Tentang Khilafat


1. Esensi Khilafat

Dalam Media Dakwah No.249, Ramadhan – Syawal 1415 H / Maret 1995, telah dimuat sebuah karangan serta berita dengan judul “Khilafah Suatu Keharusan”. Di dalamnya tertera bahwa pada bulan Januari 1995 Yayasan Risalah Jakarta telah mengadakan seminar yang bertema “Khilafah is the Answer”.

Dalam seminar tersebut para ulama Islam telah menjelaskan bahwa sekarang orang-orang Muslim tidak memiliki ruh Islam, yang ada dan tampak hanyalah pengaruh budaya Barat. Dahulu pernah ada sebuah Khilafat di Turki, tetapi kemudian pada tahun 1924 sistem Khilafat itu tidak ada lagi, tertelan oleh dominasi sistem pemerintahan sekuler Turki.

Selanjutnya dijelaskan pula, sesuai Syariat Islam, sangat penting dan harus ada Khalifah dalam Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda :

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Yakni, seseorang yang mati dan tidak bai’at kepada seorang Imam (yakni Khalifah), maka matinya adalah mati jahiliyyah. (Muslim dan Misykat hal.320)

Hadits ini disepakati oleh para Sahabat dan terbukti bahwa sesudah Rasulullah saw., Abu Bakar ra., Umar ra., dan Ali ra. berturut-turut telah diangkat sebagai Khalifah.

Di dalam Lembaran Dakwah Hanif no.014/th.VII 14 Dzulqaidah 1415 H / 14 April 1995 M, telah memuat artikel yang isinya antara lain :

“Umat Islam sekarang tidak mempunyai seorang pemimpin yang dapat memberi petunjuk kepada mereka. Padahal jumlah pemeluk agama Islam sangat banyak sekali dan tersebar luas ke seluruh dunia. Dan di dalam Islam juga tidak ada bendera tertentu, dimana seluruh umat Islam dapat berkumpul dan bernaung di bawahnya. Kita tidak punya Khalifah, yang dapat diikuti/ditaati. Dan kita tinggal bagai anak-anak yatim yang hina. Dan tidak punya seorang syeikh Islam (pemimpin Islam), yang suaranya dapat diikuti serta menjadi contoh dan tauladan bagi umat manusia.”

“Sekarang berbagai kekuatan bangsa-bangsa dan golongan dunia sedang bersatu. Tetapi dunia Islam tidak ada kesatuan/persatuan. Bahkan sebaliknya bertentangan satu sama lainnya. Dan satu sama lain bertentangan hanya disebabkan masalah ilmu fiqih dan ilmu kalam. Padahal mereka sama-sama beriman kepada Allah. Mereka sepakat beriman kepada agama Islam; beriman kepada Kitab Suci Al-Quran, dan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul mereka.”

Ketua MUI Banda Aceh, Prof.H.Ali Hasymy, dalam khutbah Jum’ah yang dimuat di dalam harian Serambi Indonesia no.2053 / th.28, tggl.11 Ramadhan 1415 H / Sabtu 11 Februari 1995, pada halaman 5 kolom 6-7, mengatakan bahwa menurut Al-Quran jika orang-orang Islam adalah mukmin dan mengerjakan amal shaleh, mereka akan dijadikan Khalifah-khalifah. Maksudnya, orang-orang Islam sekarang ini tidak mukmin sebab menurut fahamnya sekarang ini tidak ada Khalifah.

Hasrat serta keinginan yang telah dicetuskan dalam tiga artikel tersebut di atas sebenarnya telah dipenuhi dan diatur oleh Allah Swt. Tetapi sayang sekali umat Islam tidak mengetahui apa yang telah diatur oleh Allah Swt. itu, atau barangkali mereka sengaja tidak taat pada firman Allah Swt. Padahal lebih dari seribu tahun yang lalu, Allah Swt. secara gamblang telah memberitahukan tentang adanya sistem Khilafat tersebut. Rinciannya adalah sebagai berikut.

[⇑]


2. Sistem Khilafat

Di dalam Quran Surah An-Nur : 56, Allah Swt. berfirman :

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal shaleh bahwa Dia pasti akan menjadikan khalifah dari antara mereka di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah bagi orang-orang sebelum mereka. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah diridhoi-Nya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka dari kondisi takut menjadi aman sentausa. Mereka menyembah-Ku dan tidak mempersekutukan suatu apa pun dengan-Ku. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.”

[⇑]


3. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Sebagai Khalifatullah

Sesuai dengan ayat tersebut di atas, pada zaman sekarang ini hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. (1835-1908) beserta Jemaat beliau yang percaya bahwa dalam agama Islam sistem Khilafat masih terus berjalan hingga kini. Pada zaman sekarang hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. – yang mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau’ud – telah memperoleh wahyu dari Allah Swt. Seperti tertera berikut ini sampai 13 kali banyaknya.

أَرَدْتُّ أَنْ أَسْتَخْلِفَ فَخَلَقْتُ أَدَمَ

“Aku telah beriradah untuk menegakkan Khalifah-Ku pada zaman ini, maka Aku ciptakan Adam.” (Tadzkirah, Al-Syirkatul Islamiyah, 1969, hal.665)

Arti surah An-Nur ayat 56 tersebut adalah, agama Islam akan mendapat kekuatan dan kemenangan melalui para Khalifah, dan pada zaman sekarang ini hanya Mirza Ghulam Ahmad as. yang berdasarkan wahyu dari Allah Swt. telah mengatakan bahwa Islam akan mendapat kemenangan di seluruh dunia melalui beliau serta murid-murid beliau dalam tempo tiga abad semenjak beliau diutus.

Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa ayat tersebut hanya berlaku bagi Imam Mahdi, yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. serta bagi murid-murid beliau yang mengaku bahwa Khilafat masih terus berjalan dalam agama Islam.

[⇑]


4. Empat Era Dalam Islam Hingga Hari Kiamat

Hadits Rasulullah saw. di bawah ini menguatkan keterangan tersebut di atas :

فقال حذيفة: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكًا عاضًا فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكًا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، ثم سكت.

“Hudzaifah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Akan terjadi Nubuwwat sampai masa yang disukai Allah…kemudian akan ada Khilafat dalam Nubuwwat sampai masa yang disukai Allah…kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah…kemudian akan ada Khilafat dalam Nubuwwat.’ Kemudian beliau berdiam diri.” (Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461)

Di dalam kitab Misykat tersebut, di bawah perkataan :

ثم تكون خلافة على منهاج النبوة

Terdapat keterangan sebagai berikut :

“Sudah jelas bahwa khilafat yang dimaksudkan disini ialah (yang berlaku) di zaman (Khilafat) Isa dan Imam Mahdi.”

Menurut hadits tersebut ada 4 era dalam perkembangan Islam. Dan era keempat adalah yang merupakan zaman Isa dan Mahdi, yang telah dibawakan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.

[⇑]


5. Tidak Boleh Ada Dua Khalifah Dalam Satu Masa

Rasulullah saw. menjelaskan :

إِذَا بُوِيْعَ لِخَلِفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا الْأَخِرَ مِنْهُمَا

Abu Sa’id meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, Apabila bai’at kepada dua khalifah, maka bunuhlah salah satu dari antara keduanya.” (Muslim, Misykat hal.320)

Pada catatan pinggir hadits ini tertulis :

فَيُقَالُ الْمُرَادُ مِنَ الْقَتْلِ اِبْطَالَ بَيْعَةِ الْأَخَرَ وَتَوْهِيْنَ أَمْرِهِ

“Yang dimaksud dengan (kata) bunuh disini ialah, anggaplah batil dan tidak berlaku baiat Khalifah yang kedua, dan jangan dihargai segala urusan dan perkaranya.” (Misykat, hal.320)

[⇑]


6. Setiap Muslim Wajib Taat Pada Imam Zaman dan Khalifah

Rasulullah saw. bersabda :

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِهِ فَقَدْ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barangsiapa yang tidak mengenal imam zamannya, maka matinya adalah mati jahiliyyah.” (Abu Daud, Kanzul Umal, Biharul Anwar hal.45)

Merujuk pada hadits tersebut, di zaman ini hanya ada seorang yang mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan dilengkapi dengan tanda-tanda khusus dari Allah Swt. Yakni Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Hal itu menunjukkan bahwa pada zaman ini Khalifah hanyalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Oleh karena itu beriman kepada beliau as. adalah wajib hukumnya bagi setiap orang Muslim.

[⇑]


7. Segolongan Islam Selalu Berada Di Atas Kebenaran

Rasulullah saw. bersabda :

لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَي الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَي يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيْسَي ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُوْلُ لَا أَنَّ بَعْضَكُمْ عَلَي بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ

“Jabir ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, ‘Di antara umatku selalu ada satu golongan yang akan mempertahankan kebenaran sampai hari kiamat.’ Beliau bersabda lagi, ‘Maka Isa Ibnu Maryam (Imam Mahdi) akan datang dan amir mereka akan berkata ‘Silakan jadi imam kami’, maka beliau bersabda ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari antara kamu adalah amir atas sebagian lainnya, sebab Allah Swt. memuliakan umat ini.” (Muslim, Misykat, hal.480)

Kata ‘tidak’ pada hadits ini bukan berarti Imam Mahdi as. tidak mau menjadi imam. Maksudnya adalah, banyak murid beliau yang merupakan orang-orang alim. Imam Mahdi – Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. – selalu sibuk menulis buku-buku, karena itu beliau meminta orang lain yang memimpin shalat. Beliau as. sering menunjuk Hadhrat Mlv.Hakim Nuruddin ra. dan Hadhrat Mlv.Abdul Karim Sialkoti ra. menjadi imam dalam shalat, namun kadang-kadang beliau sendiri juga memimpin shalat sebagai imam.

[⇑]


8. Para Mujaddid / Pembaharu Dalam Islam

Rasulullah saw. bersabda :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَي رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُّجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Abu Hurairah ra. meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Swt. akan mengirimkan untuk umat ini pada permulaan setiap seratus tahun seorang Mujaddid (pembaharu) yang akan memperbaiki agamanya.” (Abu Daud, Misykat hal.36)

Sesuai dengan hadits ini, berdasarkan petunjuk-petunjuk dari Allah Swt., Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. (Imam Mahdi dan Masih Mau’ud) telah mendakwakan diri sebagai Mujaddid pada akhir abad ke 13 untuk ribuan terakhir masa dunia ini.

Berikut ini, berdasarkan hadits tersebut, kami tuliskan daftar nama-nama para Mujaddid yang telah datang sesudah Nabi Muhammad saw. yang tercantum di dalam kitab Hijajul Kiramah hal.135-139 :

  1. Abad pertama : Umar bin Abdul Aziz
  2. Abad kedua : Imam Syafi’i
  3. Abad ketiga : Abu Syarah / Abdul Hasan Asysyari
  4. Abad keempat : Abu Ubaidullah Nisyapuri / Abu Bakar Baqlani
  5. Abad kelima : Imam Ghazali
  6. Abad keenam : Sayyid Abdul Qadir Jailani
  7. Abad ketujuh : Imam Ibnu Taimiya / Khwaja Mu’inuddin Chsiti
  8. Abad kedelapan : Hafiz Ibnu Hajar Asqalani / Saleh bin Umar
  9. Abad kesembilan : Imam Suyuti
  10. Abad kesepuluh : Imam Muhammad Tahir Gujrati
  11. Abad kesebelas : Mujaddid Alif Tsani Sarhindi
  12. Abad keduabelas : Syah Waliullah Muhaddas Dhelwi
  13. Abad ketigabelas : Sayid Ahmad Brelwi
  14. Abad keempatbelas : Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as.

Pada permulaan abad keempatbelas ini telah lahir Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. – Imam Mahdi dan Masih Mau’ud – sebagai mujaddid. Dan tidak seorang pun yang telah mendakwakan diri sebagai mujaddid selain beliau as. pada era ini.

Perlu diperhatikan bahwa seorang mujaddid adalah orang yang selalu menjalin hubungan dengan Allah Swt. Dan ia menerima wahyu serta ilham dari Allah Swt. Orang seperti ini disebut alim rabbani. Dan seorang alim rabbani ialah orang yang berhak untuk itu, sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw.

عُلَمَاءُ أُمَّتِيْ كَأَنْبِيَاءِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ

“Ulama dalam umatku sama seperti Nabi-nabi Bani Israil.”

Oleh karena itu, seluruh Mujaddid yang telah datang di setiap abad lalu, walau tidak disebut nabi oleh Allah Swt., tetapi dalam pandangan-Nya mereka sederajat dengan para Nabi Bani Israil. Maksudnya ialah sesudah Rasulullah saw. untaian nubuwwat tidak terputus, masih tetap berjalan dan terbuka.

Dalam hal ini, memang tidak dapat diragukan lagi bahwa di kalangan umat Islam sendiri telah banyak timbul perpecahan, sehingga tidak jarang timbul perselisihan antar sesama. Akan tetapi mereka hendaknya jangan putus asa. Allah Swt. telah berjanji sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Quran Surah An-Nur 56 :

“Orang-orang beriman dan selalu beramal shaleh, Allah akan menjadikan Khalifah bagi mereka, dan dengan perantaraan Khalifah itu Islam akan mendapat kekuatan kembali.”

Selanjutnya sesuai dengan hadits-hadits Musnad Ahmad maupun Misykat yang tertera di atas, Rasulullah saw. telah menjelaskan kondisi umat Islam dalam 4 era :

  1. Era Rasulullah saw. sendiri
  2. Era Khilafah Rasyidah, yakni Abu Bakar ra., Umar ra., Usman ra., dan Ali ra.
  3. Era kerajaan-kerajaan Islam
  4. Era nubuwwat dan khilafat

Kemudian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah saw. dalam Sahih Muslim dan Misykat terdapat sebuah golongan Islam yang selalu tegak di atas kebenaran dan selalu dapat meraih keunggulan serta kemenangan.

Dengan demikian, sesuai ayat suci Al-Quran dalam Surah An-Nur 56, Allah Ta’ala telah mengangkat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. sebagai Khalifah di akhir zaman ini. Khilafat beliau berlaku sampai hari Kiamat. Dan setelah beliau as. wafat, para Khalifah beliau-lah yang merupakan Mujaddid. Tidak akan ada lagi Mujaddid di luar Khilafat beliau. Kedudukan Khalifah adalah lebih tinggi dari pada Mujaddid. Sedangkan seorang Khalifah dapat otomatis berperan sebagai Mujaddid (pembaharu).

[⇑]


9. Nubuwatan Imam Mahdi Tentang Khilafat Beliau Hingga Hari Kiamat

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. menuliskan :

“Alhasil, Dia memperlihatkan dua macam kudrat. Pertama, dengan tangan para Nabi diperlihatkannya tangan kudrat-Nya. Kedua, setelah kewafatan Nabi – ketika kesulitan-kesulitan menghadang, sedang musuh berusaha sekuat tenaga dan menyangka bahwa sekarang usaha ini gagal, dan mereka yakin bahwa sekarang Jemaat ini akan hancur; dan orang-orang dari kalangan Jemaat sendiri pun jadi merasa bimbang, mereka jadi putus harapan, malah beberapa yang sial menyimpang ke jalan murtad – dalam keadaan demikian barulah Allah Ta’ala untuk kedua kalinya akan menunjukkan kudrat-Nya yang amat kuat, dan Jemaat yang hampir roboh itu disokong-Nya kembali. Jadi, orang yang sabar sampai akhir, ia akan menyaksikan mukjizat Allah Ta’ala ini. Sebagaimana telah terjadi pada masa Abu Bakar Shiddiq ra., ketika kewafatan Rasulullah saw. yang dianggap bukan pada waktunya, dan banyak di antara orang-orang dusun yang bodoh balik menjadi murtad, dan para Sahabat pun karena terlampau sedih hampir-hampir seperti gila. Saat itulah Allah Ta’ala menegakkan Abu Bakar Shiddiq ra. untuk sekali lagi memperlihatkan kudrat-Nya, dan Islam yang hampir runtuh itu ditopang-Nya kembali. Dan Dia telah memenuhi janji yang difirmankan-Nya yakni,

وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا

“Pasti akan diteguhkan-Nya bagi mereka orang-orang mukmin agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan pasti akan diganti-Nya kecemasan mereka dengan ketenteraman hati yang lega.”

“Yakni, akan Kami kuatkan lagi kaki mereka. Demikian pula peristiwa di masa Musa as., ketika Musa as. wafat di perjalanan antara Mesir dan Kanaan, sebelum beliau dapat membawa Bani Israil ke tempat yang dituju menurut perjanjian. Kewafatan beliau menyebabkan suatu kesedihan yang luar biasa di kalangan Bani Israil. Seperti tertulis dalam Taurat, Bani Israil terus-menerus menangis 40 hari lamanya karena kewafatan beliau yang tidak disangka-sangka dan perpisahan dengan Musa as. yang tiba-tiba itu. Begitu pula yang telah terjadi dengan Isa as. Ketika beliau disalib, semua hawari tercerai berai, malah seorang di antaranya telah pula murtad.”

“Oleh karena itu, wahai Saudara-saudara! Karena sejak dahulu demikianlah sunnatullah (adat kebiasaan Allah), bahwa Allah Ta’ala memperlihatkan dua buah kudrat, supaya ditampakkan oleh-Nya bagaimana menghapuskan dua kegirangan palsu yang dimiliki oleh para musuh, maka sekarang tidak mungkin Allah Ta’ala akan meninggalkan sunnah-Nya yang sudah berlaku dari dahulu itu. Oleh karenanya, janganlah kalian bersedih hati karena uraianku yang aku terangkan di hadapan kalian ini. jangan hendaknya hati kalian menjadi duka, karena kalian perlu menyaksikan kudrat kedua. Kedatangannya kepada kalian adalah lebih baik, sebab ia permanen dan sampai kiamat untaiannya tidak akan terputus. Kudrat kedua ini tidak dapat datang sebelum aku pergi. Akan tetapi bila aku pergi, maka Tuhan akan mengirimkan kudrat kedua itu kepada kalian, yang akan tinggal bersama kalian selama-lamanya, sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam Barahin Ahmadiyah. Janji itu bukan untuk diriku, melainkan suatu janji untuk kalian. Seperti firman Allah, ‘Aku akan memberi kepada Jemaat ini – yang merupakan para pengikut engkau – kemenangan di atas golongan-golongan lain hingga hari Kiamat.” (Al-Wasiyyat hal.12-15; Ruhani Khazain, edisi 1984, jilid.20, hal.304-306)

[⇑]


10. Era Nubuwwat dan Khilafat di Akhir Zaman

Sesuai dengan hadits-hadits Musnad Ahmad, Baihaqi dan Misykat, Rasulullah saw. telah membagi kondisi umat beliau dalam empat era. Dan era keempat dikatakan di dalamnya terdapat Nubuwwat dan Khilafat. Janji tersebut telah sempurna dengan kedatangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Di dalam Al-Quran Allah Ta’ala berfirman :

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ

“Dan (Dia akan membangkitkan Rasulullah saw.) di kalangan kaum lain dari mereka yang belum pernah berhubungan dengan mereka.” (QS. Al-Jumu’ah 4)

Di dalam Shahih Bukhari jilid 3 hal.135 tertera tafsir ayat tersebut di atas. Disana dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kaum lain disini adalah kaum Salman Al-Farsi ra. yakni yang akan mengambil kembali iman dari bintang Tsurayya tatkala iman telah lenyap dari muka bumi ini.

Sebagai bukti nyata berdasarkan keterangan hadits Bukhari tersebut di atas, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah berasal dari keturunan Farsi. Dan beberapa perempuan keturunan Fatimah ra. (putri Rasulullah saw.) menikah dengan beberapa nenek moyang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., oleh karena itu beliau pun merupakan keturunan Fatimah ra. juga. Bahkan istri kedua beliau, Hadhrat Nusrat Jahan ra. juga merupakan keturunan dari Fatimah ra.

Kemudian, di dalam Al-Quran surah Asy-Syaf 6-9 tertera kabar kedatangan seorang Nabi sesudah Nabi Muhammad saw. Hal itu pun telah sempurna dengan kedatangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Tanda-tanda kebenaran beliau juga tersebut di dalam surah Al-Qiyamah 8-9 dan hadits Daru Quthni hal.188. Dengan demikian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. berpangkat Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, seperti yang dibenarkan juga oleh hadits-hadits lainnya. Untuk keterangan lebih lanjut, silakan telaah buku Khabar Suka yang telah disusun oleh penulis ini.

[⇑]


11. Kesimpulan

Sesuai dengan keterangan Al-Quran Karim dan Hadits-hadits, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah Masih Mau’ud, Imam Mahdi dan Khalifah. Dan Khilafat beliau akan berlaku sampai hari kiamat. Dengan perantaraannya-lah umat Islam serta umat lainnya akan memperoleh perbaikan, dan agama Islam akan meraih kemenangan di seluruh dunia.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmada as. lahir pada tahun 1835. Beliau wafat pada tahun 1908. Dan pada tahun 1908 itu Hadhrat Al-Hajj Hafiz Hakim Nuruddin ra. telah diangkat sebagai Khalifatul Masih Awwal. Setelah beliau wafat, pada tahun 1914 Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. telah menjadi Khalifatul Masih Tsani. Kemudian setelah itu, pada tahun 1965 Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad ra. telah menjadi Khalifatul Masih Tsalits. Dan setelah kewafatan beliau, pada tahun 1982 Hadhrat Mirza Tahir Ahmad ra. telah diangkat sebagai Khalifatul Masih Raabi. Setelah beliau wafat, pada tahun 2003 Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba. telah diangkat sebagai Khalifatul Masih Khaamis hingga sekarang.

Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud Khalifatullah telah tersebar luas di 146[1] negara di dunia. Dan mereka siang malam terus berusaha untuk mencapai kemajuan serta kemenangan bagi Islam. Dan Khalifah IV Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh. telah mencanangkan program untuk menterjemahkan Kitab Suci Al-Quran ke dalam 100 bahasa, dan telah selesai diterjemahkan ke dalam lebih dari 50[2] bahasa. Demikian juga telah selesai diterjemahkan kumpulan-kumpulan hadits-hadits pilihan ke dalam bahasa lebih dari 100 bahasa di dunia. Dan terjemahan kutipan-kutipan penting dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as. pun diterjemahkan ke dalam 100 bahasa.

Selain itu, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh. Khalifatul Masih Raabi telah berhasil mendirikan Muslim Television Ahmadiyya (MTA) yang sekarang tengah gencar-gencarnya mengumandangkan ajaran-ajaran Islam sejati ke seluruh dunia sebagai usaha untuk memperbaiki dunia serta untuk meraih kemajuan dan kemenangan Islam di seluruh dunia.

Sesuai dengan Al-Quran Majid dan Hadits, sekarang Khilafat Hadhrat Masih Mau’ud / Imam Mahdi as. telah berdiri dan berjalan hingga hari kiamat. Dan dengan perantaraannya Islam akan maju dan memperoleh kemenangan. Sekarang golongan Islam lainnya tidak dapat mendirikan Khilafat dan tidak dapat membuat seseorang menjadi Khalifah.

Oleh karena itu, kaum Muslimin yang benar-benar mencintai Al-Quran dan Hadits Rasulullah saw. dan menghendaki agar Allah serta Rasul-Nya meridhai mereka, dan juga menghendaki agar Islam memperoleh kemajuan serta kemenangan di seluruh dunia, maka wajib bagi mereka berkumpul di bawah naungan bendera Khilafat Hadhrat Masih Mau’ud as. yang pada hakikatnya merupakan Khilafat dari Junjungan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad Musthafa saw. juga adanya. Dan ini memang merupakan kehendak Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Alangkah baik dan mesranya kaum Muslimin agar kiranya berusaha mengambil pengertian dari Al-Quran dan Hadits.

Kami berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah serta nur yang sempurna kepada para penelaah. Dan semoga pula terpelihara dari segala jalan kesesatan serta kehancuran. Semoga Allah Ta’ala meridhoi kita semua. Aamin.

———————-

[1] Buku ini ditulis pada tahun 1995. Untuk itu, adapun data jumlah negara dimana Jemaat Ahmadiyah sudah berada di dalamnya pada tahun 2015 ini adalah sebanyak 207 Negara.
[2] Sekarang Al-Quran sudah diterjemahkan oleh Jemaat Ahmadiyah ke dalam lebih dari 70 bahasa di dunia.

[⇑]


(Visited 1,260 times, 1 visits today)