pengabulan doa perlu hasrat tinggi

Allah Yang Maha Agung telah mengajarkan metoda doa yang amat baik dalam Surah Al-Fatihah. Tidak ada metoda yang lebih baik lagi serta yang telah merangkum segala hal yang menggugah hati dengan hasrat untuk berdoa. Bagi pengabulan suatu doa, disyaratkan adanya hasrat untuk berdoa karena tanpa itu maka yang ada hanyalah kata-kata semata.

Memang benar kalau seseorang itu tidak bisa memilih bahwa tidak setiap saat doanya akan selalu dilambari hasrat yang tinggi. Karena  itu pada saat apa yang akan didoakan itu dikemukakan, perlu adanya hasrat dari si pemohon secara sadar. Setiap manusia waras tentunya menyadari bahwa kalbu manusia diilhami hasrat jika berkaitan dengan dua bentuk perasaan. Pertama, si pemohon doa harus membayangkan Tuhan sebagai Wujud Maha Indah dan Maha Kuasa yang memiliki semua fitrat yang sempurna serta menganggap rahmat dan karunia-Nya sebagai suatu hal pokok bagi awal sampai akhir eksistensi dan keselamatan dirinya dimana Dia adalah Maha Sumber dari segala rahmat. Kedua, kesadaran menganggap dirinya sendiri dan umat manusia sebagai mahluk yang lemah, papa dan bergantung pada pertolongan Allah Swt Kedua bentuk perasaan kesadaran tersebut akan mencetuskan hasrat untuk berdoa.

Hasrat akan mengemuka ketika si pemohon menyadari dirinya amat lemah tanpa daya sama sekali dan amat bergantung pada pertolongan Ilahi serta meyakini sepenuhnya bahwa Allah itu Maha Kuasa dan Tuhan seru sekalian alam yang Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Penguasa Hari Penghisaban dimana pemenuhan kebutuhan manusia berada di Tangan-Nya. Surat Al-Fatihah dari awal telah menyatakan bahwa Tuhan adalah Wujud yang patut disembah yang merangkum keseluruhan sifat- sifat yang sempurna. Dia adalah Tuhan seluruh alam dan menjadi sumber segala rahmat yang memberikan karunia kepada setiap orang apa yang merupakan natijah dari upayanya.

Terkait:   Mengapa Pengabulan Doa Kadang Tertunda

Dengan mengedepankan fitrat-fitrat- Nya ini, Allah Yang Maha Kuasa menyatakan bahwa semua kekuasaan dan kekuatan berada di tangan-Nya dan bahwa semua rahmat berasal dari Wujud-Nya. Dia menyatakan keagungan Diri-Nya sebagai wujud pemenuh segala kebutuhan, baik di dunia ini mau pun di akhirat; bahwa Dia itulah yang menjadi sebab dari segala sebab dan sebagai sumber segala rahmat. Dia juga mengindikasikan bahwa tanpa Wujud dan Rahmat-Nya maka kehidupan dan segala ketenangan bagi mahluk bernyawa tidak akan ada. Untuk itu si pemohon diajarkan kerendahan hati melalui ayat:

إِيّاكَ نَعبُدُ وَإِيّاكَ نَستَعينُ

“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (QS. 1, Al-Fatihah: 5).

Melalui ayat ini kita menyatakan bahwa kita ini tidak berdaya yang tidak mungkin mencapai apa pun kecuali dikaruniai kekuatan dan bantuan Tuhan.

Demikian itulah Tuhan telah mengemukakan dua hal yang akan menimbulkan hasrat dalam berdoa yaitu di satu sisi, Keagungan dan Rahmat-Nya dan di sisi lain, ketiadaan daya dan kerendahan hati hamba- Nya. Kedua hal ini harus tetap diingat saat mengajukan permohonan doa. Mereka yang mempunyai pengalaman dalam berdoa, tahu betul bahwa tanpa kedua pencetus hasrat berdoa itu maka tidak akan ada yang namanya doa, dengan demikian nyala kasih Ilahi pun tidak akan marak karenanya.

Jelas kiranya jika seseorang tidak menghayati keagungan dan rahmat serta kekuasaan yang Maha Sempurna dari Allah Swt dengan sendirinya ia tidak akan berpaling kepada Tuhan. Adapun kalbu yang tidak mengakui ketiadaan daya dan kepapaannya, pasti tidak akan cenderung kepada yang Maha Pemurah. Ini adalah mutiara hikmah yang tidak memerlukan filsafat yang mendalam guna memahaminya. Saat keagungan Ilahi dan ketiadaan daya serta kepapaan diri tercermin di dalam hati, hal itu sendiri sudah merupakan sarana guna mengajukan doa hakiki.

Terkait:   Tiga Syarat Terkabulnya Doa

Seorang mukminin sejati tahu betul kalau konsep kedua hal tersebut ini merupakan hal yang pokok dalam berdoa yaitu pertama, adalah Tuhan yang memiliki kekuasaan untuk memajukan, mengembangkan, memberikan rahmat dan imbalan dimana fitrat Ilahi yang hakiki ini selalu beroperasi setiap saat, dan kedua, bahwa manusia tidak akan mampu mencapai apa pun tanpa bantuan dan pertolongan Ilahi. Kedua konsep ini jika memang sudah tertanam di dalam kalbu maka pada waktu berdoa, hal ini akan menimbulkan suatu kondisi pada diri si pemohon sehingga yang takabur pun akan bersujud dan mereka yang berhati keras, tunduk takluk berurai air mata. Hal inilah yang menjadi mekanisme untuk memberikan kehidupan kepada orang yang telah mati ruhaninya.

Melalui pemahaman kedua konsep ini maka setiap nurani akan tertarik kepada berdoa. Konsep ini menjadi sarana spiritual sehingga kalbu seseorang berpaling kepada Tuhan sambil menyadari kelemahan dirinya dan karena itu membutuhkan bantuan Ilahi. Melalui ini seseorang akan mencapai suatu tingkat pemfanaan diri dimana tidak tersisa lagi eksistensi dirinya yang buram dan menyadari nur keagungan berkilau Sang Maha Akbar sebagai Wujud Yang Maha Pemurah, Penopang segala mahluk, Penawar segala penyakit dan Sumber segala rahmat. Pada akhirnya ia akan mencapai tingkatan sepenuhnya larut di dalam Tuhan dimana ia tidak lagi memiliki kecenderungan apa pun terhadap mahluk lain atau pun dirinya sendiri. Ia tidak lagi mempunyai maksud atas namanya sendiri dan sepenuhnya tenggelam dalam kasih Ilahi. Melalui manifestasi hakikat demikian maka eksistensi dirinya dan eksistensi ciptaan lainnya tidak lagi berarti. Kondisi inilah yang disebut sebagai jalan yang lurus yang diperintahkan Tuhan agar manusia berdoa memohonnya:

Terkait:   Jangan Tergesa-gesa Dalam Berdoa, Bersabarlah!

اهدِنَا الصِّراطَ المُستَقيمَ

“Tuntunlah kami pada jalan yang lurus.” (QS. 1, Al-Fatihah: 6).

Dengan kata lain: “Karuniakanlah kepada kami jalan untuk me-larut- kan diri, realitas Ketauhidan Ilahi dan kasih Tuhan sebagaimana dinyatakan dalam ayat-ayat sebelumnya dan luputkanlah kami dari segala hal kecuali Engkau.”

Dengan kata lain, Allah Yang Maha Kuasa telah mengaruniakan cukup sarana bagi manusia untuk terciptanya hasrat berdoa sehingga dengan cara itu si pemohon doa ditransportasi dari keadaan sadar diri kepada dimensi yang mengkaliskan diri. Perlu diperhatikan, bahwa Surat Al-Fatihah bukan satu-satunya sarana guna mencari bimbingan, tetapi berdasarkan penjelasan yang telah diungkapkan sebelumnya, Fatihah merupakan cara terbaik dalam mengajukan permohonan doa karena dilambari hasrat hati dimana fitrat manusia hanya tinggal mengikuti dorongan alamiah dirinya.

Allah Swt sudah menetapkan berbagai kaidah untuk bermacam hal dimana ketentuan dalam berdoa juga sudah ditetapkan sebagaimana diterakan dalam Surat Al-Fatihah. Tidak mungkin akan muncul hasrat untuk berdoa kecuali faktor-faktor yang mengilhami kalbu dengan hasrat memang sudah ada di dalam pikiran. Karena itulah diberikan cara berdoa yang alamiah sebagaimana yang dikemukakan dalam Surat Al-Fatihah. Salah satu kemuliaan Surah ini ialah pengajaran doa bersamaan dengan faktor-faktor yang mengilhaminya.

(Barahi-i-Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 569-575, London, 1984).

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 210-213