Peresmian Masjid di Mahdiabad, Nahe, Jerman

Berbagai makna menegakkan shalat; shalat berjamaah; makna kejatuhan shalat; berbagai permisalan kelezatan dalam shalat.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 25 Oktober 2019 (25 Ikha 1398 Hijriyah Syamsiyah/Shafar 1441 Hijriyah Qamariyah) di Jerman

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

 

الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ ()

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.(Surah al-Hajj, 22:42).

Di ayat ini Allah Ta’ala menarik perhatian orang-orang beriman fakta bahwa orang-orang beriman hakiki ialah mereka yang ketika mendapatkan kekuatan setelah melewati kelemahan dan kegelisahan ketika telah mendapatkan kedamaian dan keadaan telah lebih baik lalu dapat melaksanakan kegiatan agama dengan bebas; mereka tidak lantas menyibukkan diri untuk memenuhi hawa nafsu dan keuntungan pribadi melainkan mereka menegakkan shalat, menaruh perhatian terhadap shalat, memakmurkan masjid, mengkhidmati kemanusiaan dan membelanjakan hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan dengan disertai rasa takut kepada Allah Ta’ala. Mereka memberikan berbagai pengorbanan untuk menyebarkan agama; mereka menyucikan hartanya dengan membelanjakan sebagian hartanya untuk menyebarkan agama Allah Ta’ala; mereka menaruh perhatian pada hal-hal yang baik dan mengajak orang lain juga untuk melakukan amalan saleh dan memenuhi hak Allah Ta’ala dan menunaikan hak-hak sesama manusia.

Mereka menghindarkan diri dari keburukan dan mencegah orang lain darinya. Mereka melakukan itu semua dengan didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala dan mengamalkan perintah Allah Ta’ala sehingga Allah Ta’ala akan memastikan setiap amal perbuatan mereka memperoleh hasil terbaik. Penyebabnya, Allah Ta’ala-lah yang akan memutuskan segala sesuatu hasil. Maka dari itu, perbuatan apa saja yang dilakukan dengan petunjuk dan perintah Allah Ta’ala dan didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala, tentunya akan memberikan hasil terbaik. Jadi, jika hal prinsip ini dipahami oleh kita semua maka kita akan terus menjadi peraih karunia-karunia-Nya.

Anda telah mendirikan masjid di sini, di Mahdi Abad, begitu juga beberapa hari lalu kita telah meresmikan masjid di Fulda dan Giessen. Dengan karunia Allah Ta’ala jemaat Jerman tengah meraih taufik untuk membangun masjid di bawah proyek 100 mesjid dan tentunya para Ahmadi memberikan pengorbanan harta untuk membangun masjid atas dasar melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan keinginan untuk meninggikan mutu ibadah. Setelah hijrah dari Pakistan ke negeri ini, keadaan ekonomi kita menjadi lebih baik. Hal ini hendaknya menjadi pengingat kita untuk membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala dan mendirikan rumah-Nya tempat mana kita dapat berkumpul, mendirikan shalat, shalat secara berjamaah dan menciptakan keadaan dalam shalat yang dengannya dapat timbul perhatian murni Allah Ta’ala kepada kita. Hal demikian terjadi ketika kita secara leluasa mampu memenuhi hak-hak ibadah kepada Allah Ta’ala.

Di Pakistan kita tidak mendapatkan kebebasan dalam menjalani kehidupan beragama. Hukum negara tidak mengizinkan kita membangun masjid-mesjid dan tidak mengizinkan kita melakukan aktifitas ibadah dengan bebas demi melaksanakan hak-hak Allah Ta’ala dan beribadah kepada-Nya. Di sini kita tengah membangun masjid-masjid untuk memenuhi hak-hak Allah ta’ala dan dari sisi harta pun Allah ta’ala pun telah menganugerahkan karunia-Nya kepada kita. Setiap kita hendaknya memikirkan hal ini. Maka dari itu, kita juga akan berupaya melaksanakan hak-hak hamba-Nya dan kenyataannya kita tengah melakukan hal itu. Kita telah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) supaya dapat memperbaiki keadaan ruhani dan akhlaki. Maka dari itu, masjid-masjid ini hendaknya mengingatkan kita akan hal tersebut. Jadi, pemikiran dan upaya untuk mengamalkan ini semua harus terpatri di dalam benak dan hati setiap Ahmadi yang tinggal disini dan buktikanlah dengan amal perbuatan. Jika tidak, membangun masjid saja tanpa itu maka tidak ada faedahnya.

Setiap Ahmadi hendaknya ingat dengan hanya membangun masjid saja, tujuan mereka tidak lantas terpenuhi melainkan akan terpenuhi jika menaruh perhatian pada ibadah dengan tulus, menegakkan shalat-shalat, datang ke masjid untuk shalat berjamaah dan ketika dalam shalat mereka mencurahkan segala perhatiannya kepda Allah ta’ala. Jika perhatian mereka pecah kesana-kemari, segeralah alihkan perhatiannya kepada shalat dan Allah Ta’ala. Tujuan mereka ini akan terpenuhi ketika memahami hakikat bahwa ketika shalat kita tengah mendapatkan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Allah ta’ala. Tidak hanya menggerakkan badan atau tidak hanya sujud saja atau tidak hanya mengulang-ulang kata-kata dalam bahasa Arab saja. Kita juga dapat berbicara dengan Tuhan dalam bahasa sendiri.

Hendaknya melaksanakan shalat dengan mengusahakan dalam corak bahwa kita akan meraih liqa Ilahi (perjumpaan atau penghadapan dengan Allah).

Dalam menjelaskan sifat-sifat orang bertakwa dan sifat-sifat seorang beriman hakiki, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Mereka ialah yang melaksanakan shalat dan menegakkannya. Seorang Muttaqi sedapat mungkin menegakkan shalatnya. Artinya, ketika keadaan shalatnya mengalami kejatuhan, ia tegakkan lagi.

Seorang Muttaqi selalunya takut kepada Allah ta’ala dan menegakkan shalat. Dalam keadaan demikian terdapat berbagai macam waswas dan rintangan yang menganggunya ketika berhadapan dengan Allah Ta’ala. Waswas dan khayalan mengalihkan fokus kita dari Allah Ta’ala. Inilah yang dimaksud dengan jatuhnya shalat. Yang dimaksud dengan menegakkannya kembali adalah memusatkan lagi perhatian kepada Allah ta’ala.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan, “Akan tetapi, jika di dalam hati tersebut terdapat ketakwaan maka seorang muttaqi yang merupakan seorang beriman hakiki tetap menegakkan shalatnya dalam keadaan dilema diri seperti itu.”

Artinya, memang shalat kadang mengalami kejatuhan dan perhatian pecah kesana-kemari namun ketakwaan menuntutnya berusaha untuk menegakkan kembali shalatnya, memfokuskan lagi segenap perhatiannya pada menegakkan shalat dan Allah Ta’ala. Inilah yang dinamakan mendirikan shalat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ia berkali-kali menegakkan shalatnya dengan gigih.”

Jika manusia dapat menegakkan shalatnya secara istiqamah dan terus berusaha meraih standar tinggi dalam shalatnya makan akan tiba suatu masa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan hidayah kepadanya dengan perantaraan kalam-Nya.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal petunjuk, yakni apa itu hidayah? Beliau (as) bersabda, “Itu merupakan keadaan dimana seseorang tidak mendapatkan kendala lagi dalam upaya untuk menegakkan shalat. Shalatnya tidak mengalami kejatuhan. Tidak juga perhatiannya hilang lalu fokus lagi. Ia tidak mengalami hal itu bahkan setelah meraih hidayah, shalat baginya merupakan makanan. Asupan makanan adalah perlu untuk keberlangsungan tubuh manusia. Begitu juga untuk perkembangan ruhani, shalat menjadi asupannya. Sebagaimana manusia tidak dapat hidup tanpa makanan jasmani, (ini saya jelaskan) seperti itu jugalah tanpa shalat kehidupan tidak dapat berlangsung.”

Tidak juga kita makan hanya demi kelangsungan hidup, bahkan makanan juga memberikan kelezatan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Seseorang diberikan kelezatan sedemikian rupa selama shalat yang mana mempunyai persamaan dengan seseorang yang tengah haus berat terobati dengan meminum air dingin. Sebab, ia akan meminumnya dengan penuh semangat lalu merasa kenyang dan lezat. Jika seseorang mengalami haus nan sangat dan dalam keadaan tidak mampu menemukan air maka kesenangan yang dialaminya ketika suatu saat ia menemukan air dan air dingin nan segar untuk ia minum ialah sama seperti kelezatan yang dirasakan seseorang yang telah mendapatkan hidayah hakiki dalam shalat mereka.”

Permisalan lain yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) berikan ialah jika ada orang yang tengah kelaparan lalu mendapatkan makanan yang lezat maka ia akan memakannya dan bahagia karenanya. Demikian pula pada hakikatnya kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang melakukan shalat secara hakiki. Jadi, shalat hakiki adalah shalat yang dilakukan dengan kecintaan, bukan menganggapnya sebagai beban.

Bahkan, Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan contoh bahwa bagi seorang beriman hakiki, shalat membuatnya seperti pemabuk. Jika tidak meminum minuman keras maka itu akan membuatnya sangat menderita. Sebagaimana seorang pemabuk, jika tidak mabuk maka ia akan menderita, gelisah dan tidak tenang.

Namun demikian, sebagai hasil dari mendirikan shalat maka hatinya akan bahagia dan merasakan kesejukan.

Beliau (as) bersabda, “Kelezatan yang diraih oleh orang yang shalat secara hakiki tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.“

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan bahwa seorang yang beriman lagi muttaqi mengalami kelezatan dalam shalat. Maka dari itu, lakukanlah shalat dengan sebaik-baiknya. Shalat merupakan akar dan tangga untuk meraih setiap kemajuan. Dikatakan, الصلاة معراج المؤمنAsh-shalaatu mi’rajul Mu-min” – “Shalat merupakan miraj (tangga) bagi orang beriman yang dengan perantaraannya ia dapat sampai kepada Allah Ta’ala.[1]

Jadi, jika kita membangun masjid, hal itu bertujuan untuk melaksanakan shalat-shalat yang seperti itu. Jika kita menaruh perhatian untuk membangun masjid maka kita melakukannnya demi meraih mi’raj (tangga) ini yang mana diperlukan sebagai sarana yang dapat membawa kita kepada Allah Ta’ala dan mendapatkan kesempatan untuk bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala. Jadi, janganlah berputus asa dalam meraih maqam (kedudukan)  ini. Dengan upaya yang berkesinambungan, Allah Ta’ala akan memberikan maqam (kedudukan) tersebut. Banyak sekali orang yang bertanya bahkan sampai sekarang menulis kepada saya menanyakan bahwa ketika shalat mereka tidak dapat fokus. Inilah obatnya yakni berusahalah terus untuk menegakkan kembali tawajjuh (memusatkan perhatian).

Terkait:   Jalsah SalanahUK (Britania Raya)

Dalam suatu acara seseorang pernah bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), “Akhir akhir ini saya tidak merasakan kelezatan dan kekhusyuan ketika shalat, saya sangat menderita karenanya, karena saya pernah merasakan lezatnya shalat. Selalu timbul keraguan tanpa sebab, padahal saya selalu menghindarinya, namun waswasah itu tidak lepas dari benak saya. Apa yang harus saya lakukan saat ini?”

Beliau (as) menjawab, “Ini pun merupakan karunia dan ihsan Allah Ta’ala sehingga manusia tidak dikuasai oleh waswas itu. Anda pun menyadari hal itu dan Anda tidak membiarkannya menguasai Anda.

Ketika tercipta keadaan dimana Tuhan tidak membiarkan waswas itu menguasai kita, ini pun merupakan keadaan pahala. Dia juga memberikan ganjaran-Nya. Dia adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Beliau bersabda: “Orang yang berada pada tingkatan nafsu ammarah tidak menyadari apa itu keburukan sehingga terus melakukan keburukan. Sedangkan yang berada pada tingkatan Nafsu Lawwamah setelah melakukan keburukan ia merasa takut lalu menyesalinya. Dalam keadaan demikian Allah Ta’ala pun memberikan ganjaran kepadanya. Ia merasa malu dan menyesali lalu bertaubat, orang yang seperti itu bukanlah hamba hawa nafsu.”

Beliau (as) bersabda, “Tidak perlu khawatir jika timbul waswas dan khayalan lalu berusaha menjauhkannya maka anda akan mendapatkan ganjaran. Allah Ta’ala memberikan ganjaran-Nya. Keadaan demikian sampai batas tertentu diperlukan juga. Tidak perlu khawatir, karena dalam keadaan demikian terdapat ganjaran yang besar sampai-sampai Allah Ta’ala sendiri akan menurunkan nur dan ketentraman padanya. Sebagai hasilnya, seseorang akan merasakan kesejukan dan kepuasan. Hendaknya seseorang yang seperti itu tidak kenal lelah dan ketika shalat biasakanlah banyak-banyak membaca doa, يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُYa Hayyu Ya Qayyum ubi-Rahmatika astaghits.[2]

Namun, ingatlah ketergesa-gesaan adalah suatu hal yang merugikan. Islam mengajarkan untuk tidak tergesa-gesa. Jadilah pemberani. Siapa saja yang memperlihatkan ketergesa-gesaan, dia bukanlah pemberani melainkan pengecut. Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun akhirnya serangan setan melemah lalu membuatnya melarikan diri. Jadi prinsip ini hendaknya selalu diingat, untuk tidak tergesa gesa dan peganglah terus Allah Ta’ala, tunduklah dihadapannya, pada akhirnya syaitan akan menyerah dan kabur. Namun jika tergesa gesa dan tidak berupaya keras untuk menegakkan shalat, maka manusia akan berada dalam cengkeraman syaitan. Yang Nampak biasanya manusia tergesa gesa, jika tidak mendapatkan hasil yang cepat, lalu mengatakan bahwa doa doa yang ia panjatkan itu tidak membuahkan hasil.

Hendaknya diingat, jika manusia melulu meminta hal-hal duniawi saja, Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa doa seperti itu. Namun jika meminta kemajuan ruhani dan jasmani dan Qurub Ilahi, maka Allah akan mendekat padanya lalu memenuhi segala kebutuhan duniawinya. Untuk meminta kepada Allah Ta’ala ada metode dan prinsip yang harus kita tempuh. Jika tidak bagaimana mungkin disatu sisi Allah Ta’ala berfirman ud’uunii astajiblakum yakni berdoalah padaku, akan Aku kabulkan, sedangkan disisi lain seorang hamba menyeru, namun Tuhan tidak mendengarnya.

Dalam menjelaskan topik ini Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: Dalam shalat terdapat doa-doa dan shalawat dalam Bahasa arab, namun tidaklah diharamkan bagi kalian jika berdoa dalam Bahasa sendiri. Adalah perintah Tuhan supaya shalat dilakukan dengan tadharu (merendahkan hati) dan khusyu. Ciptakanlah kerendahan hati, lembutkanlah hati sehingga tercipta rasa takut dalam hati yakni aku tengah berdiri dihadapan Allah dan memohon kepadaNya. Shalat yang dilakukan dengan penuh kerendahan hati akan menjauhkan dosa dosa, sebagaimana difirmankan: Innal hasanaati yudzhibnas sayyiaati yakni kebaikan menjauhkan keburukan. Yang dimaksud kebaikan di sini adalah shalat. Khusyu dan kerendahan hati dapat diraih dengan meminta dalam Bahasa sendiri.”

Artinya, jika timbul kerendahan hati, maka hati manusia menjadi melebur. Jika ia meminta dalam bahasanya baru akan tercipta keadaan itu yakni ketika manusia faham apa yang sedang dimintanya. Jadi, biasakan juga untuk berdoa dalam Bahasa sendiri.

Beliau (as) bersabda: Doa doa yang telah Allah ajarkan sangatlah penting, panjatkanlah itu. Doa terbaik diantaranya adalah Al Fatihah karena Al Fatihah adalah doa yang komplit. Dalam surat Al Fatihah Allah Ta’ala mengajarkan satu doa kepada kita Ihdinas siraatal mustaqiim. Maknanya sangatlah luas.

Dalam menjelaskan hal itu beliau (as) bersabda: Ketika seorang petani menguasai bidangnya berarti petani tersebut telah sampai pada siratal mustaqim dalam bidang pertanian. Ketika seorang petani mengetahui cara cara bertani, membajak, menabur benih, cara memberi pupuk, dan air, maka ketika ia menguasai itu semua berarti ia telah sampai pada siratal mustaqim dalam bidangnya.

Demikian juga carilah Siratal mustaqim untuk bertemu dengan Allah Ta’ala dan berdoalah: Ya Tuhan! Aku adalah hambamu yang penuh dosa dan tak berdaya, bimbinglah aku. Mintalah apapun yang diperlukan kepada Allah Ta’ala tanpa rasa segan segan apakah itu untuk hal kecil ataupun besar, karena pemberi sejati adalah Dia. Yang sangat baik adalah mereka yang berdoa, karena jika pengemis meminta seterus menerus dirumah yang bakhil sekalipun, maka pada akhirnya orang yang kikir itu akan merasa malu. Lantas jika kita meminta kepada Tuhan yang tiada bandingannya dalam sifat Pengasih dan penyayang bagaimana mungkin kita akan kembali dengan tangan kosong, orang yang memohon padaNya pasti suatu saat akan mendapatkannya. Doa merupakan nama lain dari shalat. Sebagaimana difirmankan ud’uunii astajiblakum, artinya berdoalah padaku, Aku pasti akan mengabulkannya. Lalu berfirman: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَDan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah, ‘Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.’” [Al-Baqarah, 2:187]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Sebagian orang meragukan eksistensi (keberadaan) Allah Ta’ala, namun Allah Ta’ala berfirman, ‘Tanda keberadaan-Ku adalah jika kalian menyeru pada-Ku dan meminta pada-Ku maka Aku akan menjawabnya dan mengingat kalian.’

Kadang orang-orang mengatakan, ‘Kami telah banyak berdoa namun belum mendapatkan jawaban juga.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda menanggapi pernyataan ini, “Coba perhatikan, jika kamu menyeru seseorang yang berada jauh darimu, pertama disebabkan jauhnya jarak dan juga pendengaranmu bermasalah sehingga kamu tidak mampu mendengarnya.”

Orang yang kamu seru dari kejauhan itu dapat mendengar seruanmu dan menjawabnya, namun ketika ia menjawab, kamu tidak dapat mendengarnya karena pendengaranmu bermasalah.

Bersabda: “Akan tetapi, semakin banyak tabir penghalang yang merintangimu itu disingkirkan, pasti kamu akan dapat mendengarnya. Jika kamu berusaha untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala, kamu akan dapat mendengar suara-Nya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) melanjutkan, “Semenjak dunia diciptakan, senantiasa terbukti bahwa Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan para hamba-Nya yang dipilih-Nya. Jika tidak demikian maka secara perlahan akan musnah dari muka bumi konsep mengenai keberadaan-Nya. Dengan demikian, bukti tertinggi keberadaan Allah Ta’ala adalah kita dapat menyaksikan-Nya dan bercakap-cakap dengan-Nya.

Mampu bercakap-cakap dengan-Nya merupakan hal yang sama dengan menyaksikan-Nya. Selama terdapat tabir penghalang antara Tuhan dengan si pemohon, sampai saat itu si pemohon tidak akan dapat mendengar-Nya. Ketika tabir itu hilang maka suara Tuhan akan dia dengar.”

Walhasil, perlu untuk menghilangkan tabir penghalang itu [diantara manusia dan Tuhan]. Merupakan janji Allah Ta’ala, siapa saja yang datang pada-Nya dengan sebenar-benarnya, melangkah pada-Nya sembari mencari pemahaman hakiki perihal keberadaan-Nya maka Dia pun akan melangkah pada seseorang seperti itu. Nabi Muhammad (saw) telah menjelaskan hal ini, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Jika hamba lebih dulu berusaha datang pada-Ku maka Aku akan datang padanya.” Seperti yang disabdakan dalam hadits, أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً “…Jika hamba-Ku mendekat pada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat padanya sedepa. Jika hamba-Ku datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan berlari pada-Nya…”[3]

Maka dari itu, jika ada perlu mencari sasaran kesalahan maka itu terletak pada kita. Karena itu, satu hal yang esensial bagi kita untuk melangkah kepada-Nya. Untuk mencari jalanNya, untuk berjumpa denganNya pun diperlukan bantuan-Nya.

Ketika kita menyatakan diri baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), adalah perlu agar berusaha keras untuk menempuh demi meraih Allah. Dengan hanya mengamalkan satu perintah Hadhrat Masih Mau’ud (as) saja yakni membangun masjid dengan tujuan supaya Islam dikenal tidaklah cukup. Melainkan diperlukan adanya amal perbuatan nyata dan juga memerlukan pertolongan Allah Ta’ala. Ketika mendapatkan pertolongan Allah ta’ala disertai upaya, baru seseorang akan meraih kesuksesan.

Dalam menjelaskan hal tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “ngatlah bahwa ketika baiat, dalam ikrar baiat timbul keberkatan. Jika bersamaan dengan itu seseorang berjanji untuk mendahulukan agama diatas hal-hal duniawi maka ia akan mengalami kemajuan pesat. Namun sikap mendahulukan itu tidaklah dalam kendali tanganmu melainkan sangat memerlukan pertolongan Ilahi.

Seseorang memerlukan pertolongan Ilahi demi meraih ini sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنْكبوت: 70)Walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulana.’ – “Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. (29:70).

Sebagaimana benih yang tidak diairi dan dirawat, maka tidak akan tumbuh. Jika seorang petani atau manusia menyemaikan benih, jika benih itu tidak dirawat dengan kerja keras, tidak diairi, maka tidak akan tumbuh atau tumbuh namun dalam keadaan lemah bahkan akan mati dengan sendirinya. Begitu juga, jika kalian tidak mengingat ikrar itu setiap hari, ikrar untuk mendahulukan agama diatas dunia dan juga tidak berdoa untuk meminta pertolongan tuhan, maka karunia Allah Ta’ala tidak akan turun.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Beliau (as) bersabda: Tanpa bantuan Ilahi, mustahil akan terjadi perubahan. Untuk itu, untuk memohon pertolongan Ilahi dan untuk memohon karunia Ilahi, bagaimanapun kita harus berdoa. Pencuri, penjahat, pezina, atau pelaku keburukan lainnya, keadaan mereka tidak setiap saat sama, terkadang mereka merasakan penyesalan. Demikianlah keadaan seorang pendosa. Dari itu terbukti bahwa dalam diri manusia pasti terdapat pemikiran baik, jadi untuk pemikiran tersebut ia sangat memerlukan bantuan Ilahi. Karena itu diperintahkan untuk membaca Al fatihah pada shalat lima waktu didalamnya dibacakan iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin. Yakni Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Didalamnya mengisyarahkan akan dua hal yakni dalam setiap perbuatan baik, lakukanlah dengan upaya gigih dan mujahadah. Yakni untuk melakukan perbuatan baik, potensi manusiawi yang Allah berikan, lakukan tadbir dan upaya sedapat mungkin. Ini merupakan isyarah, kepada na’budu, kepada ibadah. Karena orang yang hanya berdoa namun tidak berusaha, tidak akan berhasil.

Dengan hanya berdoa saja tidak cukup, perlu adanya upaya. Sebagaimana petani jika setalah menyemaikan benih namun tidak bekerja keras untuk merawatnya, bagaimana bias berharap dapat memanen hasilnya. Ini merupakan sunnatullah. Jika setelah menyemai benih hanya mengandalkan doa saja, pasti akan luput, jika tidak diairi, dirawat, dipupuki, maka akan luput dari hasil. Misalnya ada dua petani, yang pertama gigih bekerja membajaknya, memberikan pupuk, maka pastinya petani tersebut akan berhasil. Sedangkan petani kedua tidak merawatnya atau kurang, maka hasilnya akan selalu ada kekurangan sehingga mungkin tidak dapat membayar pajak penghasilan kepada pemerintah yakni sama sekali kurang dan ia akan tetap membutuhkan. Demikian juga urusan agama Didalamnya terlahir orang munafik, pemalas, saleh dan juga waliyullah dan mendapatkan kedudukan dalam pandangan Allah Ta’ala.”

Dalam kata lain, mereka semua sama-sama manusia namun sebagian kalangan dari mereka ialah munafik dan tidak punya kemampuan. Sementara itu, di sebagian kalangan mereka ialah orang-orang yang bertakwa dan meraih status wali, cendekiawan, para imam (terkemuka dalam kerohanian) dan dikaruniai keluhuran derajat oleh Allah Ta’ala.

Sebagian orang ada juga melakukan shalat sampai 40 tahun lamanya namun tidak mendapatkan kemajuan dan perubahan. Demikian pula, mereka pun tidak mendapatkan manfaat apa-apa setelah berpuasa 30 hari di bulan Ramadhan. Mereka berpuasa Ramadhan sebulan penuh tetapi tidak mendapatkan kemajuan dan manfaat apa-apa dan setelah Ramadhan kembali lagi seperti semula.

“Banyak orang yang mengatakan, ‘Kami adalah orang yang bertakwa dan dawam shalat, namun kami tidak mendapatkan pertolongan Ilahi.’

Penyebabnya adalah orang tersebut melakukan ibadah semata-mata sebagai rutinitas dan formalitas saja dan tidak pernah terpikirkan untuk meraih kemajuan. Tidak ada perhatian di dalam dirinya akan dosa-dosa. Ia tidak berusaha untuk mencari dosa apa saja yang ada di dalam dirinya dan tidak ada keinginan untuk melakukan taubat hakiki.”

Jika seseorang ada perhatian untuk menilik dosa apa saja yang ada di dalam dirinya maka manusia akan berkeinginan untuk melakukan taubat yang hakiki.

“Orang seperti itu berhenti pada langkah pertama. Manusia seperti itu tidak lebih dari hewan, karena keadaan seperti hewan, tidak ada bedanya antara keadaannya dengan hewan. Shalat yang seperti itu memancing laknat dari Allah Ta’ala, tidak akan diterima, melainkan akan mengenai wajahnya sendiri. Shalat adalah yang membawa serta kemajuan sebagaimana jika ada pasien yang tengah berobat kepada tabib. Pasien mengamalkan resep dari tabib selama 10 hari. Ketika hari demi hari tidak mengalami perbaikan dalam kesehatannya, maka setelah berlalu 10 hari si pasien merasa curiga jangan jangan resep tersebut tidaklah sesuai dengan tabiatnya, untuk itu perlu dirubah. Jadi ibadah yang sifatnya tradisi atau formalitas, tidaklah benar. Harus diganti dan harus difikirkan apa sebabnya, kenapa doaku tidak dikabulkan padahal Allah ta’ala menyatakan akan mengabulkan doa doa.”

Jadi, ibadah adalah yang dengan perantaraannya dapat tercipta qurb Ilahi.

Dalam menjelaskan hakikat shalat beliau (as) bersabda: “Shalat pada hakikatnya adalah doa. Setiap kata yang dibacakan ketika shalat merupakan doa. Jika tidak ada ketertarikan untuk shalat, maka bersiaplah untuk mendapatkan azab, karena siapa saja yang tidak berdoa, apalagi selain dari dirinya sendiri mendekat pada kehancuran.

Sebagai permisalan, ada seorang penguasa yang terus mengumumkan, ‘Akan saya menjauhkan kesusahan orang-orang. Siapa saja yang membutuhkan, akan saya bantu dan memberikan solusi untuk masalahnya. Saya akan mengasihinya dan membantu orang-orang yang tak berdaya.’

Namun demikian, ketika ada orang yang sedang kesulitan lalu lewat di hadapan sang penguasa itu namun tidak memperdulikan tawaran bantuan dari si penguasa itu dan tidak juga meminta bantuan kepadanya, maka apalagi yang akan ia alami selain kehancuran.

Demikian pula keadaan Allah Ta’ala, setiap saat Dia siap untuk memberikan segala ketentraman kepada manusia dengan syarat seseorang memohon kepada-Nya. Demi pengabulan doa adalah perlu untuk menghentikan pembangkangan. Panjatkanlah doa dengan sekuat-kuatnya, karena jika batu dibenturkan keras dengan batu lagi akan menghasilkan api.

Walhasil, ketika kita menciptakan di dalam diri kita keadaan dimana shalat-shalat kita dan amalan-amalan kita ditujukan semata-mata untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan senantiasa menggantikan ketakutan-ketakutan kita dengan rasa aman. Ingatlah selalu! Apa pun yang kita dapatkan setelah datang ke sini, semua itu kita dapatkan berkat karunia Allah Ta’ala, dan nikmat-nikmat itu akan bertambah berkat karunia Allah Ta’ala juga. Oleh karena itu adalah penting untuk berusaha memberikan perhatian terhadap ibadah dan memenuhi hak-hak hamba-Nya, serta meraih karunia-karunia-Nya.”

Anda sekalian bisa menganalisa diri sendiri, sudah sejauh mana anda menegakkan shalat-shalat kita? Sudah sejauh mana anda menegakkan hubungan kita dengan Allah Ta’ala atau berusaha untuk meraih itu? Sudah sejauh mana pekerjaan-pekerjaan duniawi menghalangi anda terhadap shalat-shalat kita? Kita hendaknya selalu berusaha mengedepankan sabda Rasulullah (saw) ini, bahwa perkara yang membedakan antara kekufuran dan keimanan adalah meninggalkan shalat. Hal apa yang akan menjadi pembeda antara kekufuran dan keimanan? Yang menjadi pembedanya adalah meninggalkan shalat. Walhasil, sabda ini hendaknya menggetarkan kita bahwa seorang beriman adalah yang dawam dalam shalat-shalatnya, jika tidak apa bedanya ia dengan seorang kafir.

Berkenaan dengan ganjaran orang-orang yang shalat berjama’ah Allah Ta’ala tidak hanya memerintahkan untuk melaksanakan shalat saja, melainkan laksanakanlah shalat secara berjamaah dan tunaikanlah hak-haknya, maka pahalanya adalah sebanyak 25 kali lipat, di tempat lain dikatakan 27 kali lipat. Meskipun demikian, jika tanpa adanya alasan yang dibenarkan, kita tidak memberikan perhatian terhadap hal ini, maka betapa meruginya kita. Walhasil, jika kita telah membangun mesjid-mesjid, maka perlu untuk memenuhi hak-hak mesjid tersebut. Perlu juga untuk meninggikan tolok ukur kualitas ibadah-ibadah kita. perlu juga untuk memberikan perhatian terhadap pengorbanan-pengorbanan harta kita. Kita sendiri perlu melakukan kebaikan-kebaikan dan memperbaiki akhlak-akhlak kita serta menasihati orang lain utnuk melakukan kebaikan-kebaikan. Kita perlu untuk menyelamatkan diri kita sendiri dan orang lain dari keburukan-keburukan di lingkungan ini. Jika tidak, maka janji baiat kita hanyalah janji baiat yang sekedar kata-kata saja. Kita harus senantiasa mengedepankan sabda-sabda Hazrat Masih Mau’ud (as) berikut ini, “Kalian hendaknya memperbaiki diri kalian sampai-sampai kehendak Allah Ta’ala menjadi kehendak kalian. Di dalam keridhoan-Nya terdapat keridhoan kalian. Kalian tidak memiliki apa pun, segala sesuatu adalah milik-Nya. Arti kesucian adalah mengeluarkan dari dalam hati kita berupa penentangan secara amal perbuatan dan akidah terhadap Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala tidak akan menolong seseorang selama Dia tidak melihat bahwa kehendak-Nya menjadi kehendak orang itu dan kesenangan-Nya tidak menjadi kesenangan orang itu.

Saya tidak merasa takut (mencemaskan) perihal bertambah tidaknya jumlah anggota Jemaat saya.”

Pada saat beliau (as) menyampaikan hal ini jumlah Ahmadi 400 ribu orang atau lebih.

“Pengertian sebuah Jemaat hakiki bukanlah yang hanya meletakkan tangan di atas tangan saja, melainkan suatu Jemaat baru bisa dikatakan sebagai Jemaat hakiki ketika mereka membawa hakikat dari baiat tersebut ke dalam bentuk amal perbuatan. Tercipta suatu perubahan suci yang hakiki di dalam diri mereka, dan kehidupan mereka benar-benar bersih dari kekotoran-kekotoran dosa. Mereka telah keluar dari cengkeraman hawa nafsu dan setan dan larut dalam keridhoan Allah Ta’ala. Dengan lapang dada mereka menunaikan hak Allah dan hak hamba-hamba secara penuh dan sempurna. Di dalam diri mereka timbul suatu gejolak untuk agama dan penyebaran agama. Mereka memfanakan keinginan-keinginan, kehendak-kehendak dan angan-angan mereka dan menjadi milik Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Kalian semua tersesat kecuali ia yang aku berikan hidayah kepadanya. Kalian semua buta kecuali ia yang kepadanya Aku anugerahkan nur. Kalian semua mati, kecuali ia yang aku berikan kepadanya air kehidupan rohani, dia lah yang hidup. Sifat sattar Allah Ta’ala menutupi manusia. Jika keadaan batin manusia dibukakan kepada dunia maka orang-orang tidak akan mau dekat dengan orang-orang yang lainnya.”

Sifat Maha Menutupi Allah Ta’ala lah yang menutupi kelemahan kita. Jika aib itu nampak dan terbuka kepada satu sama lain, maka orang-orang tidak akan mau mendekat kepada orang-orang yang lainnya.

Terkait:   Lawatan ke Eropa (Belanda, Prancis dan Jerman) pada 25 September s.d. 27 Oktober 2019: Sebuah Tinjauan

Beliau (as) bersabda, “Allah Ta’ala itu as-Sattaar (Maha Menutupi). Dia tidak memberitahukan aib-aib manusia kepada setiap orang. jadi, manusia hendaknya berusaha keras dalam kebaikan dan setiap saat sibuk dalam berdoa. Ketahuilah dengan sesungguhnya, jika tidak ada perbedaan antara para anggota Jema’at dengan orang-orang ghair maka Allah Ta’ala bukanlah kerabat siapapun. Meski kita telah menjadi ahmadi dan telah baiat, jika tidak ada perbedaan antara kita dengan orang-orang lainnya maka Allah Ta’ala bukanlah kerabat siapapun. Apa alasannya Allah Ta’ala memberikan kehormatan kepadanya dan melindunginya dengan segala cara. Jika tidak ada bedanya maka Allah Ta’ala bukanlah kerabat kita sehingga Dia pasti memberikan kehormatan kepada kita lalu menghinakan orang lain dan mengazab mereka.

Beliau (as) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ‘innamaa yataqabbalullahu minal muttaqiin. ‘Artinya, Pasti Allah ta’ala akan mengabulkan ibadah orang-orang yang bertakwa.’ (Surah al-Maaidah:28) Orang mutaqi adalah orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak ilahi. Ia menganggap keinginan hawa nafsu dan dunia berserta segala isinya tidak ada artinya di hadapan Allah Ta’ala. Tanda keimanan akan nampak ketika diperbandingkan. Sebagian orang ada yang mendengar dengan tangan satu telinga lalu keluar lagi dari telinga lainnnya, ia tidak ingin perkara-perkara itu turun ke dalam hatinya. Seberapa pun banyaknya nasihat yang diberikan, tidak akan berkesan kepada mereka. Ingatlah! Allah Ta’ala Maha Berkecukupan, selama kita tidak berdoa dengan sebanyak-banyaknya dan berulang-ulang dengan penuh kegelisahan, maka Dia tidak akan peduli. Coba lihat! Jika istri atau anak seseorang sakit, atau mendapatkan suatu musibah, maka bagaimana seseorang begitu menderita dikarenakan hal-hal tersebut. Walhasil, sebelum keperihan yang sejati dan keadaan kegelisahan tadi belum tercipta, maka doa itu akan tidak memberikan pengaruh dan sia-sia. Sangat penting bahwa doa dipanjatkan dengan hati pedih supaya dikabulkan, seperti dinyatakan,أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ  ‘Atau, siapa yang mendengar doa orang yang tak berdaya ketika memohon kepada Allah Ta’ala lalu Dia menjauhkan kesulitannya.’ (Surah an-Naml, 27:63).”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) selanjutnya bersabda bahwa mereka yang memperbaiki dirinya, hendaknya memastikan juga per baikan keluarganya. Memperbaiki anak dan istri juga merupakan kewajiban setiap orang, “Pertolongan Allah Ta’ala menyertai mereka yang senantiasa maju dalam kebaikan setiap hari. Mereka tidak stagnan (tetap seperti itu saja). Dalam kemajuan yang berkelanjutan ini, mengarah pada akhir yang baik. Allah Ta’ala telah mengajarkan doa berikut ini dalam Al-Qur’an رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‘Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala waalidayya wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa ashlih lii fii dzurriyatii. Inni tubtu ilaika wa inni minal muslimiin.’ – ‘Ya Tuhanku, berilah taufik kepadaku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memperbaiki) anak cucu dan istriku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ (al-Ahqaf, 46:16).

Hendaknya dawam dalam memanjatkan doa ini supaya tercipta perubahan suci dalam diri anak keturunan dan istri seiring dengan membuat perubahan suci di dalam keadaan kalian sendiri. Sebab, seringkali seseorang mendapatkan ujian akibat anak-anaknya dan terkadang karena istrinya.

Perhatikanlah! Ujian pertama yang dialami Hadhrat Adam ialah karena seorang perempuan (istrinya). Dalam Taurat dapat kita ketahui hancurnya iman Bal’am saat menentang Hadhrat Musa. Penyebabnya, istri Bal’am menjadi tamak setelah disuap dengan perhiasan oleh seorang Raja lalu mendesak suaminya (Bal’am) agar berdoa buruk kepada Hadhrat Musa [sesuai desakan sang Raja itu]. Demikianlah, banyak masalah dan kesulitan kaum pria adalah karena anak-anak dan istri. Oleh karena itu, kalian harus memberikan perhatian penuh pada ishlaah (perbaikan) mereka dan seiring dengan itu terus berdoa untuk mereka.”[5]

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menciptakan prubahan suci dalam diri ,untuk menegakkan shalat lalu membawanya sampai pada standar yang tinggi, untuk mensucikan harta, untuk meninggikan akhlak, mengamalkan kebaikan dan menyebarkannya, menghidarkan keburukan dan menghindarkan anak keturunan dari keburukan dan lingkungan juga. Seiring dengan pembangunan masjid semoga kita dapat menyampaikan pesan hakiki Islam kepada penduduk kota dan mejadikan mereka orang orang yang beribadah kepada Tuhan yang Esa. Dan ini semua dapat terpenuhi jika kita menciptakan perubahan suci luhur dalam diri. Semoga Allah ta’ala memberikan taufik kepada kita semua.

Sekarang saya akan sampaikan data mengenai masjid. Kami menamai daerah ini “Mahdi Abad” dan Nahe adalah nama dari desa ini. local Ahmadi disini jumlahnya tidak banyak . Tanahnya adalah tanah pertanian yang dibeli pada tahun 1989. Sebagiannya digunakan untuk bercocok tanam dan jemaat mempekerjakan orang untuk tugas tersebut. Ketika tempat ini dibeli, saat itu terdapat peternakan dan bangunan juga dan kita telah mendapatkan izin untuk menggunakannya sebagai rumah misi dan kita mendapatkan izin untuk membangun masjid dalam bagian hall yang besar. Semua ini dikerjakan dengan wikari amal.

Ini adalah bangunan dua tingkat. Di dalamnya terdapat rumah muballig. Pada tahun 2010 pemerintah daerah menetapkan satu bagian tanah peternakan ini sebagai area huni. Disini telah dibangun rumah rumah diatas area 12 plot dan telah mendapatkan izin resmi untuk membangun masjid diatasnya. Diantara 12 plot itu, sebagiannya telah diambil oleh dua jemaat dan sebgiannya lagi dijual kepada orang lain. Uang yang dihasilkan darinya atau sebelum itu pemda telah mengambilnya kembali, bahkan uang yang didapat lebih dari itu yang kemudian digunakan untuk membeli tanah ini. 6 tahun bahkan 8 tahun lalu saya telah meletakkan pondasinya dan masjid ini tengah disempurnakan.

Mesjid ini dua tingkat. Bagian bangunan yang beratap memiliki luas 385 m2 dapat menampung 210 jamaah shalat. Lantai atas untuk kaum bapak. Sedangkan lantai bawah masjid untuk kaum ibu. Terdapat fasilitas untuk wudhu, membasuh dll. Lebih kurang menghabiskan biaya 507000 euro. 200.000 lebih diantaranya diperoleh dari para Ahmadi local disini sedangkan sisanya dari dana proyek 100 mesjid. Semoga Allah Ta’ala menucurahkan keberkatan pada harta dan jiwa orang-orang yang telah memberikan pengorbanan dan semoga setelah mendirikan masjid ini dapat memenuhi hak ibadah lebih dari sebelumnya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah         : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

 

[1] Tafsir Ruhul Bayaan oleh Syaikh Isma’il Haqqi Parwezi jilid 8 halaman 109 Tafsir Surah Az-Zumar (39) ayat 24, ‘Allahu nazala ahsanal hadiits..’ Terbitan Beirut, 2003

[2]Kitab Asma was Shifat karya al-Baihaqi dan Kitab Sunan al-Kubra karya an-Nasai. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda pada Fatimah (puterinya),(( مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَأَمْسَيْتِ: “Apa yang menghalangimu untuk mendengar wasiatku atau yang kuingatkan padamu setiap pagi dan petang yaitu ucapkanlah, ((يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ))“Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin” (artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya).”

[3] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab at-Tauhid (كتاب التوحيد), bab firman Allah (بَاب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى {وَيُحَذِّرُكُمْ اللَّهُ نَفْسَهُ} وَقَوْلِهِ جَلَّ ذِكْرُهُ {تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ}), no. 7405

[4]Tafsir:.. Hadhrat Masih Mau’ud, vol III, hal 574

[5]Malfuzhaat, jilid 10, h. 138-139, edisi 1985, UK;

Riwayat Bal’am bin Baura disebut dalam Kitab-Kitab Tafsir oleh Fakhruddin ar-Razi, Abu Ja’far Jarir ath-Thabari dan ibnu Katsir saat membahas Surah Al-A’raf ayat 176-178. Versi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyebutnya Bileam bin Beor, Bilangan 22, Yosua 6:20-22, Yosua 13:22, II Petrus 2:15 dan Wahyu 2:14. Bal’am awalnya menolak berdoa buruk kepada Bani Israil. Pintu bujukan para pemuka kaum penentang Bani Israil ialah lewat hadiah-hadiah kepada istri Bal’am. Bal’am akhirnya menuruti mereka. Meski doa-doa kutukan Bal’am tidak mempan kepada Nabi Musa (as) dan kaumnya, bahkan berbalik, Bal’am tidak kurang akal. Ia menyarankan ide menjatuhkan akhlak Bani Israil. Para wanita cantik kaum musuh Bani Israil disuruh mendatangi Bani Israil. Godaan ini cukup berhasil. Banyak kaum pria Bani Israil yang ikut cara hidup penentang mereka dalam menyembah berhala. Kaum Bani Israil mengalami degradasi. Tanah yang dijanjikan tertunda didapatkan.