https://ahmadiyah.id/wp-content/uploads/2021/05/services-head-1.png

Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 4) – Kesetiaan pada Para Khalifah Pendahulu

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 98)

Pembahasan lanjutan mengenai salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

  • Hari-hari terakhir kehidupan Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan peranan pengkhidmatan Hadhrat ‘Ali (ra) dalam mendampingi beliau (saw) menjelang kewafatan.
  • Kewafatan Nabi (saw) dan terpilihnya Hadhrat Abu Bakr (ra) sebagai Khalifah.
  • Berbagai riwayat berbeda mengenai baiatnya Hadhrat ‘Ali (ra) kepada Khalifah Abu Bakr (ra).
  • Pendapat Hadhrat Masih Mau’ud (as) tentang kaum Syi’ah yang berpandangan tiga Khalifah Rasyidin (Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat ‘Umar dan Hadhrat ‘Utsman) tidak berhak menjadi Khalifah dan yang berhak dan tepat menjadi Khalifah ialah Hadhrat ‘Ali, radhiyallahu ‘anhum.
  • Kesetiaan, pengkhidmatan dan ketulusan Hadhrat ‘Ali (ra) dalam menyertai tiga Khalifah Rasyidin, Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat ‘Umar (ra) dan Hadhrat ‘Utsman (ra).
  • Perbedaan pandangan antara Hadhrat ‘Ali (ra) dengan Khalifah ‘Utsman (ra) dalam menangani kaum pemberontak yang sudah melampaui batas
  • Kelicikan luar biasa kaum perusuh

Baca Juga:
– Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 1)
– Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 2)
– Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 3)

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 18 Desember 2020 (Fatah 1399 Hijriyah Syamsiyah/03 Jumadil Awwal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Riwayat tentang Hadhrat ‘Ali (ra) masih berlanjut. Menyinggung tentang pengkhidmatan beliau pada saat akhir-akhir Rasulullah (saw) sakit terdapat riwayat dalam Bukhari sebagai berikut. Ubaidullah bin Abdullah mengungkapkan bahwa Hadhrat Aisyah (ra) bersabda, Ketika Nabi (saw) sakit dan penyakit beliau bertambah parah maka beliau (saw) memohon izin kepada istri-istri beliau (saw) yang lainnya supaya beliau (saw) dirawat di rumah saya (Hadhrat Aisyah). Mereka pun mengizinkan beliau (ra). Rasulullah (saw) keluar rumah dengan dipapah oleh dua orang pria. Kedua kaki beliau pun terseret di tanah. Beliau berada di antara Hadhrat Abbas dan seorang laki-laki lain.”

Artinya, beliau (saw) telah berada di rumah Hadhrat Aisyah tatkala demi pergi ke masjid dua orang laki-laki memapah beliau (saw) dari sana.

Hadhrat Ubaidullah berkata, “Saya memberitahukan kepada putra Hadhrat Abbas yaitu ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas mengenai yang Hadhrat Aisyah katakan, maka beliau (Ibnu ‘Abbas) berkata, ‘Apakah Anda tahu siapa laki-laki yang namanya tidak disebutkan oleh Hadhrat Aisyah.’

Saya berkata, ‘Tidak! Satu orang adalah Hadhrat Abbas yang namanya disebutkan Hadhrat Aisyah dan seorang lagi tidak disebutkan namanya.”

Beliau (Hadhrat Ibnu ‘Abbas) berkata, ‘Dia adalah Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib.’”[1]

Hadhrat Abdullah bin Abbas (ra) menjelaskan, “Semasa Rasulullah (saw) sakit ini – dari tempat Rasulullah (saw) wafat – ketika Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib keluar, orang-orang bertanya, ‘Wahai Ayahnya Hasan, bagaimana keadaan Rasullah (saw) hari ini?’

Beliau menjawab, ‘Dengan pujian kepada Allah. Pagi ini keadaan beliau baik.’

Berkenaan dengan ini Hadhrat Abbas bin Abdul Muthalib meraih tangan Hadhrat ‘Ali dan berkata, ‘Demi Allah! Tiga hari kemudian kamu akan menjadi pengikut orang lain, karena demi Allah, saya melihat Rasulullah (saw) akan segera wafat disebabkan penyakit beliau, karena saya sangat mengetahui tanda-tanda menjelang kewafatan pada raut wajah keturunan Abdul Muththalib. Ayolah, kita pergi menjumpai Rasulullah (saw) dan bertanya kepada beliau bahwa kepada siapa jabatan Khilafat akan diberikan? Jika diserahkan kepada salah satu di antara kita (yaitu keluarga besar Nabi saw) maka kita akan mengetahuinya dan jika kepada selain kita maka juga akan mengetahuinya dan beliau akan memberi wasiat (nasehat-nasehat) berkenaan dengan ini kepada kita.’

Hadhrat ‘Ali (ra) berkata, “Demi Allah! Kalau kita menanyakan persoalan ini kepada Rasulullah (saw) dan beliau tidak memberikan kehormatan ini kepada kita maka setelah kewafatan beliau (saw), selamanya orang-orang tidak akan memberikannya kepada kita. Demi Allah, saya tidak akan menanyakan persoalan ini kepada Rasulullah (saw) selamanya.’” Ini pun adalah riwayat Bukhari.[2]

Kalimat bahasa Arab untuk ini [ungkapan ‘Abbas kepada ‘Ali] dalam Shahih al-Bukhari adalah أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ الثَّلاَثِ عَبْدُ الْعَصَا – “Demi Allah, engkau (‘Ali) dalam tiga hari menjadi hamba tongkat (dalam keadaan menjadi pengikut orang kuat lainnya). Mengenai hal ini, Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Sahib menulis catatan dalam kitabnya, “Ini digunakan sebagai kinayah (metafora) untuk orang yang akan menjadi pengikut orang lain setelah Rasulullah (saw) yang maksudnya adalah Rasulullah (saw) akan wafat setelah tiga hari.”

Dari Hadhrat Amir meriwayatkan, “Setelah kewafatan Nabi yang mulia (saw), Hadhrat ‘Ali, Hadhrat al-Fadhl bin ‘Abbas dan Hadhrat Usamah bin Zaid memandikan jenazah penuh berkah Rasulullah (saw) dan mereka jugalah yang menurunkan beliau (saw) ke dalam liang lahat.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Hadhrat Abdur Rahman bin Auf ikut serta menurunkan jenazah Rasulullah (saw).”[3]

Berkenaan dengan baiatnya Hadhrat ‘Ali kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) terdapat beberapa riwayat yang berbeda. Sebagian riwayat menuliskan mengenai Hadhrat ‘Ali (ra) dengan penuh keridhaan segera baiat kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) sedangkan sebagian riwayat lain menulis yang bertentangan.

Begitu juga diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Sa’id Khudri, “Ketika kaum Muhajirin dan kaum Anshar telah mengambil bai’at Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Abu Bakr naik ke atas mimbar dan melihat ke arah orang-orang. Beliau tidak menjumpai Hadhrat ‘Ali di antara mereka. Hadhrat Abu Bakr bertanya perihal Hadhrat ‘Ali. Kemudian beberapa orang dari kaum Anshar pun mencari dan membawa Hadhrat ‘Ali ke tempat itu. Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Wahai putra paman Rasulullah (saw).” Hadhrat Abu Bakr berbicara ditujukan kepada Hadhrat ‘Ali, beliau bersabda, ‘Wahai putra paman Rasulullah (saw) dan menantu beliau (saw)! Apakah Anda ingin menghancurkan tongkat (persatuan dan kekuatan) kaum Muslimin?’

Hadhrat ‘Ali (ra) mengatakan, ‘Wahai Khalifah Rasulullah (saw) janganlah mencerca (menegur) saya perihal ini.’ فَبَايَعَاهُ Kemudian beliau (Hadhrat ‘Ali) berbaiat kepada beliau (Hadhrat Abu Bakr).”[4]

Terdapat dalam Tarikh ath-Thabari riwayat dari Habib bin Abu Tsabit “Pada saat itu Hadhrat ‘Ali berada di rumahnya ketika seorang laki-laki datang kepada beliau dan mengatakan kepada beliau bahwa silahkan pergi untuk bai’at kepada Hadhrat Abu Bakr. Pada saat itu Hadhrat ‘Ali hanya memakai qamis (pakaian jenis jubah atau kemeja gaya Arab), dalam keadaan seperti demikian beliau segera keluar, beliau juga tidak mengenakan izar (pakaian tidak berjahit bagian bawah) bahkan tidak mengenakan rida’ (pakaian bagian atas atau kain yang diselendangkan dan bisa menjadi sorban), karena beliau tidak suka jika berlambat-lambat. Beliau pun berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakr dan duduk di samping Hadhrat Abu Bakr. Setelah itu, beliau memintakan pakaiannya dan menenakannya, kemudian duduk bersama dalam majelis Hadhrat Abu Bakr.”[5]

Allamah Ibnu Katsir mengatakan, “Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib telah berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) pada hari pertama atau hari kedua setelah Rasulullah (saw) wafat. Inilah kebenarannya, bahwa Hadhrat ‘Ali tidak pernah meninggalkan Hadhrat Abu Bakr dan beliau juga tidak pernah meninggalkan shalat berjamaah di belakang Hadhrat Abu Bakr.”[6]

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) tentang Hadhrat ‘Ali (ra) bersabda, “Hadhrat ‘Ali karamahullahu wajhahu pada awalnya menahan diri untuk baiat kepada Hadhrat Abu Bakr namun kemudian setelah pulang ke rumah, hanya Tuhan yang tahu apa yang beliau pikirkan, sehingga beliau bergegas datang berbai’at tanpa memakai sorban dan hanya mengenakan kain penutup kepala seadanya, setelah itu baru meminta orang mengambilkan sorban beliau. Ternyata mungkin timbul pemikiran di benak beliau bahwa sikap demikian merupakan dosa besar yang membuat beliau dengan tergesa-gesa sehingga sorban pun tidak sempat beliau kenakan yakni pakaian belum seutuhnya dikenakan, beliau segera pergi.”[7]

Di dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Hadhrat ‘Ali bai’at kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) setelah kewafatan Hadhrat Fathimah sebagaimana tercantum di dalam Shahih al-Bukhari bahwa sampai wafat Hadhrat Fathimah pun Hadhrat ‘Ali tidak berbai’at.[8] Akan tetapi, banyak sekali ulama yang menyampaikan berbagai pendapat mengenai riwayat ini.

Imam al-Baihaqi dalam karyanya Sunan Al-Kubra membuat penilaian terhadap riwayat dari Imam Syihabuddin az-Zuhri yang mengutarakan bahwa Hadhrat ‘Ali tidak berbai’at kepada Hadhrat Abu Bakr hingga wafatnya Hadhrat Fathimah.[9] Beliau menyebutkan yang terjemahannya, “Keterangan Imam Zuhri bahwa yang menyatakan bahwa tertahannya Hadhrat ‘Ali untuk baiat kepada Hadhrat Abu Bakr sampai kewafatan Hadhrat Fathimah adalah munqathi’ (terputusnya mata rantai perawi narasi tersebut).

Riwayat Hadhrat Abu Sa’id al-Khudri lebih shahih, yang di dalamnya disebutkan bahwa Hadhrat ‘Ali berbai’at di tangan Hadhrat Abu Bakr (ra) pada bai’at ‘Aam yang terjadi setelah peristiwa Saqifah.”[10]

Sebagian ulama mendamaikan kedua riwayat tersebut (yaitu riwayat Hadhrat ‘Ali (ra) yang segera baiat dan riwayat baiat enam bulan kemudian yang ada dalam Bukhari) dengan menerima dua baiat itu terjadi dan menamai baiat kedua Hadhrat ‘Ali (ra) dengan istilah tajdid baiat yaitu pembaharuan baiat. Kemungkinan para ulama ini menganggap bahwa dengan mempertimbangkan keutamaan kitab Bukhari dan riwayat tersebut tercantum di dalamnya sehingga pasti itu punya nilai penting sehingga mereka merasa perlu untuk menamai baiat Hadhrat ‘Ali yang kedua ini dengan nama lain. Bagaimana pun, tidaklah mesti semua riwayat dari Bukhari itu benar sepenuhnya.

Doktor ‘Ali Muhammad Salabi dalam bukunya berjudul Seerat Amirul Mukminin ‘Ali Bin Abi Thalib Sakhsiyyatuhu wa atsruhuu menulis,  “Allamah Ibnu Katsir dan masih banyak lagi ulama lainnya beranggapan bahwa 6 (enam) bulan kemudian yakni setelah wafatnya Hadhrat Hadhrat Fathimah, Hadhrat ‘Ali memperbarui baiatnya.”

Para ulama itu mengistilahkan kejadian dengan pembaharuan baiat (tajdid baiat). Memang pada awalnya beliau telah baiat, namun setelah kewafatan Hadhrat Fathimah, beliau memperbarui baiatnya. Karena itu, baiat ini disebut baiat kedua.

Allamah Ibnu Katsir menulis, Ketika Fathimah wafat, Hadhrat ‘Ali menganggap sesuai untuk memperbarui lagi baiatnya kepada Hadhrat Abu Bakr…”[11]

Di dalam buku, Sirrul Khilafah (سرُّ الخلافة), sebuah buku berbahasa Arab dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, Hadhrat Masih Mauud as menulis berkenaan dengan tuduhan yang dilontarkan kepada Hadhrat Abu Bakr bahwa seharusnya Hadhrat ‘Ali-lah yang menjadi Khalifah. Beliau as bersabda, “Seandainya kita beranggapan Ash-Shiddiq Al-Akbar (ra) – maksudnya Hadhrat Abu Bakr – termasuk orang-orang yang mendahulukan duniawi dan gemerlapnya, gandrung dengan keduanya dan sebagai perampas kedudukan Khalifah, maka kita pun terpaksa harus menyatakan bahwa ‘Ali sang singa Tuhan pun termasuk orang yang munafik.”

(Na’udzubillah. Hadhrat Masih Mau’ud (as) sedang membicarakan orang-orang yang menuduh Hadhrat Abu Bakr (ra) dan mereka beranggapan Hadhrat ‘Ali seharusnya yang menjadi Khalifah.)

“…dan [jika benar pandangan demikian mka terpaksa kita berpandangan beliau (ra)]…bukan sebagaimana yang kita yakini beliau telah melepaskan diri dari urusan duniawi. Kita terpaksa pula harus mengakui Hadhrat ‘Ali (ra) bukan orang yang menambatkan kalbu pada Allah Ta’ala melainkan tergelincir dalam urusan duniawi dan perhiasannya serta termasuk sangat gandrung dengannya. Karena itu, beliau tidak melepaskan jalinan dengan orang-orang kafir yang murtad, bahkan seperti halnya para penjilat beliau bergabung dengan mereka dan beliau menempuh cara cara taqiyah lebih kurang selama 30 tahun.

Jika memang dalam pandangan Hadhrat ‘Ali, Hadhrat Siddiq Akbar (Abu Bakr) adalah seorang perampas, lantas kenapa Hadhrat ‘Ali setuju untuk baiat kepada Hadhrat Abu Bakr dan kenapa juga Hadhrat ‘Ali tidak meninggalkan negeri yang penuh kezaliman, cobaan dan kemurtadan semacam itu lalu hijrah ke negeri yang lain? Bukanlah bumi Allah itu luas sehingga dapat berhijrah ke tempat lain sebagaimana yang telah disunnahkan oleh orang-orang muttaqi?

Lihatlah Ibrahim as yang setia! Beliau telah memberikan kesaksian akan suatu kebenaran dengan tegas dan penuh kekuatan. Ketika beliau melihat bahwasanya ayahanda beliau telah tersesat dan melenceng dari jalan kebenaran dan beliau (as) telah melihat kaum beliau menyembah berhala-berhala dan meninggalkan Tuhan Yang Maha Tinggi, kemudian beliau berpaling dari mereka dan beliau tidak merasa takut dan khawatir walau harus dimasukkan ke dalam bara api dan menderita karena itu. Hadhrat Ibrahim (as) tidak lantas bertaqiyyah karena takut akan kejahatan yang dapat menimpanya. Seperti itulah peri kehidupan orang-orang yang benar, mereka tidak merasa takut ketika harus menghadapi pedang maupun tombak. Mereka justru menganggap cara-cara taqiyyah termasuk dosa-dosa besar, melampaui batas dan sikap tidak punya malu. Jika anggap saja, beliau telah melakukan perbuatan hina tersebut walaupun sedikit saja, maka beliau akan beristighfar dan taubat kepada Allah Ta’ala.

Sungguh mengherankan, meskipun (menurut kaum Syi’ah) Hadhrat ‘Ali mengetahui bahwa Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar adalah kafir dan merampas hak-hak, namun kenapa Hadhrat ‘Ali tetap baiat kepada mereka berdua? Kenyataannya, Hadhrat ‘Ali senantiasa menyertai beliau-beliau sampai masa yang lama dan menjadi pengikut mereka yang tulus dan setia. Dalam kepengikutannya itu, Hadhrat ‘Ali tidak memperlihatkan kelemahan dan tidak juga memperlihatkan keengganan. Hadhrat ‘Ali pun tidak merasa terhalangi oleh sebab-sebab lainnya dan tidak juga ketakwaan dan keimanan beliau terhalang karenanya, padahal beliau mengetahui kerusakan, kekufuran dan kemurtadan beliau beliau (Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar). Selain itu tetap terjalin hubungan baik antara Hadhrat ‘Ali dan bangsa Arab, tidak ada tabir penghalang dan tidak juga beliau terkungkung. Dalam keadaan demikian, sudah sepatutnya bagi Hadhrat ‘Ali untuk hijrah ke daerah Arab lainnya, ke bagian timur maupun barat, bahkan tidak hanya hijrah, beliau pun bisa menggerakkan orang-orang untuk memerangi mereka. Hadhrat ‘Ali dapat juga membangkitkan semangat orang-orang Arab untuk bertempur lalu menundukkan mereka dengan ucapan-ucapan beliau yang fasih, kemudian memerangi orang-orang yang dianggap telah murtad itu.

Di sekitar Musailamah Al-kadzdzāb telah berkumpul sekitar seratus ribu orang Arab. Padahal Hadhrat ‘Ali lah yang lebih berhak untuk mendapatkan bantuan itu dan lebih sesuai untuk misi tersebut, lantas kenapa Hadhrat ‘Ali malah mengikuti orang-orang (para khalifah sebelum Hadhrat ‘Ali) yang kalian tuduh kafir. Hadhrat ‘Ali memiliki kekuatan, namun mengapa beliau bertindak masa bodoh layaknya para pemalas? Kenapa beliau tidak bangkit layaknya para mujahid? Alasan apa yang menahan beliau untuk bangkit padahal segenap tanda-tanda kemenangan dan kesuksesan telah tampak. Kenapa beliau tidak bangkit berjuang untuk membela dan menyeru orang-orang kepada kebenaran?

Bukankah beliau seorang penasihat paling fasih dalam kaum dan termasuk diantara orang-orang yang dapat menghidupkan ruhani. Menarik simpati orang-orang dengan kekuatan lisan yang baik dan daya pengaruh, bagi beliau hanya membutuhkan waktu satu jam saja bahkan lebih kurang lagi dari itu. Jika seorang dajjal pendusta saja dapat mengumpulkan orang-orang di sekelilingnya, apalagi sang singa Allah seyogyanya lebih hebat lagi dari itu, karena beliau mendapatkan dukungan dari Tuhan yang Maha Kuasa untuk melakukan hal hal yang besar dan merupakan kekasih Allah Ta’ala.

Terkait:   Riwayat 'Ali bin Abi Thalib (radhiyAllahu ta’ala ‘anhu)

Yang paling mengherankan adalah, beliau tidak mencukupkan dengan hanya baiat saja, bahkan beliau bermakmum dalam setiap shalat fardhu di belakang kedua syeikh tersebut yakni Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar dan tidak pernah absen darinya dan tidak pula beliau (ra) berpaling dari keduanya seperti halnya orang yang ragu-ragu. Beliau (ra) biasa hadir dalam musyawarah dengan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Umar (ra), membenarkan pendapat-pendapat mereka serta menolong mereka dengan segenap kemampuan dan kesungguhan. Tidak pernah memisahkan diri.

Silahkan renungkan dan jawab, apakah perbuatan demikian merupakan ciri-ciri orang yang aniaya dan mengkafirkan sesama Muslim? Lihatlah pula, bagaimana mungkin Hadhrat ‘Ali Asadullah (ra) tetap mengikuti para pendusta walaupun beliau mengetahui kedustaan dan iftiranya (mengada-ada kedustaan). Dengan kata lain dalam pandangan para penuduh ini, kebenaran dan kedustaan adalah sama saja. Apakah Hadhrat ‘Ali tidak mengetahui bahwa orang-orang yang bertawakkal kepada zat yang maha Kuasa dan Maha kuat tidak akan mengutamakan cara-cara kemunafikan walaupun sekejap saja. Sekalipun sebagai akibatnya mereka terpaksa harus dibakar demi kebenaran atau dibinasakan atau juga diiris-iris.”[12]

Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menjelaskan secara gamblang bahwa Hadhrat ‘Ali tidak pernah menentang Para Khalifah sebelum beliau, melainkan baiat kepada mereka. Adapun tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang itu kepada Hadhrat ‘Ali bahwa Hadhrat ‘Ali tidak baiat kepada Hadhrat Abu Bakr, justru tuduhan tersebut merendahkan maqam (kedudukan) Hadhrat ‘Ali bukan meninggikan.

Apa saja pengkhidmatan Hadhrat ‘Ali pada masa ketiga Khalifah sebelumnya? Ketika Rasulullah (saw) wafat, banyak sekali kabilah Arab yang murtad, begitu pun orang-orang munafiq mulai berbuat ulah di Madinah. Banyak sekali orang dari antara Banu Hanifah (بَنُو حَنِيفَةَ) dan orang-orang Yamamah menggabungkan diri bersama Musailamah Kadzab. Sedangkan Kabilah Banu Asad (بَنُو أَسَد), Thayyi (طَيِّئ) dan banyak juga yang lainnya menggabungkan diri bersama dengan Tulaihah Asadi (طُلَيْحَةَ الْأَسَدِيِّ) yang mendakwakan diri sebagai Nabi seperti halnya Musailamah. Cobaan semakin bertambah dan keadaan sudah semakin genting. Ketika Hadhrat Abu Bakr mengutus lasykar Hadhrat Usamah [ke perbatasan dengan Romawi], tinggal sedikit orang yang tersisa bersama beliau. Melihat hal itu, mereka (yaitu para musuh) menghasut penduduk Arab Badui untuk menguasai Madinah lalu mereka membuat rencana untuk menyerang Madinah. Mengetahui hal itu Hadhrat Abu Bakr menetapkan para penjaga untuk menjaga berbagai jalan akses untuk memasuki Madinah. Mereka berjaga-jaga semalaman di sekitar Madinah bersama dengan pasukannya.

Yang memimpin penjagaan itu diantaranya adalah Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Abdullah, Sa’d bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf dan Abdullah bin Mas’ud. Yakni Hadhrat ‘Ali pada saat itu adalah bagian dari prajurit yang ditunjuk sebagai pengawas untuk menjaga. Setelah kewafatan Rasulullah (saw), ketika kabar menyebar maka sebagian besar kabilah Arab menjadi murtad dan mulai mengingkari dari pembayaran zakat. Hadhrat Abu Bakr (ra) pun bermaksud untuk memerangi mereka.[13]

Urwah menjelaskan bahwa Hadhrat Abu Bakr berangkat dari Madinah bersama para Muhajirin dan Anshar, dan ketika mereka sampai di sebuah danau yang berhadapan dengan tempat tinggi di Najd maka orang badui kabur dari sana bersama anak-anak mereka.”

Sebenarnya adalah di satu sisi mereka masih menyatakan diri sebagai Muslim dan tidak sepenuhnya menjadi murtad sementara di sisi lain mereka menolak untuk membayar zakat. Karena alasan itu, Hadhrat Abu Bakr (ra) memutuskan memerangi mereka dan bukan disebabkan kemurtadan mereka mendapatkan hukuman.

Ketika mereka berlarian, orang-orang mengatakan kepada Hadhrat Abu Bakr, ارجع إلى المدينة و إلى الذرية و النساء و أمر رجلا على الجيش “Ayo kita pulang ke Madinah dan kembali kepada anak dan istri, dan tunjuklah seorang dari antara para perajurit sebagai Amir.” Berdasarkan tekanan orang-orang maka beliau (ra) pun menunjuk Hadhrat Khalid bin Walid sebagai Amir para lasykar dan bersabda kepada beliau, إذا أسلموا و أعطوا الصدقة فمن شاء منكم أن يرجع فليرجع “Jika orang-orang itu masuk Islam dan memberikan zakat maka dari antara kalian yang ingin kembali pulang yakni datang dalam pembai’atan dan memberikan zakat maka bagi yang ingin datang kembali maka datanglah.” Setelah itu Hadhrat Abu Bakr kembali ke Madinah.[14]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Terbukti dari sejarah bahwa Hadhrat Umar, pada saat kekhilafatan beliau ketika melakukan perjalanan beliau menunjuk Hadhrat ‘Ali sebagai Amir menggantikan tempat beliau di Madinah. Sebagaimana dalam Tarikh ath-Thabari menulis bahwa pada kesempatan peristiwa Jisr, umat Muslim terpaksa menganggung kekalahan saat menghadapi tentara Iran lalu atas usulan orang orang, Hadhrat Umar bermaksud untuk ikut serta bersama dengan tentara Islam ke perbatasan lalu beliau menetapkan Hadhrat ‘Ali untuk menggantikan beliau sebagai Amir (Pemimpin) di Madinah.”

Hadhat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Kekalahan paling besar dan mengerikan yang pernah dialami oleh Islam adalah Perang Jisr. Dalam perlawanan melawan orang-orang Iran, para tentara Muslim yang terbaik yang pergi. Para prajurit Iran meletakkan barisan terdepannya di seberang sungai dan menunggu mereka. Para tentara Islam menyerang dengan semangat yang membara dan menerjang barisan depan, tetapi ini merupakan trik licik komandan Iran. Dia mengirim sebuah pasukan dari arah sayap yaitu dari samping dan mengepung tentara Islam di atas jembatan sehingga serangan baru pun mengarah kepada tentara Muslim. Dengan perlahan dan bijaksana tentara Muslim pun mundur akan tetapi mereka melihat bahwa musuh telah menguasai jembatan sehingga mereka panik dan ketika ke sisi yang lain maka musuh pun melancarkan serangan yang keji dan sebagian besar tentara Muslim pun terpaksa terjun ke sungai dan tercerai-berai. Itulah kerugian mengerikan kaum Muslim sampai mengguncang Madinah.

Hadhrat Umar (ra) pun mengumpulkan orang-orang Madinah dan bersabda, ‘Sekarang tidak ada lagi penghalang antara Madinah dan Iran. Madinah sudah benar-benar telanjang dan mungkin dalam beberapa hari, musuh pun akan sampai di sini. Oleh karena itu, saya sendiri yang akan menjadi komandan (Panglima Perang).’

Orang-orang lainnya memang setuju dengan usulan ini, namun Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Na’udzubuillah, kalau Anda nanti syahid maka kaum Muslim akan terpecah-belah dan silsilah (mata rantai) mereka akan terputus. Oleh karena itu, utuslah seorang yang lain, janganlah anda sendiri yang pergi.’

Hadhrat Umar (ra) kemudian menulis surat kepada Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash yang saat itu tengah sibuk berperang menghadapi bangsa Romawi di Syam untuk mengirimkan lasykar semampunya, karena pada saat itu Madinah sudah benar-benar kosong yang jika musuh tidak segera dihentikan maka mereka akan dapat menguasai Madinah.

Ketika terjadi pemberontakan dan perselisihan pada masa kekhalifahan Hadhrat ‘Utsman, Hadhrat ‘Ali memberikan masukan yang tulus kepada Hadhrat ‘Utsman guna mengatasi kegentingan itu. Suatu hari, Hadhrat ‘Utsman bertanya kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Bagaimana cara untuk mengetahui penyebab sebenarnya dan mengatasi kekacauan dan kegentingan yang terjadi?’

Hadhrat ‘Ali menjelaskan dengan sangat tulus dan tanpa beban, ‘Kegelisahan yang terjadi saat ini merupakan akibat dari semua ketidakadilan tuan.’

Hadhrat ‘Utsman bersabda: ‘Dalam memilih para Amil (Pejabat), saya telah mempertimbangkan sifat=sifat yang menjadi perhatian Hadhrat Umar, namun saya tidak dapat memahami apa yang menyebabkan penolakan mereka.’

Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Ya, memang benar. Namun Hadhrat Umar memenuhi semuanya dengan tangan beliau sendiri dan cengkeraman Hadhrat Umar begitu kuatnya sehingga unta paling liar di Arab sekalipun tak akan berdaya dibuatnya. Maksudnya, pengawasan yang dilakukan oleh beliau sangat ketat. Lain halnya dengan tuan (Hadhrat ‘Utsman), tuan telah bersikap sangat lembut lebih dari yang diperlukan kepada para Amil anda sehingga mereka menyalahgunakan kelembutan tersebut dan menempuh cara-cara sesukanya dan Anda tidak mengetahuinya. Rakyat beranggapan apa yang dilakukan oleh para Amil merupakan perintah dari lembaga Khilafat. Seperti itulah Anda terpaksa menjadi sasaran dari ketidakadilan ini.’”

Ketika penduduk Mesir mengepung kediaman Hadhrat ‘Utsman dan sudah semakin mencekam sehingga beliau diluputkan dari makanan dan minuman dan Hadhrat ‘Ali mengetahui hal itu, beliau pergi menemui para pengepung dan bersabda, “Pengepungan yang kalian lakukan ini tidak hanya bertentangan dengan ajaran Islam bahkan dengan kemanusiaan. Ketika kaum kuffar menawan pasukan Muslim, mereka tidak meluputkan para tawanan Muslim dari makanan. Lantas kerugian apa yang ditimpakan orang ini (Hadhrat ‘Utsman) sehingga kalian tega-teganya bersikap keras seperti ini?”

Namun para pengepung itu tidak mengindahkan saran Hadhrat ‘Ali dan sama sekali menolak untuk memberikan kemudahan dalam pengepungan tersebut. Karena kesal, Hadhrat ‘Ali melemparkan sorbannya lalu pulang.[15]

Hadhrat ‘Utsman (ra) lalu melihat dari ketinggian dan bersabda, أفيكم علي؟ “Apakah diantara kalian ada ‘Ali?”

Orang-orang menjawab, لا “Tidak ada.”

Beliau (ra) lalu bertanya lagi, أفيكم سعد؟ “Apakah ada Sa’d?”

Mereka menjawab, لا “Tidak ada.”

Setelah diam beberapa waktu, Hadhrat ‘Utsman bersabda,Apakah diantara kalian ada yang bisa pergi menyampaikan pesan kepada ‘Ali untuk memberikan air minum kepada kami?”

Hadhrat ‘Ali mengetahui kabar tersebut lalu mengirimkan tiga wadah kulit yang dipenuhi dengan air. Namun disebabkan oleh kejahatan para pemberontak, air tersebut tidak sampai ke rumah Hadhrat ‘Utsman, mereka tidak mengizinkan untuk mengirimkannya. Dalam upaya untuk mengirimkan wadah air tersebut, banyak sekali hamba sahaya Banu Hasyim dan Banu Umayyah yang terluka sehingga akhirnya air tersebut sampai kepada Hadhrat ‘Utsman.[16]

Ketika Hadhrat ‘Ali mengetahui bahwa ada rencana untuk membunuh Hadhrat ‘Utsman, lalu beliau bersabda kepada putra beliau, Hadhrat Imam Hasan dan Imam Husain, “Pergilah dengan membawa pedang dan berdirilah di pintu rumah Hadhrat ‘Utsman, awas jangan sampai ada seorang pemberontak pun yang dapat menyentuh beliau (Hadhrat ‘Utsman).” melihat hal itu, para pemberontak mulai melontarkan panah ke arah pintu rumah Hadhrat ‘Utsman yang mengakibatkan Hadhrat Hasan dan Muhammad bin Thalhah luka berdarah-darah.

Saat itu Muhammad Bin Abu Bakr (dia ikut bersama pemberontak) bersama dua orang kawannya secara sembunyi-sembunyi melompat dari rumah seorang Anshar ke rumah Hadhrat ‘Utsman lalu mensyahidkan Hadhrat ‘Utsman.

Ketika kabar ini sampai kepada Hadhrat ‘Ali, Hadhrat ‘Ali datang dan melihat bahwa memang benar Hadhrat ‘Utsman telah disyahidkan. Beliau bertanya kepada kedua putra beliau, “Bagaimana bisa Hadhrat ‘Utsman disyahidkan padahal kalian tengah berjaga?” Setelah mengatakan demikian, Hadhrat ‘Ali menampar Hadhrat Hasan dan memukul dada Hadhrat Husain lalu memaki-maki Muhammad Bin Thalhah dan Abdullah Bin Zubair lalu meninggalkan tempat itu dalam keadaan marah.[17]

Syidad Bin Aus (شداد بن أوس) meriwayatkan, “Ketika para pengepung rumah Hadhrat ‘Utsman semakin meningkatkan kekejamannya pada Yaumud Daar.” (Yaumud Daar merupakan hari ketika para pengacau mengepung rumah Hadhrat ‘Utsman lalu mensyahidkan beliau dengan kejamnya.) Ketika itu Hadhrat ‘Utsman melihat ke arah mereka dan bersabda, ‘Wahai para hamba Allah!’”[18]

Perawi mengatakan,: Saat itu saya melihat Hadhrat ‘Ali telah keluar dari rumahnya dengan mengenakan sorban pemberian Hadhrat rasulullah dan pedang tergantung. Di hadapan beliau ada kelompok Muhajirin dan anshar diantaranya Hadhrat Hasan dan Hadhrat Abdullah Bin Umar. Mereka berusaha untuk menyerang para pemberontak dan berhasil menyingkirkan mereka dari sana. Kemudian Hadhrat ‘Ali masuk ke rumah Hadhrat ‘Utsman dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, semoga keselamatan tercurah kepada tuan. Rasulullah saw mendapatkan keluhuran dan kekokohan agama ketika Rasulullah mengajak para pengikut beliau untuk berperang menghadapi orang-orang yang ingkar. Demi Tuhan, saya melihat orang-orang ini pasti akan membunuh tuan. Mohon tuan perintahkan kami untuk bertempur melawan mereka.’

Hadhrat ‘Utsman bersabda, ‘Orang-orang yang meyakini bahwa Allah adalah Haq dan berikrar bahwa aku berhak atasnya, demi Allah! Jangan sampai mereka meneteskan darah walau pun setetes darah demi aku.’Hadhrat ‘Ali memohon sekali lagi kepada Hadhrat ‘Utsman dan Hadhrat ‘Utsman memberikan jawaban yang sama.”

Perawi berkata,: “Lalu saya melihat Hadhrat ‘Ali meninggalkan rumah Hadhrat ‘Utsman sambil mengatakan, ‘Ya Allah! Engkau Maha Mengetahui bahwa kami telah mengupayakan segenap upaya.’

Hadhrat ‘Ali lalu pergi ke Masjid Nabawi dan saat itu tiba waktu shalat. Orang-orang mengatakan kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Wahai Abul Hasan, silahkan maju untuk mengimami shalat.’ Hadhrat ‘Ali menjawab, ‘Saya tidak bisa mengimami kalian pada saat imam dalam keadaan terkepung. Saya akan shalat sendiri lalu beliau shalat sendiri dan pulang.’

Putra Hadhrat ‘Ali datang dan berkata kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Wahai ayahku! Demi Tuhan, para penentang telah menyerang rumah Hadhrat ‘Utsman.’

Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Demi Tuhan, mereka akan membunuh beliau.’

Orang-orang bertanya kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Akan berada dimana Hadhrat ‘Utsman?’ Maksudnya, setelah syahid.

Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Beliau akan masuk ke surga.’

Orang-orang bertanya lagi, ‘Abul Hasan! Bagaimana dengan orang-orang yang membunuh beliau?’

Hadhrat ‘Ali menjawab, في النّار والله. ثلاثاً. ‘Demi Tuhan, mereka akan masuk neraka.’ Beliau mengatakan itu tiga kali.”[19]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan perihal ketika para pemberontak itu mengepung Madinah, “Orang-orang Mesir (para pemberontak asal Mesir) datang menemui Hadhrat ‘Ali (ra) yang tengah memimpin sebuah satu bagian lasykar di luar Madinah dan siap untuk menggempur musuh. Mereka menghadap Hadhrat ‘Ali dan berkata, ‘Disebabkan oleh kepemimpinan yang buruk, sekarang Hadhrat ‘Utsman tidak lagi layak untuk tetap menjadi khalifah. Kami datang ke sini untuk memberhentikan beliau. Kami berharap agar tuan berkenan menerima jabatan tersebut setelah beliau.’

Setelah mendengar ucapan orang-orang munafik tersebut, ghairat kecintaan Hadhrat ‘Ali terhadap Islam bergejolak – yang memang merupakan hak bagi manusia yang memiliki derajat seperti Hadhrat ‘Ali – Hadhrat ‘Ali melaknat mereka dan bersikap sangat keras kepada mereka. Beliau (ra) bersabda, ‘Semua orang saleh mengetahui bahwa Rasulullah (saw) telah mengucapkan sebuah nubuatan perihal lasykar orang-orang yang memasang barak (perkemahan) di Dzul Marwah dan Dzu Khasyab dan beliau melaknat (mengutuk) mereka.[20] Semoga Tuhan menjadikan kalian buruk, pulanglah kalian.’ Kemudian mereka (orang-orang munafik itu) berkata, ‘Baiklah, kami akan pulang.’ Setelah mengatakan itu mereka kembali pulang.”[21]

Berkenaan dengan syahidnya Hadhrat ‘Utsman dan baiatnya pada kekhalifahan Hadhrat ‘Ali, sebelum ini pernah saya sampaikan secara rinci. Hari ini akan saya singgung secara singkat.  “Ketika Hadhrat ‘Utsman disyahidkan, semua orang datang berlari menuju Hadhrat ‘Ali. Diantara mereka adalah para sahabat dan dan juga yang lainnya. Semuanya mengatakan, ‘Ali Amirul Mukminin – ‘Ali Pemimpin orang-orang beriman’”, sampai-sampai mereka datang ke kediaman Hadhrat ‘Ali.

Mereka mengatakan kepada Hadhrat ‘Ali, ‘Kami akan baiat kepada Anda, silahkan julurkan tangan Anda karena Anda paling layak diantara semua.’

Hadhrat ‘Ali berkata, ‘Ini bukanlah tugas kalian, melainkan tugas para Sahabat veteran perang Badr. Siapa yang dipilih oleh para Sahabat veteran perang Badr nanti, orang itulah yang akan menjadi Khalifah.’

Semua sahabat Badr lalu datang kepada Hadhrat ‘Ali.

 Mereka mengatakan, ما نرى أحدا أحق بها منك فمد يدك نبايعك ‘Kami memandang tidak ada yang lebih tepat selain Anda. Silahkan julurkan tangan Anda, kami akan baiat di tangan Anda.’

Hadhrat ‘Ali bersabda: أين طلحة والزبير ‘Dimana Thalhah dan Zubair?’

Yang paling pertama mengikrarkan baiat secara lisan adalah Hadhrat Thalhah. Yang baiat di tangan beliau adalah Hadhrat Sa’d. Ketika Hadhrat ‘Ali melihat hal itu, beliau pergi ke masjid lalu naik ke mimbar. Yang paling pertama datang menghampiri beliau lalu baiat adalah Hadhrat Thalhah. Setelah Hadhrat Zubair lalu sahabat lainnya baiat kepada Hadhrat ‘Ali.”[22]

Terkait:   Keteladanan Sahabat Rasulullah: Thalhah bin Ubaidullah

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda mengenai kejadian setelah syahidnya Hadhrat ‘Utsman sebagai berikut, “Ketika Hadhrat ‘Utsman disyahidkan, para pengacau merampok harta Baitul Maal dan mengumumkan, ‘Siapa saja yang berani menghalangi, akan dibunuh.’ Mereka tidak membiarkan orang-orang mengadakan pertemuan. Sebagaimana saat ini terdapat undang undang pasal 144, seperti itu jugalah pada saat itu.[23]

Para pengacau ini betul-betul menguasai Madinah dan tidak mengizinkan siapapun untuk keluar rumah dan berkumpul.” (Orang-orang dilarang berkumpul dalam kelompok-kelompok. Mereka menerapkan larangan-larangan seperti penerapan pasal 144 di saat ini.) “Madinah benar-benar dalam keadaan di bawah kuasa pemberontak yang melarang siapa pun keluar rumah.” (sebagaimana curfew atau jam malam yang diterapkan baru-baru ini.) “sampai-sampai Hadhrat ‘Ali pun mereka perlakukan sama, padahal para pengacau ini mengaku mencintai beliau. Hadhrat ‘Ali (ra) dilarang pergi. Saat itu keadaan di Madinah sangat genting. Para pemberontak menyerbu Madinah.

Sementara di sisi lain, kerasnya hati para pemberontak terbukti sedemikian rupa dimana wujud suci seperti Hadhrat ‘Utsman yang mana Rasulullah (saw) banyak memuji beliau (ra) pun mereka bunuh lalu mereka tidak mau melepaskan jenazah Hadhrat ‘Utsman dengan melarang siapa pun untuk menguburkan jenazah beliau sampai 3 atau 4 hari. Akhirnya, beberapa sahabat menguburkan jenazah beliau pada malam hari secara sembunyi sembunyi. Beserta Hadhrat ‘Utsman ada beberapa hamba sahaya yang disyahidkan juga. Jenazah mereka dilarang untuk dikuburkan dan diletakkan di depan anjing-anjing untuk dimakan.

Setelah memperlakukan Hadhrat ‘Utsman dan para hamba sahaya seperti itu, para pengacau itu memberikan kebebasan kepada penduduk Madinah yang kepadanya para pengacau tidak menentang. Lalu para sahabat mulai pergi meninggalkan Madinah.

Lima hari berlalu dalam keadaan tidak ada pemimpin di Madinah. Para pengacau itu berupaya untuk mengangkat Khalifah pilihan mereka dan mengaturnya sekehendaknya. Namun, diantara para sahabat tidak ada yang sanggup membayangkan menjadi seorang Khalifah pilihan orang-orang yang telah membunuh Hadhrat ‘Utsman. Para pengacau itu pun mendatangi Hadhrat ‘Ali, Hadhrat Thalhah dan Hadhrat Zubair secara bergantian dan meminta beliau-beliau untuk menjadi khalifah, namun beliau-beliau menolaknya.

Setelah mereka menolak, sementara umat Muslim tidak dapat mengakui kekhalifahan siapa pun jika ketiga orang tersebut masih hidup, lantas para pengacau itu mulai melakukan pemaksaan kepada mereka. Para pengacau berpikiran jika tidak ada yang mau menjadi Khalifah, maka akan muncul taufan penentangan luar biasa kepada mereka di kalangan Islam. Lalu pengacau itu mengumumkan, ‘Jika dalam waktu dua hari diangkat seorang khalifah, itu akan lebih baik, jika tidak, kami akan membunuh ‘Ali, Thalhah, Zubair dan para tokoh terkemuka lainnya.’ [24]

Mengetahui hal itu, para penduduk Madinah merasa terancam. Mereka berpikiran, ‘Apa yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang telah membunuh Hadhrat ‘Utsman kepada anak-anak dan para wanita kita?’

Penduduk Madinah lalu pergi menemui Hadhrat ‘Ali dan meminta Hadhrat ‘Ali untuk menjadi Khalifah. Namun Hadhrat ‘Ali menolaknya dan berkata, ‘Seandainya saya menjadi Khalifah, orang-orang akan beranggapan saya-lah yang telah memerintahkan untuk membunuh Hadhrat ‘Utsman. Saya akan tidak dapat menanggung beban tersebut.’ Alasan ini jugalah yang dikatakan oleh Hadhrat Zubair dan Hadhrat Talhah begitu pun para sahabat lainnya yang diminta untuk menjadi Khalifah.

Akhirnya semua orang pergi menemui Hadhrat ‘Ali lagi dan berkata, apapun yang terjadi, mohon anda berkenan untuk mengambil beban ini. Akhirnya Hadhrat ‘Ali berkata, ‘Baiklah, saya akan bersedia menganggung beban ini dengan syarat semua orang berkumpul di masjid dan menerima saya.’ Berkumpullah orang-orang dan menerima beliau.

Namun sebagian orang menolak dengan beralasan, ‘Sebelum para pembunuh Hadhrat ‘Utsman dihukum mati, sampai saat itu kami tidak akan mengakui siapapun sebagai Khalifah.’

Sebagian lagi mengatakan, ‘Sebelum diketahui pendapat orang-orang di luar sana (di luar Madinah), hendaknya jangan dulu mengangkat Khalifah’, namun orang-orang yang berpendapat demikian jumlahnya sedikit.

Seperti itulah Hadhrat ‘Ali bersedia untuk menjadi Khalifah, namun timbul akibat seperti yang ditakutkan oleh mereka. Seluruh umat Islam mulai menuduh bahwa Hadhrat ‘Ali lah yang telah memerintahkan untuk membunuh Hadhrat ‘Utsman.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jika seluruh keistimewaan Hadhrat ‘Ali dikesampingkan, menurut hemat saya, menyetujui pengangkatan beliau sebagai khalifah, merupakan suatu keberanian yang pantas untuk mendapatkan pujian, karena beliau tidak memperdulikan kehormatan dan diri pribadi demi untuk Islam dan mengangkat beban yang sangat besar itu.”

Berkenaan dengan kejadian paska syahidnya Hadhrat ‘Utsman, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda pada tempat lain, “Selama satu dua hari terjadi kekisruhan yang luar biasa, namun setelah emosinya mereda, para pemberontak itu mulai mengkhawatirkan akibatnya dan takut, apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu sebagian dari mereka beranggapan bahwa Hadhrat Muawiyah adalah orang yang tangguh, sehingga pasti akan akan membalas pembunuhan ini. Untuk itu sebagian pemberontak pergi ke Syam dan di sana mereka sendiri yang mulai mengumumkan bahwa Hadhrat ‘Utsman telah disyahidkan dan tidak ada yang membalaskan kewafatan beliau.

Sebagiannya lagi pergi melewati jalan Makkah untuk menemui Hadhrat Zubair dan Hadhrat Aisyah dan berkata, betapa zalimnya, di kala Hadhrat ‘Utsman disyahidkan, namun umat Islam diam saja.

Sebagiannya lagi pergi menemui Hadhrat ‘Ali dan berkata, ‘Saat ini saat ini adalah saatnya musibah dan sangat ditakutkan runtuhnya pemerintahan Islam. Karena itu, mohon Anda mengambil baiat. Hal itu dilakukan supaya ketakutan orang-orang lenyap dan tercipta kedamaian dan keamanan.’

Para sahabat yang berada di Madinah sepakat memberikan masukan agar Hadhrat ‘Ali berkenan menanggung beban ini dan ini merupakan sumber pahala dan keridhaan Allah Ta’ala. Ketika Hadhrat ‘Ali dipaksa dari keempat penjuru, setelah berkali kali menolak, akhirnya beliau terpaksa mengambil tanggung jawab tersebut dan mengambil baiat.

Dalam hal ini tidak diragukan lagi bahwa langkah Hadhrat ‘Ali ini memberikan hikmah yang besar, karena jika Hadhrat ‘Ali saat itu tidak mengambil baiat, maka Islam bisa mendapatkan kerugian yang lebih besar lagi dari pada bencana sebagai akibat dari peperangan yang terjadi antara beliau dengan Hadhrat Muawiyah.”

Itulah kesimpulan yang ditarik oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra).

Selanjutnya Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Perlu diingat bahwa apa yang dikatakan berkenaan dengan Hadhrat Zubair dan Hadhrat Talhah bahwa beliau berdua telah menarik kembali janji baiat kepada Hadhrat ‘Ali, itu adalah keliru.” Maksudnya, anggapan bahwa beliau-beliau telah baiat dengan mudahnya, tidaklah dilakukan dengan semudah itu. Selengkapnya telah dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) ra sebagai berikut, “Pemikiran seperti itu merupakan bukti akan ketidak tahuan akan sejarah. Sejarah secara sepakat memberikan kesaksian bahwa baiatnya Hadhrat Talhah dan Hadhrat Zubair kepada Hadhrat ‘Ali dilakukan bukan secara sukarela melainkan diambil baiat secara paksa.”

Dalam Thabari terdapat riwayat dari Muhammad dan Thalhah bahwa ketika Hadhrat Ustman (ra) syahid, orang-orang bermusyawarah satu sama lain dan memutuskan bahwa hendaknya segera ditetapkan seseorang sebagai Khalifah supaya perdamaian bisa tegak dan kerusuhan dapat sirna. Akhirnya orang-orang pergi kepada Hadhrat ‘Ali (ra) dan mengatakan kepada beliau, “Mohon Anda terimalah baiat kami.”

Hadhrat ‘Ali (ra) mengatakan, “Jika kalian ingin baiat kepada saya, maka kalian harus senantiasa taat kepada saya. Jika kalian setuju dengan hal ini maka saya siap untuk mengambil baiat kalian. Jika tidak, tetapkanlah orang lain sebagai khalifah kalian. Saya akan selalu taat kepadanya dan akan menaatinya melebihi kalian, siapapun itu khalifahnya.”

Mereka mengatakan, “Kami setuju untuk menaati anda.”

Hadhrat ‘Ali (ra) mengatakan, “Selanjutnya pikirkanlah dan bermusyarahlah satu sama lain.” Lalu dari hasil musyawarah, mereka sampai pada keputusan bahwa jika Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair (ra) baiat kepada Hadhrat ‘Ali (ra) maka semua orang akan baiat kepada Hadhrat ‘Ali (ra), jika tidak selama mereka tidak baiat kepada Hadhrat ‘Ali (ra) maka perdamaian tidak dapat tegak sepenuhnya.

Para pemberontak mengutus Hukaim bin Jabalah (حُكَيْمَ بْنَ جَبَلَةَ) dan Malik bin al-Asytar (مالك بن الحارث النخعي المشهور بالأشتر) bersama banyak orang untuk menemui mereka. Mereka menodongkan pedang dan memaksa untuk baiat dan berkata, ‘Baiatlah kepada Hadhrat ‘Ali (ra), jika tidak, kami akan membunuh kalian.’

Di hari kedua Hadhrat ‘Ali (ra) naik ke atas mimbar dan bersabda, “Wahai manusia! Kemarin kalian mengirim pesan kepada saya dan saya mengatakan supaya kalian merenungkan hal ini. Apakah kalian telah merenungkannya? Dan apakah kalian tetap teguh pada perkataan saya kemarin? Jika kalian tetap teguh maka ingatlah bahwa kalian harus taat sepenuhnya kepada saya.”

Atas hal ini mereka lalu pergi kepada Hadhrat Thalhah (ra) dan Hadhrat Zubair (ra) dan menarik mereka secara paksa, dan tertulis dengan jelas di dalam riwayat bahwa ketika mereka sampai kepada Hadhrat Thalhah (ra) dan meminta beliau untuk berbaiat, maka beliau menjawab, إِنِّي إِنَّما أُبَايِعُ كَرْهًاInnii innamaa ubaayi’u karhan”, yakni, “Lihatlah! Saya berbaiat dengan terpaksa, saya tidak baiat dengan senang hati.”

Demikian juga ketika mereka pergi kepada Hadhrat Zubair (ra) dan meminta beliau untuk baiat maka beliau pun memberikan jawaban yang sama, yakni, إِنِّي إِنَّما أُبَايِعُ كَرْهًاInnii innamaa ubaayi’u karhan”, yakni, “Kalian memaksa saya untuk baiat, saya tidak melakukan baiat ini dari hati saya.”[25]

Abdurrahman bin Jundub (عبد الرحمن بن جندب) meriwayatkan dari ayahnya, “Setelah pembunuhan Hadhrat Utsman (ra), Asytar (tokoh Kufah pemberontak) datang kepada Thalhah dan memerintahkan untuk baiat. Beliau menjawab, ‘Beri saya waktu, saya ingin melihat apa yang diputuskan orang-orang’, namun mereka tidak melepaskan dan dikatakan dalam riwayat, جَاءَ بِهِ يتله تَلا عَنِيفًا  yang artinya mereka membawa beliau dengan menyeretnya di tanah dengan sangat keras, seperti kambing sedang diseret.”[26]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Seorang sahabat Rasulullah (saw) bernama Hadhrat Thalhah (ra) yang pada waktu terjadi pertentangan pendapat dengan Hadhrat ‘Ali (ra), dan ketika kemudian beliau menyadari dalam hal ini telah keliru, maka beliau segera meninggalkan medan perang [berhadapan dengan pasukan Hadhrat ‘Ali].”

Sekarang dalam hal ini peristiwa ini ialah ketika Hadhrat Thalhah (ra) mengambil sikap berlawanan dan tidak berbaiat kepada Hadhrat ‘Ali (ra), namun Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) juga menjelaskan rinciannya bahwa memang Hadhrat Thalhah (ra) maju ke medan peperangan melawan Hadhrat ‘Ali (ra) dan pada mulanya beliau lakukan baiat dengan terpaksa, maksudnya baiat karena dipaksa, kemudian belakangan ketika mendapatkan kesempatan terjadi juga perselisihan lalu juga mengarah ke terjadinya perang. Akan tetapi, ketika Hadhrat Thalhah (ra) telah memahami bahwa Hadhrat ‘Ali (ra) benar, maka beliau pergi meninggalkan medan perang.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis mengenai hal ini, “Hadhrat Thalhah (ra) sedang dalam perjalanan pulang ke rumah ketika seorang keji yang dikatakan berasal dari pasukan Hadhrat ‘Ali (ra) membunuh beliau di jalan. Pembunuh Hadhrat Thalhah (ra) datang ke hadapan Hadhrat ‘Ali (ra) dengan harapan akan mendapatkan hadiah, ia berkata, ‘Saya memberikan kabar suka kepada anda bahwa musuh anda Thalhah (ra) terbunuh di tangan saya.’

Hadhrat ‘Ali (ra) mengatakan, ‘Saya memberikan kabar suka jahanam kepadamu dari Rasulullah (saw). Saya mendengar dari yang mulia Rasul (saw) bahwa seorang ahli jahanam akan membunuh Thalha (ra).’”

Kemudian di tempat lain Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peristiwa ini sebagai berikut, “Hakim meriwayatkan, ‘Tsaur bin Majza-ah (ثَوْرِ بْنِ مَجْزَأَةَ) mengatakan kepada saya, “Pada saat perang Jamal saya lewat di dekat Hadhrat Thalhah. Saat itu beliau tengah meregang nyawa. Beliau lalu bertanya kepada saya, ‘Anda berasal dari kelompok mana?’

Saya berkata, مِنْ أَصْحَابِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ ‘Saya berasal dari kelompok Hadhrat ‘Ali, Amirul Mukminin.’

Beliau berkata: ابْسُطْ يَدَكَ أُبَايِعُكَ ، فَبَسَطْتُ يَدِي وَبَايَعَنِي ‘Kalau begitu julurkan tangan Anda supaya saya dapat baiat di tangan Anda.’ Hadhrat Thalhah lalu baiat di tangan saya.

Kemudian Hadhrat Thalhah wafat. Saya sampaikan kejadian ini kepada Hadhrat ‘Ali.

Hadhrat ‘Ali berkata:“Allahu Akbar! Sabda Rasulullah (saw) telah tergenapi dengan begitu jelasnya bahwa Allah Ta’ala menolak Thalhah masuk surga kecuali dengan terlebih dahulu berbaiat kepada saya.”’[27] Hadhrat Thalhah (ra) termasuk ke dalam ‘Asyrah Mubasyarah (sepuluh orang yang mendapat kabar suka masuk surga).

Meskipun awalnya Hadhrat Thalhah (ra) baiat secara terpaksa, namun sebagaimana telah saya sampaikan, sebelum beliau wafat, beliau telah baiat dengan penuh lapang dada. Hadhrat Thalhah (ra) seorang yang saleh, bernasib baik dan terdapat juga janji akan dimasukkan ke dalam surga, oleh karena itu Allah Ta’ala tidak menghendaki beliau wafat dalam keadaan di luar baiat kepada Khilafat dan pada waktu itu beliau mendapatkan kesempatan dan berbaiat kepada Khilafat.

Pembahasan mengenai peristiwa ini masih akan berlanjut. Insya Allah saya akan menjelaskannya pada kesempatan mendatang.

Hari ini saya ingin kembali menghimbau untuk berdoa bagi para Ahmadi di Aljazair dan juga Pakistan. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka. Di Aljazair keadaan para Ahmadi dipersulit. Di sana ada seorang jaksa yang berulang kali memeja-hijaukan para Ahmadi. Demikian juga di Pakistan para Ahmadi dijerumuskan ke dalam kesulitan-kesulitan. Semoga Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada orang-orang yang membuat kesulitan atau melakukan penentangan dengan cara apa pun dan segera memperbaiki keadaan para Ahmadi di sana yang sedang mengalami kesulitan-kesulitan. Semoga Allah Ta’ala menciptakan kemudahan-kemudahan dan kelapangan-kelapangan bagi mereka.

Namun, di samping itu saya juga ingin mengatakan bahwa perhatian terhadap doa-doa yang diperlukan khususnya bagi para Ahmadi di Pakistan, perhatian tersebut saat ini masih belum terasa. Alhasil, berdoalah lebih banyak dari sebelumnya dan teruslah berikan perhatian terhadap doa-doa, semoga Allah Ta’ala segera mengeluarkan kita dari kesulitan-kesulitan ini dan memberikan kemudahan-kemudahan, serta semoga kita bisa menyampaikan pesan Islam yang hakiki ini dengan bebas di Pakistan dan di setiap penjuru dunia.

Setelah shalat saya akan mengimami shalat jenazah ghaib beberapa Almarhum/ah. Jenazah yang pertama adalah Dokter Tahir Ahmad Sahib dari Rabwah putra Choudry Abdurrazaq Sahib Sayhid. Almarhum adalah mantan Amir Distrik Nawabshah, wafat pada 4 Desember di usia 60 tahun disebabkan serangan jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Beliau adalah dokter di rumah sakit pemerintah. Pada 1995 Almarhum mengalami serangan jantung yang pertama. Meskipun dalam keadaan kesehatan yang buruk beliau dimutasikan ke Mithi sehingga beliau bisa juga berkhidmat di Mahdi Hospital di bawah pengaturan Waqfi Jadid. Dokter Sahib adalah seorang spesialis mata dan setiap hari di sore hari serta pada hari minggu Almarhum mengobati para pasien mata di Al-Mahdi Hospital. Pada hari libur Almarhum bertugas di Mahdi Hospital. Secara rutin Almarhum ikut serta dalam kamp-kamp pengobatan dan terkadang sepanjang hari sibuk melakukan operasi.

Di Tharparkar, tidak hanya para Ahmadi, bahkan para ghair Ahmadi pun sangat menyukai beliau. Sosok yang disukai oleh setiap orang. Almarhum juga telah menjalani operasi by pass jantung dan pada beberapa tahun terakhir dua-tiga kali menderita sakit parah, namun tetap melangsungkan pengkhidmatannya di Tharparkar.

Di Mithi, Almarhum menjalani pengkhidmatan kemanusiaan selama kurang lebih 15 tahun. Almarhum adalah sosok yang sangat peduli dengan orang miskin dan seorang pengkhidmat tamu. Seseorang yang sangat menghormati Khilafat dan Nizam Jemaat. Dengan karunia Allah Ta’ala di masa mudanya pun Almarhum sudah bergabung dalam nizam Al-Wasiyat. Almarhum ikut serta dalam setiap gerakan pengorbanan harta dengan penuh semangat.

Terkait:   Riwayat Utsman bin 'Affan (Seri-8)

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan maghfiroh-Nya kepada Almarhum, meninggikan derajat Almarhum dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat mengikuti kebaikan-kebaikan Almarhum dan diberikan keteguhan.

Jenazah yang kedua, Habibullah Mazhar Sahib Ibnu (putra) Chaudry Allah Datah Sahib. Habibullah Mazhar Sahib pernah dipenjara di jalan Allah. Beliau wafat pada 24 Oktober di usia 75 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ayahanda beliau baiat di tangan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) dan bergabung ke dalam Jemaat. Habibullah Mazhar Sahib bekerja di berbagai posisi pada beberapa departemen pemerintahan dan pensiun sebagai direktur di salah satu departemen pemerintahan. Pengkhidmatan beliau terhadap Jemaat meliputi masa 50 tahun yang di antaranya beliau mendapatkan taufik berkhidmat mulai dari sebagai Qaid Majlis, hingga Zaim Ansharullah dan beberapa bidang kepengurusan Jemaat dan juga sebagai ketua Jemaat.

Pengadilan pertama kasus hukuman mati terhadap seorang Ahmadi di bawah undang-undang Tauhin-e-Risalat, no. 295 adalah atas yang terhormat Chaudry Habibullah Mazhar Sahib yang pada 29 Oktober 1991 terdaftar di Thana Shahdara. Dengan demikian dari sisi sejarah beliau adalah Ahmadi pertama yang mendapatkan taufik menjalani kesulitan-kesulitan dengan menjadi tahanan di jalan Allah di bawah undang-undang ini. Meskipun pengadilan sesi (Session Court) memberikan keputusan memenangkan beliau, namun atas banding yang diajukan para penentang ke pengadilan tinggi, Hakim Pengadilan Tinggi, Abdul Majid membatalkan jaminan atas beliau di pengadilan Tauhin-e-Risalat tersebut dan pada waktu itu para penentang secara masif melakukan segala upaya yang memungkinkan untuk menjatuhkan hukuman terhadap Almarhum. Mereka membagikan pamflet dalam bahasa Inggris dan Urdu dan menggunakan kalimat-kalimat yang penuh kebohongan berkenaan dengan Almarhum. Alhasil, di masa itu Chaudry Habibullah Sahib dengan penuh keberanian menjalani dengan sabar kesulitan-kesulitan selama masa tahanan dan kemudian Allah Ta’ala menciptakan suatu sarana yang sedemikian rupa sehingga hanya dalam hitungan beberapa bulan saja beliau dibebaskan.

Beliau melaksanakan tahajud secara dawam dan disiplin dalam shalat lima waktu. Hingga akhir hayatnya beliau senantiasa menasihatkan kepada anak-anaknya untuk teguh dalam shalat. Seorang yang ramah, simpatik, rendah hati dan pecinta sejati Khilafat.

Almarhum menyimak khutbah-khutbah dan pidato-pidato Khalifah secara dawam, bahkan mengumpulkan semua anggota keluarga dan mengatakan, “Tinggalkanlah semua pekerjaan dan duduklah di sini untuk mendengarkan khutbah.” Dengan karunia Allah Ta’ala Almarhum seorang mushi dan berwasiat 1/9 bagian.

Di antara yang ditinggalkan selain istri beliau, juga terdapat 5 putra dan 1 putri. Salah seorang putra Almarhum, Hasib Ahmad Sahib adalah seorang mubaligh dan berkhidmat di English Desk, Fazl-e-Umar Foundation. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan maghfiroh-Nya kepada Almarhum dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Khalifah Bashiruddin Ahmad Sahib yang wafat pada 30 November di usia 86 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum lahir di Ferozpur, India. Almarhum adalah putra dari Dokter Khalifah Taqiyyuddin Sahib dan cucu dari Hadhrat Dokter Khalifah Rashiduddin Sahib. Dokter Khalifah Rashiduddin Sahib adalah ayahanda dari Hadhrat Ummu Nasir, istri pertama Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra).

Berkenaan dengan Hadhrat Khalifah Rashiduddin Sahib, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengucapkan kalimat-kalimat yang penuh pujian mengenai pengorbanan-pengorbanan harta beliau. Pendek kata, Almarhum adalah salah seorang keturunan beliau. Almarhum biasa ikut serta dalam pekerjaan-pekerjaan Jemaat. Almarhum mengundang para ghair Ahmadi ke rumahnya dan mentablighi mereka.

Pada 1998 Almarhum pulang ke Swedia, di sana Almarhum tinggal di berbagai tempat, lalu pindah ke Swedia. Pada 1999 Amarhum mengalami serangan jantung. Setelah sembuh Almarhum sibuk dalam kegiatan-kegiatan di Masjid dan juga sebagai Sekretaris Tabligh. Setiap tahun Almarhum datang ke Jalsah UK bersama anak dan istrinya. Di antara yang ditinggalkan, selain istri terdapat juga 3 putri dan 2 putra.

Istri Almarhum berkebangsaan Inggris, seorang kristen yang menjadi Ahmadi, namun memakai pakaian yang sangat sopan dan disiplin dalam berpardah, menjalani hidup dengan sederhana, hobi mempelajari ilmu agama dan juga berusaha untuk mengamalkannya dengan sepenuhnya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemajuan dalam keimanan dan keyakinan beliau dan memberikan taufik kepada anak keturunan beliau untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan beliau. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Aminah Ahmad Sahibah istri Khalifah Rafi’uddin Ahmad Sahib, wafat pada 19 Oktober. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau berasal dari Guyana. Beliau lahir pada 1940 dalam keluarga Muslim ternama di Guyana. Almarhumah menerima Jemaat pada masa pendidikannya di London dan di masa itu kemudian menikah dengan Ardi Ahmad Sahib Almarhum yang merupakan putra dari Dokter Khalifah Taqiyuddin, salah seorang keturunan dari Hadhrat Khalifah Rashiduddin Sahib.

Almarhumah seorang wanita yang penuh simpati, peduli dengan orang-orang dan pengkhidmat tamu. Seorang yang disiplin dalam shalat, senantiasa memperhatikan shalat-shalatnya. Meskipun dalam keadaan sakit Almarhumah tetap rutin melaksanakan tahajud. Almarhumah secara dawam menilawatkan Al-Qur’an. Meskipun sakit dan menderita kangker Almarhumah selalu ikut serta di hampir setiap Jalsah Salanah di UK.

Almarhumah sangat yakin dengan kekuatan doa, memiliki hubungan yang penuh keikhlasan dan kesetiaan dengan khilafat, setiap kali bertemu dengan saya Almarhum selalu secara khusus memohon doa dengan penuh kerendahan hati. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan maghfiroh-Nya serta memberikan taufik kepada putra-putri Almarhum untuk dapat menjalin ikatan yang kokoh dengan Jemaat.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Arif Rahman Hakim (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab).


[1] Shahih al-Bukhari 2588, Kitab tentang Hibah (كتاب الهبة وفضلها والتحريض عليها), bab suami memberi hadiah kepada istri dan sebaliknya (باب هِبَةِ الرَّجُلِ لاِمْرَأَتِهِ وَالْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا).

[2] Shahih al-Bukhari 6266, Kitab tentang meminta izin (كتاب الاستئذان), bab Mu’anaqah dan menanyakan kabar di pagi hari (باب الْمُعَانَقَةِ وَقَوْلِ الرَّجُلِ كَيْفَ أَصْبَحْتَ).

[3] Sunan Abi Daud, (كتاب الجنائز), (باب كَمْ يَدْخُلُ الْقَبْرَ), 3209.

[4] Sunan Al-Kubrā karya al-Baihaqi, Kitāb An-Nāfaqāt, Jimā‘u Abwābi Kaffārat al-Qatl, Bāb Man LāYakūnu Siḥruhu Kufran, no. 15203; Al-Mustadrak ‘Alā aṣ–Ṣaḥīḥain (المستدرك على الصحيحين), Kitāb Ma‘rifat aṣ–Ṣaḥābah (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ), Abū Bakr ibnu Abī Quḥāfah, riwayat (أَمَّا حَدِيثُ ضَمْرَةَ وَأَبُو طَلْحَةَ); As-Sunnah Li ‘Abdillah ibni Aḥmad ibni Ḥanbal no. 1292

[5] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري تاريخ الرسل والملوك وصله تاريخ الطبري نویسنده : الطبري، ابن جرير    جلد : 3  صفحه : 207)

[6] Al-Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir, pasal (فصل في تنفيذ جيش أسامة بن زيد).

[7] Malfuzhat jilid 10.

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كتاب المغازى), bab perang Khaibar (باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ), 4240-4241. Tercantum juga dalam Shahih Muslim, (كتاب الجهاد والسير), (باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ ‏”‏): تُوُفِّيَتْ، وَعَاشَتْ بَعْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم سِتَّةَ أَشْهُرٍ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا، وَكَانَ لِعَلِيٍّ مِنَ النَّاسِ وَجْهٌ حَيَاةَ فَاطِمَةَ، فَلَمَّا تُوُفِّيَتِ اسْتَنْكَرَ عَلِيٌّ وُجُوهَ النَّاسِ، فَالْتَمَسَ مُصَالَحَةَ أَبِي بَكْرٍ وَمُبَايَعَتَهُ، وَلَمْ يَكُنْ يُبَايِعُ تِلْكَ الأَشْهُرَ، فَأَرْسَلَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ أَنِ ائْتِنَا، “…Dan ia (Fathimah) hidup enam bulan sepeninggal Nabi [shallallaahu ‘alaihi wa sallam]. Ketika wafat, ia dimandikan oleh suaminya, Ali, ketika malam hari, dan ‘Ali tidak memberitahukan perihal meninggalnya kepada Abu Bakr. Semasa Fathimah hidup, ‘Ali biasa dihormati oleh masyarakat, tetapi, ketika Fathimah telah wafat, ‘Ali memperhatikan kurangnya penghormatan orang-orang kepadanya, dan ia lebih cenderung berdamai dengan Abu Bakr dan berbaiat kepadanya, meskipun ia sendiri tidak berbaiat di bulan-bulan itu. ‘Ali lalu mengirim utusan kepada Abu Bakr mengundangnya datang kepadanya….فَقَالَ عَلِيٌّ لأَبِي بَكْرٍ مَوْعِدُكَ الْعَشِيَّةُ لِلْبَيْعَةِ‏.‏ فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ الظُّهْرَ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ، وَتَخَلُّفَهُ عَنِ الْبَيْعَةِ، وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرَ، وَتَشَهَّدَ عَلِيٌّ فَعَظَّمَ حَقَّ أَبِي بَكْرٍ، وَحَدَّثَ أَنَّهُ لَمْ يَحْمِلْهُ عَلَى الَّذِي صَنَعَ نَفَاسَةً عَلَى أَبِي بَكْرٍ، وَلاَ إِنْكَارًا لِلَّذِي فَضَّلَهُ اللَّهُ بِهِ، وَلَكِنَّا نَرَى لَنَا فِي هَذَا الأَمْرِ نَصِيبًا، فَاسْتَبَدَّ عَلَيْنَا، فَوَجَدْنَا فِي أَنْفُسِنَا، فَسُرَّ بِذَلِكَ الْمُسْلِمُونَ وَقَالُوا أَصَبْتَ…Kemudian ‘Aliy berkata kepada Abu Bakr, ‘Saya berjanji baiat kepadamu nanti sore.’ Ketika Abu Bakr telah shalat Dhuhur, ia naik mimbar. Ia ucapkan syahadat, lalu ia menjelaskan permasalahan ‘Ali dan ketidakikutsertaannya dari bai’at serta alasannya. Kemudian, Abu Bakr beristighfar. Selanjutnya, ‘Ali berpidato dimulai dengan Syahadat lalu memuliakan hak Abu Bakr, menyebutkan..

[9] Sunan Al-Kubrā karya al-Baihaqi: فَقَالَ رَجُلٌ لِلزُّهْرِيِّ : فَلَمْ يُبَايِعْهُ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَتَّى مَاتَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ؟ قَالَ : وَلَا أَحَدٌ مِنْ بَنِي هَاشِم.

[10] Tarikhul Khulafaa Al-Rashideen (تاريخ الخلفاء الراشدين الفتوحات والإنجازات السياسية), Muhammad Suhail Taqush (طقوش، محمد سهيل), p. 22, 367, Dar Al-Nafa’is, Beirut, 2011. Baiat pertama terhadap Abu Bakr (ra) ini dalam literatur Islam dikenal dengan istilah “Baiat Saqifah” (بيعة السقيفة) dan “Baiat Khashshah” (البيعة الخاصة) atau baiat khusus. Baiat ini terjadi di hari pertama kewafatan Nabi (saw). Disebut baiat khusus karena baru terbatas pada sebagian kecil tokoh Muhajirin dan sebagian Anshar. Hari selanjutnya dilakukanlah bai’at ‘aam (baiat umum atau banyak sekali orang) bertempat di Masjid Nabawi.

[11] Al-Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir: وَقَدْ رَوَاهُ عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ عَنِ الْجَرِيرِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ فَذَكَرَ نَحْوَ مَا تَقَدَّمَ، وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ مَحْفُوظٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي نَضْرَةَ الْمُنْذِرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ قِطْعَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيِّ وَفِيهِ فَائِدَةٌ جَلِيلَةٌ وَهِيَ مُبَايَعَةُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ إِمَّا فِي أَوَّلِ يَوْمٍ أَوْ فِي الْيَوْمِ الثَّانِي مِنَ الْوَفَاةِ. وَهَذَا حَقٌّ فَإِنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ لَمْ يُفَارِقِ الصِّدِّيقَ فِي وَقْتٍ مِنَ الْأَوْقَاتِ، وَلَمْ يَنْقَطِعْ فِي صَلَاةٍ مِنَ الصَّلَوَاتِ خَلْفَهُ كَمَا سَنَذْكُرُهُ وَخَرَجَ مَعَهُ إِلَى ذِي الْقَصَّةِ لَمَّا خَرَجَ الصِّدِّيقُ شَاهِرًا سَيْفَهُ يُرِيدُ قِتَالَ أَهْلِ الرِّدَّةِ كَمَا سَنُبِيِّنُهُ قَرِيبًا، وَلَكِنْ لَمَّا حَصَلَ مِنْ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَتْبٌ عَلَى الصِّدِّيقِ بِسَبَبِ مَا كَانَتْ مُتَوَهِّمَةً مِنْ أَنَّهَا تَسْتَحِقُّ مِيرَاثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلَّم وَلِمَ تَعْلَمْ بِمَا أَخْبَرَهَا بِهِ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. .

[12] Sirrul Khilaafah.

[13] Al-Bidayah wan Nihaayah, (تَصَدِّي الصِّدِّيقِ لِقِتَالِ أَهْلِ الرِّدَّةِ), (فَصْلٌ فِي تَصَدِّي الصِّدِّيقِ لِقِتَالِ أَهْلِ الرِّدَّةِ وَمَانِعِي الزَّكَاةِ): قَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا تُوُفِّيَ ارْتَدَتْ أَحْيَاءٌ كَثِيرَةٌ مِنَ الْأَعْرَابِ، وَنَجَمَ النِّفَاقُ بِالْمَدِينَةِ، وَانْحَازَ إِلَى مُسَيْلِمَةَ الْكَذَّابِ بَنُو حَنِيفَةَ وَخَلْقٌ كَثِيرٌ بِالْيَمَامَةِ، وَالْتَفَتَ عَلَى طُلَيْحَةَ الْأَسَدِيِّ بَنُو أَسَدٍ وَطَيِّئٌ، وَبَشَرٌ كَثِيرٌ أَيْضًا، وَادَّعَى النُّبُوَّةَ أَيْضًا كَمَا ادَّعَاهَا مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ، وَعَظُمَ الْخَطْبُ وَاشْتَدَّتِ الْحَالُ، وَنَفَّذَ الصِّدِّيقُ جَيْشَ أُسَامَةَ، فَقَلَّ الْجُنْدُ عِنْدَ الصِّدِّيقِ، فَطَمِعَتْ كَثِيرٌ مِنَ الْأَعْرَابِ فِي الْمَدِينَةِ، وَرَامُوا أَنْ يَهْجُمُوا عَلَيْهَا، فَجَعَلَ الصِّدِّيقُ عَلَى أَنْقَابِ الْمَدِينَةِ حُرَّاسًا يَبِيتُونَ بِالْجُيُوشِ حَوْلَهَا ; فَمِنْ أُمَرَاءِ الْحَرَسِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ، وَطَلْحَةُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، وَجَعَلَتْ وُفُودُ الْعَرَبِ تَقْدَمُ الْمَدِينَةَ، يُقِرُّونَ بِالصَّلَاةِ وَيَمْتَنِعُونَ مِنْ أَدَاءِ الزَّكَاةِ، وَمِنْهُمْ مَنِ امْتَنَعَ مِنْ دَفْعِهَا إِلَى الصِّدِّيقِ .

[14] Tarikhul Khulafa (تاريخ الخلفاء) karya Imam as-Suyuthi (عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطي)

[15] Al-Kaamil fit Taarikh dan Tarikh ath-Thabari.

[16] Iqdul Farid (العقد الفريد) karya al-Andalusi (ابن عبد ربه الأندلسي).

[17] Tarikh al-Khamis karya ad-Diyarbakri.

[18] Riyaadhun Naadhirah fi Manaaqibil ‘Asyrah (الرياض النضرة في مناقب العشرة) “Pembahasan Sepuluh orang Mulia”.

[19] Kitab Al-Majalis Al-Wa’dhiyyah fii syarhi Ahaadits Khairil Bariyyah Min shohiihil Imam Al-Bukhari (المجالس الوعظية في شرح أحاديث خير البرية من صحيح الإمام البخاري) oleh Syamsuddin Muhammad bin Umar As-Safiri As-Syaafi. (المجلس الخامس والأربعون) (محمد بن عمر بن أحمد السفيري الشافعي); tercantum juga dalam Al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab (الغدير في الكتاب و السنة و الأدب) yang terkenal dengan al-Ghadir (الغدیر) karya Abdul Husain Amini (الشيخ عبد الحسين الأميني التبريزي النجفي). 1320-1390 Hijriyyah. 1902-1970. Buku ini karya seorang Syi’ah demi mempertahankan pendapatnya tentang Imamah ‘Ali dengan kekhususan mengambil rujukan dari Kitab-Kitab Sunni. Tercantum juga dalam A’lal Maratib min Sirah Amirul Mu-minin ‘Aliyy bin Abi Thalib (أعلى المراتب من سيرة أمير المؤمنين علي بن أبي طالب رضي الله عنه) dan ‘Abrul Asyjaan min Sirati Amiril Mu-minin ‘Utsman bin ‘Affan (عبر الاشجان من سيرة أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه) karya ‘Aliyy Sad ‘Ali Hijazi (علي سعد علي حجازي ،لواء مهندس); tercantum juga dalam Kitab Fashlul Khithaab fiz Zuhd war Raqaid wal Adab(كتاب فصل الخطاب في الزهد والرقائق والآداب) karya Muhammad Nashruddin Muhammad ‘Uwaidhah (محمد نصر الدين محمد عويضة).

[20] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري – الطبري – ج ٣ – الصفحة ٣٨٧).

[21] Asy-Syari’ah karya al-Ajurri (الشريعة للآجري), (كِتَابُ ذِكْرِ فَضَائِلِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), (ذِكْرِ مَسِيرِ الْجَيْشِ الَّذِينَ أَشْقَاهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِقَتْلِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَعَاذَ اللَّهُ الْكَرِيمُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَتْلِهِ).

[22] Usdul Ghaabah (أسد الغابة – ابن الأثير – ج ٤ – الصفحة ٣٢).

[23] Pasal 144 kode mencegah kejahatan berupa pelarangan berkumpul pertama kali diberlakukan di wilayah Baroda, India pada 1861.

[24] Al-Kaamil fit Tarikh karya Ibnu al-Atsir: Para Sahabat terkemuka (Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash, Hadhrat Thalhah, Hadhrat Zubair dan juga Hadhrat ‘Ali) satu per satu menolak desakan para pemberontak yang menguasai Madinah agar salah satu dari mereka dilantik sebagai Khalifah. Para pemberontak juga mengancam penduduk Madinah bahwa mereka akan membunuh para tokoh Sahabat yang masih tersisa di Madinah bila mereka tidak bersepakat memilih salah satu sebagai Khalifah, يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَنْتُمْ أَهْلُ الشُّورَى، وَأَنْتُمْ تَعْقِدُونَ الْإِمَامَةَ، وَحُكْمُكُمْ جَائِزٌ عَلَى الْأُمَّةِ، فَانْظُرُوا رَجُلًا تَنْصِبُونَهُ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ، وَقَدْ أَجَّلْنَاكُمْ يَوْمَكُمْ، فَوَاللَّهِ لَئِنْ لَمْ تَفْرُغُوا لَنَقْتُلَنَّ غَدًا عَلِيًّا وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ وَأُنَاسًا كَثِيرًا! .

[25] Tarikh ath-Thabari.

[26] Tarikh ath-Thabari.

[27] Khashais al-Kubra (الخصائص الكبرى) karya Imam Suyuthi (عبد الرحمن بن أبي بكر، جلال الدين السيوطي (المتوفى: 911هـ)): وَأخرج الْحَاكِم عَن ثَوْر بن مجزاة قَالَ مَرَرْت بطلحة يَوْم الْجمل فِي آخر رَمق فَقَالَ لي مِمَّن أَنْت قلت من أأصحاب أَمِير الْمُؤمنِينَ عَليّ فَقَالَ إبسط يدك أُبَايِعك ; Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab Ma’rifatush Shahabah radhiyallahu ‘anhum (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ), keutamaan Thalhah (ذِكْرُ مَنَاقِبِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ التَّيْمِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.