Benarkah Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) melanggar gencatan senjata dalam perjanjian Hudaibiyah dan kemudian menaklukkan Mekah?

nabi muhammad perjanjian hudaibiyah melanggar?

Gencatan senjata itu dilanggar oleh sekutu Mekah. Orang-orang Mekah mengetahui lebih dahulu mengenai tertundanya pergerakan maju kaum Muslim tapi mereka tidak keluar untuk berperang. Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidaklah menyerang Mekah melainkan beliau masuk dengan cara damai dan kemudian memaafkan kejahatan-kejahatan yang pernah kaum Mekkah lakukan kepada beliau dan para sahabat.

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai 10 tahun – yang sangat menguntungkan orang-orang Mekah – ditandatangani pada tahun 628 antara Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan orang-orang Mekah. Nabi Muhammad mewakili umat Islam dan Pemerintah Madinah, Suhail bin Amr mewakili kaum musyrik dan pemerintah Mekah.

Selain memastikan perdamaian selama satu dekade, Perjanjian itu menyatakan: “Seorang pemuda, atau orang yang ayahnya masih hidup, jika ia pergi kepada Muhammad tanpa izin dari ayahnya atau wali, maka ia akan dikembalikan kepada ayahnya atau walinya. Tetapi jika ada seseorang yang pergi ke Quraish, ia tidak akan dikembalikan.1 Sungguh, ketentuan yang berat sebelah.

Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) belum juga menandatangani perjanjian ketika Abu Jandal, anak Suhail bin Amr mempersembahkan dirinya untuk Nabi Muhammad. Abu Jandal yang kemudian dipukuli dan dibelenggu karena menerima Islam – memohon kepada Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) memberinya amnesti dan perlindungan.2

Suhail bin Amr protes, ‘Muhammad, perjanjian antara kita telah diputuskan sebelum orang ini [putra dari Suhail bin Amr] datang kepada Anda.’ Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) menjawab, ‘Anda benar.’

Abu Jandal berteriak minta tolong, Nabi Muhammad menjawab, ‘Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan kendalikan dirimu, karena Allah akan memberikan bantuan dan sarana pelarian bagimu dan orang-orang yang tidak berdaya. Kami telah berdamai dengan mereka dan di antara kami dengan mereka juga telah menyebut nama Tuhan dalam perjanjian ini, sehingga kami tidak boleh berlaku curang kepada mereka.’ 3

Meskipun Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) belum menandatangani perjanjian, beliau menyadari bahwa beliau telah memberikan pernyataan untuk syarat-syarat yang dituliskan, dan beliau memegang teguh kata-kata beliau. Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak hanya berusaha untuk mendapatkan beberapa keuntungan taktis.

Ketika Abu Jandal melarikan diri dari Mekkah dan mendatangi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk kembali meminta perlindungan, Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) mengirimnya kembali ke Mekah sesuai dengan ketentuan Perjanjian ini.

Para Kritikus berkeberatan kepada sikap Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) yang pernah memberikan amnesti kepada wanita yang melarikan diri dari penganiayaan di Mekah dan mencari perlindungan ke Madinah.

Para kritikus yang berani memaksa perempuan untuk hidup di bawah rezim penganiayaan seharusnya mengevaluasi kembali akhlak mereka. Tetapi kalaupun kembali kepada hitam di atas putih, Perjanjian itu secara eksplisit menyatakan bahwa ‘setiap pemuda harus dikembalikan‘. Yang digunakan di sini adalah kata-kata ‘pemuda‘ bukan ‘orang‘, dan tidak ada klausul yang menjelaskan wanita. Oleh karena itu, Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sepenuhnya memiliki hak hukum untuk menawarkan amnesti kepada perempuan yang mencari perlindungan di Madinah dari tindakan penganiayaan yang ia alami di Mekah.

Hal ini tentu saja logis bahwa jika wanita melarikan diri dari Mekah dan secara sukarela mencari perlindungan kepada Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam), maka hal ini menunjukkan betapa Islam telah meninggikan hak dan posisi perempuan dibandingkan dengan kehidupan mereka sebelumnya.

Terkait:   Apakah Islam Mendukung Pergundikan?

Sekutu Mekkah Melanggar Perjanjian Hudaibiyah

Tapi kembali ke inti dari diskusi ini – para kritikus berusaha menyalahkan Nabi Muhammad karena melanggar Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian ini mencakup klausul gabungan yang relatif umum yaitu perjanjian perdamaian berlaku juga kepada aliansi masing-masing pihak. Dengan demikian, bila sekutu Muslim menyerang sekutu Mekah, maka itu akan dianggap sebagai pelanggaran perjanjian- dan begitu pula sebaliknya.

Belum dua tahun setelah Perjanjian ditandatangani, sekutu Mekah, Bani Bakr, menyerang sekutu Muslim, Khuza’a, dan membunuh beberapa lelaki mereka. 4

Setelah mengetahui dari pihak Khuza’a mengirim perwakilan pada Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk melaporkan pelanggaran tersebut, orang-orang Mekah kemudian mengirim Abu Sufyan sebagai seorang utusan untuk meyakinkan Nabi Muhammad supaya memperbaharui Perjanjian. 5

Nabi Muhammad menolak memperbarui perjanjian dengan alasan yang jelas – menyetujui perjanjian yang tidak adil adalah satu hal, tapi melibatkan diri pada perjanjian lainnya yang tidak adil dalam menghadapi pelanggaran yang merugikan nyawa manusia adalah melebihi ketidakadilan.

Fatah Mekkah Yang Penuh Kedamaian

Pada hari Nabi Muhammad kembali ke Mekah dengan 10.000 tentara, kota itu berada di genggaman tangannya, kesempatan untuk melakukan pembalasan pada setiap orang atas semua kesalahan yang telah mereka lakukan pada beliau, tetapi pada saat itu, sosok yang dituduh sebagai penghasut perang justru menawarkan perdamaian.

Washington Irving, yang bukan seorang pembela Islam terpaksa mengakui:

“Matahari baru saja terbit ketika ia memasuki gerbang kota kelahirannya, dengan kemuliaan seorang penakluk, tetapi memiliki pakaian dan kerendahan hati seorang peziarah. Ia masuk, mengulangi ayat-ayat Al-Quran, yang katanya telah diwahyukan kepada beliau di Madinah, yang merupakan nubuatan tentang peristiwa itu. Ia menang dalam semangat seorang religius yang teguh bukan seorang prajurit.”6

Stanley Lane Poole juga menambahkan:

“Hari kemenangan terbesar Muhammad atas musuh-musuhnya juga merupakan hari kemenangan termegah atas dirinya sendiri. Ia dengan lantang memaafkan orang-orang Quraisy atas semua tahun-tahun yang penuh nestapa dan cemoohan kejam yang telah mereka timpakan kepada beliau, dan memberikan amnesti kepada seluruh penduduk Mekkah. 7

Silakan temukan padanan yang serupa di mana seorang pria dipukuli berulang kali, diasingkan dari tanah kelahirannya, diburu untuk dibunuh, upaya pembunuhan terhadapnya tidak kurang dari lima kesempatan, anggota keluarganya dimutilasi dan jasad mereka benar-benar dimusnahkan, sahabat-sahabat beliau diseret di jalan-jalan. Perjanjian damai yang tidak adil yang beliau tandatangani secara secara kejam dilanggar – dan sebagai tanggapannya, pada kesempatan kemenangannya setelah melewati dua dekade penganiayaan, sebagai raja sejati — beliau menawarkan amnesti kepada semua orang yang menganiaya. Beliau tidak menuntut ganti rugi, ataupun permintaan maaf, tidak juga ada perbudakan, yang ada adalah pengampunan.

Tidak ada contoh seperti itu selain Nabi Muhammad dan kami menantang setiap kritikus Islam untuk membuktikan sebaliknya.

Bahkan, Nabi Muhammad secara khusus meminta orang-orang Mekah:

“Hukuman apa yang harus diberikan kepada kalian atas segala kekejaman yang kalian lakukan kepada orang-orang yang satu-satunya kesalahan mereka adalah mengajak untuk menyembah satu Tuhan?” Jawab orang Mekah,‘Kami mengharapkan Engkau memperlakukan kami seperti Yusuf memperlakukan saudara-saudaranya yang bersalah.’ Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tersenyum dan menjawab, “Tiada kesalahan dibebankan pada kalian pada hari ini. Kalian bebas pergi.”8

Sebagai penguasa Arab sejati Nabi Muhammad dan pasukan beliau “tanpa ampun” memaafkan semua penyiksa mereka dan membebaskannya.

Terkait:   Khitan Perempuan, Apakah dianjurkan oleh Nabi Muhammad?

Nabi Muhammad, Sosok yang Selalu Jujur

Setelah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak melanggar Perjanjian, dan beliau menunjukkan kasih sayang yang luar biasa saat kembali ke Mekkah, kami terpaksa menambahkan sebuah kesaksian Abu Sufyan mengenai Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam). Bagaimanapun, Abu Sufyan adalah kepala suku Mekah terbesar dan pemimpin pasukan mereka. Dengan demikian, setiap pembaca yang berpikiran adil akan setuju bahwa kesaksian Abu Sufyan – seorang pemimpin Mekah yang telah menganiaya dan penentang keras Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) -memiliki bobot yang sangat besar.

Sepanjang kenabiannya, Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) mengirimkan surat ke berbagai raja-raja dan kaisar, beliau mengajak mereka untuk menerima Islam. Secara kebetulan Abu Sufyan sedang berada di Ghaza, dekat Yerusalem, ketika Kaisar Heraclius menerima surat Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam). Peristiwa ini terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, tapi sebelum Mekah melanggar nya. Caesar mengadakan pengadilan agung dan mengundang Abu Sufyan untuk datang. Ketika Abu Sufyan datang, Caesar menanyainya tentang Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam): 9

Heraclius: Keluarga seperti apa yang dimiliki oleh pendakwah kenabian ini?

Abu Sufyan: Yang berbudi luhur

Heraclius: Apakah ada orang lain dalam keluarganya yang mengaku nabi?

Abu Sufyan: Tidak ada

Heraclius: Apakah ada dari keluarganya yang menjadi seorang raja?

Abu Sufyan: Tidak ada

Heraclius: Apakah orang-orang yang telah menerima agama ini miskin atau berpengaruh?

Abu Sufyan: Mereka adalah orang-orang miskin.

Heraclius: Apakah pengikutnya bertambah atau berkurang?

Abu Sufyan: Mereka bertambah.

Heraclius: Apakah Anda menjumpai ketidakjujuran pada dirinya?

Abu Sufyan: Tidak pernah

Heraclius: Apakah ia pernah melanggar janji atau kesepakatan?

Abu Sufyan: Sejauh ini dia tidak pernah melakukannya. Tetapi ia terlihat memegang teguh perjanjian perdamaian yang baru saja dibuat.

Heraclius: Apakah Anda pernah berperang melawannya?

Abu Sufyan: Ya.

Heraclius: Apa hasil dari peperangan tersebut?

Abu Sufyan: Kadang-kadang kami menang dan kadang-kadang ia berhasil.

Heraclius: Apa yang dia ajarkan?

Abu Sufyan: Dia mengajarkan, ‘Sembahlah Satu Tuhan – Allah. Tidak ada sekutu bagi Allah. Melaksanakan ibadah, menjadi orang yang bertakwa, berkata benar, memperlakukan kerabat dengan baik.

Heraclius: Apakah ada orang lain yang menyatakan dakwah seperti itu sebelum dia kepada rakyatnya?

Abu Sufyan: Tidak ada

Kemudian Abu Sufyan berseru, “Demi Allah! Sepanjang percakapan, kecuali pernyataan [mengenai perjanjian baru], saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengatakan apapun terhadap Muhammad.” Diskusi berlanjut dan Heraclius kemudian menjelaskan mengapa ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Heraclius: Ketika saya bertanya tentang garis keturunan dari pengaku Nabi itu, Anda menyatakan bahwa ia memiliki keluarga yang berbudi luhur. Seorang nabi selalu berasal dari keluarga yang terhormat.

Aku bertanya apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja? Anda menjawab, tidak. Dari ini saya menyimpulkan bahwa seandainya adalah dari nenek moyangnya yang menjadi raja, ia mungkin berkeinginan mendapatkan kembali kerajaan leluhurnya.

Terkait:   Apakah Umat Islam diperintahkan Memerangi umat Yahudi?

Aku bertanya tentang pengikutnya, apakah mereka kaya dan berkuasa? Anda menjawab mereka lemah dan miskin. Pada awalnya, selalu orang miskin dan lemah yang menerima para nabi.

Saya bertanya kepada Anda, Apakah anda pernah menyalahkan dia karena berbohong sebelum ia mengaku sebagai nabi? Anda mengatakan, “Tidak”. Aku yakin bahwa orang yang tidak pernah berbohong kepada orang lain, bagaimana mungkin ia akan berbohong tentang Tuhan?

Kemudian saya bertanya, Apakah ada pengikutnya murtad setelah menerima Islam karena tidak menyukai Islam? Anda berkata, “Tidak”. Ini adalah peristiwa yang menunjukkan keimanan yang benar. Ketika seseorang menerima sebuah keyakinan dengan kejernihan pikiran, sangat sulit baginya untuk berpaling dari iman itu.

Aku bertanya, apakah jumlah pengikutnya meningkat atau menurun? Anda mengatakan bahwa mereka meningkat dalam jumlah dan dalam ketabahan. Hal ini selalu terjadi pada agama yang benar.

Saya bertanya kepada Anda, Apakah Anda pernah berperang melawannya? Anda mengatakan, kami telah berperang beberapa kali. Kadang-kadang mereka unggul dalam pertempuran dan kadang-kadang kami yang unggul. Kadang-kadang kami berhasil sementara di waktu yang lain mereka berhasil. Ini adalah apa yang selalu dihadapai para utusan Allah. Pada awalnya, mereka melalui banyak cobaan tapi akhirnya mereka menang.

Aku bertanya kepada Anda, Apakah dia pernah melanggar kesepakatan atau berkhianat? Anda berkata, “Tidak” Itulah derajat ketinggian para nabi. Mereka tidak pernah melanggar kesepakatan.

Lalu saya bertanya, apakah ada dari umat Anda yang mengaku sebagai nabi sebelum dia? Anda mengatakan “Tidak”. Dari hal ini saya menyimpulkan bahwa karena belum ada seorang nabi di kaumnya maka ia tidak sedang meniru siapapun.

Abu Sufyan kemudian melanjutkan, Heraclius bertanya padanya, “Apa yang [Muhammad] perintahkan padamu?” Aku mengatakan “Dia memerintahkan kami untuk melaksanakan shalat, membayar zakat, memperkuat ikatan kekerabatan, berkata benar, menjalani kesalehan dan kesucian.” Mendengar ini Heraclius mengatakan ‘Jika semua yang Anda katakan adalah benar, maka pasti ia adalah seorang nabi. Saya mengharapkan kedatangan seorang nabi. Namun, saya tidak tahu bahwa nabi akan diutus dari antara kaum Anda. Jika situasinya memungkinkan, saya pasti akan pergi menemui nabi ini. Jika saya mengunjunginya saya akan mencuci kakinya. Kerajaan nabi ini akan mencapai tanah tempat aku berdiri.

Heraclius kemudian meminta surat Nabi Muhammad dan membacanya sebelum pengadilannya.

Abu Sufyan, pemimpin dan jendral kaum Mekah, mau tidak mau mengakui bahwa Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah orang yang benar, jujur, adil dan mulia. Kaisar Heraclius tidak bisa tidak mengakui Nabi Muhammad itu memang seorang nabi Allah yang benar, bermartabat dan terhormat. Ini adalah kisah nyata kehidupan dan kemenangan Nabi Muhammad di Mekah.

Singkatnya, Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak melanggar perjanjian, tetapi menjunjung keadilan, ia memperagakan kasih sayang yang belum pernah terjadi sebelumnya saat ia kembali ke Mekkah. Inilah peristiwa yang bahkan diakui oleh musuh-musuhnya, dan juga diakui oleh pada cendikiawan non-Muslim sampai saat ini.

Sumber : Alislam.org – Did Muhammad break a truce to mercilessly conquer Mecca?
Penerjemah: Muflihah Firdaus Ilyas

References:

[1] Geert Wilders, Marked for Death: Islam’s War Against the West and Me 39 (2012).

[2] Id. at 88.

1Muslim Chap. 33, Book 19, #4404.

2Alfred Guillaume, The Life of Muhammad – A Translation of Ishaq’s Sirat Rasul Allah, 505 (Oxford University Press, 1955).

3Id. at 505.

4Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Life of Muhammad233-34 (Islam Int’l Publications Ltd 2005).

5Id. at 234.

6Washington Irving, Mahomet and His Successors, Vol. 1, 253 (New York: G.P. Putman’s Sons, 1868).

7Stanley Lane-Poole, Selections from the Quran and Hadith, 28 (Lahore: Sind Sagar Academy, n.d.).

8Ibn Hisham, Tuwaf al-Rusul Bi al-Bait wa Dukhulih Al-Haram. Also Ibn Kathir, Ibn Sa‘d, Zurqani, Hilbiya under Victory of Mecca.

9Bukhari, Vol. 4, Book 52, #191.