Benarkah Nabi Muhammad mengajarkan Taqiyah atau menyembunyikan keimanan dalam kondisi tertentu dalam Menyebarkan Islam?

nabi muhammad mengajarkan taqiyah?

Tidak. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perilaku berbohong dan berkhianat, sebaliknya beliau memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada kejujuran sekalipun hal itu dapat merugikan diri sendiri. Islam tidak mendukung orang-orang yang berbohong, sebaliknya Islam menjunjung tinggi kebenaran sebagai suatu kebajikan yang mutlak.

Konsep Taqiyah atau berbohong dalam situasi-situasi tertentu tidak memiliki dasar dalam Islam. Sebelum membicarakan lebih lanjut konsep taqiyah ini, kami ingin menarik perhatian pembaca pada tiga hal.

Pertama, argumentasi dari konsep Taqiyah adalah sebuah argumentasi yang benar-benar tidak bertanggungjawab. Konsep ini pada dasarnya berbunyi, “Anda salah, dan bahkan kalaupun Anda bisa membuktikan Anda benar, Anda berbohong, oleh karena itu Anda salah.” Dengan kata lain, argumentasi ini tidak membuktikan apapun terhadap Islam. Dengan tanpa dasar konsep ini seolah-olah sudah memberikan argumentasi tentang segala hal terhadap Islam.

Seperti sebuah pertandingan olahraga yang tak jujur, yang pemenangnya sudah ditetapkan sebelum pertandingannya dimulai. Kami melihat taktik ini mengerikan dalam kehidupan praktis, dan setiap pencari kebenaran yang sejati harus juga melihat bahwa taktik ini mengerikan ketika mendiskusikan hal-hal intelektual.

Kedua, perlu diingat bahwa bahkan musuh-musuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling sengit seperti Abu Jahl1, Abu Sufyan2, Umaiyya dan istri3, semua mengakui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak pernah berbohong. Malah, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali mengumumkan kenabiannya pada kaum Mekkah, beliau meminta mereka untuk mengakui kejujuran beliau, yang mana hal itu diakui oleh seluruh warga.4

Kecintaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada kejujuran begitu kuat sehingga beliau hanya membolehkan umatnya untuk bercanda jika tidak ada unsur kedustaan dalam candaannya itu.5

Perhatikan juga bahwa Al-Qur’an menganggap bahwa berbicara dengan jujur, bukan berbohong, merupakan kewajiban agama6. Al-Qur’an juga menekankan untuk memperhatikan kejujuran dan keadilan dalam setiap keadaan, bahkan ketika bersaksi terhadap diri sendiri.7

Dalam satu kejadian yang cukup tersohor, kaum Mekkah menuntut untuk mengetahui apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang yang menentang berhala-berhala mereka. Di bawah ancaman kematian semacam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap berbicara jujur dan tidak menutup-nutupi sedikitpun. Ketika berada dalam kondisi yang tepat untuk dapat menerapkan taqiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru melakukan hal yang sebaliknya yaitu berkata benar.

Teladan dari beliau dalam menghadapi bahaya yang mengancam nyawa dan testimoni dari musuh-musuh beliau seharusnya cukup bagi siapapun yang berpikiran adil untuk mengakui bahwa kebohongan tak memiliki tempat dalam Islam.

Terkait:   Apakah Islam Mendukung Pergundikan?

Ketiga, kata taqiyah bahkan satupun tidak terdapat di dalam Al-Qur’an ataupun hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana Islam bisa dimintai pertanggung jawaban atas sebuah konsep yang bahkan tidak ada dalam yurisprudensi Islam. Dalam konteks yang penting ini, kami tegas menolak tuduhan-tuduhan dibuat oleh para kritikus Islam untuk mendukung doktrin taqiyah.

Pertama, para kritikus sering mengutip Al-Qur’an Surah An-Nahl [16] ayat 107. Ayat ini berbunyi:

“Barangsiapa kafir kepada Allah setelah ia beriman ia mendapat kemurkaan Allah, kecuali orang yang telah dipaksa untuk murtad sedang hatinya tetap tenteram dalam keimanan ia tidak berdosa, akan tetapi orang yang membukakan dadanya untuk kekafiran, maka atas merekalah kemurkaan dari Allah dan bagi mereka ditakdirkan azab yang besar.”

Kata yang krusial adalah ‘ukriha’ (dipaksa). Akar katanya ‘kariha‘ muncul 40 kali dalam Al-Qur’an. Kata ini memiliki artinya adalah kebencian terhadap sesuatu, kesulitan, atau paksaan.

Ayat selanjutnya8 menjelaskan orang yang “dipaksa” sebagai individu yang, karena keyakinan mereka, terpaksa berhijrah dari kampung halaman mereka, kemudian setelah cobaan dan penganiayaan dapat menarik kembali keimanan mereka bila mereka tak mampu menanggung penganiayaan berikutnya. Perkataan ini, yaitu tindakan seseorang yang tidak mau mengakui keimanannya secara terbuka dan menyembunyikannya untuk diri sendiri lantaran takut dapat mengancam nyawanya, adalah kebohongan semata seakan berasal dari Al-Qur’an – yaitu menarik kembali keyakinan di bawah paksaan dan penderitaan yang esktrim.

Padahal sekalipun umat Islam telah dihadapkan pada kondisi yang sangat genting, mereka tetap tidak menyembunyikan keimanan mereka, dan senantiasa menanggung berbagai penganiayaan berat yang mereka hadapi selama dua belas tahun. Jika taqiyah adalah perintah Islam, maka periode Mekah seharusnya menjadi waktu yang paling baik untuk berbuat taqiyah.

Penting juga kita mengaitkan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya yang menunjukkan betapa tegasnya Islam mengecam kebohongan.

Difirmankan di dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kepalsuan, dan jangan pula kamu menyembunyikan kebenaran itu padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 43)

“Kebatilan tidak dapat mendekatinya baik dari depannya maupun dari belakangnya. Diturunkannya dari Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji.” (QS Az-Zukhruf [41]: 43)

Demikian juga difirmankan:

“Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang teguh dalam melaksanakan keadilan dan jadilah saksi karena Allah, walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat. Baik ia kaya atau miskin, tetapi Allah lebih memperhatikan kepada keduanya, karena itu janganlah kamu menuruti hawa nafsu agar kamu dapat berlaku adil. Dan jika kmu menyembunyikan kebenaran atau menghindarkan diri maka sesungguhnya Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS An-Nisa [4]: 136)

Jadi, ayat-ayat ini, dan beberapa ayat lainnya dengan tegas menunjukkan bahwa berbohong tidak memiliki tempat dalam Islam.

Terkait:   Apakah Umat Islam diperintahkan Memerangi umat Yahudi?

Para kritikus juga mengutip hadits berikut:

Kami pernah bersama Abu Musa Al-Ash’ari dan sementara kami sedang menjalin hubungan persaudaraan dengan suku Jarm ini. Abu Musa dijamu dengan jamuan yang berisi daging ayam. Di antara kaum tersebut, terdapat seorang pria yang berwajah merah yang tidak mau mendekat, lalu Abu Musa berkata, ‘Mendekatlah, karena aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakannya.’ Laki-laki itu menjawab, ‘Sesungguhnya saya pernah melihat beliau memakan sesuatu sehingga aku merasa jijik dengannya lalu aku bersumpah untuk tidak akan memakannya.’ Abu Musa berkata, ‘Kemarilah saya akan memberitahukan kepadamu atau menceritakan kepadamu, saya pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama sekelompk orang Al-Ash’ariyin, ketika itu kami mendapati beliau sedang marah sambil membagi unta sedekah, lalu kami meminta tunggangan tetapi beliau bersumpah beliau tidak akan memberikan kami tunggangan satupun. Beliau menambahkan, ‘Saya tidak memiliki sesuatu untuk memberikan tunggangan kepada kalian semua.’ Selang beberapa saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diberi beberapa hasil ghanimah, kemudian beliau bersabda: ‘Ke manakah orang-orang Ash’ariyin?’ Kemudian beliau memberi kami lima unta putih dengan punuk besar. Kami tinggal sebentar (setelah kami agak menjauh), dan kemudian saya berkata pada kawan-kawan saya, ‘Sepertinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah lupa pada sumpahnya tadi, Demi Allah, sekiranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar lupa dengan sumpah yang pernah diucapkan tadi, niscaya kita tidak akan beruntung selama-lamanya.’ Lalu kami kembali menemui Rasulullah dan berkata, ‘Wahai, Rasulullah, sesungguhnya Kami meminta tunggangan pada engkau, tetapi engkau bersumpah bahwa engkau tidak akan memberi kami tunggangan satupun; kami menyangka bahwa engkau telah lupa dengan sumpah yang telah engkau ucapkan.’ Beliau bersabda: ‘Memang, sesungguhnya bukan saya yang menanggung tunggangan, tetapi Allah-lah yang telah memberikan kalian tunggangan. Demi Allah, sesugguhnya saya, in syaa Allah, tidak akan mengucapkan suatu sumpah, bila kemudian saya melihat sesuatu yang lebih baik dari sumpahku itu, maka saya akan melaksanakan yang lebih baik dari sumpahku, dengan menebus sumpahku.’ (HR Bukhari)

Pertama, berkaitan dengan sumpah di pengadilan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika seseorang bersumpah palsu di dekat mimbarku, dia akan masuk neraka.”9 Lagi, beliau bersabda: “Maukah aku sampaikan padamu tentang dosa yang sangat besar? Yaitu ada tiga perkara: menyekutukan sesuatu dengan Allah, tidak mematuhi orang tua, dan memberikan kesaksian palsu atau berbohong.10 Al-Qur’an juga telah menguatkan pernyataan-pernyataan ini.11

Terkait:   Kecintaan Rasulullah kepada Allah

Kedua, terdapat perbedaan substantif antara sumpah atas suatu komitmen dan janji biasa yang diucapkan sehari-hari. Hadits di atas jelas merujuk merujuk pada kondisi terakhir. Walaupun sumpah biasa tidak bisa dipatahkan, sumpah yang lebih tinggi bisa menggantikannya. Bahkan Abu Sufyan, musuh besar Rasulullah pada saat itu, tak ada menceritakan kepada Heraclius terkait sumpah yang pernah dilanggar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam hadits ini, Abu Musa berusaha meyakinkan seorang pria yang telah bersumpah untuk tidak pernah makan ayam yang dihidangkan kepadanya. Pentingnya menjaga sumpah dalam keadaaan apapun dan takut untuk melanggarnya begitu tertanam di dalam hati umat Islam sehingga laki-laki tersebut menolak untuk memakan ayam tersebut. Tindakan ini justru semakin menegaskan untuk berpegang teguh pada kebenaran yang telah Islam tanamkan kepada para pengikutnya.

Abu Musa mengutip satu contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada satu titik berjanji untuk tidak memberikan kepada rombongan Al-Asy’ariyyin, tetapi ketika keadaan berubah dan beliau mendapatkan lebih banyak untuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memberikan beberapa unta pada mereka.

Terakhir, sangat penting untuk mengetahui apa alasan yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengubah keputusannya – beliau menemukan “sesuatu yang lebih baik”. Lebih baik bagi siapa? Tentu saja bukan bagi diri beliau sendiri. Beliau menemukan cara yang dapat membantu orang lain lebih efektif.

Ketika memberikan unta kepada kaum Al-Ash’ariyin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melanggar hak siapapun, tidak melakukan ketidakadilan, dan menipu siapapun. Sebaliknya beliau mengubah pendiriannya karena beliau menyadari bahwa perubahan akan membuat beliau menjadi lebih efektif dalam membantu mereka sedang membutuhkan. Tindakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbeda dengan seseorang yang berjanji memberikan $1 untuk beramal, kemudian dia menerima dana yang tak terduga, dan karenanya ia meningkatkan janjinya, menjadi $100. Bisakah orang semacam itu dikatakan pembohong? Tentu saja tidak.

Sumber: Alislam.org
Penerjemah: Lisa Aviatun Nahar

1 Dala’il al-Nabuwwah, Baihaqi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyya, Beirut, Lebanon

2 Bukhari, Vol. 4, Book 52, #191

3 Bukhari, Vol. 4, Book 56, #826.

4 Muslim, Book 1, #406.

5 Sunan Tirmidhi, Book of Righteousness.

6 Qur’an 2:9-21; 4:70, 136; 5:9; 9:119; 33:36; 61:3-4.

7 Qur’an 4:136.

8 Qur’an 16:111.

9 Muwatta, Book 8.

10Muslim, Book 1.

11 Qur’an 3:77-78; 16:92-93.