Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 99)

riwayat ali bin abi thalib

Pembahasan lanjutan mengenai salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 25 Desember 2020 (Fatah 1399 Hijriyah Syamsiyah/10 Jumadil Awwal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu telah disampaikan berkenaan dengan syahidnya Hadhrat ‘Utsman (ra) dan juga perihal para pemberontak. Dalam menyampaikan satu hal yang sangat penting, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda,

Karena kalian pun (Para Ahmadi) memiliki kesamaan dengan para Sahabat Nabi (saw) sehingga saya ingin menjelaskan sejarah, bagaimana umat Muslim mengalami kemunduran dan apa saja yang menjadi penyebabnya? Dengan demikian, kalian harus waspada, programkan untuk memberikan pengajaran kepada orang-orang yang baru baiat.” (maksudnya, dengan memberikan Tarbiyat dan Ta’lim dengan benar.)

“Kerusakan yang terjadi pada zaman Hadhrat ‘Utsman bukanlah disebabkan oleh para Sahabat. Mereka yang beranggapan bahwa penyebabnya adalah para Sahabat, mereka telah terkecoh. Tidak diragukan lagi, memang banyak Sahabat yang berseberangan dengan Hadhrat ‘Ali dan banyak juga yang menentang Hadhrat Muawiyah.[1] Namun, saya katakan bahwa biang kekacauan ini bukanlah Sahabat melainkan orang-orang yang masuk Islam di kemudian hari, mereka yang tidak pernah bergaul dengan Rasulullah (saw) dan tidak pernah duduk di majlis Rasulullah (saw).

Karena itu, saya tarik perhatian kalian dan saya sampaikan metoda untuk terhindar dari kekisruhan ini yaitu sering-seringlah berkunjung ke Qadian (saat itu beliau berada di Qadian) supaya keimanan kalian mendapatkan penyegaran dan rasa takut kalian kepada Allah semakin meningkat.”

Artinya, hal itu supaya tetap terjalin hubungan kuat kalian dengan Markas dan juga Khilafat. Jika ini dapat dilakukan dengan kokoh, maka akan selalu mendapatkan Tarbiyat.

Pada masa ini Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan dalam bentuk MTA (Muslim Television Ahmadiyya) kepada kita. Khotbah-khotbah dapat disaksikan oleh seluruh dunia, ditayangkan, diperdengarkan begitu juga program-program lainnya. karena itu, untuk tarbiyat adalah penting supaya kita sendiri menelaah buku-buku Masih Mau’ud (as), jalinlah juga hubungan dengan MTA dengan cara teratur menyaksikan dan menyimaknya. Khususnya khotbah jumat, biasakanlah untuk menyimaknya melalui MTA. Dengan begitu hubungan dengan Khilafat akan terus terjalin kuat, lebih baik dan juga meningkat.

Perang Jamal

Berkenaan dengan perang Jamal terdapat dalam riwayat bahwa perang Jamal merupakan peperangan yang terjadi antara Hadhrat ‘Aisyah (ra) dan Hadhrat Ali pada tahun 36 Hijriah (sekitar 656 Masehi). Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair berada di pihak Hadhrat ‘Aisyah (ra). Pada perang tersebut Hadhrat ‘Aisyah (ra) mengendarai unta sehingga perang tersebut dinamai dengan perang Jamal (Jamal artinya unta – editor).[2] Hadhrat ‘Aisyah (ra) berangkat dari Madinah ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji dan tinggal sementara di sana.

Ketika beliau dalam perjalanan kembali ke Madinah setelah melaksanakan umrah, dalam perjalanan beliau, di daerah Surf, Ubaid Bin Salamah mengabarkan beliau bahwa Hadhrat ‘Utsman telah disyahidkan dan Hadhrat Ali terpilih sebagai Khalifah dan ketegangan terjadi di Madinah. Mendengar itu, Hadhrat ‘Aisyah (ra) langsung balik ke Makkah. Beliau mengumpulkan orang-orang untuk membalaskan kewafatan Hadhrat ‘Utsman dan mengakhiri kekisruhan. Banyak sekali orang berkumpul saat itu dibawah pimpinan Hadhrat ‘Aisyah (ra), Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair. Rombongan tersebut berangkat ke Bashrah.

Mengetahui hal itu, Hadhrat Ali pun berangkat menuju Bashrah.

Sesampainya di Bashrah, Hadhrat ‘Aisyah (ra) menyeru penduduk kota untuk bergabung bersama beliau. Sejumlah besar penduduk kota bergabung bersama Hadhrat ‘Aisyah (ra). Namun satu Jemaat telah baiat kepada Amil Bashrah yang telah ditetapkan oleh Hadhrat Ali bernama ‘Utsman Bin Hanif. Kala itu terjadi pertempuran antar dua grup itu. Pasukan Hadhrat Ali memasang kemah di dekat pasukan Hadhrat ‘Aisyah (ra). Dari kedua belah pihak diupayakan untuk berdamai dan musyawarah telah berhasil. Namun ketika malam, diantara kelompok yang ikut andil dalam pembunuhan Hadhrat ‘Utsman, satu bagiannya bergabung dengan lasykar Hadhrat Ali lalu menyerang lasykar Hadhrat ‘Aisyah (ra), serangan tersebut mengakibatkan mulainya pertempuran. Hadhrat ‘Aisyah (ra) berada di atas unta. Para pejuang setia memegang tali kekang unta dan satu per satu syahid.

Hadhrat Ali memahami bahwa selama Hadhrat ‘Aisyah (ra) masih mengendarai unta, peperangan tidak akan berakhir. Untuk itu Hadhrat Ali memerintahkan para petarung, اعْقِرُوا الْجَمَلَ فَإِنَّهُ إِنْ عُقِرَ تَفَرَّقُوا “Lumpuhkan unta Hadhrat ‘Aisyah (ra) bagaimanapun caranya, karena akhir peperangan bergantung pada jatuhnya unta beliau.”

Seorang pejuang maju dan menebaskan pedang ke kaki unta sehingga membuat unta oleng lalu jatuh. Pasukan Hadhrat Ali mengepung unta dari empat penjuru. Tumbangnya unta Hadhrat ‘Aisyah (ra) mengakibatkan bubarnya pasukan.

Setelah itu Hadhrat Ali memerintahkan untuk mengumumkan, أَنْ لَا يَقْتُلَ مُدْبِرًا، وَلَا يُذَفِّفُ عَلَى جَرِيحٍ، وَلَا يَكْشِفُ سِتْرًا، وَلَا يَأْخُذُ مَالًا ‘Siapa yang menjatuhkan senjatanya atau menutup pintu rumahnya, akan diberikan keamanan, yakni tidak akan ditangkap atau hartanya tidak akan dirampas sebagai harta rampasan.’[3] Pasukan Hadhrat Ali pun mengamalkan hal itu. Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Zubair syahid pada perang tersebut. Ini adalah kutipan ringkas peristiwa sejarah yang ditulis oleh Ibnu Atsir.[4]

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra berkenaan dengan hal ini bersabda,

“Sekelompok orang yang tergabung dalam pembunuhan Hadhrat ‘Utsman menghasut Hadhrat ‘Aisyah (ra) untuk mengumumkan deklarasi jihad membalas pembunuh Hadhrat ‘Utsman. Hadhrat ‘Aisyah (ra) pun mengumumkan hal itu dan memanggil para sahabat untuk membantu. Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair bergabung dengan Hadhrat ‘Aisyah (ra) lalu terjadilah pertempuran antara pasukan mereka dengan pasukan Hadhrat Ali. Peperangan tersebut dinamai perang Jamal.

Pada permulaan perang tersebut, setelah mendengar satu nubuatan Rasulullah (saw) dari mulut Hadhrat Ali, Hadhrat Zubair memisahkan diri dan menyatakan sumpah bahwa beliau tidak akan berperang melawan Hadhrat Ali dan menyatakan bahwa beliau telah keliru dalam berijtihad.

Di sisi lain, Hadhrat Thalhah (ra) telah menyatakan baiat kepada Hadhrat Ali sebelum kewafatannya.” (mengenai hal ini telah saya sampaikan pada khotbah sebelum ini.)

Dalam Riwayat disebutkan bahwa ketika Hadhrat Thalhah (ra) dalam keadaan sakratul maut karena luka parah, ada seseorang yang lewat di dekat beliau. Hadhrat Thalhah (ra) bertanya pada orang itu, ‘Anda berasal dari pihak mana?’

Orang itu menjawab, ‘Saya berada di pihak Hadhrat Ali.’

Hadhrat Thalhah (ra) lalu meletakkan tangan diatas tangannya dan berkata, امْدُدْ يَدَكَ أُبَايِعُكَ لَه ‘Tanganmu adalah tangan Ali, saya nyatakan baiat lagi kepada Hadhrat Ali diatas tanganmu.’[5]

Alhasil, perbedaan pendapat antara beberapa sahabat telah diselesaikan pada saat perang Jamal. Namun, penentangan Hadhrat Muawiyah masih tersisa sehingga kemudian terjadi perang Shiffin.”[6]

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda, “Sekelompok pembunuh tersebut menyebar ke berbagai pihak sembari melontarkan tuduhan kepada orang lain dengan tujuan menyelamatkan diri mereka sendiri dari tuduhan. Ketika mereka mengetahui bahwa umat Muslim telah baiat kepada Hadhrat ‘Ali, mereka mendapatkan kesempatan baik untuk melontarkan tuduhan kepada Hadhrat ‘Ali. Memang benar, telah berkumpul di sekitar Hadhrat ‘Ali beberapa orang dari antara para pembunuh Hadhrat ‘Utsman. Dengan cara itu, orang-orang munafiq tersebut mendapatkan kesempatan baik untuk melontarkan fitnah.

Demikian pula, ada juga sekelompok mereka yang berangkat ke Makkah mendesak dan meyakinkan Hadhrat ‘Aisyah (ra) untuk mengumumkan jihad membalas pensyahidan Hadhrat ‘Utsman. Hadhrat ‘Aisyah (ra) lalu mengumumkannya lalu mencari keberadaan para Sahabat dan meminta bantuan dari mereka.

Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Zubair baiat kepada Hadhrat ‘Ali dengan syarat Hadhrat ‘Ali dengan segera menghukum para pembunuh Hadhrat ‘Utsman. Pengertian mereka berdua mengenai ‘dengan segera’ bertentangan dengan pendapat Hadhrat ‘Ali (ra) mengenai latar belakang dan situasi saat itu. Hadhrat ‘Ali berpandangan bahwa sikap tergesa-gesa untuk membalas dendam seperti itu dampaknya tidak akan baik. Hadhrat ‘Ali berpikiran supaya hal pertama ialah pemerintahan di seluruh daerah dikokohkan terlebih dahulu, selanjutnya baru berpikir untuk menghukum para pembunuh Hadhrat ‘Utsman (ra). Menurut beliau (ra) yang utama adalah perlindungan terhadap Islam dan tidaklah mengapa jika menunda dalam menangani para pembunuh Hadhrat ‘Utsman.

Ada juga perbedaan pendapat mengenai identitas siapa saja para pembunuh Hadhrat ‘Utsman juga. Hadhrat ‘Ali tidak menaruh curiga kepada mereka (para pembunuh Hadhrat ‘Utsman) yang awalnya datang menjumpai beliau (ra) dengan menampilkan raut wajah sedih lalu menyampaikan kekhawatiran akan terjadinya perpecahan dalam Islam. Beliau (ra) tidak mencurigai mereka sebagai biang kekacauan. Akan tetapi, orang-orang lain yang menaruh curiga terhadap mereka.

Disebabkan perbedaan tajam itulah sehingga Thalhah dan Zubair beranggapan Hadhrat ‘Ali telah berpaling dari janji beliau kepada mereka. Mereka telah baiat dengan suatu syarat kepada Hadhrat ‘Ali dan beranggapan Hadhrat ‘Ali tidak menepati janji tersebut sehingga mereka menganggap diri mereka secara hukum syariat tidak terikat lagi dengan baiat. Ketika pengumuman dari Hadhrat ‘Aisyah (ra) sampai kepada mereka (Hadhrat Thalhah dan Zubair) lalu mereka berdua bergabung dengan Hadhrat ‘Aisyah (ra). Mereka bersama-sama menuju Bashrah.

Amir (Gubernur) Bashrah (‘Utsman bin Hunaif) menghalangi orang-orang untuk bergabung dengan mereka. Namun, ketika orang-orang mengetahui bahwa Thalhah dan Zubair baiat sembari mengajukan suatu syarat kepada Hadhrat ‘Ali, kebanyakan orang di sana bergabung bersama dengan beliau (Hadhrat ‘Aisyah ra).

Ketika Hadhrat ‘Ali mengetahui perihal lasykar tersebut, beliau pun menyiapkan lasykar juga lalu berangkat ke Bashrah. Sesampainya di Bashrah, Hadhrat ‘Ali mengutus seseorang [yaitu Qa’qa bin Amru, الْقَعْقَاعُ بْنُ عَمْرٍو] kepada Hadhrat ‘Aisyah (ra), Thalhah dan Zubair. Orang tersebut terlebih dahulu pergi menemui Hadhrat ‘Aisyah (ra) dan bertanya, أَيْ أُمَّهْ، مَا أَشْخَصَكِ وَمَا أَقْدَمَكِ هَذِهِ الْبَلْدَةَ؟ ‘[Wahai Bunda] Apa tujuan Anda datang ke negeri ini?’

Hadhrat ‘Aisyah (ra) menjawab, أَيْ بُنَيَّ، إِصْلاحٌ بَيْنَ النَّاسِ ‘Nak, kami hanya mengharapkan terciptanya ishlaah (perbaikan) diantara orang-orang.’[7]

Setelah itu orang tersebut pun meminta dipanggilkan Thalhah dan Zubair lalu bertanya, ‘Apakah Anda juga memiliki tujuan sama?’

Mereka berdua menjawab, ‘Ya, sama tujuannya.’

Orang itu menjawab, ‘Jika yang menjadi harapan anda adalah ishlaah, maca caranya bukanlah seperti ini, karena peperangan akan menyebabkan kekacauan. Keadaan negeri saat ini sedang tidak baik. Jika anda membunuh seseorang, seribu orang akan bangkit untuk menuntut balas dan orang yang akan mendukungnya akan lebih banyak lagi. Demi terciptanya ishlaah, pertama ikatlah negeri dengan tali persatuan. Setelah itu, barulah menghukum para penjahat itu. Jika tidak, menghukum orang dalam keadaan yang mencekam seperti ini dapat menimbulkan kekacauan dalam negeri. Hal pertama, kokohkan dulu pemerintahan, setelah itu baru menghukum mereka.’

Setelah mendengarkan hal itu mereka berkata, قَدْ أَصَبْتَ وَأَحْسَنْتَ فَارْجِعْ، فَإِنْ قَدِمَ عَلِيٌّ وَهُوَ عَلَى مِثْلِ رَأْيِكَ صَلُحَ هَذَا الْأَمْرُ ‘Jika memang rencana Hadhrat ‘Ali seperti ini maka kami siap berjumpa dengan beliau.’ Utusan tersebut lalu mengabarkan kepada Hadhrat ‘Ali. Perwakilan kedua belah pihak bertemu lalu dibuat suatu keputusan bahwa berperang tidaklah baik, hendaknya ditempuh jalan damai.[8]

Ketika kabar ini sampai ke telinga kelompok Abdullah bin Saba (عبد الله بن سبأ) dan para pembunuh Hadhrat ‘Utsman, mereka sangat khawatir. Sebuah kelompok dari antara mereka mengadakan rapat tertutup. Setelah rapat mereka memutuskan, ‘Jika tercipta perdamaian di kalangan umat Muslim, akan menimbulkan bahaya besar bagi kita. Sebaliknya jika umat Muslim terus berselisih satu sama lain maka kita akan dapat terhindar dari hukuman atas pembunuhan Hadhrat ‘Utsman. Jika terjalin perdamaian diantara umat Islam, maka tidak ada tempat bersembunyi lagi bagi kita, untuk itu bagaimanapun caranya supaya jangan sampai tercipta perdamaian diantara umat Muslim.’[9]

Tidak lama kemudian datanglah Hadhrat ‘Ali. Pada hari berikutnya Hadhrat ‘Ali bertemu dengan Hadhrat Zubair. Ketika berjumpa, Hadhrat ‘Ali bertanya, ‘Anda berdua telah mempersiapkan pasukan untuk bertempur dengan saya? Apakah Anda juga telah mempersiapkan alasan yang akan disampaikan kepada Allah Ta’ala nanti? Kenapa Anda sekalian bersikeras untuk menghancurkan Islam yang pengabdian demi kekuatannya telah Anda lakukan melalui banyak kesulitan dan penderitaan? Apakah saya bukan saudara kalian? Lantas apa sebabnya, sebelum ini menumpahkan darah satu sama lain dianggap haram, namun sekarang dihalalkan? Jika tidak ada hal baru lantas kenapa bisa terjadi pertempuran ini?’

Hadhrat Thalhah yang saat itu bersama dengan Hadhrat Zubair berkata kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Anda telah menghasut orang-orang untuk membunuh Hadhrat ‘Utsman.’

Hadhrat ‘Ali berkata, Saya melaknat orang-orang yang ikut dalam pembunuhan Hadhrat ‘Utsman.’[10]

Hadhrat ‘Ali berkata, ‘Tidakkah Anda ingat, Rasulullah (saw) pernah bersabda kepadamu, وَلَتُقَاتِلَنَّهُ وَأَنْتَ لَهُ ظَالِمٌ “Demi Tuhan! Kamu akan berperang melawan ‘Ali dan dalam keadaan demikian kamu akan menjadi orang zalim.”’[11]

Mendengar hal itu, Hadhrat Zubair kembali kepada lasykarnya dan bersumpah bahwa ia sekali-kali tidak akan berperang melawan Hadhrat ‘Ali lalu berikrar bahwa dirinya telah keliru dalam ijtihadnya.[12] Ketika kabar tersebut menyebar di kalangan para pasukan, semuanya merasa tenang karena tidak akan terjadi peperangan melainkan perdamaian.

Ulah Para Pengacau Melakukan Adu Domba

Namun, berita tersebut membuat para pengacau merasa cemas. Ketika tiba malam, untuk menghentikan perdamaian ini, mereka menempuh makar dengan cara orang-orang mereka yang telah menyusup ke dalam pasukan Hadhrat ‘Ali melakukan serangan terhadap pasukan Hadhrat ‘Aisyah (ra), Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Zubair pada malam hari itu. Begitu juga sebaliknya, orang-orang mereka yang sudah menyusup di dalam sebagian pasukan Hadhrat ‘Aisyah (ra) melakukan serangan terhadap pasukan Hadhrat ‘Ali. Hal ini mengakibatkan kegaduhan. Kedua belah pihak saling beranggapan telah ditipu oleh pihak selainnya. Padahal sebenarnya ini merupakan rencana busuk kelompok Abdullah bin Saba.

Ketika peperangan dimulai, Hadhrat ‘Ali memberitahukan kepada seseorang [yaitu Ka’b bin Sur – كَعْبُ بْنُ سُورٍ] agar menyampaikan kepada Hadhrat ‘Aisyah, أَدْرِكِي فَقَدْ أَبَى الْقَوْمُ إِلَّا الْقِتَالَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِكِ ‘Telah terjadi peperangan ini [dan orang-orang menolak berhenti]. Mungkin melalui beliau, Allah Ta’ala akan menjauhkan kekacauan ini.’[13]

Karena itu, unta yang dinaiki Hadhrat ‘Aisyah lalu dibawa ke depan, namun akibatnya malah lebih berbahaya lagi. Melihat hal itu para pengacau berpikir rencana busuk mereka akan diketahui dan berbalik kepada mereka lalu mereka mulai menghujani unta Hadhrat ‘Aisyah dengan anak-anak panah. Hadhrat ‘Aisyah mulai berteriak, الْبَقِيَّةَ الْبَقِيَّةَ يَا بُنَيَّ! وَيُعْلُوا صَوْتُهَا كَثْرَةً: اللَّهَ اللَّهَ! اذْكُرُوا اللَّهَ وَالْحِسَابَ ‘Wahai manusia! Tinggalkanlah peperangan! Ingatlah Tuhan dan hari penghisaban!’ Namun, para pengacau tidak menghentikannya malah terus melontarkan anak-anak panah pada unta Hadhrat ‘Aisyah.[14]

Penduduk Bashrah bersama dengan lasykar yang berkumpul di sekitar Hadhrat ‘Aisyah (ra) melihat kejadian tersebut naik pitam. Mereka marah melihat kelancangan yang dilakukan terhadap Hadhrat Ummul Mu-miniin (ibunda orang-orang beriman). Dengan marah besar mereka menarik pedang dan menyerang pasukan lawan mereka (pasukan ‘Ali). Keadaan saat itu adalah unta Hadhrat ‘Aisyah (ra) menjadi titip pusat pertempuran. Banyak Sahabat dan para pejuang pemberani, berkumpul di sekitar unta itu dan terbunuh satu per satu, namun para pengacau tetap tidak meninggalkan serangannya pada unta Hadhrat ‘Aisyah (ra).

Hadhrat Zubair tidak ikut serta pada pertempuran tersebut. Beliau (ra) menjaga jarak pergi ke suatu tempat, namun ada seorang kurang ajar yang mengikuti beliau lalu mensyahidkan beliau dari arah belakang ketika beliau tengah shalat. Sementara itu, Hadhrat Thalhah terbunuh di tangan para pengacau itu di medan perang.

Ketika perang semakin berkecamuk, sebagian orang berpikir bahwa perang tidak akan berakhir sebelum Hadhrat ‘Aisyah (ra) dipindahkan dari tempat pertempuran. Karena itu, mereka memotong kaki unta Hadhrat ‘Aisyah (ra) dan menurunkan tandu Hadhrat ‘Aisyah (ra) ke tanah. Setelah itu peperangan terhenti. Melihat kejadian tersebut wajah Hadhrat ‘Ali diliputi kesedihan namun merasa tidak ada hal lain yang dapat dilakukan. Ketika ditemukan jenazah Hadhrat Thalhah diantara para korban setelah perang, Hadhrat ‘Ali menampakkan kesedihan mendalam.

Dari seluruh kejadian tersebut terbukti jelas tidak ada kesalahan dari para Sahabat dalam peperangan tersebut, melainkan perang itu ialah ulah para pembunuh Hadhrat ‘Utsman jugalah. Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Zubair wafat dalam keadaan baiat kepada Hadhrat ‘Ali karena mereka telah berbalik dari tujuan awal mereka dan menyatakan untuk mendukung Hadhrat ‘Ali namun mereka terbunuh di tangan para pemberontak itu. Hadhrat ‘Ali melaknat para pembunuh itu.”[15]

Setelah berakhirnya perang Jamal, Hadhrat Ali menyiapkan kendaraan dan perbekalan untuk Hadhrat ‘Aisyah (ra) dan beliau sendiri ikut pergi mengantar Hadhrat ‘Aisyah (ra) dan memberangkatkan orang-orang yang ingin ikut mengiringi Hadhrat ‘Aisyah (ra). Pada hari kepergian Hadhrat ‘Aisyah (ra), Hadhrat Ali menemui Hadhrat ‘Aisyah (ra) lalu berdiri. Di hadapan orang-orang, Hadhrat ‘Aisyah (ra) tampil dan bersabda:

‘Yaa baniyya, ta’tibu ba’dhuna ‘ala ba’dhin istibthaa-a wa stizaadatan falaa ya’tadin ahadun minkum ‘ala ahadin bi-syai-in balaghahu min dzaalika, innahu waLlahi ma kaana baini wa baina ‘Aliyyin fil qadiimi illa maa yakuunu bainal mar-ati wa ahmaa-iha, wa innahu ‘indi ‘ala ma’tabi minal akhyaar.’ – “Wahai anak-anakku, kita telah saling menimpakan penderitaan, aniaya dan saling memancing kemarahan satu sama lain. Di masa yang akan datang disebabkan oleh perselisihan ini jangan ada lagi saling menganiaya satu sama lain. Demi Tuhan! Sejak semula tidak ada pertentangan antara saya dengan Hadhrat Ali, selain dari permasalahan antara seorang wanita dengan menantunya (masalah keluarga dan kekerabatan yang sudah lumrah terjadi), yakni perkara-perkara kecil. Hadhrat Ali merupakan sarana bagiku untuk meraih kebaikan.”

Hadhrat Ali bersabda:

‘Yaa ayyuhan naasu, shadaqat, waLlahi wa barrat, maa kaana baini wa bainaha illa dzaalika, wa innaha la-zaujuhu Nabiyyikum shallallahu ‘alaihi wa sallam fid dunyaa wal aakhirah.’ – “Wahai manusia! Baik dan benar apa yang telah dikatakan oleh beliau (Hadhrat ‘Aisyah (ra)). Hanya itulah yang menjadi penyebab perselisihan antara saya dengan Hadhrat ‘Aisyah (ra). Hadhrat ‘Aisyah (ra) adalah istri suci Nabi kalian (saw) di dunia dan akhirat.” Hadhrat Ali ikut berjalan sampai bermil-mil untuk melepas Hadhrat ‘Aisyah (ra). Hadhrat Ali memerintahkan putra-putranya untuk mengiringi Hadhrat Ali dan kembali esok harinya. Tercantum dalam ath-Thabari.[16]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadhrat Thalhah masih hidup setelah kewafatan Rasulullah (saw) dan menyaksikan ketika timbul pertentangan di kalangan umat Muslim setelah syahidnya Hadhrat ‘Utsman. Satu kelompok mengatakan, ‘Kita harus membalas orang-orang yang telah membunuh Hadhrat Utsman (ra).’ Pemimpin dari kelompok ini adalah Hadhrat Thalhah (ra), Hadhrat Zubair (ra) dan Hadhrat ‘Aisyah (ra).

Akan tetapi, kelompok yang lain mengatakan, ‘Beliau telah wafat (Hadhrat ‘Utsman). Namun, dikarenakan kaum Muslimin telah terpecah-belah sehingga keperluan paling mendesak sekarang juga ialah kita harus menyatukan orang-orang Islam supaya wibawa dan keagungan Islam menjadi tegak. Setelah itu, barulah kita menuntut balas terhadap orang-orang yang membunuh beliau itu.’ Pemimpin dari kelompok ini adalah Hadhrat ‘Ali (ra).

Perselisihan ini meruncing sehingga Hadhrat Thalhah (ra), Hadhrat Zubair (ra) dan Hadhrat ‘Aisyah (ra) melayangkan tuduhan bahwa Hadhrat ‘Ali (ra) ingin memberikan perlindungan kepada orang-orang yang telah mensyahidkan Hadhrat Utsman (ra), sedangkan Hadhrat ‘Ali (ra) menuduh bahwa mereka lebih mengutamakan tujuan-tujuan pribadi mereka dan tidak mengindahkan faedah bagi Islam.

Perselisihan ini mencapai puncaknya dan berakibat terjadi perang satu sama lain. Sebuah perang yang mana Hadhrat ‘Aisyah (ra) menjadi pemimpin pasukan di dalamnya. Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair (ra) juga ikut serta di dalam pasukan tersebut. Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, pada awalnya mereka tergabung di pihak yang bertentangan dengan Hadhrat ‘Ali (ra) yang kemudian Hadhrat Zubair (ra) mendengar perkataan Hadhrat ‘Ali (ra) lalu beliau memisahkan diri kelompok yang diikutinya. Selanjutnya, beliau menginginkan ishlah (perbaikan), namun para penentang, yakni orang-orang munafik atau para pembuat keonaran membuat kekacauan. Bagaimanapun ada dua kelompok dan mereka ikut serta dalam peperangan dan berlangsunglah perang diantara kedua belah pihak.

Lalu ada seorang sahabat datang kepada Hadhrat Thalhah (ra) dan berkata kepada beliau, ‘Thalhah! Apakah Anda ingat bahwa pada suatu kesempatan saya dan Anda duduk di majlis Hadhrat Rasulullah (saw) dan beliau (saw) bersabda, “Thalhah! Akan datang suatu masa dimana engkau akan berada dalam satu lasykar dan ‘Ali akan berada dalam lasykar lain, dan ‘Ali berada di atas kebenaran sedangkan engkau berada di atas kekeliruan.”’

Setelah mendengar ini mata Hadhrat Thalhah (ra) menjadi terbuka dan berkata, ‘Ya! Saya baru ingat lagi hal itu sekarang.’ Kemudian, beliau keluar dari lasykar itu dan pergi. [17]

Ketika beliau pergi meninggalkan peperangan supaya sabda Rasul yang mulia (saw) tersebut terpenuhi, seorang keji yang adalah prajurit dari lasykar Hadhrat ‘Ali (ra), menebaskan Khanjar (pedang pendek) kepada beliau dan mensyahidkan beliau.

Hadhrat ‘Ali (ra) sedang duduk di tempatnya. Pembunuh Hadhrat Thalhah (ra) tersebut dengan pemikiran akan mendapatkan hadiah yang besar datang dengan berlari dan berkata kepada Hadhrat ‘Ali (ra), ‘Wahai Amiirul Mu’miniin! Saya membawa kabar mengenai terbunuhnya musuh anda.’

Hadhrat ‘Ali (ra) bertanya, ‘Musuh yang mana?’

Orang itu berkata, ‘Wahai Amirul Mu’miniin! Telah saya bunuh Thalhah.’

Hadhrat ‘Ali (ra) berkata, ‘Wahai manusia! Saya juga ingin mengabarkan kepadamu dari Hadhrat Rasulullah (saw) bahwa kamu akan dimasukkan ke dalam neraka karena suatu kali ketika Thalhah dan saya tengah duduk, Rasulullah (saw) bersabda, “Wahai Thalhah! Pada suatu waktu engkau akan menanggung penghinaan demi kebenaran dan keadilan dan seseorang akan membunuh engkau, namun Allah Ta’ala akan memasukkan orang itu ke dalam jahanam.”’”[18]

Perang Shiffin

Kemudian, berkenaan dengan perang Shiffin (صِفِّينَ) tertulis bahwa perang ini terjadi antara Hadhrat Ali dan Hadhrat Amir Muawiyah pada tahun 37 (سَنَةُ سَبْعٍ وَثَلَاثِينَ) Hijriyyah. Daerah Siffin terletak diantara Syria dan Iraq. Hadhrat Ali berangkat dari Kufah dengan membawa lasykar. Ketika tiba di Siffin, melihat lasykar Syria sudah berkemah sejak sebelumnya di bawah pimpinan Amir Muawiyah. Satu kelompok lasykarnya sudah menguasai tepi sungai Furat (Eufrat). Hadhrat Ali meyakinkan kelompok tersebut, “Kami datang bukan untuk bertempur, melainkan datang untuk mencari solusi bersama atas perbedaan-perbedaan dengan Amir Muawiyah.”

Namun, Amir Muawiyah tidak sependapat untuk melakukan itu [tidak bersedia membuat kesepakatan]. Lasykar Syria atau Syam melarang lasykar Hadhrat Ali untuk mengambil air dari sungai Firat. Atas hal ini Hadhrat Ali memerintahkan pasukannya untuk menyerang dan pasukan Hadhrat Ali berhasil mengalahkan pasukan lawan dan membuat jalan untuk sampai ke sungai. Hadhrat Ali memberikan izin kepada pasukan Syria untuk mengambil air dari sungai Firat dan membawanya. Padahal sebelumnya mereka melarang pasukan Hadhrat Ali untuk mengambil air darinya. Amir Muawiyah meminta supaya Hadhrat Ali menyerahkan mereka yang terlibat dalam pembunuhan Hadhrat ‘Utsman padanya.

Pada suatu titik kesempatan, ada bahaya meletusnya pertempuran besar, namun, mereka yang berfitrat menjaga perdamaian dari kedua belah pihak berusaha mencegahnya.

Peperangan Shiffin bermula pada bulan Shafar 37 Hijri. Sebelum terjadi perang, terjadi ketegangan dan bentrok kecil-kecilan, namun disebabkan seling menyadari akan akibatnya yang merugikan jiwa, kedua belah pihak menghindari pertempuran total. Untuk mempertahankan segala kemungkinan terciptanya perdamaian, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai sementara pada bulan-bulan yang diharamkan. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Untuk itu, pada awal bulan Shafar, diumumkan secara resmi untuk berperang sepenuhnya.

Tahkim

Ketika pertempuran terus terjadi sampai beberapa masa tanpa adanya kepastian pihak mana yang menang, Amir Muawiyah merasa putus asa dan pasukannya melemah. Dalam keadaan genting seperti itu Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash memberikan musyawarah kepada beliau agar mengikat naskah Al-Qur’an di bagian atas tombak-tombak dan berkata, “Hendaknya diputuskan permasalahan sesuai dengan hukum kitab ini.” Lalu dilakukanlah seperti itu.

Sebagai akibatnya timbullah selisih pendapat di antara pengikut Hadhrat Ali. Sebagian besar diantaranya mengatakan, “Permohonan untuk meminta keputusan dari Allah Ta’ala tidak bisa ditolak.” Dengan demikian Hadhrat Ali memerintahkan penarikan pasukan yang berada di bagian depan sehingga peperangan terhenti. Sebagian besar pasukan Hadhrat Ali menyetujui usulan Amir Muawiyah agar kedua belah pihak memilih hakam (arbiter atau wasit pemutus atau penengah) supaya kedua hakam tersebut bersama-sama memutuskan sesuai dengan al-Quranul Majid.

Dalam kitab Tarikh, kejadian tersebut disebut dengan istilah tahkim. Pasukan Syam memilih Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash sedangkan Hadhrat Ali memilih Hadhrat Abu Musa Asyari. Setelah menandatangani surat pernyataan, lasykar bubar. (Riwayat Ibnu Atsir)

Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsani (ra) berkenaan dengan hal ini, bersabda [dalam buku Khilafah Rasyidah], “Dalam perang tersebut, kawan-kawan Amir Muawiyah melakukan hosyiari (kecerdikan, kelicikan) dengan cara mengikat lembaran-lembaran Al-Qur’an dengan ujung tombak lalu berkata, ‘Apapun yang diputuskan oleh Quran, kami akan menyetujuinya. Untuk tujuan itu seharusnya dipilih hakam.’

Selanjutnya, para pengacau itu yang bersekongkol dalam konspirasi pembunuhan Hadhrat ‘Utsman dan yang segera bergabung dengan Hadhrat Ali setelah syahidnya Hadhrat ‘Utsman demi menyelamatkan diri mereka, mereka mulai menekan Hadhrat Ali, ‘Apa yang dikatakan mereka itu benar adanya, untuk itu silahkan tuan tetapkan hakam.’

Hadhrat Ali berkali-kali menolaknya namun orang-orang yang bertabiat lemah itu yang tertipu, memaksa Hadhrat Ali untuk menetapkan hakam. Dipilihlah ‘Amru bin al-’Ash sebagai hakam dari pihak Muawiyah dan Hadhrat Abu Musa al-‘Asyari dari pihak Hadhrat Ali.

Penghakiman ini sebenarnya dalam kasus pembunuhan Hadhrat ‘Utsman dengan syarat, keputusannya berdasarkan Al-Qur’an. Yakni keputusan yang diambil harus sesuai dengan hukum Al-Qur’an untuk menghukum para pembunuh Hadhrat ‘Utsman.

 Namun ‘Amru bin al-’Ash dan Abu Musa Asyari keduanya bermusyawarah dan memutuskan bahwa akan lebih baik jika terlebih dulu Hadhrat Ali dan Hadhrat Amir Muawiyah keduanya dimakzulkan (dipecat atau diberhentikan) dari keamirannya. Padahal penetapan hakam tadi bertujuan untuk memutuskan mengenai pembunuhan Hadhrat ‘Utsman, namun keputusan yang diambil oleh kedua hakam itu malah pertama memakzulkan keduanya, kemudian akan dibicarakan lebih lanjut. Mereka beranggapan segenap umat Muslim terjerumus dalam musibah disebabkan oleh kedua orang ini. Kemudian menurut mereka, setelah itu biarkanlah umat Muslim untuk memutuskan secara bebas agar mengangkat Khalifah sesuai dengan yang dikehendaki.

Pemikiran kedua hakam tersebut adalah keliru, mereka tidak ditugaskan (tidak diberi wewenang) untuk itu. Alhasil, untuk mengumumkan keputusan tersebut, mereka mengadakan satu acara. Saat itu Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash berkata kepada Hadhrat Abu Musa Asyari untuk pertama mengumumkan keputusannya setelah itu giliran ‘Amru bin al-’Ash. Lalu Hadhrat Abu Musa mengumumkan agar memakzulkan (memberhentikan) Hadhrat Ali sebagai Khalifah.

Setelah itu Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash berdiri dan berkata, ‘Abu Musa telah memakzulkan (memecat atau menyatakan berhentinya) Hadhrat Ali dan saya pun sepakat dengan keputusan beliau untuk memakzulkan Hadhrat Ali. Namun, saya tidak akan memakzulkan Muawiyah, saya akan tetap biarkan beliau dalam kepemimpinannya.’

Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash sendiri adalah orang yang sangat saleh, namun saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) tidak ingin masuk dalam bahasan kenapa beliau memutuskan seperti itu.”

(Meskipun tingginya kesalehan beliau, namun beliau telah termakan oleh hasutan mereka atau apa penyebabnya, itu adalah bahasan lain. Bagaimanapun keputusan yang diberikan adalah keliru.)

“Kawan-kawan Muawiyah mulai mengatakan bahwa para hakam itu memberikan keputusan yang berpihak pada Muawiyah, bukan kepada Ali. Namun, Ali menolak keputusan tersebut dan berkata, ‘Hakam tersebut dipilih bukan untuk tujuan itu dan tidak juga keputusan hakam itu berdasarkan Al-Qur’an.’

Mendengar itu, kawan-kawan Hadhrat Ali yang berfitrat munafik yang memaksa untuk ditetapkan hakam mulai berebut dan bersorak mengatakan, ‘Kalau begitu kenapa pula ditetapkan hakam, jika tidak bisa memutuskan yang kaitannya dengan urusan agama.’

Hadhrat Ali menjawab, ‘Hal pertama, tercantum dalam perjanjian bahwa keputusan akan diambil berdasarkan hukum Alquran, yang mana itu tidak diamalkan oleh para hakam. Kedua, hakam-hakam (atau seorang Hakam) ini ditetapkan atas dasar desakan kalian yang terus-menerus, namun sekarang kalian berbalik mempertanyakan kebenaran penetapan hakam tersebut. (mempertanyakan, kenapa dia dipilih sebagai hakam?)’[19]

Mereka berkata, ‘Apa yang kami katakan, itu adalah kekeliruan kami, namun yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Anda menyetujuinya? Mengapa Anda mendengar dan menerima usul kami yang salah itu?’

Maksudnya adalah, para pemberontak, munafik ini mengakui dan mengatakan, ‘Dengan demikian kami menjadi berdosa dan Anda pun (Hadhrat Ali) telah sama seperti kami. Kami telah bertaubat dari kesalahan kami, untuk itu Anda pun hendaknya bertaubat juga dan akuilah bahwa apa yang telah anda lakukan itu adalah perkara yang tidak jaiz.’

Maksud mereka adalah, jika Hadhrat Ali menolak, maka mereka akan menarik baiat mereka. Karena Hadhrat Ali dipandang telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam sehingga mereka tidak akan bertahan dalam baiat kepada beliau. Jika Hadhrat Ali menyatakan bertaubat dari kesalahannya dan mengakui kesalahan dari pihaknya, maka tetap saja, mereka akan beranggapan kekhalifahan Hadhrat Ali batil, karena orang yang melakukan dosa besar, bagaimana bisa tetap menjadi Khalifah.

Ketika Hadhrat Ali mendengar hal ini, beliau berkata, ‘Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Hal yang mendasari saya menetapkan seorang hakam ini dipandang jaiz (dibenarkan) ialah berdasarkan batas-batas hukum Islam. Tambahan lagi, ketika saya menetapkan seorang Hakam, saya telah tetapkan syarat dengan jelas bahwa apapun keputusan yang akan diambil nantinya, saya akan menyetujuinya jika didasarkan pada Alquran dan Hadits-Hadits. Jika tidak, saya tidak akan menyetujuinya walau bagaimanapun. Karena mereka tidak mengindahkan syarat ini, tidak juga mereka memutuskan sesuai dengan tujuan yang diharapkan sehingga keputusannya bagi saya tidak menjadi hujjah (dapat mengikat saya).’

Namun, mereka tidak mengakui alasan Hadhrat Ali (ra) ini lalu menarik diri dari baiat. Kemudian, mereka disebut Khawarij (yang keluar dari jamaah). Mereka memiliki keyakinan dan mempropagandakannya bahwa keberadaan Khalifah yang wajib ditaati tidak perlu ada (tidak perlu ada Khalifah yang mengikat ketaatan seluruh warga Muslim). Menurut mereka, yang akan menjadi dasar untuk mengamalkan sesuatu adalah keputusan mayoritas (sebagian besar) umat Muslim, karena meyakini seseorang sebagai Amir (pemimpin) yang wajib ditaati adalah bertentangan dengan prinsip mereka لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ ‘Laa hukma illaa lillaah’ – ‘Tidak ada yang patut dijadikan otoritas (wewenang yang wajib ditaati) kecuali Allah’.”[20]

Perang Nahrawan, Peperangan dengan Kaum Khawarij

Perang Nahrawan terjadi pada tahun 38 Hijriah. Nahrawan terletak di antara Baghdad dan Wasitah. Di tempat tersebut terjadi peperangan antara Hadhrat Ali (ra) dan kaum Khawarij. Dalam Tarikh Ibnu Atsir tertulis sebagai berikut, “Untuk rekonsiliasi (perundingan menuju kesepaktan) dalam perang Shiffin, Hadhrat Abu Musa Asy’ari (ra) ditetapkan sebagai hakam (pemberi keputusan) dari pihak Hadhrat Ali (ra) dan Hadhrat Amru bin Al-Ash (ra) dari pihak Amir Mu’wiyah. Di dalam tarikh peristiwa ini disebut sebagai tahkim.

Ada sekelompok orang dari laskar Hadhrat Ali (ra) yang berselisih dengan beliau mengenai perkara tahkim ini dan mereka memisahkan diri dengan melakukan pemberontakan, yang kemudian disebut sebagai Khawarij. Para Khawarij ini menyatakan tahkim sebagai dosa dan menuntut Hadhrat Ali (ra) untuk bertaubat dan lengser dari Khilafat. Hadhrat Ali (ra) secara jelas menolaknya. Mengapa beliau menolaknya, ini sebelumnya telah dijelaskan.

Hadhrat Ali (ra) tengah sibuk mempersiapkan serangan kedua kalinya ke arah Syam menghadapi Amir Muawiyah ketika Khawarij mulai melakukan kerusuhan-kerusuhan. Mereka (kaum Khawarij) menetapkan Abdullah bin Wahab sebagai Imam mereka dan berangkat dari Kufah menuju Nahrawan. Khawarij juga menghimpun orang-orang mereka di Basyrah yang kemudian bergabung dengan laskar Abdullah bin Wahab di Nahrawan. Mereka membunuh seorang sahabat Rasulullah (saw), Abdullah bin Khubab (عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خَبَّابٍ) (ra) atas keberpihakan beliau kepada Hadhrat Ali (ra) dan merobek perut istri beliau yang tengah hamil dan membunuhnya dengan kejam dan mereka juga membunuh tiga orang perempuan dari Kabilah Thai’ (طَيِّءٍ).

Ketika keadaan ini sampai kepada Hadhrat Ali (ra), maka beliau mengutus Harits bin Marrah untuk melakukan penyelidikan. Ketika beliau pergi kepada mereka, beliau dikirim sebagai utusan, namun kaum Khawarij pun membunuh beliau.

Melihat situasi ini Hadhrat Ali (ra) mengurungkan niat untuk pergi ke Syam dan berangkat untuk menghadapi Khawarij dengan membawa 65.000 laskar yang telah disiapkan untuk menuju Syam. Ketika beliau sampai di Nahrawan, beliau mengundang Khawarij untuk melakukan perjanjian damai dan memberikan bendera kepada Hadhrat Abu Ayub Anshari (ra) bahwa siapa saja yang berlindung di padanya maka tidak akan diperangi.

Mendengar pengumuman ini, Khawarij yang berjumlah 4000 orang, 100 orang dari antara mereka bergabung dengan Hadhrat Ali (ra) dan sejumlah besar kembali ke Kufah. Hanya 1800 orang yang maju di bawah komando Abdullah bin Wahb ar-Rasibi al-Khariji (عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ الرَّاسِبِيِّ) dan terjadilah pertempuran dengan 65 ribu laskar Hadhrat Ali (ra) yang di dalamnya semua Khawarij tewas. Berdasarkan satu riwayat sejumlah kecil Khawarij berhasil selamat yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Tujuh orang dari laskar Hadhrat Ali (ra) syahid.

Hadhrat ‘Amrah binti Abdurrahman (عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ) meriwayatkan, “Ketika Hadhrat Ali (ra) berangkat menuju Bashrah, beliau datang menemui Hadhrat Ummu Salamah (ra), istri suci Yang Mulia Nabi (saw) untuk berpamitan. Hadhrat Ummu Salamah (ra) mengatakan kepada Hadhrat Ali (ra), ‘Pergilah Anda dalam lindungan Allah Ta’ala. Demi Allah! Anda berada di atas kebenaran dan kebenaran bersama Anda. Andai saya tidak membenci untuk membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya yang mana beliau (saw) telah memerintahkan kami untuk tinggal di rumah maka saya akan pergi menyertai Anda. Akan tetapi, demi Allah, meskipun demikian saya akan mengirim untuk bersama Anda orang yang menurut saya adalah paling mulia dan lebih saya cintai daripada nyawa saya sendiri putra saya Umar.”[21]

Walhasil, riwayat ini masih terus berlanjut, demikian juga pada kesempatan yang akan datang. Insya Allah pada Jumat depan akan dilanjutkan.

Hari ini pun saya ingin menghimbau untuk berdoa bagi para Ahmadi di Pakistan dan Aljazair. Ada berita gembira dari Aljazair bahwa 2-3 hari yang lalu dua pengadilan yang berbeda telah membebaskan banyak Ahmadi yang dikenakan tuduhan palsu. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada para hakim yang adil tersebut dan memberikan taufik kepada pihak penegak hukum lainnya yang sedang melakukan gugatan hukum yang palsu terhadap para Ahmadi untuk dapat bersikap adil.

Para pejabat dan hakim di Pakistan yang telah begitu jauh melenceng dari keadilan dan menyalahgunakan wewenang mereka, semoga Allah Ta’ala juga memberikan mereka taufik supaya mengeluarkan kebencian dan kedengkian dari hati mereka dan bisa memahami permasalahan yang sebenarnya. Adapun orang-orang yang dalam pandangan Allah Ta’ala tidak ditaqdirkan untuk terjadi islah, semoga Allah Ta’ala segera menyediakan sarana untuk mencengkeram mereka dan menyediakan sarana kedamaian dan ketentraman bagi para Ahmadi di Pakistan. Para Ahmadi Pakistani dan para Ahmadi yang tinggal di Pakistan hendaknya secara khusus memberikan penekanan terhadap ibadah-ibadah nafal dan doa-doa.

Di antara doa-doa tersebut bacalah juga sebanyak-banyaknya doa berikut,

رَبِّ كُلُّ شَيْءٍخَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنِيْ وَانْصُرْنِىْ وَارْحَمْنِيْ

Rabbi kullu syai-in khaadimuka Rabbi fahfazhnii wanshurnii warhamnii.’ – Tuhanku, segala sesuatu adalah hamba Engkau, Ya Tuhanku, lindungilah kami, tolonglah kami dan kasihanilah kami”[22]

Bacalah juga sebanyak-banyaknya, اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ ‘Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’uudzubika min syuruurihim.’ – “Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau pencengkram di leher mereka dan kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan mereka.”[23]

Berikanlah juga perhatian pada istighfar.

Berikanlah juga perhatian pada shalawat. Saat ini, ini sangatlah diperlukan.

Lakukanlah juga nafal-nafal, sebagaimana yang telah saya katakan.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada mereka dan juga segera memperbaiki keadaan di sana.

Hari ini pun setelah shalat saya akan mengimami shalat jenazah beberapa Almarhum/ah yang di antaranya jenazah yang pertama adalah yang terhormat Humdah Abbas Sahibah, istri dari yang terhormat Abbas bin Abdul Qodir Sahib Syahid dari Khairpur. Beliau wafat pada 29 Desember di usia 91 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ayahanda beliau, Dokter Muhammad Ibrahim Sahib pada saat kuliah di King Edward Medical College pada tahun 1926 terkesan dengan teman sekelas beliau yang Ahmadi dan baiat menerima Ahmadiyah di tangan Hadhrat Muslih Mau’ud (ra). Almarhumah menikah pada Mei 1951 dengan Professor Abbas bin Abdul Qadir yang merupakan cucu dari Maulana Abdul Majid Sahib, seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), dan kakak dari Hadhrat Sayyidah Sarah Begum Sahibah, istri Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) adalah putra dari Professor Abdul Qadir Sahib. Pada 1974 suami Almarhumah, Professor Abdul Qadir Sahib disyahidkan di Khairpur dan Almarhumah menghadapinya dengan penuh kesabaran dan sedikitpun tidak memperlihatkan keputusasaan dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala. Atas kesyahidan suaminya saudara sepupunya yang ghair Ahmadi menulis surat ta’jiyah bahwa, “Abbas adalah seorang yang sangat baik. Seandainya saja kesudahannya berada di atas jalan petunjuk.” Maka Hundah Sahibah menulis jawabannya bahwa, “Saya bangga bahwa suami saya mengorbankan jiwanya di jalan yang merupakan jalan petunjuk.”

Kemudian di masa sekolahnya Humdah Sahibah berteman dekat Syafiqah Sahibah yang secara kebetulan menjadi istri dari Jenderal Ziaul Haq. Suatu kali setelah suaminya menjadi Presiden Pakistan ia mengatakan, “Semua orang datang menemuiku, namun Hundah tidak datang.” Hundah Sahibah mengetahui hal ini, mendengar ini beliau mengatakan, “Saya tidak ingin menemui istri seseorang yang memusuhi Imam saya tercinta, Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Jema’at beliau (as).” dan kemudian beliau tidak pernah menemuinya.

Almarhumah memiliki banyak keistimewaan. Almarhumah sangat menyukai kebersihan, sopan, seorang wanita yang sangat salehah dan mukhlis. Rajin shalat dan puasa serta menanamkan hal ini juga kepada anak-anaknya. Bersegera dalam pembayaran candah. Selalu siap untuk berbuat kebaikan-kebaikan. Pada bulan Ramadhan Almarhumah setiap hari biasa menyiapkan buka puasa bagi banyak orang di rumahnya. Memiliki ikatan dan kecintaan yang kuat terhadap Khilafat.

Almarhumah secara rutin menulis surat kepada saya dengan tangannya sendiri. Almarhumah banyak menelaah buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as), buku-buku Jema’at dan Al-Fazl hingga akhir hayatnya. Pada 2006 putri bungsu Almarhum, Dokter Amira bersama dengan kedua anaknya wafat dalam kecelakaan lalu lintas dan Almarhumah menghadapi musibah ini dengan penuh ketabahan dan memperlihatkan satu contoh kesabaran.

Semua kerabat dan orang-orang yang mengenal Almarhumah sangat mencintai Almarhumah dikarenakan begitu banyaknya kebaikan-kebaikan Almarhumah. Kerabat-kerabat ghair Ahmadi pun memiliki jalinan kecintaan yang kuat dengan Almarhumah. Di antara yang ditinggalkan antara lain tiga orang putri dan dua orang putra yang tinggal di Amerika, Kanada dan Norwegia. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada putra-putri Almarhumah untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhumah dan meninggikan derajat Almarhumah.

Jenazah selanjutnya Ridhwan Sa’id Na’imi dari Iraq yang wafat pada 13 November di usia 70 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Putra beliau, Mushtafa Na’imi Sahib menulis, “Ayah saya melihat di dalam mimpi tengah bersama Hadhrat Sayyid Abdul Qadir Jailani yang mana beliau memberikan sepatunya kepada ayah saya. Ayah saya merasa malu untuk menerimanya dan mengatakan, “Apa kedudukan saya sehingga saya bisa mengenakan sepatu Sayyid Abdul Qadir Jailani.” Namun Sayyid Abdul Qadir Jailani memaksa, lalu ayahanda memakainya.

Setelah itu Sayyid Abdul Qadir Jailani menunjuk kepada seseorang dan Jema’atnya dan memerintahkan ayah saya untuk bergabung bersama mereka. Setelah itu Rizwan Amini Sahib dalam mimpi bertemu dengan Hadhrat Rasulullah (saw).

Beberapa tahun kemudian beliau mengenal Jema’at melalui MTA, maka Rizwan Sahib mengatakan bahwa pertemuan beliau dengan Rasulullah (saw) di dalam mimpi maksudnya adalah pengutusan Khadim sejati beliau (saw), yakni Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan dalam mimpi lainnya sosok seseorang berserta Jema’atnya yang ditunjuk oleh Syekh Abdul Qadir Jailani dan diperintahkan untuk bergabung dengan mereka maksudnya adalah Khalifatul Masih dan Jema’at beliau. Oleh karena itu beliau baiat pada tahun 2012.

Almarhum seseorang yang sangat saleh dan suka membantu kerabat-kerabatnya serta orang-orang yang miskin. Beliau gemar bertabligh, meskipun kesehatan yang lemah dan penentangan dari orang-orang beliau terus menablighkan Ahmadiyah di daerah beliau. Beliau selalu menasihatkan kepada keluarganya supaya baiat bergabung dengan Jema’at. Sekarang putra, istri dan saudara ipar beliau telah baiat juga. Semoga Allah Ta’ala memberikan keteguhan kepada mereka dan memberikan taufik kepada mereka untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum serta meninggikan derajat Almarhum.

Jenazah selanjutnya yang terhormat Malik Ali Muhammad Sahib, dari Hajkah, Distrik Sargodha, yang merupakan ayahanda dari Mubaligh Jema’at di Kenya, Muhammad Afzal Zafar Sahib. Almarhum wafat pada 20 Agustus di usia 90 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Pada 1974 beliau mendapatkan karunia menjadi orang yang dipenjara di jalan Allah. Almarhum sangat menghormati para karyawan Jema’at, para Waqfin Zindegi, para Muballigh dan Mua’llim. Almarhum rajin tahajud, disiplin dalam shalat dan puasa, sangat ramah terhadap tamu, menolong orang-orang miskin, seorang yang sabar dan bersyukur, sosok yang menjaga silaturahmi. Seorang yang baik dan mukhlis. Almarhum menilawatkan Qur’an Karim dengan dawam dan mendapatkan taufik untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada banyak anak-anak. Di antara yang ditinggalkan antara lain tiga orang putra dan 12 cucu. Sebagaimana telah saya katakan, yang terhormat Muhammad Afzal Zafar Sahib, Muballigh Jema’at Kenya adalah putra Almarhum yang bertugas di medan pengkhidmatan di Kenya saat ini. Dikarenakan hal tersebut beliau tidak bisa hadir dalam pengurusan jenazah dan pemakaman ayahanda beliau. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan kepada beliau. Semoga Allah Ta’ala memberikan kasih sayang dan ampunannya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum.

Jenazah selanjutnya, Ihsan Ahmad Sahib dari Lahore yang merupakan putra Syafqat Mahmud Sahib. Beliau wafat pada 27 Juli di usia 35 tahun dikarenakan virus Corona. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau adalah cucu dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Maulwi Nuruddin Ajmal Sahib dari Goliki, Distrik Gujrat dan cucu dari Irshad Ahmad Sahib dari Gujranwala. Pada dua tahun terakhir beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai ketua Jema’at di Halqah Rachna Town, Lahore. Selain itu mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Mubayi’in Baru di keamiran wilayah Dheli Gate. Beliau sangat gemar bertabligh. Dengan karunia Allah Ta’ala Almarhum berhasil membaiatkan 8 orang. Di antara yang ditinggalkan antara lain dua orang putra, yang tercinta Hanan Ahmad Masrur, berusia 6 tahun dan yang tercinta Mubin Ahmad Tahir yang berusia 3 tahun dan seorang putri, Azizah Sairah Ahmad, berusia 5 tahun, selain itu juga ayah, ibu dan tiga saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan kepada mereka semua, menjaga putra-putri Almarhum dan memberikan taufik kepada mereka untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum, serta meninggikan derajat Almarhum.

Jenazah selanjutnya yang terhormat Riyazuddin Syams Sahib, yang merupakan putra bungsu Maulana Jalaluddin Syams Sahib. Beliau wafat pada 27 Mei. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Profil silsilah keluarga Almarhum adalah sebagai berikut, Almarhum adalah cicit dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Mia Muhammad Siddiq Sahib, cucu dari Hadhrat Mia Imamuddin Sahib Sikhwani, cucu dari Hadhrat Khawajah Ubaidullah Sahib dan putra dari Hadhrat Maulana Jalaluddin Syams Sahib. Kesemuanya adalah sahabat. Almarhum seorang mushi. Di antara yang ditinggalkan antara lain dua putri dan satu putra. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan kepada putra putri beliau. Istri beliau telah wafat sebelumnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan kasih sayang-Nya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum.

Saudara beliau, Muniruddin Syams Sahib menulis, “Almarhum memiliki banyak keistimewaan. Disiplin dalam shalat, selalu menasihatkan mengenai shalat kepada anak-anaknya, begitu mencintai Khilafat, di rumah selalu membicarakan mengenai menjaga ikatan dengan Khilafat. Di masa sakitnya pun Almarhum dua tahun yang lalu datang ke sini untuk menemui saya dan meskipun sedang sakit Almarhum berbincang dengan penuh kesabaran, ketabahan dan keceriaan. Semua orang mempunyai kesan yang sama mengenai beliau, yaitu murah senyum dan berbaur dengan setiap orang serta menyertai mereka dalam suka dan duka, ini adalah di antara sekian banyak kelebihan-kelebihan beliau.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan kasih sayang-Nya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum.  

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Arif Rahman Hakim (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Al-Waqidi dalam Maghazi menyeubtkan diantara para Sahabat yang menolak berpihak dan belum bersedia membaiat Khalifah ‘Ali (ra) ialah Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash, Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab, Hadhrat Muhammad bin Maslamah, Hadhrat Usamah bin Zaid, Hadhrat Zaid bin Tsabit, Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash yang dikenal taat orang tua dan awalnya ikut ayahnya mendampingi Mu’awiyyah kemudian mengundurkan diri dari lingkungan elit (para tokoh terkemuka) di lingkungan terdekat Mu’awiyyah dan tinggal di Madinah. Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Umar (ra) berbaiat kepada Mu’awiyyah setelah perdamaian Hasan bin ‘Ali dan Mu’awiyyah. Hadhrat Sa’d bin Ubadah (ra) juga menolak baiat kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra), namun tidak membuat kekacauan.

[2] Harap bedakan antara jamal dengan jamaal dalam penulisan Arab. Jamaal dengan mim dipanjangkan fathahnya artinya keindahan. Dalam kitab-kitab Tarikh dan Sirah, penulisan seputar perang Jamal ialah perang Unta (حرب الجمل), Peristiwa Unta (وقعة الجمل), Peristiwa Unta (موقعة الجمل), Periode Unta (يوم الجمل), para pengendara Unta menunjuk pada pengikut ‘Aisyah (أهل الجمل), pembicaraan mengenai Unta (حديث الجمل), fitnah atau ujian Unta (فتنة الجمل ), mayat-mayat dalam perang Unta (قتلى الجمل).

[3] Al-Kamil fit Tarikh karya Ibnu al-Atsir; tercantum juga dalam Mushannaf Ibnu Syaibah (مصنف ابن أبي شيبة), 38971: لاَ يُتْبَعُ مُدْبِرٌ وَلاَ يُذَفَّفُ عَلَى جَرِيحٍ، وَلاَ يُقْتَلُ أَسِيرٌ، وَمَنْ أَغْلَقَ بَابًا آمِنَ، وَمَنْ أَلْقَى سِلاَحَهُ فَهُوَ آمِنٌ، وَلَمْ يَأْخُذْ مِنْ مَتَاعِهِمْ شَيْئًا‏.‏  artinya, “Jangan memburu mereka yang sudah lari dalam perang, jangan menganiaya orang yang sudah luka, jangan membunuh yang sudah menyerah dan tertawan, mereka yang menutup pintu kemahnya dilindungi, mereka yang meletakkan senjatanya (menyerah) harus dilindungi, jangan mengambil barang-barang dari mereka.”

[4] Al-Kamil fit Tarikh karya Ibnu al-Atsir: كُفُّوا فَلَا شَيْءَ، وَكَانَ مِنْ رَأْيِهِمْ جَمِيعًا فِي تِلْكَ الْفِتْنَةِ أَلَّا يَقْتَتِلُوا حَتَّى يَبْدَأُوا، يَطْلُبُونَ بِذَلِكَ الْحُجَّةَ، وَأَنْ لَا يَقْتُلُوا مُدْبِرًا وَلَا يُجْهِزُوا عَلَى جَرِيحٍ، وَلَا يَسْتَحِلُّوا سَلَبًا، وَلَا يَرْزَأُوا بِالْبَصْرَةِ سِلَاحًا وَلَا ثِيَابًا وَلَا مَتَاعًا .

[5] Al-Kamil fit Tarikh, Vol. 3, p. 243, by ‘Izzuddin Abul Hasan Ali bin Abul Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid Ash-Syaibani, dikenal dengan Ibnu al-Atsir, publisher Daru Sadir, Dar Beirut, terbitan tahun AH 1385, AD 1965.

[6] Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsani (ra) dalam buku Khilafah Rasyidah.

[7] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), tahun ke-36 Hijriyyah atau 656 Masehi (سنة ست وثلاثين), bab (منزول أَمِير الْمُؤْمِنِينَ ذا قار).

[8] al-Kaamil fit Tarikh (الكامل في التاريخ) karya Ibnul Atsir (ابن الأثير), bahasan perjalanan ‘Ali ke Bashrah dan peristiwa yang terjadi (ذكر مَسِيرِ عَلِيٍّ إِلَى الْبَصْرَةِ وَالْوَقْعَةِ). Nihaayatul Arab fii Funuunil Adab (نهاية الأرب في فنون الأدب‏ – ج٢٠) karya Ahmad bin ‘Abdul Wahhaab an-Nuwairi (أحمد بن عبد الوهاب النويري).

[9] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), bahasan kejadian yang terjadi pada tahun ke-36 Hijriyyah atau 656 Masehi (سنة ست وثلاثين), bab (منزول أَمِير الْمُؤْمِنِينَ ذا قار) menceritakan pidato ibn Sauda (ابْنُ السَّوْدَاءِ)’ atau Abdullah bin Saba’, tokoh pemberontakan dan pembunuhan Khalifah ‘Utsman (ra) di hadapan para pimpinan 2.500 komplotannya: يَا قَوْمُ، إِنَّ عِزَّكُمْ فِي خُلْطَةِ النَّاسِ، فَصَانِعُوهُمْ، وَإِذَا الْتَقَى النَّاسُ غَدًا فَأَنْشِبُوا الْقِتَالَ، وَلا تُفَرِّغُوهُمْ لِلنَّظَرِ، فَإِذَا مَنْ أَنْتُمْ مَعَهُ لا يَجِدُ بُدًّا مِنْ أَنْ يَمْتَنِعَ، ويشغل اللَّهُ عَلِيًّا وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ وَمَنْ رَأَى رَأْيَهُمْ عَمَّا تَكْرَهُونَ فَأَبْصِرُوا الرَّأْيَ، وَتَفَرَّقُوا عَلَيْهِ وَالنَّاسُ لا يَشْعُرُونَ. “Wahai kaum, sesungguhnya kewibawaan kalian adalah di dalam pembauran dengan orang-orang. Jika mereka saling berhadapan, kobarkanlah peperangan dan pembunuhan di antara mereka serta jangan biarkan mereka bersatu. Bersama siapa pun kalian, janganlah berusaha untuk mencegah. Semoga Allah menyibukkan ‘Ali, Thalhah dan Zubair serta orang yang bersama mereka dari hal yang tidak diinginkan (perang) dengan mendatangkan apa-apa yang mereka benci (perang). Maka perhatikanlah pendapat ini, kemudian berpisahlah kalian.” Disebutkan hal serupa juga dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah 7/265-266 karya al-Hafizh Ibnu Katsir.

[10] Taarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), bahasan tahun 36 Hijriyyah (سنة ست وثلاثين), bab kedatangan ‘Ali ke perkemahan dari Bashrah (نُزُولُ عَلِيٍّ الزَّاوِيَةَ مِنَ الْبَصْرَةِ). Tercantum juga dalam Taarikh Ibnu Khaldun (تاريخ ابن خلدون 1-7 المسمى كتاب العبر وديوان المبتدأ والخبر ج2) karya ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Hadhrami Ibnu Khaldun (عبد الرحمن بن محمد الحضرمي/ابن خلدون); Imta’ul Asma (إمتاع الأسماع بما للنبي (ص) من الأحوال والأموال والحفدة والمتاع 1-15 ج13) karya al-Maqrizi (أبي العباس تقي الدين أحمد بن علي/المقريز); al-Kaamil fit Taarikh karya Ibnul Atsir.

[11] Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), bab kembalinya Zubair dari perang Jamal (رُجُوعُ الزُّبَيْرِ عَنْ مَعْرَكَةِ الْجَمَلِ): أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ كُنْتُ أَنَا وَأَنْتَ فِي سَقِيفَةِ قَوْمٍ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ لَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ‏:‏ ‏”‏ أَتُحِبُّهُ‏؟‏ ‏”‏ فَقُلْتَ‏:‏ وَمَا يَمْنَعُنِي‏؟‏ قَالَ‏:‏ ‏”‏ أَمَا إِنَّكَ سَتَخْرُجُ عَلَيْهِ وَتُقَاتِلُهُ وَأَنْتَ ظَالِمٌ ‏”; Siyaar A’lamin Nubala (سير أعلام النبلاء): عَنِ الأَسْوَدِ بنِ قَيْسٍ، حَدَّثَنِي مَنْ رَأَى الزُّبَيْرَ يَقْتَفِي آثَارَ الخَيْلِ قَعْصاً بِالرُّمْحِ، فَنَادَاهُ عَلِيٌّ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ! َأَقْبَلَ عَلَيْهِ حَتَّى الْتَفَّتْ أَعْنَاقُ دَوَابِّهِمَا، فَقَالَ: أَنْشُدُكَ بِاللهِ، أَتَذْكُرُ يَوْمَ كُنْتُ أُنَاجِيْكَ، فَأَتَانَا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ: (تُنَاجِيْهِ! فَوَاللهِ لَيُقَاتِلَنَّكَ وَهُوَ لَكَ ظَالِمٌ) .

[12] Taarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), bahasan tahun 36 Hijriyyah (سنة ست وثلاثين), bab kedatangan ‘Ali ke Bashrah (نُزُولُ عَلِيٍّ الزَّاوِيَةَ مِنَ الْبَصْرَةِ): mengutip perkataan Hadhrat Zubair (ra), اللَّهُمَّ نَعَمْ، وَلَوْ ذَكَرْتُ مَا سِرْتُ مَسِيرِي هَذَا، وَاللَّهِ لا أُقَاتِلُكَ أَبَدًا “Andai saya ingat sabda beliau (saw) takkan mungkin saya kemari. Demi Allah, saya tidak akan pernah lagi memerangi Anda.”; Tarikh Islam (تاريخ الإسلام – ج 3 – عهد الخلفاء الراشدين – 11 – 40); Muruuj adz-Dzahb karya Al-Mas’udi (المسعودي مروج الذهب ومعادن الجوهر 1 / 652 (بيروت 1982)); Al-Imamah wa Ahlul Bait (الإمامة وأهل البيت – محمد بيومي مهران – ج ٢ – الصفحة ٢٩٩).

[13] Al-Kaamil fit Taarikh karya Ibnu al-Atsir.

[14] Al-Kaamil fit Taarikh karya Ibnu al-Atsir.

[15] Anwar-e-Khilafat, Anwar-ul-Ulum (انوار العلوم), Vol. 3, pp. 198-201.

[16] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري تاريخ الرسل والملوك وصلة تاريخ الطبري), bahasan mengenai persiapan untuk ‘Aisyah berangkat dari Bashrah (تجهيز على ع عَائِشَة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مِنَ الْبَصْرَةِ): وجهز على عائشة بِكُلِّ شَيْءٍ يَنْبَغِي لَهَا مِنْ مَرْكَبٍ أَوْ زَادٍ أَوْ مَتَاعٍ، وَأَخْرَجَ مَعَهَا كُلَّ مَنْ نَجَا مِمَّنْ خَرَجَ مَعَهَا إِلا مَنْ أَحَبَّ الْمُقَامَ، وَاخْتَارَ لَهَا أَرْبَعِينَ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْبَصْرَةِ الْمَعْرُوفَاتِ، وَقَالَ: تَجَهَّزْ يَا مُحَمَّدُ، فَبَلِّغْهَا، فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الَّذِي تَرْتَحِلُ فِيهِ، جَاءَهَا حَتَّى وَقَفَ لَهَا، وَحَضَرَ النَّاسُ، فَخَرَجَتْ عَلَى النَّاسِ وَوَدَّعُوهَا وَوَدَّعَتْهُمْ، وَقَالَتْ …. وَخَرَجَتْ يَوْمَ السَّبْتِ لِغُرَّةِ رَجَبَ سَنَةً سِتٍّ وَثَلاثِينَ، وَشَيَّعَهَا عَلِيٌّ أَمْيَالا، وَسَرَّحَ بَنِيهِ مَعَهَا يَوْمًا .

[17] Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), bab Thalhah mengundurkan diri pergi dari peperangan Jamal (انْصِرَافُ طَلْحَةَ عَنْ مَعْرَكَةِ الْجَمَلِ) hal mana terjadi setelah Hadhrat ‘Ali (ra) mengingatkan sebuah sabda Nabi Muhammad (saw) yang menyebutkan Nabi (saw) beserta ‘Ali dan berada di pihak ‘Ali bila ada pihak lain yang menentangnya. Ketika ‘Ali menanya kenapa Thalhah datang disertai pasukan dan siap berperang melawannya, Thalhah menjawab telah lupa sabda itu lalu beliau pergi dari medan perang. : 5647- ثَنَا رِفَاعَةُ بْنُ إِيَاسٍ الضَّبِّيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ‏:‏ كُنَّا مَعَ عَلِيٍّ يَوْمَ الْجَمَلِ، فَبَعَثَ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنِ الْقَنِي فَأَتَاهُ طَلْحَةُ، فَقَالَ‏:‏ نَشَدْتُكَ اللَّهَ، هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ‏؟‏ يَقُولُ‏:‏ ‏”‏ مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ، اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَلَاهُ، وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ ‏”‏‏؟‏ قَالَ‏:‏ نَعَمْ، قَالَ‏:‏ فَلِمَ تُقَاتِلُنِي‏؟‏ قَالَ‏:‏ لَمْ أَذَكُرْ، قَالَ‏:‏ فَانْصَرَفَ طَلْحَةُ‏.‏; hal serupa tercantum dalam Kitab Muruuj adz-Dzahb (مروج الذهب) karya Al-Mas’udi (أبو الحسن على بن الحسين بن على المسعودي): ثم نادى علي رضي الله عنه طلحَةَ حين رجع الزبير: يا أبا محمد، ما الذي أخرجك؟ قال: الطلب بدم عثمان، قال علي: قتل اللهّ أولانا بدم عثمان، أما سمعت رسول اللّه صلى الله عليه وسلم يقول: ” اللهم وال من والاه، وعاد من عاداه ” وأنت أولُ من بايعني ثم نكثت، وقد قال اللهّ عز وجل: ” ومن نكث فإنما ينكث على نفسه ” فقال: أستغفر اللّه، ثم رجع

[18] Sebuah kaum akan meraih masa depan penuh kehormatan bila mana ikut serta dalam pengorbanan harta dan jiwa (آئندہ وہی قومیں عزت پائیں گی جو مالی و جانی قربانیوں میں حصہ لیں گی) Ainda wohiy qaume izzat payen ge jo maali aur jaani qurabinio main hissa lein gi, Anwar-ul-Ulum Vol. 21, h 149-151.

[19] Sejak awal, Hadhrat ‘Ali (ra) ingin hakam dari pihak beliau ialah Abdullah bin ‘Abbas, namun ditentang oleh para Qurra’ yang ingin Abu Musa al-‘Asy’ari. Amru bin al-‘Ash dari pihak Mu’awiyyah ialah seorang berpengalaman dalam berunding, bahkan dengan pihak Romawi.

[20] Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsani (ra) dalam buku Khilafah Rasyidah. Kutipan kalimat berbahasa Arab ucapan kaum Khawarij tercantum dalam Al-Kamil fit Tarikh, bahasan (ذكر خَبَرِ الْخَوَارِجِ عِنْدَ تَوْجِيهِ الْحَكَمَيْنِ وَخَبَرِ يَوْمِ النَّهْرِ) Vol. 3, p. 335, by ‘Izzuddin Abul Hasan Ali bin Abul Karam Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid Ash-shibani, known as Ibnu al-Atsir, publisher Daru Sadir, Dar Beirut, AH 1385, AD 1965. Hadhrat ‘Ali (ra) berkomentar mengenai, كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ yang artinya, “Kalimatnya benar namun pengucapnya menghendaki kebatilan.”

[21] Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين نویسنده : الحاكم، أبو عبد الله  جلد : 3 صفحه : 129), nomor 4611. Ansabul Asyraaf (انساب الاشراف للبلاذري نویسنده : البلاذري  جلد : 1 صفحه : 430): قد دفعته إليك وهو أعز عَليّ من نفسي، فليشهد مشاهدك حَتَّى يقضي الله ما هُوَ قاض، فلولا مخالفة رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لخرجت معك كما خرجت عائشة مع طلحة والزبير . Kitab al-Futuh (كتاب الفتوح – أحمد بن أعثم الكوفي – ج ٢ – الصفحة ٤٥٥) menyebutkan bahwa riwayat-riwayat yang menceritakan komunikasi Hadhrat ‘Ali (ra) dengan Hadhrat Ummu Salamah (ra) istri Nabi Muhammad (saw) di masa menjelang perang Jamal ada beberapa macam: (1) lewat surat-menyurat karena sebagian riwayat menyebut kala itu Hadhrat Ummu Salamah (ra) tengah di Makkah: (2) lewat langsung karena saat itu beliau (ra) tengah di Madinah sekaligus Hadhrat ‘Ali (ra) berpamitan untuk ke Bashrah. Riwayat perdebatan antara Hadhrat Ummu Salamah dan ‘Aisyah menjelang perjalanan ‘Aisyah ke Bashrah juga cukup dikenal dalam sejarah. Di tengah perjalanan bersama rombongannya, Hadhrat ‘Aisyah (ra) sudah menyadari kesalahannya dan minta pulang ketika sampai di Hauab dan mendengar suara lolongan anjing. Namun, anggota rombongannya berkata bahwa tempat itu bukan Hauab. Menurut ath-Thabaqaat al-Kubra, Hadhrat Ummu Salamah (ra) mempunyai dua putra dan dua putri dari pernikahan sebelumnya dengan Hadhrat Abu Salamah (ra). Mereka ialah Salamah bin Abu Salamah dan ‘Amru atau ‘Umar bin Abu Salamah. Putri-putrinya ialah Durrah dan Zainab. Salamah dan Umar berumur panjang. ‘Umar yang juga mengikut Hadhrat ‘Ali (ra) ke Bashrah beberapa kali menjadi Amir (gubernur) di wilayah bawahan Khalifah ‘Ali seperti di Bahrain dan Faris (sebuah daerah setingkat provinsi di Persia).

[22] Tadzkirah, halaman 363, edisi IV, terbitan Rabwah.

[23] Sunan Abi Daud, kitab tentang Shalat, bab tentang doa yang sebaiknya dipanjatkan jika cemas akan kejahatan suatu kaum, hadits nomor 1537. Riwayat Hadits menceritakan, Rasulullah (saw) biasa membaca doa ini saat merasakan bahaya dari sekelompok orang. Makna doa tersebut sebagai berikut: “Ya Allah! Perangilah mereka sedemikian rupa sehingga mata rantai kehidupan mereka terhenti dan kami selamat dari kejahatan mereka. Hanya Engkau-lah Penghancur kekuatan orang-orang jahat, para pencipta kerusuhan dan orang-orang yang aniaya. Maka, hentikanlah mereka dan kami memohon perlindungan kepada Engkau dari kejahatan mereka.”

(Visited 224 times, 1 visits today)