Apakah Doa itu?

Ada manusia yang ketika kalbunya sedang mencari sesuatu, ia dengan menadahkan tangannya ke muka akan memohon dengan segala kesungguhan dan tangis kepada sang Maha Sumber segala rahmat, ada pula yang lainnya yang karena merasa dirinya tak berdaya kemudian mencari pencerahan dari tempat lain melalui perenungan, di mana kondisi ini pun sebenarnya mirip dengan kondisi berdoa. Semua kebijaksanaan di dunia pada dasarnya bermula pada cara doa demikian itulah. Tidak ada pengetahuan atau wawasan yang mewujud tanpa cara tersebut.

Cara kita berpikir, perenungan kita dan pencarian kita atas segala hal yang tersembunyi, semuanya itu merupakan bagian dari doa. Perbedaannya hanyalah, doa dari mereka yang memiliki wawasan tergantung pada jenis wawasannya dan jika nuraninya mengenali Sang Maha Sumber segala rahmat maka ia akan menadahkan tangan kepada- Nya. Adapun doa dari mereka yang masih terhalang tirai, lebih merupakan upaya yang mewujud dalam perenungan dan pemikiran serta pencarian sarana. Mereka yang tidak mempunyai keterkaitan wawasan dengan Allah Swt dan bahkan mungkin tidak mempercayainya sama sekali, mereka ini pun mencari melalui perenungan dan pemikiran mengharapkan dari sumber yang tidak terlihat adanya jalan yang akan diinspirasikan ke dalam hati mereka guna menuju keberhasilan. Pemohon yang memiliki wawasan juga mengharapkan agar Tuhan membukakan jalan keberhasilan baginya, bedanya adalah ia mengenali Sang Maha Sumber segala rahmat.

Terkait:   Istighfar dan Tobat

Mereka yang tidak memiliki wawasan ke-Tuhanan juga mencari bantuan dari segala sisi dan merenungkan cara-cara mendapatkan pertolongan tersebut, tetapi yang memiliki wawasan sudah punya tujuan jelas menatap ke arah Sang Maha Sumber. Jika yang lainnya berjalan dalam kegelapan tanpa mengetahui apakah yang diinspirasikan ke dalam kalbu mereka itu berasal dari Tuhan atau bukan, sedangkan mereka yang berwawasan ke-Tuhanan memperoleh pencerahan langsung ke dalam kalbunya karena Tuhan memperlakukan kecemasan yang bersangkutan sebagai doa kepada-Nya. Hakikat kebijaksanaan dan pemahaman yang masuk ke dalam hati melalui perenungan juga datang dari Tuhan dan meskipun yang bersangkutan sendiri tidak menyadarinya, tetapi Allah Swt mengetahui bahwa ia memohon kepada-Nya. Pada akhirnya ia akan memperoleh dari Tuhan apa yang menjadi harapannya.

Metode mencari pencerahan demikian jika dilambari dengan wawasan dan pengenalan akan Sang Maha Penuntun maka doanya termasuk doa seorang yang memiliki pemahaman, sedangkan mereka yang mencari pencerahan dari sumber yang tidak jelas, semata hanya berdasarkan perenungan tanpa pengenalan sang Maha Pencerah maka doanya termasuk yang terselubung.

Terkait:   Istighfar Adalah Suatu Olah Ruhani

Doa dan Rencana

Hukum alam juga mengakui adanya keterkaitan antara perencanaan dan doa (harapan). Hal ini sering terlihat pada temperamen manusia saat mengalami kesulitan di mana ia segera merencana dan mencari jalan keluar, sama dengan kecenderungan alamiahnya untuk berdoa dan bersedekah.

Kaidah yang ada dalam batin manusia sejak awal telah membawanya agar tidak memisahkan doa dari rencana dan cara, bahkan mencari rencana tersebut melalui doa. Singkat kata, doa (harapan) dan perencanaan adalah dua tuntutan alamiah fitrat manusia sejak diciptakannya dulu, dan merupakan dua saudara yang mengabdi pada fitrat tersebut. Perencanaan merupakan urutan dalam proses berdoa, sedangkan doa menyulut minat kepada perencanaan. Kemaslahatan manusia sesungguhnya terdiri dari hal tersebut yaitu sebelum merencanakan sesuatu sewajarnya ia memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa agar berdasarkan nur dari sumber yang Maha Abadi itu terbuka perencanaan yang baik baginya.

(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 230-232, London, 1984).


Barangsiapa  memohon  kepada  Tuhan   di   saat   kesulitan dan kegalauan serta mencari kelepasan melalui pertolongan-Nya, akan memperoleh kepuasan dan kesejahteraan hakiki dari Allah Yang Maha Kuasa sepanjang ia meneruskan doanya sampai pada batasnya. Misalnya pun ia tidak mendapatkan tujuan dari doanya tersebut, ia akan diberikan bentuk kepuasan lain dari Tuhan dan tidak akan menjadi frustrasi karenanya. Disamping itu keimanannya menjadi bertambah kuat dan keyakinannya meningkat. Adapun mereka yang memohon bukan kepada Tuhan yang Maha Agung akan tetap saja buta sepanjang waktu dan mati pun dalam keadaan buta.

Terkait:   Doa Orang Yang Mulia Tidak Selalu Dikabulkan

Ia yang berdoa dengan kesungguhan jiwanya tidak akan pernah merasa frustrasi. Kemakmuran yang sulit diperoleh melalui kekayaan, kekuasaan dan kesehatan, tetapi melalui tangan Tuhan bisa diberikan dalam bentuk apa pun menurut kesukaan-Nya kepada mereka yang berdoa secara sempurna. Menurut perkenan Allah Swt seorang yang bertakwa yang tulus di tengah kesulitannya bisa memperoleh kenikmatan dari hasil doanya lebih dari yang bisa dinikmati seorang maharaja di atas tahtanya. Inilah keberhasilan hakiki yang dikaruniakan kepada mereka yang berdoa.

(Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 237, London, 1984).

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 188