pengertian tobat taubat

Jelas kiranya bahwa manusia itu secara alamiah memang lemah sekali namun dibebani demikian banyak peraturan Ilahi. Karena kelemahan dirinya itu maka manusia tidak sempurna melaksanakan perintah-perintah Ilahi, terkadang malah dikalahkan nafsu dirinya yang cenderung mengundang dosa. Karena fitrat kelemahan dirinya itu maka setiap kali ia tergelincir, perlu baginya bertobat dan memohon ampun agar rahmat Ilahi dapat menyelamatkannya dari kerugian. Sesungguhnya jika Tuhan bukan merupakan Wujud Yang menerima pertobatan, maka manusia tidak akan dibebani dengan demikian banyak ketentuan dan perintah. Hal ini membuktikan secara meyakinkan kalau Tuhan itu cenderung kepada manusia dengan Rahmat-Nya dan bersifat Maha Pengampun.

Pengertian Tobat

Tobat mengandung pengertian bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad penuh bahwa setelah itu, meski ia dilempar ke dalam api sekali pun, ia tidak akan mengulangi dosa itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah Swt dengan ketulusan dan keteguhan niat seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang akan mengampuni dosanya tersebut. Adalah menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia akan mengabulkan pertobatan dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran.

Bila manusia tidak mempunyai harapan bahwa pertobatannya akan diterima maka ia tidak akan menahan dirinya melakukan dosa. Umat Kristiani juga percaya akan pertobatan tetapi diikuti persyaratan bahwa orang bersangkutan haruslah seorang penganut Kristen. Islam tidak mempersyaratkan apa pun untuk bertobat. Pertobatan dari penganut semua agama bisa saja diterima dengan kekecualian dosa karena menolak Kitab Allah dan Rasul-Nya.

Terkait:   Apakah Doa itu?

Adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi manusia memperoleh keselamatan hanya berdasarkan perilakunya sendiri saja. Hanya karena sifat Maha Pemurah dari Allah Swt maka Dia menerima pertobatan sebagian manusia dan berkat dari rahmat-Nya dianugrahkan kekuatan kepada yang lainnya agar mereka terpelihara dari laku dosa.

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 189-190, London, 1984).

Manusia Memerlukan Pengampunan

Menyangkal pertobatan dan pengampunan sama juga dengan menutup pintu bagi kemajuan kemanusiaan. Jelas disadari kalau manusia itu pada dasarnya tidak sempurna dan memerlukan penyempurnaan. Manusia lahir tidak langsung memiliki pengetahuan karena intelektualnya berkembang kemudian bersama umurnya. Begitu juga dengan kondisi akhlaknya yang berada pada tingkat dasar pada saat baru dilahirkan. Jika kita melihat kelakuan anak-anak kecil, sering terlihat dimana yang satu memukul yang lainnya hanya karena alasan yang amat sepele, ditambah lagi ada yang terbiasa berdusta dan berkata kotor terhadap temannya. Sebagian ada yang terbiasa mencuri, berdusta mengarang cerita, pencemburu dan kikir. Kalau dibiarkan maka mereka akan tumbuh dewasa dalam cengkeraman ego dirinya yang cenderung kepada dosa serta melakukan berbagai bentuk kekejian dan kejahatan.

Terkait:   Manusia Berdoa, Allah Menanggapi

Bagi sebagian besar manusia, tahap-tahap awal kehidupan umumnya bersifat tidak suci, namun mereka yang kemudian berhasil melewati badai dahsyat masa remajanya, sebagian kemudian berpaling kepada Tuhan dan menahan diri dari segala kegiatan tidak baik melalui pertobatan hakiki dan menyibukkan dirinya dengan pensucian jubah fitratnya. Semua ini merupakan tahapan-tahapan dalam kehidupan yang biasa selalu ditempuh seorang manusia. Jadi jika ada yang menyatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima atau dikabulkan, sama saja berarti bahwa Tuhan tidak berkeinginan mengaruniakan keselamatan kepada siapa pun.

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 192-193, London, 1984).

Manusia Datang Kepada Allah dengan Penyesalan

Dalam bahasa Arab, arti kata Taubah mengandung arti “kembali” sehingga dalam Al-Quran nama Tuhan pun antara lain disebut sebagai Tawwab yang berarti Dia yang selalu kembali. Hal ini mengandung arti bahwa jika seseorang setelah menanggalkan dosa-dosanya lalu berpaling kepada Tuhan dengan hati yang tulus, maka Tuhan akan lebih lagi mendekat kepadanya.

Keadaan tersebut sejalan dengan hukum alam dimana Tuhan telah menjadikan hal itu sebagai bagian dari fitrat manusia yaitu jika seseorang menghampiri orang lainnya dengan hati yang tulus maka hati orang yang didatangi itu pun akan melembut kepadanya. Karena itu bagaimana mungkin daya nalar ini bisa menerima bahwa seorang hamba yang dengan hati tulus telah berpaling kepada Tuhan-nya tetapi Tuhan malah menolaknya? Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang malah akan lebih mendekat lagi kepada hamba-Nya. Sebab itu juga maka dalam Al-Quran disebut sebagai Tawwab yang berarti Dia yang selalu kembali.

Terkait:   Dua Cara Pengabulan Doa

Manusia berpaling kepada Tuhan melalui rasa penyesalan, kerendahan hati dan penyerahan diri, sedangkan Tuhan menghadapinya dengan rahmat dan pengampunan. Jika rahmat tidak merupakan salah satu fitrat Ilahi maka tidak akan ada manusia yang akan diselamatkan. Sayang sekali manusia lebih bertumpu sepenuhnya pada tindakan mereka sendiri dan tidak merenungi fitrat-fitrat Ilahi. Apakah mungkin Tuhan akan mengabaikan seseorang yang lemah yang telah berpaling kepada-Nya dengan menanggalkan segala pakaian kebiasaan lamanya dan mendatangi Tuhan-nya layaknya orang yang sudah mati terbakar dalam api kasih-Nya, padahal Dia telah demikian banyak menebar rahmat dan karunia bagi manusia di bumi tanpa diminta terlebih dahulu? Apakah ini yang disebut sebagai hukum alam?

لَعنَتَ اللَّهِ عَلَى الكاذِبينَ

“Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta.” (QS. 3, Ali Imran: 62).

(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 133-134, London, 1984).

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 217-222