Riwayat Umar bin Khattab (Seri 24)

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz menguraikan sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Riwayat-riwayat dalam Kitab-Kitab Tarikh dan Hadits terkait Hadhrat ‘Umar (ra). Aneka riwayat-riwayat mengenai kabar suka dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau (ra) adalah ahli surga.

Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Khalifah ‘Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.

Informasi kewafatan yang terhormat Dokter Tatsir Mujtaba Sahib (Fadhl ‘Umar Hospital, Rabwah-Pakistan), dzikr-e-khair atas beliau dan shalat jenazah setelah Jumatan.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 19 November 2021 (19 Nubuwwah 1400 Hijriyah Syamsiyah/14 Rabi’ul Akhir 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَآمين .

Dalam menjelaskan mengenai keadaan para sahabat sebelumnya dan revolusi yang terjadi setelah mereka masuk Islam, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) juga memberikan satu contoh yaitu Hadhrat ‘Umar (ra). Contoh ini telah saya sampaikan sebelumnya, namun pada kesempatan ini saya akan menjelaskan berkenaan dengan hal ini. Beliau menulis, “Lihatlah! Apa yang telah dicapai oleh para sahabat dan bagaimana mereka meraih kedudukan-kedudukan yang tinggi. Mereka telah berjuang sedemikian rupa, jika tidak, mereka ini dahulunya adalah orang-orang yang menjadi musuh bebuyutan Rasulullah (saw) dan biasa mencaci-maki beliau (saw). Hadhrat ‘Umar (ra) yang menjadi Khalifah ke-2 setelah Rasulullah (saw), pada mulanya beliau sedemikian rupa kerasnya memusuhi Hadhrat Rasulullah (saw) sehingga keluar dari rumah untuk membunuh beliau (saw). Di jalan beliau bertemu dengan seseorang yang bertanya, ‘Kemana engkau hendak pergi?’

Beliau menjawab, ‘Aku pergi untuk membunuh Muhammad (saw)!’

Ia mengatakan, ‘Pertama, bunuhlah saudari perempuan dan saudara iparmu yang telah menjadi muslim, baru kemudian bunuh Muhammad (saw).’

Mendengar hal ini, Hadhrat ‘Umar (ra) diliputi kemarahan dan berangkat menuju ke rumah saudari perempuan beliau. Setibanya di sana, beliau melihat pintu tertutup dan seseorang sedang membacakan Al-Qur’an Karim dan saudari perempuan serta saudara ipar beliau tengah menyimak. Ketika itu belum turun perintah pardah, oleh karena itu sahabat tersebut duduk di dalam rumah. Hadhrat ‘Umar (ra) mengetuk pintu dan mengatakan, ‘Bukalah!’

Setelah mendengar suara beliau, mereka yang ada di dalam merasa takut beliau akan memukul mereka, oleh karena itu mereka tidak membuka pintu. Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Jika kalian tidak membukakan pintu, aku akan mendobraknya.’ Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya, ‘Katakan! Apa yang sedang kalian lakukan tadi dan siapa orang yang sedang membaca sesuatu tadi?’

Mereka ingin menghindari beliau karena takut.

Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Perdengarkan kepadaku apa yang sedang kalian baca tadi!’

Adik perempuan beliau mengatakan, ‘Anda (Kakak atau Abang) akan melecehkannya. Karena itu, sekalipun Anda memukul dan membunuh kami, kami tidak akan memperdengarkannya.’

Beliau berkata, ‘Tidak! Saya berjanji tidak akan melecehkannya.’ Artinya, ‘Aku tidak akan melecehkan Al-Qur’an.’

Atas hal itu, adik perempuan beliau memperdengarkan atau membacakan Al-Qur’an, yang dengan mendengarnya Hadhrat ‘Umar (ra) menangis dan dengan berlari pergi kepada Rasulullah (saw) dengan pedang masih di tangan. Melihat beliau, Rasulullah (saw) mengatakan, ‘’Umar! Ada apa ini? Sampai kapan akan seperti ini?’

Mendengar ini beliau menangis dan berkata, ‘Tadinya saya keluar dengan target untuk membunuh Anda, namun saya sendiri yang telah menjadi mangsa.’” Ini adalah ringkasan dari peristiwa keseluruhan yang telah pernah saya sampaikan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ini keadaan awal yang dari hal itu mereka (para Sahabat) telah mengalami kemajuan. Kemudian, para sahabat ini yang sebelumnya biasa meminum minuman keras, biasa berkelahi satu sama lain (yakni beliau sedang membahas para sahabat yang lain juga) dan didapati banyak kelemahan-kelemahan pada diri mereka, namun ketika mereka menerima Hadhrat Rasulullah (saw) dan berjuang serta berupaya keras demi agama, maka tidak hanya diri mereka sendiri yang berhasil mencapai derajat-derajat yang luhur, bahkan mereka menjadi sarana untuk menyampaikan orang lain pada maqom yang tinggi. Mereka tidak terlahir menjadi sahabat, melainkan sama seperti yang lain, namun mereka melakukan amalan dan memperlihatkan gairah semangat, sehingga mereka menjadi sahabat. Hari ini, jika kita juga melakukan hal yang sama, maka kita juga bisa menjadi sahabat.”

Berkenaan dengan rasa takut Hadhrat ‘Umar kepada Allah Ta’ala, terdapat satu riwayat. Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, لَوْ مَاتَتْ شَاةٌ عَلَى شَطِّ الْفُرَاتِ ضَائِعَةً ، لَظَنَنْتُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلِي عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Jika di tepi sungai Furat ada seekor kambing yang hilang dan mati, maka saya takut Allah Ta’ala akan menanyakan mengenai hal ini kepada saya di hari kiamat.”[1] Dalam satu riwayat lain dikatakan bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, والذي بعث محمداً، صلى الله عليه وسلم، بالحق لو أن جملاً هلك ضَيَاعاً بشَطِّ الْفُرَاتِ لَخَشِيتُ أَنْ يَسْأَلَنِي اللَّهُ عَنْهُ “Jika di tepi sungai Farat ada seekor unta yang hilang dan mati, maka saya merasa takut Allah Ta’ala akan menanyakan mengenai hal ini kepada saya.”[2]

Ada satu riwayat dari Hadhrat Anas bin Malik (ra), سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، وَخَرَجْتُ، مَعَهُ حَتَّى دَخَلَ حَائِطًا فَسَمِعْتُهُ وَهُوَ، يَقُولُ وَبَيْنِي وَبَيْنَهُ جِدَارٌوَهُوَ فِي جَوْفِ الْحَائِطِعُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ بَخٍ بَخٍ وَاللَّهِ لَتَتَّقِيَنَّ اللَّهَ أَوْ لَيُعَذِّبَنَّكَ “Suatu hari saya pergi keluar bersama ‘Umar bin al-Khaththab (ra), hingga beliau sampai di satu kebun. Antara saya dengan beliau terhalang satu dinding. Beliau berada di dalam kebun. Pada waktu itu saya mendengar beliau berkata, ‘Aduhai! ‘Umar, putra Al-Khaththab. Engkau adalah Amirul Mukminin. Demi Allah! Engkau harus takut kepada Allah. Jika tidak, Dia pasti akan mengazab engkau.’”[3]

Pada cincin Hadhrat ‘Umar (ra) terukir kalimat berikut, كفى بالموت واعظاً ياعمرKafaa bil mauti waa’izhan, yaa ‘Umar”, yakni, “Wahai ‘Umar! Cukuplah maut (kematian) sebagai pemberi nasihat.”[4] Artinya, jika manusia mengingat kematian, maka itu adalah pemberi nasihat baginya dan hal ini cukup untuk menjaga keadaan dirinya tetap baik.

Abdullah bin Syaddad (عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شَدَّادٍ) menuturkan, سَمِعْتُ نَشِيجَ عُمَرَ وَأَنَا فِي آخِرِ الصُّفُوفِ يَقْرَأُ: “Saya mendengar sedu sedan Hadhrat ‘Umar (ra) dan ketika itu saya berada di shaff terakhir. Beliau menilawatkan ayat, إِنَّمَآ أَشْكُواْ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِInnamaa asykuu bats-tsi wa huznii ilallaah’ – ‘Sesungguhnya hanya kepada Allah-lah kuadukan kesedihanku dan keperihanku.’”[5]

Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ (rha) menyampaikan riwayat tersebut dalam satu khotbah dan menjelaskan rinciannya dalam bahasa beliau sendiri, “Hadhrat Abdullah bin Syaddad meriwayatkan, ‘Satu kali Hadhrat ‘Umar (ra) mengimami shalat dan saya berada di shaff terakhir, namun saya mendengar suara rintihan tangisan Hadhrat ‘Umar (ra). Beliau menilawatkan, إِنَّمَآ أَشْكُواْ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِInnamaa asykuu bats-tsi wa huznii ilallaah” yang artinya, “Hanya ke hadapan Allah-lah kucurahkan seluruh kesedihanku. Aku tidak perlu mencurahkannya ke hadapan yang lain.”’ Alhasil, seseorang yang larut dalam dzikr Ilahi, ia tidak mendapati tempat mana ia menangis mencurahkan kesedihan dan kedukaannya dan meringankan beban di dadanya selain singgasana Allah Ta’ala. Perawi mengatakan, ‘Saya berada di shaff belakang, namun saya bisa mendengar suara gemuruh dari dada Hadhrat ‘Umar (ra) hingga ke tempat saya berada.’”

Terdapat satu riwayatmengenai bagaimana Hadhrat ‘Umar (ra) memperhatikan para pengkhidmat dan orang-orang yang melakukan pengorbanan yang sudah sepuh. Tsa’labah bin Abu Malik (ثَعْلَبَةُ بْنُ أَبِي مَالِكٍ) meriwayatkan, إِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ قَسَمَ مُرُوطًا بَيْنَ نِسَاءٍ مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ، فَبَقِيَ مِنْهَا مِرْطٌ جَيِّدٌ، فَقَالَ لَهُ بَعْضُ مَنْ عِنْدَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَعْطِ هَذَا بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الَّتِي عِنْدَكَ. يُرِيدُونَ أُمَّ كُلْثُومٍ بِنْتَ عَلِيٍّ. فَقَالَ عُمَرُ أُمُّ سَلِيطٍ أَحَقُّ بِهِ. وَأُمُّ سَلِيطٍ مِنْ نِسَاءِ الأَنْصَارِ مِمَّنْ بَايَعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ عُمَرُ فَإِنَّهَا كَانَتْ تُزْفِرُ لَنَا الْقِرَبَ يَوْمَ أُحُدٍ. “Hadhrat ‘Umar bin al-Khaththab (ra) membagikan selendang kepada beberapa wanita penduduk Madinah. Ada beberapa selendang yang bagus, tetapi hanya satu yang tersisa. Salah seorang yang ada di samping beliau mengatakan, ‘Wahai Amirul Mukminin! Berikanlah ini kepada putri Rasulullah (saw) yang berada di samping Anda.’ Maksudnya adalah Hadhrat Ummu Kultsum (ra) putri Hadhrat Ali (ra) [istri Hadhrat ‘Umar (ra) juga]. Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, ‘Tidak! Ummu Salith (ra) lebih berhak atasnya.’ Beliau bersabda, ‘Hadhrat Ummu Salith (ra) termasuk di antara para wanita Anshar yang baiat kepada Rasulullah (saw).’ Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, ‘Pada perang Uhud beliau membawakan kantung-kantung air untuk kami.’”[6]

Kemudian terdapat juga satu riwayat mengenai bagaimana sikap baik beliau terhadap kerabat dari orang-orang yang telah memberikan pengorbanan. Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya, خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ إِلَى السُّوقِ، فَلَحِقَتْ عُمَرَ امْرَأَةٌ شَابَّةٌ فَقَالَتْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ هَلَكَ زَوْجِي وَتَرَكَ صِبْيَةً صِغَارًا، وَاللَّهِ مَا يُنْضِجُونَ كُرَاعًا، وَلاَ لَهُمْ زَرْعٌ وَلاَ ضَرْعٌ، وَخَشِيتُ أَنْ تَأْكُلَهُمُ الضَّبُعُ، وَأَنَا بِنْتُ خُفَافِ بْنِ إِيمَاءَ الْغِفَارِيِّ، وَقَدْ شَهِدَ أَبِي الْحُدَيْبِيَةَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَوَقَفَ مَعَهَا عُمَرُ، وَلَمْ يَمْضِ، ثُمَّ قَالَ مَرْحَبًا بِنَسَبٍ قَرِيبٍ. ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَى بَعِيرٍ ظَهِيرٍ كَانَ مَرْبُوطًا فِي الدَّارِ، فَحَمَلَ عَلَيْهِ غِرَارَتَيْنِ مَلأَهُمَا طَعَامًا، وَحَمَلَ بَيْنَهُمَا نَفَقَةً وَثِيَابًا، ثُمَّ نَاوَلَهَا بِخِطَامِهِ ثُمَّ قَالَ اقْتَادِيهِ فَلَنْ يَفْنَى حَتَّى يَأْتِيَكُمُ اللَّهُ بِخَيْرٍ. فَقَالَ رَجُلٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَكْثَرْتَ لَهَا. قَالَ عُمَرُ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَاللَّهِ إِنِّي لأَرَى أَبَا هَذِهِ وَأَخَاهَا قَدْ حَاصَرَا حِصْنًا زَمَانًا، فَافْتَتَحَاهُ، ثُمَّ أَصْبَحْنَا نَسْتَفِيءُ سُهْمَانَهُمَا فِيهِ “Saya pergi ke pasar bersama Hadhrat ‘Umar bin al-Khaththab (ra). Seorang wanita muda menemui Hadhrat ‘Umar (ra) dari belakang dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Suami saya telah wafat dan meninggalkan anak yang masih kecil-kecil. Demi Allah! Mereka tidak memiliki kaki kambing sekalipun. Tidak juga memiliki ladang, tidak juga hewan yang menghasilkan susu. Saya takut mereka tidak bisa makan di tahun paceklik. Saya adalah putri Khufaf bin Ima al-Ghiffariy dan ayahanda saya hadir bersama Rasulullah (saw) di Hudaibiyah.’

Mendengar hal ini Hadhrat ‘Umar (ra) berhenti dan tidak melangkah ke depan. Hadhrat ‘Umar (ra) berkata, ‘Aduhai! Sungguh hubungan yang sangat dekat.’ Setelah itu, Hadhrat ‘Umar (ra) pulang dan membawa seekor unta yang sehat yang terikat di rumah dan mengisi dua karung dengan biji-bijian lalu memuatkannya di atas unta. Di tengahnya beliau menaruh uang untuk biaya hidup setahun penuh serta pakaian. Kemudian beliau memberikan tali penuntun unta tersebut kepada wanita tadi dan bersabda, ‘Bawalah ini. Ini tidak akan habis, Allah Ta’ala akan memberikan lebih banyak lagi kepadamu.’

Seseorang berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Anda telah memberi terlalu banyak kepadanya.’

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, ‘Ibumu kehilanganmu.’ Maksudnya, beliau mengungkapkan kemarahan, ‘Demi Allah! Sekarang pun saya masih melihat ayah dan saudaranya mengepung satu benteng hingga beberapa waktu, yang mana akhirnya mereka menaklukkannya. Lalu setelah itu pada pagi hari kami membagikan bagian mereka berdua di antara kami. Yakni seluruh orang-orang Islam mendapatkan ghanimah dari benteng yang mereka berdua taklukkan itu, seolah-olah kami membagikan dari bagian mereka. Alhasil, itulah alasannya mengapa menjadi haknya untuk diberikan sesuatu.’”[7]

Mengenai bagaimana beliau memperhatikan para wanita dan orang-orang yang sudah sepuh, uzur dan membutuhkan, terdapat satu riwayat. Hadhrat Thalhah (ra) meriwayatkan bahwa satu kali Hadhrat ‘Umar (ra) keluar dari rumah di kegelapan malam. Hadhrat Thalhah (ra) melihatnya. Hadhrat ‘Umar (ra) masuk ke satu rumah, kemudian masuk ke rumah lainnya. Ketika pagi tiba, Hadhrat Thalhah (ra) pergi ke rumah tersebut, di sana ada seorang wanita tua yang buta sedang duduk. (Beliau pergi ke salah satu dari rumah-rumah tersebut). Hadhrat Thalhah bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan orang yang datang kepadamu pada tadi malam?”

Wanita tua itu menjawab, “Ia cukup lama mengkhidmati saya, membetulkan pekerjaan saya serta membersihkan kotoran saya.”

Mendengar hal ini Hadhrat Thalhah (ra) dengan penuh penyesalan berkata pada dirinya sendiri, “Wahai Thalhah! Ibumu kehilanganmu. Sungguh sangat disesalkan, saya menyelidiki kesalahan ‘Umar (ra), namun yang beliau lakukan di sini adalah perkara lain.”[8] Ini adalah standar agung pengkhidmatan terhadap masyarakat yang Hadhrat ‘Umar (ra) telah tegakkan.

Terdapat banyak sekali riwayat mengenai Hadhrat ‘Umar (ra) memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, para wanita dan anak-anak. Bagaimana dengan merasa takut kepada Allah Ta’ala, beliau selalu berupaya memenuhi dan senantiasa gelisah akan hal ini. Ketika beliau melihat bahwa suatu kebutuhan belum terpenuhi dan itu di bawah pemerintahan beliau, maka beliau menjadi sangat gelisah. Saya telah sampaikan beberapa contoh dari berbagai referensi pada jum’at-jum’at sebelumnya. Misalnya, bagaimana pada satu kesempatan beliau menanyakan kepada seorang wanita mengenai penyebab anak-anaknya menangis. Ia menjawab bahwa, “Karena ‘Umar (ra) tidak menetapkan jatah makanan bagi anak-anak yang masih menyusui, oleh karena itu untuk membiasakan anak memakan makanan, saya tidak memberikannya susu dan ia sekarang menangis karena lapar.”

Mendengar hal ini Hadhrat ‘Umar (ra) menjadi gelisah dan segera menyiapkan makanan dan minuman dan mengumumkan bahwa, “Kedepannya setiap anak yang baru lahir juga mendapatkan jatah makanan.” Demikian juga di satu kesempatan seorang wanita musafir yang tidak mempunyai apa pun untuk dimakan dan pada malam hari terpaksa mendirikan tenda dan anak-anaknya menangis karena lapar. Ketika di malam hari beliau mengetahui hal ini maka segera beliau memikul bahan makanan dan minuman dari gudang persediaan dan mengantarkannya kepadanya. Beliau merasa gelisah dan beliau tidak merasa tenang hingga memasak makanan, lalu menghidangkannya kepada anak-anak itu dan melihat mereka tertawa. Kemudian beliau pulang dari tempat tersebut.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Lihatlah Hadhrat ‘Umar (ra)! Di satu sisi dengan melihat wibawa dan karisma beliau raja-raja besar pun menjadi gemetar. Pemerintahan Kaisar dan Kisra gemetar ketakutan. Namun di sisi lain, di kegelapan malam, dengan melihat anak-anak seorang wanita badui yang tengah kelaparan, ‘Umar (ra) yang adalah insan bermartabat tinggi menjadi sangat gelisah dan dengan memanggul karung gandum di punggungnya dan membawa kotak minyak samin di tangannya, beliau datang kepada mereka dan tidak beranjak pulang hingga beliau dengan tangan sendiri memasakkan makanan, memberi makan anak-anak tersebut dan anak-anak itu tidur dengan tenang.”

Kemudian suatu kali diriwayatkan dari Hadhrat Ibnu ‘Umar (ra) bahwa ketika Hadhrat ‘Umar (ra) kembali ke Madinah dari Syam, beliau terpisah dari orang-orang supaya bisa mengetahui keadaan masyarakat. Yakni beliau terpisah dari rombongan kafilah dan pergi ke satu arah supaya dapat mengetahui ihwal orang-orang. Beliau melewati seorang wanita tua yang sedang berada di kemahnya. Beliau mulai menanyai wanita tersebut. Ia mengatakan, “Wahai manusia! Apa yang telah dilakukan ‘Umar (ra)?”

Beliau berkata, “Dia ada di sini dan telah datang dari Syam.” Lalu wanita itu mengatakan, “Semoga Tuhan tidak memberikan ganjaran baik kepadanya dariku.”

Beliau bersabda, “Saya turut menyesal bagi Anda. Mengapa?” Artinya, “Mengapa engkau berkata demikian?”

Wanita tua itu mengatakan, “Sejak ia menjadi Khalifah hingga hari ini tidak pernah saya dapatkan sumbangan apa pun darinya. Tidak dinar, tidak juga dirham.”

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Saya turut menyesal bagi Anda dan bagaimana ‘Umar (ra) bisa tahu tentang keadaan anda, sedangkan Anda tinggal di suatu tempat yang jauh di dekat hutan.”

Wanita tua itu tidak mengetahui bahwa orang yang tengah berbicara dengannya itu adalah Hadhrat ‘Umar (ra). Wanita tua itu mengatakan, “Subhanallah! Saya tidak menduga bahwa seseorang yang menjadi pelindung bagi masyarakat, namun ia tidak mengetahui apa yang terjadi di sebelah timur dan barat dari wilayahnya.”

Terkait:   Keistimewaan Ali bin Abi Thalib

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) menangis dan mengalihkan perhatiannya pada wanita tersebut dan berkata, “Oh ‘Umar! Oh ‘Umar! Berapa banyak orang yang akan menuntut. Setiap orang memiliki pemahaman agama yang lebih darimu. Wahai ‘Umar!”

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda kepadanya, “Saya ingin menyelamatkan ‘Umar (ra) dari jahanam, katakanlah! Berapa anda akan menjual hak sebagai orang yang terzalimi?”

Wanita itu mengatakan, “Janganlah bercanda dengan saya. Semoga Tuhan mengasihi Anda.”

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Ini bukanlah candaan.” Hadhrat ‘Umar (ra) bersikeras terhadapnya, hingga beliau membeli haknya sebagai yang terzalimi itu seharga 25 dinar.

Peristiwa ini masih berlangsung ketika Hadhrat Ali bin Abi Thalib (ra) dan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (ra) tiba dan keduanya mengucapkan, “Assalamu ’alaikum, wahai Amirul Mukminin!”

Wanita itu meletakkan tangannya di atas kepalanya dan mengatakan, “Semoga Allah memberkati. Aku telah mengatakan hal buruk terhadap Amirul Mukminin langsung di hadapannya.”

Amirul Mukminin mengatakan kepadanya, “Anda tidak bersalah. Semoga Allah Ta’ala mengasihi Anda.”

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) meminta sepotong kulit supaya bisa menulis di atasnya, namun tidak ada. Kemudian beliau memotong sebagian dari kain penutup yang beliau kenakan dan menulis, بسم الله الرحمن الرحيمهذا ما اشترى عمر من فلانة ظلامتها منذ ولي إلى يومنا بخمسة وعشرين ديناراً، فما تدعي عند وقوفي في المحشر بين يدي الله عز وجل فعمر منه بريء، شهد على ذلك علي بن أبي طالب وعبد الله بن مسعودBismillaahir rohmaanir rohiim. Ini adalah surat keterangan bahwa ‘Umar (ra) pada hari ini telah membeli dari wanita ini hak sebagai yang terzalimi sejak ‘Umar (ra) menjadi penguasa hingga hari ini senilai 25 dinar. Jika ia di padang Mahsyar berdiri di hadapan Allah Ta’ala dan mengajukan tuntutan, maka ‘Umar (ra) terbebas darinya. Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud menjadi saksi atas hal ini.”

Kemudian beliau memberikan dokumen itu kepada Hadhrat Ali (ra) dan bersabda, “Jika saya berlalu dari dunia ini mendahului Anda, letakkanlah ini di dalam kain kafan saya.”[9]

Kita lihat bagaimana standar yang dimiliki orang-orang sekarang dalam mencari pasangan bagi putra putri mereka. Tentang bagaimana standar yang dimiliki Hadhrat ‘Umar dalam hal ini, ada satu riwayat, diriwayatkan oleh Hadhrat Aslam (yang telah dimerdekakan oleh Hadhrat ‘Umar): “Pada suatu malam saya berkeliling di Madinah bersama Amirul Mukminin, lalu beliau bersandar pada satu dinding untuk beristirahat beberapa saat lamanya. Hadhrat ‘Umar mendengar ada seorang wanita tua yang tengah bersandar di balik dinding rumah itu. Di dalam rumah, wanita tua itu berkata kepada putrinya, ‘Tidakkah Anda mengetahui bahwa utusan Amirul Mukminin telah mengumumkan agar jangan mencampurkan air ke dalam susu.’ Ibunya berkata, “Amirul Mukminin sedang tidak ada di sini, begitu juga utusan beliau”. Putrinya berkata, “Demi Tuhan, tidaklah ini patut bagi kita, bahwa di depan beliau kita taat, sementara itu secara diam-diam kita menentangnya”.

Mendengarnya, Hadhrat ‘Umar sangat gembira dan bersabda kepada temannya, “Wahai Aslam, berilah tanda di pintu rumah ini”. Di hari berikutnya Hadhrat ‘Umar mengirim seseorang untuk penikahan perempuan itu dengan putranya, Asim. (Melihat kejujuran dan budi pekertinya lah beliau menjodohkan putranya dengan perempuan itu). Darinya Asim memiliki seorang anak perempuan dan Hadhrat ‘Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan dari perempuan itu.[10]

Di dalam satu riwayat, Salamah [(سلمة), nama seorang laki-laki] menyampaikan, مر عمر بن الخطاب رضى الله عنه في السوق ومعه الدرة فخفقني بها خفقة فأصاب طرف ثوبي فقال أمط عن الطريق فلما كان في العام المقبل لقيني فقال يا سلمة تريد الحج فقلت نعم فأخذ بيدي فانطلق بي إلى منزله فأعطاني ستمائة درهم وقال استعن بها على حجك واعلم أنها بالخفقة التي خفقتك قلت يا أمير المؤمنين ما ذكرتها قال وأنا ما نسيتها “Satu ketika saya melewati pasar dan melihat Hadhrat ‘Umar yang tengah berlalu untuk suatu pekerjaan. Beliau membawa cambuk di tangannya. Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Wahai Salamah, menepilah dari jalan!’ Lalu beliau dengan perlahan mengisyaratkan dengan tangan beliau sehingga cambuk pun sedikit mengenai baju saya. Saya menepi dari jalan dan beliau pun diam, hingga peristiwa ini pun telah berlalu setahun lamanya. Lalu saya berjumpa kembali dengan Hadhrat ‘Umar di pasar. Beliau bersabda, ‘Wahai Salamah, apakah tahun ini Anda ingin pergi haji?’

Saya menjawab, “Ya, Wahai Amirul Mukminin”.

Lalu beliau memegang tangan saya dan membawa saya ke rumah beliau dan mengeluarkan 600 Dirham dari satu tas dan memberinya kepada saya lalu bersabda, ‘Wahai Salamah, gunakanlah ini untuk kebutuhanmu. Dan ini adalah ganti dari kejadian setahun lalu saat saya meminggirkanmu dengan cambuk.’”

Salamah menuturkan, “Saya menjawab, ‘Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, saya sama sekali telah melupakan hal ini dan kini Tuan mengingatkannya kembali.’”[11]

Hadhrat ‘Umar (ra) pun selalu memperhatikan bagaimana harga-harga di pasar, agar jangan sampai ada penduduk yang terganggu kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu dalam menjelaskan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud menjelaskan: Salah satu hak-hak penduduk adalah, tidak adanya ketimpangan dalam urusan jual beli. Kita menyaksikan bahwa Islam pun tidak melupakan hak-hak ini. Maka dari itu Islam telah melarang untuk menaikkan harga pasar dan menjual barang dengan harga tinggi. Demikian pula Islam pun melarang untuk menimpakan kerugian kepada yang lainnya dengan menurunkan harga pasar sehingga melumpuhkan perdagangan mereka. (seperti halnya yang terjadi di pasar dunia dewasa ini). Satu ketika di Madinah ada seseorang yang menjual anggur dengan harga yang tidak dapat dijangkau oleh penjual lainnya. Hadhrat ‘Umar lewat di dekat orang itu lalu beliau memarahinya karena dengan cara tersebut para penjual yang lain pun menjadi rugi. Alhasil, Islam pun melarang menjual dengan harga tinggi serta melarang menurunkan harga pasar, supaya jangan sampai menimpakan kerugian baik kepada pedagang maupun orang banyak.”[12]

Amir menuturkan, أتى رجل عمر فقال: إن ابنةً لي كانت وُئِدت في الجاهلية، فاستخرجتها قبل أن تموت، فأدركت الإسلام، فلما أسلمت أصابت حدًّا من حدود الله، فعمدتْ إلى الشفرة لتذبح بها نفسها، فأدركتها وقد قطعت بعض أوداجها، فداويتها حتى برئت، ثم إنها أقبلت بتوبة حسنة، فهي تخطب إلَيّ يا أمير المؤمنين، فأخبر من شأنها بالذي كان؟ فقال عمر: أتخبر بشأنها؟ تعمد إلى ما ستره الله فتبديه! والله لئن أخبرت بشأنها أحدًا من الناس لأجعلنك نَكالا لأهل الأمصار، بل أنكحها بنكاحِ العفيفة المسلمة “Ada seseorang yang bertemu dengan Hadhrat ‘Umar dan berkata, ‘Saya pernah memiliki satu anak perempuan yang di masa jahiliyah pernah saya kuburkan, tetapi saya mengangkatnya sebelum kematiannya. Ketika ia memeluk Islam, ia melakukan perbuatan yang melampaui salah satu batas dari batasan yang telah ditetapkan Allah Ta’ala. Ia melakukan kesalahan sehingga melampaui batas. Ia lalu berusaha membunuh dirinya sendiri dengan mengambil pisau. Saya mendapatinya telah memotong sedikit urat nadinya, kemudian saya mengobatinya hingga ia pun sembuh. Setelah itu ia pun bertaubat dengan sungguh-sungguh. Wahai Amirul Mukminin, saat ini telah datang pada saya lamaran menikah untuknya. Ada yang hendak melamarnya. Apakah saya harus menyampaikan perkara yang telah lalu ini kepadanya, yaitu bagaimana kehidupannya sebelum ini, apa saja yang pernah terjadi dengannya, dan apa yang pernah ia lakukan dengan dirinya?’

Hadhrat ‘Umar bersabda kepadanya, ‘Allah Ta’ala telah menutupi aibnya, sementara Anda malahan ingin menampakkannya. Demi Allah, seandainya Anda menceritakan tentang hal ini kepada siapapun juga, maka saya akan menjadikan Anda sebagai suatu tanda ibrah [pelajaran] di hadapan segenap penduduk kota. Jadi, nikahkanlah ia seperti halnya seorang wanita Muslim yang suci dan lupakanlah hal-hal tersebut.’”[13]

Tentang bagaimana kekhawatiran Hadhrat ‘Umar terhadap keselamatan jiwa segenap orang dari Wabah Amwas, tertera bahwa ada sebuah lembah bernama Amwas yang terletak 6 Mil dari jalan antara Ramallah menuju Baitul Maqdis. Tertera di buku-buku sejarah bahwa wabah penyakit tersebut bermula dari tempat ini lalu menyebar di negeri Syam. Oleh karena itulah wabah ini disebut wabah Amwas. Akibat wabah ini, tidak terhitung korban yang meninggal. Sebagian berpendapat bahwa ada sekitar 25.000 orang yang telah meninggal.[14] Pada tahun 17 Hijriah, Hadhrat ‘Umar pergi ke Syam. Setiba beliau di Sarg, beliau bertemu dengan para pemimpin pasukan. Sarg adalah nama sebuah desa di lembah Tabuk yang berada di daerah perbatasan Syam dengan Hijaz. Hadhrat ‘Umar mendapatkan kabar bahwa telah menyebar suatu penyakit di dataran Amwas. Maka setelah bermusyawarah, Hadhrat ‘Umar kembali dari sana.

Rincian tentang peristiwa ini terdapat di riwayat berikut di Shahih al-Bukhari: (beberapa hal tentang peristiwa ini pernah dijelaskan sebelumnya berdasarkan riwayat yang lain) Hadhrat Abdullah bin Abbas menyampaikan, أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أَهْلُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ ادْعُ لِيَ الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ . فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لأَمْرٍ وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ . فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي . ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِيَ الأَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيلَ الْمُهَاجِرِينَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلاَفِهِمْ . فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي . ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ . فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلاَ تُقْدِمْهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ . فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ إِنِّي مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ . فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ فَقَالَ عُمَرُ لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَوَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُنَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عِدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ” . قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ثُمَّ انْصَرَفَ “Ketika Hadhrat ‘Umar tiba di tempat bernama Sarg, beliau melakukan pertemuan dengan para Amir (Komandan) tentara yaitu Hadhrat Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah dan kawan-kawannya. Para komandan perang itu menyampaikan berita kepada Khalifah bahwa di Syam telah pecah (menyebar) wabah penyakit thaun. Hadhrat Umar berkata, ادْعُ لِي الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ ‘Panggilkanlah kalangan Muhajirin awal untuk bermusyawarah!’ Mereka dipanggil dan bermusyawarah. Namun ada perbedaan pendapat diantara mereka. Satu perwakilan Muhajirin berpendapat, ‘Kita hendaknya jangan mundur.’ Artinya, tetap melanjutkan perjalanan. Perwakilan lain mempertimbangkan, ‘Anda membawa rombongan yang di dalamnya terdapat para sahabat Rasulullah (saw). Tidak tepat membawa mereka dalam wabah ini.’ Hadhrat Umar menyuruh kaum Muhajirin pergi meninggalkan beliau dan meminta mereka memanggil kaum Anshar, namun seperti halnya Muhajirin, terjadi beda pendapat di kalangan Anshar. Hadhrat Umar menyuruh para Anshar pergi meninggalkan beliau dan bersabda, ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ ‘Panggillah para sesepuh dari kalangan Quraisy yang pada saat Fath Makkah menerima Islam dan berhijrah (pindah) ke Madinah.’ Mereka memberikan musyawarah dengan suara bulat bahwa rombongan sebaiknya kembali karena di tempat tujuan wabah tengah menjangkit. Hadhrat Umar (ra) pun setuju dan mengumumkan untuk kembali pulang.

Hadhrat Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah pada saat itu bertanya, أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ ‘Mungkinkah kita dapat menghindar (melarikan diri) dari takdir Allah?’

Hadhrat Umar bersabda, لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا مُخْصِبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصِبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ ‘Wahai Abu Ubaidah! Saya berharap yang mengatakan ini orang selain Anda. Ya, berlarinya kita dari takdir Allah adalah sebenarnya kita pun menuju takdir Allah. Jika Anda memiliki unta, dan Anda membawa unta itu pada suatu lembah yang memiliki dua sisi, sisi pertama adalah hijau subur, sementara sisi kedua adalah kering, maka bukankah jika Anda menggembalakan unta-unta Anda di tempat yang hijau subur, maka itu berasal dari takdir Allah, dan apabila Anda menggembalakannya di tempat yang kering maka itu pun berasal dari takdir Allah?’”

Perawi berkata, “Tidak lama kemudian, Hadhrat Abdurrahman bin Auf – yang sebelumnya tidak dapat hadir karena suatu kesibukan – pun tiba. Beliau berkata, ‘Saya memiliki pengetahuan akan hal ini. Saya pernah mendengar Rasulullah (saw) bersabda: إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ “Jika kalian mendengar bahwa di suatu tempat wabah menjangkit penyakit menular, janganlah pergi ke tempat tersebut. Sementara jika kalian berada di daerah yang terjangkit wabah penyakit menular, janganlah meninggalkan tempat tersebut.”’ Atas hal ini Hadhrat ‘Umar memanjatkan syukur kepada Allah dan beranjak kembali.”[15]

Saat itu Hadhrat ‘Umar berangkat dari Madinah dan beliau belum sampai di tempat yang terjangkiti wabah. Oleh karena itu, beliau kembali seraya membawa para sahabat beliau. Namun, Hadhrat Abu Ubaidah, karena beliau merupakan panglima seluruh pasukan, dan memang sejak sebelumnya tinggal di daerah yang terjangkit wabah, oleh karena itu beliau bersama para pasukan Muslim pun tinggal di wilayah yang terjangkit wabah. (mereka yang sebelumnya di sana, tetap di sana). Setiba di Madinah, Hadhrat ‘Umar mulai berpikir tentang umat muslim di Syam, yaitu bagaimana supaya mereka diselamatkan dari kebinasaan-kebinasaan akibat Ta’un. Hadhrat ‘Umar sangat memikirkan keadaan Hadhrat Abu Ubaidah. Satu hari, Hadhrat ‘Umar menulis surat kepada Hadhrat Abu Ubaidah, “Ada tugas penting dari saya untuk Anda. Maka dari itu saat Anda menerima surat ini, segeralah berangkat menuju Madinah. Jika surat ini tiba malam hari, maka janganlah menunggu pagi tiba, dan jika surat ini tiba di waktu pagi, maka janganlah menunggu waktu malam.” (Inilah kecintaan Hadhrat ‘Umar terhadap Hadhrat Abu Ubaidah).

Tatkala Hadhrat Abu Ubaidah membaca surat tersebut, beliau berkata, “Saya memahami apa yang diinginkan oleh Amirul Mukminin. Semoga Allah menurunkan rahmat atas Hadhrat ‘Umar. Beliau ingin menjadikan abadi seorang yang tidak hidup abadi”. (Yakni, Hadhrat Abu Ubaidah berpikir, “Allah maha mengetahui, apa yang akan terjadi pada diri saya”). Lalu beliau menjawab surat tersebut, “Wahai Amirul Mukminin, saya memahami apa yang Tuan kehendaki. Mohon janganlah memanggil kami. Mohon biarkanlah kami di sini. Saya hanyalah seorang prajurit diantara para prajurit muslim. Apa yang telah ditakdirkan, biarkan itu terjadi. Bagaimana bisa saya berpaling darinya.”

Hadhrat Umar (ra) menangis saat membaca surat itu. Beliau tengah duduk di antara para Muhajirin. Mereka bertanya, مَاتَ أَبُو عُبَيْدَةَ؟ ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah Hadhrat Abu Ubaidah telah wafat?’

Beliau bersabda, لاَ، وَكَأَنْ قَدْ. ‘Tidak, tapi seolah-olah sudah (mungkin akan wafat).’[16]

Setelah menerima saran dari para sahabat yang ahli, Hadhrat ‘Umar lalu menulis surat kepada Hadhrat Abu Ubaidah: “Anda tengah membawa orang-orang turun ke dalam kesempitan. Oleh karena itu pergilah menuju tempat yang tinggi dan berudara bebas”. (bukan ke tempat yang rendah, cobalah pergi ke daerah yang tinggi, di pegunungan, di tempat yang berudara lebih segar).

Baru saja Hadhrat Abu Ubaidah berpikir untuk menjalankan perintah ini, wabah telah menyerang beliau sehingga beliau pun wafat. Hadhrat Abu Ubaidah sempat mengangkat Hadhrat Mu’az bin Jabal sebagai pengganti beliau, namun Hadhrat Mu’az pun jatuh terserang wabah hingga beliau pun wafat. Hadhrat Mu’az sempat mengangkat Hadhrat Amru bin al-’Ash sebagai pengganti beliau. Beliau menyampaikan satu pidato dan bersabda, “Sekali wabah ini datang, ia merebak bagaikan api. Sembunyilah ke pegunungan dan selamatkanlah jiwa Anda sekalian.” Hadhrat Amru bin al-’Ash keluar dari tempat itu dengan membawa segenap orang dan pergi ke pegunungan hingga wabah pun mereda dan berangsur-angsur hilang. Tatkala Hadhrat ‘Umar mengetahui pidato Hadhrat Amru bin al-’Ash itu, beliau tidak hanya menyukainya, tapi menganggapnya sebagai pengamalan perintah yang telah sebelumnya beliau kirim kepada Hadhrat Abu Ubaidah.

Terkait:   Riwayat 'Umar bin al-Khaththab (3)

Selain Hadhrat Abu Ubaidah bin Jarrah, Hadhrat Mu’az bin Jabal, Hadhrat Yazid bin Abu Sufyan, Hadhrat Harits bin Hisyam, Hadhrat Suhail bin Amru, dan Hadhrat Utbah bin Suhail, serta beberapa sosok terkemuka lainnya pun wafat akibat wabah tersebut.

Hadhrat Mushlih Mau’ud dalam menyampaikan tentang kepulangan Hadhrat ‘Umar karena adanya wabah Amwas, di satu tempat beliau menjelaskan: ketika terjadi peperangan di Syam dan muncul wabah di sana, Hadhrat ‘Umar pun pergi ke sana, supaya dengan menerima pendapat dari orang-orang di sana, beliau dapat memberi petunjuk yang tepat untuk melindungi pasukan muslim.

Namun tatkala wabah telah menyerang dengan keras, para sahabat menyampaikan kepada beliau, “Tidak baik bagi Hudhur untuk tinggal di sini, sebaiknya Hudhur pulang ke Madinah”. Tatkala Hadhrat ‘Umar berkehendak untuk pulang, Hadhrat Abu Ubaidah berkata: أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ ؟ afiraaran min qadarillah? Apakah Tuan berlari dari takdir Allah Ta’ala?

Hadhrat ‘Umar dengan segera menjawab, نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ na’am, nafirru min qadarillaahi ilaa qadarillaah ya, kita lari dari satu takdir Allah Ta’ala menuju takdir Allah yang lain.

Alhasil, tidaklah diperbolehkan untuk meninggalkan sarana-sarana duniawi. Ya, hendaknya menjadikan sarana-sarana duniawi sebagai pengikut agama.

Beberapa peristiwa tentang pengabulan doa Hadhrat ‘Umar: Hadhrat Khawwaat bin Jubair (خَوَّاتِ بْنِ جُبَيْرٍ) berkata, أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ شَدِيدٌ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ ، فَخَرَجَ عُمَرُ بِالنَّاسِ ، فَصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ ، وَخَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْ رِدَائِهِ ، فَجَعَلَ الْيَمِينَ عَلَى الْيَسَارِ ، وَالْيَسَارَ عَلَى الْيَمِينَ ، فَقَالَ : ” اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَسْقِيكَ فَمَا بَرِحُوا حَتَّى مُطِرُوا فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ إِذَا أَعْرَابٌ قَدِمُوا ، فَأَتَوْا عُمَرَ ، فَقَالُوا : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، بَيْنَمَا نَحْنُ فِي بَوَادِينَا يَوْمَ كَذَا ، فِي سَاعَةِ كَذَا ، إِذَا أَظَلَّنَا غَمَامٌ ، فَسَمِعْنَا مِنْهَا صَوْتًا : إِيَّاكَ الْغَوْثَ أَبَا حَفْصٍ ، إِيَّاكَ الْغَوْثَ أَبَا حَفْصٍ “Di masa kekhalifahan Hadhrat ‘Umar, orang-orang menghadapi kemarau yang keras. Hadhrat ‘Umar lalu keluar bersama orang-orang dan memimpin shalat Istisqa sebanyak 2 rakaat, lalu beliau menyilangkan selendang beliau pada kedua pundak beliau. Beliau meletakkan bagian kanan selendang beliau ke pundak kiri beliau, dan beliau meletakkan bagian kiri selendang beliau ke pundak bagian kanan – beliau melipatnya di pundak – lalu beliau mengangkat tangan beliau untuk berdoa seraya bersabda, اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ وَنَسْتَسْقِيكَ  Allahumma inna nastaghfiruka wa nastasqiqa” – “Wahai Allah Azza wa Jalla, sesungguhnya kami memohon ampunan kepada Engkau, dan memohon turunnya hujan.” Baru saja beliau berdoa dan belum beranjak dari tempat beliau sementara hujan pun mulai turun. Perawi menuturkan: orang-orang yang berasal dari desa lalu datang menemui Hadhrat ‘Umar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, pernah suatu hari, suatu saat tatkala kami ada di lembah tempat kami tinggal, dan saat itu ada awan menaungi kami, kami mendengar suatu suara dari dalamnya, إِيَّاكَ الْغَوْثَ أَبَا حَفْصٍ ، إِيَّاكَ الْغَوْثَ أَبَا حَفْصٍ “Hujan Abu Hafs mendatangimu, hujan Abu Hafs mendatangimu”.[17]

Salah satu peristiwa pengabulan doa beliau adalah tentang mengalirnya kembali sungai nil. Diterangkan, bahwa dahulu ketika Sungai Nil mengering, orang-orang di sana sebelum Islam menjalani sebuah ritual, dimana apakah ritual tersebut memang berpengaruh atau tidak, Allah yang lebih mengetahui, dan Islam datang mengakhiri ritual tersebut.

Terkait peristiwa bagaimana berakhirnya ritual tersebut, diterangkan sebagai berikut: diriwayatkan dari Qais bin Hijaj (قيس بن الحجاج) bahwa tatkala Mesir telah ditaklukkan, suatu hari di suatu bulan, penduduk bukan Arab di sana pergi menemui Hadhrat Amru bin al-’Ash. Orang-orang tersebut berkata, “Wahai Amir, ada satu ritual yang kami miliki untuk sungai nil yang tanpanya sungai ini tidak mengalir.”

Hadhrat Amru bertanya, “Apakah itu?”

Mereka menjawab, “Ketika malam kesebelas di bulan ini berlalu, kami pergi ke tempat seorang gadis di hadapan kedua orangtuanya lalu kami meminta restu orangtuanya. Kemudian, kami memakaikannya dengan pakaian terbaik dan memberinya perhiasan-perhiasan, lalu kami memasukkannya ke dalam sungai nil.”

Hadhrat Amru berkata kepada mereka, “Hal ini tidak akan pernah ada di dalam Islam. Sesungguhnya Islam mengakhiri segenap ritual-ritual yang ada sebelumnya.” Kemudian mereka pun tinggal di sana dan saat itu sungai nil sama sekali tidak mengalir, hingga orang-orang pun telah berketetapan untuk keluar dari negeri mereka, (yakni ritual itu harus dilakukan sebelumnya). Pada akhirnya, terjadi dimana sungai nil pun telah kering, orang-orang lalu berkeinginan untuk keluar dari sana meninggalkan tempat itu. Ketika Hadhrat Amru melihat keadaan ini, beliau menulis kepada Hadhrat ‘Umar bin al-Khaththab tentang hal ini.

Hadhrat ‘Umar menulis jawaban berikut kepada Hadhrat Amru bin al-’Ash, “Apa yang Anda sampaikan itu adalah benar…sudah barang tentu Islam membersihkan semua tradisi tidak baik seperti itu.” Beliau memasukkan catatan kecil dalam surat lalu mengirimnya. Hadhrat ‘Umar menulis kepada Hadhrat Amru, “Saya telah mengirimkan surat untukmu dan didalam surat tersebut terdapat satu catatan kecil. Masukkanlah catatan itu ke dalam sungai nil.” Ketika surat Hadhrat ‘Umar tiba di tangan Hadhrat Amru, beliau membuka catatan kecilnya yang tertulis, من عبد الله أمير المؤمنين عمر إلى نيل مصر – أما بعد – فإن كنت إنما تجري من قبلك فلا تجر وإن كان الله الواحد القهار هو الذي يجريك فنسأل الله الواحد القهار أن يجريك “Dari hamba Allah yang merupakan Amirul Mukminin bernama ‘Umar ditujukan kepada sungai Nil Mesir. Amma Ba’du, [wahai Nil], jika engkau mengalir karena dirimu sendiri, maka janganlah mengalir, namun jika Allah Ta’ala-lah yang mengalirkanmu, maka aku berdoa kepada Allah Yang Maha Esa dan Perkasa agar Dia mengalirkanmu.”

Hadhrat Amru memasukkan catatan kecil tersebut kedalam sungai Nil sehari sebelum perayaan Salib (Natal). Ketika pagi tiba, dalam satu malam saja Allah Ta’ala mengalirkan sungai nil dengan ketinggian naik lebih dari 16 dzira’ (1 dzira’ = 48 centimeter). Dengan begitu Allah Ta’ala mengakhiri tradisi buruk Bangsa Mesir tersebut.[18]

Dalam banyak buku sejarah terdapat banyak pendapat yang membenarkan peristiwa tersebut, namun seorang penulis riwayat hidup Hadhrat ‘Umar bernama Muhammad Husain Haikal membantah kebenaran peristiwa tersebut, ia berpendapat tidak ada tradisi seperti itu. Alhasil, ini merupakan satu peristiwa.

Berkenaan dengan peristiwa terdengarnya suara Hadhrat ‘Umar oleh Hadhrat Sariyah (ra), komandan yang sedang dalam peperangan. Sebelum ini pun telah saya sampaikan. Namun saya sampaikan lagi di kesempatan ini kaitannya dengan pengabulan doa beliau dan bagaimana perlakukan khas Allah Ta’ala. Di dalam Tarikh ath-Tabari, Hadhrat ‘Umar mengirim Hadhrat Sariyah bin Zunaim ke kota Fasa dan Dara Bajird. Setiba di sana, beliau mengepung orang-orang di sana dan memanggil teman-teman sekutunya di sana untuk membantunya. Orang-orang itu lalu bersatu di padang pasir untuk melawan pasukan muslim. Tatkala jumlah mereka lebih banyak, mereka pun mengepung umat muslim di segala arah. Saat itu Hadhrat ‘Umar tengah menyampaikan khutbah jumat dan beliau lantas berseru, يَا سَارِيَةُ بْنَ زُنَيْمٍ، الْجَبَلَ، الْجَبَلَ yakni, “Wahai Sariyah bin Zunaim, ke gunung, ke gunung!”

Saat itu ada sebuah gunung yang berada di dekat pemukiman pasukan Muslim. Jika mereka berlindung di sana, musuh hanya akan dapat menyerang dari satu arah saja. Alhasil, mereka pun berlindung di satu sisi gunung, lalu mereka bertempur dan mampu mengalahkan musuh, dan mendapatkan banyak sekali harta ganimah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun menjelaskan peristiwa tersebut, bersabda, “Seringkali terjadi hal-hal yang luar biasa yang dialami oleh para Sahabat.”

Kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) selengkapnya berkenaan dengan hal ini telah saya sampaikan pada khotbah terdahulu. Jika kita melihat peristiwa mengalirnya kembali sungai Nil, tidaklah mustahil kejadian itu adalah benar adanya, namun ada sebagian sejarawan yang membantah kebenarannya.

Berkenaan dengan tabarruk (keberkatan) peci (tutup kepala, topi) Hadhrat ‘Umar dan hubungannya dengan Qaisar (Kaisar atau Raja) Romawi terdapat satu peristiwa yang disampaikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), “Pada zaman Hadhrat ‘Umar (ra), suatu ketika Qaisar Romawi terjangkit sakit kepala yang luar biasa. Meskipun melakukan berbagai pengobatan namun tidak kunjung membaik. Ada seseorang yang menyarankan kepada sang Qaisar, ‘Qaisar hendaknya menulis surat kepada Hadhrat ‘Umar untuk menyampaikan keadaan kesehatan dan sampaikanlah supaya dikirimkan sesuatu sebagai tabarruk. Hadhrat ‘Umar akan mendoakan Anda dan juga mengirimkan tabarruk. Berkat doanya, Anda akan mendapatkan kesembuhan.’

Sang Qaisar mengutus utusannya untuk menemui Hadhrat ‘Umar. Hadhrat ‘Umar (ra) beranggapan, ‘Mereka adalah orang-orang takabbur sehingga tidak mungkin akan datang menjumpaiku. Namun saat itu Qaisar tengah mendapatkan musibah dan mengirimkan utusannya kepadaku. Jika aku mengirimkan tabarruk untuknya, mungkin saja Qaisar akan menganggapnya hina dan tidak menggunakannya. Karena itu, saya seharusnya mengirimkan sesuatu yang bisa menjadi tabarruk dan memematahkan ketakabburannya juga.’

Maka dari itu, Hadhrat ‘Umar mengirimkan peci yang sudah dipenuhi dengan noda, kucel dan sudah menghitam warnanya, sebagai tabarruk. Ketika sang Qaisar melihat pecinya, ia sangat kecewa dan tidak mau mengenakan peci tersebut. Namun, Allah Ta’ala ingin memberitahukan padanya bahwa sekarang hanya melalui Muhammad Rasulullah (saw)-lah kamu akan mendapatkan keberkatan. Begitu dahsyat sakit kepala yang menjangkitinya sehingga ia memerintahkan pelayannya untuk membawakan peci kiriman Hadhrat ‘Umar untuk dia kenakan di kepalanya. Lalu ia mengenakan pecinya dan memang benar, sakitnya seketika hilang. Sebagaimana setelah berlalu 8 dan 10 hari sakit kepalanya muncul lagi sehingga sudah menjadi kebiasaannya mengenakan peci kusam pemberian Hadhrat ‘Umar ketika duduk di singgasananya.”

Hadhrat Mushlih Mauud (ra) bersabda, “Tanda yang Tuhan perlihatkan ini di dalamnya terdapat satu hal lain yang tersembunyi yakni ada seorang sahabat Rasulullah (saw) yang menjadi tahanan Qaisar. Qaisar memerintahkan agar sahabat tersebut diberi makan daging babi. Sang Sahabat bertahan dari rasa lapar daripada harus memakan daging babi. Sekalipun Islam mengizinkan umatnya untuk memakan daging babi untuk tujuan menyambung hidup ketika kelaparan, namun sang sahabat mengatakan bahwa aku adalah sahabat Rasulullah dan tidak mungkin melakukan hal itu. Ketika sahabat tersebut akan wafat karena tidak makan selama berhari hari, maka Qaisar memberinya roti. Namun setelah ada tenaga lagi untuk hidup, diperintahkan lagi kepada sang sahabat untuk memakan daging babi. Dengan begitu mereka tidak membiarkan sahabat tersebut meninggal dan tidak juga hidup.

Seseorang mengatakan kepada Qaisar bahwa yang menjadi penyebab sakit kepala yang menimpanya adalah anda memenjarakan orang muslim ini. Sebagai obatnya, mintalah doa kepada ‘Umar dan mintakanlah tabarruk darinya. Ketika Hadhrat ‘Umar mengirimkan pecinya lalu sakit kepalanya menjadi hilang, begitu besar pengaruhnya bagi sang Qaisar sehingga ia memerintahkan untuk membebaskan sahabat yang dipenjara tadi.

Coba perhatikan bagaimana Qaisar yang selalu menyiksa sahabat tadi lalu bagaimana Allah Ta’ala memberikan sakit kepala kepadanya sebagai hukumannya. Sehingga ada orang yang menyarankan kepada Kaisar agar meminta tabarruk dari ‘Umar dan juga doa. Setelah mendapatkan tabarruk tersebut, sakit kepalanya menjadi hilang. Dengan begitu bagaimana Allah memberikan sarana untuk bebasnya sang sahabat dari penjara dan menjahirkan kebenaran Muhammad Rasulullah kepadanya.”[19]

Tertulis dalam tafsir ar-Razi, كتب قيصر إلى عمر رضي الله عنه أن بي صداعا لا يسكن فابعث لي دواء، فبعث إليه عمر قلنسوة فكان إذا وضعها على رأسه يسكن صداعه، وإذا رفعها عن رأسه عاوده الصداع، فعجب منه ففتش القلنسوة فإذا فيها كاغد مكتوب فيه: بسم الله الرحمن الرحيم “Qaisar menulis surat kepada Hadhrat ‘Umar menyatakan, ‘Saya terjangkit sakit kepala dan masih belum sembuh sembuh, mohon anda berkenan mengirimkan obat untuk saya.’ Hadhrat ‘Umar mengirimkan peci (topi atau tutup kepala) beliau untuk sang Qaisar. Seketika Qaisar mengenakan peci tersebut dikepalanya, sakit kepalanya hilang. Seketika membuka peci tersebut dari kepalanya, sakitnya muncul lagi. Qaisar terheran-heran akan hal itu, lalu ia mencari-cari di dalam peci itu dan menemukan satu lembar kertas yang diatasnya tertulis bismillaahirrahmaanirrahiim.” (Tafsir Razi)[20]

Hadhrat Amru Bin Maimun (عَمْرِو بْنِ مَيْمُون) meriwayatkan, Hadhrat ‘Umar biasa memanjatkan doa, اللَّهُمَّ تَوَفَّنِي مَعَ الْأَبْرَارِ ، وَلَا تُخَلِّفُنِي فِي الْأَشْرَارِ ، وَقِنِي عَذَابَ النَّارِ ، وَأَلْحِقْنِي بِالْأَخْيَارِ “Allahumma tawaffani ma’al abraar wala tukhallifuni fil asyraari wa qinii ‘adzaaban naari wa al-hiqnii bil akhyaari – “Ya Allah! Wafatkanlah aku bersama dengan orang-orang baik, jangan tinggalkan aku di tengah tengah orang-orang buruk, selamatkanlah aku dari azab api, himpunkanlah aku bersama dengan orang-orang saleh.”[21]

Yahya Bin Said Bin Musayyab meriwayatkan, “Sepulangnya dari Mina, Hadhrat ‘Umar Bin Al-Khaththab mendudukkan untanya di Abtah lalu membuat satu tumpukkan batu di lembah Bathan lalu menggelar satu ujung kain kainnya lalu berbaring. Setelah itu beliau mengangkat tangan ke arah langit lalu berdoa, اللَّهُمَّ كَبِرَتْ سِنِّي وَضَعُفَتْ قُوَّتِي وَانْتَشَرَتْ رَعِيَّتِي فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مُضَيِّعٍ وَلَا مُفَرِّطٍ ‘Allahumma kabirat sinnii wadha’ufat quwwatii wantasyarat ra’iyyatii faqbidhnii ilaika ghaira mudhayyi’ wa mufarrithin’ – ‘Ya Allah! Umurku semakin bertambah, kekuatanku semakin berkurang, rakyatku semakin menyebar, Engkau wafatkanlah aku tanpa menyia-nyiakan dan mengurangi.’ Belum lagi berakhir bulan Zulhijjah, beliau diserang dan syahid.[22]

Hadhrat Ibnu ‘Umar meriwayatkan, كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أَحْدَثَ فِي زَمَانِ الرَّمَادَةِ أَمْرًا مَا كَانَ يَفْعَلُهُ. لَقَدْ كَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ الْعِشَاءَ ثم يخرج حتى يَدْخُلُ بَيْتَهُ فَلا يَزَالُ يُصَلِّي حَتَّى يَكُونَ آخر الليل. ثم يخرج حتى يَدْخُلُ بَيْتَهُ فَلا يَزَالُ يُصَلِّي حَتَّى يَكُونَ آخِرُ اللَّيْلِ. ثُمَّ يَخْرُجُ فَيَأْتِي الأَنْقَابَ فَيَطُوفُ عَلَيْهَا وَإِنِّي لأَسْمَعُهُ لَيْلَةً فِي السَّحَرِ وَهُوَ يَقُولُ:  “Di hari-hari musim kemarau dahsyat, Hadhrat ‘Umar (ra) menjalankan satu pekerjaan baru yang tidak beliau lakukan sebelumnya. Yaitu setelah beliau mengimami shalat Isya, beliau pulang ke rumah dan terus-menerus melakukan shalat hingga waktu akhir malam lalu beliau keluar dan berkeliling ke setiap penjuru kota Madinah. Suatu malam di waktu sahur, saya mendengar beliau bersabda, اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ هَلاكَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَى يَدَيَّ ‘Allahumma laa taj’al halaaka ummati Muhammadin ‘ala yadayya – Wahai Allah, janganlah Engkau menjadikan umat Muhammad (saw) ini terjatuh dalam kebinasaan di kedua tangan hamba.’”[23]

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) bersabda, “Manusia hendaknya beribadah secara murni demi Allah Ta’ala saja. Selanjutnya janganlah memperdulikan sekalipun orang lain menganggapnya buruk ataupun baik. Namun, memburuk-burukkan keadaan lahiriah diri sendiri secara sengaja merupakan perbuatan yang tidak jaiz sebagaimana terbukti dari doa yang diajarkan oleh Hadhrat Rasulullah (saw) kepada Hadhrat ‘Umar, اللَّهُمَّ اجْعَلْ سَرِيرَتِي خَيْرًا مِنْ عَلَانِيَتِي وَاجْعَلْ عَلَانِيَتِي صَالِحَةً  ‘Allahummaj’al sariiroti khairam min alaaniyati waj’al alaaniyatii shaalihan…’ yang artinya, ‘Ya Allah ! Jadikanlah keadaan batiniah hamba lebih baik dari keadaan lahiriah hamba dan perbaikilah keadaan lahiriah hamba…’”[24]

Berkenaan dengan bagaimana Hadhrat ‘Umar menghormati Masjid Nabawi dan menekankan adab shalat. Terdapat satu riwayat Hadhrat Saa-ib Bin Yazid (السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ) yang meriwayatkan, كُنْتُ قَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ فَحَصَبَنِي رَجُلٌ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَقَالَ اذْهَبْ فَأْتِنِي بِهَذَيْنِ. فَجِئْتُهُ بِهِمَا. قَالَ مَنْ أَنْتُمَا ـ أَوْ مِنْ أَيْنَ أَنْتُمَا قَالاَ مِنْ أَهْلِ الطَّائِفِ. قَالَ لَوْ كُنْتُمَا مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ لأَوْجَعْتُكُمَا، تَرْفَعَانِ أَصْوَاتَكُمَا فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “Suatu hari saya tengah berdiri di masjid. Ada seseorang yang melemparkan kerikil kepada saya. Saya arahkan pandangan ke arah orang yang melemparkan itu, ternyata itu adalah Hadhrat ‘Umar Bin Al-Khaththab (ra). Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Bawalah kedua orang yang tadi bersuara tinggi itu menemui saya.’ Lalu dibawalah kedua orang itu. Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Siapa kalian berdua dan berasal dari mana?’ Mereka menjawab, ‘Kami berasal dari Thaif.’ Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Jika kalian penduduk kota ini maka saya akan menghukum kalian, karena kalian tadi meninggikan suara ketika berada didalam masjid Rasulullah saw.’”[25]

Terkait:   Riwayat 'Umar bin Khattab ra (Seri 15)

Hadhrat Ibnu ‘Umar (ra) meriwayatkan, kebiasaan Hadhrat ‘Umar adalah sebelum saf shalat lurus, beliau belum memulai shalat. Bahkan untuk meluruskan saf saf, beliau (ra) telah menetapkan seseorang. Abu Usman an-Nahdi berkata, saya melihat Hadhrat ‘Umar, ketika iqamah dikumandangkan beliau menghadap kearah makmum dan bersabda: Wahai Fulan! Kamu majulah, wahai Fulan mundurlah.’” Artinya, beliau terlebih dahulu meluruskan saf saf. Jika saf saf sudah lurus, lalu beliau menghadap ke kiblat dan mengucapkan takbir.

berkenaan dengan pengorbanan harta dan pembelanjaan harta yang beliau (ra) lakukan dijalan Allah Ta’ala terdapat satu Riwayat – sebetulnya masih banyak Riwayat lainnya – Hadhrat Ibnu ‘Umar meriwayatkan, أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، أَصَابَ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ، لَمْ أُصِبْ مَالاً قَطُّ أَنْفَسَ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُ بِهِ قَالَإِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا، وَتَصَدَّقْتَ بِهَا “. قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ وَلاَ يُوهَبُ وَلاَ يُورَثُ، وَتَصَدَّقَ بِهَا فِي الْفُقَرَاءِ وَفِي الْقُرْبَى، وَفِي الرِّقَابِ، وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَابْنِ السَّبِيلِ، وَالضَّيْفِ، لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، وَيُطْعِمَ غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ Hadhrat ‘Umar Bin Al-Khaththab pernah mendapatkan beberapa lahan tanah di Khaibar lalu beliau datang menjumpai Rasulullah untuk meminta nasihat perihal tanah tersebut. Beliau (ra) berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Saya telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, menurut hemat saya, saya tidak pernah mendapatkan harta kekayaan yang lebih baik dari ini sebelumnya. Apa nasihat Hudhur berkenaan dengan ini?’ Rasulullah bersabda, ‘Jika kamu menghendaki, kamu bisa mewakafkan tanah yang inti lalu belanjakanlah penghasilan yang didapatkan darinya untuk fakir miskin.’”

Nafi’ berkata, “Lalu Hadhrat ‘Umar memberikannya sebagai sedekah dengan syarat agar tidak dijual dan tidak juga dihibahkan kepada orang lain dan tidak juga dibagikan kepada ahli waris. Lalu Hadhrat ‘Umar mewakafkan tanah tersebut untuk orang-orang yang membutuhkan, karib kerabat, untuk membebaskan budak belian di jalan Allah, untuk para musafir, dan untuk para tamu. Adapun bagi para pengawas tanah diperbolehkan untuk memakan sebagian diantaranya sesuai dengan aturan dan juga memberi makan kepada orang lain namun janganlah untuk menghimpun harta.”[26]

Kapan pun mendapatkan kesempatan, Hadhrat ‘Umar berusaha untuk terdapat dalam berkorban harta. Bahkan. ketika mendapatkan kesempatan untuk berkorban harta atas himbauan Rasulullah (saw), beliau (ra) mengorbankan setengah dari keseluruhan harta beliau. Riwayat tersebut telah dijelaskan sebelumnya. Betapa rasa takut beliau kepada Allah Ta’ala sedemikian rupa sehingga menjelang kewafatan pun, sembari mata beliau mengalirkan air mata beliau bersabda: “Aku tidak patut untuk mendapatkan suatu hadiah pahala, yang aku harapkan semata-mata agar terhindar dari hukuman Tuhan.”

Demikianlah rasa takut yang ada dalam diri beliau kepada Allah Ta’ala. Masih tersisa sedikit lagi yang insya Allah akan disampaikan nanti.

Khotbah II
الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).


[1] Tercantum dalam Hilyatul Auliya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء), golongan pertama Tabi’in (من الطبقة الأولى من التابعين): أبو عمرو الأوزاعي حديثه مع أبي جعفر ووعظه الحاكم وتخويفه من الأخرة .

[2] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري – الطبري – ج ٣ – الصفحة ٢٧٢); tercantum juga dalam al-Kamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ ثم دخلت سنة ثلاث وعشرين), (ذكر بعض سيرته – رضي الله عنه).

[3] Muwatha Imam Malik (موطأ مالك), Kitab al-Kalaam (كتاب الكلام) Hadith 1837

[4] Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wal Nihayah”, 7/151; Ruhul Bayan fi Tafsiril Qur’an (روح البيان في تفسير القرآن) bahasan ayat dari Surah al-Anfal(يٰأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ حَسْبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٦٤ -الأنفال): وكان نقش خاتم ابى بكر نعم القادر الله وكان نقش خاتم عمر كفى بالموت واعظا يا عمر. وكان نقش خاتم عثمان آمنت بالله مخلصا. وكان نقش خاتم على رضى الله عنه الملك لله. وكان نقش خاتم ابى عبيدة بن الجراح الحمد لله هذا هو . Siyarus Salafush Shalihin (سير السلف الصالحين) karya Isma’il bin Muhammad ath-Thalahi (إسماعيل بن محمد الطلحي); Tarikhul Khulafa (تاريخ الخلفاء) karya as-Suyuthi (عبد الرحمن بن أبي بكر السيوطيي) bahasan pembunuhan beliau dan wasiat beliau (مقتله ووصيته) sebelum bahasan awwaliyaat ‘Umar (أوليات عمر رضي الله عنه)

[5] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab Adzan (كِتَابُ الْأَذَانِ), bab bila Imam menangis dalam shalat (باب إِذَا بَكَى الإِمَامُ فِي الصَّلاَةِ). Surah Yusuf, 12:87.

[6] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab Al-Maghaazi (كتاب المغازى), bab dzikr Ummi Salith (باب ذِكْرِ أُمِّ سَلِيطٍ) juga dalam Kitab al-Jihad (كتاب الجهاد والسير), Bab kaum perempuan membawa kantong air dalam peperangan (باب حَمْلِ النِّسَاءِ الْقِرَبَ إِلَى النَّاسِ فِي الْغَزْوِ).

[7] Sahih al-Bukhari 4160, 4161, Kitab Al-Maghaazi (كتاب المغازى), bab Hudaibiyah (باب غَزْوَةِ الْحُدَيْبِيَةِ)

[8] Kanzul ‘Ummal (كنز العمال – المتقي الهندي – ج ١٢ – الصفحة ٥٨٢) nomor 35810: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رضي اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَرَجَ فِي سَوَادِ اللَّيْلِ، فَرَآهُ طَلْحَةُ، فَذَهَبَ عُمَرُ، فَدَخَلَ، ثُمَّ دَخَلَ بَيْتًا آخَرَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ طَلْحَةُ ذَهَبَ إِلَى ذَلِكَ الْبَيْتِ فَإِذَا بِعَجُوزٍ عَمْيَاءَ مُقْعَدَةٍ، فَقَالَ لَهَا: مَا بَالُ هَذَا الرَّجُلِ يَأْتِيكِ؟ قَالَتْ: إِنَّهُ يَتَعَاهَدُنِي مُنْذُ كَذَا وَكَذَا، يَأْتِينِي بِمَا يُصْلِحُنِي، وَيُخْرِجُ عَنِّي الأَذَى، فَقَالَ طَلْحَةُ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا طَلْحَةُ، أَعَثَرَاتِ عُمَرَ تَتْبَعُ. Tercantum juga dalam Al-Bidayah wan Nihayah juz ke-7 bahasan kewafatan ‘Umar (البداية والنهاية/الجزء السابع/وفاة عمر بن الخطاب رضي الله عنه تعالى): وقال طلحة بن عبد الله: خرج عمر ليلة في سواد الليل فدخل بيتا، فلما أصبحت ذهبت إلى ذلك البيت فإذا عجوز عمياء مقعدة، فقلت لها: مَا بَالُ هَذَا الرَّجُلِ يَأْتِيكِ ؟ فقالت: إِنَّهُ يَتَعَاهَدُنِي مُنْذُ كَذَا وَكَذَا، يَأْتِينِي بِمَا يُصْلِحُنِي، وَيُخْرِجُ عَنِّي الأَذَى فقلت لنفسي: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا طَلْحَةُ، أَعَثَرَاتِ عُمَرَ تَتْبَعُ ؟ . ‘Amalus sirri (عمل السر, Amal-Amal baik yang dilakukan secara rahasia) karya Muhammad Fadhili (محمد فاضيلي) merujuk pada Kitab Shafwatush Shafwah (صفة الصفوة ج1 – ص 110 نقلا عن أبي نعيم في حلية الأولياء ج1 ص 48); tercantum juga dalam (عمر رضي الله عنه ورعايته لنساء المجتمع) karya ‘Ali Muhammad ash-Shalabi; tercantum juga dalam Ta’thirul Anfus min Haditsil Ikhlash (تعطير الأنفاس من حديث الإخلاص); tercantum juga dalam Nurul Abshar fi Manaqib Aali Baitin Nabiyyil Mukhtaar (نور الأبصار في مناقب آل بيت النبي المختار) karya Syaikh asy-Syablanji (مؤمن/الشيخ الشبلنجي).

[9] Ar-Riyaadhun Nadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة) karya al-Muhibb ath-Thabari (المحب الطبري): أن عمر لما رجع من الشام إلى المدينة انفرد عن الناس ليعرف أخبارهم فمر بعجوز في خباها فقصدها فقالت: يا هذا ما فعل عمر: قال: هو ذا قد أقبل من الشام، قالت: لا جزاه الله عني خيراً، قال: ويحك! ولم؟ قالت:لأنه والله ما نالني من عطائه منذ ولي إلى يومنا هذا دينار ولا درهم، فقال: ويحك ما يدري عمر حالك وأنت في هذا الموضع؟ فقالت: سبحان الله ما ظننت أن أحداً يلي على الناس ولا يدري ما بين مشرقها ومغربها، قال: فأقبل عمر وهو يبكي ويقول: وا عمراه! وا خصوماه! كل واحد أفقه منك يا عمر، ثم قال لها: بكم تبيعيني ظلامتك منه فإني أرحمه من النار، قالت: لا تهزأ بنا يرحمك الله، قال لها عمر: ليس بهزء، فلم يزل بها حتى اشترى ظلامتها بخمسة وعشرين ديناراً، فبينا هو كذلك إذ أقبل علي بن أبي طالب وابن مسعود فقالا: السلام عليك يا أمير المؤمنين فوضعت المرأة يدها على رأسها وقالت: وإذا سوأتاه!! شتمت أمير المؤمنين في وجهه، فقال لها عمر: لا لعيك يرحمك الله، قال: ثم طلب عمر قطعة جلد يكتب فيه فلم يجد فقطع قطعة من فروة كان لبسها وكتب .

[10] Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج ٧٠ – الصفحة ٢٥٣): بينا أنا مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه وهو يعس بالمدينة إذ أعيا فاتكأ على جانب جدار في جوف الليل فإذا امرأة تقول لابنتها قومي إلى ذلك اللبن فامذقيه بالماء فقالت يا أمتاه وما علمت ما كان من عزمة أمير المؤمنين اليوم؟ قالت وما كان من عزمته؟قالت إنه أمر مناديا فنادى لا يشاب اللبن بالماء فقالت لها يا ابنتاه قومي إلى اللبن فامذقيه بالماء فإنك في موضع لا يراك عمر ولا منادي عمر فقالت الصبية والله ما كنت لأطيعه في الملأ وأعصيه في الخلاء وعمر يسمع كل ذلك فقال يا أسلم علم الباب واعرف الموضع ثم مضى في عسه فلما أصبح قال يا أسلم امض إلى الموضع فانظر من القائلة ومن المقول لها وهل لهم من بعل فأتيت الموضع فإذا أيم لا بعل لها وإذا تيك أمها وإذا ليس لهم رجل فأتيت عمر بن الخطاب فأخبرته فدعا عمر ولده فجمعهم فقال هل فيكم من يحتاج إلى امرأة أزوجه ولو كان بأبيكم حركة إلى النساء ما سبقه منكم أحد إلى هذه الجارية فقال عبد الله لي زوجة وقال عبد الرحمن لي زوجة وقال عاصم يا أبتاه لا زوجة لي فزوجني فبعث إلى الجارية فزوجها من عاصم فولدت لعاصم بنتا وولدت الابنة ابنة وولدت الابنة عمر بن عبد العزيز . ‘Ashim bin ‘Umar bin al-Khaththab menikahi gadis itu. Laila yang digelari Ummu ‘Ashim ialah salah satu putri mereka berdua. Laila dinikahi oleh ‘Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam, seorang Amir (Gubernur) kerajaan Banu Umayyah. Dari mereka berdua lahir ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, salah seorang Amir Hijaz (gubernur sebagian jazirah Arab) yang nantinya menjadi Raja Banu Umayyah sekaligus Mujaddid (pembaharu agama).

[11] Tarikh ath-Thabari (نام کتاب : تاريخ الطبري نویسنده : الطبري، ابن جرير جلد : 3 صفحه : 290)

[12] Tafsir Kabir (التفسير الكبير ج10)

[13] Jami’ul Bayan Tafsir ath-Thabari (تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر), karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), Surah al-Maaidah (المائدة) ayat, وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ yaitu ayat 6 dengan bismillahir rahmaanir rahiim sebagai ayat pertama. Riwayat nomor 11264. Pada riwayat nomor 11259, tercantum bahwa Hadhrat ‘Umar melarang orang-orang untuk bercerita soal pernah berzinanya seorang perempuan yang mana telah bertaubat: حدثنا عامر قال: زنت امرأة منَّا من همدان، قال: فجلدها مُصَدِّق رسول الله صلى الله عليه وسلم الحدَّ ثم تابت. فأتوا عمر فقالوا نزوّجها، وبئسَ ما كان من أمرها! قال عمر: لئن بلغني أنكم ذكرتم شيئًا من ذلك، لأعاقبنكم عقوبةً شديدة .

[14] Kitab Hilyatul Auliya menyebut korban tentara Mulism dalam wabah tersebut ialah 30.000 orang : قَالَ أَبُو المُوَجِّهِ مُحَمَّدُ بنُ عَمْرٍو المَرْوَزِيُّ: زَعَمُوا أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ كَانَ فِي سِتَّةٍ وَثَلاَثِيْنَ أَلْفاً مِنَ الجُنْدِ فَلَمْ يَبْقَ مِنْهُم إلَّا سِتَّةُ آلاَفِ رَجُلٍ .

[15] Kitab Shahih al-Bukhari, Kitab tentang pengobatan (كتاب الطب), bab mengenai wabah tha’un (باب مَا يُذْكَرُ فِي الطَّاعُونِ); Muwatha karya Imam Malik, Kitab tentang Madinah (كتاب الْمَدِينَةِ).

[16] Siyaar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi.

[17] Mujaabud Da’wah karya Ibnu Abid Dunya (مجابو الدعوة لابن أبي الدنيا من أدعية طلب الاستسقاء حديث رقم 28); tercantum juga dalam Tarikh Madinah Dimasyq (نام کتاب : تاريخ دمشق نویسنده : ابن عساكر    جلد : 44  صفحه : 346).

[18] Tafsir al-Qurthubi (تفسير القرطبي) atau Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān wa al Mubayyin limā Tadlammanah min al-Sunnah wa Āy al-Furqan karya Imam al-Qurthubi pada Surah asy-Syu’ara ayat (فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ). Kitab Nihayatul Arab fi Fununil Adab (نِهاية الأَرَب في فُنُون الأَدَب) pada bab berita mengenai Sungai Nil dan kebiasaan bangsa Qibthi atau Koptik (خبر أصل النيل وكيف كانت عادة القبط). Tercantum juga dalam Futuh Mish (فتوح مصر وأخبارها – القرشي المصري – الصفحة ٢٦٥). Tercantum juga Nihayatul Arab fi Fununil Adab, sebuah ensiklopedia sastra setebal 9000 halaman (33 jilid) yang dihimpun oleh sejarawan dan sastrawan besar asal Mesir, Syihabuddin Ahmad ibn `Abd al-Wahhab an-Nuwairi (w. 1333 M). Nihāyat al-arab fī funūn al-adab (The Aim of the Intelligent in the Art of Letters – Tujuan Kecerdasan dalam Seni Sastra) atau (The Ultimate Ambition in the Branches of EruditionAmbisi Tertinggi dalam Cabang-Cabang Ilmu Pengetahuan) mencakup bahasan: (1) geografi, astronomi, meteorologi, kronologi, geologi; (2) kemanusiaan atau humaniora (anatomi, folklore, conduct atau perilaku, politik); (3) zoologi; (4) botani; (5) history atau sejarah. An Nuwairy membuat pembahasan khusus pada jilid kedelapan dan kesembilan dari karyanya mengenai akuntansi.

[19] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad yang merupakan Mushlih Mau’ud dan Khalifatul Masih ats-Tsaani radhiyallahu ta’ala ‘anhu dalam Kitab karya beliau, As-Siyaahah ar-Ruhaniyah (السياحة الروحانية) atau Sair Ruhani (Perjalanan spiritual atau keruhanian).

[20] Tafsir ar-Raazi (تفسير الرازي – الرازي – ج ١ – الصفحة ١٧١); tercantum juga dalam al-Haawi fi Tafsiril Qur’aanil Karim (الحاوي في تفسير القرآن الكريم), pasal mengenai ba (فصل الباء من {بسم الله}): كتب قيصر إلى عمر- رضي الله تعالى عنه- أن بي صداعا لا يسكن، فابعث لي دواء، فبعث إليه عمر قلنسوة، فكان إذا وضعها على رأسه سكن صداعه، وإذا رفعها عن رأسه عاد الصداع، فتعجب منه ففتش القلنسوة، فإذا فيها مكتوب {بسم الله الرحمن الرحيم} قال عليه الصلاة والسلام: «من توضأ ولم يذكر اسم الله تعالى كان طهورا لتلك الأعضاء، ومن توضأ وذكر اسم الله تعالى كان طهورا لجميع بدنه».

[21] Ath-Thabaqaat al-Kabir karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد المجلد الثالث ذكر استخلاف عمر رحمه الله حديث رقم 3764)

[22] Hadits Malik Nomor 1297

[23] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (نام کتاب : الطبقات الكبرى – ط العلميه نویسنده : ابن سعد    جلد : 3  صفحه : 237)

[24] Hadhrat Maulana Hakim Nuruddin Khalifatul Masih awwal radhiyallahu ta’ala ‘anhu dalam Kitab Haqaiqul Furqaan (حقائق الفرقان). Doa tercantum dalam Mishkat al-Masabih 2504, (كتاب الدعوات), bab Doa-doa yang komprehensif (باب جامع الدعاء – الفصل الثالث);  juga dalam Kitab Jami` at-Tirmidhi 3586, bahasan mengenai doa-doa (كتاب الدعوات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم): doa ini dilanjutkan dengan kalimat, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ صَالِحِ مَا تُؤْتِي النَّاسَ مِنَ الْأَهْلِ وَالْمَالِ وَالْوَلَدِ غَيْرِ الضَّالِّ وَلَا الْمُضِلِّ yang artinya, “Ya Allah ! hamba memohon kepada Engkau supaya Engkau memberikan sebagian kelimpahan yang telah Engkau berikan kepada manusia dalam hal keluarga, harta dan anak-anak yang mana tidak membuat hamba sesat dan juga tidak membuat hamba menyesatkan orang lain.”

[25] Sahih al-Bukhari 470, Kitab tentang shalat (كتاب الصلاة), bab meninggikan suara di dalam Masjid (باب رَفْعِ الصَّوْتِ فِي الْمَسَاجِدِ).

[26] Sahih al-Bukhari 2737, Kitab tentang syarat-syarat (كتاب الشروط), bab syarat-syarat waqf (باب الشُّرُوطِ فِي الْوَقْفِ).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.