Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 100, Khulafa’ur Rasyidin Seri 6)

Baca Juga:

syahidnya ali ra

Pembahasan lanjutan mengenai salah seorang Khulafa’ur Rasyidin yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib (عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

                                                            Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Januari 2021 (Sulh 1400 Hijriyah Syamsiyah/17 Jumadil Awwal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Saya masih melanjutkan penyampaian mengenai riwayat Hadhrat ‘Ali (ra). Berkenaan dengan latar belakang pensyahidan Hadhrat Ali, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika permasalahan masih belum terkendali sepenuhnya, sekelompok kaum Khawarij mengusulkan [dalam rapat di kalangan mereka sendiri] bahwa untuk menghentikan kekisruhan ini adalah dengan cara membunuh para tokoh terkemuka umat Muslim. Setelah itu, beberapa orang keras kepala dan pemberani dari antara mereka membuat perencanaan dan tekad kuat bahwa setiap salah seorang dari mereka akan membunuh Hadhrat Ali, Hadhrat Mu’awiyah dan Hadhrat ‘Amru bin al-‘Ash serempak dalam satu hari.

Seorang yang pergi untuk membunuh Hadhrat Mu’awiyah, menyerang Hadhrat Mu’awiyah namun pedangnya tidak mengenai beliau dengan benar sehingga Hadhrat Mu’awiyah hanya terluka ringan. Orang itu pun tertangkap dan setelah itu dihukum mati. Sedangkan yang pergi untuk membunuh Hadhrat Amar bin al-‘Ash, dia pun tidak berhasil karena saat itu Hadhrat Amru Bin al-‘Ash tidak datang untuk shalat karena sakit sehingga digantikan oleh orang lain untuk mengimami shalat dan orang itulah yang dibunuh. Namun, orang yang berencana menyerang Hadhrat Amru bin al-‘Ash tertangkap dan kemudian dihukum mati. Sedangkan orang yang pergi untuk membunuh Hadhrat Ali, ketika Hadhrat ‘Ali mulai berdiri untuk mengimami shalat subuh, orang itu langsung menyerang beliau (ra) sehingga beliau (ra) terluka parah. Ketika orang itu menyerang Hadhrat ‘Ali (ra), orang itu mengucapkan kalimat, ‘Wahai Ali, kamu tidak berhak untuk ditaati, hanya Allah-lah yang berhak.’”

Hadhrat Rasulullah (saw) menubuatkan berkenaan dengan syahidnya Hadhrat Ali, Hadhrat Ubaidullah (ra) meriwayatkan, “Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Ali (ra), ‘Wahai Ali! Apakah kamu tahu, siapakah yang bernasib paling buruk dari antara awwalin (orang-orang terdahulu) dan aakhiiriin (orang-orang kemudian)?’

Hadhrat ‘Ali menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’

Berkenaan dengan itu beliau (saw) bersabda, ‘Orang-orang terdahulu yang bernasib paling buruk adalah orang yang memotong betis unta betina Hadhrat Saleh; dan wahai Ali, orang yang bernasib paling buruk di antara aakhiiriin adalah orang yang akan membunuhmu dengan menikammu.’ Kemudian Rasulullah (saw) menunjukkan ke suatu tempat dimana beliau (ra) akan disyahidkan dengan ditikam (ditebas).”[1]

Seorang pembantu rumah tangga Hadhrat Ali, Ummu Ja’far meriwayatkan, “Ketika saya menuangkan air ke tangan Hadhrat Ali, beliau mengangkat kepala dan meninggikan jenggot beliau hingga hidung lalu berbicara kepada jenggot beliau, ‘Wah! Hebat sekali engkau. Engkau pasti akan dilumuri darah. Beliau pun disyahidkan pada hari Jumat.”[2]

Peristiwa syahidnya Hadhrat ‘Ali (ra) diriwayatkan sebagai berikut bahwa suatu ketika Ibnu al-Hanafiyah (ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ) meriwayatkan, “Suatu kali saya, Hadhrat Hasan dan Hadhrat Husain sedang duduk di Hamam (pemandian umum) lalu Ibnu Muljam datang mendekati kami. Ketika dia masuk, Hadhrat Hasan dan Hadhrat Husain seperti menampakkan rasa tidak suka kepadanya lalu berkata, ‘Berani sekali kau datang ke dekat kami seperti ini.’

Saya berkata kepada mereka berdua, ‘Kalian janganlah meladeninya. Demi Tuhan, apa yang ingin dilakukannya terhadap kalian bahkan lebih menakutkan.’”[3]

Pada saat Ibnu Muljam dibawa sebagai tahanan setelah menyerang Hadhrat Ali, Ibnu al-Hanafiyah mengatakan, “Saat itu saya mengetahui dengan jelas ketika dia menghampiri kami di Hamam. Hadhrat ‘Ali bersabda bekenaan dengan Ibnu Muljam, ‘Dia adalah tahanan. Khidmatilah dia sebaik-baiknya dan perlakukanlah dia dengan baik. Jika saya masih hidup, saya yang akan membunuhnya atau akan memaafkannya. Tapi, jika saya meninggal maka bunuhlah dia sebagai qishas dan janganlah melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.’”[4]

Diriwayatkan dari Qutsam, mantan budak Hadhrat Ibnu Abbas, “Hadhrat ‘Ali menuliskan dalam wasiyyatnya, ‘Kepada putra sulung saya, janganlah memukul bagian perut dan kemaluannya (Ibnu Muljam).’”[5]

Orang-orang menjelaskan, “Di antara para Khawarij, ada tiga laki-laki yang mereka calonkan untuk mengeksekusi [membunuh Hadhrat ‘Ali (ra)] yaitu Abdurrahman bin Muljam al-Muradi dari kabilah Himyar dan termasuk ke dalam kabilah Murad yang merupakan sekutu keluarga besar banu Jabalah dari Kindah; kedua, al-Burak bin Abdullah at-Tamimi dan ‘Amru bin Bukair at-Tamimi. Mereka bertiga berkumpul di Makkah dan mereka bertekad untuk membunuh tiga orang yaitu Hadhrat ‘Ali bin Abi Thalib, Hadhrat Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash.”[6]

Sebagaimana yang telah saya jelaskan di awal, tiga nama pembunuh yang kisahnya disampaikan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) di awal.

“Mereka bertekad akan membebaskan orang-orang dari tiga wujud suci ini. Abdurrahman bin Muljam mengatakan, ‘Akulah yang bertanggung jawab untuk membunuh ‘Ali bin Abu Thalib.’ Al-Burak mengatakan, ‘Aku yang bertanggung jawab membunuh Mu’awiyah.’ Sedangkan ‘Amru bin Bukair mengatakan, ‘Aku akan menyelamatkan kalian dari ‘Amru bin ‘Ash.’ Setelah itu mereka mengikrarkan janji setia dan saling meyakinkan bahwa mereka tidak akan mundur dari janji tersebut sebelum mereka berhasil membunuh targetnya atau terbunuh dalam tugas itu. Artinya, mereka tidak akan kembali dari tugas sebelum berhasil membunuh targetnya atau terbunuh. Mereka telah menetapkan waktu untuk mengeksekusi targetnya pada malam ke-17 (tujuh belas) bulan Ramadhan.

Kemudian mereka bergerak menuju kota di mana sasaran mereka tinggal. Abdurrahman bin Muljam datang di Kufah dan bertemu dengan teman-teman Khawarijnya, namun dia tetap merahasiakan maksudnya. Dia pergi menemui kawan-kawannya. Beliau pun sebaliknya. Suatu hari dia melihat satu kelompok kabilah Taimur Rabbab yang di dalamnya ada seorang wanita yang bernama Qatham binti Syujnah bin ‘Adi. Hadhrat Ali-lah yang telah membunuh ayah dan saudara laki-lakinya pada perang Nahrawan. Ibnu Muljam menyukai wanita itu dan dia pun mengirim lamaran untuk menikah dengannya. Wanita itu mengatakan, ‘Aku tidak akan menikah denganmu kalau kau tidak berjanji kepadaku.’

Ibnu Muljam berkata, ‘Apa pun yang kau minta, akan kukabulkan.’

Wanita itu berkata, ‘Aku meminta tiga ribu (dirham) dan bunuhlah ‘Ali bin Abi Thalib.’

Dia (Ibnu Muljam) mengatakan, ‘Demi Allah, aku justru datang ke kota ini untuk membunuh ‘Ali bin Abi Thalib dan aku pasti akan memberikan apa yang kau minta.’

Kemudian Ibnu Muljam bertemu dengan Syabib bin Bajrah Asyja’i dan dia pun memberitahukan tujuannya dan meminta untuk tinggal bersamanya. Syabib pun menurutinya.

Pada malam hari Ibnu Muljam telah berencana untuk mensyahidkan Hadhrat Ali di pagi harinya, ia lalui dengan berbincang-bincang secara berbisik dengan Asy’ats bin Qais al-Kindi (الْأَشْعَثَ بْنَ قَيْسٍ الْكِنْدِيَّ) di masjidnya (Masjid al-Kindi). Ketika hendak terbit fajar, Asy’ats mengatakan kepadanya, ‘Bangunlah! Ini sudah pagi.’[7]

Abdurrahman bin Muljam dan Syabib bin Bajrah berdiri dan mengambil pedangnya kemudian datang dan duduk di depan gerbang yang darinya Hadhrat ‘Ali biasa keluar.”

Hadhrat Hasan bin ‘Ali (الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ) mengatakan, “Saya datang dan duduk di dekat beliau (ayah saya yaitu Hadhrat Ali) pada waktu sahur (menjelang Shubuh di pagi hari). Saat itu Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Sepanjang malam saya terus membangunkan keluarga saya. Ketika duduk, saya pun mengantuk lalu dalam mimpi saya berjumpa dengan Rasulullah (saw). Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Saya sedang menghadapi kebengkokan dan perselisihan yang sengit dari umat Anda.’ Rasulullah (saw) bersabda, ‘Berdoalah kepada Allah Ta’aala dalam menghadapi mereka.’

Saya (Hadhrat ‘Ali) pun mengucapkan, ‘Allahumma abdilnii bihim khairan li minhum wa abdilhum syarral lahum minni.’ – ‘Ya Allah! Berikanlah kepada hamba yang lebih baik dari mereka sebagai pengganti mereka dan berikanlah kepada mereka yang lebih buruk dari saya sebagai pengganti saya.’

Setelah itu Ibnu Nabbah, sang Mu’adzdzin (yang bertugas adzan) datang dan berkata, ‘Waktu shalat sudah tiba.’”

Hadhrat Hasan mengatakan, “Saya memegang tangan beliau (ayah saya, yaitu Hadhrat ‘Ali) lalu beliau bangun dan pergi. Ibnu Nabbah di depan beliau dan saya di belakangnya. Ketika beliau keluar dari pintu, beliau berseru, ‘Wahai orang-orang! Shalat! Shalat!’

Beliau selalu melakukan seperti itu setiap hari. Ketika beliau keluar, di tangan beliau selalu ada cambuk dan memukulkannya pada pintu-pintu untuk membangunkan orang-orang. Pada saat itu, kedua penyerang itu muncul di hadapan beliau. Beberapa dari antara saksi mata mengatakan, ‘Saya melihat kilauan sebuah pedang dan mendengar penyerang itu berkata, “Wahai Ali! Memerintah adalah hak Allah bukan hak kamu.” Kemudian saya melihat pedang yang lain lalu keduanya bersamaan menyerang beliau. Pedang Abdurrahman bin Muljam mengenai kening Hadhrat ‘Ali sampai ke kepala sementara pedang Syabib mengenai kayu pintu.’ Saya mendengar Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Jangan biarkan orang ini lolos dari kalian!’

Orang-orang pun berpencar mengepung dari segala arah, namun Syabib berhasil lolos sementara Abdurrahman bin Muljam tertangkap dan dibawa ke hadapan Hadhrat Ali. Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Berikanlah makanan yang layak untuknya dan berikanlah alas tidur yang lembut. Jika aku masih hidup maka akulah yang berhak memafkannya atau mengambil qishas darinya. Sedangkan jika aku meninggal maka bunuhlah dan pertemukanlah denganku. Aku akan mengadukannya ke hadapan Rabbul ‘Aalamiin, yakni kami akan menghadapkan persoalan ini di hadapan Allah Ta’ala.’”[8]

Ketika kewafatan Hadhrat ‘Ali sudah dekat maka beliau pun berwasiyyat. Wasiyyat beliau adalah sebagai berikut, “Bismillahirahmaanirrahiim – Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Ini adalah wasiyyat yang diberikan oleh ‘Ali bin Abi Thalib yang mana dia mewasiyatkan, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan lain selain Allah. Dia adalah Esa. Dia tidak memiliki satu sekutu pun dan bahwa Muhammad (saw) adalah hamba dan rasul-Nya, Allah Ta’ala telah mengutusnya dengan hidayah dan agama yang benar, setelah menganugerahkan agama yang benar lalu mengutusnya agar memenangkan agama ini di atas seluruh agama, walaupun perkara ini tidak disukai oleh orang-orang Musyrik.

Sesungguhnya shalatku, pengorbananku dan hidupku serta matiku semuanya untuk Allah Rabbul ‘Aalamiin. Tidak ada yang menyamai Dia dan untuk itu aku diperintahkan dan aku berada di antara orang-orang yang taat.’”

Setelah itu, beliau berkata, Aku mewasiyyatkan kepada kamu, wahai Hasan dan seluruh anak keturunanku serta seluruh keluargaku untuk tetap takut (bertakwa) kepada Allah, Tuhan kalian dan kalian harus meninggalkan dunia ini dalam keadaan berserah diri. Kalian bersatulah untuk tetap teguh memegang tali Allah dan janganlah bercerai-berai di antara kalian karena aku mendengar dari Abul Qasim bahwa memperbaiki hubungan satu sama lain adalah lebih baik dari shalat dan puasa.” [9]

Maksudnya ialah shalat dan puasa yang nafal. Ini adalah poin yang sangat penting yaitu memperbaiki hubungan satu sama lain adalah lebih baik dan lebih tinggi nilainya dari shalat nafal dan puasa nafal. Hidup dengan tentram, menciptakan ishlah (perbaikan), mengishlah dan mengupayakan jalan ishlah (perbaikan) adalah suatu kebaikan yang besar.

Kemudian wasiat beliau, Perhatikanlah saudara-saudara kalian dan berlakulah baik dengan mereka, dengan begitu Allah Ta’ala akan menghisab kalian dengan mudah.

Takutlah kepada Allah dalam perkara-perkara anak-anak yatim, janganlah buat mereka terpaksa untuk memohon bantuan dari kalian dengan lisan mereka dan jangan sampai mereka sia-sia di hadapan kalian.

Berkenaan dengan tetangga, takutlah kamu sekalian kepada Allah karena wasiat dari Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau (saw) begitu menekankan untuk memenuhi hak-hak para tetangga sampai-sampai kami beranggapan jangan-jangan beliau (saw) menjadikan para tetangga pun sebagai ahli waris.

Di dalam hal-hal terkait Al-Quran, takutlah kalian kepada Allah, jangan sampai orang lain mendahului (melebihi) kalian dalam hal mengamalkan ini.

Dalam hal-hal terkait shalat, takutlah kalian kepada Allah Ta’ala, karena ini adalah pilar agama kalian.

Mengenai rumah Tuhan kalian [masjid], takutlah kalian kepada Allah Ta’ala dan di sepanjang hidup kalian janganlah kalian membiarkannya kosong karena apabila ia dibiarkan kosong, tidak ada rumah yang seperti itu yang akan kalian temui.

Dalam hal-hal terkait jihad fi sabilillah, takutlah kalian kepada Allah dan berjihadlah kalian dengan segenap jiwa dan harta-harta kalian.

Mengenai zakat, takutlah kalian kepada Allah karena hal ini memadamkan kemurkaan Tuhan.

Berkenaan dengan orang-orang yang tanggungjawabnya dipercayakan oleh Nabi kaliankepada kalian, takutlah kalian kepada Allah dan janganlah seorang pun dari mereka mendapatkan perlakuan aniaya dari antara kalian.[10]

Berkenaan dengan para sahabat Nabi kalian, takutlah kalian kepada Allah, karena Rasulullah telah memberikan wasiat mengenai keutamaan mereka.

Berkenaan dengan orang-orang fakir dan miskin pun, takutlah kalian kepada Allah, dan ikut sertakanlah diri kalian dalam pemenuhan sarana-sarana penghidupan mereka.

Kemudian takutlah kalian kepada Allah berkenaan dengan hal ini, di mana tangan kanan kalian berkuasa atasnya, yakni terhadap tanggung jawab yang telah dibebankan diatas pundak kalian; berkaitan dengan perkara-perkara di dalamnya pun takutlah kalian kepada Allah.

Jagalah shalat kalian! Jagalah shalat kalian!

Beliau (ra) bersabda, “Demi meraih rida Tuhan, janganlah kalian takut terhadap siapapun penghasut atau pencela.[11] Hendaknya keridaan Tuhan senantiasa diutamakan; ini adalah hal yang penting, karena Allah itu akan cukup bagi kalian, dalam menghadapi orang yang ingin menyakiti kalian dan ingin mengkhianati kalian.

Katakanlah perkataan-perkataan baik kepada manusia sebagaimana yang Allah Ta’ala telah perintahkan kepada kalian.

Janganlah kalian meninggalkan amr makruf nahi mungkar [menyuruh kepada yang baik dan melarang kepada yang keji], jika tidak, orang yang buruk dari antara kalian akan menjadi pemimpin kalian dan doa kalian tidak akan dikabulkan.”

Amr makruf dan nahi mungkar adalah hal yang sangat penting, yaitu menyeru kepada perbuatan-perbuatan baik dan mencegah dari perbuatan-perbuatan buruk; teguhlah senantiasa kalian dalam hal ini, dan janganlah sekalipun meninggalkannya; karena jika tidak maka seorang yang keji diantara kalian akan menjadi pemimpin kalian, meskipun kalian kelak memanjatkan doa namun doa-doa kalian tidak akan terkabul. Sebagaimana halnya keadaan negara-negara muslim dewasa ini.

Beliau (yaitu Hadhrat ‘Ali ra) bersabda, Jagalah persahabatan dan hubungan satu sama lain; dan tanpa segan, jadilah kalian sebagai pribadi yang saling berguna satu sama lain. Ingatlah, janganlah kalian saling membenci satu sama lain, janganlah juga memutuskan hubungan, janganlah terpecah-belah, saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Tempuhlah jalan ketakwaan kepada Tuhan; sesungguhnya Allah Ta’ala adalah pemberi hukuman yang keras.

“Wahai para anggota Ahli bait yang mulia, semoga Allah Ta’ala melindungi kalian dan semoga perlindungan [Tuhan] terhadap pribadi Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam adalah melalui diri kalian”, Maksudnya, dengan perantaraan suri teladan baik kalian seolah-olah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus hidup untuk selamanya. “Saya menyerahkan kalian semua ke hadirat Allah dan saya mengirimkan salam dan Rahmat Allah kepada engkau sekalian.”[12]

Abu Sinan menjelaskan bahwa tatkala Hadhrat ‘Ali (ra) terluka, maka ia pergi menjenguk beliau. Perawi menjelaskan, “Saya bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, keadaan Anda yang luka sekarang ini menjadikan kami terus khawatir.’ Kemudian Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Tetapi saya bersumpah demi Tuhan bahwa saya tidak merasakan kekhawatiran sama sekali, karena wujud Shadiq Mashduq [wujud yang benar dan dibenarkan] yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberitahukan kepada saya, Anda akan luka di tempat ini – seraya beliau (ra) mengisyaratkan kepada bagian-bagian tubuhnya yang diperban – lalu kemudian darah akan mengucur darinya sehingga jenggot Anda akan menjadi berwarna, dan orang yang melakukan hal seperti ini akan menjadi orang yang paling celaka di umat ini, sebagaimana halnya orang-orang yang menyembelih unta dari kaum tsamud adalah orang yang paling celaka.”’”[13]

Ada sebuah riwayat dimana Hadhrat ‘Ali (ra) berkenaan dengan pembunuh beliau yaitu Ibnu Muljam bersabda, “Tahanlah dia. jika saya meninggal maka ia akan dibunuh, namun janganlah kalian memotong-motong tubuhnya. Tapi, apabila saya tetap hidup maka saya sendiri yang akan memutuskan apakah memaafkannya atau qishas (hukum pembalasan) untuknya.”[14]

Dalam menjelaskan hal ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Di dalam catatan-catatan sejarah tertulis bahwa seseorang telah menyerang Hadhrat ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dengan Khinjar (خنجر) (dagger = belati, pedang kecil). Penyerang itu melukai perut beliau hingga terbuka. Penyerang itu pun ditangkap setelahnya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) telah menulis bahwa penyerang itu telah melukai perut Hadhrat ‘Ali (ra) hingga terbuka. Mungkin kepala beliau pun terluka disamping perut beliau pun terluka atau memang inilah pendapat Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) tentang hal ini atau mungkin beliau mengucapkannya sebagai konotasi atau ungkapan saja. Walhasil, hal ini karena kebanyakan riwayat menyebutkan luka Hadhrat ‘Ali (ra) ialah di kepala.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), “Tatkala penyerang itu ditangkap, maka para sahabat bertanya kepada beliau (ra), ‘Apa yang seharusnya kita lakukan kepadanya?’

Beliau memanggil Hadhrat Imam Hasan dan berwasiyat, ‘Apabila saya meninggal, ambillah nyawanya sebagai ganti nyawa saya. Namun, apabila saya selamat dari kematian maka dia janganlah dibunuh.’”

(عَنْ عَمْرٍو ذِي مُرٍّ) ‘Amru Dzi Murr menjelaskan, “Tatkala Hadhrat ‘Ali terluka karena tebasan pedang, saya datang ke hadapan beliau (ra). Kepala beliau telah dibalut kain. Saya bertanya kepada beliau, ‘Wahai Amirul Mukminin, perlihatkanlah luka Anda kepada saya.’

Beliau membuka balutan kain dan memperlihatkan luka beliau. Saya menyentuhnya dan lukanya tidak terlalu dalam dan [tampak] tidak parah.

Beliau bersabda, ‘Saya akan berpisah dengan Anda sekalian.’

Saat itu putri beliau bernama Ummu Kultsum terdengar tengah menangis terisak di balik tabir.

Beliau bersabda, ‘Berhentilah ‘nak, andai engkau kelak melihat apa yang tengah saya lihat, pasti tidak akan menangis.’

Saya (yaitu perawi bernama ‘Amru Dzi Murr) bertanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang sedang Anda lihat?’

Beliau bersabda, ‘Saya melihat di depan saya adalah kafilah (rombongan) para Malaikat dan para Nabi, dan juga Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tengah bersabda – maksudnya, beliau [Hadhrat ‘Ali] tengah melihat satu pemandangan kasyaf kafilah para malaikat dan para Nabi” – di mana Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun ada di dalam kafilah itu dan bersabda, ‘Wahai Ali’, yakni beliau Yang Mulia shallallahu ‘alaihi wasallam tengah bersabda, يَا عَلِيُّ ، أَبْشِرْ ، فَمَا تَصِيرُ إِلَيْهِ خَيْرٌ مِمَّا أَنْتَ فِيهِ ‘Wahai Ali, bersukacitalah, karena tempat engkau tengah tuju adalah lebih baik daripada tempat engkau sekarang berada.’”[15]

Di dalam satu riwayat tertera, لَمَّا فَرَغَ عَلِيٌّ مِنْ وَصِيَّتِهِ قال: “Tatkala Hadhrat ‘Ali telah selesai menyampaikan wasiatnya, beliau bersabda, أَقْرَأُ السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ‘Saya menyampaikan assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh [semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkatan-Nya tercurah atas kalian] kepada engkau sekalian”. ثُمَّ لَمْ يَتَكَلَّمْ إِلا بِـ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ، وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَرِضْوَانُهُ عَلَيْهِ Setelah itu beliau tidak mengatakan apapun kecuali kalimat syahadat laa ilaaha illallaah [Tidak ada Tuhan selain Allah] yang beliau ucapkan hingga ruh beranjak dari jasad beliau.”[16]

Tatkala Hadhrat ‘Ali bin Abu Talib wafat, Hadhrat Hasan Bin ‘Ali pun naik ke mimbar dan bersabda, “Wahai manusia, sungguh pada malam ini telah wafat seseorang yang mana tidak ada seorang pun sebelumnya yang sanggup mendahuluinya dan tidak pula orang yang datang setelahnya akan dapat meraih derajat seperti beliau. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh beliau untuk suatu pekerjaan penting maka malaikat Jibril ada di sebelah kanan beliau dan malaikat Mikail ada di sebelah kiri beliau, dan beliau tidaklah kembali selama Allah Ta’ala tidak menganugerahkan kemenangan melalui tangannya. Beliau hanya meninggalkan harta sebanyak tujuh ratus dirham. Beliau pernah berkehendak supaya beliau memerdekakan hamba sahaya dengan jumlah uang tersebut, dan ruh beliau telah terangkat di malam tatkala dahulu ruh Hadhrat Isa (as) terangkat naik yakni pada malam hari ke-27 (dua puluh tujuh) bulan Ramadhan yang penuh berkat.”[17]

Di dalam salah satu riwayat dijelaskan bahwa tanggal pensyahidan Hadhrat ‘Ali adalah pada malam hari tanggal ketujuh belas (17) bulan Ramadan di tahun empat puluh; [yang dimaksud] di sini adalah tahun empat puluh Hijriah dan masa kekhalifahan beliau adalah empat tahun delapan bulan setengah.[18]

Hadhrat Mushlih Mau’ud berkenaan dengan peristiwa ini menjelaskan, “Di dalam buku ath-Thabaqat Ibnu Sa’d jilid ketiga berkenaan dengan keadaan-keadaan pada peristiwa kewafatan Hadhrat ‘Ali karramallahu wajhah, diriwayatkan dari Hadhrat Imam Hasan bahwa beliau [Imam Hasan] bersabda, ‘Wahai manusia, pada hari ini suatu sosok telah wafat. Beberapa hal-hal darinya tidaklah orang-orang sebelum beliau mencapainya dan tidaklah orang-orang yang datang kemudian pun akan mencapainya. [satu peristiwa] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim beliau untuk berperang, malaikat Jibril berada di sebelah kanan beliau dan malaikat Mikail berada di sebelah kiri beliau. Walhasil, beliau tidak kembali tanpa meraih kemenangan. Beliau tidak kembali tanpa meraih kemenangan. Beliau hanya meninggalkan wasiat beliau sebanyak tujuh ratus dirham yang mana beliau berkehendak supaya uang itu beliau gunakan untuk memerdekakan seorang hamba sahaya. Beliau wafat di malam di mana ruh Hadhrat Isa Ibnu Maryam diangkat menuju langit, pada hari ke-27 (dua puluh tujuh) bulan Ramadhan.”

Kedua putra beliau (Hasan dan Husain) dan Hadhrat Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib memandikan jenazah beliau, kemudian putra beliau Hadhrat Hasan (ra) memimpin shalat jenazah beliau, dan di shalat jenazah beliau [Hadhrat Hasan] mengucapkan empat takbir. Beliau ditutup dengan tiga lembar kain kafan yang tidak ada baju yang beliau kenakan. Beliau dikuburkan pada waktu sahur [sebelum subuh].[19]

Disebutkan, “Hadhrat ‘Ali memiliki beberapa tabarruk berupa wewangian yang tersisa dari yang telah dibalurkan pada jasad beberkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Hadhrat ‘Ali berwasiyat supaya wewangian tersebut diusapkan di jenazah beliau.”[20]

Berkenaan dengan usia beliau terdapat perselisihan. Sebagian mengatakan bahwa usia beliau adalah 57 (lima puluh tujuh) tahun, menurut sebagian usia beliau adalah 58 (lima puluh delapan) tahun, sebagaian berpendapat enam puluh lima (65) tahun. Menurut sebagian ialah enam puluh tiga tahun. Pendapat mayoritas menganggap lebih benar bahwa usia beliau yaitu enam puluh tiga (63) tahun.

Berkenaan dengan dimanakah letak makam beliau, mengenai ini pun timbul pertanyaan. Terkait hal ini, di dalam buku-buku sejarah tercantum riwayat-riwayat yang berbeda-beda sebagai berikut: Hadhrat ‘Ali dikuburkan di waktu malam di Kufah dan peristiwa penguburan beliau sengaja dibuat rahasia. Satu riwayat lain menyebutkan Hadhrat ‘Ali dikuburkan di Jami’ Masjid Kufah. Satu riwayat lain menyebutkan Hadhrat Imam Hasan dan Imam Husain radiyallahu ‘anhuma memindahkan jasad Hadhrat ‘Ali ke Madinah dan mereka telah menguburkan beliau di Baqi di samping makam Hadhrat Fatimah.

Ada satu riwayat menyebutkan bahwa tatkala keduanya [Hadhrat Imam Hasan dan Imam Husain] menyimpan jasad beliau dalam satu peti dan meletakkannya diatas unta, unta tersebut hilang dimana unta tersebut dirampas oleh Kabilah Thayyi dan mereka menganggap peti tersebut berisi harta. Namun, tatkala mereka melihat bahwa di dalam peti (تابوت) tersebut adalah jenazah dan mereka tidak dapat mengenalinya maka mereka pun menguburkan jenazah beserta peti tersebut sehingga tidak ada yang mengetahui dimanakah letak kuburan Hadhrat Ali.[21]

Kemudian ada satu riwayat yang menyebutkan dari Hadhrat Hasan, “Saya telah menguburkan Hadhrat ‘Ali di Kufah di dalam salah satu kamar rumah keluarga Ja’dah bin Hubairah (جَعْدَةَ بْنَ هُبَيْرَةَ بْنِ أَبِي وَهْبٍ).”[22] Dikatakan bahwa Ja’dah adalah cucu dari jalur ibu Hadhrat ‘Ali (ra).[23]

Imam Ja’far Sadiq (جعفر بن محمد الصادق) mengungkapkan, “Jenazah Hadhrat ‘Ali dishalatkan di waktu malam dan beliau telah dikuburkan di Kufah. Tempat tepat kuburan beliau dirahasiakan. Tapi, [kelak diketahui] ada di dekat qasr-e-imarat [benteng pusat pemerintahan].”[24]

Satu riwayat yang lain menyebutkan, “Hadhrat Imam Hasan [bersama saudara-saudaranya] setelah kewafatan Hadhrat ‘Ali menshalatkan jenazah Hadhrat ‘Ali dan beliau telah menguburkan Hadhrat ‘Ali di luar kota Kufah. Lokasi kuburan beliau dirahasiakan karena kekhawatiran supaya jangan sampai golongan Khawarij dan lainnya merusak kuburan beliau.”[25]

Sebagian golongan Syiah mengatakan, “Kuburan Hadhrat ‘Ali terletak di Najaf, di tempat yang sekarang disebut dengan masyhadun Najaf.”

Menurut salah satu riwayat yang lain lagi menyebutkan, “Hadhrat ‘Ali telah disyahidkan di Kufah sedangkan kita tidak mengetahui dimana kuburan beliau.”[26]

Riwayat lain menyebutkan, “Setelah kewafatan Hadhrat Ali, Hadhrat Imam Hasan menshalatkan jenazah beliau dan menguburkan Hadhrat ‘Ali di daarul imarat [benteng pusat pemerintahan] karena kekhawatiran jangan sampai golongan Khawarij menodai jasad beliau.”[27]

Allamah Ibnu Atsir menulis, “Inilah riwayat yang masyhur. Adapun yang mengatakan jasad beliau diletakkan di atas binatang tunggangan dan jasad beliau dengannya dibawa pergi dan tiada yang dapat mengetahui kemanakah binatang tersebut telah pergi, maka ini tidaklah benar. Berkenaan dengan ini riwayat ini ditulis secara palsu dimana periwayatnya sendiri tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Tidaklah akal dan syariat dapat membenarkannya. Kebanyakan orang yang berpikir dangkal dan menyimpang dari kalangan Rawafidh beranggapan bahwa makam Hadhrat ‘Ali ada di Masyhadun Najaf. Mereka tidak memiliki dalil akan hal ini dan tidak pula di dalam hal tersebut terkandung suatu hakikat (dasar kebenaran) karena bahkan dikatakan bahwa yang dikuburkan di sana adalah makam Hadhrat Mughirah bin Syu’bah.”[28]

Imam Ibnu Taymiyah mengatakan “Mengenai tempat di Najaf yang dikenal dengan nama Masyhad, para ahli ilmu sepakat itu bukan kuburan Hadhrat Ali, namun itu merupakan kuburan Hadhrat Mughirah bin Syu’bah. Meskipun banyaknya umat Muslim dari kalangan Ahli Bait (keturunan keluarga Nabi) dan kaum Syiah memegang kekuasaan mereka di Kufah yang berlangsung lebih dari 300 tahun, namun mereka tidak pernah menyebutkan bahwa itu adalah kuburan Hadhrat Ali. Lebih dari tiga ratus (300) tahun setelah syahidnya Hadhrat ‘Ali tempat tersebut barulah dinamai Masyhad Ali. Karena itu, riwayat yang menyatakan tempat itu kuburan Hadhrat ‘Ali adalah keliru.”[29]

Hadhrat Allamah Ibnu al-Jauzi dalam kitab Tarikhnya menyebutkan mengenai kuburan Hadhrat ‘Ali setelah mencantumkan beragam riwayat yang disebutkan diatas lalu beliau menulis, Wallaahu a’lamu ayyul aqwaali ashahhu. Artinya, “Allah lebih mengetahui ucapan yang mana yang lebih benar dan sahih.”[30]

Berkenaan dengan pernikahan Hadhrat ‘Ali dan anak keturunan beliau, diriwayatkan sebagai berikut. Hadhrat ‘Ali dalam beragam waktu melakukan 8 kali pernikahan. Nama para istri beliau diantaranya, Fatimah Binti Rasulullah (saw), Khaula Binti Ja’far Bin Qais al-Hanafiyyah (خولة بنت جعفر الحنفية), Laila Binti Mas’ud Bin Khalid (ليلى بنت مسعود بن خالد), Ummul Baniin Binti Hizaam Bin Khalid (أمّ البنين بنت حزام بن خالد بن ربيعة), Asma binti Umais (أسماء بنت عميس الخثعمية), Shuhbaa Ummu Habib Binti Rabiah (الصهباء أم حبيب بنت ربيعة), Umamah Binti Abul As Bin Rabi’ (أمامة بنت العاص بن الربيع). Beliau ini adalah putri Hadhrat Zainab, Putri Hadhrat Rasulullah Saw yang berarti ia cucu Hadhrat Rasulullah Saw. Istri Hadhrat ‘Ali (ra) lainnya ialah Ummu Said Binti Urwah bin Mas’ud Tsaqafi (أم سعيد بنت عروة بن مسعود بن مالك الثقفيّ). Dari mereka semua Allah Ta’ala memberikan banyak anak kepada beliau yang jumlahnya lebih dari 30 anak yang terdiri dari 14 putra dan 19 putri.

Keturunan beliau berlangsung terus dari garis keturunan Hadhrat Hasan dan Hadhrat Husain (dari istri beliau bernama Fathimah binti Rasulullah saw), Muhammad al-Hanafiyah bin ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri beliau bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais al-Hanafiyyah), Abbas al-Kilabiyah bin ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri beliau bernama Ummu Banin Fathimah binti Hizam al-Kilabiyah) dan ‘Umar at-Taglibiyah bin ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri beliau bernama Ummu Habib ash Shahbaa at Taghlibiyah).[31]

Berkenaan dengan keistimewaan dan akhlak serta sifat-sifat beliau, Hadhrat Ibnu Abbas meriwayatkan, Rasulullah (saw) bersabda, Ana Madinatul ‘ilmi wa ‘Aliyyun baabuha faman araadal madiinata fal ya’til baaba.’ Artinya, “Aku adalah kota ilmu dan ‘Ali adalah pintu gerbangnya, siapa yang ingin memasukinya, hendaknya masuk melalui pintunya.”[32]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadhrat ‘Ali suatu ketika pernah bersabda, ‘Diantara Sahabat yang paling berani adalah Hadhrat Abu Bakr (ra) ketika dibuatkan tempat tinggi terpisah untuk Rasulullah saat itu timbul pertanyaan, hari ini tugas penjagaan Rasulullah (saw) akan ditugaskan kepada siapa? Hadhrat Abu Bakr segera datang dengan membawa pedang terhunus lalu berdiri. Dalam keadaan yang sangat genting itu beliau dengan penuh keberanian melakukan tugas menjaga Rasulullah (saw).’[33] Dalam hadits dijelaskan juga bahwa suatu ketika Rasulullah bersabda, أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا ‘Ana madiinatul ilmi wa ‘Aliyyun baabuha.’ – ‘Aku adalah kotanya ilmu dan ‘Ali adalah pintu gerbangnya.’

Hadhrat ‘Ali pun ditetapkan sebagai ulama oleh Rasulullah (saw). Namun pada perang Khaibar dalam keadaan yang sangat genting Rasulullah (saw) menyerahkan bendera di tangan beliau. Dari itu diketahui bahwa pada zaman Rasulullah (saw) para ulama tidaklah pengecut, melainkan yang paling berani.”[34] Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di kesempatan ini menjelaskan perihal keberanian para ulama.

Hadhrat ‘Ali meriwayatkan, “Ada kalanya, saya mengikat batu di perut karena lapar yang sangat. Sedangkan pada hari ini sedekah saya yakni zakat mencapai nilai 4.000 (empat ribu) dinar.” Dalam riwayat lain dikatakan, “40.000 (empat puluh ribu) dinar.”[35]

(عَنْ أَبِي بَحْرٍ، عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ، قَالَ) Abu Bahr dari gurunya meriwayatkan bahwa beliau berkata, “Saya melihat Hadhrat ‘Ali memegang kain tebal izaar (bawahan). Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Saya membelinya seharga 5 dirham. Siapa saja yang memberikan keuntungan 1 dirham kepada saya, saya akan jual kain ini kepadanya.’”

Perawi mengatakan, “Saya melihat ada kantong milik Hadhrat ‘Ali seharga beberapa dirham. Beliau bersabda, ‘Ini adalah nafkah yang tersisa kami dari antara harta kekayaan Yanbu.’”[36] Yanbu adalah sebuah desa yang berjarak 7 manzil dari Madinah, terketak di dekat pantai. [Satu Manzil = satu hari perjalanan zaman itu]

“Pada cincin Hadhrat ‘Ali tertulis ‘Allahul Maliku artinya ‘Allah-lah Raja’.”[37]

Jumai’ Bin Umair (جُمَيْعِ بْنِ عُمَيْرٍ التَّيْمِيِّ) meriwayatkan, “Saya datang menemui Hadhrat Aisyah bersama bibi saya. Bibi saya bertanya, ‘Siapa yang paling dicintai oleh Rasulullah dari antara wanita?’ Hadhrat Aisyah berkata, ‘Fathimah.’ Lalu ditanyakan lagi, ‘Dari antara kaum pria?’ Hadhrat Aisyah bersabda, ‘Suaminya (Hadhrat Ali)…’”[38]

Hadhrat Tsa’labah bin Abu Malik (ثعلبة بن أبي مالك) meriwayatkan, “Hadhrat Sa’d bin Ubadah dalam setiap kesempatan selalu menjadi pembawa bendera dari pihak Rasulullah (saw). Namun, ketika tiba saatnya bertempur maka Hadhrat Ali-lah yang membawa bendera.”[39]

Seorang dari kabilah Tsaqif meriwayatkan, Hadhrat ‘Ali menugaskan saya sebagai Amil di daerah Sabur.” Sabur ialah sebuah daerah di Faris (Persia) yang berjarak sekitar 100 mil dari Syiraz. “Hadhrat ‘Ali bersabda kepadaku, ‘Janganlah mencambuk seseorang disebabkan oleh pajak satu dirham. Janganlah terus mengusik rezeki orang lain, jangan juga pada pakaian mereka ketika musim dingin ataupun panas.’ (Artinya, janganlah mengambil pajak yang membuat pakaian mereka terbuka.) ‘Janganlah menuntut hewan yang digunakan oleh mereka. Janganlah terus berdiri untuk menuntut satu dirham dari seseorang.’” Artinya, ketika akan menarik pajak, jangan sampai menjadi beban bagi seseorang.

“Saya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Kalau begitu saya akan kembali pulang kepada anda seperti halnya saya pergi meninggalkan anda.’ Artinya, tidak akan mendapatkan apa-apa. Hadhrat ‘Ali bersabda, وَإِنْ رَجَعْتَ وَيْحَكَ! إِنَّمَا أُمِرْنَا أَنْ نَأْخُذَ مِنْهُمُ الْعَفْوَ- يَعْنِيَ الْفَضْلَ ‘Semoga kebaikan tercurah padamu. Sekalipun kamu kembali dengan tangan kosong, telah diperintahkan kepada kita untuk menarik pajak dari antara harta yang melebihi keperluannya.’”[40]

Hadhrat Ibnu Abbas meriwayatkan, “Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Ali (ra), أَنْتَ أَخِي وَصَاحِبِي ‘Anta akhi wa shaahibi’ – ‘Kamu adalah saudaraku dan juga kawanku.’”[41]

Ali Bin Rabiah (عَلِيِّ بْنِ رَبِيعَةَ) meriwayatkan, “Saya menghadap Hadhrat ‘Ali yang saat itu kepada beliau dibawakan hewan tunggangan. Ketika beliau meletakkan kaki pada pelana beliau mengucapkan, ‘Bismillah’ (Dengan nama Allah) tiga kali. Ketika beliau duduk-duduk lurus diatas punggung tunggangan, beliau mengucapkan, ‘Alhamdulillah’ (segala puji bagi Allah) lalu mengucapkan, {سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا ، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ} ‘Subhaanalladzi sakhkhara lanaa haadza wa maa kunnaa lahuu muqriniin wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun’ artinya, ‘Maha suci Dzat yang telah menundukkan hewan ini bagi kita, padahal kita tidak berkuasa untuk itu. Sesungguhnya kita akan kembali kepada Rabb kita.’ Beliau (ra) lalu beliau mengucapkan tiga kali ‘Alhamdulillah’ dan tiga kali ‘Allaahu akbar’. Beliau (ra) lalu mengucapkan doa, سُبْحَانَكَ إِنِّي قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ ‘Subhaanaka innii qad zhalamtu nafsii faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa Anta.’ Artinya, ‘Engkau Maha Suci. Sesungguhnya aku telah berbuat aniaya pada diriku sendiri, ampunilah aku karena selain Engkau tidak ada lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa.’ ثُمَّ ضَحِكَ . فَقُلْتُ : Lalu Hadhrat ‘Ali tersenyum. Perawi mengatakan, “Saya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminiin, kenapa tuan tersenyum?’

Beliau bersabda: ‘Saya melihat Rasulullah (saw) melakukan seperti yang saya lakukan tadi. Beliau (saw) lalu tersenyum lagi. Saya (Hadhrat Ali) pun bertanya kepada beliau (saw), مِنْ أَيِّ شَيْءٍ ضَحِكْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ “Wahai Rasulullah, kenapa tuan tersenyum?”

Rasul bersabda, Sesungguhnya Tuhanmu sangat bahagia dengan hamba-Nya ketika mengatakan, رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرُكَ ‘Wahai Tuhanku! ampunilah dosaku. Sesungguhnya selain Engkau tidak ada yang dapat mengampuni.’ Mendengar hal inilah yang membuat Rasulullah (saw) tersenyum.”’”[42]

Yahya Bin Ya’mur (يَحْيَى بْنِ يَعْمُرَ) meriwayatkan, suatu ketika Hadhrat ‘Ali Bin Abi Thalib berpidato. Setelah memanjatkan pujian kepada Allah Ta’ala, beliau bersabda, ‘Wahai manusia, orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan terjerumus kedalam dosa. Orang-orang baik dan ulama mereka tidak melarang mereka dari perbuatan dosa tersebut. Ketika mereka melampaui batas dalam perbuatan dosa, berbagai hukuman menjerat mereka. Karena itu, serulah pada kebaikan dan laranglah dari perbuatan buruk, sebelum azab seperti itu menimpa kalian. Ingatlah, menganjurkan pada kebaikan dan mencegah dari keburukan tidak akan mengurangi mata pencaharianmu dan tidak juga akan mendekatkanmu pada kematian.’[43]

Hadhrat Jabir (ra) meriwayatkan, “Suatu hari kami bersama dengan Rasulullah (saw) berada di rumah seorang wanita Anshari. Wanita itu menyampaikan undangan makan kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) bersabda, ‘Tidak lama lagi akan datang seorang calon penghuni surga kepada kalian.’ Datanglah Hadhrat Abu Bakr Siddiq (ra) lalu kami mengucapkan tahniah (selamat atau mubarak) kepada beliau. Selanjutnya Rasulullah (saw) bersabda, ‘Tidak lama lagi akan datang seorang calon penghuni surga kepada kalian.’ Datanglah Hadhrat Umar (ra) lalu kami mengucapkan tahniah (selamat) kepada beliau. Rasulullah (saw) bersabda untuk yang ketiga kalinya, ‘Tidak lama lagi akan datang seorang calon penghuni surga kepada kalian.’ Saat itu saya melihat Rasulullah (saw) menyembunyikan kepala beliau di bawah sebatang pohon korma yang kecil. Beliau (saw) bersabda, ‘Ya Tuhan! Jika Engkau menghendaki, semoga yang datang ini Ali.’ Datanglah Hadhrat ‘Ali (ra) lalu kami mengucapkan tahniah (selamat) kepada beliau.”[44] 

Hadhrat Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, “Surga mendambakan tiga orang yakni Ali, Ammar dan Salman.”[45]

Abu Usman an-Nahdi meriwayatkan bahwa Hadhrat ‘Ali bersabda, “Suatu hari Rasulullah (saw) memegang tangan saya dan kami melewati jalan-jalan Madinah lalu tiba di sebuah kebun. Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, betapa indahnya kebun ini.’ Beliau (saw) pun bersabda, ‘Anda akan mendapatkan kebun yang lebih indah dari ini di surga nanti.’”[46]

Hadhrat Ammar Bin Yasir meriwayatkan, “Saya mendengar Rasulullah bersabda kepada Hadhrat Ali, ‘Wahai Ali! Allah Ta’ala telah menganugerahkan satu keistimewaan kepadamu yang mana belum pernah Allah Ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya yang lebih baik dari itu. Keistimewaan itu adalah bersikap dingin terhadap dunia. Allah Ta’ala menciptakanmu sedemikian rupa sehingga kamu tidak mengambil apa-apa dari antara dunia, tidak juga dunia mengambil sesuatu darimu.” Artinya, engkau tidak memiliki hasrat duniawi. Tidak juga orang-orang yang gandrung dengan dunia ingin menjalin hubungan denganmu.

“Begitu juga Allah Ta’ala telah menganugerahkan padamu kecintaan kepada orang-orang miskin. Mereka bahagia menjadikanmu sebagai imamnya dan engkau bahagia menjadi orang yang diikut oleh mereka. Berikan kabar suka kepada mereka yang mencintaimu dan berbicara jujur mengenaimu. Kebinasaanlah bagi mereka yang membencimu dan berkata dusta berkenaan denganmu. Siapa yang mencintaimu dan berbicara benar mengenaimu, akan menjadi tetanggamu di surga dan menjadi kawanmu dalam istanamu.

Orang-orang yang membencimu dan berdusta mengenaimu maka Allah Ta’ala telah mengambil tanggung jawab bahwa pada hari kiamat, Dia akan memberdirikan mereka di tempat berdirinya orang-orang yang banyak berdusta.”[47]

Hadhrat Muslih Mauud bersabda, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Ali dan Fatimah akan berada didalam surga yang memiliki derajat yang sama denganku.

Berkenaan dengan penetapan Hadhrat ‘Ali sebagai Asyrah Mubasyarah yakni Hadhrat ‘Ali termasuk kedalam 10 sahabat beruntung yang ketika hidup di dunia mendapatkan kabar suka yang keluar dari lisan beberkat Rasulullah (saw) bahwa akan masuk surga.

Hadhrat Sa’id Bin Zaid (سَعِيدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ) meriwayatkan, Berkenaan dengan 9 orang, saya berikan kesaksian bahwa mereka adalah calon penghuni surga dan jika saya pun memberikan kesaksian berkenaan dengan orang yang kesepuluh, maka saya tidak akan berdosa.

Sahabat bertanya, وَكَيْفَ ذَلِكَ Bagaimana itu?

Ia menjawab, Suatu hari kami berada dibukit hira bersama dengan Rasulullah (saw). Saat itu bukit Hira bergetar. Beliau (saw) bersabda, ‘Wahai Hira! Berhentilah bergetar. Sesungguhnya saat ini seorang nabi, seorang Siddiq dan syahid tengah berada diatasmu.’

Seseorang bertanya, قِيلَ وَمَنْ ‘Siapa gerangan 10 orang calon penghuni surga itu?’

Hadhrat Said Bin Zaid berkata, ‘Pertama Rasulullah saw sendiri, Abu Bakr, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, Thalhah, Zubair, Sa’d dan Abdurrahman Bin Auf.’

Ada yang bertanya: فَمَنِ الْعَاشِرُ ‘Siapakah yang kesepuluh?’

Hadhrat Said Bin Zaid berkata: أَنَا ‘Itu adalah saya.’”[48]

Saya akan sampaikan lagi sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkenaan dengan kisah ini. Beliau menjelaskannya dalam kaitan dengan topik menguasai jiwa dan menjauhkan egoisme sehingga itu akan saya sampaikan lagi saat ini. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Suatu ketika Hadhrat ‘Ali karramallaahu wajhah tengah berduel dengan seorang musuh semata-mata karena Allah Ta’ala. Pada akhirnya, Hadhrat ‘Ali berhasil menumbangkan musuh tersebut lalu menduduki dadanya. Musuh itu segera meludahi wajah Hadhrat Ali. Kemudian Hadhrat ‘Ali berdiri dan melepaskannya. Ketika ditanya oleh musuh tersebut, Hadhrat ‘Ali menjawab, ‘Sampai tadi aku berduel denganmu semata-mata karena Allah Ta’ala, namun ketika kamu meludahi wajahku, satu bagian dari emosiku bercampur di dalamnya. Aku tidak ingin membunuhmu didasari oleh emosiku.’ Dari kisah ini jelas diketahui bahwa beliau tidak menganggap musuh dirinya sebagai musuhnya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan nasihat kepada jemaat, beliau bersabda, “Kita pun hendaknya menimbulkan fitrat dan sifat seperti ini dalam diri kita. Jika kita menimpakan penderitaan kepada orang lain didasari oleh kerakusan dan hawa nafsu diri dan juga memperluas permusuhan, apa lagi yang lebih besar dari itu yang dapat memancing murka Ilahi?”

Dalam kesempatan lain, beliau as menjelaskan lebih rinci lagi, bersabda, “Untuk membedakan hawa nafsu pribadi dan karena Allah Ta’ala, raihlah pelajaran dari peristiwa yang menimpa Hadhrat Ali.”

Beliau as menulis, “Suatu ketika terjadi duel dalam suatu peperangan antara Hadhrat ‘Ali dengan seorang petarung kafir. Hadhrat ‘Ali berkali kali berusaha untuk menumbangkannya, namun tidak berhasil. Akhirnya ketika Hadhrat ‘Ali berhasil menumbangkannya lalu menduduki dadanya. Ketika Hadhrat ‘Ali hampir menusukkan pedang lalu membunuhnya, ternyata orang kafir itu meludahi wajah Hadhrat Ali. Setelah itu Hadhrat ‘Ali berdiri lalu melepaskannya. Melihat sikap Hadhrat ‘Ali seperti itu, orang kafir itu merasa heran lalu bertanya kepada Hadhrat Ali, ‘Anda telah bersusah payah untuk menumbangkan saya dan saya pun adalah musuh kental yang haus darah, meskipun Anda telah menguasai saya, lantas kenapa melepaskan saya? Apa penyebabnya?’

Hadhrat ‘Ali menjawab, ‘Masalahnya adalah, diantara saya dan Anda tidak ada permusuhan pribadi. Karena Anda menganiaya umat Muslim atas nama penentangan terhadap agama sehingga Anda wajib dibunuh. Saya berduel dengan Anda semata mata didasari oleh tuntutan agama. Namun ketika Anda meludahi muka saya, saya menjadi emosi. Saya lalu berpikir, “Sekarang emosi pribadiku sudah bercampur di dalamnya sehingga tidak jaiz lagi jka aku mengeksekusinya supaya apa yang kulakukan tidak didasari oleh nafsu pribadi. Apapun yang terjadi, harus didasari karena Allah Ta’ala.” Ketika emosi saya mereda dan keadaan saya berubah, saya akan memperlakukan Anda sewajarnya.’

Mendengar ucapan beliau, orang kafir itu sangat terkesan sehingga kekufuran keluar dari dirinya. Ia berpikir, ‘Agama mana lagi yang lebih baik dari ini yang disebabkan karena pengaruh ajarannya yang suci sehingga jiwa manusia berubah menjadi suci seperti itu.’ Orang kafir itu saat itu juga taubat dan menyatakan beriman. Inilah ketakwaan hakiki yang memperlihatkan buahnya.”

Lebih kurang seperti itu jugalah Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan berkenaan dengan peristiwa duelnya Hadhrat ‘Ali dengan Yahudi itu. Beliau (ra) bersabda, “Suatu ketika, Hadhrat ‘Ali terlibat duel dalam satu peperangan, ada seorang musuh besar yang mana jarang sekali orang dapat mengalakannya. Musuh tersebut datang untuk berduel dengan Hadhrat Ali. Duel antara keduanya berlangsung hingga berjam jam. Akhirnya Hadhrat ‘Ali berhasil menumbangkan Yahudi itu lalu beliau duduk diatas dadanya dan beriradah untuk memenggal lehernya dengan pedang. Tiba-tiba Yahudi itu meludahi wajah beliau. Beliau langsung melepaskannya lalu berdiri. Yahudi itu kebingungan lalu bertanya: ‘Sungguh aneh, tadi anda bertarung berjam-jam dengan saya dan berhasil menumbangkan saya, namun sekarang anda melepaskan saya, kenapa anda bertindak bodoh seperti ini?’

Hadhrat ‘Ali bersabda, ‘Saya tidaklah bertindak bodoh, ketika saya menumbangkan Anda lalu Anda meludahi wajah saya. Seketika saya menjadi emosi. Namun seiring dengan itu terpikir oleh saya bahwa apa yang saya lakukan sejak tadi, adalah demi Allah Ta’ala, namun jika setelah Anda meludah, saya masih melanjutkan duel, berarti pembunuhan terhdap saya disebabkan emosi pribadi saya, bukan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Karena itu, saya menganggap sesuai jika saat emosi itu kulepaskan kamu. Jika emosi saya sudah reda, nanti saya akan lanjutkan lagi karena Allah Ta’ala.’”

Riwayat lebih lanjut akan saya sampaikan lain waktu.

Saat ini saya ingin menyampaikan lagi satu hal. Hari ini adalah hari pertama tahun baru dan juga Jumat pertama. Panjatkanlah doa, semoga tahun ini membawa keberkatan bagi Jemaat, bagi dunia dan juga bagi umat manusia. Semoga kita pun dapat memenuhi tanggung jawab, tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala dan juga dapat meningkatkan tolok ukur ibadah kita. Begitu pun semoga penduduk dunia dapat memahami tujuan penciptaannya dan memenuhi hak hak Allah Ta’ala. Bukan saling merampas hak satu sama lain, semoga mereka mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dan memenuhi hak-hak satu sama lain. Jika tidak, Allah Ta’ala akan menarik perhatian orang-orang duniawi lagi dengan cara-Nya untuk memenuhi kewajiban mereka. Semoga kita dan segenap manusia di dunia dapat memahami poin penting ini sehingga dapat menata kehidupan dunia dan akhiratnya.

Sepanjang tahun lalu sampai saat ini kita masih menghadapi wabah penyakit yang sangat berbahaya dan tidak ada satupun negara di dunia ini yang luput dari wabah ini. Ada yang terdampak berat, namun ada juga yang ringan. Namun nampaknya kebanyakan penduduk dunia masih belum ingin memberikan perhatian bahwa jangan jangan wabah ini dari Allah Ta’ala untuk menyadarkan kita akan hak hak dan kewajiban kita. Mereka tidak ingin berfikir ke arah itu. Jangan jangan melalui wabah ini Allah Ta’ala ingin menyadarkan dan mengabarkan kepada kita. Tidak ada yang berfikir kearah sana. beberapa bulan lalu saya telah mengirimkan surat kepada banyak kepala negara berkenaan dengan hal itu.

Saya juga berusaha untuk memahamkan berkenaan dengan Covid ini dengan merujuk pada sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa bencana ini berasal dari Allah Ta’ala disebabkan manusia telah melupakan dan tidak memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya terhadap Allah Ta’ala dan telah meningkatnya mereka dalam ketidakadilan. Menanggapi surat tersebut, sebagian kepala negara telah memberikan jawabannya, namun jawaban yang mereka jawaban hanya menyoroti sisi duniawi saja dengan menyatakan, “Kami pun berharap seperti itu.” Mereka tidak menyinggung sisi agamanya padahal penjelasan yang saya tuliskan lebih dominan sisi keagamaannya. Namun mereka tidak ingin menempuh langkah untuk merubah keadaan (ruhaninya). Mereka tidak mau bersimpatik kepada bangsanya dengan mengarahkan perhatian mereka pada tujuan hakiki kehidupan mereka, meskipun para kepala negara ini menyadari bahwa dampak dari wabah ini akan sangat berbahaya. Setiap kepala negara, setiap orang yang berakal sehat, begitu juga setiap analis memaklumi hal itu, namun meskipun demikian mereka tidak menaruh perhatian pada solusi hakiki. Hanya fokus pada upaya-upaya duniawi.

Selain merugikan kesehatan, wabah ini tidak hanya melemahkan ekonomi setiap individu manusia, bahkan secara umum negara negara kaya pun mengalami resesi ekonomi. Jalan penyelesaian yang dimiliki oleh orang-orang duniawi ketika mengalami kejatuhan ekonomi seperti itu hanyalah dengan menguasai ekonomi negara-negara kecil, berusaha bagaimana untuk menjebak mereka dalam perangkapnya lalu menguasai harta kekayaan negara miskin dengan berbagai alasan. Untuk tujuan itu dibuat blok-blok (gabungan beberapa kekuatan negara) dan saat ini tengah dilakukan hal itu. Perang dingin akan dimulai lagi dan sekarang dapat dikatakan itu telah dimulai. Bukan mustahil akan memicu terjadinya perang senjata asli (yang sebenarnya) dan sangat mengerikan. Kemudian mereka akan terjerumus lagi ke jurang yang dalam. Tidak hanya Negara-negara miskin yang sudah terpuruk sejak sebelumnya, masyarakat negara-negara kaya pun akan ikut terperangkap dengan sangat mengerikan.

Sebelum dunia sampai pada keadaan tersebut, sembari memenuhi tanggung jawab kita harus memperingatkan dunia akan hal ini. Tahun ini akan memberikan keberkatan jika kita memenuhi tanggung jawab kita untuk menyadarkan dunia dan masyarakat. Untuk melakukan itu terlebih dahulu kita harus menghitung-hitung dan menilai diri kita masing-masing. Kita yang telah beriman kepada imam zaman Masih Mau’ud dan Mahdi Mahud, apakah keadaan kita sudah sedemikian rupa yang mana seiring memenuhi hak-hak Allah Ta’ala kita pun memenuhi hak hak Allah Ta’ala secara ikhlas ataukah kita masih perlu untuk memperbaiki diri kita dan perlu untuk meningkatkan tolok ukur semangat kasih sayang kita pada level yang luar biasa?

Dengan demikian, setiap Ahmadi perlu untuk merenungkan karena di pundaknya telah diletakkan tanggung jawab sangat berat yang untuk mengembannya terlebih dahulu kita harus menimbulkan di dalam diri berupa semangat kasih sayang, kecintaan dan persaudaraan antara sesama Ahmadi. Kemudian, ajaklah dunia untuk berkumpul di bawah panji yang telah ditinggikan oleh Rasulullah (saw) yang merupakan bendera Tauhid. Dengan begitu, baru kita akan berhasil dalam memenuhi tujuan baiat; dengan begitu, baru kita dapat terhitung sebagai orang yang memenuhi hak baiat; baru kita dapat menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala; baru kita akan berhak untuk memberikan dan menerima ucapan Mubarak (selamat) tahun baru. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat memenuhinya. Setiap Ahmadi, pria wanita muda, anak anak orang tua semoga memahami hal itu dan bertekad bahwa tahun ini saya akan menggunakan segenap kapasitas diri untuk menciptakan revolusi di dunia. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap Ahmadi untuk dapat melakukannya.

Saat ini saya ingin menghimbau untuk mendoakan para Ahmadi Pakistan dan Aljazair untuk berdoa. Mohon ingat mereka dalam doa doa anda. Di beberapa tempat di Pakistan para Maulwi dan juga oknum pejabat negara menjadi jadi dalam keaniayaan. Semoga Allah Ta’ala segera menindak orang-orang yang sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki. Allah Ta’ala Maha mengetahui, siapa yang bisa di islah dan siapa yang tidak. Bagi mereka yang sudah tidak mempan lagi, semoga Allah Ta’ala mencengkeramnya.

Mereka berusaha untuk menganiaya para Ahmadi dengan menunggangi Undang-Undang Penistaan (blasphemy law). Mereka berusaha untuk melarang beberapa sarana yang digunakan oleh para Ahmadi untuk mendapatkan tarbiyat internal. Semoga Allah Ta’ala segera menjauhkan itu dari para Ahmadi dan menyelmatkan kita dari mereka. Sebenarnya merekalah yang mencoreng nama baik Rahmatan Lil alamin (Rahmat Bagi seluruh alam). Sebaliknya, para Ahmadi-lah yang bersedia mengorbankan jiwanya sekalipun demi untuk menjaga kehormatan Rasulullah (saw).

Pasa masa ini, para Ahmadi-lah yang paling gencar dalam menggiring dunia untuk berkumpul di bawah bendera Rasulullah (saw). Artinya, para Ahmadi-lah yang melakukan ini secara hakiki. Bahkan dapat dikatakan, jika memang ada yang melakukan tugas tersebut, hanya para Ahmadi lah yang melakukannya. Memang orang-orang duniawi ini, pemerintahan duniawi dapat menzalimi kita demi untuk meraup harta, namun perlu diingat bahwa kita meyakini Tuhan yang merupakan sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Sesungguhnya pertolongannya akan datang dan itu pasti. Ketika pertolongan Allah Ta’ala datang, debu orang-orang duniawi dan yang merasa diri kuat dan berkuasa ini tidak akan terlihat sama sekali. Tugas kita untuk lebih menata ibadah-ibadah kita dengan doa-doa. Jika kita mengamalkannya maka kita akan berhasil.

Berkenaan dengan Aljazair, saya telah katakan bahwa para Ahmadi yang ditahan telah dibebaskan. Ada sebuah pengadilan di sana yang telah membebaskan para Ahmadi dari jeratan hukum. Pengadilan lainnya juga telah memberikan denda ringan sehingga lebih kurang semua telah dibebaskan. Meskipun, demikian di sana masih ada Ahmadi yang dipenjara di sel. Doakan juga semoga segera dibebaskan. Doakan juga semoga para tahanan Ahmadi di Pakistan segera dibebaskan.

Kebahagiaan hakiki bagi kita, apakah itu hari tahun baru ataupun Hari Raya Eid telah kita raih jika di setiap penjuru dunia bendera tauhid Ilahi berkibar, bendera yang dibawa oleh Hadhrat Muhammad (saw). Kebahagiaan hakiki akan diraih jika manusia mengenali nilai-nilai kemanusiaan dan ketika kebencian satu sama lain berubah menjadi kecintaan. Semoga Allah Ta’ala segera memberikan kebahagiaan ini kepada kita. Begitu juga semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada umat Islam untuk beriman kepada Masih mauud dan Mahdi mahud yang telah datang ini.

Semoga Allah Ta’ala memberikan akal sehat kepada dunia agar menaruh perhatian untuk memenuhi hak hak Allah Ta’ala dan hamba-Nya. Semoga Allah Ta’ala melindungi setiap Ahmadi di berbagai negeri dan semoga tahun ini menjadi rahmat dan keberkatan bagi setiap Ahmadi dan umat manusia. Begitu juga kelemahan dan kelalaian yang pernah kita lakukan di tahun lalu dan menjadi penyebab murka Ilahi dan juga menjadi penyebab luputnya kita dari ni’mat-ni’mat, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari itu semua dan menjadikan kita pewaris ni’mat-ni’mat dan karuniaNya. Sehingga kita menjadi mukmin hakiki. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat memanjatkan doa-doa tersebut.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Fazli Umar Faruk (Indonesia) dan Mln. Arif Rahman Hakim (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab).


[1] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab ‘Abdurrahman ibnu Muljam (ذِكْرُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُلْجَمٍ الْمُرَادِيِّ), 2887. Tarikh al-Khamis fi ahwali anfusin nafis (تاريخ الخميس في أحوال أنفس النفيس المؤلف : الشيخ حسين ديار البكري الجزء : 2 صفحة : 282) menyebut senjata untuk membunuh beliau ialah khinjar (خنجر yaitu belati, pedang pendek yang lurus yang bisa disembunyikan di balik baju). Khinjar juga bisa dipakai sebagai mata tombak. Abu Lu-luah pembunuh Khalifah ‘Umar (ra) juga memakai ini.

[2] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, (ذكر عبد الرحمن بن ملجم المرادي وبيعة علي ورده اياه وقوله لتخضبن هذه من هذه وتمثله بالشعر وقتله عليا عليه السلام وكيف قتله عبد الله بن جعفر والحسين بن علي ومحمد بن الحنفية), 2757.

[3] Ansabul Asyraf karya al-Baladzuri (أنساب الأشراف للبلاذري), Perkara Ibnu Muljam (امر ابن ملجم وامر اصحابه ومقتل امير المؤمنين علي بن ابي طالب عليه السلام), nomor 1051. Ibnu al-Hanafiyah ialah Muhammad al-Hanafiyah bin ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri beliau bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais al-Hanafiyyah.

[4] Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج ٤٢ – الصفحة ٥٥٨).

[5] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[6] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab (زُبَيْدُ بْنُ الصَّلْتِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ), nomor 2624. Sunan Abi Daud, Kitab as-Sunnah (كتاب السنة), bab berperang dengan kaum Khawarij (باب فِي قِتَالِ الْخَوَارِجِ): Zaid b. Wahb al-Juhani meriwayatkan, أَنَّهُ كَانَ فِي الْجَيْشِ الَّذِينَ كَانُوا مَعَ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ الَّذِينَ سَارُوا إِلَى الْخَوَارِجِ فَقَالَ عَلِيٌّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ : أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : Ia pernah bergabung dengan pasukan ‘Ali radliallahu ‘anhu yang menuju kaum Khawarij. ‘Ali lalu berkata, “Wahai manusia sekalian, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَتْ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ شَيْئًا وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ شَيْئًا وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ شَيْئًا، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسَبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ، لاَ تُجَاوِزُ صَلاَتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ‘Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al-Quran, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian tidak ada apa-apanya daripada shalat mereka. Juga puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan mereka menyangka bahwa Al-Qur’an itu adalah (hujjah kebenaran) bagi mereka, namun ternyata Al-Qur’an itu adalah (pendakwa, bencana) atas mereka, yakni mereka mengira Al-Qur’an membenarkan mereka, padahal mereka bertentangan. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah yang melesat dari sasaran buruannya...’”.

[7] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab (زُبَيْدُ بْنُ الصَّلْتِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ), nomor 2624. Tarikh Yaqubi (.وقعة صفّين : ص۲۰ ، تاريخ اليعقوبي : ج۲ ص۲۰۰ ؛ مروج الذهب : ج۲ ص۳۸۱) menyebutkan dia diberhentikan dari jabatan Amir di Azerbaijan di zaman Khalifah ‘Ali (ra). Para penentang dan pengkritik Hadhrat ‘Ali (ra) yang berasal dari internal pasukan beliau (ra) ialah kalangan pemimpin kabilah (asyraf qabail) dan sebagian kalangan Qurra’ (Para Penghapal Qur’an). Sebagian dari mereka terdapat kalangan yang dulunya memberontak terhadap Khalifah ‘Utsman. Asy’ats bin Qais al-Kindi adalah pemimpin Kabilah. Asy’ats bin Qais al-Kindi masuk Islam pada akhir masa hidup Nabi (saw) dan murtad pada zaman Khalifah ‘Abu Bakr (ra). Setelah melakukan penentangan terhadap Amir tunjukan Khalifah, dia ditangkap dan dihadapkan ke Khalifah, ia dimaafkan. Pada zaman Khalifah ‘Umar (ra) ikut serta dalam perang Yarmuk dan peperangan melawan Persia dan mendapat tugas sebagai kepala distrik di Azerbaijan di bawah Amir Kufah. Pada zaman Khalifah ‘Utsman (ra), ia mendapat tugas sebagai Amir daerah Azerbaijan. Asy’ats bin Qais al-Kindi termasuk berani mengkritik Khalifah ‘Ali (ra). Ia tercatat beberapa kali menginterupsi pidato Khalifah dan mengkritiknya. Ia juga yang terdepan bersama para Asyraf dan para Hafizh dalam mengusulkan penerimaan Tahkim (perundingan) dari pihak Mu’awiyah setelah pasukan Mu’awiyah mengangkat al-Qur’an yang terikat pada tombak-tombak mereka. Ia juga terkadang tidak memanggil Amirul Mu-minin tapi dengan sebutan nama, “Wahai ‘Ali!” ‘Abdurrahman ibnu Muljam ialah seorang seorang Qari (paham cara baca al-Qur’an dan bagus melantunkannya serta Hafizh atau hapal al-Qur’an atau hapal banyak ayat al-Qur’an). Pada zaman Khalifah ‘Umar (ra), Ibnu Muljam mendapat tugas dari Khalifah sebagai Muqri’ (pengajar al-Qur’an) di Mesir. Dikatakan dia rajin beribadah malam dan gemar berpuasa. Kefanatikannya (kecintaan secara salah) terhadap al-Qur’an sedemikian rupa sehingga setelah menikam atau menebas Khalifah ‘Ali (ra), ia juga melantunkan ayat al-Qur’an (Surah al-Baqarah ayat 208). Bahkan, ketika akan dieksekusi setelah wafatnya Hadhrat ‘Ali (ra), Ibnu Muljam juga melantunkan dan menyelesaikan bacaan beberapa Surah al-Qur’an.

[8] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبرى لابن سعد المجلد الثالث في البدرين من المهاجرين والانصار
دار صادر بيروت). Jawaahir at-Taarikh karya Ali al-Kurai al-‘Amili (جواهر التاريخ – الشيخ علي الكوراني العاملي – ج ١ – الصفحة ٤٧٤)

[9] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), peristiwa penting tahun 40 (سنة أربعين), bahasan mengenai berita tentang pembunuhan beliau (ذكر الخبر عن سبب قتله ومقتله). Redaksi sedikit berbeda ditulis dalam Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab (زُبَيْدُ بْنُ الصَّلْتِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ), nomor 2624: ثُمَّ أُوصِيكُمَا يَا حَسَنُ، وَيَا حُسَيْنُ، وَجَمِيعَ أَهْلِي وَوَلَدِي، وَمَنْ بَلَغَهُ كِتَابِي بِتَقْوَى اللهِ رَبِّكُمْ yang artinya, “Aku mewasiyyatkan kepada kalian berdua, wahai Hasan dan wahai Husain, juga kepada seluruh keluargaku dan seluruh anak keturunanku serta mereka semua yang sampai membaca suratku ini untuk tetap takut (bertakwa) kepada Allah…”.

[10] Redaksi dalam Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, bab (زُبَيْدُ بْنُ الصَّلْتِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ), nomor 2624 menyebutkan: وَاللهَ اللهَ فِي أَهْلِ ذِمَّةِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَا يُظْلَمُنَّ بَيْنَ ظَهْرَانَيْكُمْ mengenai para Ahlu Dzimmah (orang-orang bukan Islam yang telah mengadakan perjanjian damai dan menjadi warga di negara yang dikuasai orang Muslim).

[11] Surah Al-Maidah: 55: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗٓ ۙاَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَاۤىِٕمٍ ۗذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ﴿المائدة : ۵۴﴾  Terjemahan Indonesia: “Wahai orang-orang yang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”

[12] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), peristiwa penting tahun 40 (سنة أربعين), bahasan mengenai berita sebab, tempat dan waktu pembunuhan beliau (ذكر الخبر عن سبب قتله ومقتله).

[13] Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab Ma’rifatush Shahaabah radhiyallahu ‘anhum (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ), bahasan mengenai Amirul Mu-minin ‘Aliyy radhiyallahu ‘anhu (ذِكْرُ إِسْلَامِ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), 4569: عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ ، أَنَّ أَبَا سِنَانٍ الدُّؤَلِيَّ حَدَّثَهُ ، أَنَّهُ عَادَ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي شَكْوَى لَهُ أَشْكَاهَا ، قَالَ : فَقُلْتُ لَهُ : .

[14] Al-Isti’aab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) karya Ibnu ‘Abdil Barr (أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي).Al-Waafi bil Waafiyaat (الوافي بالوفيات – ج 18 – عبد الأحد – عبد العزيز); tercantum juga dalam ar-Riyaadh an-Nadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة – ج 3); tercantum juga dalam ar-Riyaadh al-Mustathabah (الرياض المستطابة).

[15] Usdul Ghaabah karya Ibnu al-Atsir asy-Syafi’i, hadits 1159. Tarikh al-Khamis fi ahwali anfusin nafis (تاريخ الخميس في أحوال أنفس النفيس المؤلف : الشيخ حسين ديار البكري الجزء : 2 صفحة : 282). Ummu Kultsum binti ‘Ali bin Abi Thalib adalah putri beliau dengan Hadhrat Fathimah (ra). Ia menikah dengan (dinikahkan dengan) Hadhrat ‘Umar bin Khaththab (ra). Setelah Hadhrat ‘Umar (ra) wafat, tidak ada riwayat beliau menikah lagi.

[16] Usdul Ghaabah karya Ibnu al-Atsir asy-Syafi’i, hadits 1167.

[17] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[18] Al-Ishabah (الإصابة).

[19] Usdul Ghaabah.

[20] Usdul Ghaabah.

[21] Siyaar A’lamin Nubala.

[22] Tarikh Baghdad (تاريخ بغداد للخطيب البغدادي), bab (خبر بناء الرصافة).

[23] Ja’dah bin Hubairah ialah putra Ummu Hani binti Abi Thalib. Jadi, ia putra saudari (kemenakan dari jalur saudara perempuan). Ja’dah juga seorang Amir (Gubernur) di wilayah Khurasan (sekarang di Iran bagian timur dekat Afghanistan dan Pakistan). Berbeda dengan ath-Thabaqaat yang menyebut penyerangan terjadi sebelum shalat dimulai, menurut Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihaayah, penyerangan terjadi ketika shalat Shubuh sudah dimulai dengan Imam yaitu Hadhrat ‘Ali (ra) sendiri. Setelah diserang, Hadhrat ‘Ali (ra) menunjuk keponakannya itu sebagai Imam melanjutkan shalat berjamaah. Hadhrat ‘Ali (ra) dibawa ke tempat beliau. Para pelaku ada tiga orang: Wardan, Syabib dan Ibnu Muljam. Semua melarikan diri setelah menyerang, Wardan dibunuh dalam pengejaran, Syabib tidak terkejar dan Ibnu Muljam tertangkap.

[24] Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر).

[25] Al-Bidaayah wan Nihaayah (البداية والنهاية) karya Ibnu Katsir (ابن كثير الدمشقي، ابوالفداء إسماعيل بن عمر القرشي (المتوفی774هـ)).

[26] Thabaqaat al-Hanabilah (طبقات الحنابلة) karya Abū al-usayn Muammad ibn Muammad Ibn Abī Yaʻlá (أبو الحسين ابن أبي يعلى ، محمد بن محمد) yang dikenal dengan nama Ibnu Abi Ya’la (ابن أبي يعلى). Beliau wafat pada 526 Hijriyyah atau 1131 di Baghdad Irak. Beliau lahir pada 1059. Tercantum juga dalam Kitab Hayatul Hayawan al Kubro (حياة الحيوان الكبرى) yang dikarang oleh Kamaluddin Muhammad bin Musa bin Isa ad-Dumairy atau Ad-Damiri (كمال الدين بن محمد بن موسى بن عيسى بن علي الدميري): قلت: وعلي رضي الله تعالى عنه لا يعرف قبره على الحقيقة. “Menurut pendapat saya pada faktanya kuburan ‘Ali (ra) tidak diketahui dimana.” Kitab Ma’rifah ats-Tsiqaat (معرفة الثقات) Bab ‘Ali (باب على), nomor 1297 karya Abu al-Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih bin Muslim Al-‘Ijli al-Kufi (أبو الحسن أحمد بن عبد الله بن صالح بن مسلم العجلي الكوفي) hidup pada tahun 182-261 Hijriyyah di Kufah. Beliau menyampaikan: على بن أبي طالب رضي الله تعالى عنه قتل بالكوفة قتله عبد الرحمن بن ملجم المرادي وقتله الحسن بن على ودفن على بالكوفة ليلا فلا يعلم أين موضع قبره Hadhrat ‘Ali telah disyahidkan di Kufah [dan putra beliau mengeksekusi pembunuh ayah beliau dan dikuburkan malam-malam di Kufah], sementara kita tidak mengetahui dimana letak tepatnya kuburan beliau. .

[27] Al-Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir. Al-Intishar karya al-‘Amili (الانتصار – العاملي – ج ٦ – الصفحة ٥٠٥)

[28] Al-Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir.

[29] Maj’mu al-Fatwa (مجموع الفتاوى) karya Ibnu Taimiyah (تقي الدين أبو العباس أحمد بن عبد الحليم بن تيمية الحراني (المتوفى : 728هـ)), Darul Wafa’ (دار الوفاء), الطبعة : الثالثة ، 1426 هـ / 2005 م .

[30] Al-Muntazhim fi Tarikhil Muluuk wal Umam (المنتظم في تاريخ الملوك والأمم 1-17 ج5) karya Ibnul Jauzi (الإمام العلاّمة جمال الدين أبي الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد، ابن الجوزي). Abu al-Faraj ibn al-Jauzi (masa hidupnya 1114 M/508 H dan meninggal pada tahun 1201 M/597 H) adalah seorang ahli fikih, sejarawan, ahli tata bahasa, ahli tafsir, pendakwah, dan syekh yang merupakan tokoh penting dalam berdirinya kota Baghdad dan pedakwah mazhab Hambali yang terkemuka di masanya. Diantara karyanya yang lain ialah Talbīs iblis (Khayalan dan tipudaya Iblis), Zaad al-Masir dalam bidang tafsir, al-Mughni dalam bidang tafsir, dan Al-Maudhuat fi al-Hadits dalam bidang hadits, Shifatush Shafwah: Kisah Orang-orang Pilihan, Saidul Khatir: Cara Manusia Cerdas Menang dalam Hidup, Al-Radd ‘Ala al-Muta’ashshib al-‘Anid al-Mani’ Min dzamm Yazid (الرَّد على الْمُتَعَصِّبِ العَنيد الْمَانِع مِنْ ذَمِّ يَزِيد) atau ‘Tanggapan kepada orang Fanatik yang melarang mencela Yazid’ yang ditujukan kepada mereka yang sangat hati-hati berbicara dan menahan diri membicarakan keburukan Yazid bin Mu’awiyah. Tokoh ini berbeda orang dengan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah. Muhammad bin Abi Bakr (محمد بن أبي بکر), bin Ayyub bin Sa’d al-Zar’i, al-Dimashqi (الدمشقي), bergelar Abu Abdullah Syamsuddin (أبو عبد الله شمس الدین), atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, dinamakan karena ayahnya penjaga (qayyim) di sebuah sekolah lokal yang bernama Al-Jauziyyah. Dalam Bahasa Arab namanya tertulis: شمس الدين محمد بن أبي كر بن أيوب ،ابن القيم الجوزية ابن القيم. Dilahirkan di Damaskus, Suriah pada 4 Februari 1292 dan wafat pada 23 September 1350. Beliau adalah seorang imam suni, cendekiawan, dan ahli fikih bermazhab Hambali yang hidup pada abad ke-13.

[31] ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبرى لابن سعد).

[32] Hakim Naisaburi dalam al-Mustadrak ‘alash Shahihain (الحاكم النيشابوري، المستدرك علي الصحيحين، ج 3، ص 126). Tercantum juga dalam Faidhul Qadir dan Kanzul ‘Ummal (فيض القدير، ج 3: ص 46، كنز العمال، ج 5: ص 600). Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, jilid 2, halaman 236; Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, jilid 7, halaman 357. Dalam riwayat lain, أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا ، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ dan juga عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ، وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهَا مِنْ بَابِهَا.

[33] Musnad al-Bazzaar (مسند البزار), Musnad ‘Ali bin Abi Thalib (مسند علي بن أبي طالب رضي الله عنه ), Riwayat Rabi’ah bin Najid nomor 689 (ومما روى ربيعة بن ناجد عن علي بن أبي طالب حديث رقم 689). Syekh Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi dalam kitabnya “Hayatush Shahabah”: عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ ، قَالَ : خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَ : أَيُّهَا النَّاسُ أَخْبِرُونِي بِأَشْجَعِ النَّاسِ ؟ قَالُوا : – أَوْ قَالَ – قُلْنَا : أَنْتَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ . قَالَ : أَمَا إِنِّي مَا بَارَزْتُ أَحَدًا إِلَّا انْتَصَفْتُ مِنْهُ ، وَلَكِنْ أَخْبِرُونِي بِأَشْجَعِ النَّاسِ قَالُوا : لَا نَعْلَمُ ، فَمَنْ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ جَعَلْنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرِيشًا فَقُلْنَا : مَنْ يَكُونُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلًا ؟ يَهْوِي إِلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ فَوَاللَّهِ ، مَا دَنَا مِنْهُ إِلَّا أَبُو بَكْرٍ شَاهِرًا بِالسَّيْفِ عَلَى رَأْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَهْوِي إِلَيْهِ أَحَدٌ إِلَّا أَهْوَى عَلَيْهِ فَهَذَا أَشْجَعُ النَّاسِ فَقَالَ عَلِيٌّ : وَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَأَخَذَتْهُ قُرَيْشٌ فَهَذَا يَجَؤُهُ وَهَذَا يُتَلْتِلُهُ وَهُمْ يَقُولُونَ : أَنْتَ الَّذِي جَعَلْتَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا قَالَ : فَوَاللَّهِ مَا دَنَا مِنْهُ أَحَدٌ إِلَّا أَبُو بَكْرٍ ، يَضْرِبُ هَذَا وَيُجَاءُ هَذَا وَيُتَلْتِلُ هَذَا وَهُوَ يَقُولُ : وَيْلَكُمْ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَنْ يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ رَفَعَ عَلِيٌّ بُرْدَةً كَانَتْ عَلَيْهِ فَبَكَى حَتَّى اخْضَلَّتْ لِحْيَتُهُ ثُمَّ قَالَ : أُنْشِدُكُمْ بِاللَّهِ أَمُؤْمِنُ آلِ فِرْعَوْنَ خَيْرٌ أَمْ أَبُو بَكْرٍ فَسَكَتَ الْقَوْمُ فَقَالَ : أَلَا تُجِيبُونِي فَوَاللَّهِ لَسَاعَةٌ مِنْ أَبِي بَكْرٍ خَيْرٌ مِنْ مِلْءِ الْأَرْضِ مِنْ مُؤْمِنِ آلِ فِرْعَوْنَ ذَاكَ رَجُلٌ كَتَمَ إِيمَانَهُ وَهَذَا رَجُلٌ أَعْلَنَ إِيمَانَهُ dari Muhammad bin Aqil bin Abi Thalib, dari ‘Ali (ra) bahwa dia berkhutbah kepada mereka, “Wahai manusia siapa orang yang paling berani?” Mereka menjawab “Engkau wahai amirul mukminin.” Meski semua orang mengakui bahwa dirinyalah yang paling berani, namun ‘Ali sendiri mengakui bahwa bukanlah dia yang paling berani, melainkan adalah Abu Bakr (ra). ‘Ali berkata, “Ketahuilah, kalau aku tiada seorang musuh pun yang maju sendirian dari barisan nya untuk menantangku bertanding, melainkan aku akan melayaninya. Akan tetapi orang yang paling berani adalah Abu Bakr. Pada suatu hari kami membangun sebuah rumah kecil untuk Rasulullah (saw), sebagai tempat berteduh. Kami berkata,” Siapa yang mau menemani Rasulullah (saw), supaya tiada orang musyrik pun yang mengganggu beliau?” Maka demi Allah, tiada seorang pun di antara kami mendekat, kecuali Abu Bakr (ra) sambil mengangkat pedangnya di atas kepala Rasulullah (saw). Dia tidak mengizinkan seorang pun mendekati Rasulullah (saw), dan dia siap untuk menantang orang-orang yang ingin melakukan kejahatan terhadap diri Rasulullah. Maka dialah orang yang paling berani,” kata Ali. Selanjutnya diriwayatkan bahwa ‘Ali melihat orang Quraisy mengerumuni Rasulullah sebagian dari mereka mengancamnya sementara yang lain mengguncang-guncang badan Rasulullah. Mereka berkata. “Kamu telah menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai satu tuhan saja. “Demi Allah! Tiada seorangpun di antara kami yang mendekat, selain Abu Bakr. Dia memukul sebagian mereka melawan sebagian lainnya dan mengguncang sebagian lain lagi, seraya berkata kepada orang-orang Quraisy itu; “Apakah kalian ingin membunuh seorang lelaki hanya karena dia mengatakan “Tuhanku adalah Allah?” Kemudian ‘Ali (ra) mengangkat kain burdah yang dipakainya lalu dia menangis terisak-isak hingga membasahi janggutnya. Kemudian dia berkata kepada orang-orang yang hadir, “Aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, Adakah seorang lelaki beriman dari kalangan keluarga Firaun yang lebih baik ataukah Abu Bakr?” Orang banyak pun terdiam, lalu ‘Ali (ra) berkata, “Demi Allah, sesaat dari masa Abu Bakr (ra) adalah lebih baik daripada sepenuh bumi yang berisi orang mukmin dari kalangan keluarga Firaun. Lelaki itu merahasiakan keimanannya, sedangkan Abu Bakr (ra) memproklamasikan keimanannya.” Kemudian al-Bazzar berkata “kami tidak mengetahui hadits itu diriwayatkan kecuali kari jalan ini. Demikian tercantum dalam kitab al-Bidayah (Juz 3, hal. 271). Al-Haitsami berkata (Juz 9, hal 47). Sumber terjemahan: Tarikh Khulafa: Sejarah Para Khalifah/ Penulis: Imam As-Suyuthi/ Penerbit: Pustaka Al-Kautsar, 2000. http://www.jalansirah.com/ali-beritahukan-kepadaku-siapa-manusia-yang-paling-berani.html dan https://republika.co.id/berita/qdthy0320/sosok-sahabat-paling-pemberani-menurut-ali-bin-abi-thalib

[34] Tafsir Kabir jilid 7 karya Hadhat Khalifatul Masih II radhiyallahu ‘anhu (التفسير الكبير ج7)

[35] Musnad Ahmad, Musnad ‘Ali Ibn Abi Talib (وَمِنْ مُسْنَدِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), nomor 1367, 1368

[36] Az-Zuhd karya Ahmad ibnu Hanbal (الزهد لأحمد بن حنبل), (زُهْدُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ).

[37] ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبرى لابن سعد), bahasan ‘Abdurrahman bin Muljam (ذكر عبد الرحمن بن ملجم المرادي وبيعة علي). Fathul Baari (فتح الباري شرح صحيح البخاري), bab (باب قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْقُشُ عَلَى نَقْشِ خَاتَمِهِ): وأخرج ابن أبي شيبة عن حذيفة وأبي عبيدة أنه كان نقش خاتم كل واحد منهما ‏”‏ الحمد لله ‏”‏ وعن علي ‏”‏ الله الملك ‏”‏ . Dalam Fathul Mun’im bi Syarh Shahih Muslim (فتح المنعم شرح صحيح مسلم – ج 8). Tercantum juga dalam Riyaadhun Nadhrah (الرياض النضرة في مناقب العشرة), bab (الباب الرابع: فيما جاء مختصًّا بالأربعة الخلفاء). Dalam al-Kaafi karya al-Kulaini (الكافي – الشيخ الكليني – ج ٦ – الصفحة ٤٧٣), Makaarimul akhlaq karya Ath-Thabarisi (مكارم الأخلاق – الشيخ الطبرسي – الصفحة ٨٩) dan Bihaarul Anwaar karya al-‘Allamah al-Majlisi (بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ٤٢ – الصفحة ٦٩) disebutkan: عَنْ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ (ع) أَنَّ خَاتَمَ رَسُولِ اللَّهِ كَانَ مِنْ فِضَّةٍ وَ نَقْشُهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَ كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ عَلِيٍّ (ع) اللَّهُ الْمَلِكُ وَ كَانَ نَقْشُ خَاتَمِ وَالِدِي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْعِزَّةُ لِلَّهِ‏ Ja’far mengatakan, “Cincin Rasulullah (saw) berasal dari logam perak dan bertuliskan Muhammad Rasul Allah, cincin ‘Ali bertuliskan ‘Allah Sang Maha Raja’ dan cincin ayah saya bertuliskan ‘al-‘izzatu lillah’ – ‘Segala kehormatan milik Allah’.” Ja’far yang dimaksud di sini ialah Ja’far ash-Shadiq (sezaman dengan Imam Abu Hanifah). Ja’far putra Muhammad al-Baqir putra ‘Ali Zainul Abidin putra Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Di kitab yang sama menyebutkan, عَنِ الْحَسَنِ بْنِ سَهْلٍ عَنِ ابْنِ مَهْزِيَارَ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى أَبِي الْحَسَنِ مُوسَى (ع) فَرَأَيْتُ فِي يَدِهِ خَاتَماً فَصُّهُ فَيْرُوزَجٌ نَقْشُهُ اللَّهُ الْمَلِكُ فَقَالَ هَذَا . Mahziyar meriwayatkan, Saya masuk ke ruangan Abul Hasan Musa al-Kazhim dan melihat pada jarinya terdapat cincin bertuliskan, Allahul Malik. Beliau berkata, Inilah dia [cincin Ali].’”

[38] Sunanut-Tirmidhī, Kitābul-Manāqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), Bābu Fali Fāimata (بَابُ مَا جَاءَ فِي فَضْلِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا), adīth No. 3868: عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ كَانَ أَحَبَّ النِّسَاءِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَاطِمَةُ وَمِنَ الرِّجَالِ عَلِيٌّ ‏.‏ Buraidah meriwayatkan bahwa wanita yang paling disayangi Rasulullah (saw) ialah Fathimah.

[39] Usdul Ghaabah (اسد الغابہ فی معرفۃ الصحابہ لابن اثیر جلد 04 صفحہ93 ذکر علی بن ابی طالب، دارالفکر للطباعۃ والنشر والتوزیع بیروت 2003).

[40] Usdul Ghaabah (أسد الغابة ط الفكر نویسنده : ابن الأثير، أبو الحسن جلد : 3 صفحه : 600).

[41] Musnad Ahmad, al-Isti’aab, al-Imta’ karya al-Maqrizi dan Kanzul ‘Ummal (مُسْنَدُ أَحْمَدَ 1 ص 230 ، الاِسْتِيْعَابُ 2 ص 460 ، الإِمْتَاعُ لِلْمَقْرِيْزِيِّ ص 340 ، كَنْزُ العُمَّالِ 6 ص 391).

[42] Jami’ at-Tirmidzi (جامع الترمذي), mengenai doa-doa (أبواب الدعوات), doa bila menaiki kendaraan (باب ما يقول إذا ركب دابة), nomor 3521. Hadits Sunan Abu Daud No. 2235.

[43] Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ad-durrul Mantsur karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi di pembahasan Surah al-Maa-idah ayat 64, لَوْلاَ يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُواْ يَصْنَعُونَ “Mengapa orang-orang arif-akan-Tuhan dan para ulama tidak melarang mereka dari ucapan dosa dan dari memakan makanan mereka yang haram? Sungguh amat jahatlah apa yang telah mereka kerjakan.” Tafsir al-Wasith (التفسير الوسيط) karya Muhammad Sayyid Thanthawi (محمد سيد طنطاوي). Tercantum juga dalam Al-Kanzul Kabir (الكنز الأكبر من الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر) karya (عبد الرحمن بن أبي بكر بن داود الحنبلي الدمشقي الصالحي (المتوفى: 856 هـ)) pasal mengenai menolak kemungkaran (فصل – 35 – : في إنكار المنكر أجر عظيم وفي عدم إنكاره الإثم الكبير), penerbit Darul Kutubil ‘ilmiyyah, Beirut-Lebanon (دار الكتب العلمية – بيروت), 1417 – 1996. Tercantum juga dalam ‘Ilalul Hadits karya Abu Muhammad Abdurrahman bin Muhammad Abi Hatim bin Idris bin Mundzir bin Dawud bin Mihran bin Al-Handhali Ar-Razi yang terkenal dengan nama Ibnu Abi Hatim: أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِرُكُوبِهِمُ الْمَعَاصِي ، وَلَمْ يَنْهَهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ ، فَلَمَّا تَمَادَوْا فِي الْمَعَاصِي وَلَمْ يَنْهَهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ أَنْزَلَ اللَّهُ بِهِمُ الْعُقُوبَاتِ ، فَمُرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ، قَبْلَ أَنْ يَنْزِلَ بِكُمْ مَا نَزَلَ بِهِمْ ، إِنَّ هَذَا الأَمْرَ يَتَنَزَّلُ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ كَقَطْرِ الْمَطَرِ إِلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا قَدَّرَ اللَّهُ لَهَا مِنْ زِيَادَةٍ ، أَوْ نُقْصَانٍ . Ibnu Abi Hatim lahir di Rayy pada tahun 240 H. yang bertepatan dengan tahun 854 M. dan wafat pada 327 H. Karya beliau yang lain ialah Bayan Khatha’ Muhamad ibnu Ismai’il Al-Bukhari fit Tarikh (kesalahan Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Sejarah), Kitabul Jarh wat Ta’dil, Ashlus Sunnah (asal-usul Sunnah), Kitab Fadla’ilu Ahlil Bait, Kitab Fawa’idul Kabir dan Kitab Ar-Raddu ‘alal Jahmiya (Tanggapan kepada kaum Jahmiyyah).

[44] Musnad Imam Ahmad bin Hanbal (مسند الإمام أحمد), Baqi Musnad al-Mukatstsirin (باقي مسند المكثرين), Musnad Jabir bin ‘Abdillah (مسند جابر بن عبد الله رضي الله تعالى عنه). Tercantum juga dalam karya Ibnu Bisyran dalam Al-Amali (أَمَالِي ابْنِ بِشْرَانَ) nomor 1341. Tercantum juga dalam Mausu’ah al-Imam ‘Ali bin Abi Thalib fil Kitab was Sunnah wat Taarikh (Ensiklopedia Imam ‘Ali dalam Kitab, Sunnah dan Sejarah) karya Muhammad Rayshahri (موسوعة الإمام علي بن أبي طالب (ع) في الكتاب والسنة والتاريخ – محمد الريشهري). Tercantum juga dalam Thuruq al-Hadits an-Nabi (Jalur transmisi penyebaran Hadits atau كتاب طرق حديث النبي حيث كان في الحائط للضياء المقدسي) karya al-Maqdisi atau nama lengkapnya iyāʼ al-Dīn Abu ʻAbdallah Muhammad ibn ʻAbd al-Wahid al-Saʻdi al-Maqdisi al-Hanbali (ضياء الدين أبو عبد الله محمد بن عبد الواحد المقدسي). Beliau lahir di Damaskus pada tahun 1173. Orang tuanya telah beremigrasi dari Nablus karena dikuasai Baldwin dari Kerajaan Tentara Salib Yerusalem. Beliau wafat pada 1245 M, 643 Hijriyyah.

[45] Sunanut-Tirmidhī, Kitābul-Manāqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), nomor 4166.

[46] Kitab asy-Syari’ah karya Imam al-Ajurri (الشريعة للآجري), bab (باب ذكر ما اعطى علي بن ابي طالب رضي الله عنه من العلم والحكمة وتوفيق الصواب في القضاء ودعا النبي صلى الله عليه وسلم له بالسداد والتوفيق); Tarikh Madinah Dimashq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج ٤٢ – الصفحة ٣٢٣); Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين نویسنده : الحاكم، أبو عبد الله جلد : 3 صفحه : 149) bab (مَسَارَّتُهُ- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ- عِنْدَ وَفَاةِ مَعَ عَلِيٍّ), nomor 4726; Ibnu Hajar al-Asqalani (الحافظ احمد بن علي بن حجر العسقلاني) dalam Mathalib al-‘Aliyah bi Zawaidi al-Masanid al-Tsamaniyah (المطالب العالية بزوائد المسانيد الثمانية), bab keutamaan ‘Ali (باب فضائل علي رضي الله عنه) nomor 3933. Mu’jamur Rijaal (معجم الرجال والحديث – محمد حياة الأنصاري – ج ١ – الصفحة ٢٨٧)

[47] Usdul Ghaabah karya Ibnu al-Atsir asy-Syafi’i, hadits 1103 (ابن الأثير الشافعي في أسد الغابة من معرفة الصحابة، ج4 / ص96 – 97); Fairuzabadi dalam Fadhailul Khamsah (الفيروزآبادي في فضائل الخمسة من الصحاح الستة، ج2 / ص237). Tarikh Madinah Dimashq (تاريخ مدينة دمشق – ابن عساكر – ج ٤٢ – الصفحة ٢٨٢). Minhajul Bara’ah fi Syarhi Nahjul Balāghah, Habibullah al-Hasyimi al Khui (1268-1324). Biharul Anwar (بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ٦٥ – الصفحة ١١٥)

[48] Sunanut-Tirmidhī, Kitābul-Manāqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), nomor 4123.

(Visited 326 times, 1 visits today)