Perdamaian Dunia, Kebutuhan Mendesak Zaman ini

Hazrat Mirza Masroor Ahmad (atba)

Dalam menghadapi meningkatnya berbagai konflik dan ketegangan di banyak negara, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (Aba), Pemimpin tertinggi Jamaah Ahmadiyah seluruh dunia menyampaikan pidato bersejarah di Parlemen Nasional Selandia Baru di Wellington pada 4 November 2013. Di hadapan para anggota parlemen, duta besar negara-negara, akademisi dan tamu-tamu lainnya, Beliau menekankan bahwa keadilan merupakan sarana untuk menciptakan perdamaian.

Perdamaian Dunia, Kebutuhan Mendesak Zaman ini, Ahmadiyah

Para tamu yang terhormat – Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatohu.

Pertama-tama dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan acara ini, khususnya Anggota Parlemen yang terhormat, Kanwaljit Singh Bakshi, dan telah memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara pada hari ini. Kedua, saya ingin berterima kasih kepada Anda semua yang hadir dan mendengarkan saya.

Tentu saja, di Gedung Parlemen ini para politisi dan anggota parlemen telah mengadakan banyak pertemuan untuk membuat kebijakan dan rencana-rencana serta membuat perundang-undangan, yang semuanya bertujuan untuk kemajuan bangsa. Di samping itu, saya yakin banyak juga para pemimpin dunia yang telah datang ke sini dan berbicara kepada Anda semua sesuai pengetahuan, keahlian, dan pengalaman-pengalaman mereka.

Namun Anda semua jarang didatangi oleh pemimpin komunitas suatu agama, lebih khususnya pemimpin Muslim. Jadi, kesempatan yang Anda berikan kepada saya untuk berbicara sebagai pemimpin Muslim Ahmadiyah Internasional, yang murni sebuah organisasi Islam yang tujuannya untuk menyebarkan ajaran Islam yang benar, telah menunjukkan tingkat keterbukaan dan toleransi yang tinggi dari Anda. Oleh karena itu, saya patut untuk berterima kasih atas sikap yang baik ini.

Pentingnya Perdamaian

Setelah ucapan terima kasih ini, saya ingin beralih ke bagian utama pidato saya tentang beberapa hal tentang ajaran-ajaran Islam yang indah. Saya akan berbicara tentang sebuah persoalan, yang dalam pandangan saya merupakan kebutuhan mendesak saat ini – hal tersebut adalah pembentukan perdamaian dunia. Dari sudut pandang duniawi banyak di antara kalian yang telah melakukan upaya untuk menciptakan perdamaian, baik di tingkat individu atau pemerintah secara kolektif. Upaya Anda pastilah dimotivasi oleh niat baik dan Anda akan mendapatkan beberapa keberhasilan dalam upaya ini. Begitu juga pemerintah Anda selama bertahun-tahun telah memberikan nasihat kepada negara-negara besar lainnya tentang cara-cara untuk mengembangkan dunia yang damai dan harmonis.

Tidak diragukan lagi, keadaan dan kondisi dunia saat ini sangat genting dan menyebabkan keprihatinan besar di seluruh dunia. Meskipun beberapa konflik besar saat ini terjadi di dunia Arab, tetapi setiap orang yang bijak atau cerdas menyadari bahwa konflik semacam itu tidak akan terbatas pada satu wilayah saja. Konflik yang terjadi antara pemerintah dan rakyatnya dapat meningkat menjadi konflik internasional yang jauh lebih luas. Dan faktanya, kita telah menyaksikan telah terbentuknya dua blok pemerintahan besar. Satu blok mendukung Pemerintah Suriah, sementara yang lain mendukung pasukan pemberontak. Jadi situasi ini jelas bukan hanya ancaman besar bagi negara-negara Muslim tetapi juga merupakan sumber bahaya yang besar bagi seluruh dunia.

Belajar Dari Masa Lalu

Kita seharusnya tidak pernah melupakan pengalaman pahit dari dua Perang Dunia yang terjadi di abad yang lalu. Kerusakan parah yang khususnya disebabkan Perang Dunia Kedua, belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan hanya menggunakan senjata-senjata konvensional pada penduduk yang sangat padat, kota-kota hancur porak poranda serta jutaan orang terbunuh.

Selanjutnya, selama Perang Dunia Kedua, dunia menyaksikan peristiwa yang sangat dahsyat ketika bom atom digunakan untuk melawan Jepang yang menyebabkan kehancuran yang mendengar dampaknya saja membuat seseorang gemetar dan bergidik. Museum-museum di Hiroshima dan Nagasaki cukup menjadi pengingat tentang kengerian dan kehancuran total yang terjadi.

Terkait:   Pentingnya Khilafah

Selama Perang Dunia II, sekitar 70 juta orang tewas, dan di antara yang meninggal itu 40 jutanya adalah warga sipil. Jadi lebih banyak warga sipil yang menjadi korban dibandingkan personil militer. Kemudian setelah perang dunia berakhir, dampaknya juga sangat mengerikan, kematian pasca perang meningkat menjadi jutaan orang. Selama bertahun-tahun setelah digunakannya bom nuklir, radiasi memiliki efek degeneratif yang mengerikan pada anak-anak yang baru lahir.

Di dunia saat ini, beberapa negara kecil pun telah memiliki senjata nuklir dengan pemimpin yang kerap bertindak gegabah. Sepertinya mereka tidak peduli dengan dampak yang merusak akibat tindakan mereka.

Dan jika kita membayangkan perang nuklir terjadi hari ini, gambaran yang tercipta akan membuat orang terguncang dengan penuh ketakutan. Bom atom yang dimiliki oleh negara-negara yang lebih kecil saat ini bahkan lebih kuat daripada yang digunakan selama Perang Dunia Kedua. Jadi suasana konflik dan ketidakstabilan ini hanya menimbulkan keprihatinan besar bagi orang-orang yang berkeinginan membangun perdamaian di dunia dan mereka yang sedang bekerja untuk itu.

Situasi dunia yang menyedihkan saat ini adalah, di satu sisi orang-orang berbicara tentang menciptakan perdamaian, tetapi di sisi lain mereka dipenuhi oleh cara-cara egoistik yang dibungkus dengan kesombongan dan arogansi. Mereka hendak memperlihatkan superioritas dan kekuatan mereka, dan setiap negara yang kuat melakukan segala upaya untuk hal itu.

Pasca Perang Dunia II, dalam upaya membangun perdamaian dunia jangka panjang dan untuk mencegah perang di masa akan datang, bangsa-bangsa bergabung membentuk sebuah organiasi yang mereka sebut PBB. Namun, sebagaimana Liga bangsa-bangsa telah gagal mencapai tujuannya, status kehormatan PBB kian turun dari hari ke hari. Jika persyaratan keadilan tidak dipenuhi, maka tak peduli berapa banyak organisasi yang dibentuk untuk perdamaian, upaya mereka akan sia-sia.

Saya baru saja menyebutkan kegagalan Liga Bangsa-Bangsa. Lembaga ini dibentuk setelah Perang Dunia Pertama, dengan tujuan tunggal, yaitu menjaga perdamaian dunia; Namun Liga ini tidak bisa menghentikan Perang Dunia Kedua, yang seperti saya katakan sebelumnya telah menyebabkan begitu banyak kehancuran dan kerugian.

Selandia Baru juga menderita jatuhnya korban akibat perang. Dikatakan bahwa selandia baru kehilangan sekitar 11.000 orang yang hampir semuanya berasal dari militer. Karena Selandia Baru letaknya jauh dari episentrum perang, tidak banyak sipil yang menjadi korban. Namun, seperti yang sudah saya singgung, secara umum di dalam perang, warga sipil yang tidak bersalah lebih banyak terbunuh dibandingkan personil militer. Kita bisa bayangkan, orang-orang biasa yang tidak bersalah, termasuk wanita dan anak-anak yang tak terhitung jumlahnya, dibunuh tanpa pandang bulu padahal mereka tidak melakukan kejahatan.

Atas dasar ini, Anda akan menemukan bahwa hati orang-orang yang tinggal di negara-negara yang dilanda peperangan secara langsung, terpendam kebencian terhadap perang itu sendiri. Tentu saja, sebagai wujud kecintaan terhadap suatu bangsa, jika negaranya diserang, maka setiap warga negara wajib untuk memberikan setiap pengorbanan guna mempertahankan dan membebaskan bangsa. Namun demikian, jika konflik dapat diselesaikan dengan cara yang damai melalui negosiasi dan diplomasi maka seseorang tidak perlu mendatangkan kematian dan pembunuhan.

Di masa lalu ketika perang terjadi, ada pihak yang sebagian besar korbannya adalah militer dan sangat sedikit dari sipil. Namun, sarana perang saat ini sudah meliputi penggunaan pemboman udara, gas beracun, bahkan senjata kimia. Dan seperti yang saya katakan, ada juga potensi penggunaan senjata yang paling mengerikan dari semuanya – bom nuklir. Sehingga perang saat ini sangat berbeda dengan masa lalu, karena perang hari ini berpotensi dapat memusnahkan umat manusia dari muka bumi.

Ajaran Al-Qur’an Tentang Pembentukan Perdamaian

Izinkan saya pada titik ini untuk menyampaikan ajaran Al-Qur’an yang indah tentang pembentukan perdamaian. Al-Qur’an menyatakan:

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya, maka tiba-tiba ia, yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia.

(QS Ha Mim as-Sajdah [41]: 35)

Jadi Al-Qur’an mengajarkan bahwa sebisa mungkin, setiap permusuhan atau dendam harus direkonsiliasi dan diselesaikan dengan membuka jalur komunikasi dan dialog. Tentu saja berbicara kepada seseorang dengan penuh kebaikan dan kebijaksanaan akan memiliki efek yang sangat positif di hati mereka dan menjadi sarana untuk menghilangkan kebencian dan dendam.

Terkait:   Penangguhan Jihad: Benarkah Ahmadiyah Menghapuskan Jihad?

Tidak diragukan lagi, di zaman ini, kita yakin bahwa kita adalah masyarakat yang maju dan beradab. Kita telah mendirikan berbagai badan amal dan yayasan internasional yang menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan bagi anak-anak, atau menyediakan perawatan kesehatan bagi para ibu. Demikian pula, banyak badan amal yang didirikan atas dasar simpati dan kasih sayang. Kita yang telah melakukan semua ini, harus merenungkan dan memperhatikan kebutuhan mendesak saat ini dan memikirkan bagaimana kita menyelamatkan diri sendiri dan orang lain dari kehancuran dan kerusakan.

Kita harus menyadari bahwa dibandingkan enam atau tujuh dekade yang lalu dunia saat ini jauh lebih terbuka. Enam puluh atau tujuh puluh tahun yang lalu Selandia Baru adalah negara yang jauh, baik dari Asia atau Eropa. Namun, hari ini Selandia baru sudah menjadi bagian integral dari satu komunitas global. Jadi, dalam keadaan perang, tidak ada negara dan wilayah yang aman.

Para Pemimpin dan politisi Anda adalah penjaga bangsa. Mereka memiliki tanggung jawab atas keamanan negara, kemajuan dan kesejahteraan jangka panjang. Dan lebih penting lagi mereka harus selalu mengingat poin penting ini bahwa dari sebuah peperangan lokal, dapat menyebabkan kehancuran dan kerusakan yang lebih luas. Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan pikiran sehat dan kebijaksanaan kepada beberapa pemerintah besar sehingga mereka menyadari untuk mengambil tindakan penghentian perang dan mencegah kehancuran total yang dapat terjadi. Yang paling terkait adalah Presiden Rusia yang melakukan upaya untuk menahan beberapa kekuatan besar lainnya dari menyerang Suriah. Ia menegaskan bahwa semua negara, baik besar atau kecil, harus diperlakukan sama. Ia juga mengatakan bahwa jika persyaratan keadilan tidak dipenuhi dan jika negara lain melakukan perang secara independen maka PBB akan mengalami nasib yang sama dengan Liga Bangsa-Bangsa.

Saya percaya bahwa ia sepenuhnya benar dalam analisis ini. Meskipun saya tidak mendukung semua kebijakannya, tetapi kata-kata bijaknya harus diterima. Saya berharap ia dapat melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa hak veto yang dipegang oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB harus diakhiri selamanya, sehingga keadilan dan persamaan sejati benar-benar dapat ditegakkan di semua negara.

Tahun lalu saya diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato di Capitol Hill, Washington D.C. (Baca: Jalan Menuju Perdamaian, Keadilan Antar Bangsa). Para hadirin terdiri dari para Senator, anggota Kongres, para think tank dan para cendikiawan dari berbagai bidang. Saya dengan jelas mengatakan kepada mereka bahwa tegaknya keadilan hanya dapat dipenuhi jika semua pihak dan semua orang diperlakukan sama. Saya katakan kepada mereka bahwa jika Anda terus menyoroti perbedaan antara negara besar dan kecil dan negara kaya dan miskin dan jika Anda terus mempertahankan hak veto yang tidak adil, maka keresahan dan kecemasan pasti akan terus berkembang. Dan faktanya kecemasan seperti itu sudah mulai menampakkan wajah mereka di dunia.

Maka, sebagai Pemimpin Jamaah Muslim internasional, maka saya berkewajiban menarik perhatian dunia untuk membangun perdamaian. Saya menganggap ini sebagai kewajiban karena makna Islam adalah perdamaian dan keamanan. Kalaupun negara-negara Muslim tertentu bertindak dan menyebarkan tindakan ekstrem yang penuh kebencian, maka seharusnya hal itu tidak sampai mengarah pada kesimpulan bahwa ajaran Islam mengajarkan kekacauan atau perselisihan. Saya baru saja mengutip satu ayat Al-Qur’an dan di dalamnya ada pelajaran tentang bagaimana membangun perdamaian.

Terkait:   Penistaan Agama Menurut Islam

Selanjutnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan para pengikutnya untuk selalu memberikan “Salaam,” yang berarti selalu menyebarkan pesan perdamaian. Dari teladan beliau kita mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mengajak pada perdamaian kepada semua non-Muslim, baik itu Yahudi, Kristen, dan orang-orang dari agama dan kepercayaan lain. Beliau melakukan hal itu karena beliau menyadari bahwa semua manusia adalah bagian dari ciptan Tuhan, dan juga karena salah satu sifat Tuhan adalah As-Salam, Sumber Perdamaian’ sehingga Dia menghendaki kedamaian dan keamanan bagi seluruh umat manusia.

Saya telah menyebutkan beberapa ajaran Islam yang terkait dengan perdamaian, tetapi karena terbatasnya waktu saya sebutkan hanya beberapa aspek saja. Pada intinya Islam dipenuhi berbagai perintah dan ajaran yang mendukung perdamaian dan keamanan bagi semua orang.

Dan terkait dengan keadilan apa yang diajarkan oleh Al-Quran? Pada Surah Al-Maidah: 9 Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat ini Al-Quran menguraikan standar keadilan yang sangat tinggi. Perintah ini tidak memberi ruang bagi orang-orang yang mengaku diri mereka sebagai Muslim untuk melakukan kekejaman dan kebrutalan. Tidak juga akan memberi ruang kritik dari orang-orang berupaya menggambarkan Islam sebagai agama yang keras dan ekstremis. Al-Quran telah menetapkan standar keadilan dan kejujuran yang patut dicontoh. Ajaran ini tidak saja dikatakan adil, tetapi pada hakikatnya juga mendukung ekuitas sedemikian rupa dengan pernyataan:

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah saksi karena Allah walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat. Baik ia orang kaya atau miskin, maka Allah lebih memperhatikan kepada keduanya. Karena itu janganlah kamu menuruti hawa nafsu agar kamu dapat berlaku adil. Dan, jika kamu menyembunyikan kebenaran atau mengelakkan diri, maka sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui segala sesuatu yang kamu kerjakan.”

(QS An-Nisa [4]: 136)

Itulah standar keadilan untuk menegakkan perdamaian dunia, dari elemen masyarakat yang paling rendah sampai skala internasional. Sejarah menjadi saksi bahwa pendiri Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa bertindak atas ajaran ini dan menyebarkannya ke seluruh pelosok. Dan di zaman ini, hamba sejati dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang merupakan pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, telah memperjuangkan dan menyebarkannya dan juga memerintahkan kepada para pengikutnya untuk menyebarkan perdamaian. Beliau lebih lanjut menyeru para pengikutnya untuk menarik perhatian manusia dalam memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama. Karena inilah Jamaah Muslim Ahmadiyah menekankan kepada semua orang tuntutan penting untuk memenuhi hak-hak Allah dan makhluk-Nya serta menerapkan standar keadilan yang terbaik.

Saya berdoa semoga masing-masing dari kita, terlepas dari agama dan keyakinannya, dapat terus menaruh perhatian untuk memenuhi hak satu sama lain, sehingga dunia dapat menjadi surga perdamaian kerukunan.

Akhir kata saya tutup pidato saya dan sekali lagi terima kasih karena telah mengundang saya dan terimakasih atas kehadiran dan mendengarkan pidato saya.

Sumber: World Peace – The Critical Need of the Time
Penerjemah: Mln. Jusmansyah