Riwayat Umar bin Khattab (Seri 12)

khotbah jumat, sahabat rasulullah

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 122, Khulafa’ur Rasyidin Seri 03, Hadhrat ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu 12)

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 30 Juli 2021 (Wafa 1400 Hijriyah Syamsiyah/20 Dzulhijjah 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Masih membahas berkenaan dengan peperangan yang terjadi pada masa Hadhrat ‘Umar (ra). Berkenaan dengan penaklukan Madain, dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis nubuatan yang disampaikan oleh Hadhrat Rasulullah (saw). Beliau menulis, “Ketika menggali parit, muncul satu batu besar yang sulit untuk dipecahkan. Terlebih keadaan para sahabat saat itu sangat lemah karena belum makan berturut-turut selama tiga hari. Karena tak kunjung pecah, akhirnya para sahabat menemui Rasulullah (saw) dan menyampaikan hal tersebut. Ketika itu, keadaan Rasulullah (saw) pun sama yakni untuk menahan rasa lapar beliau mengikatkan beberapa buah batu di perutnya. Rasulullah (saw) segera menghampiri tempat yang dimaksud. Kemudian Rasulullah (saw) mengambil besi lalu memukulkannya ke atas batu besar itu sambil menyebut nama Allah.[1] Hantaman besi tersebut mengeluarkan percikan api lalu Rasulullah (saw) meneriakkan Allahu Akbar dan bersabda, ‘Telah diberikan kepadaku kunci-kunci kerajaan Syam (Suriah dan sekitarnya yang merupakan bawahan Romawi) dan demi Tuhan! saat ini aku benar-benar melihat istana-istananya yang merah.’ Pukulan pertama tersebut telah membuat batu tersebut retak.

Kemudian Nabi (saw) memukul batu untuk yang kedua kalinya dengan menyebut nama Allah hingga muncul percikan api, lalu bersabda, ‘Allahu Akbar. Kali ini telah diberikan kepadaku kunci-kunci negeri Persia dan tampak kepadaku istana-istana putih Madain.’ Kemudian batu semakin retak. Kemudian setelah itu beliau memukul untuk yang ketiga kalinya hingga memercikkan api lalu beliau bersabda, ‘Allahu Akbar. Aku benar-benar diberi kunci-kunci kerajaan Yaman. Demi Allah, aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku ini’.’ Kali ini dan pecahlah semua bagian dari batu itu dan jatuh.

Dalam Riwayat lain dikatakan, pada setiap pukulan Rasulullah (saw) meneriakkan takbir dan ketika para sahabat bertanya setelah itu, beliau (saw) menjelaskan pandangan kasyaf yang beliau lihat.[2] Setelah dapat mengatasi halangan sementara itu, umat Muslim melanjutkan pengerjaan membuat parit. Pandangan yang tampak kepada Rasulullah (saw) itu berkaitan dengan alam kasyaf.

Dengan kata lain, pada masa masa sulit seperti itu, Allah Ta’ala menampakkan pemandangan kemenangan dan kelapangan yang akan diraih oleh umat Islam di masa yang akan datang dan menciptakan ruh semangat dan harapan didalam diri para sahabat. Meskipun saat itu pada lahiriahnya umat Muslim mengalami penderitaan sehingga orang-orang munafik Madinah mencemooh umat Islam dengan mengatakan, ‘Untuk keluar dari rumah saja, kalian tidak memiliki kekuatan, sekarang malah mengkhayal untuk menaklukan kerajaan Kaisar dan Kisra.’[3]

Namun dalam pandangan Allah Ta’ala semua ni’mat ini telah ditakdirkan bagi umat Islam. Sebagaimana nubuatan nubuatan tersebut tergenapi pada waktunya yakni Sebagian tergenapi pada masa masa akhir kehidupan Rasulullah (saw), sebagiannya lagi pada zaman Khalifah-Khalifah beliau. Hal itu telah menambah keimanan dan ketentraman bagi umat Islam.” [4]

Nubuatan penaklukan Madain tergenapi di tangan Hadhrat Sa’d pada zaman Hadhrat ‘Umar (ra), sebagaimana telah diperlihatkan kepada Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa Madain akan ditaklukan dan terpenuhi pada zaman Hadhrat ‘Umar (ra).

Setelah memperoleh kemenangan di Qadisiyah, pasukan Islam memenangkan perang lagi di Babil (Babylon) dan menguasainya. Babil adalah kota kuno yang berada di Iraq saat ini.[5] Setelah menaklukan Babil, pasukan Islam melanjutkan ke daerah Kosah (Kusa) dan menguasainya. Ini adalah tempat Hadhrat Ibrahim (as) dulu pernah dipenjara oleh Namrud. Penjara itu masih terjaga sampai saat itu yaitu saat Hadhrat Sa’d (ra) sampai di sana. Sesampainya di sana, Hadhrat Sa’d melihat penjara itu lalu menilawatkan ayat Quran, وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ ‘Wa tilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainannaasi’ Artinya, ‘Hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia supaya mereka mendapat nasihat.’ (Surah Aali Imran, 3:141)

Kemudian mereka terus bergerak maju dari Kosah dan sampailah di kota yang bernama Bahurasir (بَهُرَسِيرَ). Ia merupakan nama satu bagian kota Madain di Iraq yang terletak di pesisir sebelah barat sungai Dajlah. Di tempat tersebut dipelihara singa pemburu milik Kisra. Ketika pasukan Hadhrat Sa’d mendekat ke tempat tersebut, mereka melepaskan hewan buas itu untuk menyerang pasukan. Singa itu mengaum dan menyerang pasukan Islam. Hasyim ibn Abi Waqqash, saudara Hadhrat Sa’d adalah pimpinan barisan depan pasukan. Beliau menebas singa itu dengan pedang sedemikian rupa sehingga singa itu langsung tergelelak di situ.[6]

Setelah itu terjadi perang Madain. Madain terletak di pesisir sungai Dajlah ke arah selatan tidak jauh dari Baghdad. Apa alasan dinamakan Madain (kota-kota)? Yakni sebagaimana di sini satu per satu kota-kota mulai berpenduduk, untuk itu orang Arab mulai menyebutnya dengan sebutan Madain yang artinya kumpulan banyak kota. Madain adalah ibukota Kisra, di sana terdapat istana-istana putihnya. Diantara pasukan Muslim dan Madain terhalang oleh sungai Dajlah. Pasukan Iran menghancurkan semua jembatan sungai.

Dalam Tarikh Tabari tertulis bahwa Hadhrat Sa’d mencari perahu-perahu agar dapat menyeberangi sungai, namun ternyata pihak musuh telah menguasai perahu-perahu. Hadhrat Sa’d ingin agar pasukan Muslim menyebrangi sungai, namun rasa simpati beliau membuat beliau tidak melakukannya. Untuk itu beberapa penduduk kampung membuat jalan untuk menyeberangi sungai dengan mudah, meskipun demikian Hadhrat Sa’d tidak melakukannya. Ketika itu muncul air bah juga di sungai.

Suatu malam diperlihatkan mimpi kepada beliau bahwa kuda kuda pasukan Muslim masuk ke sungai dan menyebrangi sungai, padahal saat itu air cukup tinggi karena banjir. Untuk menggenapi mimpi tersebut Hadhrat Sa’d bertekad kuat untuk menyeberangi sungai.

Hadhrat Sa’d berkata kepada pasukan, “Wahai Muslim! Laskar musuh mencari perlindungan dari sungai ini, untuk itu mari kita berenang dan menyeberangi sungai ini.”

Setelah mengatakan itu beliau memasukkan kudanya ke sungai. Dalam mengikuti perintah sang pemimpin, pasukan Muslim memasukkan kuda-kuda mereka ke sungai, hingga berhasil menyebrangi sungai. Ketika pasukan musuh melihat pemandangan yang mengherankan ini, mereka berteriak ketakutan lalu melarikan diri sambil mengatakan: ”دیوان آمدند دیوان آمدند” “Monster (sosok penjahat mengerikan atau yang menakutkan) telah datang, para penjahat telah datang.”[7]

Pasukan Islam terus berderap maju sampai mereka menguasai kota dan istana-istana Kisra. Sebelum tibanya pasukan Muslim, Kisra telah membawa lari keluarganya dari sana. Dengan begitu pasukan Muslim dapat dengan mudah menguasai kota. Dengan demikian, terjadilah nubuatan Rasulullah (saw) yang beliau sampaikan, ketika menghancurkan sebuah batu besar pada saat menggali parit menjelang perang Ahzab (Khandaq), beliau bersabda, فَإِنِّي حِينَ ضَرَبْتُ الضَّرْبَةَ الأُولَى رُفِعَتْ لِي مَدَائِنُ كِسْرَى وَمَا حَوْلَهَا وَمَدَائِنُ كَثِيرَةٌ حَتَّى رَأَيْتُهَا بِعَيْنَىَّ “Ditampakkan kepada saya pemandangan tumbangnya istana-istana putih Kisra di Madain (ibukota Persia atau Iran).”[8]

Melihat istana-istana itu dalam keadaan sunyi, Hadhrat Sa’d membacakan ayat berikut dari surat Ad Dukhan (44:26-29): كَمْ تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ () وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ () وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ () كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا قَوْمًا آخَرِينَ () ”Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya, demikianlah. Dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.”[9]

Hadhrat Sa’d memerintahkan agar khazanah kerajaan dan barang-barang berharga lainnya dikumpulkan di satu tempat. Diantara khazanah tersebut terdapat barang pusaka para raja yang jumlahnya ribuan diantaranya baju besi, pedang, pisau, mahkota dan termasuk pakaian kebesaran lainnya, seekor kuda yang dihiasi emas dan perak, pada bagian dadanya terdapat permata dan batu zamrud. Begitu juga seekor unta yang dihiasi perak dan berpelanakan emas dan talinya bertahtakan permata yang mewah.

Diantara harta ghanimah itu salah satunya adalah kursi tahta yang disebut dengan Bahar Iran. bagian bawahnya terbuat dari emas, hiasan atasnya terbuat dari perak dan hiasan lainnya terbuat dari perhiasan. Semua barang ini dikumpulkan oleh pasukan, namun pasukan Muslim sedemikian rupa jujur dan menjaga amanah sehingga dari itu diketahui bagaimana kualitas kejujuran pasukan Muslim yakni apapun yang mereka dapatkan, mereka serahkan apa adanya kepada komandannya. Sebagaimana ketika barang-barang itu dibawa dan ditata sehingga lapangan tampak kemilau dari kejauhan, hal itu membuat Hadhrat Sa’d terheran-heran dan berkata, “Siapa yang tidak mengambil sebagian dari barang-barang berharga ini, tidak diragukan lagi orang tersebut sangat jujur.”

Seperti biasa harta ghanimah dibagikan dan seperlimanya diserahkan kepada Khilafat. Kursi tahta dan barang pusaka dikirimkan dalam keadaan demikian supaya penduduk Arab dapat melihat ketinggian kerajaan Iran dan menyaksikan kemenangan yang diraih oleh Islam. Ketika barang-barang pilihan tersebut berada di hadapan Hadhrat ‘Umar (ra), beliau terheran-heran akan bagaimana kejujuran para pasukan Muslim. (Hadhrat ‘Umar (ra) mengungkapkan rasa takjubnya, betapa jujurnya para pasukan) Ada seseorang bernama Muhallam (مُحَلِّمْ) yang berpostur tubuh tinggi dan berwajah tampan. Hadhrat ‘Umar (ra) memerintahkannya agar pakaian kebesaran raja Nosherwan (نوشیرواں) dikenakan kepadanya. Pakaian tersebut keadaannya beragam. Seluruh pakaian kebesaran itu dipakaikan bergantian. Ketika melihat keindahan pakaian-pakaian tersebut orang-orang dibuatnya takjub. Begitu juga kursi tahta yang bernama Bahar dibagi-bagi.[10]

Perang Jalula. Setelah penaklukan perang Madain pada tahun 16 Hijriah, pasukan Iran berkumpul di Jalula untuk mempersiapkan perlawanan. Atas perintah Hadhrat ‘Umar (ra), Hadhrat Sa’d mengirim Hadhrat Hasyim ibn Utbah bersama 12 ribu pasukan untuk menghadapi pasukan Iran. Jalula adalah kota di Iraq yang dapat ditempuh melalui jalan dari Baghdad ke Khurasan. Di tempat terjadi pertempuran antara pasukan Muslim dan Persia. Ketika pasukan Muslim tiba di sini, mereka mengepung kota sampai memakan waktu berbulan bulan. Pasukan Iran selang beberapa waktu keluar dari benteng untuk melakukan penyerangan. Dengan demikian terjadi 80 peperangan.

Pasukan Muslim menulis surat kepada Hadhrat ‘Umar (ra) menceritakan keadaan penaklukan Jalula. Mereka juga menulis bahwa Hadhrat Qaqa memasang kemah di Hulwan. Begitu juga meminta izin kepada Hadhrat ‘Umar (ra) untuk mengejar penduduk Ajam (non Arab). Namun beliau ra tidak menyetujuinya melainkan bersabda, “Pasanglah dinding antara gunung Sawad Iraq dan Iran supaya pasukan Iran jangan bisa bergerak ke arah kita dan kita tidak juga bisa menuju mereka. Bagi kita cukup saja daerah perkampungan Sawad Iraq. Saya lebih memprioritaskan keselamatan pasukan Muslim dari pada mendapatkan harta ghanimah. Saya tidak gemar untuk mengumpulkan harta ghanimah, sebaliknya, menjaga nyawa pasukan Muslim adalah lebih penting.”

Berdasarkan satu riwayat, ونفل سعد من أخماس جلولاء من أعظم البلاء ممن شهدها ومن أعظم البلاء ممن كان نائيا بالمدائن، وبعث بالأخماس مع قضاعى ابن عمرو الدؤلي من الأذهاب والأوراق والآنية والثياب، وبعث بالسبي مع أبي مفزر الأسود، فمضيا “Diantara harta ghanimah yang Hadhrat Sa’d kirimkan melalui perantaraan Qudha’i ibn Amru ad-Dauli ialah wadah-wadah (gerabah) terbuat dari emas, perak dan kain. Para tawanan berada di tangan Abu Mufazzar al-Aswad.”

Berdasarkan Riwayat lain, بَعَثَ الأَخْمَاسَ مَعَ قُضَاعِيٍّ وَأَبِي مفزرٍ، وَالْحِسَابَ مَعَ زياد ابن أَبِي سُفْيَانَ، وَكَانَ الَّذِي يَكْتُبُ لِلنَّاسِ وَيُدَوِّنُهُمْ “Harta ghanimah dikirimkan melalui perantaraan Qudha’i dan Abu Mufazar. Perhitungannya dikirimkan oleh perantaraan Ziyad ibn Abi Sufyan karena ia adalah seorang juru tulis perhitungan dan mengarsipkannya dalam bentuk daftar-daftar.”[11] Ketika semua ini diantar ke hadapan Hadhrat ‘Umar (ra), Ziyad berbincang dengan Hadhrat ‘Umar (ra) berkenaan dengan harta ghanimah dan menyampaikan semua rinciannya. Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, هَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَقُومَ فِي النَّاسِ بِمِثْلِ الَّذِي كَلَّمْتَنِي بِهِ؟ “Apakah Anda bisa menyampaikan di hadapan umat Muslim semua yang telah Anda sampaikan kepada saya?”

Ziyad pun menjawab, وَاللَّهِ مَا عَلَى الأَرْضِ شَخْصٌ أَهْيَبُ فِي صَدْرِي مِنْكَ، فَكَيْفَ لا أَقْوَى عَلَى هَذَا مِنْ غَيْرِكَ! “Demi Tuhan! Tidak ada yang saya segani di muka bumi ini lebih dari Anda. Untuk itu, jika saya pun berani menyampaikan hal itu di hadapan tuan, lantas kenapa tidak di hadapan umat Muslim.”

Ziyad kemudian menyampaikan segala keadaan di hadapan publik, beliau juga menceritakan sepak terjang yang dilakukan oleh umat Islam, yakni bagaimana peperangan terjadi dan bagaimana bisa mendapatkan harta ghanimah. Selanjutnya beliau berkata, “Umat Muslim meminta izin untuk mengejar musuh hingga ke negerinya.”

Setelah mendengar pidatonya, Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda: هَذَا الْخَطِيبُ الْمِصْقَعُ “Dia adalah pembicara yang cakap.”

Ziyad berkata: إِنَّ جُنْدَنَا أَطْلَقُوا بِالْفِعَالِ لِسَانَنَا “Pasukan kita telah membuka lisan kami dengan perantaraan sepak terjang mereka.”

Dalam Riwayat lain dikatakan, لَمَّا قُدِمَ عَلَى عُمَرَ بِالأَخْمَاسِ مِنْ جَلُولاءَ، قَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ لا يَجِنُّهُ سَقْفُ بَيْتٍ حَتَّى أَقْسِمَهُ فَبَاتَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَرْقَمَ يَحْرُسَانِهِ فِي صَحْنِ الْمَسْجِدِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ فِي النَّاسِ فَكَشَفَ عَنْهُ جَلابِيبَهُ- وَهِيَ الأَنْطَاعُ- فَلَمَّا نَظَرَ إِلَى يَاقُوتِهِ وَزَبْرَجِدِهِ وَجَوْهَرِهِ بَكَى، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرحمن: “Ketika harta ghanimah dipersembahkan ke hadapan Hadhrat ‘Umar (ra), beliau bersabda, ‘Banyak sekali harta ghanimah ini sehingga sulit untuk menampungnya. Karena itu, saya akan segera membagikannya.’ Hadhrat Abdurrahman ibn Auf dan Abdullah ibn Arqam menjaga harta tersebut di halaman masjid. (Harta ghanimah yang didapatkan disimpan di halaman masjid dan dijaga oleh dua orang). Pada pagi harinya, Hadhrat ‘Umar (ra) datang ke masjid bersama dengan orang-orang. Ketika kain disingkapkan dari atas harta ghanimah, beliau melihat permata merah, permata hijau dan perhiasan yang bernilai mahal, lalu beliau menangis. Hadhrat Abdurrahman berkata kepada Hadhrat ‘Umar (ra), ما يبكيك يا امير المؤمنين، فو الله إِنَّ هَذَا لَمَوْطِنُ شُكْرٍ! ‘Wahai Amirul Mukminin! Kenapa Anda menangis? Demi Tuhan! Saat ini adalah saatnya untuk bersyukur.’

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, وَاللَّهِ مَا ذَاكَ يُبْكِينِي، وَتَاللَّهِ مَا أَعْطَى اللَّهُ هَذَا قَوْمًا إِلا تَحَاسَدُوا وَتَبَاغَضُوا، وَلا تَحَاسَدُوا إِلا أُلْقِيَ بِأَسْهُمٍ بَيْنَهُمْ ‘Demi Allah! Bukan benda-benda ini yang membuat saya menangis. Demi Allah, kaum yang dianugerahi benda-benda seperti ini oleh Allah Ta’ala, kemudian tumbuh kedengkian dan kebencian antara sesama orang di dalam kaum tersebut. Harta kekayaan yang kalian terima ini jangan sampai menimbulkan kedengkian dan kebencian diantara kalian, bukan persaudaraan. Pemikiran inilah yang membuat saya menangis. Jika kedengkian tumbuh dalam suatu kaum, akan terjadi peperangan dalam kaum tersebut.’”[12]

Apa yang beliau sampaikan ini perlu untuk kita renungkan dan beristighfar. Sebagaimana yang kita saksikan seiring dengan bergelimangnya harta, kedengkian dan kebencian semakin meningkat di kalangan umat Islam pada masa ini. Negeri-negeri Muslim yang kaya dengan sumber daya minyak atau begitu juga individu yang mendapatkan harta kekayaan lainnya. Demikianlah keadaannya, yakni berkurangnya ketakwaan.

Ketika berlangsung perang Madain, raja Iran Yezdegerd meninggalkan ibukotanya lalu pergi ke Hulwan bersama dengan keluarga dan para pekerjanya. Setelah mendapatkan kabar kekalahan di Jalula (جلولاء), Yezdegerd meninggalkan Hulwan lalu berangkat ke Ze. Ia meninggalkan Khusro Syanum, seorang pejabat terhormat untuk melindungi Hulwan bersama dengan beberapa pasukan.

Hadhrat Sad sendiri tinggal di Jalula dan memberangkatkan Qaqa ke Hulwan (القعقاع إلى حلوان). Qaqa tiba di dekat Qasr Syiriin yang berjarak tiga mil dari Hulwan. Saat itu Khusro Syanum (خُسْرَوْ شُنُوم) sendiri maju dan menghadapinya, namun mendapatkan kekalahan lalu melarikan diri. Setibanya di Hulwan, Qaqa tinggal di sana dan menyeru kedamaian ke berbagai tempat sehingga para pemimpin dari berbagai tempat datang dan menerima jizyah dan menyatakan kesediaannya untuk mendukung Islam. [13]

Bagaimana penaklukan Masabzaan (ماسبذان), berkenaan dengan hal ini diriwayatkan, Hadhrat Hasyim ibn Utbah yang bertindak sebagai komandan pada perang Jalula, telah kembali ke Madain. Hadhrat Sad masih menetap di Madain, ketika itu mendapatkan kabar bahwa satu pasukan Iran dibawah pimpinan Adzin ibn Hurmuzan (آذين بن الهرمزان) bergerak ke area lapangan untuk bertempur dengan pasukan Muslim.

Hadhrat Sa’d menyampaikan laporan tersebut kepada Hadhrat ‘Umar (ra). Hadhrat ‘Umar (ra) memberikan arahan, ابْعَثْ إِلَيْهِمْ ضِرَارَ بْنَ الْخَطَّابِ فِي جُنْدٍ وَاجْعَلْ عَلَى مُقَدِّمَتِهِ ابْنَ الْهُذَيْلِ الأَسَدِيَّ، وَعَلَى مُجَنِّبَتَيْهِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ وَهْبٍ الرَّاسِبِيَّ حَلِيفَ بَجِيلَةَ، وَالْمُضَارِبَ بْنَ فُلانٍ الْعِجْلِيَّ “Kirimkan satu pasukan pasukan dibawah pimpinan Dhirar Ibn al-Khaththab untuk menghadapinya yang mana pasukan terdepannya dipimpin oleh Ibnu Huzail. Adapun Abdullah ibn Wahab ar-Rasibi dan Mudharib ibn Fulan al-‘Ijli sebagai komandan sayap.”

Pasukan Islam berangkat untuk menghadapi pasukan Iran, mereka berjumpa dengan musuh di dekat area lapangan Masabzaan (مَاسَبَذَانَ) dan terjadi pertempuran di daerah Bahandaf (بَهَنْدَفَ). Hasilnya, pasukan Iran mengalami kekalahan. Kemudian pasukan Muslim terus bergerak dan menguasai Masabzaan. Penduduk melarikan diri meninggalkan kota, namun Dhirar Ibn al-Khaththab mengajak mereka untuk menghuni kotanya dengan damai. Mereka menerima ajakannya dan menghuni rumah rumahnya.[14]

Terkait:   Id Hakiki bagi umat Nabi Muhammad (saw)

Berkenaan dengan penaklukan Masabzaan, Baladuri (sejarawan) mengutip berbagai riwayat. Salah satunya adalah sekembalinya dari perang Nahawand, Abu Musa Asy’ari menguasai kota tersebut tanpa pertempuran.[15]

Berkenaan dengan penaklukan Khuzestaan, Khuzestaan adalah satu provinsi di Iran. Hurmuzan menjabat sebagai gubernur provinsi tersebut sebelum menerima Islam. Penduduk daerah itu disebut dengan Khuz, artinya adalah penduduk Khuzestan, merupakan daerah yang terletak diantara Persia, Bashrah, Was dan pegunungan Asfahan di sekitar Ahwaaz.

Di tahun 14 Hijriah, Hadhrat ‘Umar (ra) atas beberapa pertimbangan kemanfaatan secara militer, membuka satu front baru secara ringkas di Iraq dengan memberangkatkan satu pasukan kecil di bawah pimpinan Utbah ibn Ghazwan yang sebelumnya ditempatkan untuk tinggal dan menjaga kota Bashrah. Pasukan ini tidak hanya meraih kemenangan di daerah-daerah musuh yang ada di sekitarnya, namun juga berguna di strategi pertempuran di Iraq, karena para serdadu Iran yang ada di wilayah sekitar pun sampai tidak sanggup pergi ke medan pertempuran yang besar untuk membantu teman-temannya meskipun terus mendengar kabar kekalahan mereka. (Tampaknya tujuan utama penempatan pasukan di sana adalah agar menutup jalan bagi pasukan Iran untuk mengirim bala bantuan dan agar mereka tidak terus menyerang orang-orang Muslim).

Hadhrat Utbah (ra), Amir (komandan) pasukan tersebut pergi ke Hijaz untuk menunaikan haji dan berjumpa dengan Hadhrat ‘Umar (ra). Hadhrat ‘Umar (ra) menunjuk Hadhrat Mughirah ibn Syu’bah sebagai panglima pasukan selama Hadhrat Utbah tidak ada di sana. Ketika Hadhrat Mughirah ibn Syu’bah didakwa atas satu tuduhan masalah akhlaq (moralitas), dan untuk menyelidikinya Hadhrat ‘Umar (ra) memakzulkannya (memberhentikannya dari jabatannya) dan memanggilnya ke Madinah, Hadhrat ‘Umar (ra) menunjuk Hadhrat Abu Musa Asy’ari sebagai panglima. Alhasil, tuduhan terhadap Hadhrat Mughirah tersebut terbukti salah.[16]

Ada perbedaan di beberapa riwayat yaitu antara 16 atau 17 Hijriah. Pasukan Muslim semakin disibukkan dan tanggung jawab di kawasan tersebut pun semakin meluas dan para prajurit Muslim berhasil menguasai kota Ahwaz yang terkenal di wilayah Khuzestan. Sejarawan ath-Thabari memasukkan kejadian ini di tahun 17 Hijriah namun dia juga menulis bahwa beberapa riwayat menyebut kemenangan ini terjadi di tahun 16 Hijriah. Terkait kemenangan ini beliau menulis, “Saat itu Amir pasukan adalah Utbah ibn Gazwan.”

Tetapi, sejarawan Baladuri dalam menjelaskan ini menulis, “Runtutan kemenangan di Ahwaz dan setelahnya terjadi setelah kepulangan Hadhrat Utbah ibn Gazwan ke Madinah dan kemenangan pasukan Muslim itu dibawah kepemimpinan Hadhrat Mughirah ibn Syu’bah dan Hadhrat Abu Musa Asy’ari. Ketika Hadhrat Mughirah tengah memenangkan Ahwaz, pemimpin Ahwaz yang bernama Bairuwaz (البيرواز) sempat melawan namun pada akhirnya berdamai. Beberapa waktu kemudian, ketika Hadhrat Abu Musa Asy’ari ditunjuk sebagai Amir untuk pasukan Islam di wilayah Bashrah menggantikan Hadhrat Mughirah, Bairuwaz, sang pemimpin tersebut memutuskan perjanjian dan memberontak. Hadhrat Abu Musa Asy’ari pun melawannya dan setelah pertempuran, kota tersebut dikuasai kembali. Peristiwa ini terjadi di tahun ke-17 Hijriah.”

Di pertempuran Ahwaz, pasukan Islam banyak menawan orang-orang dan menjadikannya budak, tetapi atas perintah Hadhrat ‘Umar (ra), seluruhnya dibebaskan. Tidak ada yang dijadikan budak. Semua tawanan dibebaskan.

Sejarawan ath-Thabari menulis, “Sebelumnya, orang-orang Iran di daerah itu berkali-kali menyerang pasukan Muslim dari dua arah. Pada dua jalan tersebut ada dua tempat yaitu Nahr (sungai) Tirah dan Manazir yang menjadi markas pasukan penyerbu Iran. Pasukan Muslim pun berhasil menguasai kedua tempat tersebut.” (Di banyak tempat kita menyaksikan dimana saja orang-orang Islam ditimpa kesukaran dan berkali-kali diserang, pada akhirnya pasukan Islam pun menyerang mereka dan menguasai daerah-daerah tersebut).

Demikianlah Sejarawan Baladuri menulis, “Abu Musa Asy’ari telah memenangkan Ahwaz dan sungai Tirah, dan setelah kemenangan di Ahwaz, beliau lantas bergerak maju ke arah Manazir, mengepung kota itu, hingga terjadi pertempuran hebat. Di masa pengepungan itu, seorang Muslim pemberani, Muhajir ibn Ziyad, berkeinginan maju mengorbankan jiwanya ke hadapan Allah Ta’ala untuk melawan musuh selagi berpuasa. Rubai’ bin Ziyad (الربيع بْن زياد), saudara Muhajir, menyampaikannya ke Amir pasukan Muslim, Abu Musa, أن المهاجر عزم عَلَى أن يشري نفسه وهو صائم ‘Muhajir tengah berpuasa dan kini pergi ke medan pertempuran.’ Abu Musa mengumumkan, عزمت عَلَى كل صائم أن يفطر ‘Bagi yang berpuasa, pilihan untuknya adalah berbuka atau tidak pergi bertempur sama sekali.’

Mendengar pengumuman ini, Muhajir meminum seteguk air untuk mengakhiri puasanya dan berkata, قَدْ أبررت عزمة أميري والله ما شربتها من عطش ‘Saya melakukan ini semata menaati perintah Amir. Sementara saya sendiri sama sekali tidak haus.’ Ia berkata demikian lalu mengangkat senjata dan bertempur melawan musuh hingga syahid. Penduduk kota memenggal kepala beliau dan meletakkannya di atas simbol istananya. Pengepungan itu berlangsung lama.”[17]

Hadhrat Abu Musa Asy’ari tampaknya mengirim sebagian pasukannya dibawah pimpinan saudara Muhajir sesuai perintah Hadhrat ‘Umar (ra) untuk mengepung Manazir sementara beliau sendiri bergerak ke kota Susa. Rubai bin Ziyad’ dengan segenap upaya lantas menguasai kota itu dan menjadikan banyak orang di sana sebagai tawanan, namun atas perintah Hadhrat ‘Umar (ra), seluruhnya dibebaskan.

Hadhrat Abu Musa bergerak ke arah Susa. Orang-orang di kota tersebut menyerang terlebih dahulu. Setelah terjadi pertempuran, kota Susa pun terkepung dan mereka bertahan. Tatkala pangan mereka telah menipis, mereka pun menurunkan senjatanya.

Dari makalah hasil penelitian dan analisa Mir Mahmud Ahmad Sahib terkait rincian peristiwa kemenangan tersebut, beliau menuturkan, “Ada sejumlah pertentangan isi teks antara Kitab sejarah karya ath-Thabari dengan Kitab sejarah karya al-Baladuri, dan hal ini tampaknya disebabkan peristiwa pemberontakan para petinggi Iran [terhadap pemerintahan Muslim] sehingga adanya pergerakan kembali pasukan Islam ini menyebabkan peristiwa kemenangan pertama menjadi terbaur dan meragukan. Terjadi dua kali kemenangan dan terjadi juga upaya kedua untuk perdamaian.”[18] Namun, meski demikian, ini adalah satu sudut pandang dari beliau.

Perang di Ramahurmuz dan Tustur. Raja Iran, Yezdegerd, setelah pertempuran di Jalula, ia mundur ke Istakhar (Istakhar ini nama sebuah tempat). Ia masih belum menerima kekalahan dan terus meyakinkan kepada orang-orangnya untuk melawan orang-orang Islam. Ia berupaya keras hingga ia pun mengirimkan tentara bantuan untuk melawan pasukan Muslim ke wilayah Khuzistan (nama wilayah dimana terjadi kemenangan-kemenangan pihak Muslim tersebut). Alasan lain timbulnya pergolakan hebat di wilayah ini adalah adanya rencana perang melawan Muslim dari satu sosok pemimpin masyhur Iran di sana yaitu Hurmuzan. Hurmuzan sebelumnya ikut di pertempuran Qadisiyah; setelah menerima kekalahan, ia kembali ke negerinya dan terus melancarkan serbuan secara diam-diam kepada orang-orang Islam di sana.[19]

Setelah kemenangan Muslim di Jalula, pasukan Iran bergabung di bawah kepemimpinan Hurmuzan. (Rama Harmuz adalah sebuah kota terkenal yang terletak di perbatasan Khuzistan).

Atas petunjuk Hadhrat ‘Umar (ra), Hadhrat Sa’d ibn Abi Waqqas mengangkat Nu’man ibn Muqarrin sebagai panglima laskar Islam dan memberangkatkannya dari Kufah. Hadhrat Sa’d pun memerintahkan Abu Musa Asy’ari untuk bergerak dari Bashrah dan bersabda bahwa tatkala kedua pasukan bertemu, Abu Sabrah ibn Ruhmlah yang akan menjadi panglima mereka.

Adapun terkait pasukan Nu’man ibn Muqarrin, ketika Hurmuzan mengetahuinya, ia lantas menyerangnya dan setelah pertempuran sengit, Hurmuzan mengalami kekalahan dan lari ke arah Tustur (Tustur pun adalah satu kota besar yang berjarak satu hari dari Khuzistan), dan mereka terkepung di dalam kota. Di bawah komando Hadhrat Abu Sabrah, pasukan Islam mengepung kota itu hingga beberapa bulan lamanya. Serdadu Iran berkali-kali keluar melancarkan serangan lalu kembali dan menutup pintu kota. Demikianlah terjadi hingga 80 kali perlawanan dengan mereka. Di perlawanan terakhir, pasukan Muslim menyerang secara dahsyat.

Ketika pertahanan pasukan Muslim semakin kuat, ada dua penduduk Iran yang menyampaikan kepada pihak Muslim bahwa kota ini dapat dikalahkan dengan masuk melalui saluran keluarnya air. Alhasil, pasukan Muslim pun masuk ke dalam kota. Mengenai ini, penulis al-Akhbarut Thiwal, Abu Hanifah Dinawari menulis, “Pengepungan dari pasukan Muslim telah berjalan lama. Satu malam, seorang penduduk kota yang terkemuka datang menemui Abu Musa Asy’ari dan mengajukan perlindungan terhadap sanak keluarga dan hartanya seraya menawarkan bantuan untuk menguasai kota. Hadhrat Abu Musa Asy’ari pun memberinya perlindungan.”

Tertera di dalam Kitab Futuhul Buldan bahwa orang itu pun telah menjadi Muslim. Orang itu berkata kepada Hadhrat Abu Musa Asy’ari agar beliau mengirimkan seseorang kepadanya untuk menjelaskan hal tersebut. (yakni memberitahukan jalan supaya pasukan Muslim dapat masuk ke dalam benteng). Hadhrat Abu Musa Asy’ari mengirim seorang dari Banu Syaiban (شيبان) yang bernama Asyras ibn ‘Auf (أشرس بْن عوف). Keduanya masuk ke dalam kota melalui saluran air dengan terlebih dulu menyusuri sebuah sungai kecil. Ia menutupi Asyras ibn ‘Auf dengan kain dan berkata agar berjalan di belakangnya seolah ia menjadi seorang khadimnya. Ia lantas membawanya mengelilingi kota. Mereka pergi ke pintu kota dimana terdapat para penjaga. Mereka pun pergi melihat Hurmuzan yang tengah ada di dekat pintu Istana dan duduk di dalam majlis. Setelah memperlihatkan semuanya, ia lalu mengantarkannya pulang melalui jalan tersebut.[20]

Ketika tiba, Asyras ibn ‘Auf menyampaikan semuanya kepada Hadhrat Abu Musa Asy’ari. Asyras ibn ‘Auf berkata, “Tolong engkau menyediakan dua ratus prajurit pemberani. Kami akan menghabiskan para penjaga dan membukakan pintu, sementara engkau sekalian bertemu dengan kami di depan gerbang.” Demikianlah Asyras ibn ‘Auf menggunakan jalan rahasia itu untuk masuk ke dalam kota bersama segenap rekan prajuritnya, lalu menundukkan para penjaga dan membuka pintu kota. Pasukan Islam lantas memasuki kota seraya memekikkan lafaz Allahu Akbar.[21]

Mendengar gemuruh suara tersebut, Hurmuzan berlari ke dalam istananya (yang juga berada di dalam kota). Pasukan Muslim mengepung istananya. Hurmuzan memandang dari atas dan menyeru, “Para pemanah saya memiliki seratus panah. Selama belum menyisakan satu anak panah, tidak ada seorang pun yang sanggup mendekati saya. Jika setelahnya saya pun tertangkap, maka tidaklah mengapa.”

Orang-orang Muslim berkata, “Apa yang Anda inginkan?”

Ia menjawab, “Saya rela menurunkan senjata jika putusan untuk saya diserahkan ke Hadhrat ‘Umar (ra).”

Hurmuzan lalu melempar senjata dan menyerahkan dirinya ke pasukan Muslim. Hadhrat Abu Musa Asy’ari lalu mengirim Hurmuzan ke Madinah di bawah pengawasan Hadhrat Anas ibn Malik dan Akhab ibn Qais. Ketika kafilah ini tiba di Madinah, mereka memakaikan Hurmuzan dengan pakaian kebesarannya yang berhiaskan emas.

Dia adalah tahanan. Meski demikian, dia diperkenankan mengenakan pakaian kebesarannya. Di kepalanya diletakkan mahkota bertatahkan permata supaya Hadhrat ‘Umar (ra) dan segenap umat Muslim pun dapat melihat sendiri kebesarannya yang sebenarnya, dan mengungkapkan betapa tingginya penguasa yang telah ditaklukkan [oleh umat Muslim]. Kafilah itu pun bertanya tentang keberadaan Hadhrat ‘Umar (ra). Orang-orang menjawab bahwa beliau ada di masjid. Ketika tiba di masjid, Hadhrat ‘Umar (ra) tengah tidur seraya meletakkan kepala beliau diatas turban beliau. Hurmuzan bertanya, “Dimanakah ‘Umar (ra)?”

Orang-orang menjawab, “Beliau tengah tidur.”

Saat itu di masjid tidak ada orang lain selain Hadhrat ‘Umar (ra). Hurmuzan bertanya, “Dimanakah para penjaga dan para pembesar beliau?”

Orang-orang menjawab, “Beliau tidak memerlukan penjaga, juru tulis, dan dewan raja.”

Hurmuzan sontak berkata, “Orang ini pasti seorang Nabi.”

Mereka menjawab, “Beliau bukanlah seorang Nabi namun sungguh beliau berpijak diatas jalan para Nabi.”

Hadhrat ‘Umar (ra) pun terjaga saat mendengar pembicaraan orang-orang. Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya, “Apakah Hurmuzan ada?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Hadhrat ‘Umar (ra) melihatnya dan melihat pakaiannya dengan seksama lalu berkata, “Saya berlindung kepada Allah Ta’ala dari siksa Api dan memohon pertolongan kepada Allah.”

Orang-orang di kafilah lalu berkata, “Inilah Hurmuzan. Bicaralah dengannya”.

Beliau berkata, “Sama sekali tidak, selama ia belum menanggalkan pakaian serta perhiasan yang ia kenakan.” Alhasil, ia menanggalkan seluruh perhiasannya dan pakaian kebesarannya. Dimulailah perbincangan dengan Hurmuzan.

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, “Apakah Anda melihat akibat dari melanggar perjanjian dan kedustaan?” (Peperangan atau pertikaian yang terjadi adalah akibat melanggar perjanjian dan kedustaan).

Hurmuzan berkata, “di masa jahiliyah, ketika tidak ada wujud Tuhan diantara kita berdua, saat itu kamilah yang unggul atas Anda. Namun semenjak pertolongan Tuhan bersama Anda, maka andalah yang unggul”. Demikian jawaban Hurmuzan ke Hadhrat ‘Umar (ra).

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Di masa jahiliyah, Anda (kerajaan Persia) menang karena adanya persatuan diantara Anda semua, sementara kami (bangsa Arab) terpecah-belah.” (yaitu Anda bersatu sementara kami terbelah). Lalu Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya ke Hurmuzan: “Anda telah banyak melanggar perjanjian, lantas apa alasan Anda ke sini?”

(Sebagaimana telah saya sampaikan, orang-orang Islam bertempur karena perjanjian telah dilanggar. Yaitu mereka tidak ingin jika [umat islam] tinggal bertetangga secara damai).

Hurmuzan berkata, “Saya takut seandainya Anda membunuh saya sebelum mengatakannya”. Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, “Jangan takut.”

Hurmuzan lalu meminta air. Dibawakanlah air untuknya dari sebuah kendi yang lama. Hurmuzan berkata, “Saya tidak akan minum air dari kendi seperti itu, meskipun saya akan mati kehausan”. Alhasil disodorkanlah padanya air dari kendi yang istimewa, dan lantas tangannya pun bergetar. Hurmuzan berkata, “Saya takut seandainya saya dibunuh ketika tengah meminum air.”

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, selama Anda belum meminum air itu, Anda tidak akan disakiti”.

Mendengar ini, ia menjatuhkan air itu ke tanah. Ia cerdik lalu ia berkata, “Jika meminum air adalah syarat, sungguh orang Muslim paling menepati janji.” Ia berkata, “Saya tidak meminum air ini. Air tersebut telah dijatuhkan ke tanah.”

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Berilah air lagi kepadanya, dan janganlah membunuhnya sementara ia tengah haus.” Ia telah terdakwa karena melanggar perjanjian, menyebar fitnah, kerusakan dan perang dengan umat Islam.

Hurmuzan berkata, “Saya tidak haus akan air, saya hanya ingin mendapatkan perlindungan.” (akhirnya ia pun berkata jujur). Setelah itu, Hurmuzan memeluk Islam dan memilih tinggal di Madinah, dan Hadhrat ‘Umar (ra) menetapkan tunjangan sebesar 2000 untuknya.[22]

Tertera di dalam Kitab ‘Iqdul Farid, لما أتي عمر بن الخطاب بالهرمزان أسيرا دعاه إلى الإسلام، فأبى عليه، فأمر بقتله، فلما عرض عليه السيف، قال: لو أمرت يا أمير المؤمنين بشربة من ماء فهو خير من قتلي على الظمأ؛ فأمر له بها، فلما صار الإناء بيده قال: أنا آمن حتى أشرب؟ قال: نعم. فألقى الإناء من يده، وقال: الوفاء يا أمير المؤمنين نور أبلج، قال: لك التوقف حتى أنظر في أمرك، ارفعا عنه السيف؛ فلما رفع عنه؛ قال: الآن أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله؛ فقال له عمر: ويحك! أسلمت خير إسلام، فما أخبرك؟ قال: خشيت يا أمير المؤمنين أن يقال أن إسلامي إنما كان جزعا من الموت؛ فقال عمر: إن لفارس حلوما بها استحقت ما كانت فيه من الملك. ثم كان عمر يشاوره بعد ذلك في إخراج الجيوش إلى أرض فارس ويعمل برأيه. “Ketika Hurmuzan dibawa ke hadapan Hadhrat ‘Umar (ra) sebagai tahanan, lantas Hadhrat ‘Umar (ra) menablighkan Islam kepadanya, namun Hurmuzan menolaknya. Hadhrat ‘Umar (ra) memerintahkan agar ia dibunuh.

Ketika ia hendak dibunuh, ia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, mohon beri saya minum.’

Hadhrat ‘Umar (ra) memerintahkan untuk memberinya air minum. Ketika kendi air sampai padanya, ia berkata kepada Hadhrat ‘Umar (ra), ‘Apakah saya aman hingga saya meminum air?’

Hadhrat ‘Umar (ra) menjawab, ‘Ya!’

Mendengarnya Hurmuzan pun membuang air dari kendi itu dan berkata, ‘Kini sempurnakanlah janji Anda.’

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, ‘Saya akan memberi tenggang waktu kepada Anda dan melihat bagaimana perilaku Anda.’

Ketika pedang telah dijauhkan, Hurmuzan berkata, الآن أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا عبده ورسوله artinya, ‘Sekarang saya bersaksi bahwa tiada yang patut disembah kecuali Allah dan tidak ada sekutu baginya dan Muhammad (saw) adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.’

 Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya kepada Hurmuzan, .Mengapa engkau tidak beriman sebelumnya?’

Hurmuzan menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, saya takut seandainya orang akan berkata bahwa saya beriman karena takut pedang dan saat itu pedang ada diatas kepala saya.’ Setelah itu Hadhrat ‘Umar (ra) kerap meminta pendapat kepada Hurmuzan dalam hal menaklukkan laskar Iran dan Hadhrat ‘Umar (ra) pun menjalankan usulan yang ia berikan.”[23] Kemudian Hurmuzan pun menjadi penasihat Hadhrat ‘Umar (ra).

Ada satu anggapan bahwa dalam pensyahidan Hadhrat ‘Umar (ra), Hurmuzan pun turut berperan.[24] Namun, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menganggap anggapan ini tidak benar. Dalam menyampaikan tafsir [salah satu] ayat surah Al-Qashash, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِرَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ قَتَلَ مُعَاهَدًا مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ فَأَمَرَ بِهِ فَضُرِبَ عُنُقُهُ وَقَالَ أَنَا أَوْلَى مَنْ وَفَّى بِذِمَّتِهِ “Seorang Muslim dibawa ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) yang mana dia telah membunuh seorang kafir Mu’ahid (non Muslim yang terikat janji dengan umat Muslim) dari kalangan ahludz dzimmah (yang dijanjikan wajib dilindungi) yang telah menjadi rakyat dari pemerintahan Islam. Beliau (saw) memerintahkan untuk membunuhnya dan bersabda, أنَا أَوْلَى مَنْ وَفَّى بذمَّتِه ‘Aku adalah orang yang paling menepati janji di antara orang-orang yang menepati janji.’[25] Ia telah membunuh orang yang telah melakukan perjanjian, sebagai hukumannya, Muslim itu pun dibunuh. Demikian juga ath-Thabrani telah meriwayatkan mengenai Hadhrat Ali (ra), bahwa seorang Muslim telah membunuh seorang Dzimmi, beliau (ra) [selaku kepala negara] memerintahkan untuk membunuh Muslim tersebut.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (saw), seri 82

Sebagian orang mengatakan bahwa terdapat dalam sebuah hadits, ‘Laa yuqtalu mu’minun bi kaafirin’ – ‘Seorang mukmin tidak boleh dibunuh sebagai balasan karena membunuh orang kafir’. Akan tetapi, dengan melihat keseluruhan hadits masalah akan terpecahkan. Kalimat yang sebenarnya dari hadits tersebut adalah, لاَ يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ وَلاَ ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ ‘Laa yuqtalu mu’minun bikaafirin wa laa dzuu ‘ahdin fii ‘ahdihi.’[26] Kalimat yang kedua dari hadits ini, ‘Wa laa dzuu ‘ahdin fii ‘ahdihi’ telah membukakan makna bahwa jika pengertiannya adalah, seorang Muslim tidak boleh dibunuh sebagai pembalasan membunuh orang kafir, maka kemudian dzuu ‘ahdin akan diartikan, ‘Wa laa dzuu ‘ahdin bi kaafirinartinya, ‘Seorang [non Muslim] yang memiliki perjanjian [dengan pihak pemerintah Muslim] pun tidak boleh dibunuh sebagai pembalasan dia membunuh orang kafir.’ Meskipun tidak ada yang menerima hal ini. Walhasil, yang dimaksud kafir dalam kalimat ini adalah Kafir Muhaarib, yakni kafir yang memerangi, bukan kafir umumnya. Maka dari itu, Kafir Dzimmi pun tidak boleh dibunuh sebagai pembalasan membunuh Kafir Muharib.

Sekarang, kita melihat tata cara amalan para sahabat (ra), maka kita akan mengetahui para sahabat pun memberikan hukuman mati kepada pembunuh non-Muslim. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Tarikh ath-Thabari, Qumadzuban ibn Hurmuzan (القماذبان بن الهرمزان) meriwayatkan peristiwa pembunuhan ayahnya bernama Hurmuzan yang adalah seorang pemimpin Iran dan penganut agama Majusi, dan ia dituduh terlibat dalam konspirasi untuk membunuh Hadhrat ‘Umar (ra), Khalifah ke-2. Atas hal itu, dengan terbawa emosi dan tanpa melakukan penyelidikan, Ubaidullah putra Khalifah ‘Umar membunuhnya. Ia (yaitu Qumadzuban) menuturkan, كَانَتِ العجم بِالْمَدِينَةِ يستروح بعضها إِلَى بعض، فمر فيروز بأبي، وَمَعَهُ خنجر لَهُ رأسان، فتناوله مِنْهُ، وَقَالَ: مَا تصنع بهذا فِي هذه البلاد؟ فقال: آنس بِهِ، فرآه رجل، فلما أصيب عمر، قَالَ: رأيت هَذَا مع الهرمزان، دفعه إِلَى فيروز. فأقبل عُبَيْد اللَّهِ فقتله، فلما ولي عُثْمَان دعاني فأمكنني مِنْهُ، ثُمَّ قَالَ: يَا بني، هَذَا قاتل أبيك، وأنت أولى بِهِ منا، فاذهب فاقتله، فخرجت بِهِ وماا فِي الأرض أحد إلا معي، إلا أَنَّهُمْ يطلبون إلي فِيهِ فقلت لَهُمْ: ألي قتله؟ قَالُوا: نعم- وسبوا عُبَيْد اللَّهِ- فقلت: أفلكم أن تمنعوه؟ قَالُوا: لا،، وسبوه فتركته لله ولهم فاحتملوني، فو الله مَا بلغت المنزل إلا عَلَى رءوس الرجال وأكفهم ‘Orang-orang ‘Ajam (bukan Arab, maksudnya dalam hal ini Iran) hidup berdampingan di Madinah dan saling mengunjungi sesama mereka.’ (Hal ini sebagaimana menjadi kaidah bahwa orang-orang yang satu negeri dan pindah ke negeri lain bila berjumpa akan tampak semangat nasionalisme/perkauman/semangat sesama satu negeri) ‘Pada suatu hari Fairuz yang nantinya merupakan pembunuh Hadhrat ‘Umar (ra) bertemu dengan ayah saya dan ia membawa belati yang kedua sisinya tajam. Ayah saya mengambil pisau belati tersebut dan bertanya kepadanya, “Apa gunanya belati ini di negeri ini?” (Artinya, ini adalah negeri yang damai, di sini tidak diperlukan senjata semacam ini.) Ia mengatakan, “Saya menggunakannya untuk mengendarai unta.”

Ketika keduanya tengah berbincang seseorang melihat mereka, dan ketika Hadhrat ‘Umar (ra) dibunuh, maka ia menceritakan bahwa ia melihat sendiri Hurmuzan mengambil belati Fairuz. Atas hal ini, Ubaidullah yang merupakan putra bungsu Hadhrat ‘Umar (ra) pergi dan membunuh ayah saya (Hurmuzan).

Ketika Hadhrat Utsman (ra) menjadi Khalifah, maka beliau memanggil saya dan menangkap Ubaidullah, lalu menyerahkannya kepada saya, dan berkata, “Wahai anakku! Inilah pembunuh ayahmu dan engkau lebih berhak atasnya daripada kami. Oleh karena itu, pergi dan bunuhlah dia!”

Saya menangkapnya dan pergi keluar dari kota. Di jalan, orang-orang yang bertemu dengan saya lalu menyertai saya, namun tidak ada seorang pun yang melawan saya. Mereka hanya memohon kepada saya supaya saya melepaskannya. Maka saya berbicara kepada semua orang Islam, “Apakah saya memiliki hak untuk membunuhnya?”

Semua orang menjawab, “Ya, engkau memiliki hak untuk membunuhnya.”

Kemudian mereka mencela Ubaidullah atas keburukan yang telah ia lakukan.

Kemudian saya bertanya, “Apakah kalian memiliki hak untuk melepaskannya dari saya?”

Mereka menjawab, “Sama sekali tidak!” Mereka pun mulai mencela Ubaidullah bahwa ia telah membunuh ayah saya tanpa bukti.

Atas hal tersebut, saya melepaskannya [melepaskan Ubaidullah] demi Allah Ta’ala dan karena orang-orang itu.’ (Setelah begitu banyaknya rekomendasi dan tanya jawab yang terjadi, maka beliau mengatakan, “Saya melepaskannya demi Allah Ta’ala dan orang-orang tersebut.”)

Orang-orang Islam karena begitu gembiranya mereka mengangkat saya di atas pundak-pundak mereka dan demi Allah! Saya sampai ke rumah dalam keadaan di atas kepala dan pundak orang-orang. Mereka tidak membiarkan saya memijakkan kaki di tanah.’[27]

Dari riwayat ini terbukti ini merupakan praktik para sahabat bahwa mereka memberikan hukuman mati kepada orang Muslim yang membunuh orang bukan Muslim dan ini juga membuktikan jika ada seseorang yang membunuh siapapun (apakah Muslim atau non-Muslim) kasusnya dianggap sama. Pihak yang menangkap dan memberikan hukuman pun ialah pihak Pemerintah. Meskipun ia (si pembunuh) telah menjadi Muslim, namun sekalipun ia seorang non-Muslim, maka dari semua hal yang telah dijelaskan tadi tampak bahwa perlakuan terhadap Muslim pembunuh non-Muslim pun akan seperti perlakuan terhadap non Muslim pembunuh seorang Muslim. Khususnya ketika telah ada perjanjian.

Demikian juga peristiwa ini membuktikan bahwa yang menangkap pembunuh dan memberikan hukuman kepadanya adalah pemerintah sah. Bukan setiap orang yang memberikan hukuman, pemerintah yang sah-lah yang memberikan. Kita telah melihat dalam riwayat bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra)-lah yang memerintahkan penangkapan ‘Ubaidullah putra ‘Umar ibn al-Khaththab dan memberikannya kepada putra Hurmuzan. Bukanlah seorang ahli waris Hurmuzan yang menjalankan sendiri pengadilannya (main hakim sendiri) dan bukan pula ia yang menangkapnya.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (ra) bersabda, “Di tempat ini tampaknya perlu juga untuk menghilangkan keraguan bahwa memberikan hukuman kepada seorang pembunuh apakah harus diserahkan kepada ahli waris korban sebagaimana yang Hadhrat Utsman (ra) lakukan atau harus dilakukan oleh pemerintah sendiri? Jadi, hendaknya diingat bahwa ini satu perkara khusus yang untuk itu Islam menyerahkan pengamalannya sesuai dengan keperluan setiap zaman. Negara bisa menempuh cara yang tampak paling bermanfaat sesuai dengan kebudayaan dan keadaan masing-masing. Dan tidak diragukan lagi, kedua cara ini bermanfaat pada situasi-situasi khusus tertentu.”[28]

Riwayat ini masih akan terus berlanjut di kesempatan yang akan datang, In syaa Allah.

Sekarang saya ingin menyampaikan riwayat beberapa Almarhum dan saya juga akan memimpin shalat jenazah gaib mereka. Jenazah pertama, yang terhormat Profesor Sayyidah Nasim Sa’id Sahibah, istri Muhammad Sa’id sahib dan putri Hadhrat Al-Haj Hafiz Dokter Sayyid Syafi’ Sahib, Muhaqqiq Dehlawi. Beliau wafat beberapa hari yang lalu pada usia 88 tahun di Pakistan. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Ayahanda beliau, Hadhrat Al-Haj Hafiz Dokter Sayyid Syafi’ Ahmad Muhaqqiq Dehlawi adalah seorang penulis beberapa buku, ahli debat ulung dan seorang jurnalis yang terkenal. Beliau menerbitkan 16 (enambelas) surat kabar dari Delhi. Hadhrat Sayyid Syafi’ Ahmad Sahib baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) di usia 12 tahun. Beliau adalah keturunan dari Khawajah Mir Dard, seorang tokoh dan penyair sufi yang terkenal di anak benua India dan dari sisi ini beliau adalah termasuk kerabat Hadhrat Mir Nasir Nawab. Hadhrat Sayyid Syafi’ Ahmad Sahib dari sisi kekeluargaan adalah keponakan Hadhrat Amma Jaan. Pada 1957 beliau menikah dengan yang terhormat Muhammad Sa’id Ahmad Sahib, Insinyur dari Lahore.

Putri beliau Khalidah Sahibah menuturkan, “Nenek saya sangat memperhatikan syarat ketakwaan dalam perjodohan kedua orang tua saya. Beliau hanya melihat anak itu seorang Qaid pada usia yang masih 22-23 tahun, yang mengenainya Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, ‘Tidak diragukan lagi ini adalah satu Jemaat hampir mati yang kepadanya ditiupkan ruh kehidupan dan sepatutnya penghargaan atas pengkhidmatan ini adalah bagi Qaid mereka beserta 4-5 orang pembantunya.’ Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menyebutkan pengkhidmatan kemanusiaan beliau bahwa pada bencana banjir yang lalu beliau berkhidmat dengan luar biasa. Alhasil, dari sisi ini secara khusus beliau patut diberikan pujian. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) sangat memuji suami Nasim Sa’id Sahibah dan dengan mempertimbangkan hal ini, ibunda Nasim Sa’id Sahibah menjodohkan Almarhumah dengan beliau. Nasim Sa’id Sahibah mempunyai empat putra dan dua putri.

Rangkaian pengkhidmatan agama beliau dimulai pada 1954 yang mana beliau memulainya dengan bekerja bersama Hadhrat Sayyidah Chotti Aapaa (rha).[29] Hingga 2015, pengkhidmatan ini berlangsung selama 61 tahun, dan karena Sa’id Sahib bekerja di ketentaraan dan sering dimutasikan sehingga beliau pun menyertainya ke berbagai kota dan di kota-kota tersebut beliau mendapatkan kesempatan untuk berkhidmat. Beliau sendiri adalah seorang wanita yang sangat terpelajar dan cendekia. Beliau menulis kurang lebih 20 buku yang di antaranya mengenai kisah para Nabi dan beliau juga banyak menulis buku-buku mengenai para wujud suci.”

Putri beliau, Hamidah Ghofur Manan menuturkan, “Ibunda saya adalah sosok yang rajin beribadah, seorang yang berilmu dan juga beramal, tulus, setia, berjiwa pengorbanan, penuh cinta kasih dan rendah hati. Saya selalu melihat beliau berdoa dengan penuh kekhusyuan. Saya melihat beliau dawam dalam Tahajjud, ibadah-ibada nafal dan shalat-shalat wajib. Beliau memiliki jalinan sejati dengan keempat Khalifah, dimulai dari Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) hingga sekarang.”

Beliau memang tidak melakukan mulaqat dengan saya (Hudhur) di sini, namun beliau selalu mengungkapkannya melalui surat-surat. Putra-putrinya pun menulis mengenai hal ini dan ketika saya menerima surat beliau, dalam surat-surat beliau ini jalinan tersebut tampak dengan luar biasa. Tidak hanya kata-kata saja, bahkan tampak secara nyata jalinan keikhlasan dan kesetiaan beliau dengan Khilafat. Semoga Allah Ta’ala juga memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat menegakkan jalinan ini.

Putra sulung beliau, Khalid Sa’id Sahib menuturkan, “Hubungan beliau dengan Allah Ta’ala adalah seperti yang beliau selalu katakan kepada kami, ‘Senantiasa teguhlah pada hal ini, bahwa Ta’alluq billaah hendaknya sedemikian rupa layaknya Allah Ta’ala adalah Sahabat kalian. Milikilah kecintaan yang sejati untuk Rasulullah (saw).’ Beliau sendiri mengamalkan ini dan menasihatkannya juga kepada anak-anak.

Beliau memiliki hubungan rohani yang mendalam dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Jemaat, serta menasihatkan ini juga kepada anak-anak. Beliau memiliki hubungan yang mendalam dengan Khilafat, taat sepenuhnya dan menasihatkan ini juga kepada kami. Beliau setiap saat selalu siap untuk berkhidmat pada Jemaat. Beliau biasa menasihati kami dan menumbuhkan dari sejak usia dini kedawaman dalam shalat dan pengamalan perintah-perintah Islam lainnya.

Ketika berjalan-jalan beliau biasa melakukan pengkhidmatan kemanusiaan dan selalu mengatakan, ‘Ciptakanlah kemudahan bagi orang-orang.’ Beliau memberikan perhatian istimewa terhadap pengorbanan harta. Beliau membelanjakan untuk keperluan rumah tangga setelah sebelumnya memberikan pengorbanan harta. Beliau menilawatkan Al-Qur’an setiap hari dan menasihatkan hal ini juga kepada kami. Silaturahmi dan menjalin hubungan dengan para kerabat yang kaya maupun miskin merupakan satu keistimewaan beliau yang menonjol dan beliau selalu menasihatkan ini kepada kami. Beliau setiap saat selalu siap untuk melakukan da’wat ilallah. Beliau berulang kali menasihati kami untuk melaksanakan shalat Tahajjud. Beliau biasa memberikan daras untuk meningkatkan keilmuan kami dan selalu mengatakan, ‘Selalulah tersenyum dan janganlah menyakiti siapa pun.’ Beliau sangat mengkhidmati dan menghormati tamu.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat beliau, menanamkan kebaikan-kebaikan beliau ini pada anak keturunan beliau juga dan memberikan taufik kepada anak keturunan beliau untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan beliau.

Jenazah selanjutnya, Daud Sulaiman Batt Sahib dari Jerman, yang wafat pada usia 46 tahun disebabkan kanker. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ahmadiyah masuk dalam keluarga beliau melalui kakek buyut beliau, Hadhrat Abdul Hakim Batt Sahib yang merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) Selain seorang istri, beliau meninggalkan satu putri dan dua putra. Istri beliau, Samira Daud Sahibah menuturkan, “Beliau selalu siap untuk mengkhidmati agama. Beliau selalu berusaha untuk sebanyak mungkin melakukan pengkhidmatan kepada Jemaat. Beliau mengutamakan agama di atas dunia dalam makna yang hakiki. Semua yang mengenal beliau mengatakan bahwa wajah beliau selalu tersenyum dan selalu terdepan dalam sedekah dan khairat. Beliau setiap saat senantiasa siap untuk berkhidmat. Dari Jerman, beliau di sini bertugas di Hifazat-e-Khas dan para anggota tim beliau juga menulis bahwa beliau menjalankan tugasnya dengan penuh keceriaan dan tanggung jawab. Salah satu keistimewaan beliau adalah biasa menilawatkan Al-Qur’an sebelum memulai setiap pekerjaan.”

Saya juga melihat beliau selalu melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan kepada mereka yang ditinggalkan dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum.

Jenazah selanjutnya, Zahidah Parwin Sahibah, istri dari Ghulam Mushtofa ‘Awaan sahib, dari Dhapai, Distrik Sialkot, yang wafat pada usia 61 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Putri beliau, Hibatul Kalim Sahibah merupakan istri Jamil Tabassum Sahib, mubaligh kita di Bashkortostan, Rusia. Beliau menuturkan, “Ibunda saya dengan karunia Allah Ta’ala seorang Ahmadi keturunan dan seorang mushiah. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau melalui ayahanda beliau dan kakek ibunda beliau, Diwan Bakhs Sahib ‘Awaan.”

Beliau menuturkan, “Sejak saya mencapai usia dewasa, saya tidak pernah melihat beliau meninggalkan shalat Tahajjud dan senantiasa menasihatkan kepada anak-anaknya untuk menjalin ikatan kecintaan dengan Jemaat dan Khilafat.”

Beliau meninggalkan sorang putra dan empat orang putri. Tiga orang menantu beliau adalah Waqif Zindegi dan dua orang putri yang menikah dengan mubaligh sedang berada di luar negeri bersama para suami mereka, oleh karena itu tidak bisa datang dan melihat saat-saat terakhir dari ibunda mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada Almarhumah dan memberikan taufik kepada anak keturunan beliau untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan beliau.

Jenazah selanjutnya, Rana Abdul Wahid Sahib dari London yang merupakan putra Chaudry Abdul Hayyi Sahib dari Jaranwala, Faisalabad. Beliau wafat pada 26 Juni disebabkan serangan jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang Mushi dan berkhidmat dengan penuh pengabdian di Ansharullah. Selain itu beliau juga berkhidmat sebagai Sekretaris Dhiafat dan Sekretaris Maal Masjid Fazl. Seorang karyawan yang sangat rajin dan menjalankan semua pengkhidmatan dengan senang hati. Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau dan memberikan kesabaran dan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan.

Jenazah selanjutnya Al-Haj Miir Muhammad Ali Sahib, mantan Amir Jemaat Bangladesh. Beliau wafat pada usia 84 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau memegang beberapa jabatan di Jemaat baik di tingkat lokal maupun nasional. Dari 1997 hingga 2003 beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Amir Banglasdesh. Kemudian beliau menjalankan tugas sebagai Sekretaris Rishtanata dan Sekretaris Tabligh. Dari 2013 hingga akhir hayatnya beliau berkhidmat sebagai Amir Jemaat Dhaka. Di masa beliau menjabat sebagai Amir, Jemaat cukup banyak meraih kemajuan, khususnya dalam bidang pembangunan dan jaidad Jemaat. Beliau juga membangun rumah missi pusat, kemudian masjid-masjid, dll. Banyak pembangunan dilakukan.

Beliau seorang yang baik, tulus ikhlas, saleh, rajin Tahajjud, penuh simpati, rajin berdoa dan terdepan dalam pengorbanan harta. Beliau adalah sosok yang sangat memperhatikan orang-orang miskin dan banyak memberikan manfaat kepada sesama. Beliau sangat mencintai Khilafat dan seorang pengkhidmat Jemaat yang aktif. Beliau meninggalkan dua orang putra dan satu orang putri.

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum. Sebagaimana telah saya sampaikan, saya akan melaksanakan shalat jenazah gaib mereka semua setelah shalat.[30]

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Terkait:   Idul Fitri, Hari Bertobat dan Turunnya Karunia

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq.

Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ghazwatil-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Ḥadīth No. 4101.

[2] Fatḥul-Bārī Sharḥu Ṣaḥīḥil-Bukhārī, By Al-Imām Aḥmad ibn Ḥajar Al-‘Asqalānī, Volume 7, p. 505, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ghazwatil-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Ḥadīth No. 4102, Qadīmī Kutub Khānah, Ārām Bāgh, Karachi; Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, pp. 31-33, Ghazwatul-Khandaqi Wa Hiyal-Aḥzābu, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[3] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik ibn Hishām, p. 626, Ghazwatul-Khandaqi Fī Shawwālin Sanata Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[4] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A. dalam Sirat Khatamun Nabiyyin Volume II, Siege of Madīnah and Delicate State of the Muslims, Failure of the Disbelievers and Reality of Miracles.

[5] Informasi ini ada di Kitab Mu’jamul Buldaan. Yaqut ibn-‘Abdullah al-Rumi al-Hamawi penulis Mu’ajam al-Buldan atau Kamus Negara-Negara. Mu’jam al-Buldan, merupakan sebuah ensiklopedia geografi lengkap, yang memuat hampir seluruh wilayah yang ada di abad pertengahan dan kejayaan Islam. Dalam menjelaskan sebuah tempat, Yaqut, memasukkan hampir seluruh aspek terkait tempat tersebut. Yaqut mulai mengerjakannya pada 1224 dan selesai setahun sebelum ia meninggal pada 1228. Buku ini lebih tepat dikategorikan sebagai karya sastra geografi karena juga mencakup sisi sejarah, etnografi dan legenda yang berkaitan dengan tempat yang sedang dibahas. Yaqut Al-Hamawi (1179-1229 M) lahir di Anatolia adalah penulis ensiklopedia (mu’jam) geografi terpenting dalam Sejarah Peradaban Islam. Dia dilahirkan dari seorang budak berkebangsaan Romawi lalu dibeli oleh seorang pedagang dari kota Hamah pada saat masih kecil. Dia diberi nama Yaqut ibn Abdullah. Bapak angkatnya memberikan kesempatan kepadanya untuk belajar Islam dengan baik dan bahasa Arab menjadi bahasa sehari-harinya. Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/84377/yaqut-al-hamawi-ahli-geografi-dari-anatolia

[6] Ayah Hadhrat Sa’d ibn Abi Waqqash yaitu Malik ibn Wuhaib bergelar Abu Waqqash memiliki putra-putra yaitu Amir, Utbah, Sa’d dan Umair. Menurut Kitab al-Bidayah wan Nihaayah (البداية والنهاية – الجزء السابع) karya Ibnu Katsir (ابن كثير), juz ke-7 bab mengenai Bahurasir (وَقْعَةُ بَهُرَسِيرَ): وَوَصَلَ سَعْدٌ بِالْجُنُودِ إِلَى مَكَانٍ يُقَالُ لَهُ: مُظْلِمُ سَابَاطَ، فَوَجَدُوا هُنَالِكَ كَتَائِبَ كَثِيرَةً لِكِسْرَى يُسَمُّونَهَا بُورَانَ، وَهُمْ يُقْسِمُونَ كُلَّ يَوْمٍ: لَا يَزُولُ مُلْكُ فَارِسَ مَا عِشْنَا. وَمَعَهُمْ أَسَدٌ كَبِيرٌ لِكِسْرَى يُقَالُ لَهُ: الْمُقَرَّطُ. قَدْ أَرْصَدُوهُ فِي طَرِيقِ الْمُسْلِمِينَ، فَتَقَدَّمَ إِلَيْهِ ابْنُ أَخِي سَعْدٍ، وَهُوَ هَاشِمُ بْنُ عُتْبَةَ، فَقَتَلَ الْأَسَدَ Pembunuh singa Kisra di perang setelah Qadisiyah dan menjelang ke Madain tersebut ialah putra saudara atau keponakan Hadhrat Sad ibn Abi Waqqash, Hasyim ibn Utbah ibn Abi Waqqash. Hasyim beserta ayahnya dulunya penentang Islam. Ayahnya tewas dalam perang Uhud di pihak Musyrikin. Hasyim ibn Utbah masuk Islam pada saat Nabi (saw) dan pasukan Muslim menaklukkan Makkah pada tahun ke-8 Hijriyyah.

[7] Kitab al-Bidayah wan Nihaayah (البداية والنهاية – الجزء السابع) karya Ibnu Katsir (أبو الفداء إسماعيل بن عمر بن كثير القرشي البصري ثم الدمشقي (المتوفى: 774هـ)), bahasan megenai tahun ke-16 Hijriyyah (ثُمَّ دَخَلَتْ سَنَةُ سِتَّ عَشْرَةَ), bab tentang penaklukan al-Madaa-in ibu kota Persia (ذِكْرُ فَتْحِ الْمَدَائِنِ الَّتِي هِيَ مُسْتَقَرُّ مُلْكِ كِسْرَى): ثُمَّ أَقْحَمَ فَرَسَهُ فِيهَا وَاقْتَحَمَ النَّاسُ، وَقَدِ افْتَرَقَ السِّتُّونَ فِرْقَتَيْنِ: أَصْحَابُ الْخَيْلِ الذُّكُورِ، وَأَصْحَابُ الْخَيْلِ الْإِنَاثِ، فَلَمَّا رَآهُمُ الْفُرْسُ يَطْفُونَ عَلَى وَجْهِ الْمَاءِ قَالُوا: دِيوَانَا دِيوَانَا. يَقُولُونَ: مَجَانِينُ مَجَانِينُ. ثُمَّ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا تُقَاتِلُونَ إِنْسًا بَلْ تُقَاتِلُونَ جِنًّا. Setelah Hadhrat Sad (ra) dan pasukannya selesai menyeberangi sungai – bukan sungai kecil – tersebut dengan berkuda, orang-orang Persia sembari berlarian berteriak dalam bahasa mereka, “Dewana amadan. Dewana amadan.” – “Orang-orang gila telah datang. Orang-orang gila telah datang.” Sebagian lagi berkata, “Kalian berperang bukan dengan manusia, tapi dengan para jin (hantu).” (دیو) bisa berarti hantu atau sosok yang mengerikan dan menakutkan.

[8] Sunan an-Nasai, Kitab al-Jihad (كتاب الجهاد), bab ghazwah at-Turk wal Habsyah (باب غَزْوَةِ التُّرْكِ وَالْحَبَشَةِ), nomor 3176.

[9] Roshan Sitarey, pp. 84-88, Sair al-Sahaba, Vol. 2, pp. 117-118; Mujam-ul-Buldan, p. 56; Mujam-ul-Buldan, Vol. 1, p. 610.

[10] Tercantum dalam Sirah Amiril Mukminin ‘Umar ibnil Khaththab karya ash-Shalabi (ماخوذ از سیرت امیر المومنین عمر بن خطاب از الصلابی صفحہ 413 تا 417 دارالمعرفہ بیروت 2007ء). Tercantum juga dalam al-Faruq karya Syibli Nu’mani (ماخوذ ازالفاروق از شبلی نعمانی صفحہ 100 تا 103 ادارہ اسلامیات 2004ء); Tarikh ath-Thabari (ماخوذ از تاریخ طبری مترجم جلد دوم حصہ دوم صفحہ 388 نفیس اکیڈیمی کراچی 2004ء); Mu’jamul Buldaan (معجم البلدان جلد4 صفحہ 553، جلد5 صفحہ 88، 89).

[11] Ziyad saat pembicaraan dengan Khalifah ‘Umar tersebut berusia antara 16-20an tahun. Ziyad ibn Abu Sufyan lebih terkenal dengan nama Ziyad ibn Abihi (Ziyad putra ayahnya). Harap bedakan dengan Yazid ibn Abu Sufyan dan Yazid ibn Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Yazid ibn Abu Sufyan adalah kakak Mu’awiyah dari pernikahan resmi secara kebiasaan waktu itu. Abu Sufyan di sini ialah ayahnya Mu’awiyah dan pemimpin Banu Umayyah yang merupakan penentang keras Nabi (saw) di zaman Makkah dan Madinah sampai takluknya Makkah dan orang-orang Makkah menyatakan masuk Islam. Adapun Ziyad lahir dari ibu bernama Sumayyah di zaman umumnya orang Makkah masih jahiliyyah dan bukan lewat pernikahan. Ia beda ibu dengan Mu’awiyah. Di zaman para Khalifah Rasyidin, Ziyad dikenal dengan nama Ziyad ibn Abihi. Penamaan Ziyad ibn Abu Sufyan lebih populer di zaman berkuasanya Banu Umayyah dan sempat terjadi perdebatan di kalangan para Sahabat Nabi saat itu perihal apakah seorang yang lahir di luar pernikahan boleh dihubungkan secara nasab dengan seorang laki-laki yang diduga ayahnya. Ziyad adalah Amir yang loyal kepada Khalifah ‘Ali (ra) sampai Hadhrat ‘Ali (ra) wafat dan Amir Mu’awiyah berkuasa. Beberapa tahun kemudian Ziyad menjadi Amir bawahan Mu’awiyah membawahi banyak Amir dengan wilayah kekuasaan hampir setengah wilayah umat Muslim (Iraq, Iran, sebagian Asia tengah, hingga ke timur mencapai sebagian Pakistan sekarang). Ziyad adalah ayah ‘Ubaidullah ibn Ziyad, Amir Kufah dan Bashrah bawahan Yazid ibn Muawiyah yang nantinya mensyahidkan Imam Husain. Ziyad ibn Abihi, Mu’awiyah, Amru ibn Ash dan Mughirah ibn Syu’bah dikenal sejarawan dengan julukan Dihyah ‘Arab (Para Jenius Arab) atas kemampuan dan kecerdasannya memimpin wilayah yang luas dan rentan konflik dalam waktu lama. Rujukan Best Stories ‘Umar (ra) ibn Khaththab oleh Syekh Maulana Shibli Nu’mani.

[12] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), pembahasan peristiwa Jalula (ذكر الخبر عن وقعة جلولاء الوقيعة), tahun ke-16 (سنة ست عشرة), jilid 2, h. 471-468, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2012 (جلد2صفحہ468تا 471دارالکتب العلمیۃ بیروت 2012ء). Tercantum juga dalam Sirah Amiril Mukminin ‘Umar ibnil Khaththab karya ash-Shalabi (ماخوذ از سیرت امیر المومنین عمر بن خطاب از الصلابی صفحہ 420، 421 دارالمعرفہ بیروت 2007ء). Tercantum juga dalam al-Faruq karya Syibli Nu’mani (ماخوذ ازالفاروق از شبلی نعمانی صفحہ 104 ادارہ اسلامیات 2004ء). al-Muntazhim fi Tarikhil Muluk wal Umam (المنتظم في تاريخ الملوك والأمم 1-17 ج4) karya Ibnu al-Jauzi (جمال الدين أبي الفرج عبد الرحمن/ابن الجوزي‎). Tercantum juga dalam Futuhusy Syam karya al-Waqidi (فتوح الشام – الواقدي – ج ١ – الصفحة ١٧٨).

[13] Tercantum dalam al-Faruq karya Syibli Nu’mani (الفاروق از شبلی نعمانی صفحہ 106مکتبۃ الحرمین اردو بازار لاہور 1437ھ); al-Akhbar ath-Thiwaal (الأخبار الطوال، وقعۃ القادسیہ، صفحہ183دارالکتب العلمیہ بیروت 2001ء)

[14] Tarikh ath-Thabari (طبری جلد2صفحہ475 دار الکتب العلمیہ بیروت 1987ء).

[15] Karya tulis berjudul Tarikh (Sejarah) Islam di masa Hadhrat ‘Umar (ra) oleh yang terhormat Sayyid Mir Mahmud Ahmad Shb Nasir halaman 120 (مقالہ ’تاریخ اسلام بعہد حضرت عمر رضی اللہ عنہ‘ از مکرم سید میر محمود احمدناصر صاحب صفحہ120); Futuhul Buldaan karya ‘Allamah Biladzuri halaman 185, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut 2000 (فتوح البلدان علامہ بلاذری صفحہ 185 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2000ء).

[16] Tarikh ath-Thabari (ماخوذ ازتاریخ طبری جلد دوم صفحہ438تا 442 دار الکتب العلمیہ بیروت 1987ء); Farhank Sirat (فرہنگ سیرت صفحہ 116 زوار اکیڈیمی کراچی 2003ء); Mu’jamul Buldan (معجم البلدان جلد 2 صفحہ 259-260). Biografi ‘Umar (ra) ibn Al-Khathab oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi. Al-Mughirah ibn Syu’bah dipecat satu kali di zaman Khalifah ‘Umar (ra) dan satu kali di zaman Khalifah ‘Utsman (ra). Tidak beberapa lama setelah diberhentikan, ditunjuk lagi menjadi Amir di daerah lainnya.

[17] Selain tercantum dalam Futuhul Buldaan karya al-Baladzuri, tercantum juga dalam Bahjatush Shibaghah fi Syarh Nahjil Balaghah (كتاب بهج الصباغة في شرح نهج البلاغة المجلد السادس), pasal ke-7 (تتمة الفصل التاسع) karya Syaikhh Muhammad Taqi at-Tusturi (الشيخ محمد تقي التّستري), penerbit Maktabatur Rasul al-A’zham shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa ahlil baiti ‘alaihimus salaam (مكتبة الرسول الأعظم صلى الله عليه وآله وأهل البيت عليهم السلام)

[18] Karya tulis berjudul Tarikh (Sejarah) Islam di masa Hadhrat ‘Umar (ra) oleh yang terhormat Sayyid Mir Mahmud Ahmad Shb Nasir halaman 124-127 (مقالہ ’تاریخ اسلام بعہد حضرت عمر رضی اللہ عنہ‘ از مکرم سید میر محمود احمدناصر صاحب صفحہ124تا 127); Tarikh ath-Thabari (طبری جلد 2صفحہ494 دار الکتب العلمیۃ بیروت 1987ء); Futuhul Buldan (فتوح البلدان صفحہ 225-226).

[19] Karya tulis berjudul Tarikh (Sejarah) Islam di masa Hadhrat ‘Umar (ra) oleh yang terhormat Sayyid Mir Mahmud Ahmad Shb Nasir halaman 127-128 (مقالہ ’تاریخ اسلام بعہد حضرت عمررضی اللہ عنہ‘ از مکرم سید میرمحمود احمد صاحب ناصر، صفحہ127-128); Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد 2، صفحہ473و494، دارالکتب العلمیہ بیروت2012ء).

[20] Futuhul Buldan: Penaklukan Negeri-negeri dari Fathu Makkah Sampai Negeri Sind oleh Syaikh Al-Baladzuri. Ada dua kota besar pusat kemiliteran umat Muslim dekat Iran yaitu Kufah dan Bashrah. Keamiran di dua kota ini sangat dinamis (sering terjadi pergantian) seiring dinamisnya situasi. Seringkali Amir di kota ini diperintah oleh Khalifah pergi ke medan perang dan terkadang di medan perang posisinya bukan sebagai Amir atas semua pasukan tapi hanya penasehat atau perwira pendamping komandan. Kota yang ditinggalinya dijabat Amir pengganti. Contoh, Sa’d bin Abi Waqqash komandan beberapa waktu setelah memenangi perang Qadisiyah dan Madain lalu tinggal di Madain kemudian pindah ke Kufah dan membangunnya sebagai markas besar tentara lalu diberhentikan kemudian dan dipanggil ke Madinah. Penggantinya sebagai Amir Kufah ialah ‘Ammar bin Yasir. ‘Ammar pernah diperintahkan oleh Khalifah ‘Umar untuk menyusul Abu Musa di Tustar membawa seribuan pasukan. Dalam riwayat, komandan lapangan di perang Tustar hingga kemenangan ialah Abu Sabrah didampingi Abu Musa. Amir pengganti ‘Ammar di Kufah ialah ‘Abdullah bin Mas’ud.

[21] Kitab al-Futuh karya Ahmad bin A’tsam al-Kufi (كتاب الفتوح – أحمد بن أعثم الكوفي – ج ٢ – الصفحة ٢٨٢). Kitab ini menyebut nama prajurit Muslim pertama yang memasuki saluran air ialah ‘Auf bin Majzaah (عوف بن مجزأة). Semua kitab Tarikh (sejarah) karya Sejarawan Muslim menuliskan hal yang sama perihal penaklukan Tustar (Tustur atau Tasattar) pengepungan sangat lama (18 bulan hingga dua tahun) dan kunci kemenangan pada tawaran bantuan orang Persia kepada pihak Muslim dan memberitahukan jalan masuk lewat saluran air. Saluran air ini cukup rumit dan lama memasuki dan keluar darinya sehingga korban pihak Muslim hanya untuk melewatinya mencapai puluhan orang. Perbedaan riwayat terletak pada nama orang Muslim pertama yang melaluinya bersama orang Persia tersebut dan jumlah pasukan saat memasukinya di malam kedua. Ada yang menyebut prajurit pertama ialah Majzaah bin Tsaur Al Sadusi (مجزأة بن ثور السدوسي) seperti dalam Kitab al-Mushannaf (المصنف) Kitab at-Tarikh (كتاب التأريخ) bahasan Tustar (ما ذكر في تستر). Kitab ini juga tidak menyebut orang Persia itu masuk Islam. Tarikh Al Umam wa Al Muluk karya Al Thabary: 4/216 tentang kejadian tahun 17 H menyebut nama orang itu ialah ‘Amir bin Abdul Qais, Ka’b bin Sur dan Majzaah bin Tsaur (عامر بن عبد القيس و كعب بن سور و مجزأة بن ثور); Ibnu al-Atsir dalam Usudul Ghabah: 4/30 menyebut nama ‘Amir bin Abdul Qais. Futuhul Buldan dan al-Akhbar ath-Thiwal (الأخبار الطوال – الدينوري – الصفحة ١٣٠) yang menyebut seorang dari Banu Syaiban yang bernama Asyras ibn ‘Auf dan di malam kedua ialah Majza-ah dan teman-temannya.

[22] Sirat Amiril Mukminin ‘Umar ibnil Khaththab karya ash-Shalabi, halaman 422-425, Darul Ma’rifat, Beirut-2007 (ماخوذ از سیرت امیر المومنین عمر بن خطاب از الصلابی صفحہ422تا 425 دارالمعرفہ بیروت 2007ء); Akhbaruth Thiwaal karya ‘Allamah Abu Hanifah Dinawari halaman 188-190, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2001 (ماخوذ از الاخبار الطوال از علامہ ابو حنیفہ دینوری صفحہ 188 تا 190 مطبوعہ دار الکتب العلمیہ بیروت 2001ء); Futuhul Buldaan halaman 526, Mu’assasah al-ma’rifat, Beirut (فتوح البلدان صفحہ 536 مطبوعہ موسسۃ المعارف بیروت 1987ء); Mu’jamul Buldaan jilid 3, halaman 19, jilid 2 halaman 34, Dar Shadir, Beirut 1977 (معجم البلدان جلد3 صفحہ19، جلد2 صفحہ34۔ دار صادر بیروت1977ء). Penerjemah dalam dialog antara Hormuzan dan Khalifah ‘Umar (ra) ini ialah Hadhrat Mughirah ibn Syu’bah. Ia memahami sebagian bahasa Persia (Farsi). Informasi ini ada di dalam Kitab Tarikh ath-Thabari.

[23] Kitab ‘Iqdul Farid karya Ibnu Abdi Rabbihi al-Andalusi (العقد الفرید جلد دوم صفحہ 144 مطبوعہ دار ارقم بیروت 1999ء).

[24] Tarikh (Sejarah) Islam di masa Hadhrat ‘Umar (ra) oleh yang terhormat Sayyid Mir Mahmud Ahmad Shb Nasir halaman 135 (’تاریخ اسلام بعہد حضرت عمررضی اللہ عنہ‘ از مکرم سید میرمحمود احمد صاحب ناصر، صفحہ 135)

[25] Referensi ini bersama teks Arabnya tercantum dalam Tafsir Kabir jilid ke-2 h. 359-361 oleh Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) yang dikutip dari Kitab Syarh Ma’ani al-Atsar karya Abu Ja’far ath-Thahawi (شرح معاني الآثار للطحاوي), Kitab Jinayat (كتاب الجنايات), bab bila orang beriman membunuh orang kafir (باب المؤمن يقتل الكافر متعمدا), nomor 3255. Imam Ath-Thahawi (239-321 H) adalah Imam, pakar penghafal hadits dari Mazhab Hanafi. Beliau dilahirkan di salah satu daerah Mesir, kampung Thaha. Penulis kitab “Al-Aqidah Ath-Thahawiyah” yang diakui dan digunakan seluruh mazhab Ahlus Sunnah. Beliau mengalami masa hidup enam penulis Kitab Hadits Shihah Sittah. Referensi diatas tercantum juga di Kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram (كتاب توضيح الأحكام من بلوغ المرام) karya Abdullah Basam (عبد الله البسام), Kitab jinayat (pidana) (كتاب الجنايات). Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Asqalani ialah Kitab Hadits tematik mengambil dari Kitab-Kitab Hadits lain seperti Bukhari, Muslim dsb. Banyak ulama yang kemudian menyusun kitab penjelasan atas Bulughul Maram. Contohnya, Kitab Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram ini. Yang terkenal dari antara Kitab penjelasan atas Bulughul Maram adalah Subulus Salam karya Muhammad ibn Ismail al-Amir ash-Shanani. Kitab Subulus Salam sendiri ringkasan kitab Al-Badrut Tamam karya Al-Husain ibn Muhammad al-Maghribi. Badrut Tamam adalah Kitab yang menjelaskan Kitab Bulughul Maram. Jadi, Subulus Salam ialah sebuah Kitab ringkasan dari Kitab yang menjelaskan sebuah Kitab bernama Bulughul Maram.

[26] Sunan Ibn Majah 2660, Kitab ad-Diyaat (كتاب الديات), bab Muslim tidak dibunuh karena membunuh orang kafir (باب لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ).

[27] Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), tahun ke-24 (ثم دخلت سنة أربع عشرين), peristiwa-peristiwa terkenal di tahun itu (ذكر مَا كَانَ فِيهَا من الأحداث المشهورة), pidato ‘Utsman (ra) dan pembunuhan Hurmuzan oleh ‘Ubaidullah putra ‘Umar ibn al-Khaththab (خطبة عُثْمَان رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وقتل عُبَيْد اللَّهِ بن عُمَرَ الهرمزان), Dar al-Fikr, Beirut, 2002: عن أبي منصور، قَالَ: سمعت القماذبان يحدث عن قتل أَبِيهِ، قَالَ:. Referensi ini bersama teks Arabnya tercantum dalam Tafsir Kabir jilid ke-2 h. 359-361 oleh Hadhrat Khalifatul Masih II (ra). Tercantum juga dalam Utsman ibn Affan Ra oleh Abdul Syukur al-Azizi.

[28] Tafsir Kabir jilid ke-2 halaman 359-361 (ماخوذ از تفسیر کبیر جلد دوم صفحہ 359تا 361)

[29] Hadhrat Sayyidah Chotti Aapaa (rahimahaLlahu) ialah salah seorang istri Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra). Nama beliau Hadhrat Sayyidah Maryam Shiddiqah (rha). Beliau disebut juga sebagai Ummu Matin (أم متين رحمها الله).

[30] Al-Fadhl International, 20 Agustus 2021, halaman 5-10 (الفضل انٹرنیشنل20؍اگست2021ء صفحہ5تا10) Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah. Sumber referensi : https://www.alislam.org/ (bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (Arab).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.