Perdamaian Dunia Hakiki yang Berkelanjutan

Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba)

Dunia berada di persimpangan di antara ketegangan antar negara yang sedang memanas. Rusia dan Amerika Serikat tengah bersaing dalam perlombaan senjata yang berbahaya, India dan Pakistan hampir mengalami perang besar, begitu juga meningkatnya konflik-konflik lainnya di seluruh dunia. Jika terjadi peperangan nuklir maka dampaknya akan besar dan sangat mengerikan. Dengan latar belakang ini pemimpin dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad berpidato tentang pentingnya perdamaian dalam Simposium Perdamaian ke-16 yang diselenggarakan di Masjid Baitul Futuh, London, 9 Maret 2019. Beliau berpidato di hadapan sekitar 1000 peserta, termasuk 700 pejabat tinggi dan tamu dari 30 negara, seperti Menteri, Duta Besar, Anggota Parlemen, pemimpin agama dll. Acara ini disiarkan ke seluruh dunia melalui media dan stasiun TV.

Perdamaian dunia sejati mirza masroor ahmad

Para tamu yang terhormat, Assalamualaikum warohmatullahi wa barokaatuhu.

Setiap tahun, Jamaah Muslim Ahmadiyah menjadi tuan rumah Simposium Perdamaian ini, yang di dalamnya membahas permasalahan-permasalahan masa kini dan kondisi dunia secara keseluruhan, dan dalam pidato saya, saya sampaikan jawaban atas masalah-masalah terkini berdasarkan ajaran Islam. Sejauh mana dampak kegiatan ini bagi dunia yang lebih luas, saya katakan sebelumnya bahwa saya tidaklah mengetahuinya. Tetapi, apapun pengaruhnya, kami tidak akan menyerah dalam upaya mempromosikan perdamaian dan keadilan, dan tentu saja saya yakin Anda semua memiliki tekad kuat yang sama dengan kami dalam hal penegakan perdamaian jangka panjang di dunia.

Tentu saja saya yakin Anda sekalian mengharapkan berakhirnya segala konflik dan peperangan yang telah menghancurkan dunia dalam beberapa waktu terakhir, dan mengharapkan terciptanya dunia yang damai, di mana setiap orang dari semua bangsa dapat hidup secara damai dan saling memenuhi hak satu sama lain. Tetapi fakta tragis yang terlihat adalah setiap tahun bukannya menarik diri dari perang dan konflik, yang terjadi justru sebaliknya. Persaingan semakin hebat, garis batas peperangan yang baru ditarik, sementara permusuhan yang ada belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Ancaman Perang Nuklir

Meskipun kita semua mengetahui bahwa kita tengah melewati masa-masa sulit, tetapi kebanyakan orang tidak menyadari sejauh mana hubungan negara-negara tertentu yang memburuk dan seberapa besar potensi dampak yang ditimbulkannya. Misalnya, dalam kolom surat kabar baru-baru ini yang diterbitkan oleh Bloomberg Businessweek, jurnalis Peter Coy menulis:

‘Perang nuklir secara mengejutkan mendapat sedikit perhatian padahal terdapat cukup banyak nuklir yang dapat mengakhiri peradaban manusia dalam hitungan jam … Alasan untuk memperhatikan hal ini adalah karena kontrol senjata – terutama antara AS dan Rusia – telah berantakan. Perlombaan senjata nuklir baru tampaknya mulai terbentuk. Sehingga apa yang bisa dilakukan oleh setiap orang adalah: kontrol senjata menjadi runtuh sebagai respons dari tekanan publik ketika umat manusia berbicara lebih keras daripada pedagang senjata dan pemimpin dunia yang suka berperang.”

Dalam artikelnya, ia juga mengutip rekan senior di Institut Studi Internasional Middlebury, Nikolai Sokov, yang memperingatkan:

“Semua tanda mengarah kepada perlombaan senjata nuklir-konvensional yang serius di Eropa.”

Artikel ini memperkuat poin bahwa perlombaan senjata global lainnya telah dimulai dan ancaman perang nuklir tidak boleh diremehkan. Dalam beberapa hari terakhir, dunia telah menyaksikan meningkatnya ketegangan yang tiba-tiba antara India dan Pakistan. Kedua negara adalah negara nuklir dan keduanya telah membangun aliansi dengan negara lain, baik secara terbuka maupun secara rahasia, yang berarti bahwa potensi peperangan dapat terjadi lebih luas.

Saya telah menyatakan pandangan saya dalam banyak kesempatan bahwa para pemimpin negara-negara nuklir yang gegabah tampaknya tidak peduli akan dampak buruk yang ditimbulkan oleh perang nuklir. Senjata seperti itu tidak hanya memiliki kekuatan yang dapat memusnahkan negara-negara yang menjadi sasaran tetapi juga berpotensi merusak perdamaian dan stabilitas seluruh dunia. Jadi sangat penting bagi setiap negara dan para pemimpinnya agar tidak hanya berfokus pada kepentingan nasioal mereka sendiri, tetapi juga harus memperhatikan hal yang terbaik bagi dunia pada umumnya. Dialog dengan negara lain atau masyarakat lain sangatlah penting, dengan masing-masing pihak saling bekerja sama dalam semangat toleransi dan memiliki tujuan yang sama untuk menegakkan perdamaian sejati yang berkelanjutan di dunia.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Spiegel Online, mantan Menteri Luar Negeri Jerman, Sigmar Gabriel, telah memperingatkan hal yang meremehkan bahaya yang ditimbulkan oleh situasi geopolitik saat ini dan ia membandingkan kondisi politik sekarang dengan keadaan dunia pada tahun 1945 dan 1989. Mantan Menteri Luar Negeri Jerman mengatakan:

“Dunia berubah secara dramatis… Barat Lama telah hancur… Ini adalah perubahan drastis sejak 70 tahun terakhir, saat kita bisa bergantung kepada Amerika sebagai negara terkemuka. Kita akan melalui perjuangan untuk kedaulatan Eropa di tengah dunia yang benar-benar telah berubah.”

Demikian pula dalam sebuah artikel New York Times, mantan pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev menulis bahwa sejak penangguhan Traktat angkatan Nuklir Jangka Menengah (I.N.F) baru-baru ini oleh Amerika Serikat dan Rusia, perlombaan senjata nuklir yang baru telah dimulai. Gorbachew menulis:

“Perlombaan senjata baru telah diumumkan. Traktat INF bukanlah korban pertama dalam urusan militerisasi dunia. Pada 2002, Amerika Serikat menarik diri dari Perjanjian Rudal Antibalistik, tahun ini dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Pembelanjaan militer telah melonjak sangat luar biasa dan terus meningkat.”

Mengingatkan tentang risiko perang nuklir, Gorbachev menulis:

“Tidak ada pemenang dalam ‘peperangan semua melawan semua’ – apalagi jika berakhir dengan perang nuklir. Dan kemungkinan ini tidak dapat dikesampingkan. Perlombaan senjata yang tiada henti, ketegangan internasional, permusuhan dan ketidakpercayaan global hanya akan meningkatkan risiko.”

Jadi, para ahli dan politisi berpengalaman telah mencapai kesimpulan bahwa perang nuklir bukan lagi sesuatu yang kemungkinannya masih jauh, tetapi hal ini sudah menjadi ancaman yang semakin besar yang tak dapat diabaikan.

Terkait:   Prinsip Emas untuk Perdamaian Dunia

Jika kita memperhatikan masalah-masalah penting saat ini, jelas dunia tengah menuju ke arah yang tidak menyenangkan. Sejak tahun lalu, Amerika Serikat telah mengklaim dengan penuh keyakinan, bahwa mereka hampir mencapai kesepakatan damai bersejarah dengan Korea Utara, tetapi dalam beberapa hari terakhir, nampak jelas bahwa tidak ada substansi yang tercapai.

Konflik di Timur Tengah terus berkecamuk. Selama hampir satu dekade Suriah telah hancur tercabik-cabik oleh pertumpahan darah. Dinyatakan bahwa sekarang perang saudara hampir berakhir, tetapi selama dekade terakhir tidak ada yang dicapai selain kematian ratusan ribu orang tak berdosa dan jutaan lainnya mengungsi. Tidak ada hal positif yang muncul dan masa depan tetap suram dan genting, karena ketegangan yang meningkat antara negara-negara yang memiliki kepentingan pribadi berkaitan dengan masa depan Suriah.

Di satu sisi Rusia dan Turki bersatu, sementara di sisi lain, Amerika Serikat dan Arab Saudi bergabung dengan meningkatkan tekanan terhadap Iran dan mengupayakan sanksi lebih lanjut terhadap mereka. Pakar politik secara terbuka menyebutkan bahwa tujuan negara-negara ini adalah untuk mendominasi Timur Tengah. Hal yang menjadi penyulut dan sumber konflik lainnya adalah memburuknya hubungan antara Turki dan kelompok Kurdi yang menuntut otonomi.

Dengan demikian dunia telah terjebak dalam lingkaran setan konflik dan kontra konflik, karena persaingan dan kebencian yang semakin menjadi-jadi. Tidak ada yang tahu ke mana akhirnya isu ini akan membawa kita atau seberapa mengerikannya dampak yang akan terjadi. Apa yang saya sebutkan hanyalah puncak gunung es, terdapat banyak masalah lain yang mengancam perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Sebagai contoh, telah dikatakan bahwa kelompok teroris Daesh berada di ambang kehancuran dan apa yang mereka sebut sebagai Khilafat telah berakhir. Tetapi para ahli juga mengingatkan bahwa meskipun Daesh telah kehilangan wilayahnya, ideologi kebencian mereka tetap ada dan anggota-anggota mereka yang selamat kini tersebar, pada akhirnya mereka dapat berkumpul kembali dan melakukan serangan di Eropa atau tempat lain. Lebih jauh lagi, nasionalisme telah bangkit kembali dan kelompok sayap kanan telah mendapatkan popularitas di seluruh Barat.

Mereka mungkin tidak langsung mendapatkan politik mayoritas, tetapi selama keadilan di semua tingkatan masyarakat tidak terwujud mereka akan terus mendapatkan dukungan.

Krisis Pengungsi dan Pentingnya Persatuan

Salah satu alasan utama yang melandasi popularitas mereka adalah meluasnya imigrasi, yang menyebabkan kebencian dan mereka meyakini bahwa penduduk asli kini menjadi orang yang mendanai dan mendukung imigran. Saya telah membahas masalah ini panjang lebar di waktu yang lalu, jadi saya tidak perlu membahas lebih jauh. Cukuplah mengatakan bahwa jika upaya tulus dilakukan untuk membangun perdamaian dan membantu seluruh negara mencapai potensi mereka, maka keputusasaan masyarakat dengan mengungsi dari rumah mereka secara otomatis akan berkurang.

Keinginan terbesar sebagian orang adalah dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka dan ketika hal itu tidak tercapai maka mereka akan berusaha meninggalkan rumah mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu solusi jangka panjang dari krisis imigrasi adalah membangun perdamaian di negara-negara yang dilanda perang dan membantu masyarakat setempat yang terpaksa bertahan hidup dalam kesengsaraan dan bahaya supaya mereka dapat hidup damai.

Dalam jangka pendek, ketika pengungsi atau pencari suaka datang ke Barat karena kondisi politik atau agama di negara mereka, maka mereka harus diperlakukan dengan hormat dan bermartabat. Tetapi pada saat yang sama, dukungan yang diberikan kepada mereka tidak boleh mengorbankan warga negara setempat.

Para imigran harus didorong untuk mencari pekerjaan sesegera mungkin, bukannya hidup dengan mengandalkan tunjangan untuk jangka waktu yang lama. Mereka harus bekerja keras, berusaha mandiri dan berkontribusi positif bagi masyarakat baru mereka. Kalau tidak, jika mereka terus dibiayai dari uang para pembayar pajak, maka pasti akan menimbulkan keluhan. Tentu saja, saya berkeyakinan bahwa penyebab mendasar kebencian masyarakat lebih disebabkan karena kegagalan ekonomi dan keuangan. Kelompok-kelompok tertentu mengambil keuntungan dari rasa keputusasaan seperti ini dengan menyalahkan para imigran atau pengikut suatu agama dan menghasut sentimen kebencian terhadap mereka.

Jadi telah berkembang kesan di Eropa bahwa orang-orang Asia, Afrika, khususnya para pengungsi Islam adalah ancaman bagi masyarakat. Di Amerika Serikat juga muncul kekhawatiran serupa terhadap Muslim, termasuk terhadap warga Hispanik yang ingin memasuki negara itu melalui Meksiko. Meski demikian, saya sangat yakin bahwa jika negara-negara besar mengesampingkan kepentingan pribadi mereka dan berusaha dengan sungguh-sungguh memperbaiki ekonomi negara-negara miskin dan memperlakukan mereka dengan penuh simpati dan rasa hormat, maka masalah-masalah seperti itu tidak akan muncul.

Di Inggris, saat ini muncul ketidakpastian tentang Brexit dan masa depan hubungan Inggris dengan Uni Eropa. Saya telah menjelaskan topik ini dalam pidato saya di Parlemen Eropa tahun 2012. Dalam pidato itu saya mengatakan:

‘Anda harus melakukan segala upaya untuk menjaga persatuan ini dengan menghormati hak satu sama lain. Ketakutan dan kekhawatiran dalam di masyarakat harus dihilangkan.’

‘Ingatlah bahwa kekuatan Eropa terletak pada persatuan dan kesatuan. Persatuan tersebut tidak hanya akan menguntungkan Anda di Eropa, tetapi juga di tingkat global hal ini akan menjadi sarana bagi benua ini mempertahankan kekuatan dan pengaruhnya.

Dalam pidato tujuh tahun yang lalu, saya berfokus pada pentingnya menghilangkan ketakutan masyarakat terhadap imigrasi dan menekankan manfaat persatuan.

Terkait:   Islam Hakiki untuk Masyarakat Jepang

Sayangnya kepentingan masyarakat tidak tidak ditangani secara memadai dan semakin banyak orang-orang di seluruh Eropa mempertanyakan manfaat Uni Eropa. Contoh paling jelas tentu saja Brexit, tetapi di negara-negara Eropa lainnya seperti Italia dan Spanyol bahkan Jerman, partai-partai sayap kanan atau nasionalis tengah menanjak popularitasnya dan memenangkan kursi di perpolitikan di mana mereka berusaha untuk melemahkan Eropa Bersatu dan memberlkukan agenda anti imigran.

Karena itu, di saat saya mengharapkan persatuan yang lebih kuat di Eropa, beberapa tahun terakir kita menyaksikan meningkatnya perpecahanan dan kekacauan. Mengapa kondisi keputusasaan seperti ini mengemuka? Semua itu bersumber dari kesulitan ekonomi dan kegagalan pemerintah dalam bertindak dengan penuh keadilan dan melindungi warga negara mereka. Saya tetap berpandangan bahwa kerjasama internasional adalah kekuatan positif dan pemersatu untuk kebaikan. Sehingga dalam Parlemen Eropa saya juga menjelaskan:

“Dalam perspektif Islam, kita harus berusaha supaya seluruh dunia dapat bersatu. Dalam hal mata uang, dunia harus dipersatukan… Dalam hal bisnis dan perdangan yang bebas, dunia harus bersatu dan dalam hal kebebasan berpindah dan imigrasi, kebijakan yang kohesif dan praktis harus dikembangkan, sehingga dunia menjadi bersatu.”

Oleh karena itu dari sudut pandang Islam perdamaian dapat dicapai melalui persatuan. Namun sangat disesalkan, bukannya menyatukan, kita cenderung ke arah perpecahan dan mengutamakan kepentingan pribadi daripada kepentingan dunia secara keseluruhan. Saya yakin bahwa kebijakan semacam itu, akan dan sudah merusak perdamaian dan keamanan dunia. Menurut Islam, agar perdamaian dapat terwujud maka keadilan antar bangsa harus menjadi prasyaratnya.

Ketika negara-negara menghadapi kesulitan, negara lain harus berusaha membantu mereka tanpa pamrih, tanpa menyelipkan agenda pribadi mereka. Sebagai contoh, Al-Quran menyatakan bahwa jika terjadi perang atau konflik antara dua pihak, maka negara lain harus menengahi dan berusaha untuk mencapai penyelesaian damai. Namun jika satu pihak terus bertindak buruk dan tidak mengarah pada hasil yang damai, maka negara lain harus bersatu untuk menghentikan agresor tersebut. Begitu negara atau partai yang agresif tadi menahan diri dari pelanggaran, Islam dengan tegas memerintahkan bahwa tidak boleh melakukan tindakan pembalasan melalui sanksi yang tidak adil atau dengan menjarah sumber daya mereka.

Namun, kita telah berulangkali menyaksikan contoh negara-negara yang telah melakukan intervensi di negara-negara yang dilanda perang atau saat memberikan bantuan kepada negara-negara yang dirampas dengan dalih membawa perdamaian, tetapi mereka membuat suatu ikatan sehingga mereka dapat mengendalikan sumber daya negara-negara yang lebih lemah. Alih-alih puas dengan kekayaan mereka sendiri, negara-negara besar berusaha menanamkan kontrol mereka atas negara-negara yang lebih lemah.

Seperti telah saya katakan, akar penyebab timbulnya kekecewaan dan permusuhan, baik itu di Timur atau di Barat adalah ketidakadilan ekonomi, sehingga penting melakukan upaya bersama dalam menjembatani kesenjangan ekonomi antara bangsa dan rakyat mereka. Selain itu, kita harus bersatu mengakhiri semua bentuk ekstremisme dan prasangka, baik yang dilatari agama, ras, atau jenis apapun.

Ketika nampak nyata banyak orang yang menderita dan pemimpin mereka tidak melindungi hak-hak mereka, maka organisasi-organisasi internasional yang didirikan untuk tujuan menjaga perdamaian dunia, khususnya PBB, harus melakukan tekanan yang legal dan proporsional untuk memperjuangkan hak-hak warga yang taat dan berusaha mendorong perdamaian dan keadilan.

Islam dan Perdamaian Dunia

Dalam konteks Islam, Anda mungkin bertanya-tanya apa yang diajarkan Islam kepada kita tentang menciptakan perdamaian di dunia ketika sumber konflik dan ketidakstablian banyak berpusat di negara-negara Muslim. Tetapi keadaan menyedihkan negara-negara itu adalah karena mereka telah meninggalkan ajaran Islam yang hakiki.

Untuk mendapatkan gambaran yang tepat tentang pemerintahan dan kepemimpinan Islam, kita harus melihat ke era Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam). Setelah Nabi (Shallallahu alaihi wa sallam) hijrah ke kota Madinah, beliau membentuk suatu perjanjian dengan orang-orang Yahudi, bahwa umat Islam dan warga Yahudi harus hidup bersama secara damai dengan semangat belas kasih, toleransi, dan kesetaraan.

Perjanjian tersebut terbukti menjadi piagam hak asasi manusia dan pemerintahan yang luar biasa dengan memastikan terbentuknya perdamaian di antara berbagai komunitas yang ada di Madinah. Menurut ketentuan perjanjian itu, setiap orang, apapun agama atau etnis mereka, terikat untuk saling menghormati hak satu sama lain. Kebebasan berkeyakinan dan kebebasan hati nurani merupakan landasan dari perjanjian itu.

Nilai persatuan dalam perjanjian tersebut adalah ketika Madinah diserang atau diancam, kaum Muslimin dan Yahudi akan bersama-sama mempertahankannya sebagai satu kesatuan. Kemudian setiap komunitas memiliki hak untuk menyelesaikan permasalahan internal mereka sesuai dengan agama dan kebiasaan masing-masing. Sejarah telah menjadi saksi bahwa Rasulullah saw senantiasa menjunjung tinggi setiap aspek perjanjian tersebut.

Sebagai pendatang, umat Islam selalu berusaha melayani masyarakat baru mereka dan menghormati hak-hak semua warga Madinah. Ini adalah contoh luar biasa dari integrasi yang sukses dan wujud masyarakat multikultural yang damai dan toleran. Piagam Madinah ini didasarkan langsung pada ajaran Al-Qur’an. Misalnya, dalam Al-Quran Surah An-Nahl [16]: 91 difirmankan:

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat…”

Jadi Al-Quran telah menguraikan tiga tingkat dalam hubungan dengan orang lain atau masyarakat lain. Tingkat pertama dan ini yang paling minimum, adalah keadilan. Al-Qur’an telah mengajarkan untuk memperlakukan setiap orang secara adil dan merata. Standar keadilan yang ditetapkan oleh Islam diuraikan dalam Surah An-Nisa [4]: 136 dari yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah saksi karena Allah walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat. Baik ia orang kaya atau miskin, maka Allah lebih memperhatikan kepada keduanya. Karena itu janganlah kamu menuruti hawa nafsu agar kamu dapat berlaku adil Dan, jika kamu menyembunyikan kebenaran atau mengelakkan diri, maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan.”

Jadi menurut Al-Quran, keadilan mengharuskan seseorang bersedia bersaksi walaupun terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang sangat dicintainya demi untuk mempertahankan dan membela kebenaran.

Terkait:   Jihad Dengan Al-Qur'an

Tingkat kedua (dalam hubungan masyarakat) yang dianjurkan oleh Al-Qur’an adalah seseorang tidak hanya berlaku adil, tetapi lebih dari itu ia melakukan ‘kebaikan yang lebih kepada orang lain’ dengan memanifestasikan kemurahan hati dan memaafkan. Seperti telah disebutkan, Al-Quran mengajarkan bahwa saat Anda berhasil menghentikan negara yang agresif dari melakukam kekejaman lebih lanjut, maka Anda sebaiknya tidak membalas dendam atau menimpakan kesulitan kepada negara itu.

Sebaliknya, Anda harus berupaya membantu mereka dalam membangun ekonomi dan infrastruktur mereka. Ketika akan membantu mereka, hal itu juga akan membantu Anda untuk waktu jangka panjang. Jika negara-negara yang menjadi pusat peperangan atau perpecahan itu menjadi makmur secara ekonomi, maka mereka tidak akan lagi memendam rasa kecewa atau membenci negara-negara lain. Warga mereka juga tidak akan dipaksa untuk mengungsi. Inilah kebijaksanaan yang menjadi dasar ajaran Islam, yang melampaui keadilan dasar dan menunjukkan kebaikan dan kasih sayang.

Tingkat ketiga (dalam hubungan masyarakat) yang diajarkan oleh Al-Qur’an adalah memperlakukan orang lain selayaknya seorang ibu memperlakukan anaknya, ini adalah bentuk cinta tanpa pamrih, karena diberikan tanpa mengharapkan imbalan. Memperlakukan orang lain dengan semangat kebaikan memang tidak mudah, tetapi ini harus menjadi cita-cita kita.

Pada akhirnya, untuk mewujudkan perdamaian, baik di negara-negara Muslim atau di tingkat internasional yang lebih luas, paling tidak tuntutan keadilan dapat dipenuhi oleh pemerintah sehingga semua orang diberikan haknya dan sikap mementingkan diri sendiri dapat hilang dengan cara yang adil dan benar. Lebih jauh, lembaga-lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, harus memperlakukan setiap negara secara setara, bukannya tunduk pada kehendak kekuatan-kekuatan tertentu. Ini adalah sarana perdamaian, ini adalah roadmap menuju dunia yang lebih baik.

Ini adalah satu-satunya cara kita untuk mencegah manusia tergelincir lebih jauh pada mara bahaya.

Dengan kata-kata yang singkat ini, saya berdoa sepenuh hati semoga Allah taala dapat menegakkan kedamaian sejati dan semoga bayang-bayang peperangan dan konflik yang menggelayuti kita digantikan dengan langit biru kedamaian dan kemakmuran. Saya berdoa semoga berakhir segala keputusasaan dan perampasan yang telah merongrong kehidupan banyak orang, yang telah memicu perang dan penindasan yang menghancurkan seluruh dunia.

Alih-alih berusaha menguasai orang lain dan hanya menuntut hak mereka sendiri, saya berdoa semoga bangsa-bangsa dan para pemimpin mereka dapat menyadari manfaat dari memenuhi hak satu sama lain. Alih-alih menyalahkan agama atau etnis tertentu atas berbagai permasalahan dunia, saya berdoa semoga kita menunjukkan sikap toleransi terhadap agama dan adat istiadat satu sama lain dan menghargai keragaman dalam masyarakat kita.

Saya berdoa semoga kita dapat melihat hal yang terbaik dalam kemanusiaan dan menggunakan kekuatan dan keterampilan masing-masing untuk membangun dunia yang lebih baik bagi anak-anak kita dan menumbuhkan perdamaian abadi di masyarakat. Tentu saja kita tidak memikirkan alternatif selain itu. Sebelumnya saya telah mengutip beberapa ahli yang telah memperingatkan perang nuklir dan perlombaan senjata global yang terus meningkat. Artikel-artikel itu semakin memberi keyakinan bahwa dunia sedang menuju bencana besar yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya dan tidak mungkin dapat mengatasinya.

Menurut beberapa perkiraan, efek dari perang nuklir bisa meliputi 90% dunia. Lebih jauh lagi jika terjadi perang nuklir, kita tidak hanya akan menghancurkan dunia saat ini, tetapi kita juga akan meninggalkan jejak kehancuran dan kesengsaraan yang abadi bagi generasi kita di masa depan. Oleh karena itu kita harus berhenti sejenak dan merenungkan konsekuensi dari tindakan kita.

Kita tidak boleh menganggap masalah atau konflik apa pun, baik di dalam negeri atau di tingkat internasional itu tidak penting. Baik kita berhadapan dengan masalah ekonomi, atau imigrasi atau krisis lainnya, kita harus menunjukkan toleransi dan berusaha meruntuhkan setiap penghalang yang memecah belah kita. Kita harus melakukan segala upaya dan kemampuan kita untuk mewujudkan perdamaian dengan mengakhiri setiap konflik secara damai, melalui dialog dan saling berkompromi dan memenuhi hak satu sama lain.

Semoga Allah yang Maha Kuasa memungkinkan kita untuk mewujudkannya – Aamiin.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang telah bergabung dengan kami pada malam ini. Terima kasih banyak.’

Sumber: Review of Religions
Penerjemah: Jusman
Editor: Damayanti