Khotbah ‘Īdul Aḍḥā’

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 02 September 2017 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾

Terjemahan ayat ini adalah: “Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi kamu petunjuk. Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Surah Al-Hajj, 22:38)

Ayat ini termasuk ayat-ayat yang membahas tentang persembahan hewan-hewan kurban serta ditempatkan bersama-sama dengan ayat-ayat yang di dalamnya disebutkan bahasan ibadah haji. Umat Islam telah diperintahkan – sama saja – apakah mereka yang pergi melaksanakan ibadah haji atau pun tidak, pada hari-hari ini pastinya mereka yang ada kemampuan untuk melakukan kurban akan melakukan pemotongan hewan-hewan kurban. Karena alasan itulah puluhan juta orang-orang Muslim di dunia akan menyembelih binatang-binatang kurban pada hari raya Idul Adha yang dirayakan untuk memperingati Hadhrat Ibrahim (as) dan haji.

Namun manusia, semata-mata hanya memotong binatang-binatang ternak sebagai kurban tidak dihitung diterima di sisi Allah, malahan di dalam ayat ini Allah Ta’ala telah menjelaskan dan menarik perhatian orang-orang mukmin bahwa pangkal pengurbanan itu adalah kesucian kalbu dan ketakwaan mereka, hal itulah yang sudah Allah Ta’ala tetapkan.

Janganlah kiranya seorang mukmin itu merasa senang semata-mata hanya karena ia telah menyembelih seekor binatang kurban yang gemuk lagi mahal di hari raya itu. Jika pada kalian tidak terdapat ketakwaan serta pengurbanan-pengurbanan itu tidak mengarahkan kalian menuju penyucian kalbu dan diri kalian, maka bagaimana pun kalian telah menyembelih binatang-binatang, maka itu tidak ada nilainya pada pandangan Allah.

Hikmah topik ini telah Hadhrat Masih Mau’ud (as) jelaskan dan juga rinciannya ada di berbagai tempat, oleh karena itu saya akan mengemukakan beberapa kutipan dari sabda beliau (as) seputar topik ini. Beliau menjelaskan bahwa Islam itu merupakan gambaran tentang menempatkan ruh (semangat) yang demikian itu di gerbang-gerbang Allah Ta’ala dengan segenap kerelaan dan manusia siap dan bersedia mengajukan diri untuk berkurban, sesungguhnya maqām ini akan diraih setelah memperoleh makrifat Allah yang sempurna.

Bagaimanakah makrifat yang sempurna itu akan terwujud, mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Sesungguhnya pangkal (akar atau sumber) rasa takut, kecintaan dan qadr daani (pemahaman yang sempurna) itu adalah makrifat yang sempurna (ma’rifat-e-kaamil). Orang yang diberikan rasa takut yang sempurna dan kecintaan yang penuh, maka ia telah diberikan najat (keselamatan) dari setiap dosa yang timbul dari kelancangan. (kalaulah demikian, maka kecintaan pada Allah Ta’ala dan rasa takut kepada-Nya serta pemahaman akan maqām-Nya dan juga Zat-Nya adalah hal-hal yang akan menciptakan makrifat dan ketika makrifat itu timbul, manusia bisa terhindar dari setiap dosa); Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Pada saat itulah manusia akan terlepas dari dosa-dosa, karena ia mendapatkan pemahaman dan pengetahuan yang sahih akan Allah Ta’ala.”

Demi mewujudkan terlepasnya dari dosa-dosa ini, kita tidak membutuhkan darah apa pun, tidak pula salib mana pun, kita juga tidak perlu berbagai macam kaffārah atau penebusan dosa, justru kita hanya perlu satu pengurbanan saja, ketahuilah bahwa itu adalah pengurbanan diri kita; pengurbanan itu yang mengenainya dirasa perlu oleh fitrah kita. Pengurbanan ini diistilahkan dengan kata lain ‘Islam’. (maksudnya, manusia tidak akan dihitung sebagai seorang Muslim yang benar melainkan apabila ia mengurbankan dirinya) dan Islam itu adalah menyerahkan leher untuk disembelih; artinya, kalian menempatkan ruh-ruh kalian pada gerbang singgasana Allah Ta’ala secara rela dan patuh.

Sesungguhnya nama yang indah ini adalah ruhnya seluruh Syariat dan inti sarinya semua perintah-perintah. Sesungguhnya penyerahan lehernya seseorang untuk dipotong dengan ridha dan kerelaan yang sejati menuntut kecintaan yang penuh dan keasyikan yang sempurna.”

(maksudnya, seseorang tidak akan mampu menyerahkan lehernya secara sukarela dan senang hati serta dia tidak akan kuasa melakukan pengorbanan tersebut melainkan apabila hubb (rasa kasih) dan ‘isyq (kecintaan yang mendalam) kedua-duanya dalam keadaan sempurna), “maka kecintaan yang sempurna itu akan menuntut makrifat. Oleh karena itulah kata ‘Islām’ mengisyaratkan bahwa pengurbanan hakiki itu perlu makrifat yang sempurna dan kecintaan yang sempurna, tidak mengisyaratkan pada sesuatu yang lain. Untuk hal itu Allah Ta’ala telah mengisyaratkan dalam firman-Nya,

لَنۡیَّنَالَاللّٰہَلُحُوۡمُہَاوَلَادِمَآؤُہَاوَلٰکِنۡیَّنَالُہُالتَّقۡوٰیمِنۡکُمۡؕکَذٰلِکَسَخَّرَہَالَکُمۡلِتُکَبِّرُوااللّٰہَعَلٰیمَاہَدٰىکُمۡؕوَبَشِّرِالۡمُحۡسِنِیۡنَ

“Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”

Apakah pengurbanan tersebut? Pengurbanan itu adalah bahwa kalian merasa takut kepada-Ku dan karena Akulah kalian merasa takut. Penting memahami poin dan falsafah ini, oleh karena Allah Ta’ala bukanlah sesuatu yang menakutkan karena itu tidak mesti menakutkan-Nya, sekali-kali bukan! Bahkan rasa takut kepada Allah Ta’ala itu menyerupai rasa takutnya seseorang atas teguran dari kerabat yang paling dicintainya, seperti seorang anak yang merasa takut ibunya akan memarahi dia karena perbuatannya; pada dasarnya ia bukan takut keberadaan ibunya yang menakutkan, sekali-kali bukan!

Akan tetapi sesungguhnya ia merasa takut karena tidak ada seorang pun yang mencintai dia seperti ibunya, justru bagi seorang anak ada ikatan yang istimewa dengan ibunya. Karena itu, ia tidak akan kuasa menahan kemarahan ibunya dan ia tahu betul bagaimana bisa ia menghadapi setiap yang akan dikatakan ibunya kepadanya. Oleh karena itu, anak-anak yang mencintai kedua orang tuanya tidak akan rela sampai-sampai manakala mereka dewasa ibu bapaknya akan marah yang diakibatkan oleh perbuatan mereka, maka mereka akan mengerahkan segenap kesungguhan dan kekuatannya untuk membuat ridha kedua orang tuanya.

Sebagaimana kita akan lihat, cinta yang sifatnya lahiriah lagi temporer (sementara), bagaimana orang-orang duniawi menyusahkan diri dengan bergaya dan bermegahan demi orang-orang yang dicintainya, maka kecintaan ini sifatnya temporer yang akan berakhir pada suatu waktu tertentu, dan biasanya suatu ketika kecintaan ini akan sirna. Adapun kecintaan pada Allah Ta’ala, maka itu akan menjadikan duniawi dan ukhrawinya kedua-duanya lebih baik. Maka rasa takut inilah yang telah Allah Ta’ala perintahkan pada kita bahwa kita menciptakan rasa takut tersebut di dalam kalbu kita untuk-Nya, sesungguhnya itu disebabkan oleh pemahaman akan maqām (kedudukan) Allah Ta’ala. Maka sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) :

“Bukanlah berada pada kekuatan insan bahwasanya ia merasa takut pada Allah Ta’ala dengan rasa ketakutan yang sejati selama ia belum memperoleh makrifat Allah Ta’ala.”

Insan itu melakukan banyak dosa karena ia tidak mendapatkan makrifat Allah Ta’ala secara hakiki, perumpamaan hal itu adalah dia yang mengaku-ngaku dengan lidahnya bahwa ia mencintai Allah Ta’ala tapi pada umumnya kecintaannya untuk benda-benda duniawi melebihi kecintaannnya terhadap Allah Ta’ala, karena itulah dia melupakan perintah-perintah Allah Ta’ala demi keuntungan-keuntungan duniawi. Kemudian sesungguhnya Allah Ta’ala disebut “Pemilik Segala Kekuatan” dan dalam waktu yang sama manusia berpaling dari perintah-perintah-Nya di banyak kesempatan demi membuat senang pemimpin-pemimpin duniawi, dan kebanyakan kebiasaan-kebiasaannya itu mengakar, maka ia akan melakukan pelanggaran-pelanggaran tanpa adanya rasa peduli sama sekali, ketika tidak terlintas sama sekali dalam benaknya bahwa di sana Tuhan tengah melihatnya dan mengawasinya.

Mereka yang memiliki makrifat yang sempurna akan meraih standar yang tinggi dalam rasa takut dan cinta kepada Allah dan mereka yang memperoleh standar ini tidak akan berani melakukan dosa-dosa, justru mereka akan menyucikan dirinya dari dosa dan mereka bertafakur siang malam, bagaimana caranya membuat ridha Kekasihnya, setiap saat mereka akan mengupayakan untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dan mereka tidak mengutamakan keuntungan-keuntungan duniawi di atas hukum-hukum Allah Ta’ala serta kalau pun terpaksa harus mengurbankan jiwa dan keinginan-keinginannya yang untuk maksud itu, mereka akan mengurbankannya dan inilah apa yang dinamakan “Islām”, dan sewaktu baiat mereka mengatakan “Saya akan mendahulukan agama daripada dunia” , dan tidak mungkin akan meraih standar mendahulukan agama daripada dunia tanpa mendapatkan makrifat (mengenal) maqām dan Zat Allah Ta’ala, dan hendaknya hal itu menjadi jelas sebagaimana diterangkan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa mengurbankan jiwa dan janji mendahulukan agama daripada dunia seyogianya tidak karena alasan terpaksa dan tidak ada keinginan seperti itu, justru seharusnya hal itu ada disertai dengan kelurusan hati serta timbul daripada kerelaan hati.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan, “Hal itu akan ada manakala seseorang merasa takut terhadap Rabbnya Yang Mahaluhur”, dan beliau (as) telah menerangkan topik ini di tempat-tempat yang lain pada buku-bukunya, sebagaimana pada suatu tempat beliau (as) bersabda,

“Allah Ta’ala telah menempatkan di dalam Syariat Islam banyak contoh-contoh dari hukum-hukum penting, manusia telah diperintah untuk mengurbankan jiwanya pada jalan Allah dengan segenap kekuatan dan dengan seluruh eksistensinya, oleh karena itu kurban-kurban yang sifatnya lahiriah menjadi model untuk hal itu, akan tetapi maksud hakiki dari pengurbanan ini adalah sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala, لَنۡیَّنَالَاللّٰہَلُحُوۡمُہَاوَلَادِمَآؤُہَاوَلٰکِنۡیَّنَالُہُالتَّقۡوٰیمِنۡکُمۡؕ — “Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.…” –

(Beliau (as) bersabda,

Sesungguhnya penyembelihan kambing-kambing dan domba-domba merupakan contoh supaya kita sendiri memohon ketika berkurban dengan sesuatu barang yang kecil, apakah kita bersedia juga untuk mengurbankan diri kita pada jalan Allah Ta’ala?, maka sesungguhnya contoh-contoh lahiriah adalah supaya insan melakukan muhāsabah terhadap dirinya) maksudnya daging-daging dan darah-darah dari kurban-kurban itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah Ta’ala, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian, maka bertakwalah kepada Allah Ta’ala seakan-akan kalian hampir mati di jalan-Nya. Sebagaimana kalian memotong kurban-kurban kalian dengan tangan kalian sendiri, demikian pula sembelihlah jiwa kalian di jalan Allah. Bilamana ketakwaan tersebut lebih rendah derajat ini, itu merupakan sesuatu kekurangan.”1

Hikmah Ibadah Kurban

Kemudian beliau (as) lebih banyak lagi menerangkan mengenai topik ini yaitu menerangkan hikmah di balik pengurbanan, shalat, puasa serta ibadah-ibadah lahir dan sebab dari ditetapkannya ibadah-ibadah secara lahiriah ini, beliau (as) bersabda :

“Sekiranya keikhlasan dan kelurusan hati tidak menyertai shalat dan puasa lahir, maka tidak ada keistimewaan apa pun di dalamnya. Para rahib dan orang-orang yang mengaku-ngaku ahli ibadah juga mereka melaksanakan mujahadah-mujahadah besar. Dapat diperhatikan di banyak kesempatan bahwa sebagian mereka menanggung berbagai kesengsaraan dan kesulitan-kesulitan yang sangat sehingga lengan-lengan mereka menjadi kurus”,

(beliau (as) bersabda : maksudnya adalah orang-orang ahli ibadah itu tengah menempatkan tangan-tangan mereka dalam satu posisi hingga berhari-hari dan berbulan-bulan sehingga menjadi kurus di tempatnya), “tetapi penderitaan-penderitaan ini tidak memberikan nūr bagi mereka dan mereka juga tidak akan meraih ketenteraman atau ketenangan bahkan keadaan batiniah mereka menjadi lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Mereka melakukan mujahadat-mujahadat yang sifatnya lahiriah, tidak ada kaitannya dengan batin dan tidak memberikan pengaruh pada keruhanian mereka, (mujahadat ini dan penderitaan yang dijalani mereka itu tidak akan berefek pada keruhanian mereka) karena itu Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an, لَنۡیَّنَالَاللّٰہَلُحُوۡمُہَاوَلَادِمَآؤُہَاوَلٰکِنۡیَّنَالُہُالتَّقۡوٰیمِنۡکُمۡؕ — “Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.……” –

Hakikatnya, bahwasanya Allah Ta’ala tidak menyukai akan kulit, justru Dia menghendaki maksud dan tujuan [dari pengurbanan]. (tidak perlu kulit dan keindahan yang bersifat lahiriah semata, justru yang pokok yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala yaitu maksudnya) dalam kedudukan ini akan diajukan suatu pertanyaan mengenai – apabila daging dan darah tidak akan sampai kepada-Nya, maka apa perlunya pengurbanan-pengurbanan itu? Begitu pula, apabila puasa dan shalat dengan ruh, maka apa perlunya gerakan-gerakan lahiriah? (Beliau (as) bersabda :

“Apa perlunya shalat-shalat dan puasa, tidak cukupkah dengan lahirnya perasaan di dalam kalbu bahwa kita tengah bersujud kepada Allah?) dan sebagai jawabannya, itu memang benar, mereka yang bebas dari melakukan gerakan jasmani, juga tidak akan mendapatkan sambutan dari ruh dan kekhusyukan serta ubudiyyah (penghambaan Ilahi atau ibadah) yang menjadi tujuan hakikinya tidak akan tercipta di dalamnya).

(Beliau (as) bersabda: maksudnya, bilamana kalian tidak mengikutsertakan tubuh dalam kesulitan dan tidak membuat tubuh berjalan bersamaan dengan ruh serta ruh tidak berjalan dengan tubuh, maka sekali-kali kerendahan hati dan ubudiyyah tidak akan tercipta pada kalian; tidak akan terlahir kesadaran atau perasaan bahwa harus kembali kepada Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya setiap kali ada hajat).

Beliau (as) bersabda,

“Tidaklah yang menjadi tujuan hakiki itu terciptanya ubudiah, maka yang menjadi tujuan hakiki adalah terciptanya kekhusyukan dan ubudiah; serta kita menyadari setiap saat kita harus merendahkan diri di hadapan Allah Ta’ala untuk segala keperluan dan kita beribadah kepada-Nya saja, apabila tidak tercipta kedua hal ini, maka tidak ada faedahnya) dan mereka yang mempergunakan tubuh saja dan tidak menyertakan ruh, mereka juga adalah orang-orang yang melakukan kekeliruan yang besar. Para rahib dan orang-orang yang mengaku-ngaku ahli ibadah, mereka masuk dalam kategori serupa. Allah Ta’ala telah menegakkan hubungan antara ruh dan tubuh. Tubuh memberikan pengaruh pada ruh.

Ringkasnya, sesungguhnya hubungan ruhaniah dan jasmaniah, keduanya berjalan bahu-membahu secara berdampingan. Ketika ketawadukan tercipta di dalam ruh, ketawadukan itu akan terlahir pula di dalam tubuh. Karena itulah manakala ketawadukan dan kerendahan hati benar-benar tercipta di dalam ruh, pada hakikatnya pengaruh-pengaruhnya secara otomatis akan nampak pula pada tubuh, begitu pun ketika terjadi pemberian pengaruh yang khas di dalam tubuh, ruh juga akan mendapatkan pengaruh dengan itu.”2

Semestinya kedua-duanya seiring sejalan. Dan seorang mukmin diperintah untuk mendirikan ibadah-ibadah dan pengurbanan-pengurbanan lahiriah untuk meningkatkan ketakwaannya, untuk membuat ruhnya menjadi lebih baik dan untuk menyucikan kalbu dan jiwanya; bahwa dia menyadari esensi dari takwa yang merupakan tujuan terakhir serta akan menjadikan pengurbanan-pengurbanan dan ibadah-ibadah kita diterima di sisi Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menerangkan hal ini dengan jelas sekali di banyak tempat di antara tulisan-tulisan dan sabda-sabdanya. Beliau (as) bersabda menyebutkan mengenai syarat-syarat takwa,

“Sesungguhnya di antara syarat-syarat atas ahli takwa itu adalah bahwasanya mereka akan menjalani kehidupannya dengan ketawadukan dan kerendahan. Takwa ini merupakan suatu cabang yang mengharuskan kita memerangi kemarahan yang tidak pada tempatnya. Sesungguhnya menjauhi marah yang tidak pada tempatnya adalah tingkatan paling akhir dan tahapan yang paling sulit bagi para ārif billāh agung dan para siddīq. (maksudnya, menahan emosi dan menghindari kemarahan adalah tahapan besar dan sukar, bahkan itu merupakan tingkatan terbesar menurut para ārif billāh dan para siddīq); “sesungguhnya ‘ujb (sikap membanggakan diri) dan ghurūr (kecongkakan) dua-duanya terlahir daripada ghadab (kemarahan), begitu juga sesungguhnya kemarahan itu terkadang merupakan buah sikap arogan dan kesombongan.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Karena apakah seseorang itu marah, dalam beberapa keadaan, itu karena dihinggapi ketakaburan dan kesombongan dan merendahkan orang lainnya serta menganggap dirinya besar, maka ia akan marah atas kesalahan kecil orang lain,”

Karena itulah beliau (as) bersabda,

“Sesungguhnya kemarahan terlahir dari ketakaburan dan kesombongan) manakala kemarahan itu semata-mata hanya muncul ketika seseorang menganggap dirinya lebih daripada yang lainnya.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Maka mereka yang mengobarkan kemarahan, memulai permusuhan dan peperangan, keterangan ini mengajak mereka untuk sejenak melakukan perenungan.”

Sama saja, apakah kemarahan mereka itu dalam urusan-urusan keluarga antara suami istri atau pun dalam urusan-urusan sosial kemasyarakatan dengan orang lain, maka di mana pun ini terjadi mereka harus mengamalkan nasihat ini, terlebih lagi sehubungan dengan Idul Adha ini, maka kita akan berusaha mengurbankan kemarahan kita juga dan menjadikan diri kita menjadi lebih baik dengan berkurban pengurbanan kemarahan kita.

“Sesungguhnya saya tidak suka sebagian anggota Jemaat sendiri menganggap dirinya lebih baik dibandingkan yang lainnya; atau mereka saling berbangga atau berlaku takabur dan memandang rendah antara satu dan yang lainnya. Allah sangat mengetahui siapa yang paling agung dan paling hina. Sesungguhnya kecenderungan ini merupakan semacam pelecehan yang di dalamnya terdapat pandangan menganggap rendah orang lain, dan saya merasa khawatir bahwasanya hal menganggap hina orang lain ini akan berkembang seperti tumbuh kembangnya biji dan akan menjadikan pemiliknya binasa.

Sebagian orang menjumpai pembesar-pembesar kaumnya dengan memuliakan dan memberikan penghormatan berlebihan, tapi sebenarnya “orang yang besar” itu adalah dia yang mau mendengarkan orang yang kekurangan dengan rendah hati serta tawaduk, menolongnya dan menjunjung kepentingannya untuk berbicara dengannya dan dia tidak akan membicarakan hal-hal yang menyinggung dan menyakitinya.

Allah Ta’ala berfirman, وَلاتَنَابَزُوابِالألْقَابِبِئْسَالاسْمُالْفُسُوقُبَعْدَالإيمَانِوَمَنْلَمْيَتُبْفَأُولَئِكَهُمُالظَّالِمُونَ‘…..wa laa tanaabazuu bil alqaab bi-sal ismul fusuuqu ba’dal iimaan wa mal lam yatub fa-ulaa-ika humuzh zhaalimuun.’ Artinya, ‘Janganlah menyebut satu sama lain dengan sebutan buruk. Setelah beriman lantas terjauh dari agama adalah perkara besar. Orang yang tidak bertaubat dan terus menyebut-nyebut sebutan buruk, maka merekalah orang yang zalim diantara orang-orang.’ (Surah Al-Hujuraat, 49 : 12)

Janganlah sebagian kalian memanggil sebagian yang lain dengan hal-hal yang akan menyinggungnya (menyulut perasaannya), sebenarnya hal ini adalah adat kebiasaan orang yang selalu bergelut dengan kefasikan dan kebohongan. Sesungguhnya dia yang menyinggung orang yang lain, sekali-kali tidak akan mati sehingga ia mendapatkan yang setimpal dengan itu. Oleh karena itu janganlah kalian merendahkan saudara-saudara kalian. Selama kalian semua minum dari sumber air yang sama, maka apa kalian tahu, yang manakah di antara kalian yang paling banyak bagiannya dari minuman ini?!! Seorang pun tidak akan menjadi mulia dan terhormat dengan ukuran undang-undang duniawi, sesungguhnya ‘orang besar’ di antara kalian itu pada pandangan Allah Ta’ala adalah orang yang bertakwa, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah mereka yang paling bertakwa di antara kalian – [QS Al-Hujurat,49:14].”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerangkan bahwa Makrifat yang sesungguhnya hanya akan ada dengan sifat tawadhu’ (rendah hati) dan kerendahan, maka manusia harusnya bersimpuh di hadapan Allah dengan puncak ketawadukan dan dengan cara itulah ia memohon pertolongan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Sesungguhnya sebaik-baik jalan untuk menjadi suci berada pada sisiku dan sekali-kali tidak akan didapatkan jalan yang lebih baik dan lebih ideal daripada itu, yaitu seseorang tidak berlaku takabur dan tidak melakukan kesombongan dalam bentuk apa pun, tidak dari sisi keilmuan, keturunan dan tidak pula dari segi harta kekayaan. Ketika Allah Ta’ala mengaruniai seseorang dengan mata, ia akan melihat setiap cahaya yang bisa menyelamatkan dari kegelapan-kegelapan dan sesungguhnya nur yang turun itu hanya dari langit.

Mata lahiriah yang dengan itu kita melihat hanya akan berfungsi ketika adanya sinar saja, dan cahaya ini juga akan datang dari langit. Seseorang setiap saat akan memerlukan nur samawi, sama saja apakah berupa nur ruhani atau pun cahaya lahiriah.”

(maka Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerangkan bahwa mata tidak akan bisa melihat selama sinar matahari yang datang dari langit tidak sampai kepadanya, demikian pula cahaya batin yang menghilangkan segala jenis kegelapan dan yang merupakan cahaya kalbu serta akan menghilangkan kegelapan-kegelapan kalbu dan memenuhinya dengan nur ketakwaan dan kesucian alih-alih kegelapan-kegelapan, dia juga akan turun dari langit. Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,)

“Sesungguhnya ketakwaan seseorang, iman, ibadah dan kesuciannya semuanya itu datang dari langit dan ini bermuara pada fadl (karunia) Allah Ta’ala, maka apabila Dia menghendaki, Dia membuatnya kekal dan jika Dia ingin, Dia membuatnya hilang. Maka makrifat yang sejati itu yaitu seseorang menganggap dirinya dirampas dan tidak ada sesuatu yang mutlak (maksudnya seharusnya dia tidak menganggap dirinya sesuatu) dan bahwa dia akan bersimpuh di Hadirat Allah Ta’ala dan mohon karunia-Nya kepada-Nya dengan disertai ketawadukkan dan kerendahan, memohon kepada-Nya nur makrifat yang akan membakar hawa-hawa nafsunya.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Maka untuk membakar hawa-hawa nafsu, di dalam hal ini perlu memohon kepada Allah nur makrifat yang tidak dapat diperoleh melainkan dengan perantaraan fadl (karunia) Allah Ta’ala). Sesungguhnya nur makrifat itu akan menciptakan pada batin insan suatu nur, kekuatan dan semangat untuk kebaikan-kebaikan.”

Kemudian beliau (as) bersabda,

“Maka jika di sana terdapat nur makrifat, maka sesungguhnya itu akan membakar hawa-hawa nafsu seperti halnya dia menciptakan nur, kekuatan dan semangat untuk melakukan kebaikan-kebaikan), maka jika seseorang mendapatkan bagian dari fadl (karunia) Allah Ta’ala, akan ada untuknya semacam keluasan dan kelapangan dada.”

(maksudnya apabila atas kalian turun fadl Allah serta kalbu kalian menjadi lapang dan dipenuhi nur, maka apa yang seharusnya kalian perbuat?); “maka janganlah kalian berlaku sombong atas hal itu dan jangan pula bersikap angkuh, justru tingkatkanlah ketawadukkan dan kerendahan hati!” (maksudnya bilamana seseorang mendapatkan tambahan nur di dalam kalbunya, maka seharusnya ia semakin tawaduk dan rendah hati, karena sesungguhnya Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:) “Karena seseorang bilamana menganggap dirinya seorang hina yang tidak akan menyamai sesuatu barang kecil pun, keadaaan-keadaan khas dan nur-nur yang turun kepadanya dari sisi Allah bertambah lebih banyak lagi dan itu akan menjadikan nur dan kekuatannya meningkat lagi. Apabila seseorang percaya dengan keyakinan ini, maka di sana ada suatu harapan bahwa akhlaknya akan menjadi baik dengan perantaraan karunia Allah Ta’ala. Sesungguhnya seseorang yang menganggap dirinya ‘sesuatu’ juga adalah semacam ketakaburan dan ia tengah dihinggapi ketakaburan, maka ia akan mengutuk serta akan merendahkan orang lain.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Sering kali dan berulang kali aku mengatakan kalam ini, karena Allah Ta’ala telah menjadikan tujuan dibangunnya Jemaat ini adalah mengembalikan makrifat hakiki yang sudah hilang dari dunia kembali ke dunia serta menegakkan ketakwaan dan kesucian hakiki yang sudah hilang di masa sekarang ini untuk yang kedua kali. Para mullah (ulama) memandang dirinya mulia dengan ilmunya dan mereka menyombongkan diri, adapun orang-orang yang mengaku-ngaku ahli ibadah, maka sesungguhnya mereka juga mengambil corak yang betul-betul lain, mereka tidak terbiasa memperhatikan perbaikan diri.

Malahan sebenarnya tujuan-tujuan mereka sebatas pada tubuh-tubuh lahiriah semata, karena itu sesungguhnya mujahadat-mujahadat mereka itu telah mengambil corak yang benar-benar lain, dikarenakan di dalamnya terdapat penyebutan atau zikir “arrh3 serta zikir-zikir yang lainnya yang tidak ada sunahnya di dalam Sīrah Nabi Saw. Saat-saat ini orang-orang menciptakan berbagai macam zikir serta mereka mengaggap dirinya ulama dan sufi, namun mereka mengadakan bidah-bidah yang tidak ada dalam Sirah Nabi Saw.

Saya memadang bahwa mereka tidak memperhatikan kesucian diri sama sekali, bahkan kebanyakan perhatian mereka dicurahkan pada jasmaniah semata yang di dalamnya tidak terdapat sedikit pun keruhanian. Maka ini semacam mujahadat4 yang tidak akan bisa menyucikan kalbu atau memberikan nur makrifat hakiki pada kalbu, yang mana nur makrifat itu betul-betul berlalu di masa sekarang-sekarang ini.

Sungguh mengikuti jejak langkah Nabi Saw sudah ditinggalkan bahkan telah dijadikan berada dalam lipatan sesuatu yang dilupakan. Sekarang Allah Ta’ala menghendaki bahwa Dia akan mengulangi masa Nabi Saw sekali lagi dan ketakwaan dan kesucian yang menjadi landasannya. Allah Ta’ala menginginkan bahwa Dia akan menyiarkan keduanya [yakni ketakwaan dan kesucian] itu dengan perantaraan Jemaat ini.”

Saya katakan, dalam hal ini ada tanggung jawab yang besar atas anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah, bahwa mereka harus menciptakan di dalam dirinya ketakwaan yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyimpan harapan dan proyeksi dari kita. Oleh sebab itu merupakan kewajiban kalian mengarahkan perhatian pada perbaikan hakiki dengan cara yang telah diterangkan oleh beliau (as) kepada kita.

Kemudian beliau (as) bersabda sembari menasihatkan kepada Jemaat supaya menghiasi diri dengan ketakwaan,

“Wahai kalian yang mempersiapkan diri dari antara Jemaatku, dengarlah dan perhatikanlah oleh kalian semua! Sesungguhnya kalian sekali-kali tidak akan dianggap dari antara Jemaat-Ku di langit terkecuali apabila kalian menempuh jalan-jalan ketakwaan secara benar dan lurus. Oleh karena itu, laksanakanlah shalat lima waktu kalian dengan disertai rasa takut dan merendahkan diri seakan-akan kalian tengah melihat Allah Ta’ala; sempurnakanlah puasa kalian secara benar demi meraih keridhaan Allah Ta’ala; serta setiap orang yang diwajibkan zakat atasnya tunaikanlah itu; setiap orang yang diwajibkan haji kepadanya, maka hendaklah berhaji selama di sana tidak ada hal yang mencegahnya.

Perbuatlah kebajikan sebaik-baiknya; tinggalkanlah keburukan dengan membencinya. Beramallah kalian dengan disertai keyakinan bahwa setiap amalan yang kosong dari ketakwaan sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah Ta’ala. Sesungguhnya ketakwaan itu adalah akar segala kebaikan dan suatu amalan yang tidak lepas dari akar ini sekali-kali tidak akan menjadi sia-sia.”

Terdapat di dalam sebuah Hadis, إنما الأعمال بالنيات ‘innamal a’maalu bin niyyaat.’ – Sesungguhnya segala amalan itu tergantung daripada niat-niatnya…”, manakala seseorang beramal dengan niat yang baik pasti Allah Ta’ala akan memberikan pahalanya, adapun jika niatnya tidak baik, maka dia akan diberikan hukuman.

Kemudian beliau (as) bersabda,

“Kalian itu pasti akan diuji dengan bermacam-macam kesedihan dan kesulitan-kesulitan seperti halnya orang-orang mukmin sebelum kalian pun telah mendapatkan ujian. Perhatikanlah dengan sebaik-baiknya jangan sampai kalian tergelincir. Sesungguhnya bumi tak kuasa menimpakan kemudaratan pada kalian, jika kalian memiliki ikatan yang kuat dengan langit. Bilamana kalian menghadapi suatu kemudaratan, maka itu hanyalah karena perbuatan tangan kalian sendiri dan bukan karena tangan-tangan musuh.

Sekalipun semua kemuliaan kalian di bumi mengalami kejatuhan, pasti Allah Ta’ala akan mengaruniakan kemuliaan di langit yang selamanya tidak akan mengalami kejatuhan. Oleh karena itu janganlah kalian menyia-nyiakannya…. Beritahukanlah dengan segenap kegembiraan bahwa Tuhan kalian benar-benar ada, kendati pun semuanya adalah makhluk Allah Ta’ala, namun Allah Ta’ala akan memilih siapa yang akan Dia pilih dan siapa yang akan Dia datangi. Orang yang mengagungkan Allah Ta’ala dan menghadap-Nya, Allah datang kepadanya dan memuliakannya.

Jika kalian menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala, maka Dia akan mengaruniakan kemuliaan dan akan mendatangi kalian serta akan menjawab doa-doa kalian juga sebagaimana yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as), oleh karena itu, setiap orang dari antara kita hendaknya berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat itu untuk mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala dan memperkuat ikatan kita dengan langit.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) terus-menerus menasihati Jemaatnya berkenaan dengan ilham yang diterima beliau dari Allah Ta’ala untuk meningkatkan standar ketakwaan, maka beliau (as) bersabda.

“Kemarin saya telah menerima ilham dari Allah Ta’ala tertanggal 22 Juni 1889 secara berulang-ulang bahwa kalian jadilah orang-orang yang bertakwa dan tempuhlah sekecil apa pun jalan-jalan ketakwaan, Allah Ta’ala ada beserta kalian. Sesungguhnya keperihan itu tengah menekan kalbuku dan aku tengah memikirkan apa yang akan kuperbuat sampai Jemaatku menghiasi dirinya dengan ketakwaan dan kesucian.”

Lalu sabdanya,

“Sesungguhnya aku lebih banyak lagi berdoa sehingga kelemahan menguasaiku di sela-sela itu dan di beberapa kesempatan hal itu sampai pada kondisi pingsan. Manalah mungkin pertolongan Allah Ta’ala akan menyertai suatu Jemaat selama pada pandangan Allah Ta’ala belum terdapat ketakwaan.”

Maka kita harus memperhatikan hal-hal ini dengan baik. Kita akan berdoa pada Allah Ta’ala supaya Dia memberikan taufik pada kita untuk menciptakan ketakwaan pada hati kita dengan memahami kegundahan yang menekan kalbu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa kita akan menunaikan hak mencintai Allah Ta’ala, semoga Allah memberi taufik pada kita semua untuk itu.

Sekarang kita akan berdoa bersama, dan ingatlah di dalam doa-doa kalian para tahanan di jalan Allah yang tengah menanggung berbagai macam kesulitan pemenjaraan demi wajah Allah dan mereka tengah mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan ini karena mereka mendahulukan agama daripada dunia. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala supaya membukakan simpul-simpul penawanan mereka dengan segera, dan membebaskan medan mereka yang menghadapi putusan-putusan di pengadilan-pengadilan.

Doakanlah juga untuk para Ahmadi di Pakistan, Aljazair bahkan mereka yang tinggal di dunia sementara mereka tengah menghadapi kesulitan-kesulitan dikarenakan keanggotan atau bergabungnya mereka dengan Ahmadiyah. Banyak-banyaklah berdoa untuk kemajuan Jemaat secara umum dan untuk peningkatan standar ketakwaan pada anggota-anggota Jemaatnya.

Berdoalah untuk penganut-penganut agama Islam supaya dikaruniakan pada mereka pemahaman dan nalar supaya meresapi makna hakiki ketakwaan dan mereka akan memahami makna hakiki haji dan pengurbanan-pengurbanan serta mereka akan berbaiat pada Imam Zaman dan akan meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْيَهْدِهِاللهُفَلَامُضِلَّلَهُوَمَنْيُضْلِلْهُفَلَاهَادِيَلَهُ

وَنَشْهَدُأَنْلَاإِلٰهَإِلَّااللهُوَنَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّاللهَيَأْمُرُبِالْعَدْلِوَالْإِحْسَانِوَإِيْتَاءِذِىالْقُرْبَىوَيَنْهَىعَنِالْفَحْشَاءِوَالْمُنْكَرِوَالْبَغْيِيَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْتَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Setelah itu beliau bersabda, “Marilah kita berdoa bersama.” (doa bersama). “Saya haturkan Id Mubarak untuk semuanya.

Assalāmu‘alaikum Warahmatullāhi Wabarakātuhu.”

Diterjemahkan oleh : Abkari Munwanna; editor: Dildaar Ahmad D.

Sumber referensi: https://www.alislam.org/v/10186.html dan http://www.islamahmadiyya.net/cat.asp?id=117

1 [Cashma-e-Ma‘rifah h.91, Catatan kaki].

2 Al-Hakam, Jilid VII, nomor 8, Edisi 28 Februari 1903, h.2-3

3Arrh : adalah semacam zikir tertentu yang diada-adakan oleh para sufi ahli bidah yang mengeluarkan suara berulang-ulang kali seperti suara gergaji. (Penerjemah dari Tim Arabic Desk)

4مجاهدة – mujāhadah atau dalam bahasa Indonesia “mujahadat” berarti jihad (usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan) atau perjuangan, upaya menahan hawa nafsu duniawi, usaha demi membela agama [Pen.]