Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 3) – Manusia-Manusia Istimewa Seri 97

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 97)

Pembahasan lanjutan mengenai salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

  • Peranan Hadhrat Ali (ra) dalam perang Uhud
  • Peranan dalam perang Khandaq
  • Peranan dalam perjanjian Hudaibiyah: sebagai juru tulis.
  • Peranan di perang Khaybar melawan gabungan suku-suku Yahudi
  • Kejadian pada Fath Makkah (Penaklukan Makkah)
  • Peranan di perang Hunain menghadapi gabungan suku-suku di Thaif
  • Peranan di Ghazwah Tabuk dalam usaha Nabi Muhammad (saw) menghadapi ancaman invansi Romawi
  • Sariyyah (ekspedisi militer) ke Banu Thayyi untuk menghancurkan berhala.
  • Pengutusan ke Yaman sebagai Qadhi (Hakim) dan pendakwah.

Baca juga:
Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 1)
Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 2)

Khotbah Jumat, Masroor Ahmad

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 11 Desember 2020 (Fatah 1399 Hijriyah Syamsiyah/26 Rabi’ul Akhir 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Saya tengah menyampaikan serangkaian khotbah tentang Hadhrat ‘Ali (ra). Hari ini kembali saya lanjutkan tentang beliau dan juga dalam khotbah-khotbah selanjutnya. Insya Allah.

Pada perang Uhud ketika Ibnu Qumai-ah (ابْنُ قُمَيْئَةَ اللَّيْثِيُّ) mensyahidkan Hadhrat Mush’ab bin Umair (مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ), dia beranggapan sudah mensyahidkan Rasulullah (saw). Dengan demikian dia kembali pada Quraisy dan berkata, قَتَلْتُ مُحَمَّدًا “Sudah kubunuh Muhammad (saw)!” Ketika Hadhrat Mush’ab syahid, Rasulullah (saw) memberikan bendera pada Hadhrat ‘Ali (ra) lalu Hadhrat ‘Ali dan kaum Muslim yang lainnya berperang.[1]

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa pada perang Uhud pembawa bendera orang-orang musyrik ialah Thalhah bin Abu Thalhah yang menantang duel Hadhrat Ali. Beliau (ra) pun maju dan menebasnya hingga tumbang ke tanah. لَمَّا قَتَلَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَصْحَابَ الالويه، ابصر رسول الله ص جَمَاعَةً مِنْ مُشْرِكِي قُرَيْشٍ، فَقَالَ لِعَلِيٍّ: احْمِلْ عَلَيْهِمْ، فَحَمَلَ عَلَيْهِمْ، فَفَرَّقَ جَمْعَهُمْ، وَقَتَلَ عَمْرَو بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْجُمَحِيَّ قَالَ: ثُمَّ أَبْصَرَ رسول الله ص جَمَاعَةً مِنْ مُشْرِكِي قُرَيْشٍ، فَقَالَ لِعَلِيٍّ: احْمِلْ عَلَيْهِمْ، فَحَمَلَ عَلَيْهِمْ فَفَرَّقَ جَمَاعَتَهُمْ، وَقَتَلَ شَيْبَةَ بن مالك احد بنى عَامِرِ بْنِ لُؤَيٍّ، فَقَالَ جِبْرِيلُ:  Hadhrat ‘Ali menebas satu per satu pembawa bendera kaum Musyrik Quraisy. Melihat satu kelompok kaum Musyrik Quraisy, Rasulullah (saw) memerintahkan Hadhrat ‘Ali untuk menyerangnya. Hadhrat ‘Ali membunuh Amru bin Abdullah al-Jumahi dan membuat mereka berpencar. Kemudian Rasulullah (saw) memerintahkan beliau untuk menyerang sekumpulan kaum Quraisy yang lain. Hadhrat ‘Ali membunuh Syaibah bin Malik sehingga Jibril berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ هَذِهِ لَلْمُوَاسَاةُ “Ya Rasulullah (saw), orang ini benar-benar pantas dikasihi.” Maksudnya, Jibril berkata mengenai Hadhrat Ali.

Rasulullah (saw) bersabda, إِنَّهُ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ “Betul, ia (Ali) dari aku dan aku dari Ali.”

Kemudian Jibril berkata, وَأَنَا مِنْكُمَا “Aku dari kalian berdua.”[2]

Hadhrat ‘Ali meriwayatkan, لَمَّا انْهَزَمَ النَّاسُ يَوْمَ أُحُدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ (ص) لَحِقَنِي مِنَ الْجَزَعِ عَلَيْهِ مَا لَمْ أَمْلِكْ نَفْسِي وَ كُنْتُ أَمَامَهُ أَضْرِبُ بِسَيْفِي بَيْنَ يَدَيْهِ فَرَجَعْتُ أَطْلُبُهُ فَلَمْ أَرَهُ فَقُلْتُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لِيَفِرَّ وَ مَا رَأَيْتُهُ فِي الْقَتْلَى وَ أَظُنُّهُ رُفِعَ مِنْ بَيْنِنَا إِلَى السَّمَاءِ فَكَسَرْتُ جَفْنَ سَيْفِي وَ قُلْتُ فِي نَفْسِي لَأُقَاتِلَنَّ بِهِ عَنْهُ حَتَّى أُقْتَلَ وَ حَمَلْتُ عَلَى الْقَوْمِ فَأَفْرَجُوا فَإِذَا أَنَا بِرَسُولِ اللَّهِ (ص) قَدْ وَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ “Pada Perang Uhud ketika orang-orang menyingkir bercerai-berai dari Rasulullah (saw), saya mulai memeriksa mayat para syuhada. Saya tidak jumpai Rasulullah (saw) diantara mereka. Saya berkata, ‘Sumpah demi Tuhan, Rasulullah (saw) tidak kabur dan tidak pula saya mendapati beliau di antara syuhada. Namun, Allah Taala marah pada kita sehingga Dia mengangkat Nabi-Nya. Jadi, sekarang sebaiknya saya berperang sehingga saya terbunuh.’ Kemudian saya menghancurkan sarung pedang saya dan menyerang kaum Kuffar. Mereka kocar-kacir kesana-kemari. Maka apa yang saya lihat, ternyata Rasulullah (saw) ada di tengah-tengah mereka.”[3]

Ini kisah kecintaan dan kesetiaan yang sudah dimulai semenjak kecil dan menampakkan wujudnya dalam setiap kesempatan.

Berkaitan dengan luka yang dialami Rasulullah (saw) dalam Perang Uhud dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa kepada Hadhrat Sahl bin Sa’d ditanya tentang luka Rasulullah (saw). Beliau berkata, “Jika Anda bertanya pada saya maka sumpah demi Tuhan, saya benar-benar mengetahui siapa yang mencuci luka Rasulullah (saw). Yakni semua pemandangan ini terjadi di depan mata saya. Saya tahu siapa yang menyiramkan air dan siapa yang mengoleskan obat.”

Hadhrat Sahl berkata, “Putri Rasulullah (saw), Hadhrat Fathimah yang mencuci luka dan Hadhrat ‘Ali yang menyiramkan airnya. Ketika Hadhrat Fathimah melihat bahwa air justru membuat darah keluar maka beliau mengambil sepotong tikar dan membakarnya. Kemudian menempelkannya ke luka dan darah pun berhenti mengalir. Pada hari itu gigi depan beliau (saw) juga patah, wajah beliau (saw) juga luka dan helm perang beliau pecah di kepala.”[4]

Hadhrat Said bin Musayyab meriwayatkan bahwa Hadhrat ‘Ali mendapat 16 luka dalam perang Uhud.[5]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan bahwa di bawah musibah-musibah tersimpan khazanah-khazanah keberkatan. Dalam menjelaskan topik ini beliau (ra) menjelaskan, “Sepulang dari Perang Uhud, Hadhrat ‘Ali memberikan pedangnya pada Hadhrat Fatimah dan berkata, ‘Cucilah pedang ini, hari ini pedang ini sudah melakukan suatu pekerjaan besar.’

Rasulullah (saw) mendengar apa yang dikatakan Hadhrat ‘Ali ini. Beliau (saw) bersabda, ‘Ali, bukan pedangmu saja yang bekerja, masih banyak saudara-saudaramu yang lain yang pedangnya memperlihatkan kemampuannya.’ Beliau (saw) menyebut 6 (enam) atau 7 (tujuh) nama sahabat seraya bersabda, ‘Pedang mereka juga tidak kurang dari pedangmu.’”[6]

Artinya, setelah melewati musibah-musibah ini mereka memperoleh kemenangan.

Perang Khandak terjadi pada Syawal 5 Hijriyah. Pada perang itu ketika laskar kufar mengepung Madinah, maka para pemimpin mereka sepakat untuk menyerang bersama-sama. Mereka mencari sebuah tempat yang sempit di khandak (parit) sehingga dari situ para penunggang kuda mereka bisa mencapai Rasulullah (saw) dan para sahabat. Namun mereka tidak mendapati tempat yang sempit (dari parit). Mereka berkata, “Ini adalah strategi yang sampai saat ini belum pernah dilakukan oleh seorang Arab pun.” Mereka diberitahu bahwa bersama Rasulullah (saw) ada seorang Farsi (Persia) yang memberi masukan pada Rasulullah (saw) untuk menggali parit. Mereka berkata bahwa ini adalah strateginya. Kemudian mereka sampai di tempat sempit yang luput dari perhatian umat Islam. Ikrimah bin Abu Jahl, Naufal bin Abdullah, Dhirar bin Khaththab, Hubairah bin Abu Wahab dan Amru bin Abdu Wudd menyeberangi khandak (parit) dari situ. Amru bin Abdu Wudd (عَمْرو بن عبد وُدّ) menantang untuk bertarung seraya membaca syair: وَلَقَدْ بَحِحْتُ مِنْ النِّدَاءِ بِجَمْعِكُمْ هَلْ مِنْ مُبَارِزْ yang artinya, “Suaraku habis dalam menyeru mereka namun tidak ada yang maju bertarung.”

Sebagai jawabannya Hadhrat ‘Ali membaca syair (sajak):

لَا تَعْجَلَنَّ فَقَدْ أَتَاكَ * مُجِيبُ صَوْتِكَ غَيْرُ عَاجِزْ

Laa ta’jalanna faqad ataaka – mujiibu shautika ghairu ‘aajiz

في نِيَّةٍ وَبَصِيرَةٍ * وَالصِّدْقُ مَنْجَى كُلِّ فَائِزْ

Fii niyyatin wa bashiiratin – wash shidqu manja kulli faa-iz

إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أُقِيمَ * عَلَيْكَ نَائِحَةَ الْجَنَائِزْ

Inni la-arju an uqiima – ‘alaika naa-ihatal janaa-iz

مِنْ ضَرْبَةٍ نَجلاء * يَبْقَى ذكرها عِنْدَ الْهَزَاهِزْ

Min dharbatin najlaa-a – yabqa dzakaraha ‘indal hazaahiz

“Jangan kau tergesa-gesa karena sudah datang padamu…seseorang menjawab seruanmu yang tak perlihatkan ketidakberdayaan dan kelemahan.

Ia datang dengan tekad kuat dan penglihatan ruhani sempurna sebagai sarana najat bagi setiap yang teguh dan pemberani yang menang.

Aku benar-benar yakin ‘kan kukumpulkan kaum wanita yang melakukan nauhah (meratapi) pada mayat-mayat untukmu.

Aku akan melukaimu sehingga senantiasa dikenang dalam sejarah perang.”[7]

Ketika Hadhrat ‘Ali berkata, “Wahai Rasulullah (saw), saya akan maju menghadapinya.” Rasululah (saw) pun memberikan pedangnya pada beliau dan memasangkan sorban pada beliau. Lalu beliau (saw) berdoa, “Ya Allah, tolonglah dia dalam menghadapinya, yakni Amru bin Abdu Wudd.” Hadhrat ‘Ali maju menghadapinya dan keduanya mendekat satu sama lain. Ketika keduanya bertarung debu beterbangan. Hadhrat ‘Ali membunuhnya dan mengucapkan Allahu Akbar dengan suara lantang. Dengan demikian dapat diketahui bahwa Hadhrat ‘Ali telah membunuhnya. Teman-temannya melarikan diri dan berhasil menyelamatkan diri berkat kuda-kudanya.

Berkaitan dengan ini, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) juga menulis, “Amru adalah orang yang terkenal mahir menggunakan pedang. Karena keberaniannya, ia dianggap setara dengan 1.000 pasukan.[8] Disebabkan oleh kekalahan yang dialami pada perang Badr sehingga dadanya dipenuhi dengan kobaran dengki dan dendam terhadap umat Islam. Begitu sampai di medan perang, dengan pembawaan yang penuh keangkuhan dia menantang untuk bertarung satu lawan satu. Dia berkata, ‘Adakah yang akan maju bertarung denganku?’[9]

Sebagian sahabat menghindari bertarung dengannya. Namun dengan izin Rasulullah (saw), Hadhrat ‘Ali maju untuk menghadapinya.[10] Rasulullah (saw) memberikan pedangnya pada beliau dan mendoakan beliau.[11] Hadhrat ‘Ali maju dan berkata pada Amru, ‘Saya dengar kamu berjanji jika ada diantara Quraisy yang meminta dua hal padamu, pasti akan kamu kabulkan salah satunya.’

Amru pun berkata, ‘Iya benar.’

Hadhrat ‘Ali berkata, ‘Maka dari itu hal pertama adalah jadilah Muslim dan jadilah pewaris nikmat-nikmah Allah Taala dengan menerima Rasulullah (saw).’

Amru berkata, ‘Ini tidak mungkin terjadi.’

Hadhrat ‘Ali berkata, ‘Jika kamu tidak setuju maka majulah, bersiaplah bertarung denganku.’[12]

Atas hal itu dia tertawa dan berkata, ‘Aku tidak pernah berpikir akan ada orang yang sanggup mengatakan ini padaku.’[13]

Kemudian dia bertanya nama Hadhrat Ali. Hadhrat ‘Ali memberitahunya. Amru pun berkata, ‘Keponakan! Kamu masih anak-anak. Aku tidak mau menumpahkan darahmu. Kirimlah seseorang dari orang-orang dewasamu.’[14]

Hadhrat ‘Ali menjawab, ‘Kamu tidak mau menumpahkan darahku tapi aku tidak keberatan menumpahkan darahmu.’[15]

Dengan demikian Amru begitu bersemangat turun dari kudanya. Dia yang membabi-buta memotong kaki kudanya sendiri supaya tidak bisa kabur dengan kuda. Kemudian dia dengan menggila bagaikan kobaran api menyerang Hadhrat ‘Ali. Dia menerjang Hadhrat ‘Ali dengan pedangnya begitu kerasnya sehingga pedangnya membelah perisai dan mengenai kening Hadhrat ‘Ali sehingga melukai kening Hadhrat Ali. Namun bersamaan dengan itu Hadhrat ‘Ali mengucapkan takbir dan menebasnya dengan pedang sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa menyelamatkan diri dan pedang Hadhrat ‘Ali menekan bahunya lalu memotongnya sehingga terlepas dan dia jatuh bergelimpangan lalu mati.[16]

Setelah kematian Amru bin Abdu Wudd, kaum kuffar mengirim pesan kepada Rasulullah (saw) bahwa mereka akan membeli mayatnya seharga 10 ribu dirham. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bawalah mayatnya secara cuma-cuma. Kami tidak bisa menerima hasil penjualan mayat.’”[17]

Hadhrat Bara bin Azib rh (الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ) meriwayatkan, لَمَّا صَالَحَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَهْلَ الْحُدَيْبِيَةِ كَتَبَ عَلِيٌّ بَيْنَهُمْ كِتَابًا فَكَتَبَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ketika Rasulullah (saw) mengadakan Perjanjian Hudaibiyah, Hadhrat ‘Ali menulis perjanjian diantara mereka dan di dalamnya beliau menulis nama Rasulullah (saw) ‘Muhammad Rasulullah (saw)’. فَقَالَ الْمُشْرِكُونَ لاَ تَكْتُبْ Musyrikin berkata, لاَ تَكْتُبْ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ jangan tulis ‘Muhammad Rasulullah’. لَوْ كُنْتَ رَسُولاً لَمْ نُقَاتِلْكَ‏ Kalau memang dia Rasul, tentu kami tidak memeranginya.

Rasulullah (saw) bersabda pada Hadhrat Ali, امْحُهُ “Hapuslah.” Hadhrat ‘Ali berkata, مَا أَنَا بِالَّذِي أَمْحَاهُ‏ “Saya bukanlah orang yang sanggup menghapusnya.” فَمَحَاهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ، وَصَالَحَهُمْ عَلَى أَنْ يَدْخُلَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، وَلاَ يَدْخُلُوهَا إِلاَّ بِجُلُبَّانِ السِّلاَحِ، فَسَأَلُوهُ مَا جُلُبَّانُ السِّلاَحِ فَقَالَ الْقِرَابُ بِمَا فِيهِ Kemudian Rasulullah (saw) menghapusnya dengan tangan beliau sendiri dan mengadakan perjanjian dengan mereka dengan syarat, yakni beliau (saw) dan para sahabat akan tinggal selama 3 hari di Makkah dan masuk Makkah dengan menaruh pedang mereka dalam julubbaan. Orang-orang bertanya, “Apa itu julubbaan?” Beliau menjawab, “julubbaan adalah wadah yang di dalamnya diletakkan pedang dan sarungnya.”[18]

Kejadian tersebut dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) dengan sedikit rinci. Beliau bersabda, “Ketika Rasulullah (saw) hadir dalam majelis Perjanjian Hudaibiyah dan pihak Kuffar mengajukan beberapa persyaratan, para sahabat memendam api amarah di dalam hati. Dada mereka tengah terbakar api kemarahan atas kezaliman yang dilakukan oleh kaum kuffar sejak 20 tahun lalu. Pedang para sahabat sudah keluar dari sarungnya, mereka ingin mendapatkan kesempatan untuk membalas kezaliman yang telah dilakukan oleh kaum kuffar atas mereka, namun Rasulullah (saw) menyetujui persyaratan yang diajukan oleh pihak Kuffar. Pihak Kuffar mengajak untuk berdamai dan Rasul bersabda, ‘Baik sekali, mari kita berdamai.’

Pihak kuffar menetapkan beberapa syarat diantaranya, ‘Pertama, tahun ini kalian (umat Islam) tidak bisa melakukan umrah.’

Rasul bersabda, ‘Baiklah, tahun ini kami tidak akan umrah.’

Syarat kedua, ‘Ketika kaum Muslim melakukan umrah pada tahun berikutnya, tidak dapat tinggal lebih dari tiga hari di Makkah.’

Rasul bersabda, ‘Baiklah, saya setuju dengan persyaratan tersebut.’

Syarat ketiga, ‘Umat Muslim tidak diizinkan untuk memasuki Makkah dengan membawa senjata.’

Rasul bersabda, ‘Baiklah, kami tidak akan masuk ke Makkah dengan membawa senjata.’

Saat itu tengah menempuh perjanjian. Saat itu hati para sahabat tengah diliputi api kemarahan, namun mereka tidak dapat berbuat apa-apa.

Hadhrat ‘Ali ditetapkan untuk menulis surat perjanjian. Hadhrat ‘Ali menulis, ‘Pihak pertama yang mengisi perjanjian adalah Muhammad Rasulullah (saw) dan para sahabatnya sedangkan pihak kedua adalah tokoh si fulan dan fulan dari Makkah.

Mendengar nama Rasulullah, pihak Kuffar emosi dan berkata, ‘Kami tidak dapat menoleransi hal ini, karena kami tidak meyakini Muhammad sebagai Rasulullah. Jika kami meyakini hal ini, untuk apa kami bertempur dengannya. Adapun kami tengah membuat perjanjian dengan beliau sebagai Muhammad Bin Abdullah, bukan sebagai Muhammad Rasulullah. Untuk itu sebutan Rasulullah (saw) tidak bisa dituliskan dalam surat perjanjian ini.’

Saat itu emosi para sahabat sudah mencapai puncaknya dan amarah mereka membuat mereka bergetar. Para sahabat beranggapan, ‘Sekarang Allah Ta’ala memberikan satu kesempatan lagi dan Rasulullah (saw) tidak akan menyetujuinya sehingga kita akan mendapatkan kesempatan untuk bertempur dan melampiaskan kekesalan hati pada mereka.’

Namun ternyata Rasulullah (saw) bersabda, ‘Benar apa yang mereka katakan, coret saja kata Rasulullah (saw) dari surat tersebut.’

Rasul bersabda kepada Hadhrat Ali, ‘Ali! Hapus saja kata Rasulullah!’

Namun Hadhrat ‘Ali merupakan teladan yang sangat luhur dalam memperlihatkan kesetiaan dan ketaatan, hatinya bergetar, air mata mengalir dan berkata, ‘Saya tidak akan mampu untuk menghapus kata tersebut.’

Terkait:   Riwayat 'Umar bin Khattab (Seri 13)

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Berikan saja kertas [lembaran untuk penulisan] itu padaku.’ Lalu Rasulullah (saw) mengambil kertasnya dan menghapus kata Rasulullah (saw) dengan tangan beliau (saw) sendiri.’”

Berkenaan dengan perang Khaibar yang terjadi pada bulan Muharram dan Safar 7 Hijriah, terdapat riwayat panjang dalam Sahih Muslim. Hadhrat Salamah bin Akwa meriwayatkan, فَلَمَّا قَدِمْنَا خَيْبَرَ قَالَ خَرَجَ مَلِكُهُمْ مَرْحَبٌ يَخْطِرُ بِسَيْفِهِ وَيَقُولُ “Ketika kami tiba di Khaibar, pimpinan pihak musuh yang bernama Marhab maju sambil mengibas-ngibaskan pedangnya. Ia berkata, قَدْ عَلِمَتْ خَيْبَرُ أَنِّي مَرْحَبُ شَاكِي السِّلاَحِ بَطَلٌ مُجَرَّبُ إِذَا الْحُرُوبُ أَقْبَلَتْ تَلَهَّبُ ‘Khaibar tahu, aku Marhab, pemberani dan berpengalaman.’”

Perawi berkata, وَبَرَزَ لَهُ عَمِّي عَامِرٌ فَقَالَ “Paman saya, Amir, tampil untuk menghadapinya dan berkata, قَدْ عَلِمَتْ خَيْبَرُ أَنِّي عَامِرٌ شَاكِي السِّلاَحِ بَطَلٌ مُغَامِرٌ ‘Khaibar tahu, aku Amir, seorang pemberani yang tak segan memasukkan diri kedalam marabahaya.’”

Perawi berkata, فَاخْتَلَفَا ضَرْبَتَيْنِ فَوَقَعَ سَيْفُ مَرْحَبٍ فِي تُرْسِ عَامِرٍ وَذَهَبَ عَامِرٌ يَسْفُلُ لَهُ فَرَجَعَ سَيْفُهُ عَلَى نَفْسِهِ فَقَطَعَ أَكْحَلَهُ فَكَانَتْ فِيهَا نَفْسُهُ “Keduanya saling menyerang, pedang Marhab mengenai tamengnya Amir. Ketika Amir akan menyerangnya dari arah bawah, pedang beliau sendiri yang mengenai beliau yang menyebabkan terputusnya urat nadi beliau sehingga beliau syahid karena itu.”

Salamah berkata, فَخَرَجْتُ فَإِذَا نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُونَ “Ketika saya berangkat, beberapa sahabat Nabi berkata, بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ قَتَلَ نَفْسَهُ “Amalan Amir telah batil, ia telah membunuh diri sendiri.” فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَنَا أَبْكِي فَقُلْتُ Lalu saya datang ke hadapan Rasulullah (saw) sambil menangis dan berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ بَطَلَ عَمَلُ عَامِرٍ “Wahai Rasulullah! Apakah amalan Amir telah sia-sia?”

Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ قَالَ ذَلِكَ “Siapa yang mengatakan demikian?”

Saya berkata, نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِكَ “Beberapa sahabat Tuan.”

Rasul bersabda, كَذَبَ مَنْ قَالَ ذَلِكَ بَلْ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ “Yang mengatakan demikian adalah keliru. Baginya [bagi Amir] terdapat dua ganjaran.”

Rasulullah (saw) mengutus saya kepada Hadhrat Ali. Mata Hadhrat ‘Ali bengkak. Rasulullah (saw) bersabda, لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلاً يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أَوْ يُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ “Saya akan berikan pedang ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Saya pergi kepada Hadhrat ‘Ali lalu mengajak serta beliau, mata beliau bengkak yakni mata beliau bengkak karena sakit. Lalu saya mengajak Hadhrat ‘Ali ke hadapan Rasulullah (saw). Rasul mengoleskan air liur beliau pada mata Hadhrat ‘Ali dan seketika sembuh. Rasulullah (saw) memberikan pedang pada Hadhrat Ali.

Marhab muncul dan berkata, قَدْ عَلِمَتْ خَيْبَرُ أَنِّي مَرْحَبُ شَاكِي السِّلاَحِ بَطَلٌ مُجَرَّبُ إِذَا الْحُرُوبُ أَقْبَلَتْ تَلَهَّبُ ‘Khaibar tahu, aku Marhab, pemberani dan berpengalaman.’

Hadhrat ‘Ali berkata, أَنَا الَّذِي سَمَّتْنِي أُمِّي حَيْدَرَهْ كَلَيْثِ غَابَاتٍ كَرِيهِ الْمَنْظَرَهْ أُوفِيهِمُ بِالصَّاعِ كَيْلَ السَّنْدَرَهْ ‘Ana lladzi sammatni ummi Haidarah. Kalaitsi ghaabaatin kariihil manzharah. Au fiihim bish shaa’ kailas sandarah. – “Aku yang ibuku menamaiku Haidar. Bak singa hutan berwajah garang. Kuganti satu sha dengan sandarah.”

Ini merupakan satu perumpamaan Bahasa Arab yang artinya mungkin saja seperti ganti satu seer dengan 1,4 seer. Perumpamaan yang digunakan dalam Bahasa Urdu yakni membalas bata dengan batu [membalas satu serangan dengan serangan lebih dahsyat]. Arti kata sandarah adalah mikyaalun waasi’ yakni ukuran yang sangat besar. Satu sha sama dengan 3 seer. Sandrah ukurannya besar.

Perawi mengatakan, فَضَرَبَ رَأْسَ مَرْحَبٍ فَقَتَلَهُ ثُمَّ كَانَ الْفَتْحُ عَلَى يَدَيْهِ “Hadhrat ‘Ali memukul kepala Marhab dan membunuhnya sehingga mendapatkan kemenangan berkat tangan Hadhrat Ali.” (Riwayat Muslim)[19]

Dalam menjelaskan kisah ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Pada perang Khaibar, Hadhrat ‘Ali mendapatkan kesempatan. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Pada hari ini saya akan memberikan kesempatan kepada orang yang mencintai Allah Ta’ala dan yang dicintai Tuhan. Saya akan serahkan pedang pada orang yang Allah berkati.’

Hadhrat ‘Umar berkata, ‘Saat itu saya ada dalam majelis tersebut. Saya lalu tinggikan leher saya, mungkin dengan begitu Rasulullah (saw) akan melihat saya dan memberikan pedang tersebut kepada saya. Namun meskipun beliau melihat saya, tapi terdiam. Lalu saya tinggikan lagi kepala saya dan Rasul mengarahkan pandangan kepada saya dan terdiam. Hingga datang Ali, mata beliau sedang kesakitan. Rasulullah (saw) bersabda, “Ali, maju kemari.” Hadhrat ‘Ali menghadap Rasulullah (saw) lalu Rasulullah (saw) mengusapkan air liur beliau pada mata Hadhrat ‘Ali dan bersabda, “Semoga Allah Ta’ala menyembuhkan matamu. Ambillah pedang yang Allah Ta’ala serahkan padamu.”’”

Pada tempat lain, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan riwayat tersebut, “Sekitar 5 (lima) bulan setelah kdari peristiwa Hudaibiyah, Rasul memutuskan supaya Yahudi dikeluarkan dari Khaibar yang berjarak cukup jauh dari Madinah, dari tempat tersebut juga dapat merencanakan konspirasi dengan mudah untuk menentang Madinah. Lalu beliau (saw) berangkat ke Khaibar bersama dengan 1.600 sahabat pada bulan Agustus 628.

Khaibar merupakan kota yang tertutup dengan banteng-benteng karena pada keempat penjurunya terdapat benteng-benteng di tempat-tempat tingginya. Tidak mudah untuk menaklukan kota yang kokoh seperti itu dengan jumlah pasukan sedikit. Sejumlah area menara penjaga yang kecil dapat ditaklukan setelah pertempuran kecil saja, namun ketika semua orang Yahudi bersatu lalu berada di balik benteng pusat kota, maka segala upaya untuk menaklukannya bisa mulai sia-sia.[20]

Suatu hari Rasulullah (saw) dikabarkan oleh Allah Ta’ala bahwa penaklukan kota tersebut telah ditakdirkan dengan perantaraan Hadhrat Ali. Rasul mengumumkan pada pagi hari, ‘Saya akan berikan bendera hitam ini kepada orang yang dicintai oleh Tuhan, Rasul-Nya dan umat Muslim.’ Allah Ta’ala telah menakdirkan penaklukan kota ini melalui perantaraan orang tersebut. Pada pagi berikutnya Rasulullah (saw) memanggil Hadhrat ‘Ali dan menyerahkan bendera tersebut kepada Hadhrat ‘Ali lalu menyerang benteng dengan membawa laskar sahabat. Meskipun Yahudi berada di balik benteng yang tertutup, namun pada saat itu Allah Ta’ala menganugerahkan kekuatan sedemikian rupa kepada Hadhrat ‘Ali dan para sahabat sehingga benteng dapat ditaklukan sebelum tiba waktu sore.”[21]

Dalam menjelaskan perihal Hadhrat ‘Ali dan kaitannya dengan peristiwa tadi, pada kesempatan lain Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika ada masalah dalam penaklukan Khaibar, Rasulullah (saw) memanggil Hadhrat ‘Ali dan ingin menyerahkan kepemimpinan laskar Islam kepada beliau, namun saat itu mata Hadhrat ‘Ali tengah sakit (Di sini di singgung juga mengenai sakitnya mata beliau) dan disebebkan oleh sakit parah, sehingga mata beliau bengkak. Ketika Rasulullah (saw) melihat Hadhrat ‘Ali dalam kondisi demikian, lalu bersabda, ‘Kemarilah!’

Hadhrat ‘Ali pun menghadap. Kemudian Hadhrat Rasulullah (saw) mengoleskan air liur beliau kemata Hadhrat ‘Ali dan saat itu juga mata beliau sembuh.”[22]

Berkenaan dengan tangan beberkat Rasulullah (saw) untuk menyembuhkan terdapat kisah lainnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Sebagaimana kita saksikan terdapat pemandangan di dunia yang dengan karunia Allah Ta’ala, sebagian orang yang sakit mendapatkan kesembuhan secara luar biasa, tanpa menggunakan sarana biasa atau mereka mendapatkan kesembuhan pada kesempatan tersebut, yakni ketika sarana-sarana biasa tidak memberikan manfaat.

Hal seperti itu ada dalam peristiwa yang kita dapati dalam kehidupan Rasulullah (saw) yang salah satu contoh kisah penyembuhan terdapat dalam peristiwa perang Khaibar. Ketika perang Khaibar, suatu saat Rasul bersabda kepada para sahabat, ‘Penaklukan Khaibar telah ditakdirkan bagi seseorang yang di tangannya akan saya berikan bendera.’

Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Ketika itu, saya mulai melihat dengan meninggikan kepala, barangkali Rasulullah (saw) akan memberikan bendera itu kepada saya.’

Namun Rasul tidak menyerahkan tugas tersebut kepada Hadhrat Umar. Tidak lama kemudian Hadhrat ‘Ali datang dengan mata yang sakit parah. Rasulullah (saw) mengoleskan air liur beliau di mata Hadhrat ‘Ali lalu mata beliau langsung sembuh. Kemudian Rasulullah (saw) menyerahkan bendera ke tangan Hadhrat ‘Ali dan menyerahkan tugas penaklukan Khaibar.”[23]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Satu contoh kisah Hadhrat ‘Ali sangat menambah keimanan. Hadhrat ‘Ali maju untuk menghadapi seorang komandan besar Yahudi dan terus bertarung cukup lama, karena Yahudi itu pun sangat mahir dalam bertarung, untuk itu pertarungan cukup sengit. Pada akhirnya Hadhrat ‘Ali dapat menumbangkannya lalu beliau menduduki dadanya dan bermaksud untuk memenggal leher Yahudi itu dengan pedang. Tidak lama kemudian Yahudi itu meludah wajah Hadhrat Ali. Hadhrat ‘Ali pun meninggalkannya. Yahudi tersebut sangat keheranan berpikir, ‘Ketika sudah dapat menguasaiku namun akhirnya dilepaskan lagi, padahal sudah ada kesempatan untuk membunuhku.’

Orang Yahudi itu bertanya kepada Hadhrat Ali, ‘Kenapa Anda melepaskan saya.’

Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Tadi saya bertarung denganmu demi Allah Ta’ala, namun ketika kamu meludahi wajahku, saya emosi dan beranggapan jika saat itu saya membunuhmu, maka itu dilakukan demi hawa nafsuku, bukan demi Allah Ta’ala. Untuk itu saya meninggalkanmu, untuk meredakan emosiku, sehingga pembunuhanmu jangan sampai karena hawa nafsuku.’

Betapa luar biasanya sikap beliau, ketika di medan perang beliau meninggalkan musuh yang ganas semata-mata karena jangan sampai pembunuhannya dilakukan karena hawa nafsunya, padahal seharusnya dilandasi demi meraih keridhaan Allah Ta’ala.”[24]

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Hadhrat ‘Ali mengumumkan ayat permulaan surat At Taubah pada kesempatan haji. Riwayatnya sebagai berikut: Abu Ja’far Muhammad Bin ‘Ali meriwayatkan (عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ، أَنَّهُ قَالَ:), لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَةٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ كَانَ بَعَثَ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ لِيُقِيمَ لِلنَّاسِ الْحَجَّ، قِيلَ لَهُ: “Ketika surat Baraah atau Surat At Taubah turun kepada Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Abu Bakr sebagai Amir Haji. Disampaikan kepada Rasulullah (saw), يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ بَعَثْتُ بِهَا إلَى أَبِي بَكْرٍ ‘Wahai Rasulullah! Jika Tuan mengirimkan Surat At-Taubah ini kepada Hadhrat Abu Bakr, supaya beliau membacakannya di sana. Rasul bersabda, لَا يُؤَدِّي عَنِّي إلَّا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي ‘Tidak ada yang dapat melakukan tugas ini dari pihakku selain salah seorang ahli baitku.’

ثُمَّ دَعَا عَلِيَّ ابْن أَبِي طَالِبٍ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: Kemudian, beliau (Rasulullah (saw)) memanggil Hadhrat ‘Ali dan bersabda, “اُخْرُجْ بِهَذِهِ الْقِصَّةِ مِنْ صَدْرِ بَرَاءَةٍ، وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ يَوْمَ النَّحْرِ إذَا اجْتَمَعُوا بِمِنًى، أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ كَافِرٌ، وَلَا يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلَا يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ فَهُوَ لَهُ إلَى مُدَّتِهِ“ ‘Bawalah apa yang dijelaskan pada permulaan Surat At-Taubah lalu umumkanlah, “Ketika orang-orang berkumpul pada saat Qurban di Mina bahwa seorang yang dalam keadaan kafir tidak akan masuk ke surga, setelah tahun ini seorang musyrik pun tidak diizinkan untuk berhaji, tidak juga diijinkan untuk bertawaf di Baitullah dengan tubuh telanjang dan siapapun yang telah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah, periode itu akan dipenuhi.’

فَخَرَجَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ عَلَى نَاقَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَضْبَاءَ، حَتَّى أَدْرَكَ أَبَا بَكْرٍ بِالطَّرِيقِ، فَلَمَّا رَآهُ أَبُو بَكْرٍ بِالطَّرِيقِ قَالَ:  Hadhrat ‘Ali (ra) pun menaiki unta Rasulullah (saw) yang bernama Adhba dan berangkat. Di jalan beliau menjumpai Hadhrat Abu Bakr. Ketika Hadhrat Abu Bakr melihat Hadhrat ‘Ali di perjalanan, berkata, أَأَمِيرٌ أَمْ مَأْمُورٌ؟ ‘A Amiirun am Ma-muurun?’ – ‘Anda telah ditetapkan sebagai Amir atau bertugas di bawah saya?’ Hadhrat ‘Ali berkata, بَلْ مَأْمُورٌ ‘Saya berada di bawah Anda.’ ثُمَّ مَضَيَا Keduanya berangkat. فَأَقَامَ أَبُو بَكْرٍ لِلنَّاسِ الْحَجَّ، وَالْعَرَبُ إذْ ذَاكَ فِي تِلْكَ السَّنَةِ عَلَى مَنَازِلِهِمْ مِنْ الْحَجِّ، الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، حَتَّى إذَا كَانَ يَوْمُ النَّحْرِ، قَامَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَأَذَّنَ فِي النَّاسِ بِاَلَّذِي أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ Keduanya berjalan lalu Hadhrat Abu Bakr melakukan pengawasan urusan haji orang-orang. Pada tahun tersebut penduduk Arab memasang tenda pada tempat-tempat dimana pada zaman jahiliyah mereka biasa memasang tenda. Ketika tiba hari kurban, Hadhrat ‘Ali berdiri lalu mengumumkan kepada orang-orang apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah (saw). Beliau berkata, أَيُّهَا النَّاسُ، إنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ كَافِرٌ، وَلَا يَحُجُّ بَعْدَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلَا يطوف بِالْبَيْتِ عُرْيَان، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ فَهُوَ لَهُ إلَى مُدَّتِهِ، وَأَجَّلَ النَّاسَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ مِنْ يَوْمِ أَذَّنَ فِيهِمْ، لِيَرْجِعَ كُلُّ قَوْمٍ إلَى مَأْمَنِهِمْ أَوْ بِلَادِهِمْ ، ثُمَّ لَا عَهْدٌ لِمُشْرِكِ وَلَا ذِمَّةٌ إلَّا أَحَدٌ كَانَ لَهُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ إلَى مُدَّةٍ، فَهُوَ لَهُ إلَى مُدَّتِهِ. فَلَمْ يَحُجَّ بَعْدَ ذَلِكَ الْعَامِ مُشْرِكٌ، وَلَمْ يَطُفْ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ ‘Wahai manusia! Tidak akan masuk surga bila orang itu kafir dan setelah tahun ini tidak ada orang musyrik yang akan melakukan haji. Tidak juga mereka diijinkan untuk tawaf di Baitullah dengan tubuh tubuh telanjang dan siapapun yang mengadakan perjanjian dengan Rasulullah (saw), periodenya akan dipenuhi. Sejak hari diumumkannya itu sampai 4 bulan berikutnya orang-orang diberikan tenggang waktu supaya setiap kaum kembali ke tempat-tempat yang aman atau daerahnya masing masing. Selanjutnya tidak akan ada lagi perjanjian untuk orang musyrik manapun dan tidak juga tanggungjawab, terkecuali perjanjian yang ada pada Rasulullah (saw) untuk suatu masa tertentu. Artinya, periode perjanjian yang masih ada, selain perjanjian tersebut tidak akan ada lagi perjanjian baru, akan dipenuhi sampai batas waktunya. Setelah tahun itu, tidak ada seorang musyrik pun yang beribadah haji, tidak juga ada yang bertawaf dengan telanjang.’ ثُمَّ قَدِمَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Lalu Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat ‘Ali keduanya menghadap Rasulullah (saw).”[25]

Riwayat selanjutnya pernah disampaikan dalam topik seorang sahabat lain, namun akan saya sampaikan lagi dalam kaitannya dengan Hadhrat Ali.

Hadhrat ‘Ali (ra) meriwayatkan, “Rasulullah (saw) mengutus saya, Zubair dan Miqdad bin Aswad. Beliau (saw) bersabda, انْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُوا رَوْضَةَ خَاخٍ، فَإِنَّ بِهَا ظَعِينَةً وَمَعَهَا كِتَابٌ، فَخُذُوهُ مِنْهَا ‘Berangkatlah kalian ketika kalian sampai di Raudhah Khah di sana ada seorang wanita yang tengah mengendarai unta, dia membawa sepucuk surat, ambillah surat itu darinya!’

Lalu kami berangkat, ketika kami sampai di Raudhah Khah, apa yang kami lihat di sana? Di sana ada seorang wanita yang sedang menunggangi unta.

Kami katakan kepada wanita itu untuk mengeluarkan suratnya. Dia mengatakan tidak membawa surat. Kami katakan, ‘Jika kamu tidak mau mengeluarkan suratnya maka akan kami paksa keluarkan.’

Lalu dia mengeluarkan surat tersebut dari rambutnya kemudian kami bawa surat itu kepada Rasulullah (saw), di dalamnya tertulis bahwa surat itu dari Hathib bin Abi Balta’ah ditujukan untuk kaum Musyrik Makkah mengabarkan perihal suatu rencana Rasulullah (saw).

Rasulullah (saw) memanggil Hathib dan menanyakan, يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا ‘Apa ini semua?’

Dia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ، لاَ تَعْجَلْ عَلَىَّ، إِنِّي كُنْتُ امْرَأً مُلْصَقًا فِي قُرَيْشٍ، وَلَمْ أَكُنْ مِنْ أَنْفُسِهَا، وَكَانَ مَنْ مَعَكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ لَهُمْ قَرَابَاتٌ بِمَكَّةَ، يَحْمُونَ بِهَا أَهْلِيهِمْ وَأَمْوَالَهُمْ، فَأَحْبَبْتُ إِذْ فَاتَنِي ذَلِكَ مِنَ النَّسَبِ فِيهِمْ أَنْ أَتَّخِذَ عِنْدَهُمْ يَدًا يَحْمُونَ بِهَا قَرَابَتِي، وَمَا فَعَلْتُ كُفْرًا وَلاَ ارْتِدَادًا وَلاَ رِضًا بِالْكُفْرِ بَعْدَ الإِسْلاَمِ‏ ‘Wahai Rasulullah (saw), mohon untuk tidak tergesa-gesa memutuskan mengenai diri saya. Saya adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan kalangan Quraisy dan hidup di tengah mereka namun saya bukan dari kalangan mereka (bukan kerabat secara hubungan darah dengan mereka).

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 19)

Hal kedua, Muhajirin yang bersama dengan tuan memiliki banyak kerabat di Makkah yang melalui mereka, mereka menyelamatkan rumah, harta dan segala prasarananya. Kekurangan hubungan kekeluargaan saya dengan kaum Quraisy membuat saya ingin berbuat jasa baik kepada orang-orang Makkah itu supaya mereka menghargai kebaikan saya ini dengan cara melindungi keluarga saya di Makkah. Saya tidak melakukan ini karena kekufuran atau kemurtadan saya, tidak juga saya munafik. Saya yakinkan tuan.’ Mendengar keterangan itu Rasulullah (saw) bersabda, لَقَدْ صَدَقَكُمْ ‘Dia telah memberikan keterangan yang benar pada kalian.’”[26]

Dalam menjelaskan peristiwa tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hanya seorang sahabat lugu yang menulis surat kepada penduduk Makkah menyampaikan, ‘Rasulullah (saw) bermaksud untuk berangkat dengan membawa 10 ribu laskar. Saya tidak tahu beliau akan pergi kemana, namun saya menyimpulkan tampaknya beliau akan berangkat ke Makkah. Saya memiliki beberapa kerabat di Makkah, saya berharap supaya kalian (penduduk Makkah) dapat menolong kerabatku itu dalam keadaan sulit dan tidak membiarkan kesulitan menimpa mereka.’

Belum saja surat tersebut tiba di Makkah, Rasulullah (saw) memanggil ‘Ali pada pagi hari dan bersabda, ‘Kalian pergi ke suatu tempat karena Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada saya di tempat tersebut ada seorang wanita yang tengah mengendarai kuda, dia membawa sepucuk surat yang akan disampaikannya kepada penduduk Makkah. Kalian ambil saja surat tersebut dari wanita itu dan segera bawa kepada saya.’

Ketika mereka akan pergi, Rasul bersabda, ‘Kalian jangan bersikap keras pada wanita itu. Paksa dia dan katakan bahwa kamu membawa surat, namun jika ia tetap tidak mau mengaku dan upaya kamu tidak mempan, kamu bisa bersikap keras padanya dan jika kamu terpaksa harus membunuhnya, silahkan saja, namun jangan biarkan surat itu sampai ke penerimanya.’

Hadhrat ‘Ali pun berangkat ke tempat itu. Wanita itu ada di tempat tersebut dan mulai menangis dan bersumpah dengan mengatakan, ‘Apakah saya pembangkang, penipu, silahkan saja kalian geledah.’

Mereka lalu menggeledah sakunya dan membongkar barang-barangnya namun tidak menemukan surat.

Sahabat berkata, ‘Tampaknya dia tidak membawa surat itu.’

Hadhrat ‘Ali geram dan berkata, ‘Diam kamu! Demi Tuhan! Rasul tidak mungkin berdusta.’

Hadhrat ‘Ali berkata kepada wanita itu, ‘Muhammad Rasulullah (saw) berkata bahwa kamu membawa suratnya dan demi Tuhan, saya tidak sedang berdusta.’

Hadhrat ‘Ali pun mengeluarkan pedang dan berkata, ‘Kamu cepat keluarkan surat itu atau jika untuk mencarinya saya terpaksa harus menelanjangimu pun akan saya lakukan, karena Rasulullah (saw) berkata benar dan engkau berkata dusta.’

Wanita itu ketakutan dan ketika diancam akan ditelanjangi maka segera ia membuka sanggul rambutnya, dalam sanggul rambutnya ia menyimpan surat tersebut yang kemudian ia keluarkan.”[27]

Kemudian di satu tempat Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) menjelaskan rincian dari peristiwa ini sebagai berikut: “Di zaman Hadhrat Rasulullah (saw) seorang sahabat secara sembunyi-sembunyi ingin menyampaikan kabar mengenai serangan kaum Muslimin ke Makkah kepada kerabat-kerabatnya supaya dengan ungkapan simpati tersebut ia bisa mendapatkan perlakuan baik dari kerabat-kerabatnya. Namun Hadhrat Rasulullah (saw) diberitahu mengenai hal ini melalui perantaraan ilham. Beliau (saw) mengutus Hadhrat ‘Ali (ra) dan beberapa orang sahabat bahwa di tempat tertentu ada seorang perempuan, pergilah dan ambillah surat darinya. Setibanya di sana beliau (ra) meminta surat itu dari wanita tersebut, lalu ia menolaknya. Beberapa sahabat mengatakan bahwa mungkin Rasulullah (saw) telah keliru, namun Hadhrat ‘Ali mengatakan, ‘Tidak! Perkataan beliau (saw) tidak pernah keliru. Selama belum mendapatkan surat darinya, saya tidak akan beranjak dari sini.’ Beliau (ra) membentak wanita tersebut sehingga ia mengeluarkan surat tersebut dan memberikannya.”[28]

Pada kesempatan Fath Makkah (penaklukan kota Makkah), ketika Rasulullah (saw) tiba di Masjidil Haram, Hadhrat ‘Ali (ra) datang ke hadapan beliau (saw) dan di tangannya ada kunci Ka’bah. Beliau (ra) mengatakan, يَا رَسُولَ اللّهِ اجْمَعْ لَنَا الْحِجَابَةَ مَعَ السّقَايَةِ صَلّى اللّهُ عَلَيْك “Ya Rasulullah! Berikanlah kepada kami tugas Siqayah (menyediakan air minum pada kesempatan Haji) dan Hijaabah (tanggung jawab untuk membuka dan menutup kain penutup Ka’bah).”

Beliau (saw) bersabda, أَيْنَ عُثْمَانُ بْنُ طَلْحَةَ؟ “Di manakah Utsman bin Thalhah?” Ia lalu dipanggil, beliau (saw) bersabda, هَاكَ مِفْتَاحَكَ يَا عُثْمَانُ الْيَوْمَ يَوْمُ بِرّ وَوَفَاءٍ “Wahai Utsman! Ini kunci engkau. Hari ini adalah hari kebaikan dan kesetiaan.”

Rasulullah (saw) lalu bersabda kepada Hadhrat ‘Ali (ra), إِنَّمَا أَعْطَيْتُكُمْ مَا تُرْزَءُونَ ، وَلَمْ أُعْطِكُمْ مَا تَرْزَءُونَ “Saya tidak akan memberikan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian terjerumus dalam kesusah-payahan dan penderitaan. Melainkan, saya akan memberikan kepada kalian sesuatu yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberkatan bagi kalian.”[29] Maknanya, “Saya tidak akan memberikan kepada kalian suatu jabatan yang kalian sendiri ingin mendapatkannya. Jika kalian mendapatkannya dengan memintanya maka tidak diperbolehkan.”

Hadhrat Ummu Hani binti Abi Thalib (ra) meriwayatkan, “Ketika Rasulullah (saw) berkemah di dataran tinggi Makkah, dari antara Bani Makhzum ada dua orang kerabat dari pihak mertua saya yang berlari datang kepada kepada saya. Saudara saya ‘Ali (ra) datang kepada saya dan berkata, ‘Demi Allah! Saya akan membunuh keduanya.’”

Hadhrat Ummu Hani (ra) mengatakan, “Saya mengunci pintu rumah saya untuk mereka berdua, kemudian saya sendiri pergi kepada Rasulullah (saw) di dataran tinggi Makkah. Saya mendapati beliau tengah mandi dari satu baskom air yang di dalamnya terdapat bekas adonan gandum dan putri beliau (saw) Hadhrat Fatimah (ra) menutupi beliau (saw) dengan sebuah kain. Setelah mandi, beliau (saw) mengganti bajunya, kemudian melaksanakan shalat 8 raka’at di waktu dhuha. Lalu beliau (saw) menghadap ke arah saya dan bersabda, مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ ‘Wahai Ummu Hani! Selamat datang. Untuk apa Anda datang?’

Hadhrat Ummu Hani (ra) menceritakan semuanya mengenai kedua orang tersebut dan Hadhrat ‘Ali (ra), bahwa bagaimana Hadhrat ‘Ali (ra) ingin membunuh mereka dan beliau datang ke sana setelah menyembunyikan mereka di rumahnya. Beliau (saw) bersabda, قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ ‘Mereka yang Anda berikan perlindungan, kami pun akan melindungi mereka dan mereka yang Anda berikan keamanan, kami pun akan memberikan keamanan kepada mereka. Jadi ia tidak boleh membunuhnya.” Artinya, Rasulullah (saw) bersabda bahwa Hadhrat ‘Ali tidak akan membunuh mereka.”[30]

Hadhrat Rasulullah (saw) melanjutkan perintah hukuman mati terhadap Huwairits bin Naqid karena ia dulu ia menyakiti Rasulullah (saw) di Makkah dan ia biasa mengatakan hal-hal yang besar untuk menyakiti beliau (saw) dan melontarkan sindiran-sindiran. Ketika paman Rasulullah (saw), Hadhrat Abbas (ra) mendudukkan Hadhrat Fatimah (ra) dan Hadhrat Ummu Maktum (ra) di unta untuk mengirimkan mereka ke Madinah, Huwairits menjatuhkan unta tersebut. Hadhrat ‘Ali (ra) membunuh Huwairits bin Naqid pada kesempatan Fatah Makkah ketika ia keluar untuk melarikan diri.[31]

Perang Hunain terjadi pada bulan Syawal tahun ke-8 Hijriah. Terdapat dalam riwayat bahwa pada kesempatan perang Hunain bendera Muhajirin dibawa oleh Hadhrat ‘Ali (ra). Dalam perang Hunain, ketika perang tengah berkecamuk dan dikarenakan serangan gencar dari orang-orang kuffar, di sekeliling Rasulullah (saw) hanya tersisa beberapa orang sahabat, Hadhrat ‘Ali (ra) termasuk di antara segelintir sahabat tersebut.[32]

Dalam perang Hunain, di depan barisan pasukan kaum Musyrik ada seseorang menunggang unta merah yang di tangannya ada bendera hitam. Bendera ini diikatkan pada sebuah tombak yang sangat panjang. Banu Hawazin berada di belakang orang tersebut. Ketika ada orang yang mendekatinya, ia segera menghujamkan tombak kepadanya dan jika ia selamat dari hujaman tombaknya maka dengan mengangkat tombaknya ia memberikan isyarat kepada orang-orang di belakangnya, lalu mereka mengeroyoknya dan tetap berada di belakang orang yang mengendarai unta merah tersebut. Dengan cara seperti itulah orang ini terus melakukan serangannya hingga Hadhrat ‘Ali (ra) dan seorang Anshari berhadapan dengannya dan mereka maju untuk membunuhnya. Hadhrat ‘Ali (ra) datang dari belakangnya dan menebas pangkal paha untanya yang akibatnya unta itu jatuh tersungkur. Pada kesempatan tersebut sahabat Anshari tadi melompat ke arahnya dan menebas dengan sedemikian rupa kerasnya sehingga kaki orang itu terputus setengah dari betisnya. Pada kesempatan tersebut kaum Muslimin melakukan satu serangan yang dahsyat kepada orang-orang musyrik.[33]

Berkenaan dengan Sariyyah (ekspedisi) Hadhrat ‘Ali (ra) kepada Banu Thayyi terdapat riwayat bahwa Rasulullah (saw) mengirim Hadhrat ‘Ali (ra) bersama 150 orang untuk merobohkan patung berhala Banu Thai. Wilayah Banu Thai terletak di arah timur laut Madinah. Untuk ekspedisi ini beliau (saw) memberikan sebuah bendera besar berwarna hitam dan sebuah bendera kecil berwarna putih kepada Hadhrat ‘Ali (ra). Hadhrat ‘Ali (ra) pada pagi hari menyerang Aal Hatim dan menghancurkan patung berhala mereka. Hadhrat ‘Ali (ra) kembali ke Madinah dengan membawa begitu banyak harta rampasan perang dan tawanan dari Banu Thayyi.[34]

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab 9 Hiriah. Mengenainya terdapat riwayat bahwa Mush’ab bin Sa’d meriwayatkan dari ayahnya (عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ، أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ), خَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فَقَالَ “Rasulullah (saw) berangkat menuju Tabuk dan menetapkan Hadhrat ‘Ali (ra) sebagai wakil beliau (saw) di Madinah. Hadhrat ‘Ali (ra) berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخَلِّفُنِي فِي النِّسَاءِ وَالْصِّبْيَانِ ‘Apakah Anda meninggalkan saya bersama kaum wanita dan anak-anak?’

Beliau (saw) bersabda, ‘Tidakkah Anda merasa senang kedudukan Anda dari saya adalah bagaikan Harun dari Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelah saya.’”[35]

Dalam menjelaskan peristiwa ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Suatu kali Hadhrat Rasulullah (saw) pergi berperang dan menjadikan Hadhrat ‘Ali (ra) sebagai wakil di belakang beliau (saw). Di belakang hanya ada orang-orang munafiq yang tersisa, dikarenakan hal ini beliau (ra) takut dan datang ke hadapan Rasulullah (saw) dan mengatakan, ‘Bawa jugalah saya.’ Beliau (saw) menenangkan dan bersabda: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي Artinya, ‘engkau dariku meraih kedudukan seperti halnya Harun (as) dari Musa (as)’ yang artinya, ‘Suatu hari engkau juga seperti halnya Harun akan menjadi Khalifahku, namun meskipun adanya persamaan ini, engkau bukanlah Nabi.’”[36]

Mengenai diutusnya Hadhrat ‘Ali (ra) ke Yaman oleh Hadhrat Rasulullah (saw) terdapat riwayat sebagai berikut: Pada 10 hijriah Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat ‘Ali (ra) ke Yaman. Sebelumnya Rasulullah (saw) telah mengirim Hadhrat Khalid bin Walid (ra) kepada penduduk Yaman untuk menyeru mereka kepada Islam, namun mereka menolak. Kemudian atas hal itu beliau (saw) mengirim Hadhrat ‘Ali (ra). Hadhrat ‘Ali (ra) membacakan surat Nabi (saw) kepada penduduk Yaman dan hanya dalam satu hari seluruh Hamdan menerima Islam.

Hadhrat ‘Ali (ra) menulis surat kepada Hadhrat Rasulullah (saw) mengenai masuk Islamnya mereka, maka beliau (saw) mengulangi kalimat ini hingga tiga kali, السَّلَامُ عَلَى هَمْدَانَ “Keselamatan atas Hamdan”. Hamdan adalah sebuah kota di Yaman yang terletak di arah tenggara kota Madinah, berjarak kurang lebih 1150 kilometer dari Madinah.

Kemudian setelah itu penduduk Yaman pun menerima Islam dan Hadhrat ‘Ali (ra) menulis surat mengenai hal ini kepada Rasulullah (saw), atas hal ini beliau (saw) melakukan sujud syukur.[37]

Hadhrat ‘Ali (ra) meriwayatkan, بَعَثَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ قَاضِيًا فَقُلْتُ تَبْعَثُنِي إِلَى قَوْمٍ وَأَنَا حَدَثُ السِّنِّ وَلَا عِلْمَ لِي بِالْقَضَاءِ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِي فَقَالَ “Hadhrat Rasulullah (saw) mengutusku ke Yaman dan menjadikanku sebagai Hakim. Maka saya bertanya, ‘Ya Rasulullah! Anda mengutus saya sedangkan saya masih muda dan tidak mempunyai pengetahuan mengenai peradilan.’

Rasulullah (saw) bersabda, ثَبَّتَكَ اللَّهُ وَسَدَّدَكَ إِذَا جَاءَكَ الْخَصْمَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ مِنْ الْآخَرِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ يَبِينَ لَكَ الْقَضَاءُ ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala pasti akan memberikan petunjuk pada hati engkau dan menganugerahkan ketegasan pada lisan engkau. Ketika ada dua orang sedang bertengkar di hadapan engkau, janganlah mengambil keputusan hingga engkau mendengarkan dari orang yang kedua sebagaimana engkau telah mendengarkan dari orang yang pertama. Dengan melakukan hal ini maka keputusan akan menjadi lebih jelas bagi engkau.’”

Hadhrat ‘Ali (ra) mengatakan, فَمَا زِلْتُ قَاضِيًا “Setelah itu saya tidak pernah ragu dalam memberikan keputusan.”[38]

عَنْ عَمْرِو بْنِ شَاسٍ الْأَسْلَمِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ قَالَ: Hadhrat Amru bin Syaas al-Aslami (ra) yang termasuk ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah meriwayatkan, خَرَجْتُ مَعَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ , فَجَفَانِي فِي سَفَرِي ذَلِكَ حَتَّى وَجَدْتُ عَلَيْهِ فِي نَفْسِي , فَلَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ شَكَوْتُهُ فِي الْمَسْجِدِ حَتَّى بَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ فَدَخَلْتُ الْمَسْجِدَ يَوْمًا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ , فَأَبَدَّنِي بِعَيْنَيْهِ يَقُولُ: “Saya bersama Hadhrat ‘Ali (ra) berangkat menuju Yaman. Dalam perjalanan beliau (ra) bersikap keras kepada saya, hingga saya merasakan sesuatu mengenai beliau (ra) di dalam hati saya. Ketika pulang dari Yaman, saya mengeluh mengenai beliau (ra) di masjid hingga hal ini sampai kepada Rasulullah (saw). Suatu hari saya masuk ke masjid dan Rasulullah (saw) bersama beberapa orang sahabat datang. Ketika pandangan beliau (saw) tertuju kepada saya, beliau (saw) melihat saya dengan seksama.”

Beliau menuturkan, حَدَّدَ النَّظَرَ إِلَيَّ حَتَّى إِذَا جَلَسْتُ قَالَ: “Rasulullah (saw) melihat saya dengan pandangan tajam hingga ketika saya duduk, beliau (saw) bersabda, يَا عَمْرُو , أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ آذَيْتَنِي ‘Wahai Amru! Demi Allah! Anda telah menyakiti saya.’

Saya berkata, أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أُوذِيَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Ya Rasulullah! Saya berlindung kepada Allah dari menyakiti Anda.’

Beliau (saw) bersabda, مَنْ آذَى عَلِيًّا فَقَدْ آذَانِي ‘Mengapa tidak, siapa saja yang telah menyakiti ‘Ali (ra), maka ia telah menyakiti saya.’” Ini adalah riwayat Musnad Ahmad bin Hambal.[39]

Riwaya selanjutnya, Hadhrat Abu Sa’id Khudri meriwayatkan, اشْتَكَى النَّاسُ عَلِيًّا رِضْوَانُ اللَّهِ عَلَيْهِ، فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِينَا خَطِيبًا، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: “Pada satu kesempatan orang-orang mengeluhkan Hadhrat ‘Ali (ra), maka Rasulullah (saw) berdiri di antara kami untuk berbicara. Saya mendengar beliau (saw) bersabda, أَيُّهَا النَّاسُ، لَا تَشكوا عليّا، فو الله إنَّهُ لَأَخْشَنُ فِي ذَاتِ اللَّهِ، أَوْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، مِنْ أَنْ يُشْكَى ‘Wahai manusia! Janganlah mengeluhkan ‘Ali (ra). Demi Allah! Ia seorang yang sangat takut mengenai Dzat Allah’, atau beliau (saw) bersabda, ‘Ia seorang yang sangat takut di jalan Allah Ta’ala, terhadap perkara yang dikeluhkan terhadapnya.’”[40]

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 11)

Pembahasan mengenai beliau (ra) masih berlanjut di kesempatan mendatang.

Hari ini saya juga ingin menarik perhatian ke arah doa. Pada jumat yang lalu tidak disebutkan mengenai Aljazair. Para Ahmadi di sana pun mengalami kondisi yang cukup sulit dan beberapa Ahmadi juga dipenjara. Doakanlah juga mereka, semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada mereka dan semoga segera tercipta sarana bagi kebebasan mereka yang dipenjara dan kondisi di sana pun sangat sulit. Semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada pemerintah di sana sehingga mereka bisa bersikap adil dan memenuhi hak para Ahmadi.

Demikian juga kondisi Pakistan semakin buruk. Secara perseorangan beberapa pejabat bersikap seperti yang telah saya katakan. Doakanlah semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada para Maulwi dan para pejabat tersebut, dan jika Dia tidak menghendaki memberikan akal, atau akal tidak akan datang kepada mereka, atau mereka memang ditaqdirkan melakukan seperti itu dan mereka akan masuk dalam cengkeraman Allah Ta’ala, maka semoga Allah Ta’ala segera menciptakan sarana untuk mencengkeram mereka dan menciptakan kemudahan-kemudahan bagi para Ahmadi.

Setelah shalat saya akan memimpin shalat jenazah gaib Bapak Rashid Ahmad dari Rabwah. Almarhum adalah ayah dari muballigh kita di Arabi Desk, Tahir Nadim Sahib. Almarhum wafat pada 28 Oktober di usia 76 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau melalui kakek beliau, Hadhrat Abdul Ghafur Sahib yang mana beliau bersama dengan sepupunya Hadhrat Maulwi Allah Datah Sahib pergi ke Qadian pada tahun 1891-1892 dan baiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hadhrat Maulwi Allah Datah Sahib (ra) seorang ‘Alim yang terpelajar dan sebelum pendakwaan pun telah sering bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau melihat di dalam mimpi bahwa bendera Hadhrat Muhammad Rasulullah (saw) dipegang di tangan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hadhrat Maulwi Allah Datah Sahib lalu membawa sepupunya, Hadhrat Maulwi Abdul Ghafur, kakek dari Almarhum untuk pergi ke Qadian dan keduanya baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Setelahnya, melalui pertablighan yang dilakukan oleh Maulwi Allah Datah Sahib banyak orang yang masuk ke dalam Ahmadiyah di Alipur dan Muwadhi Hasanpur, Multan.

Dalam masa yang lama Almarhum mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Mal di Jema’at yang ada di Distrik Bahawalpur. Almarhum seorang yang sangat baik, saleh, pengkhidmat tamu dan sosok simpatik. Almarhum seorang yang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan orang-orang di lingkungan beliau. Almarhum memperhatikan orang-orang miskin secara diam-diam. Di antara yang ditinggalkan antara lain istri beliau, Shiddiqah Begum Sahibah, cucu dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Qadir Bakhs Sahib dan dengan karunia Allah Ta’ala Almarhum seorang Mushi. Selain itu beliau meninggalkan tiga orang putri dan dua orang putra. Putra Almarhum, sebagaimana yang telah saya sampaikan seorang waqaf zindegi, mubaligh kita yang berkhidmat di Arabic Desk di sini.

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Saefullah M.A. (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab).


[1] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري). Ibnu Hisham, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Ghazwat Uhud, Maqtal Mus‘ab bin Umair [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001], 529

[2] Sharh Zurqani ala al-Mawahib al-Laduniyyah, Vol. 2, p. 409, Bab Ghazwat Uhud, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1996; Muhammad Ibn Jarir al-Tabari, Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), Vol. 3, Ghazwat Uhud [Beirut, Lebanon: Dar al-Fikr, 2002], 68. Pada peristiwa inilah muncul ungkapan yang diyel-yelkan, لا سَيْفَ إِلا ذُو الْفَقَارِ … وَلا فَتًى إِلا عَلِيٌّ “Tidak ada pedang selain Dzulfiqar dan tidak ada pemuda selain ‘Ali.”

[3] ‘Ali Ibnu al-Atsir, Usdul Ghabah fi Ma‘rifat al-Sahabah, Vol. 4, Dzikr ‘Ali bin Abi Talib [Beirut, Lebanon: Dar al-Fikr, 2003], 45; Al-Irsyad fi Ma’rifati Hujajillah ‘ala Al-‘Ibad (الإرشاد فی معرفة حُجَج الله عَلَی العباد) terkenal dengan al-Irsyad adalah sebuah kitab kalam aliran Syi’ah yang disusun berdasarkan sejarah. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab mengenai sejarah Ahlulbait (para Imam keturunan Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah dan keluarga mereka). Penulis Al-Irsyad adalah Abu Abdillah Muhammad bin Nu’man ‘Ukbari Baghdadi yang terkenal dengan “Syaikh Mufid” (W 413 H).

[4] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab ma Asaba al-Nabi (sa) min al-Jarah Yaum Uhud, Hadith 4075.

[5] ‘Ali Ibnu al-Atsir, Usdul Ghabah fi Ma‘rifat al-Sahabah, Vol. 4, Dzikr ‘Ali bin Abi Talib [Beirut, Lebanon: Dar al-Fikr, 2003], 93.

[6] Masa‘ib ke Neeche Barkaton ke Khazane Makhfi hote hein, Anwar al-Ulum, Vol. 19. p. 59.

[7] Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (البداية والنهاية), bagian keempat (الجزء الرابع), pasal turunnya kaum Quraisy di hari perang Parit (فصل نزول قريش بمجتمع الأسيال يوم الخندق). Tercantum juga dengan sedikit perbedaan kata dalam Makaarimul Akhlaaq karya Ibnu Abid Dunya (مكارم الاخلاق لابن أبي الدنيا) bab (بَابٌ فِي صِدْقِ الْبَأْسِ ، وَمَا جَاءَ فِيهِ); tercantum juga dalam Tafsir al-Qummi (تفسير القمي – علي بن إبراهيم القمي – ج ٢ – الصفحة ١٨٣)

[8] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 486, Ghazwatul-Khandaqi, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut

[9] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 627, Ghazwatul-Khandaqi Fī Shawwālin Sanata Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[10] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 486, Ghazwatul-Khandaqi, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut.

[11] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 283, Ghazwatu Rasūlillāhi saw Al-Khandaqa Wa Hiyal-Aḥzābu, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[12] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 627, Ghazwatul-Khandaqi Fī Shawwālin Sanata Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[13] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 42, Ghazwatul-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[14] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 487, Ghazwatul-Khandaqi / Mubārazatu ‘Aliyyin Li-‘Amribni ‘Abdi Wuddin, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut; Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 42, Ghazwatul-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[15] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 627, Ghazwatul-Khandaqi Fī Shawwālin Sanata Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[16] Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 1, p. 487, Ghazwatul-Khandaqi / Mubārazatu ‘Aliyyin Li-‘Amribni ‘Abdi Wuddin, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut; Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 42, Ghazwatul-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 627, Ghazwatul-Khandaqi Fī Shawwālin Sanata Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[17] Sirah Khatamun Nabiyyin karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra). Di bagian kalimat “tawaran 10.000 ribu dirham dari Quraisy untuk mayat Amru bin Abdu Wudd”, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) memberikan koreksi atas narasi Sir William Muir yang beliau (ra) kutip di buku beliau tersebut bahwa yang benar ialah mayat Naufal bin ‘Abdullah, yang satu rombongan dengan ‘Amru bin Abdu Wudd merobos masuk celah parit yang lebih sempit. Naufal terbunuh karena hendak membunuh Nabi (saw) dan dicegat oleh Zubair di jalan masuk. This narration is incorrect, rather, the stated incident relates to the body of Naufal bin ‘Abdullāh, who advanced to murder the Holy Prophet sa, but fell dead to the ground himself at the hand of Zubair bin Al-‘Awwām ra. The disbelievers offered to pay the Muslims a sum of 10,000 dirhams in exchange for the body, but the Holy Prophet sa refused to accept their money and returned the body for free. Refer to Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, pp. 42-43, Ghazwatul-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[18] Shahih al-Bukhari, Kitab perdamaian (كتاب الصلح), bagaimana menuliskan (بَابُ كَيْفَ يُكْتَبُ هَذَا مَا صَالَحَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ. وَفُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ وَإِنْ لَمْ يَنْسُبْهُ إِلَى قَبِيلَتِهِ، أَوْ نَسَبِهِ), nomor 2698.

[19] Shahih Muslim.

[20] Khaibar bukan sekedar kota yang dikelilingi tembok benteng tapi juga dikelilingi benteng-benteng besar dan kecil-kecil. Benteng yang jatuh saat pasukan dipimpin Hadhrat ‘Ali (ra) ialah benteng Naim dan benteng al-Qamush. Benteng Qamush merupakan benteng terbesar, terkokoh, dan terkuat di sana. Sebelumnya Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) memimpin penyerangan ke benteng itu tapi tidak berhasil. Kemudian, Nabi (saw) mengalihkan komando kepemimpinan teknis kepada Hadhrat ‘Ali (ra) dan berhasil. https://id.wikishia.net/view/Perang_Khaibar

[21] Dibachah Tafsir al-Quran, Anwar al-Ulum, Vol. 20, pp. 325-326.

[22] Tafsir-e-Kabir, Vol. 8, pp. 398-399

[23] Hasti-e-Bari Ta‘ala, Anwar al-Ulum, Vol. 6, p. 327.

[24] Sair-e-Ruhani, Number 2, Anwar al-Ulum, Vol. 16, p. 74.

[25] As-Sirah an-Nabawiyah (السيرة النبوية لابن هشام) karya Ibnu Hisyam, Hajj Abi Bakr bi al-Nas (حَجُّ أَبِي بَكْرٍ بِالنَّاسِ سَنَةَ تِسْعٍ اخْتِصَاصُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ), pengistimewaan ‘Ali oleh Rasulullah (saw) terkait bara-ah (اخْتِصَاصُ الرَّسُولِ عَلِيًّا بِتَأْدِيَةِ بَرَاءَةٌ عَنْهُ), Dzulhijjah tahun ke-9 Hijriyyah (631), [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001], 832.

[26] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra), p. 840; Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Jihad dan ekspedisi (كتاب الجهاد والسير), bab mata-mata (باب الْجَاسُوسِ , al-Jasus), no. 3007, Urdu Tarjamah Sahih al-Bukhari az Hazrat Sayed Zain al-Abidin Wali Allah Shah Sahib, Vol. 5, pp. 350-352, Nazarat Ishaat.

[27] Sair-e-Ruhani, Number 7, Anwar al-Ulum, Vol. 24, pp. 262-263.

[28] Khutbat-e-Mahmud, Vol. 4, p. 182, 183, Khutbah Farmudah 25 September 1914.

[29] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), penaklukan Makkah di tahun ke-8 Hijriyyah (630 masehi) bulan Ramadhan (ذِكْرُ الْأَسْبَابِ الْمُوجِبَةِ الْمَسِيرَ إلَى مَكَّةَ وَذِكْرُ فَتْحِ مَكَّةَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ سَنَةَ ثَمَانٍ) , Dukhul al-Rasul al-Haram [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001], 744. ‘Uyuunul Atsar (عيون الأثر في فنون المغازي والشمائل والسير); Subulul Huda war Rasyaad karya ash-Shalihi asy-Syami (سبل الهدى والرشاد – الصالحي الشامي – ج ٥ – الصفحة ٢٤٤); Zaadul Ma’ad (زاد المعاد في هدي خير العباد) bab (إبْقَاءُ مِفْتَاحِ الْكَعْبَةِ فِي آلِ عُثْمَانَ بْنِ طَلْحَةَ). (مصنّف عبد الرزاق), (كتاب المناسك), (باب ذكر المفتاح), 8807.

[30] Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Min Amr Rasul Allahsan bi Qatlihim [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001], 743-744. Shahih Muslim (صَحِيحِ مُسْلِمٍ). Di dalam riwayat ini Ummu Hani menceritakan mengenai shalat delapan raka’at yang ia lihat Nabi (saw) lakukan. Para penelaah selanjutnya menyebutnya shalatul fathi (صَلَاةَ الْفَتْحِ) atau shalat kemenangan atau keberhasilan yang baru diraih. Tata caranya, tiap dua rakaat salam. Ada juga yang berpendapat salam sekali di raka’at terakhir.

[31] ‘Ali bin Burhan al-Din al-Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, Vol. 3, Bab Dzikr Maghaziyah [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002], 131.

[32] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra), p. 840; Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 2, Dzikr Adad Maghazi Rasul Allah(sa) … [Beirut, Lebanon: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1996], 325.

[33] ‘Ali bin Burhan al-Din al-Halabi, Al-Sirah al-Halabiyyah, Vol. 3, Bab Dzikr Maghaziyah [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002], 158.

[34] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 2, Sariyah ‘Ali bin Abi Talib ila al-Falas [Beirut, Lebanon: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1996], 331.

[35] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hazrat Mirza Bashir Ahmad(ra), p. 842 Hadits dirujuk dari Shahih Muslim, Kitab Keutamaan para Sahabat (كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم), bab Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib (باب مِنْ فَضَائِلِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضى الله عنه) dan Sahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Ghazwat Tabuk wa hiya Ghazwat al-Usrah, Hadith 4416.

[36] Khilafat-e-Rashidah, Anwar al-Ulum, Vol. 15, p. 579.

[37] Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi (السنن الكبرى للبيهقي، المكتبة الشاملة): فَكَتَبَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِسْلَامِهِمْ، فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا . Zaadul Ma’d pasal (.فَصْلٌ فِي قُدُومِ وَفْدِ هَمْدَانَ عَلَيْهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ). Al-Kamil fi al-Tarikh, Vol. 2, p. 168, Dzikr Irsal ‘Ali ila al-Yaman wa Islam Hamadan, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2006; Ghazwat wa Saraya az Allamah Muhammad Azhar Fareed Shah, p. 550, Fareed Publications Sahiwal, 2018.

[38] Musnad Ahmad bin Hanbal, (وَمِنْ مُسْنَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), nomor 1281, 1282, 1283: إِنَّ اللَّهَ مُثَبِّتٌ قَلْبَكَ وَهَادٍ فُؤَادَكَ . Sunan Abi Dawud, Kitab al-Aqdiyah, Bab Kaif al-Qada, Hadith 3582.

[39] Musnad Ahmad bin Hanbal, Hadits Amru bin Syas al-Aslami (حديث عمرو بن شاس الأسملي رضي الله عنه) nomor 16002; tercantum juga dalam Asy-Syari’ah (الشريعة للآجري), bab kumpulan keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib (بَابُ ذِكْرِ جَامِعِ مَنَاقِبِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), 1537. (حاشية مسند الإمام أحمد بن حنبل), (مسانيد المقلين), (عمرو بن شاس الأسلمي). Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, Vol. 5, Hadith Amr bin Shas, Hadith 16056 [Beirut, Lebanon: Alam al-Kutub, 1998], 478-479.

[40] As-Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), bab ‘Ali diadukan oleh orang-orang kepada Rasulullah (saw)(شَكَا عَلِيًّا جَنَدُهُ إلَى الرَّسُولِ لِانْتِزَاعِهِ عَنْهُمْ حُلَلًا مِنْ بَزِّ الْيَمَنِ); tercantum juga dalam Dalailun Nubuwwah (دلائل النبوة للبيهقي محققا), Pengutusan ‘Ali bin Abi Thalib ke Najran dan ke Yaman (بَابُ بَعْثِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسلم على بن أبي طالب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى أَهْلِ نَجْرَانَ، وَبَعْثِهِ إِلَى الْيَمَنِ بَعْدَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ). Ibnu Hisyam, Al-Sirah al-Nabawiyyah, Ghazwat Uhud, mawafat ‘Ali Qafulah min al-Yaman Rasul Allah (sa) fi al-Hajj [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001], 867-868.


Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.