Keadilan – Prasyarat Tercapainya Perdamaian Dunia

Pidato Utama Peace Symposium Canada 2016 oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba)

Perselisihan dapat saja terjadi kapanpun, tetapi kuncinya adalah selesaikanlah pertikaian tersebut dengan seadil-adilnya, bukannya mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain. Untuk mengakhiri konflik maka syaratnya adalah adil. Jika seseorang tidak adil dan beradab maka permasalahan kita akan semakin meningkat.

mirza masroor ahmad, keadilan perdamaian dunia

Para hadirin yang terhormat, Assalamualaikum warohmatullahi wa barokaatuhu

Pertama-tama dalam kesempatan kali ini saya ingin menyampaikan terima kasih kepada yang telah berkenan menerima undangan kami.

Jamaah Ahmadiyah adalah bagian dari Islam yang pendiriannya berdasarkan nubuatan Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) lebih dari 1400 tahun yang lalu. Dalam hal ini, Jamaah Islam Ahmadiyah begitu unik karena meskipun Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) menubuatkan bahwa umat Islam akan terpecah belah, beliau tidak menyebut sekte lain secara langsung. Dalam nubuatan itu, Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) menyampaikan suatu kondisi ketika umat Islam akan melupakan ajaran Islam yang benar dan tindakan mereka tidak lagi sesuai dengan ajaran agama mereka. Dan bersamaan dengan itu, Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) juga memberi kabar suka bahwa di saat terjadinya kemerosotan rohani seperti itu, Allah taala akan mengutus seseorang sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi yang Dijanjikan. Ia akan mencerahkan seluruh dunia dengan ajaran Islam yang benar dan penuh kedamaian.

Kami, sebagai Muslim Ahmadi meyakini bahwa pendiri Jamaah kami merupakan Al-Masih dan Al-Mahdi yang dijanjikan tersebut, yang diutus sesuai dengan nubuatan Rasulullah saw. Selama hidupnya Masih Mau’ud as menyampaikan ajaran Islam yang hakiki dan mengabarkan kepada seluruh dunia tentang gambaran Islam sebenarnya. Oleh karena itu poin pertama yang ingin saya tekankan adalah janganlah menganggap Jamaah Islam Ahmadiyah sebagai aliran Islam ‘liberal’ atau reformis, tetapi kami adalah adalah kelompok Islam yang mengikuti ajaran Islam sejati seperti yang diajarkan Al-Quran Karim dan Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam).

Ajaran mulia ini dapat diringkas ke dalam dua baris kata yaitu mencintai dan memenuhi hak-hak Allah serta mencintai dan memenuhi hak-hak manusia. Karena itulah umat Islam diajarkan supaya menunjukkan rasa cinta, kasih sayang dan kebaikan kepada semua ciptaan Tuhan, khususnya umat manusia Allah anggap sebagai makhluk terbaik.

Benar sekali bahwa kami adalah umat Islam yang cinta damai yang berupaya membangun jembatan cinta dan harapan antar agama dan kelompok yang berbeda. Namun hal ini bukan karena kami menyimpang dari Islam atau memodernisasikannya ke dalam bentuk atau format apapun, tetapi sebaliknya, karena kami mengikuti ajaran Islam yang hakiki.

Islam Bersifat Universal

Sebagaimana apa yang baru saja saya katakan, bahwa inti ajaran Islam berpusat pada pemenuhan hak-hak Allah dan hak-hak manusia, maka sekarang saya akan menjelaskan bagaimana Al-Quran mengajarkan umat Islam untuk memenuhi dua tujuan dasar tersebut.

Ayat paling awal dari surah pertama Al-Quran dimulai dengan pernyataan:

بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ
“Dengan nama Allah yang Maha Pemurah Maha Penyayang”

Kemudian dalam ayat selanjutnya dikatakan bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam (robbul ‘aalamiin).

Kemudian dalam ayat ketiga sekali lagi diulang bahwa Allah adalah Maha Pemurah Maha Penyayang.

Jadi dalam ayat-ayat awal dalam Al-Qur’an terlihat jelas bahwa bukan hanya umat Islam yang mendapatkan karunia dari Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, tetapi sebagai Tuhan bagi seluruh umat manusia, Dia tidak hanya menjadi Pemelihara dan Pemberi bagi umat Islam saja, namun juga untuk umat Kristen, Yahudi, Hindu, Sikh dan semua orang dari semua agama dan keyakinan. Bahkan Dia juga Pemberi bagi orang-orang yang menyangkal keberadaan Tuhan.

Oleh karena itu sesuai dengan hukum alam, Allah telah menyediakan sarana dan segala persediaan bagi kelangsungan hidup seluruh umat manusia. Ini adalah pelajaran umum bagi umat Islam yang menunjukkan bahwa mereka tidak dapat mengklaim bahwa Allah Ta’ala itu hanya untuk mereka, tetapi Allah adalah untuk semua umat manusia dan seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Selanjutnya di dalam Al-Quran Surah 21 ayat 108 Allah Ta’ala telah menetapkan Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) sebagai ‘rahmat bagi seluruh umat manusia’ (rahmatan lil alamiin).

وَما أَرسَلناكَ إِلّا رَحمَةً لِلعالَمينَ

Beliau diutus oleh Allah taala ke dunia ini bukan hanya menjadi sumber cinta, kasih sayang dan belas kasih bagi umat Islam saja, tetapi juga bagi semua orang dari berbagai agama dan kepercayaan.

Singkatnya ayat pengantar dari Al-Quran tersebut membuktikan bahwa tidak ada satu bangsa atau siapapun yang dapat mengklaim segala bentuk monopoli terhadap Allah Ta’ala, karena Dia adalah Tuhan untuk seluruh umat manusia. Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengasih Maha Penyayang dan Dia juga telah mengutus Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) sebagai mata air kedamaian, kasih sayang dan cinta bagi semua orang, tanpa membeda-bedakan kasta, keyakinan dan warna kulit.

Ketika hal ini sudah menjadi perinsip dasar Islam, maka bagaimana mungkin seorang mukmin sejati akan terlibat dalam tindakan-tindakan penganiyayaan dan kekejaman terhadap sesama makhluk Tuhan? Jadi tidak mungkin bagi seorang Muslim yang saleh memiliki itikad untuk menyakiti atau memiliki niatan buruk kepada orang lain. Melalui ajaran inilah Jamaah Muslim Ahmadiyah memproklamirkan motto ‘love for all’ ke seluruh dunia. Melalui ajaran-ajaran inilah para Ahmadi tidak menyimpan permusuhan atau kebencian kepada siapapun.

Sebenarnya Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) telah meletakan suatu pondasi perdamaian yang terkandung dalam satu kalimat. Kalimat yang sederhana tetapi luar biasa. Beliau saw bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

[Riwayat Bukhori dan Muslim]

Pertanyaannya adalah apa yang kita inginkan bagi kehidupan kita? Apakah kita menginginkan penderitaan dan kesengsaraan? Apakah kita menginginkan ketidakadilan? Apakah kita ingin diperlakukan dengan cara yang kejam dan tidak berperasaan? Apakah kita berkeinginan terperosok dalam kemiskinan dan tidur dalam keadaan lapar setiap malam? Apakah mau anak-anak kita memiliki kesehatan yang buruk, tidak berpendidikan dan berada di tempat yang berbahaya? Tentu saja tidak ada orang yang normal yang menginginkan hal-hal tersebut.

Terkait:   Prinsip Emas untuk Perdamaian Dunia

Oleh karena itu sebagai seorang Muslim, kita tidak boleh mencari kesejahteraan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang lain. Kita harus membuka hati kita untuk kemanusiaan, kita harus peduli pada penderitaan orang lain seakan-akan hal itu menjadi penderitaan dan kesengsaraan kita sendiri. Inilah tugas seorang muslim untuk memenuhi hak-hak orang lain terlepas dari latar belakang dan keyakinan mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka, peduli dan menolong mereka di saat mereka membutuhkan.

Keadilan dapat Mengakhiri Konflik

Tentu saja terkadang timbul situasi yang menyebabkan orang-orang berselisih dan bertengkar. Sifat alami manusia memang seperti itu sehingga tidak mungkin mereka akan sepakat dalam segala hal. Jadi perselisihan dapat saja terjadi kapanpun, tetapi kuncinya adalah selesaikanlah pertikaian tersebut dengan seadil-adilnya, bukannya mengutamakan kepentingan pribadi diatas kepentingan orang lain.

Untuk mengakhiri konflik maka syaratnya adalah adil. Jika seseorang tidak adil dan beradab maka permasalahan kita akan semakin meningkat. Alih-alih meraih kedamaian malah meningkatkan kebencian dan kenistaan. Oleh Karena itu di banyak tempat dalam Al-Quran Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam berlaku adil dan memperlakukan orang lain dengan sebaik-baiknya.

Dalam Al-Quran Surah An-Nisa [4]: 136 Allah telah menetapkan standar keadilan tertinggi, yang mengharuskan seorang muslim untuk melenyapkan segala hasrat pribadi atau hubungan pribadi mereka dan menjadi saksi demi Allah Ta’ala.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كونوا قَوّامينَ بِالقِسطِ شُهَداءَ لِلَّهِ وَلَو عَلىٰ أَنفُسِكُم أَوِ الوالِدَينِ وَالأَقرَبينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang menjadi penegak keadilan dan jadilah saksi karena Allah walaupun bertentangan dengan dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabat.

Ayat ini memerintahkan bahwa seseorang harus mau bersaksi meski bertentangan dengan dirinya sendiri, orang tuanya dan orang-orang yang dicintainya demi tegaknya keadilan. Islam mengajarkan bahwa umat Islam harus senantiasa mengutamakan kejujuran, oleh sebab itu seseorang tidak boleh menyembunyikan fakta dan memberikan kesaksian palsu. Seseorang tidak boleh diperintah oleh hawa nafsunya sendiri karena hal tersebut dapat menjurus kepada syak–wasyangka dan menjauhkan seseorang dari keadilan dan kebenaran. Prinsip ini adalah sarana untuk memecahkan segala permasalahan dunia dan dan mengubah segala bentuk kebencian menjadi perdamaian, toleransi dan saling menghormati.

Selanjutnya dalam Al-Quran Surah An-Nahl [16]: 91 Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk tidak hanya berkata benar dan berbuat adil, tetapi juga memberikan kebaikan kepada orang lain.

إِنَّ اللَّهَ يَأمُرُ بِالعَدلِ وَالإِحسانِ وَإيتاءِ ذِي القُربىٰ

Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat

Tentu ini bukan batas ajaran Al-Quran, karena ketika seseorang membantu orang lain masih terdapat kemungkinan orang tersebut mengharapkan imbalan atau mengingatkan orang yang dibantu tersebut akan kebaikan yang sudah diberikannya. Oleh karena itu Al-Quran menyatakan bahwa seseorang harus menganggap seperti kerabatnya sendiri. Maksudnya adalah seorang muslim harus memperlakukan orang lain seolah-olah ia memperlakukan anggota keluarga terdekat yang ia cintai. Jadi seseorang harus memberikan kebaikan dan kasih sayang dan melayani orang lain tanpa mengharapkan tanpa mengharapkan imbalan apapun. Selayaknya seorang ibu yang tanpa pamrih melayani dan memelihara anaknya tanpa mengharapkan balasan dan imbalan apapun. Ini adalah ruh kasih sayang dan kebajikan yang dianjurkan dan diajarkan agama Islam yang menyeru umat Islam untuk membuka hati mereka demi kebaikan umat manusia.

Jika kita bertindak berdasarkan prinsip ini maka ia akan merobohkan dinding kebencian yang berdiri tegak di sekitar kita. Ia juga akan menghancurkan segala penghalang yang memecah belah umat manusia. Ini adalah kunci perdamaian di tingkat pribadi, masyarakat yang lebih luas dan juga level internasional.

Solusi Islam Mengakhiri Konflik

Tetapi sayangnya di sepanjang sejarah telah terjadi konflik-konflik di antara bangsa-bangsa, dan yang menyedihkan tren ini terus berlangsung hingga hari ini.

Dalam menanggapi masalah-masalah seperti ini, dalam Surah Al-Maidah [5]: 9 Al-Quran telah meletakan prinsip-prinsip keluruhan budi dan toleransi yang abadi.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كونوا قَوّامينَ لِلَّهِ شُهَداءَ بِالقِسطِ ۖ وَلا يَجرِمَنَّكُم شَنَآنُ قَومٍ عَلىٰ أَلّا تَعدِلُوا ۚ اعدِلوا هُوَ أَقرَبُ لِلتَّقوىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعمَلونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Di sana dijelaskan bahwa walaupun terdapat permusuhan dan kebencian tetapi jangan sampai berlaku tidak adil atau menginginkan balas dendam. Sebaliknya keadilan adalah jalan beberkat yang menuntunnya pada ketakwaan dan kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Dalam surah Al-Anfal [8]: 62 Allah taala berfirman:

وَإِن جَنَحوا لِلسَّلمِ فَاجنَح لَها وَتَوَكَّل عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّميعُ العَليمُ
Dan, jika mereka condong kepada perdamaian, maka condong pulalah engkau kepadanya dan berwakallah kepada Allah. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Ayat ini menjelaskan bahwa seorang Muslim harus selalu mengupayakan perdamaian dan tidak tidak pernah meluputkan kesempatan tersebut. Dalam ayat ini, Al-Qur’an menjelaskan bahwa dalam suatu peperangan atau konflik yang terjadi, jika pihak lawan menginginkan rekonsiliasi, maka Anda harus mengambil kesempatan tersebut dengan tangan terbuka. Lalu di ayat berikutnya dikatakan bahwa jika kamu curiga bahwa musuhmu tidak sungguh-sungguh dan bermaksud menipu maka Anda harus tetap mencoba mencari peluang untuk mengadakan perdamaian dan serahkanlah kepada Allah Ta’ala.

Terkait:   Mencari Islam Sejati

Oleh karena itu, kapan pun dan di manapun, walaupun terdapat sedikit harapan dan kemungkinan kecil bagi terwujudnya perdamaian, namun umat Islam diperintahkan untuk mengejar kesempatan tersebut dengan penuh tekad dan tanpa rasa takut. Mereka tidak boleh mencari-cari alasan untuk menyimpang dari jalan perdamaian. Inilah ajaran Islam dan inilah yang dipraktekan oleh Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam). Sejarah telah menjadi saksi bahwa beliaulah yang menjadi pembawa standar perdamaian yang tak tertandingi di dunia ini.

Jika orang-orang melihat periode awal Islam melalui kacamata keadilan dan objektif mereka akan paham bahwa peperangan yang terjadi di masa
Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) dan keempat khalifahnya adalah bersifat membela diri dan sama sekali tidak pernah diinisiasikan oleh umat Islam. Kendati adanya kekejaman mengerikan dan penganiayaan luar biasa yang dilakukan para penentang Islam, Rasulullah (Shallallahu alaihi wa sallam) selalu siap menerima perdamaian guna mencari rekonsiliasi.

Dalam surah Muhammad [47]: 5 Al-Quran telah menetapkan prinsip penting lainnya untuk resolusi konflik.

فَإِذا لَقيتُمُ الَّذينَ كَفَروا فَضَربَ الرِّقابِ حَتّىٰ إِذا أَثخَنتُموهُم فَشُدُّوا الوَثاقَ فَإِمّا مَنًّا بَعدُ وَإِمّا فِداءً حَتّىٰ تَضَعَ الحَربُ أَوزارَها
Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pukullah leher mereka. Selanjutnya apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang selesai.

Ayat ini menyatakan bahwa setelah berhasil menyelesaikan peperangan, sang pemenang harus memperlihatkan kemurahan hati dan lebih baik membebaskan tawanan perang. Tawanan tersebut harus dibebaskan baik karena kemurahan hati ataupun dengan tebusan dalam jumlah yang pantas.

Tetapi di dunia saat ini, kita menyaksikan para tawanan perang ditahan dengan kondisi yang sangat tidak manusiawi selama bertahun-tahun dengan minimnya atau tidak adanya peluang untuk keadilan atau kebebasan sama sekali. Hal ini sungguh kontras sekali dengan pertempuran setelah perang Badar yang merupakan peperangan yang sangat signifikan dimana non-muslim Mekkah berusaha untuk melenyapkan Islam sama sekali, tetapi Rasulullah menunjukkan belas kasih dan ampunan yang luar biasa.

Alih-alih menuntut balas, hukuman yang beliau terapkan sendiri merupakan contoh luar biasa dalam membangun jembatan dari pihak-pihak yang berlawanan dan menunjukkan contoh yang menjadi inspirasi bagi masa akan datang. Bukannya menyiksa atau memperbudak para tawanan perang Nabi memerintahkan setiap tawanan yang bisa membaca dan menulis untuk mengajar umat Islam yang buta huruf. Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah kebebasan bagi mereka. Ini adalah contoh yang tak tertandingi, yaitu dalam kondisi peperangan dan konflik sekalipun, masih dapat diperoleh suatu kebaikan.

Orang-orang yang tidak menunjukan belas kasih terhadap umat Islam diperlakukan dengan kasih sayang, perhatian dan diangkat menjadi pengajar. Contoh ini memperlihatkan dua aspek yang indah dari sifat Rasulullah , satu sisi beliau tidak balas dendam atau marah terhadap orang-orang yang telah mempersekusi beliau para sahabat. Kedua, hal diatas memperlihatkan betapa beliau sangat menghargai pendidikan dan pengajaran. Beliau menghendaki agar orang-orang memperbaiki diri mereka dan maju dalam segala bidang kehidupan, dan pendidikan merupakan kunci semua itu.

Tidak ada orang duniawi yang berpikiran seperti ini, dan sudah pasti hanya Rasulullah yang memegang hikmah dan kebijaksanaan tersebut.

Saat ini disebabkan tindakan kebencian dari umat Islam tertentu, Islam secara luas dianggap sebagai intoleran dan ekstrimis. Tetapi semua itu sangat jauh dari kebenaran. Islam adalah agama yang ajarannya menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebebasan dalam berkeyakinan dan kebebasan hati nurani. Islam secara tegas menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama karena keyakinan adalah permasalahan hati dan pikiran seseorang.

Memang benar bahwa umat Islam di masa awal terlibat dalam beberapa peperangan namun mereka tidak pernah berperang dengan maksud menaklukan negeri atau suatu daerah. Mereka juga tidak berperang supaya non-muslim dipaksa untuk menerima Islam. Sebaliknya mereka melakukannya sebagai sarana untuk menegakkan kebebasan beragama sebagai prinsip yang kekal dan universal.

Al-Quran sangat jelas tentang hal ini. Izin pertama bagi umat Islam untuk berperang yang bersifat mempertahankan diri tertera dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj [22]: 40-41.

أُذِنَ لِلَّذينَ يُقاتَلونَ بِأَنَّهُم ظُلِموا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلىٰ نَصرِهِم لَقَديرٌ- الَّذينَ أُخرِجوا مِن دِيارِهِم بِغَيرِ حَقٍّ إِلّا أَن يَقولوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ وَلَولا دَفعُ اللَّهِ النّاسَ بَعضَهُم بِبَعضٍ لَهُدِّمَت صَوامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَواتٌ وَمَساجِدُ يُذكَرُ فيهَا اسمُ اللَّهِ كَثيرًا ۗ وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزيزٌ

Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa.

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyatakan bahwa izin berperang diberikan disebabkan umat Islam telah diserang oleh orang-orang yang tidak hanya ingin menghancurkan Islam, tetapi juga berusaha menghabisi dan melenyapkan institusi agama itu sendiri.

Terkait:   Perdamaian Dunia, Kebutuhan Mendesak Zaman Ini

Al-Quran menyatakan jika umat Islam tidak diizinkan untuk melawan maka tidak ada gereja, sinagog, kuil, masjid atau rumah ibadah agama lainnya yang akan tetap aman. Jadi, manakala Rasulullah dan para sahabat ambil bagian dalam pertempuran dan peperangan, hal itu dilakukan untuk membela hak semua orang supaya dapat beribadah dengan bebas. Kita hidup di masa ketika sering dituduh bahwa Islam berusaha merampas hak-hak orang lain, padahal sebaliknya, Islam adalah agama yang mengajarkan untuk membela dan melindungi semua agama dan seluruh umat manusia.

Islam adalah pembela umat Kristen dan Yahudi. Islam adalah pembela umat Hindu dan Sikh serta pembela semua orang yang memiliki keyakinan dan kepercayaan lainnya. Inilah standar Islam istimewa yang tiada banding, di mana umat Islam di masa awal berjuang untuk melindungi institusi agama dan menjamin prinsip kebebasan beragama.

Perintah Islam lainnya terdapat dalam surah Tha Ha [20]: 132 bahwa seseorang atau suatu bangsa tidak boleh memandang dengan iri kekayaan dan sumber daya orang lain.

وَلا تَمُدَّنَّ عَينَيكَ إِلىٰ ما مَتَّعنا بِهِ أَزواجًا مِنهُم زَهرَةَ الحَياةِ الدُّنيا لِنَفتِنَهُم فيهِ ۚ وَرِزقُ رَبِّكَ خَيرٌ وَأَبقىٰ
Dan jangan sekali-kali engkau tujukan kedua mata engkau kepada apa yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka berupa keindahan kehidupan dunia supaya Kami menguji mereka di dalamnya. Dan rezeki Tuhan engkau adalah lebih baik dan lebih kekal.

Siapapun tidak boleh menginginkan apa yang bukan menjadi hak mereka. Namun di dunia saat ini, rasa kecemburuan dan keinginan untuk menguasai orang lain dan mendapatkan keuntungan dari kekayaan mereka secara tidak adil merupakan pemicu perang dan konflik terjadi saat ini. Tak dapat disangkal bahwa kepentingan pribadi dan keserakahan telah menghancurkan umat manusia dan merusak perdamaian dunia secara terus menerus.

Misalnya beberapa negara benar-benar mengabaikan pelanggaran HAM di berbagai negara lain, demi untuk mendapatkan akses terhadap minyak atau sumber daya alam negara-negara tersebut. Namun masyarakat luas tidak tuli atau bisu, mereka dapat melihat bahwa kebijakan tersebut tidak berlandaskan pada keadilan dan tentu saja hal ini akan menimbulkan kemarahan dan kekecewaan. Kebencian mereka tidak hanya terbatas pada pemimpin mereka sendiri namun juga meluas kepada kekuatan-kekuatan asing diliputi keserakahan dan mempedulikan kesejahteraan orang lain.

Oleh karena itu negara-negara harus berlaku adil dalam segala urusan mereka dan tidak boleh dikuasai oleh kepentingan pribadi yang sempit, sebaliknya mereka harus bertindak dengan benar, adil dan peduli pada kepentingan dunia pada umumnya.

Jika ajaran Islam yang benar ini diikuti dengan tulus, maka ia akan mencegah berkembangnya pertikaian dan perselisihan. Akan tetapi umat Islam saat ini tidak mengikuti ajaran suci agama mereka sendiri, itulah mengapa negara-negara mereka berjalan di luar kendali. Ini adalah hal yang sangat disesalkan, kendatipun umat Islam secara langsung telah dianugerahi ajaran yang menjamin terciptanya perdamaian di antara manusia dan bangsa-bangsa, tetapi umat muslim sendirilah yang mengkhianati nilai-nilai tersebut lebih dari negara lain.

Di saat Islam mengajarkan keadilan, kebaikan dan belas kasih, tetapi yang kita saksikan di dunia Islam adalah ketidakadilan, kebencian, dan keserakahan. Namun demikian kita tidak dapat mengatakan bahwa hanya umat Islam yang harus disalahkan atas segala ketidakpastian dan perselisihan yang kita saksikan di dunia saat ini. Bahkan negara-negara besar di dunia juga bersalah karena menerapkan kebijakan yang tidak adil sehingga memicu kebencian dan meningkatkan ketidaksetabilan. Alih-alih meningkatkan perdamaian, negara-negara besar lebih mengutamakan kepentingan mereka dan mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi.

Sebagai contoh beberapa negara besar telah menjual senjata kepada pemerintahan-pemerintahan Muslim, sementara yang lainnya menyediakan senjata bagi para pemberontak. Selanjutnya senjata-senjata yang diproduksi oleh Barat berakhir di tangan kelompok-kelompok teroris. Jadi pemicu konflik berasal dari luar. Apa yang saya katakan ini bukanlah hal baru namun telah lama dan sudah menjadi konsumsi publik.

Hal yang sangat memprihatiankan lagi adalah telah terbentuknya blok-blok dan aliansi yang saling berseberangan di negara-negara besar dengan begitu cepatnya. Pengaruh negara-negara tersebut jauh lebih besar daripada negara-negara berkembang sehingga pembentukan blok-blok yang saling bersaing di antara negara-negara besar sangat berbahaya bagi masa depan dunia. Kita harus segera mengatasi isu-isu seperti ini, karena jika tidak, kita akan menuju perang dunia maha dahsyat yang sangat menghancurkan. Dampak dari perang semacam itu tidak akan terbayang oleh kita, di mana penderitaan, kengerian, kehancuran total akan berlangsung selama beberapa generasi yang akan datang. Oleh karena itu kita hanya berharap dan berdoa semoga Allah menganugerahi kebijaksanaan kepada seluruh umat manusia.

Semoga setiap bangsa dan setiap orang dapat memenuhi hak-hak satu sama lain, dan semoga keadilan dapat terwujud di atas segala bentuk ketidakadilan.

Saya berdoa semoga semua orang bisa kembali kepada Sang Pencipta, karena Tuhan adalah Maha Pemberi dan Pemelihara bagi semua umat manusia dan Dia adalah Maha Pemurah dan Maha Penyayang, dan Dia menghendaki supaya seluruh manusia dari berbagai ras dan keyakinan dapat hidup dalam satu kesatuan dan supaya manusia dalam disatukan dalam kedamaian dan kerukunan.

Melalui Rahmat, karunia dan Kasih Sayang-Nya, semoga Allah menjadikan spirit tersebut berkembang di dunia. Semoga kita semua dapat menyaksikan perdamaian sejati dalam kehidupan kita.

Akhir kata, sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda karena telah bergabung bersama kami pada hari ini. Terima kasih banyak.

Sumber: Review of Religions – Justice: the Prerequisite to a Peaceful World
Penerjemah: Mln. Maulana Yusuf