkan tugas di jabatan ini sekarang?”

Apakah mereka hanya mau bekerja jika terus memegang jabatan kepengurusannya sehingga mereka abaikan tanggung jawab yang harus mereka penuhi pada bulan Mei dan Juni? Apakah kalian beranggapan akan selalu menjadi Ketua selamanya? Memiliki pemikiran seperti itu merupakan pengkhiatan terhadap tugas agama.

Kedua, ini merupakan pemikiran yang bercorak pembangkangan dan sama halnya dengan mengeluarkan diri dari ketaatan terhadap Khilafat. Dengan berpikiran, “Karena Khalifah telah menyetujui kaidah (ketentuan) baru masa jabatan ketua Jemaat adalah 6 tahun, untuk itu kami pun tidak akan bekerja dengan sepenuh hati.”

Orang-orang seperti ini hendaknya menempuh ketakwaan dan takut kepada Allah Ta’ala. Dalam satu kesempatan, Hazrat Rasulullah (saw) menyampaikan pokok pikiran berkenaan dengan baiat yakni kami mendengar dan kami taat sekalipun kami menyukainya ataupun tidak.

Rasulullah juga pernah bersabda, ” مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا حُجَّةَ لَهُ , وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيتَةَ جَاهِلِيَّةٍ ” . “Siapa yang menarik tangannya dari ketaatan kepada Allah Ta’ala, ia akan menemui Allah Ta’ala pada hari kiamat dalam keadaan tidak memiliki alasan dan dalil apapun. Siapa saja yang mati dalam keadaan tidak baiat kepada Imam pada zamannya, berarti ia mati jahiliyah dan tersesat.”[3]

Beruntunglah kita karena kita telah baiat kepada Imam zaman dan tidak termasuk golongan jahiliyah yang mengingkari Imam zaman. Namun jika setelah baiat, amal perbuatan kita masih seperti orang jahiliyah maka sama saja dengan mengeluarkan diri dari baiat tersebut dan terkeluar dari ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Walhasil, sangatlah penting bagi kita untuk mengarahkan pemikiran kita ke arah yang benar setelah baiat dan memperlihatkan teladan ketaatan.

Imam zaman bersabda mengenai mutu orang-orang yang berbaiat kepadanya, “Yang termasuk Jemaat kami adalah mereka yang menjadikan ajaran kita sebagai pedoman dalam beramal dan berusaha untuk mengamalkannya sekuat tenaga. Namun, siapa yang hanya menuliskan nama untuk baiat dan tidak beramal sesuai dengan ajaran kita, ingatlah, Allah Ta’ala beriradah menjadikan Jemaat ini sebagai Jemaat khas sehingga jika ada orang yang hanya menuliskan namanya saja untuk baiat tidak berlaku sebagaimana mestinya, ia secara hakikat tidak dapat tergolong sebagai Jemaat.” Artinya, jika keadaan amal perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran maka dengan hanya mencantumkan nama saja untuk baiat, menurut Hazrat Hazrat Masih Mau’ud (as), pada hakikatnya orang yang seperti itu tidaklah termasuk kedalam Jemaat.

Beliau (as) bersabda, “Maka dari itu, sedapat mungkin selaraskanlah amalan dengan ajaran yang telah diberikan. Ajaran itu adalah, janganlah menimbulkan kekacauan, jangan melakukan tindak kejahatan, bersabarlah dalam menghadapi cacian.” (Artinya, janganlah janganlah merespon hal-hal yang laghw dan sia-sia dengan cara yang juga laghw dan sia-sia. Janganlah menanggapi dengan berpikiran, “Karena si A sudah terpilih menjadi pengurus, untuk itu saya tidak mau taat lagi kepadanya atau karena saya sudah selesai masa jabatannya, untuk itu saya tidak mau taat lagi kepada seorang pun.”

Beliau (as) bersabda, “Jika ada yang bersikap keras seperti itu terhadapmu maka perlakukanlah orang itu dengan santun dan baik.” (baik itu dalam urusan umum, keseharian, atau dalam perselisihan. Jika ada yang mengajak untuk berbuat laghw dan sia-sia, maka abaikanlah. Bahkan tidak hanya mengabaikan, perlakukanlah dengan baik juga.)

“Perlihatkanlah teladan luhur dalam berbicara dengan santun, lembut dan akhlak mulia. Taatilah setiap perintah dengan tulus hati supaya Allah ridha dan mereka yang memusuhi mengetahui bahwa setelah baiat, keadaan kita tidak seperti sebelumnya. Berikanlah kesaksian yang jujur di pengadilan. Dalam hal ini orang yang baiat hendaknya menegakkan kejujuran dengan segenap daya dan upaya.”

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ أَمَرْتَهُمْ لَيَخْرُجُنَّ ۖ  Mereka bersumpah dengan yakin, ‘Jika engkau memerintahkan, pasti kami akan lakukan begini dan begitu.’ Namun ketika diperintah, tidak melaksanakan sebagaimana mestinya.”

Maka dari itu, Allah Ta’ala berfirman, قُل لَّا تُقْسِمُوا ۖ طَاعَةٌ مَّعْرُوفَةٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ “Janganlah banyak bersumpah dan menggembar-gemborkan janji. Jika kalian taat secara ma’ruf, yakni ketaatan yang diyakini ma’ruf, maka kami akan meyakini bahwa kamu telah menaati perintah, tidak hanya ucapan di bibir saja dan Allah Ta’ala maha mengetahui apa yang kamu amalkan dan keadaan hatimu.”

Dengan demikian, ketaatan umum adalah penuhilah hak Allah Ta’ala dan lakukanlah ibadah kepada-Nya dengan baik. Pelihara dan lanjutkanlah kecenderungan ibadah saat ini di dalam bulan Ramadhan. Sembari mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala, penuhi juga hak-hak para hamba-Nya. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda seperti yang saya sampaikan tadi, “Hindarilah berbagai macam kekacauan, kejahatan, dan perkelahian. Perbaikilah akhlak kalian. Yakni Akhlak mulia yang mengistimewakan secara jelas antara Ahmadi dan bukan Ahmadi. Teguhlah diatas kebenaran.”

Walhasil, mengamalkan segala jenis kebaikan adalah penting dan inilah yang merupakan ketaatan yang ma’ruf. Inilah yang Allah Ta’ala dan Rasulullah (saw) perintahkan kepada kita. Ini jugalah perintah kepada kita yang telah disampaikan Hazrat Masih Mau’ud (as) dan harapan beliau (as) atas anggota Jemaat beliau. Para Khalifah pun senantiasa menekankan akan hal itu. Sejak 111 tahun yang lalu terus mengarahkan perhatian pada hal tersebut.

Demikian pula, perlihatkanlah teladan sempurna dalam urusan kepengurusan juga, tidak hanya dalam urusan agama dan ruhani saja seperti yang telah ditampilkan Hazrat Khalid Bin Walid. Janganlah memperdebatkan apakah perintah ini termasuk perintah yang ma’ruf ataukah tidak? Jika memang ada perintah yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, tentu perintah tersebut tidaklah ma’ruf. Laksanakanlah janji yang sering kita ulang-ulang, “Saya akan menganggap pentig untuk selalu taat pada segala keputusan ma’ruf dari Hazrat Khalifah.” Janganlah lantas kita mulai menafsirkan sesukanya, apakah yang ini ma’ruf ataukah tidak?

Hazrat Khalid Bin Walid memberikan teladan, “Meskipun dalam keadaan perang yang genting, di tengah-tengah dua pasukan yang saling bertarung [Romawi dan Muslim], terlebih kebijakan saya (Hazrat Khalid) pun sangat baik dan manfaatnya dirasakan umat Muslim, namun saya tidak lantas menganggap perintah Hazrat Khalifah Umar [yang mencopot kedudukan saya sebagai Amir seluruh pasukan] sebagai tidak ma’ruf.”

Bahkan, sembari memperlihatkan ketaatan yang sempurna Hazrat Khalid meyakini kedudukan di bawah komando Hazrat Abu Ubaidah dan berperang sebagai prajurit biasa sebagai keberkatan.

Berkenaan dengan orang-orang yang terperangkap dalam memperdebatkan apakah suatu keputusan itu ma’ruf dan tidak ma’ruf, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) memberikan penjelasan, “Ada satu kesalahan lainnya dalam hal memahami ketaatan kepada hal-hal yang ma’ruf, dengan mengatakan, ‘Kalau demikian, hal-hal yang kami anggap bukan ma’ruf tidak akan kami taati.’ Perkataan berikut ini sehubungan dengan Nabi yang mulia (saw), وَلَا يَعْصِينَكَ فِي مَعْرُوفٍ ‘wa laa ya’shiika fi ma’ruufin’ – ‘Dan mereka tidak akan mendurhakai (membangkang) engkau dalam hal kebaikan.’ (Surah al-Mumtahanah, 60:13) Sekarang adakah orang yang bisa membuat suatu penjelasan mengenai daftar kesalahan-kesalahan Hadhrat Muhammad Rasulullah (saw)?” [4] Na’udzubillah. Artinya, membuat daftar yang darinya dapat diketahui perintah Rasulullah (saw) yang ini ma’ruf sedangkan yang itu tidak ma’ruf.

Seperti itu jugalah Hazrat Masih Mau’ud (as) telah menulis taat dalam keputusan ma’ruf dalam syarat baiat. Didalamnya terdapat rahasia yaitu Nabi dan para Khalifah memberikan perintah yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala. Sebagaimana dalam satu kesempatan Hazrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal kata tersebut [Surah al-A’raf; 158: يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ. ‘ya’muruhum bil ma’ruf’], “Nabi yang mulia saw ini memerintahkan kalian perintah yang tidak bertentangan dengan akal sehat dan melarang kalian sesuatu yang juga dilarang akal sehat. Beliau saw menghalalkan sesuatu hal yang memang suci dan mengharamkan hal-hal yang memang tidak suci.”[5]

Penjelasan lengkap dan rinci mengenai hal itu telah dijelaskan di dalam Al Quran oleh Allah Ta’ala. Begitu juga Rasulullah (saw) telah menjelaskannya. Telah beliau (saw) jelaskan secara gambling apa itu perintah dan apa itu yang dilarang [awaamir dan nawaahi]. Siapa yang mengikuti Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan mengamalkan berdasarkan perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut, merekalah yang akan selamat.

Maka dari itu, kita hendaknya senantiasa ingat bahwa apa yang Khalifah perintahkan atau yang akan perintahkan dari pihak Khilafat maka hal itu tepat yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya serta sesuai dengan syariat Allah Ta’ala dan Sunnah Rasulullah (saw). Hal itu jugalah yang akan selalu mereka berikan.

Allah Ta’ala telah berfirman, وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ () “Jika kalian taat maka kalian akan mendapatkan petunjuk. Jika tidak, tidak ada jalan keselamatan selain dari itu.”

Allah Ta’ala lalu berfirman, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Allah Ta’ala berjanji kepada orang-orang yang menaati-Nya dan Rasul-Nya serta yang beramal saleh bahwa Dia akan mendirikan Khilafat di kalangan mereka. Ketahuilah! Bukanlah amal baik orang-orang yang hanya menaruh perhatian terhadap ibadah saja, mengikhlaskan ibadahnya semata-mata untuk Allah Ta’ala dan yang menghindarkan diri dari syirik; – bukan hanya syirik lahiriah saja bahkan hawa nafsu duniawi dan keadaan seseorang yang terperangkap menganggap agama sebagai prioritas kedua, itupun merupakan syirik – tidak diragukan lagi, itu merupakan kebaikan yang sangat besar namun seiring dengan itu ketaatan sangatlah penting. Maka dari itu, jika kita ingin mengambil manfaat dari aliran karunia dan keberkatan janji Khilafat maka perlu juga untuk taat sepenuhnya terhadap Khalifah seiring dengan menjaga ibadah-ibadahnya sendiri dan menghindari syirik hawa nafsu duniawi. Jika tidak demikian maka akan termasuk golongan pembangkang nan fasik (al-fussaaq al-‘ushaah).”

Sebagaimana yang telah disabdakan Hazrat Masih Mau’ud (as) bahwa orang-orang seperti itu terkeluar dari baiat.

Allah Ta’ala berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ () “Jemaat orang-orang beriman merupakan Jemaat yang secara teguh menjalin ikatan dengan Khilafat, mendirikan shalat-shalat dan menaruh perhatian untuk itu, memakmurkan Masjid-Masjid dengan shalat, membayar zakat dan menyucikan hartanya, melakukan pengorbanan harta demi Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan agama-Nya serta sedapat mungkin mengamalkan perintah dan Sunnah Rasulullah (saw). Jika semua ini ada maka Allah Ta’ala akan mengasihi hamba-hamba seperti itu.

Jadi, untuk menarik rahmat Allah Ta’ala, perlu untuk menata diri dan jika rahmat Allah Ta’ala meliputi kita dalam selimut Rahmaniyat dan Rahimiyyat-Nya maka setiap makar musuh akan dikembalikan lagi kepada mereka sehingga mereka akan sampai pada akhir kehidupan yang terburuk. Insya Allah.

Untuk menarik karunia-karunia Allah Ta’ala, perlu bagi kita untuk menghitung-hitung diri sejauh mana ketaatan yang ada dalam diri kita, sejauh mana kita mengamalkan perintah Allah Ta’ala, sejauh mana kita menata ibadah-ibadah kita, sejauh mana kita mengamalkan Sunnah Rasulullah (saw) dan sejauh mana standar ketaatan kita. Kita harus mengevaluasi diri kita sendiri.

Sekarang saya sampaikan beberapa hal bersumber dari Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) yang beliau sampaikan dalam beberapa kesempatan dan bagaimana Jemaat terpaksa menghadapi keadaan paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as) yang membuat setiap orang gelisah lalu Khilafat menganugerahkan kedamaian. Mereka yang di kemudian hari menjadi Jemaat Lahore atau tidak baiat kepada Khilafat, bagaimana sikap mereka pada awalnya lalu bagaimana sikap mereka paska terpilihnya Khalifah kedua. Beragam pemikiran mereka baik di awal sebelum pemilihan Khalifah kedua itu dan bagaimana setelahnya. Lantas bagaimana pihak penentang merasa bahagia dengan wafatnya Hazrat Masih Mau’ud (as). Namun paska terpilihnya Hazrat Khalifah Awwal sebagai Khalifah, bagaimana mereka menampakkan rasa malu.[6]

Selanjutnya, setelah kewafatan Khalifah Awwal, mereka mendapatkan lagi satu harapan baru, mereka dengan berpikiran sekarang Jemaat ini akan hancur. Namun, bagaimana Allah Ta’ala menjaga Jemaat orang-orang beriman ini dan bagaimana Allah Ta’ala mengganti keadaan yang mencekam dengan kedamaian.

Berikut akan saya sampaikan beberapa referensi sejarah yang penting untuk menambah keimanan para pemuda dan bagi mereka yang belum mengetahuinya. Ini adalah penting supaya setiap kita mengetahui sejarah sampai batas tertentu.

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Seperti halnya pada saat kewafatan Hazrat Rasulullah (saw), begitu juga pada saat kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as). Keadaan perasaan Jemaat pada saat kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as) sama seperti yang menimpa para Sahabat Rasulullah (saw). Demikian pula, kami semua beranggapan Hazrat Masih Mau’ud (as) belum akan wafat segera saat itu. Tidak terlintas di benak kami walaupun hanya satu menit apa yang akan terjadi paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as).

Saat itu saya bukan anak-anak melainkan sudah remaja. Saya biasa menulis makalah. Saya pun menjabat sebagai editor sebuah risalah. Seiring dengan itu, demi Tuhan, saya katakan tidak pernah terlintas di benak walaupun hanya satu detik bahwa Hazrat Masih Mau’ud (as) akan wafat padahal pada masa akhir hayat beliau (as), turun ilham secara terus-menerus yang mengabarkan akan wafatnya beliau. Di dalam beberapa ilham dan kasyaf ada ketetapan tanggal, tahun dan lain-lain perihal kewafatan beliau (as).

Meskipun kami membaca buku Al-Wasiyat, namun kami beranggapan mungkin ini akan tergenapi dua abad lagi. Untuk itu tidak pernah terlintas di benak apa yang akan terjadi ketika Hazrat Masih Mau’ud (as) wafat. Sebab, kami beranggapan Hazrat Masih Mau’ud (as) tidak mungkin wafat di tengah-tengah kami (di masa kehidupan kami) sehingga ketika benar-benar beliau (as) wafat, sulit bagi kami untuk menerima kenyataan ini.”

Beliau bersabda, “Saya ingat dengan baik, ketika jenazah beliau dikafani setelah dimandikan terkadang disebabkan hambusan angin sehingga kain kafan bergerak atau kumis atau rambut beliau bergerak. Melihat hal itu beberapa Ahmadi beranjak mengabarkan Hazrat Masih Mau’ud (as) masih hidup karena mereka melihat kain, kumis atau rambut beliau bergerak. Setelah itu, jenazah beliau (as) dibawa ke Qadian [dari kota Lahore], diletakkanlah di sebuah rumah yang berada di kebun sekitar pukul 8 atau 9 pagi.

Lalu Khawajah Kamaluddin Sahib datang ke kebun menemui saya dan mengajak saya bicara di tempat terpisah, mengatakan, ‘Mia! Pernahkah Anda berfikir apa yang akan terjadi setelah wafatnya Hazrat Masih Mau’ud (as)?’

Saya katakan, ‘Pasti akan terjadi sesuatu, namun apa itu, saya pun tidak mengetahuinya.’

Khawajah Shab berkata, ‘Menurut hemat saya, kita semua hendaknya baiat kepada Maulwi Nuruddin Sahib, Hazrat Khalifatul Masih Awwal Ra.’”

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Disebabkan usia dan meskipun saya biasa membaca buku-buku, namun tetap masih kurang (terbatas) bacaan saya, karena itu saya mengatakan, ‘Hazrat Masih Mau’ud (as) tidak pernah menulis di buku manapun supaya berbaiat kepada seseorang sepeninggal beliau, untuk itu kenapa kita harus baiat kepada Maulwi Sahib?’

Meskipun hal itu sebenarnya telah dijelaskan dalam buku Al-Wasiyat, namun pemikiran saya tidak tertuju ke sana.’

Khawajah Kamaluddin Sahib mengajak saya berdiskusi. Khawajah Shab mengatakan, ‘Jika saat ini kita tidak baiat di tangan salah seorang kita maka Jemaat ini akan hancur. Demikian juga yang terjadi paska kewafatan Rasulullah (saw) yang mana umat Islam baiat di tangan Hazrat Abu Bakr.’

(Ini adalah perkara penting. Saat itu Khawajah Sahib mengatakan, “Setelah kewafatan Rasulullah (saw), umat Islam baiat di tangan Hazrat Abu Bakar dan mengakui beliau sebagai Khalifah.”)

“’Karena itu, saat ini kita harus baiat ditangan seseorang dan untuk kehormatan ini tidak ada orang lain yang lebih layak dalam Jemaat ini selain Maulwi Sahib.’

Khawajah Shab mengatakan, ‘Demikian pula pendapat Maulwi Muhammad Ali yaitu seluruh Jemaat hendaknya baiat di tangan Maulwi Sahib yaitu Khalifah Awwal.’

Akhirnya, secara sepakat Jemaat memohon kepada Hazrat Khalifatul Masih Awwal untuk mengambil baiat orang-orang. Semua orang berkumpul di kebun, didalamnya Hazrat Khalifatul Masih Awwal menyampaikan ceramah, bersabda, ‘Saya tidak pernah berhasrat untuk menjadi Imam. Saya ingin kita baiat di tangan orang lain selain saya.’”

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Nama pertama yang diusulkan Hazrat Maulana Hakim Nuruddin (yang nantinya menjadi Khalifah Pertama) untuk menjadi Khalifah adalah saya. Kemudian, nama kakek saya, Meer Nasir Nawab Sahib (ra) lalu kakak ipar saya Nawab Muhammad Ali Khan Sahib (ra) dan beberapa nama lainnya. Namun kami semua bersuara bulat memohon kepada beliau, ‘Yang paling sesuai untuk jabatan Khalifah ini adalah Anda.’ Selanjutnya, semua orang baiat kepada Khalifah Awwal.

Bahkan, menurut beberapa riwayat lainnya, Khawajah Sahib menerbitkan selebaran yang bertuliskan, ‘Menurut Risalah Alwasiyat, kita harus memilih seorang Khalifah yang wajib ditaati. Saya mengusulkan nama Hazrat Maulana Hakim Nuruddin.’

Walhasil, ini merupakan pemikiran permulaan mereka. Mungkin saja pemikiran itu didasari demi mencapai tujuan-tujuan mereka sendiri. Memang mereka saat itu baiat di tangan Hazrat Khalifatul Masih Awwal namun itu bukanlah ruh ketaaatan yang seharusnya ada di dalam hati, karena ada hal lain dalam diri mereka. Untuk itu mereka terus berusaha supaya Anjuman dianggap lebih tinggi kedudukannya diatas Khilafat lalu merebut segala wewenang Khalifah melalui Anjuman.”

Menjelaskan mengenai hal tersebut Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Lima belas (15) hari berlalu paska baiat kepada Khalifah Awwal, Maulwi Muhammad Ali datang menemui saya, mengatakan, ‘Mia! Apakah Anda pernah berfikir bagiamana Nizham Jemaat kita akan berjalan?’

Saya jawab, ‘Apa perlunya merenungkannya lagi karena kita telah baiat di tangan Maulwi Sahib.’

Muhammad Ali Shab mengatakan, ‘Memang kita telah baiat, namun pertanyaannya adalah bagaimana Nizham Jemaat ini dapat berlangsung?’

‘Sekarang hal itu tidak perlu dipikirkan lagi karena ketika kita telah baiat di tangan seseorang maka orang tersebut dapat memahami dengan baik bagaimana seyogyanya ia menjalankan Nizham ini. Apa perlunya kita ikut campur di dalamnya.’

Mendengar hal itu Muhammad Ali Sahib terdiam, namun terus mengatakan, ‘Pemikiran tadi perlu untuk direnungkan.’”

Dari kejadian tersebut kita dapat mengetahui bagaimana gambaran keadaan batiniah mereka yaitu mereka baiat kepada Khalifah Awwal untuk suatu misi tertentu dan tidak tulus. Karena itu, hati mereka tidak tenteram. Maksudnya, keadaan aman damai yang dijanjikan bersamaan dengan baiat kepada Khilafat, tidak mereka dapatkan. Dalam diri mereka tidak terdapat ketaatan sempurna. Mereka ingin menjalankan Nizham ruhani ini seperti Nizham duniawi karena itu mereka sendiri melihat akibatnya, yang tertinggal hanya namanya. Mereka hanya tinggal beberapa gelintir saja atau mungkin ratusan saja. Atau katakan saja beberapa gelintir yang sejalan dengan Nizham buatan mereka. Sedangkan Jemaat yang berada di bawah naungan Khilafat ini, dengan karunia Allah Ta’ala sudah berdiri di 212 negara di dunia.

Berkenaan dengan bagaimana pihak mereka yang memusuhi menanggapi berkenaan dengan masa depan Jemaat setelah kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as), Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika Hazrat Masih Mau’ud (as) wafat, pada umumnya muncul anggapan Jemaat ini akan habis. Di sisi lain pihak penentang bergembira karena dengan itu Nizham iuran candah (sistem pemungutan iuran keuangan) akan berakhir dan kemajuan Jemaat akan terhenti. Sebab, menurut anggapan mereka, para Ahmadi membayar candah demi Hazrat Masih Mau’ud (as).

Namun, setelah menyaksikan perkembangan selama satu atau dua tahun dari segi jumlah para Ahmadi bertambah. Begitu juga pengorbanan harta dan penyebaran agama. Melihat demikian mereka mengada-ada lagi dengan mengatakan, ‘Sebenarnya Maulwi Nuruddin adalah seorang ulama besar sehingga kemajuan Ahmadiyah bergantung kepadanya dan pada masa kehidupan Mirza Sahib pun, Maulwi Sahib-lah yang biasa mengurusi segala sesuatu, meskipun pada lahiriahnya nama Mirza Sahib yang disebut.’”

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Bahkan, orang-orang yang bergaya Maulwi yang lebih menghargai perkara-perkara lahiriah, pada zaman Hazrat Masih Mau’ud (as) pun sering mereka mengatakan, ‘Maulwi Nuruddin lah yang sebanarnya menjalankan Jemaat ini.’ Ketika mereka mengetahui paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as) Jemaat semakin maju dibawah kepemimpinan Hazrat Maulana Nuruddin maka grup maulwi lainnya yang memutarbalikkan fakta mulai mengatakan, ‘Sejak dulu kami sudah sering mengatakan bahwa semua tugas dalam Jemaat ini diatur Maulwi Nuruddin sehingga paska kewafatan Mirza Sahib pun tidak akan ada bedanya, karena Jemaat ini maju berkat peranan Hazrat Maulwi Nuruddin.’

Kawan-kawan (Ahmadi) dari Gujarat menceritakan kepada saya (Hazrat Mushlih Mau’ud (ra)), ‘Ketika Hazrat Masih Mau’ud (as) wafat, ada seorang Maulwi Ahli Hadits (Ulama dari kalangan Wahabi) mengatakan kepada saya, “Sekarang waktunya bagi kalian untuk hancur karena Rasulullah (saw) telah bersabda bahwa setelah kenabian akan datang Khilafat. Kalian menganggap Hazrat Mirza Sahib sebagai Nabi – apakah itu nabi bukan pembawa syariat atau mendapatkan kenabian sebagai berkat menjadi pengikut Rasulullah (saw) – bagaimanapun tetap saja nabi. Setelah Nabi diteruskan Khilafat, sedangkan dalam Jemaat kalian tidak akan ada Khilafat karena kalian adalah orang-orang berkebudayaan Inggris (ahli Bahasa Inggris) sehingga kalian tidak akan cenderung kepada Khilafat.”

Kawan Ahmadi itu menceritakan, ‘Pada hari berikutnya datang telegram – pada zaman itu biasa digunakan telegram dengan melalui kantor pos sedangkan pada masa ini dalam waktu satu detik saja, kabar dari satu tempat ke tempat lain akan sampai atau melalui telephon. Namun pada zaman itu digunakan telegram, yang kadang diterima dua atau tiga hari kemudian. – Telegram tadi diterima pada hari berikutnya mengabarkan para Ahmadi telah baiat di tangan Hazrat Maulwi Nuruddin dan menjadikan beliau sebagai Khalifah.

Ketika kabar tersebut disampaikan kepada Maulwi Ahli Hadits tadi, ia mengatakan, “Nuruddin adalah seorang yang sangat terpelajar, untuk itu ia mendirikan Khilafat dalam Jemaat kalian. Coba lihat jika setelah beliau masih ada lagi Khilafat.”’

Sekian masa berlalu Maulwi itu mendapatkan kabar bahwa Jemaat telah baiat di tangan Hazrat Mushlih Mau’ud (ra). Setelah disampaikan kabar itu kepada Maulwi tadi, sang maulwi mengatakan, “Kalian ini sungguh aneh, susah ditebak.”

Namun tetap Maulwi itu tidak mau mengakui.’”

Saat ini pun itulah yang dikatakan oleh para penentang dan mereka terus terbakar dalam api kedengkian abadi. Sebagaimana telah saya sampaikan tadi, ketika pemilihan Khalifah kelima, ada seorang Maulwi mengatakan, “Semua pemandangan telah saya saksikan sendiri. Tampaknya kesaksian praktis Tuhan menyertai kalian.”

Namun, meskipun telah menyaksikan tanda tersebut, bukannya beriman, mereka semakin menjadi-jadi dalam kedengkian, kebencian dan penentangan. Bagaimanapun Allah Ta’ala tengah memberikan kemajuan terhadap Jemaat yang menjalinkan diri dengan Khilafat. Jemaat-Jemaat tengah menyebar di dunia ini.

Orang-orang yang berada nun jauh di sana pun mereka memiliki jalinan kesetiaan dengan Khilafat dan meningkat di dalamnya. Allah Ta’ala pun senantiasa membimbing Khilafat dan orang-orang yang bergabung dengan Jemaat serta mengarahkannya kepada Khilafat itu. Bagaimana Allah mengarahkannya? Akan saya sampaikan dua contoh. Sebagaimana Maulwi tadi mengatakan bahwa kesaksian Tuhan secara tindakan menyertai Jemaat ini. Berikut merupakan contoh lain lagi dan ini semata-mata karena kita-lah yang merupakan para hamba sejati Rasulullah (saw) dan kitalah yang tengah menyebarkan ajaran hakiki di seluruh dunia.

Sebuah negeri yang jauh Guinea Bissau di Afrika, ada seorang wanita kuli bangunan yang menuturkan, “Suatu hari saya melihat mimpi dimana Muballig kita memberi saya buku dan berkata, ‘Kunci keselamatanmu terdapat dalam buku ini.’

Lalu ketika saya buka buku itu, terdapat foto. Lalu saya bertanya kepada pa Muballigh, ‘Siapa orang ini?’

Pa Muballig menjawab, ‘Beliau adalah Khalifatul Masih yang telah Allah Ta’ala pilih pada masa ini.’”

Pada hari berikutnya wanita itu menjumpai pa Muballigh. Pa Muballig menjelaskan, “Mimpi yang anda lihat itu tidak memerlukan penjelasan apa-apa lagi, Allah Ta’ala sendiri yang telah membimbing anda.”

Lalu wanita itu mengatakan, “Demi Tuhan sejak saat ini saya sudah Ahmadi dan memang benar Khalifah Ahmadiyah dipilih Allah.”

Khilafat kita ini berasal dari Allah Ta’ala lalu saat itu juga wanita itu baiat. Paska baiat beliau aktif dalam kegiatan Jemaat dan membayar candah sesuai dengan taufiknya. Beliau juga bertabligh dengan penuh keberanian dan menjelaskan kepada orang orang bagaimana Allah Ta’ala sendiri membimbing beliau.

Begitu juga ada saudara kita dari Mesir menuturkan, “Setelah menyimak Khotbah Khalifah di MTA timbul kecenderungan dalam diri saya kepada agama, padahal saat itu saya tengah terjerumus dalam berbagai keburukan dan saya biasa berkelahi. Namun setelah itu saya bertekad untuk menjadi seorang Ahmadi, karena inilah Khilafat yang memberikan bimbingan yang benar kepada kita.”

Masih banyak lagi contoh lainnya, dimana Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada orang-orang dalam berbagai waktu, tempat dan negeri.

Di sebuah kota di Kamerun, bernama Marwa, Missionary Incharge Sahib menuturkan, semenjak dimulainya MTA Afrika, orang-orang menyaksikan MTA dengan antusias, khususnya program Khutbah. Setelah rutin menyaksikan khotbah timbul satu perubahan dalam diri mereka dan kecenderungan kepada Jemaat Ahmadiyah semakin meningkat dan keimanan para Ahmadi semakin kokoh. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjalinkan diri dengan Khilafat dan menampilkan contoh ketaatan kepada Khilafat. Bagaimanapun, jalinan kecintaan dengan Khilafat merupakan ciptaan Tuhan. Selama jalinan kcintaan dengan Khilafat Ahmadiyah ini terus terjalin, maka rasa takut yang mencekam pun akan berubah menjadi kedamaian dan Allah Ta’ala akan menciptakan sarana untuk terciptanya ketentraman di dalam diri manusia. Insya Allah.

Ketika melakukan kunjungan ke berbagai tempat, orang-orang sering menyampaikan kepada saya baik secara lisan atau melalui surat, bagaimana paska baiatnya mereka, Allah Ta’ala memberikan taufik untuk menciptakan jalinan dengan Khilafat dan bagaimana mereka dianugerahi kedamaian dari keadaan yang sangat mencekamsebelumnya. Walhasil, barangsiapa yang menjalin ikatan dengan Khilafat, melaksanakan perintah Allah dan RasulNya, menjaga shalatnya, mensucikan diri dan hartanya, menegakkan standar ketaatan yang tinggi, mereka akan menjadi pewaris segenap karunia Allah Ta’ala, insya Allah.

Dengan perantaraan Khilafat lah saat ini dunia dapat menyaksikan pemandangan umatan wahidah (persatuan umat), tanpa itu tidak mungkin. Untuk meraih itu semua dan untuk meraih karunia Allah Ta’ala secara abadi, setiap Ahmadi, setiap kita harus selalu berdoa semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan keberkatan itu kepada kita. Semoga dengan doa-doa dan karuniaNya kita dapat meng Islamkan dunia, menjadikan mereka satu umat dan menggiring mereka kedalam naungan panji Hazrat Rasulullah Saw. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufikNya.

Pada khutbah yang lalu saya telah menyampaikan perihal pembukaan masjid ini, dalam hal ini saya terlupa untuk menyampaikan bahwa ketika pondasi masjid ini diletakkan, kalau tidak salah saya tengah melakukan safar ke Canada dan memang demikian. Sementara tanggal yang ditetapkan untuk itu adalah paska kepulangan saya dari perjalanan. Namun pengurus telah meminta saya untuk mendoakan batu bata peletakan pertama.

Acara peletakkan batu pertama diadakan pada tanggal 10 oktober 2016 yang dilakukan oleh Almarhum Mukarram Usman Chini Sahib (seorang Tionghoa atau Chinese) dan disertai doa. Seiring dengan doa, dimulailah proyek pembangunan masjid ini. Jadi, pondasinya diletakkan oleh Usman Chini Sahib sehingga kita juga dapat mengatakan bahwa dengan karunia Allah Ta’ala bangsa China telah menjadi bagian di dalamnya. Maka dari itu, kita harus berdoa semoga Allah Ta’ala segera memberikan taufik kepada kita untuk menyebarkan Islam di China. Mukarram Usman Chini memiliki hasrat yang mendalam dan setiap saat selalu memikirkan bagaimana supaya tabligh Ahmadiyah dan Islam yang hakiki sampai di China. Selain kita harus mendoakan untuk ketinggian derajat almarhum, kita pun harus mendoakan untuk tersebarnya Ahmadiyah dan Islam hakiki di China dan di berbagai negara di dunia. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik-Nya. [aamiin]

 

 

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Penerjemah     : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK); Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Musnad Abi Daud at-Tayalisi, jilid II, h. 736, no. 2432, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2004.

[2] Tarikhul Umam wal Muluuk, karya Ath-Thabari, juz 4, h. 82, tsumma dakhalat sanah tsalaats ‘asyar (tahun ke-13 Hijriyah, tentang surat-surat Khalifah Abu Bakr), dan juga pada bab sanah sab’ah asyrah, Darul Fikr, Beirut, Lubnan, 2002. عن علي بن محمد بإسناده عن النفر الذين ذكرت روايتهم عنهم في أول ذكري أمر أبي بكر أنهم قالوا قدم بوفاة أبي بكر إلى الشأم شداد بن أوس بن ثابت الأنصاري ومحمية بن جزء ويرفأ فكتموا الخبر الناس حتى ظفر المسلمون وكانوا بالياقوصة يقاتلون عدوهم من الروم وذلك في رجب فأخبروا أبا عبيدة بوفاة أبي بكر وولايته حرب الشأم وضم عمر إليه الأمراء وعزل خالد بن الوليد

Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad asy-Syamiyyiin (Penduduk Syam), Hadits Yazid ibn al-A’wam ra, Alimul Kutub, Beirut, 1998, hadits 16869. عن عبد الملك بن عمير قال استعمل عمر بن الخطاب أبا عبيدة بن الجراح على الشام وعزل خالد بن الوليد قال فقال خالد بن الوليد بعث عليكم أمين هذه الأمة سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول أمين هذه الأمة أبو عبيدة بن الجراح قال أبو عبيدة سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول خالد سيف من سيوف الله  Khalid bin Walid menunjukan ketaatan yang baik sekali terhadap Khilafat dengan mengatakan, “Wahai kalian para pasukan! Orang yang terpercaya dari umat ini telah ditugasi oleh Khalifah sebagai Amir (pemimpin) kalian. Rasulullah saw telah menggelari Abu Ubaidah sebagai ‘Amiin haadzihil ummah’ (yang dipercaya oleh umat ini).” Abu Ubaidah berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Khalid salah satu pedang Tuhan dan lelaki luar biasa dari bangsa ini.”

[3] Shahih Muslim, Kitab Imarah atau pemerintahan (كتاب الإمارة), bab keharusan tetap dalam Jamaah saat muncul fitnah dan peringatan untuk tidak mengingkarinya (باب الأَمْرِ بِلُزُومِ الْجَمَاعَةِ عِنْدَ ظُهُورِ الْفِتَنِ وَتَحْذِيرِلدُّعَاةِ إِلَى الْكُفْرِ). Konteks periwayatan Hadits ini ialah ketika setelah peristiwa Karbala (680), Abdullah bin Muthi’ dan kawan-kawan di Madinah memberontak kepada Yazid, penguasa selepas Muawiyah. Abdullah bin Umar, yang telah membaiat Yazid – demi persatuan umat Muslim – mendatanginya dengan nasehat agar tidak membatalkan baiat kepada Yazid dengan dasar Hadits ini.

Para Ulama Syi’ah mempunyai Hadits serupa, من مات ولم يعرف امام زمانه مات ميتة جاهلية – “Siapa yang mati dalam kondisi tidak mengenal Imam pada zamannya maka matinya jahiliyah.” Beberapa tokoh Ahlussunnah seperti Mulla Ali al-Qari al-Hanafi dengan menukil dari Shahih Muslim juga menyebut teks ini. Beberapa kitab Ahlus Sunnah (Musnad Ahmad, Musnad orang-orang Syam [مسند الشاميين], Hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan [حديث معاوية بن أبي سفيان رضي الله تعالى عنه]) juga memuat Hadits serupa, مَنْ مَاتَ بِغَيْرِ إِمَامٍ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً   “Siapa mati tanpa Imam maka matinya jahiliyah.” Perbedaan terletak pada pengertian siapa Imam yang dimaksud yang bila tidak berbaiat kepadanya, akibatnya mati jahiliyah. Ulama Ahlussunnah kebanyakan berpendapat Imam ialah Khalifah dan penguasa politik Muslim mana pun pada zamannya. Ulama Syi’ah berpendapat Imam yang dimaksud ialah pemimpin dengan syarat-syarat kualitas tertentu. Sementara itu, Ibn Hibban dalam Shahih Ibn Hibban (صحيح ابن حبان) Kitab as-Sayyar (كِتَابُ السَّيَرِ), bab (بَابُ طَاعَةِ الأَئِمَّةِ), bab (ذِكْرُ الزَّجْرِ عَنْ تَرْكِ اعْتِقَادِ الْمَرْءِ الإِمَامَ الَّذِي يُطِيعُ اللَّهَ جَلَّ وَعَلاَ فِي أَسْبَابِهِ) menulis dua pendapat: (1), مَاتَ مَيْتَةً الْجَاهِلِيَّةِ مَعْنَاهُ‏:‏ مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْتَقِدْ أَنَّ لَهُ إِمَامًا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى طَاعَةِ اللهِ حَتَّى يَكُونَ قِوَامُ الإِسْلاَمِ بِهِ عِنْدَ الْحَوَادِثِ، وَالنَّوَازِلِ، مُقْتَنِعًا فِي الاِنْقِيَادِ عَلَى مَنْ لَيْسَ نَعَتُهُ مَا وَصَفْنَا مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً‏.‏ “Matinya orang yang tidak berkeyakinan ada Imam yang menyeru umat manusia untuk taat kepada Allah…” ;(2), ظَاهِرُ الْخَبَرِ أَنَّ مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ لَهُ إِِمَامٌ ، يُرِيدُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاتَ مَيْتَةً الْجَاهِلِيَّةِ ، لأَنَّ إِِمَامَ أَهْلِ الأَرْضِ فِي الدُّنْيَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ إِِمَامَتَهُ أَوِ اعْتَقَدَ إِِمَامًا غَيْرَهُ مُؤْثِرًا قَوْلَهُ عَلَى قَوْلِهِ ثُمَّ مَاتَ مَاتَ مَيْتَةً جَاهِلِيَّةً “Yang dimaksud Imam di sini ialah Nabi Muhammad (saw).”

[4] Khotbah Idul Fitri, 15 Oktober 1909, Khuthubaat-e-Nuur, h. 420-421.

[5] Barahin Ahmadiyah V, Ruhani Khazain jilid 21, h. 420.

[6] Masih Mau’ud dan Imam Mahdi ialah gelar Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihis salaam (1835-1908) berdasarkan ilham yang beliau (as) terima dari Allah Ta’ala. Khalifah Awwal yang dimaksud ialah Hazrat Maulana (Maulwi) Hakim Nuruddin (ra), Sahabat dekat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as). Beliau lahir pada 1941, menjabat Khalifah dari 1908 hingga wafat pada 1914. Khalifah kedua dan Mushlih Mau’ud ialah Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra), putra Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as) yang menjabat dari 1914 (usia 25 tahun) hingga wafat pada 1965.