بسم اللہ الرحمن الرحیم

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada pada 31 Mei 2019 (Ramadhan 1440 Hijriyah Qamariyah/Hijrah 1398 Hijriyah Syamsiyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
وَاِذَا رَاَوْا تِجَارَةً اَوْ لَهْوًا ۨانْفَضُّوْٓا اِلَيْهَا وَتَرَكُوْكَ قَاۤىِٕمًاۗ قُلْ مَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِۗ وَاللّٰهُ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Artinya sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah untuk mengingat Allah, dan tinggalkanlah jualbeli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika sekiranya kamu mengetahui. Dan apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat sesuatu perniagaan atau hiburan, berlarian mereka menuju kepadanya dan meninggalkan engkau berdiri sendirian. Katakanlah, ‘Apa yang di sisi Allah itu lebih baik daripada hiburan dan perniagaan. Dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.’” Surah al-Jumu’ah ayat 10-12

Hari ini merupakan Jumat terakhir di bulan Ramadhan kali ini. Pada umumnya orang-orang memberikan perhatian khusus dan berusaha untuk hadir pada Jumat ini. Kebetulan juga saat ini tengah libur sekolah sehingga kehadiran hari ini tampak lebih baik dan demikian juga pada umumnya.

Ayat-ayat terakhir Surah al-Jumu’ah yang saya tilawatkan tadi di dalamnya Allah Ta’ala menjelaskan berkenaan dengan keutamaan ibadah shalat Jumat. Dalam pandangan Allah Ta’ala, kehadiran pada shalat Jumat sangatlah penting. Allah Ta’ala menjelaskan, “Jika kalian diseru untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat, janganlah memperlihatkan kelalaian, melainkan berikanlah perhatian khusus untuk hadir dalam ibadah Jumat, terlepas sesibuk apapun aktivitas yang sedang dilakukan, sekalipun dengan meninggalkannya seorang pebisnis dapat mengalami kerugian materi sangat besar, janganlah menghiraukannya, laksanakanlah ibadah shalat Jumat tanpa mempedulikan peluang kerugian materi yang sangat besar. Sebab, kehadiran pada hari Jumat, melaksanakan shalat Jumat di masjid dan mendengarkan khutbah khatib ribuan, jutaan kali lebih baik dari perdagangan kalian, bisnis kalian dan urusan duniawi kalian. Namun kesadaran untuk melakukan itu dapat dimiliki oleh orang yang memiliki pemahaman dan pengetahuan yang benar.”

Allah Ta’ala berfirman, “Orang yang memiliki pemahaman yang benar pasti akan memberikan prioritas kedua terhadap perdagangan dan bisnisnya itu.”

Seiring dengan itu Allah Ta’ala juga berfirman, “Setelah selesai melaksanakan ibadah shalat Jumat, kalian diberikan kebebasan untuk bertebaran di muka bumi dan sibuk untuk urusan duniawi dan perdagangan. Dengan begitu Allah Ta’ala akan memberikan keberkatan dalam urusan duniawi kalian.”

Namun disini dijelaskan, “Janganlah membatasi ibadah-ibadah kita hanya ibadah Jumat saja, melainkan ingatlah Allah Ta’ala setiap saat. Jika perhatian kalian tertuju pada dzikr Ilahi, kalian akan meraih kesuksesan lebih dari sebelumnya dalam hal ruhani dan jasmani.”

Ketika mengingat Allah Ta’ala, mereka pun akan ingat bahwa setelah selesai shalat Jumat beberapa waktu kemudian kita harus melaksanakan shalat ashar, karena ini pun termasuk kedalam ibadah fardhu. Begitu juga shalat magrib dan shalat isya yang kesemuanya adalah shalat fardhu. Sedangkan perdagangan duniawi atau ni’mat yang lainnya dapat diraih hanya dengan karunia Allah semata. Jadi, kesuksesan hanya berkaitan dengan zikir Ilahi dan ibadah kepada Allah Ta’ala.

Disiplin melaksanakan ibadah Jumat, dzikr Ilahi dan upaya untuk memenuhi hak ibadah kepadaNya jangan hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Melainkan sebagaimana jelas dari ayat-ayat tadi yakni merupakan perintah umum untuk segenap ibadah Jumat dank has juga.

Hazrat Masih Mau’ud (as) pernah bersabda berkenaan dengan keutamaan ibadah Jumat, Hari Jumat adalah hari ‘Id dan ‘Id ini lebih utama dari dua ‘Id lainnya (Idul Fithri dan Idhul Adhha).”

Bagaimana bisa lebih afdhal? Beliau bersabda, “Sebab, untuk ‘Id tersebut (Jumat) telah turun surat al-Jumu’ah yakni dalam surah Jumat telah ditekankan secara khusus untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat pada hari Jumat.”

Lalu beliau (as) menjelaskan mengenai keutamaan Jumat dengan menceritakan perbincangan antara Hazrat Umar dengan seorang Yahudi yaitu ketika turun ayat الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا alyauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu alaikum nimatii wa radhiitu lakumul islaama diinaa artinya pada hari ini telah Aku sempurnakan nikmatKu atasmu dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.

Ketika ayat tersebut turun, seorang Yahudi mengatakan kepada Hazrat Umar (ra), يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ أَنَّ عَلَيْنَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمْ الْإِسْلَامَ دِينًا} لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا ‘Seandainya ayat ini (ayat ke-4 dari Surah al-Maaidah) turun kepada kami, maka kami akan merayakan ‘Id (menjadikannya sebagai hari raya).’

Hazrat Umar menjawab, إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيَّ يَوْمٍ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ نَزَلَتْ يَوْمَ عَرَفَةَ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ yang artinya, ‘Memang hari Jumat adalah ‘Id (hari raya) karena ayat tersebut turun pada hari Jumat.’”[1]

Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Banyak orang yang tidak menyadari ‘Id yang Allah Ta’ala perintahkan untuk merayakannya setiap minggu. Hari yang di dalamnya dikabarkan sempurnanya agama dan Allah Ta’ala memberikan kabar suka untuk menggenapkan nimatNya.”

Namun hari tersebut tidak diberikan keutamaan sedemikian rupa dan beranggapan cukup meraih pahala seluruh Jumat dengan hadir pada Jumat terakhir pada bulan Ramadhan. Walhasil, kita harus menjaga hari hari Jumat kita dengan penuh perhatian. Sebagaimana kita memberikan keutamaan pada Jumat terakhir bulan Ramadhan, demikian pula perlu bagi kita untuk memberikan keutamaan yang sama pada Jumat sepanjang tahun. Allah Ta’ala berfirman, setiap mukmin, jika ia seorang mukmin hakiki seyogyanya memperhatikan hal itu. Namun apa yang terjadi? Masih banyak yang tidak menaruh perhatian akan hal itu dengan menyia-nyiakan ibadah Jumatnya disebabkan perdagangan dan ketertarikan duniawi.

Allah Ta’ala berfirman, “Kalian ketahuilah bahwa apa yang ada pada Allah Ta’ala jauh lebih baik daripada hal hal duniawi dan segala daya tariknya dan Allah ta’ala lah yang memberikan rezeki kepada kalian.”

Walhasil, ini sangatlah penting dan perlu menjadi perhatian bagi orang mukmin khususnya kita yang beriman kepada Imam Zaman, perlu menaruh perhatian secara khusus hal itu. Hazrat Khalifatu Masih pertama (ra) bersabda, “Para Ahmadi-lah yang merupakan mukmin sejati karena telah mengimani imam zaman.”

Maka dari itu, keimanan ini menuntut satu tanggung jawab untuk menyelaraskan amalan kita sesuai dengan ajaran Allah ta’ala dan berusaha untuk melangkah selaras dengan hukum Allah Ta’ala. Hasrat dunia janganlah menjadi prioritas kita melainkan ridha Ilahi dan dan meraih keridhaanNya harus menjadi prioritas kita. Namun masih banyak diantara kita yang melupakan bahwa kita telah beriman kepada Hazrat Masih Mau’ud (as). Untuk apa kita beriman kepada beliau? Beliau datang untuk menguatkan jalinan kita dengan Allah Ta’ala, yakni meraih keridhaan dan kasih sayangNya adalah lebih utama dan merupakan perioritas ytama dari prioritas lainnya. Janganlah kita menghadap Allah Ta’ala atau menaruh perhatian untuk shalat dan doa hanya ketika hasrat duniawi kita belum terpenuhi lalu tunduk dihadapan Allah Ta’ala untuk memenuhi hasrat atau kita tidak mengetahui, apa keutamaan dari meraih keridhaan Allah Ta’ala sehingga kebutuhan hasrat dan duniawi lah yang menjadi keutamaan kita.

Hazrat Masih Mau’ud (as) pernah bersabda, “Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa ini merupakan sebuah taqrib (kesempatan) yang Allah Ta’ala ciptakan bagi orang-orang yang beruntung. Mubarak (Selamatlah!) bagi mereka yang mengambil manfaat darinya. Kalian yang telah menjalin ikatan dengan saya, janganlah menyombongkan diri dengan merasa telah meraih apa-apa yang harus kalian raih. Benar bahwa kalian lebih beruntung dibandingkan mereka yang ingkar (menolak) karena kalian telah mendekati untuk meraih keberuntungan dibandingkan dengan mereka yang telah membuat Allah ta’ala murka disebabkan pengingkaran dan penghinaan yang keras dari mereka.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 37)

Benar juga bahwa kalian telah berbaik sangka dengan berpikir untuk menyelamatkan diri dari murka Ilahi. Namun, hal yang sebenarnya kalian telah mendekati sumber mata air yang Allah ciptakan untuk kehidupan yang abadi. Tetapi, langkah selanjutnya adalah kalian harus meminum air itu. Untuk itu mintalah taufik dengan karunia dan kasih sayang Ilahi supaya Dia meminumkan air itu padamu sampai kamu kenyang, karena tanpa Allah ta’ala tidak mungkin akan didapatkan.”

Beliau (as) bersabda, “Saya mengetahui dengan yakin bahwa barangsiapa yang minum dari air mata itu, mereka tidak akan binasa, karena air tersebut menganugerahkan kehidupan, menyelamatkan dari kebinasaan dan menjaga dari serangan syaitan. Bagaimana cara untuk mendapatkan air dari sumber air tersebut? Dengan cara memenuhi secara sempurna dua hak yang Allah Ta’ala tetapkan bagi kalian, yakni pertama hak Allah ta’ala da kedua, hak makhlukNya.”

Jadi, Hazrat Masih Mau’ud (as) telah menjelaskan untuk menyelaraskan amal perbuatan kita dengan ajaran Allah ta’ala dan meninggikan standar ibadah setelah baiat kepada beliau dan juga kualitas huquuqul ibad. Jika ini tidak ada, maka kalian tidak akan dapat meraih karunia-karunia Allah Ta’ala sebagaimana semestinya. Untuk dapat meminum air dari sumber mata air itu, kita harus merubah prioritas (pilihan pengutamaan) kita.

Hazrat Khalifatul Masih Awwal pernah bersabda, “Berkenaan dengan sabda Hazrat Masih Mau’ud (as) yang menyatakan bahwa masih tersisa untuk meminum air dari sumber mata air itu, saya beranggapan apakah yang tengah beliau tujukan itu kepada saya?”

Dalam hal ini, kita mengetahui dengan jelas bagaimana kedudukan Hazrat Khalifatul Masih pertama karena Hazrat Masih Mau’ud (as) memberikan kedudukan yang sangat terhormat kepada beliau. Jika beliau memiliki kekhawatiran seperti itu, terlebih lagi kita. Betapa dalamnya kekhawatiran kita seyogyanya yakni bagaimana kita harus berupaya untuk meminum air dari sumber mata air itu dan memenuhi hak baiat.

Walhasil, perlu bagi kita untuk meraih keridhaan-Nya demi memenuhi hak-hak (kewai Allah Ta’ala. Perlu juga untuk memperhatikan bahwa kita telah memenuhi hak ibadah dan juga Allah Ta’ala telah menetapkan ibadah sebagai tujuan penciptaan manusia sebagaimana Dia berfirman: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ Wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduwn artinya, ‘Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia semata mata untuk beribadah kepada-Ku.’ (Surah adz-Dzaariyaat, 51:57)

Dalam hal ini Allah Ta’ala telah menjelaskan tujuan penciptaan kita, Allah Ta’ala tidaklah berfirman, “Dengan kalian melaksanakan ibadah Jumat pada akhir Ramadhan saja berarti kalian telah melaksanakan perintah-Ku dan memenuhi hak ibadah pada-Ku. Melainkan perlu adanya amalan yang sifatnya abadi yang diamalkan dari sejak kalian memasuki usia dewasa sampai akhir hayat.”

Jadi, janganlah menganggap cukup dengan hanya menghadiri Jumat terakhir, melainkan setiap Jumat adalah penting dan untuk menekankan ibadah Jumat, Allah Ta’ala tidak berfirman, “Dengan kalian melaksanakan ibadah Jumat dan mendirikan shalat berarti kalian telah memenuhi hak-Ku.”

Allah Ta’ala tidak berfirman bahwa Dia mendapatkan manfaat dari ibadah dan shalat kita atau Allah Ta’ala memerlukan shalat kita dan dzikr kita, melainkan Dia berfirman yang hal itu maknanya, “Ketika kalian melaksanakan ibadah Jumat, mendirikan shalat, menyimak khutbah dan berzikir Ilahi maka di dalam masa itu terdapat detik-detik dimana seorang hamba memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala dan Allah mengabulkannya yakni apapun yang diminta kepada Allah Ta’ala, selain sesuatu yang haram, maka Allah Ta’ala akan mengabulkan doa tersebut. Namun detik itu, masa itu tidaklah untuk Jumat yang tertentu saja, melainkan untuk setiap Jumat.” [2]

Dalam satu kesempatan, Hazrat Rasulullah telah menekankan tentang keutamaan Jumat, bersabda: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة يوم الجمعة إلا مريض أو مسافر أو امرأة أو صبي أو مملوك ‘Man kaana yu-minu biLlaahi wal yaumil aakhiri fa-‘alaihil Jumu’atu yaumal Jumu’ati illa mariidhun aw musaafirun awimra-atun aw shabiyyun aw mamluukun.’ – “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, diwajibkan baginya untuk melaksanakan ibadah shalat Jumat kecuali orang yang sakit, musafir, wanita dan hamba sahaya karena mereka memiliki keterpaksaan.

Lalu bersabda: فمن استغنى بلهو أو تجارة استغنى الله عنه والله غني حميد ‘faman istaghna bilahwin au tijaaratin istaghnaLlahu ‘anhu waLlahu Ghaniyyun Hamiid.’ – “Siapa yang lalai dari ibadah Jumat disebabkan oleh perdagangan dan permainan, Allah Ta’ala pun tidak akan memperdulikannya, sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Cukup dan dan Maha Terpuji, Allah Ta’ala tidak memerlukan apa apa dari kalian, melainkan Dialah yang menganugerahkan dan hal itu menuntut dari seorang mukmin untuk memanjatkan pujian padaNya.”[3]

Baginda Nabi Muhammad (saw) juga bersabda, “Pada hari Jumat, ganjaran yang diberikan atas kebaikan-kebaikan yang dilakukan ditingkatkan berlipat-lipat. Lantas kebaikan apa yang nilainya lebih tinggi dari melaksanakan perintah-perintah Ilahi? Jadi, jika seorang Mukmin melaksanakan perintah Allah ta’ala demi meraih keridhaanNya yang salah satunya adalah melaksanakan ibadah Jumat, perhatian terhadap ibadah dan memperhatikan shalat maka itu merupakan satu kebaikan yang sangat besar. Betapa besarnya ganjaran yang Allah Ta’ala berikan kepda orang mukmin yang melakukan berbagai kebaikan, beribadah dan ikut serta dalam ibadah Jumat dengan didasari niat semata-mata untuk meraih keridhaanNya, tidak ada prioritas duniawi.

Begitu juga terdapat peringatan dari beliau (saw) perihal meninggalkan ibadah Jumat tanpa alasan yakni barangsiapa yang meninggalkan ibadah Jumat tanpa sebab, ia akan tertulis sebagai orang munafik dalam catatan amalnya lalu bersabda mengenai hal ini, مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى قَلْبِهِ‏ “Mereka yang meninggalkan shalat Jumat selama tiga kali berturut-turut dengan menganggap enteng dan tanpa ada halangan apa-apa maka Allah akan mencap (mematerai) hati mereka.”[4]

Jadi, sangatlah mengerikan keadaan tersebut, karena jika hati telah termaterai, maka taufik untuk melakukan kebaikan pun akan semakin berkurang sehingga kehadirannya untuk shalat dan ibadah Jumat tanpa keikhlasan akan terus menimbulkan kemunafikan. Sangatlah menakutkan dan perlu perhatian yang khas untuk ini.

Dalam satu kesempatan beliau bersabda, احْضُرُوا الْجُمُعَةَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَخَلَّفُ عَنْ الْجُمُعَةِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَخَلَّفُ عَنْ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِهَا‏ ‘uhdhurul Jumu’ata wadnuu minal Imaami fa-innar rajula layatakhallafu ‘anil Jumu’ati hatta innahu layatakhallafu ‘anil jannati wa lamin ahlihaa.’ – “Biasakanlah untuk melaksanakan ibadah Jumat … orang yang sering meninggalkan shalat Jumat, pada akhirnya akan luput dari surga, padahal sebelumnya ia tercatat sebagai ahli surga, ia sering melakukan kebaikan yang dapat membawanya ke surga, namun karena sering meninggalkan ibadah shalat Jumat, akhirnya luput dari surga.”[5]

Walhasil, Rasul telah menekankan untuk melaksanakan ibadah Jumat dalam banyak kesempatan bahkan telah memberikan peringatan bagi orang yang meninggalkan ibadah Jumat tanpa sebab. Tidak ditemukan satupun sabda Rasul yang menyatakan, “Jika melaksanakan Jumat terakhir pada bulan Ramadhan, kalian akan diampuni.”

Kita pasti menyaksikan, sebagaimana kita telah melihat dalam satu isyarah beliau Rasul bersabda, فمن استغنى بلهو أو تجارة استغنى الله عنه والله غني حميد ‘faman istaghna bilahwin au tijaaratin istaghnaLlahu ‘anhu waLlahu Ghaniyyun Hamiid.’ – “Allah ta’ala tidak akan memperdulikan orang yang meninggalkan ibadah shalat Jumat disebabkan karena perdagangan, permainan atau kesibukan duniawi dan yang tidak peduli terhadap ibadah shalat Jumat.”

Tidak hanya mencukupkan pada ibadah Jumat saja bahkan Rasul menyebutkan ciri ciri seorang mukmin yang memenuhi hak ibadahnya yakni mereka yang selalu memikirkan dari satu shalat ke shalat lainnya dan selalu menunggunya, yang selalu memikirkan dari satu Jumat ke Jumat lainnya dan selalu menunggunya, yang selalu memikirkan dari satu ramadhan ke ramadhan lainnya dan selalu menunggunya, bukan yang menyia-nyiakan ibadah Jumat dan shalatnya demi untuk pemenuhan hasrat dan urusan duniawi.[6]

Jadi, kita harus memikirkan ibadah-ibadah kita, perlu untuk menempatkan pengutamaan pilihan kita pada jalan yang benar dan perlu adanya upaya untuk dapat meraih Allah ta’ala. Untuk meraih Allah ta’ala, mau tak mau juga harus mengetahui kedudukan-Nya tersebut. Dengan hanya ucapan di mulut saja, tidak lantas akan dapat meraih-Nya.

Namun jika kita renungkan, maka kita akan melihat bahwa amal perbuatan kita tidaklah mengenali dngan baik maqam (kedudukan) hakiki Allah ta’ala dan keistimewaan-Nya. Keadaan amalan kita, keadaan amalan kita tidaklah sedemikian rupa sehingga kita dapat mengatakan bahwa kami sangat mengenali-Nya. Bahkan, doa-doa kita pun bertujuan untuk kepentingan dan maksud pribadi. Jika bertujuan untuk meraih Tuhan, di dalamnya harus terdapat keberlanjutan. Hati kita tidak hanya untuk ibadah Jumat saja, bahkan untuk shalat kelima waktu di masjid juga.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Namun seperti yang telah saya katakan, pada hakikatnya kita tidak memahaminya, kita lebih mengutamakan yang sifatnya sementara dan cepat sedangkan kebutuhan yang sifatnya abadi, besar dan permanen dianggap sebagai prioritas kedua. Kita justru malah meninggalkan shalat dan ibadah Jumat namun demi manfaat duniawi yang sifatnya sementara. Kita dengan mudahnya mengatakan kita akan meminta ampunan kepada Allah ta’ala nantinya dan Allah ta’ala akan mengampuni kita, lantas apa bedanya dengan seorang pedagang yang mengatakan, “Tanggung dengan pekerjaan, jangan sampai calon pembeli ini lepas dari tangan kita, entahlah kapan lagi akan mendapatkan pembeli seperti ini.”

Contoh lain, jika seseorang pergi menjumpai atasannya di kantor, ia berpikir, “Pembawaan perasaan atasan sedang baik sekarang. Jika saya meminta izin kepada boss untuk pergi shalat karena telah tiba waktu shalat atau untuk shalat Jumat tentu hal itu akan tidak membahagiakan si boss tersebut. Saya pikir jangan sampai boss marah sehingga saya akan luput dari keuntungan duniawi.”

Jika pikiran seperti itu muncul, berarti prioritasnya sama sekali berbeda. Urusan duniawi lebih mendapat prioritas dibandingkan meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Demikian pula masih banyak hasrat hasrat duniawi lainnya yang bukannya menjadi prioritas kedua, justru malah lebih diutamakan daripada keridhaan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menjadi prioritas kedua dikalahkan urusan duniawi. Saat itu kita lupa bahwa ketika kita melupakan Allah Ta’ala, mengesampingkan hukumnya dibandingkan urusan duniawi, maka seperti yang telah disabdakan oleh rasulullah, Allah Ta’ala tidak akan memperdulikan orang-orang yang tidak perduli seperti itu. Sehingga meskipun sebelumnya ia dinyatakan calon ahli surga, namun disebabkan karena ketidakpedulian itu akan luput dari surga.

Dengan demikian, tugas seorang mukmin adalah untuk selalu menaruh perhatian bahwa perdagangan dan pekerjaannya akan meraih keberkatan hanya dengan karunia Allah Ta’ala. Maka dari itu, jika keberkatan tadi bergantung pada karunia Allah Ta’ala maka kenapa kita tidak berupaya untuk memenuhi hak Allah ta’ala terlebih dulu?

Setiap orang perlu memahami prinsip ini. Jika kita memahami prinsip ini, selain Ramadhan pun masjid-masjid kita akan terus penuh pada waktu shalat lima waktu dan juga pada hari Jumat. Bahkan, masjid akan semakin terasa sempit. Inilah yang merupakan tujuan pengutusan Hazrat Masih Mau’ud (as) yaitu beliau diutus untuk mendekatkan manusia kepada Allah Ta’ala. Ini jugalah yang menjadi tujuan baiat kita yaitu mendekatkan diri kepada Allah, menjalinkan ikatan dengan-Nya, menjadi hamba-Nya yang sejati dan menjadikan shalat kita, ibadah Jumat kita, puasa kita, Id-Id kita sebagai sarana untuk meraih kedekatan Allah Ta’ala dan meraih-Nya.

Allah Ta’ala menetapkan puasa Ramadhan setiap tahun supaya dalam satu bulan seorang mukmin dapat berupaya untuk meninggikan standar kebaikan dan ibadahnya dengan penuh tawajjuh lalu menjaganya dan teguh di dalamnya. Selanjutnya, pada Ramadhan berikutnya dapat meningkat pada tahapan berikutnya bukannya pada tempat yang sama seperti sebelumnya. Itulah yang disabdakan Hazrat Masih Mau’ud (as) kepada kita, “Jika hari ini tidak lebih baik dari hari kemarin, berarti kita bukanlah mukmin yang hakiki.”

Jadi kita berkumpul di hari Jumat ini bukanlah untuk mengucapkan selamat tinggal pada ibadah Jumat melainkan kita berkumpul di sini untuk menguatkan langkah kita supaya meningkat dalam kebaikan, dalam ibadah dan dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala serta untuk keteguhan dalam hal itu juga kita berdoa. Pada hari ini juga kita harus berjanji bahwa saat ini kita akan meningkatkan jalinan kepada Allah ta’ala. insya Allah. Janji dan doa ini akan terwujud jika ada kesadaran akan keutamaan kedekatan dengan Allah ta’ala. Jika kita mengetahui nilai betapa Allah Ta’ala Pemilik segala kekuatan sejati, Sumber mata air dan Wasilah (Lantaran atau Sarana) untuk menyampaikan segala urusan hingga hasil yang terbaik, namun nilai permainan dan perdagangan duniawi kita anggap lebih tinggi dari pada nilai Allah ta’ala maka seperti halnya anak-anak yang tidak menghargai nilai sebuah permata. Jika seorang anak menemukan permata maka ia akan menganggapnya seperti bola kelereng yang mereka mainkan dengan kawannya. Siapa yang jumlah kelerengnya paling banyak, dialah yang menang. Anak-anak akan memperlakukan permata tadi seperti kelereng.

Hazrat Khalifatul Masih Tsani telah menceritakan satu peristiwa, bersabda, “Suatu ketika saya tengah menunggu kapal laut dalam perjalanan Haji [dari India ke Makkah, Arab]. Pada masa itu biasa menempuh perjalanan dengan menggunakan kapal laut. Saat itu seorang kawan bercerita kepada saya bahwa beberapa hari lalu ada seorang tukang perhiasan pergi ke pasar dan permatanya terjatuh yang jumlahnya sekitar 105 butir. Diantara permata itu ada yang kecil dan besar.

Tukang perhiasan itu langsung melaporkan kehilangan itu ke kantor pusat polisi dan polisi mengabarkan ke seluruh kantor untuk mencarinya. Beberapa hari kemudian ada seseorang yang membawa permata ke kantor polisi, ia mengatakan, ‘Saya melihat beberapa anak-anak tengah memainkan permata ini, lalu saya tanyakan ke salah seorang anak dan ia menjawab, “Saya menganggap benda itu sebagai kelereng yang saya temukan tergeletak dalam keadaan terbungkus di dalam kertas. Saya anggap itu kelereng lalu saya mainkan.”

Lalu ditanyakan kepada anak itu, dimanakah butiran yang lainnya?

Ia menjawab, “Saya telah bagikan ke anak anak kampung.”’

Padahal itu adalah adalah permata yang harganya ratusan juta, namun dianggap tidak bernilai oleh anak-anak itu. Jika ayahnya yang menemukan itu, mungkin akan dia sembunyikan atau mungkin ia akan melarikan diri dari kotanya lalu menjualnya di kota lain.

Namun dalam pandangan anak anak itu, benda tersebut tidak bernilai. Mereka anggap permata-permata itu sebagai kelereng dan mereka bagikan kepada kawan-kawannya. Jika anak-anak itu mendapatkan bola-bola manisan, maka anak-anak itu tidak akan membagikannya. Ketika kawan-kawannya meminta butiran-butiran permata itu darinya maka anak itu mungkin menjawab, ‘Saya punya 105 butir. Untuk apa juga punya banyak-banyak.’ Lalu ia membagikannya.

Namun, jika yang ia temukan itu bola-bola manisan, mungkin bukannya membagikannya ke teman-temannya, ia berpikiran untuk memakannya sendiri. Sebab, menurutnya bola-bola manisan lebih berharga dan bermanfaat daripada kelereng.”

Beliau juga menceritakan satu lagi kisah, “Ada seseorang yang tengah berjalan di hutan, makanannya telah habis sama sekali sehingga ia menderita kelaparan dan tidak ada peluang untuk dapat menyambung hidup. Lalu orang itu menemukan sebuah bungkusan. Dengan bahagia ia beranggapan mungkin di dalamnya terdapat rebusan biji-bijian atau suatu makanan. Ia peluk bungkusan itu dan membukanya dengan pisau. Ternyata di dalam bungkusan itu terdapat berlian. Lalu orang itu membuang berlian itu dengan penuh kesal. Pada saat itu bagi dia segenggam sayuran atau potongan roti lebih bernilai dibandingkan berlian-berlian itu. Jadi nilai sesuatu sesuai dengan keperluan dan pengetahuannya.”

Sebagian orang melihat keutamaan sesuai dengan anggapan dan keperluan, mereka pergi mencari sesuatu yang kecil, namun mengesampingkan sesuatu yang teramat penting. Yang kita saksikan adalah pemenuhan hasrat duniawi lebih memiliki prioritas disbanding dengan jalinan dengan Allah ta’ala. Banyak sekali orang di dunia ini yang berbuat seperti itu. Ini jugalah yang menjadi prioritas dalam doa-doa mereka. Disebabkan tidak adanya pengetahuan dan pengenalan yang benar, mereka mengesampingkan hal yang penting dan sebaliknya sesuatu yang kurang penting dianggap sebagai prioritas bagi dirinya.

Berkenaan dengan prioritas dalam doa-doa yang dipanjatkan, Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) telah menjelaskan pokok bahasan yang sangat indah. Sebelum saya sampaikan itu, saya ingin sampaikan bahwa orang-orang pun bertanya kepada saya mengenai doa bahwa mereka berdoa dengan penuh kekhusyuan, namun tidak dikabulkan juga. Saya selalu menjawabnya sesuai dengan ayat yang telah saya jelaskan pada khotbah pertama di bulan Ramadhan, Allah ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَDan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.’” [Al-Baqarah, 2:187]

Terkait:   Jalsah SalanahUK (Britania Raya)

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan ayat tersebut, “Makna da’watad daa’i di ayat ini bukanlah setiap pendoa, melainkan pendoa khusus yang berpuasa pada siang hari demi meraih ridha Ilahi, melaksanakan shalat fardhu, berdzikr Ilahi, menjaga shalat dan ibadah Jumatnya serta pada malam hari berdoa kepada Allah dengan khusyu. Memang maksud ad-daa’i disini dapat saja setiap pendoa, namun karena ayat ini kaitannya dengan Ramadhan, maka maksudnya adalah mereka yang mengkhususkan dan mengikhlaskan ibadahnya untuk Allah Ta’ala semata dan mereka tidak membatasi ibadahnya itu hanya pada bulan Ramadhan saja melainkan meliputi sepanjang tahun. Mereka tidak berdoa untuk pemenuhan hasrat duniawinya melainkan berdoa supaya dapat meraih Allah ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, ‘Mereka yang melupakan segala sesuatu dan hanya berdoa untuk dapat meraih kedekatan dengan-Ku maka Aku pasti akan mendengarkan doanya.’”

 

 

 

Inilah pengertian Ad-Daa’i (pendoa) yang disampaikan Hazrat Mushlih Mau’ud (ra). Maknanya, “Mereka yang berusaha untuk meraih kedekatan-Ku.”

Allah Ta’ala berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي wa idza sa’alaka ibaadii annii yang artinya, “Mereka bertanya mengenai-Ku. Dimana Aku? Mereka ingin meraih-Ku. Mereka tidaklah meminta roti, tidak meminta pekerjaan dan tidak meminta hal-hal kebendaan lainnya. Yang mereka tanyakan adalah, ‘Dimana Allah Ta’ala? Kami ingin menemui-Nya.’

Mereka yang gelisah untuk dapat berjumpa dengan-Ku, mereka pasti akan mendapatkan-Ku.”

Allah ta’ala tidak berfirman, “Siapa yang meminta roti, pekerjaan dan jodoh pasti akan Aku dengarkan dan kabulkan.”

Pada umumnya inilah yang tampak. Mereka mengatakan, “Kami telah berdoa dengan khusyu namun tetap saja doa kami tidak didengar.” Mereka yang memohon (berdoa) pun adalah orang-orang yang ibadahnya bersifat sementara saja. Mereka memberikan perhatian untuk beribadah dan shalat serta doa ketika memerlukan sesuatu. Keadaan khusyunya itu hanya bersifat sementara. Sebagian orang menulis. “Kami telah berdoa dengan khusyu, namun Allah ta’ala tidak mengabulkannya.” Allah Ta’ala tidak pernah menyatakan, “Aku akan memenuhi apapun hasrat duniawi kalian dan mengabulkan doa-doa kalian terkait hal itu.” Memang, jika seseorang sembari diiringi dengan perubahan suci lalu berdoa untuk dapat meraih dan menjumpai Allah ta’ala dengan khusyu, maka Allah Ta’ala berfirman, “Aku pasti akan kabulkan. Aku akan berdiri bersamanya sebagai penolong dan sahabatnya, mengabulkan seluruh keinginannya dan Aku akan melawan mereka yang memusuhinya.”

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Sebagian pemahaman (maksud) tidak tampak terlihat dalam rangkaian kata-kata itu melainkan tersembunyi di dalam kalimatnya. Inilah keadaannya. Kata ‘Ad-Daa’i (pemohon dan pendoa) di kalimat ini tidaklah berarti setiap orang yang berdoa melainkan ia yang berdoa kepada Allah Ta’ala demi mencari perjumpaan dengan-Nya. Allah Ta’ala berfirman, ‘Ketika hamba-Ku berlari kepada-Ku dan di dalam dirinya timbul satu rintihan dan rasa cinta lalu menyeru, “Dimana Tuhanku?”

Maka katakanlah padanya bahwa Aku tidaklah menolaklah doa-doa orang yang memohon, Aku pasti mendengarkan dan mengabulkannya.’”[7]

Sebagaimana telah saya katakan, kebanyakan orang berdoa untuk urusan duniawi lalu tidak terkabul kemudian putus asa terhadap Tuhan. Misalnya, banyak orang yang mencari pekerjaan atau melamar pekerjaan kepada seseorang, namun pekerjaan diberikan kepada orang yang dipandang lebih layak. Lantas jika orang lain yang tidak memperoleh pekerjaan tadi mengatakan bahwa ia telah berdoa dengan khusyu untuk itu, dalam hal ini mungkin saja orang yang mendapat pekerjaan itu berdoa lebih khusyu lagi sehingga berhasil mendapatkan pekerjaan itu. Demikian pula, dalam urusan duniawi lainnya yang mana sifatnya terbatas. Begitu juga pekerjaan mungkin hanya satu, dua atau beberapa yang jumlahnya terbatas. Namun lain halnya dengan Allah Ta’ala Yang Maha Tidak terbatas dan Tidak Berakhir. Jika kita memohon kepada Allah Ta’ala, maka setiap orang dapat memperolehnya dengan syarat dipanjatkan dengan idhtiraab (rintih pilu) dan mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Untuk itulah Allah Ta’ala berfirman, “Taatlah pada perintah-Ku!” Maka dari itu, hargailah keluhuran, kemuliaan dan keagungan Tuhan. Kenalilah berlian itu dan janganlah menganggapnya seperti kelereng. Jika itu dilakukan, Allah Ta’ala akan dapat diraih. Barangsiapa yang dapat meraih Allah Ta’ala, maka setiap nikmat dunia akan berada di bawah kakinya.

Walhasil, adalah tugas seorang hamba untuk menaati setiap hukum Ilahi. Janganlah menganggap satu bulan dalam setahun ini cukup. Janganlah beranggapan dengan hanya hadir pada Jumat terakhir pada bulan Ramadhan ini cukup untuk terkabulnya doa-doa melainkan bertawakkallah seutuhnya kepada Allah Ta’ala dan janganlah berkhianat kepada-Nya, dengan begitu kita akan termasuk orang-orang yang akan mendapatkan hidayah secara hakiki yang berkenaan dengannya Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia akan menjadi sahabat dan pelindung mereka serta memenuhi segala keperluan mereka. Inilah janji Allah Ta’ala.

Walhasil, kita yang telah beriman kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) memiliki tanggung jawab untuk meninggikan mutu ibadah kita. Standar yang telah kita capai pada Ramadhan kali ini atau telah kita upayakan untuk sampai, janganlah biarkan turun lagi dari itu. Tinggikanlah terus mutu shalat kita, teguhkan kehadiran dalam ibadah Jumat, taatilah hukum-hukum Tuhan dan usahakanlah senantiasa termasuk orang-orang baik yang berdoa kepada Allah Ta’ala supaya kita dapat meraih Allah Ta’ala. Artinya, hendaknya kita berdoa kepada-Nya guna menemukan perjumpaan dengan-Nya. Semoga ibadah-ibadah dan shalat-shalat kita dapat menjadi sarana perjumpaan kita dengan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat meraih mutu-mutu itu.  [aamiin]

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah     : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK); Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab berpegang teguh dalam Kitab dan Sunnah (كِتَاب الِاعْتِصَامِ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ). Shahih Muslim: عن طارق بن شهاب قال قالت اليهود لعمر لو علينا معشر يهود نزلت هذه الآية { اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا } نعلم اليوم الذي أنزلت فيه لاتخذنا ذلك اليوم عيدا قال فقال عمر فقد علمت اليوم الذي أنزلت فيه والساعة وأين رسول الله صلى الله عليه و سلم حين نزلت نزلت ليلة جمع ونحن مع رسول الله صلى الله عليه و سلم بعرفات

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jumat bab saat di hari Jumat, no. 935. Baginda Nabi Muhammad saw bersabda, ‏ “‏ إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ ‏”‏ ‏‘inna fil jumu’ati saa’atan laa yuwaafiquhaa ‘abdun Muslimun qaa-imun yushalli yas-aluLlahu ‘azza wa jalla syai-an illa a’thaahu iyyaahu.’ – “Ada suatu saat (detik) di hari Jumat ketika apapun yang dimohonkan oleh seorang hamba yang Muslim kepada Allah Ta’ala pasti akan dikabulkan oleh-Nya.”

[3] Sunan Ad-Daruquthni (سنن الدارقطني), Kitab tentang Awal Kitab Jumat (كتاب أول كتاب الجمعة), bab (باب من تجب عليه الجمعة) karya (علي بن عمر أبو الحسن الدارقطني البغدادي)

[4] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, h. 339, Hadits Abil Ja’ad adh-Dhamiri, hadits 14951, terbitan Alamul Kutub, Beirut 1998

[5] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, Musnad Penduduk Bashrah, Hadits Samurah ibn Jundab, hadits 19253, terbitan Alamul Kutub, Beirut 1998

[6] Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah (صحيح مسلم، كتاب الطهارة), bab ash-Shalawaatul khams wal Jumu’ah ilal Jumu’ah wa ramadhan ilar ramadhan mukaffaraatun, 551. الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. ‘ash-shalawaatul khamsu wal jumu’atu ilal jumu’ati wa ramadhaanu ila ramadhaana mukaffaraatun maa bainahunna’ idza jtanabal kabaa-ir.’ – “Shalat fardhu yang lima, Jumat hingga Jumat berikutnya dan suatu Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi sarana penghapus dosa bagi seseorang selama ia senantiasa menghindari dosa-dosa besar.”

[7] Tafsir Kabir