Berikut adalah kutipan Khotbah Jumat yang disampaikan oleh Khalifah Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) pada tanggal 20, 13 dan 06 Maret 2020 yang membahas soal petunjuk-petunjuk menghadapi virus corona covid-19


Khotbah Jumat tanggal 20 Maret 2020

Sekarang saya akan menyampaikan pandangan dan analisa dari orang-orang duniawi mengenai wabah pandemik yang sedang menyebar belakangan ini. Pada tanggal 18 Maret 2020, Phillip Johnston di Daily Telegraph menulis, “Netflix dan platform-platform lain semacamnya melaporkan bahwa akhir-akhir ini sedang sangat populer sebuah film keluaran tahun 2011 berjudul ‘Contagion. Plot (jalan cerita) film ini mengenai penyebaran sebuah virus, upaya-upaya keras yang dilakukan oleh para peneliti bidang medis dan departemen-departemen kesehatan untuk mengenali dan mengendalikan penyakit ini, hancurnya tatanan sosial dan terakhir dikenalkannya sebuah vaksin untuk menghentikan penyebaran virus tersebut.”

Ia menulis, “Saya berpikir dengan takjub bahwa mungkin ketertarikan kita pada film-film bertema kehancuran dunia semacam ini adalah sebagai tanggapan terhadap periode panjang kemapanan dan kemakmuran yang setidaknya di Barat (Eropa dan Amerika) sebagian besar dari kita beranggapan kemajuan ini akan kekal selamanya.

Suatu hal yang mengherankan ialah, hanya dalam masa dua pekan saja dunia kita menjadi sama sekali terbalik. Seluruh rencana kita telah ditunda. Harapan-harapan kita mengenai masa depan sekarang menjadi tidak pasti.”

Selanjutnya ia mengatakan, “Baik ancaman perang nuklir (ketika terjadi perang dingin) maupun berbagai dampak kekacauan social ekomoni, termasuk yang terjadi baru-baru ini, tidak ada yang memberikan dampak seperti halnya yang ditimbulkan oleh wabah pandemi ini pada hari ini.”

Kemudian ia menulis, “Pada perang dunia yang terakhir [yaitu Perang Dunia II] orang-orang masih dapat pergi ke teater, bioskop, restoran, cafe, klab dan bar. Kurang lebih ini adalah tempat-tempat yang dapat dikunjungi oleh orang-orang, namun sekarang hal ini pun tidak dapat kita lakukan.”

Kemudian ia mengatakan, “Sebagian besar dari kita yang tumbuh pada periode setelah perang dunia kedua selalu mengharapkan kesejahteraan, kemakmuran dan kemapanan yang tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang pada generasi sebelumnya dan tidak pernah juga mereka memikirkan mengenai hal tersebut.”

Selanjutnya ia menulis, “Saya berharap semoga sains (Ilmu Pengetahuan) akan datang dengan temuan vaksin obat untuk penyakit ini dan menyelamatkan kita, dan mungkin itu jugalah yang akan terjadi.”

Kemudian ia mengatakan, “Di Seattle, Amerika, baru-baru ini dilakukan percobaan-percobaan terhadap para relawan kemanusiaan. Akan tetapi, kabar buruknya adalah ini akan memerlukan waktu berbulan-bulan untuk mengetahui apakah vaksin ini berguna ataukah tidak.

Di sepanjang sejarah, manusia telah bersandar pada agama mereka untuk melewati keadaan yang seperti ini. Dalam sejarah di masa lampau, jika keadaan berbahaya seperti ini terjadi, orang-orang akan berlindung pada keimanan mereka, kembali kepada Tuhan sehingga mereka bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi kepada mereka dan orang-orang yang mereka cintai.”

Selanjutnya ia menulis, “Orang-orang Atheis (yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan) pada kesempatan-kesempatan yang seperti ini – demi menenangkan diri mereka sendiri – selalu cenderung pada pandangan humanisme sekuler mereka. Pada dasarnya ini adalah sebuah pemikiran Pencerahan yang biasa dikemukakan oleh orang-orang Atheis bahwa proses alam selalu dpat diperbaiki oleh upaya-upaya manusia dan tidak perlu menghubungkannya dengan taqdir atau kemarahan Tuhan.”

Kemudian ia mengatakan, “Berapa kali kita mendengar orang-orang mengatakan, ‘Segala sesuatunya akan baik-baik saja karena para ilmuwan akan memberikan solusi, baik itu masalah global warming atau pandemi.’

Dalam waktu dekat kita akan mengetahui apakah memiliki optimisme seperti ini benar atau salah.  Jika ini tidak benar, mungkin saya akan kembali ke gereja. Saat ini saya (kolumnis atau penulis opini di media terkenal itu) jauh dari agama dan jauh dari Tuhan, dan situasinya memastikan fakta ini, jika yang dikatakan oleh para ilmuwan tidak terjadi, maka kita terpaksa mempertimbangkan untuk kembali ke Gereja atau kembali pada agama.”[1]

Dengan demikian, virus ini telah memaksa orang-orang duniawi untuk merenungkan kembali dan berdamai dengan Tuhan. Namun Tuhan yang hakiki dan Tuhan yang hidup hanyalah Tuhan Islam, yang telah mengumumkan akan menunjukkan jalan bagi mereka yang berhasrat menuju kepada-Nya. Dia telah mengumumkan akan maju beberapa langkah dan memegang tangan mereka yang hanya mengambil satu langkah kepada-Nya. Dia telah mengumumkan akan membawa (mereka) ke dalam perlindungan-Nya.

Alhasil, dalam situasi seperti ini di samping kita perlu memperbaiki diri kita, kita pun perlu untuk menyampaikan tabligh kita dengan cara berkesan. Kita perlu mengenalkan islam kepada dunia lebih dari sebelumnya. Para Ahmadi harus berusaha untuk memberitahu kepada dunia, “Jika kalian menginginkan keselamatan kalian, kenalilah Tuhan yang telah menciptakan kalian. Jika kalian menginginkan kesudahan yang baik, kenalilah Tuhan yang telah menciptakan kalian, karena tujuan yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat. Janganlah kalian menyekutukan Dia dengan sesuatu apa pun dan tunaikanlah hak-hak makhluk-Nya.”

Terkait:   Naskah Lengkap, Pesan Khusus Khalifah Ahmadiyah Pengganti Khotbah Jumat di tengah Pandemi Virus Corona

Jadi, kita hendaknya selalu berusaha untuk melakukan hal ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap kita. Orang-orang duniawi pun sekarang mengatakan bahwa bala bencana ini terus meningkat sehingga sebagaimana yang telah saya katakan, untuk kesudahan yang baik bagi diri kita adalah sangat perlu supaya diri kita sendiri kembali kepada Allah Ta’ala dan memberitahukan kepada duni, “Tujuan sesungguhnya adalah kehidupan akhirat yang untuk itu kalian harus kembali kepada-Nya.”

Mengenai hal ini, ada peringatan dari seorang ahli yang diterbitkan dalam The Times pada tanggal 6 Maret. Ahli tersebut memperingatkan, “Mutasi genetik virus berbahaya menjadi hal yang umum terjadi, kemungkinannya sangatlah besar. Seiring dengan itu dalam hitungan tahun virus corona baru berpotensi menyebar di dunia ini.”

Ia menulis, “Mungkin setiap tiga tahun sebuah penyakit baru akan muncul.”[2]

Kemudian, Bloomberg juga memuat [pada 6 Februari 2020] sebuah artikel yang mengatakan, “Para ilmuwan dapat mengalahkan virus corona, namun perang manusia melawan wabah penyakit epidemik tidak akan ada habisnya. Dalam perlombaan evolusi antara manusia dan mikroba, kali ini mikroba sedang membalas. Berdasarkan data WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), sejak 1970 hingga sekarang lebih dari 1500 virus patogen baru telah ditemukan dan di abad ke-21 ini wabah-wabah penyakit menyebar lebih cepat dan lebih jauh dari sebelumnya.”

Ia mengatakan, wabah yang sebelumnya dapat dibatasi di satu wilayah sekarang bisa dengan begitu cepat menyebar ke seluruh dunia.”[3]

Rincian mengenai hal ini begitu panjang sehingga tidak dapat disampaikan seluruhnya. Namun sebagaimana yang telah saya katakan, untuk kesudahan yang baik bagi diri kita, kita perlu untuk menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala lebih dari sebelumnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk hal ini.

Sebelum ini pun saya (Hadhrat Khalifatul Masih V atba) telah memberikan petunjuk-petunjuk berkenaan dengan wabah pandemik virus corona ini. Saya ingin mengingatkannya kembali karena sekarang virus ini menyebar dengan begitu cepat ke seluruh dunia dan di sini (Inggris Raya) pun dampaknya sangat terasa. Saat ini pemerintah terpaksa mengambil langkah-langkah lebih lanjut dan langkah-langkah yang sangat ketat. Ketika wabah-wabah penyakit muncul, mereka dapat menjangkiti siapa saja. Oleh karena itu, setiap orang harus mengambil langkah berhati-hati dan kewaspadaan mencegah. Laksanakanlah petunjuk-petunjuk pemerintah.

Orang-orang yang telah lanjut usia (berumur tua), yang sedang sakit atau sedang menderita penyakit yang membuat daya tahan tubuhnya melemah, mereka perlu untuk sangat berhati-hati. Orang-orang yang berusia lanjut hendaknya jangan sering keluar rumah dan ini juga adalah himbauan dari pemerintah. Kecuali seseorang memiliki kesehatan yang sangat baik, secara umum hendaknya tetaplah tinggal di rumah.

Berhati-hatilah saat datang ke mesjid. Laksanakanlah shalat Jumat di mesjid Jemaat lokal masing-masing. Dari kehadiran pada hari ini [di Masjid Mubarak, Tilford] tampak sebagian besar melaksanakan shalat jum’at di masjid lokal masing-masing kecuali jika pemerintah juga memberlakukan larangan untuk berkumpul melaksanakan shalat Jum’at.

Secara umum para wanita hendaknya menghindar untuk datang ke masjid. Mereka biasa datang dengan membawa anak-anak, sehingga mereka harus menghindar datang ke mesjid.

Kemudian, secara umum dokter juga menyarankan supaya memperhatikan juga istirahat kita demi meningkatkan daya tahan tubuh kita. Untuk itu kita perlu tidur yang cukup. Pastikan diri anda sendiri dan juga anak-anak anda tidur cukup. Orang dewasa, tidurlah 6 atau 7 jam dan untuk anak-anak 9 atau 10 jam. Kita harus memperhatikan hal ini. Jangan sampai menonton Televisi hingga tengah malam lalu pagi harinya melewatkan shalat subuh dan bangun terburu-buru untuk pergi bekerja yang memerlukan waktu berjam-jam dengan tubuh masih merasa lesu dan malas sepanjang hari, kemudian ditambah lagi dengan kelelahan setelah bekerja. Dengan demikianlah bagaimana penyakit tersebut menyerang. Demikian juga biasakanlah anak-anak untuk tidur lebih awal dan bangun lebih awal dengan cukup tidur hingga 8 atau 9 jam.

Kemudian hindarilah makanan-makanan cepat saji (junk food) dari toko-toko (kedai-kedai makanan). Dari makanan-makanan seperti ini pun penyakit menyebar. Terutama keripik-keripik yang biasa diberikan oleh orang kepada anak-anak untuk dimakan. Atau makanan-makanan yang mengandung bahan pengawet di dalamnya. Ini berbahaya untuk kesehatan dan harus dihindari. Makanan seperti ini perlahan-lahan melemahkan tubuh manusia.

Terkait:   Naskah Lengkap, Pesan Khusus Khalifah Ahmadiyah Pengganti Khotbah Jumat di tengah Pandemi Virus Corona

Kemudian, para dokter juga menyarankan untuk sering minum air putih. Sangat penting untuk minum air putih setiap satu jam atau setiap setengah jam atau lebih banyak dari itu. Ini juga cara untuk tetap terlindung dari penyakit.

Jagalah kebersihan tangan. Bahkan, jika tidak ada sanitiser, sering-seringlah mencuci tangan. Dan seperti yang telah saya katakan sebelumnya, orang yang melakukan wudhu sekurang-kurangnya lima kali sehari, ia memperoleh kesempatan untuk menjaga kebersihan.

Mengenai bersin, seperti yang saya katakan sebelumnya, tutupilah bersin dengan sapu tangan, baik saat berada di mesjid, ketika berada di rumah maupun secara umum. Atau seperti yang disarankan beberapa dokter, bersinlah ke lengan anda sehingga tetesan tidak menyebar kemana-mana. Bagaimanapun, kebersihan sangatlah penting dan harus diperhatikan ke arah ini.

Namun, jalan pemecahan yang terakhir adalah doa. Kita harus berdoa, semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari keburukan penyakit ini. Berdoalah juga secara khusus untuk para Ahmadi yang telah terkena penyakit ini karena alasan tertentu atau dokter melihat ada indikasi bahwa mereka terkena virus ini, atau mereka yang terkena penyakit lainnya, apa pun itu, doakanlah mereka semua.

Demikian juga, seperti yang telah saya katakan, virus menyerang mereka yang dikarenakan suatu penyakit tertentu keadaan mereka menjadi lemah, doakanlah semoga Allah Ta’ala melindungi mereka. Secara umum, berdoalah untuk setiap orang, semoga Allah Ta’ala melindungi dunia dari dampak buruk wabah ini. Semoga Dia memberikan kesehatan yang sempurna kepada semua orang yang sakit. Seiring dengan memberikan kesehatan kepada setiap Ahmadi, Dia juga memberikan taufik kepada mereka untuk dapat terus meningkat dalam keimanan dan keyakinan. (20-03-2020)


Khotbah Jumat Tanggal 13 Maret 2020

Sekarang, sebagaimana telah disampaikan pada Jumat lalu mengenai wabah yang sedang menyebar akhir-akhir ini, yaitu virus corona. Hendaknya untuk itu terus dilakukan upaya kehati-hatian dan ketika datang ke mesjid datanglah dengan berhati-hati. Jika menderita demam dan lain sebagainya, sakit-sakit yang ringan pada tubuh, janganlah pergi ke tempat-tempat umum. Hindarkanlah diri sendiri dan juga orang lain. Berikanlah banyak perhatian pada doa-doa, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan dunia dari bala bencana. (13-03-2020)


Khotbah Jumat tanggal 6 Maret 2020

Sekarang saya akan menekankan beberapa hal berkenaan dengan wabah virus corona yang sedang melanda akhir-akhir ini. Sebagaimana telah diumumkan oleh pemerintah, kita semua hendaknya menempuh upaya-upaya pencegahan. Sejak awal saya sudah menyampaikan saran (obat homeopathy) kepada para pakar homeopathy (jemaat) yakni (resep) pertama sebagai tindak pencegahan dan (kedua) sebagai obat. Hendaknya hal itu diamalkan. Ini merupakan obat yang memungkinkan, karena tidak bisa kita katakan bahwa resep homeopathy yang diberikan 100% dapat menyembuhkan pasien korona. Virus ini merupakan virus yang belum diketahui, namun resep homeopathy ini resep yang paling memungkinkan dan mendekati diantara resep homeopathy lainnya. Resep tersebut telah diusulkan sesuai dengan jenis penyakitnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan potensi penyembuh kedalam obat tersebut. Hendaknya dikonsumsi.

Akan tetapi, seiring dengan itu diperlukan juga langkah-langkah pencegahan seperti yang telah saya umumkan. Berkenaan dengan hal ini perlu juga supaya kita menghindari keramaian. Bagi para jamaah masjid pun hendaknya berhati-hati, jika mengidap demam walaupun ringan, tubuh pegal-pegal, bersin-bersin, flu dan lain-lain hendaknya jangan dulu datang ke masjid. Sebab, masjid pun memiliki hak (kewajiban yang harus ditunaikan) supaya tidak ada orang yang dapat memberikan dampak buruk bagi jamaah lainnya. Hendaknya berhati-hati untuk datang ke masjid bagi mereka yang memiliki penyakit menular apa saja khususnya saat ini. Ketika bersin atau pada hari-hari biasa pun hendaknya ketika bersin tutupi dengan tangan atau menggunakan sapu tangan.

Ada beberapa jamaah shalat yang mengeluhkan, “Ada sebagian jamaah yang bersin ketika berhadapan dengan kami, namun orang yang bersin itu tidak menutupinya dengan tangan atau sapu tangan. Sedemikian rupa kerasnya bersin sehingga terkadang cipratannya mengena ke orang lain.” Dalam hal ini jamaah yang ada di sebelahnya pun memiliki hak untuk dihargai, untuk itu setiap kita hendaknya memperhatikan hal ini. Saat ini khususnya seperti yang telah saya katakan perlu bagi kita untuk berhati-hati.  

Pencegahan yang disampaikan oleh dokter saat ini adalah pastikan tangan dan wajah dalam keadaan bersih. Jika tangan dalam keadaan kotor, jangan sentuhkan ke wajah atau basuh tangan dengan sanitiser. Namun bagi kita sebagai muslim, jika melaksanakan shalat lima waktu dan melakukan wudhu secara rutin, membersihkan hidung dengan air yakni melakukan wudhu dengan baik, maka ini merupakan kebersihan berstandar tinggi yang dapat memenuhi kurangnya sanitiser karena saat ini yang kita dengar dari berita bahwa sanitiser telah hilang habis terjual di took-toko (kedai-kedai), orang-orang telah memborong segala sesuatu karena panik. Rak-rak di toko-toko kosong dan khususnya barang barang yang dapat digunakan untuk tujuan ini. Alhasil, jika kita melakukan wudhu dengan baik, akan menjadi kebersihan jasmani dan setelah wudhu manusia melakukan shalat yang akan menjadi sarana untuk kebersihan ruhaninya.

Terkait:   Naskah Lengkap, Pesan Khusus Khalifah Ahmadiyah Pengganti Khotbah Jumat di tengah Pandemi Virus Corona

Khususnya pada saat ini kita perlu berdoa sebanyak banyaknya, untuk itu kita harus menaruh perhatian khusus akan hal ini. Saya telah sampaikan perihal hak masjid, perlu saya sampaikan juga, khususnya pada musim dingin dan hari-hari biasa, bagi jamaah masjid yang mengenakan kaos kaki, kaos kaki hendaknya diganti setiap hari dan dicuci, jika keluar bau dari kaki atau kaos kaki, maka akan membuat menderita jamaah yang berada di sebelahnya atau jamaah shalat yang berada di belakangnya ketika sujud akan menderita karena baunya.

Diperintahkan bahwa Rasulullah bersabda: Setelah memakan makanan yang menimbulkan bau seperti bawang putih, bawang merah dan yang lain-lain, hendaknya jangan ke masjid. Terkadang keluar dari mulut atau mengeluarkan bau dari mulut yang membuat jamaah lain menderita dan juga lingkungan masjid.[4]

Bahkan diperintahkan untuk mengenakan wewangian ketika masuk ke masjid, bahkan sedemikian rupa harus berhati hati sehingga Rasul bersabda janganlah melewati bagian dalam masjid ketika membawa daging mentah dimana ada orang yang tengah duduk.[5] Jadi, kebersihan diri dan lingkungan yang perlu diperhatikan oleh seorang jamaah shalat, perlu baginya untuk menaruh perhatian akan hal itu.

Namun, artinya bukanlah sama sekali tidak datang ke masjid karena alasan tersebut. Ambillah fatwa dari diri sendiri setelah melihat keadaan lahiriah diri sendiri dan hendaknya ingat selalu bahwa Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati. Maka dari itu, jika ada penyakit, yakinkanlah dengan mengunjungi dokter untuk mengetahui penyakit apa itu, namun lebih baik untuk tidak datang dulu ke Masjid satu atau dua hari. Begitu juga saat ini dikatakan untuk tidak berjabatan tangan dan ini pun sangat penting, karena tidak ada yang tahu bagaimana tangan seseorang. Meskipun dengan berjabatan tangan jalinan persaudaraan dan kecintaan semakin meningkat, namun saat ini, disebabkan oleh penyakit ini lebih baik kita hindari dulu berjabatan tangan.

Orang-orang duniawi yang sebelum ini sering mengkritik kita dengan mengatakan bahwa kita (kaum pria) tidak berjabatan tangan dengan wanita. Dalam hal ini telah terjadi kejadian yang menggelikan yaitu ada seorang menteri (Menteri Dalam Negeri) di Jerman yang menolak bersalaman dengan anggota dewan (seorang perempuan yaitu Kanselir Angela Merkel). Anggota parlemen di sini (Inggris) pun ada yang mengatakan, “Saat ini kita terhindar dari berjabatan tangan disebabkan oleh virus korona, dan itu adalah baik, karena berjabatan tangan bukanlah tradisi kita. Tradisi kita adalah memberikan hormat atau menurunkan topi dari kepala lalu menundukan badan.”

Sampai sampai ia (seorang anggota parlemen) pun berkata, “Kami berjabatan tangan dengan wanita bahkan berusaha untuk mendekap dan menciumnya padahal kita sendiri tidak tahu apakah wanita menyukai hal itu ataukah tidak, karena tanpa sebab kita melakukan perbuatan ini dengan paksa.”

Mereka tidak mau menaati firman Tuhan, namun wabah virus ini sekurang-kurangnya telah mengarahkan mereka pada hal tersebut. Semoga perhatian mereka pun tertuju kepada Tuhan. Mereka menentang perintah Tuhan. Ketika kita katakan dengan penuh kasih sayang bahwa kami dilarang untuk berjabatan tangan dengan lawan jenis lalu mereka melontarkan keberatan akan hal itu. Namun saat ini kita sering mendengar bahwa di kantor kantor departeman dan berbagai tempat, mereka yang pada awalnya menolak mentah-mentah padahal kita telah jelaskan dengan lemah lembut bahwa ini merupakan ajaran Islam, namun saat ini disebabkan  wabah virus corona mereka begitu berhati-hati sehingga yang mereka anggap akhlak pun sudah tidak dihargai lagi. Alhasil, dari sisi ini wabah ini telah membuat ishlah (perbaikan) mereka sampai batas tertentu.

Sebagaimana telah saya katakan, semoga ishlah (perbaikan) ini mengantar mereka kepada Allah ta’ala Allah Ta’ala mengetahui lebih baik, sampai mana wabah ini akan terus menyebar dan sampai batas mana, apa takdir Allah ta’ala? Namun jika wabah ini muncul disebabkan oleh murka Ilahi dan pada zaman ini kita saksikan berbagai jenis wabah, gempa bumi, badai dan bencana alam jauh lebih menigkat paska diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud (as), maka untuk terhindar dari dampak buruk dari takdir Tuhan, perlu bagi kita untuk kembali kepada Allah Ta’ala.

Secara khusus para Ahmadi hendaknya menaruh perhatian terhadap doa-doa dan memperbaiki keadaan ruhani masing masing dan doakan juga dunia semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada dunia dan memberikan taufik agar alih alih terjerumus dalam duniaw i dan melupakan Allah ta’ala, semoga mereka menjadi orang-orang yang mengenal Tuhan yang menciptakannya. (06-03-2020)

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Muhammad Hasyim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] https://www.telegraph.co.uk/politics/2020/03/17/times-like-realise-just-powerless-mankind-really/

[2] https://www.thetimes.co.uk/article/coronavirus-has-an-aggressive-and-a-milder-strain-scientists-find-qfmfsl9jf

[3] https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-02-06/forget-coronavirus-world-isn-t-ready-for-next-global-outbreak

[4] Shahih Muslim 564: dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا ، فَإِنَّ الْمَلائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ “Siapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan bawang kurrats, maka janganlah dia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa terganggu dengan bau yang mengganggu manusia.”

[5] Sunan Ibni Maajah (سنن ابن ماجه), (كتاب المساجد والجماعات), bab hal-hal yang tidak disukai bila dikalukan di dalam Masjid (باب مَا يُكْرَهُ فِي الْمَسَاجِدِ): dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: خِصَالٌ لاَ تَنْبَغِي فِي الْمَسْجِدِ لاَ يُتَّخَذُ طَرِيقًا وَلاَ يُشْهَرُ فِيهِ سِلاَحٌ وَلاَ يُنْبَضُ فِيهِ بِقَوْسٍ وَلاَ يُنْشَرُ فِيهِ نَبْلٌ وَلاَ يُمَرُّ فِيهِ بِلَحْمٍ نِيءٍ وَلاَ يُضْرَبُ فِيهِ حَدٌّ وَلاَ يُقْتَصُّ فِيهِ مِنْ أَحَدٍ وَلاَ يُتَّخَذُ سُوقًا ‏“ “Beberapa hal yang tidak layak dilakukan di masjid; tidak dijadikan sebagai jalan, tidak boleh senjata dihunuskan, tidak boleh busur ditarik, tidak boleh menyebarkan anak panah, tidak boleh melewatkan daging mentah, tidak boleh dilaksanakan had (hukum pidana), tidak boleh menuntut qishash dari seseorang, dan tidak boleh menjadikannya sebagai pasar.” Tercantum juga dalam tafsir Ibnu Katsir, Surah an-Nur ayat 37 (تفسير ابن كثير (تفسير القرآن العظيم) 1-9 مع الفهارس ج6).