Riwayat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (Seri-2)

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 103, Khulafa’ur Rasyidin Seri 09)

Baca juga:

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 29 Januari 2021 (Sulh 1400 Hijriyah Syamsiyah/16 Jumadil Akhir 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Saya akan menyampaikan tentang keikutsertaan Hadhrat ‘Utsman (ra) dalam berbagai perang. Sebagaimana telah disampaikan tentang perang Badr bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) tidak bisa ikut perang Badr karena istri beliau Hadhrat Ruqayyah binti Rasulullah (saw) sakit keras. Oleh sebab itu, Rasulullah (saw) memerintahkan beliau tinggal di Madinah untuk merawatnya dan menetapkan beliau seperti orang-orang yang ikut perang badar. Oleh sebab itulah Rasulullah (saw) menetapkan beliau (ra) mendapatkan bagian dalam harta ghanimah dan pahala layaknya orang-orang yang ikut perang Badr.

Ghazwah Ghathfan terjadi pada bulan Muharam atau Shafar tahun ke-3 Hijrah. Ketika Rasulullah (saw) berangkat menuju daerah Najd untuk ghazwah (perang) Ghathfan, beliau (saw) menetapkan Hadhrat ‘Utsman (ra) sebagai Amir di Madinah. Maka dari itu, Hadhrat ‘Utsman juga tidak ikut dalam perang itu. berkaitan dengan perang itu Hadhrat Mirza Basyir Ahmad sahib (ra) menjelaskan, “Sebagian kabilah Banu Ghathfan yaitu orang-orang dari kabilah Banu tsa’labah dan Banu muharib atas usulan pergerakan dari Da’tsur bin Harits salah seorang ahli perang yang terkenal diantara mereka, mulai berkumpul di sebuah tempat di Najd yaitu di daerah Dzi Amr dengan niat menyerang Madinah secara tiba-tiba.[1] Namun karena Rasulullah (saw) selalu mencari kabar terbaru tentang pergerakan-pergerakan musuh-musuhnya sehingga beliau mengetahui niat buruk mereka tepat pada waktunya. Lalu beliau layaknya seorang Jendral yang selalu siaga berangkat bersama 450 sahabat dari Madinah pada akhir Muharram tahun ke-3 Hijriyyah atau awal bulan Safar tahun berikutnya, yaitu ke-4 Hijriyyah untuk menghadang (musuh) dan dengan cepat beliau (saw) sampai dekat daerah Dzi Amr.[2] Ketika musuh mengetahui kedatangan beliau (saw) maka mereka segera berhamburan lari menyelamatkan diri ke atas pegunungan sekitar situ sehingga ketika umat Muslim sampai di Dzi Amr di situ sudah kosong.

Namun seorang badwi dari Banu tsa’labah yang bernama Jabbaar ditangkap oleh lasykar Islam dan dia ditahan lalu dibawa kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) menanyakan padanya tentang situasi. Sehingga diketahui bahwa seluruh orang dari kaum Banu Tsa’labah dan Banu Muharib berlindung di atas pegunungan dan mereka tidak akan datang ke medan terbuka menghadapi lasykar Islam.[3] Terpaksa Rasulullah (saw) memerintahkan untuk kembali. Namun stidaknya ada faedah dari ghazwah itu bahwa ancaman yang saat itu datang dari Banu Ghathfan sementara ditangguhkan.”[4]

Perang Uhud terjadi pada bulan syawal tahun ke-3 hijiriyah. Hadhrat ‘Utsman ikut dalam perang Uhud. Dua perang sebelumnya beliau (ra) tidak ikut, namun dalam perang Uhud beliau ikut. Pada saat perang Uhud berlangsung, sekelompok sahabat kocar-kacir kesana-kemari ketika ada serangan mendadak dan mendengar kabar syahidnya Rasulullah (saw) sehingga saat itu hanya sekelompok kecil sahabat sejumlah 12 orang yang tersisa bersama Rasulullah (saw). Hadhrat ‘Utsman termasuk dalam kelompok orang yang sebelumnya disebut (kocar-kacir atau tercerai-berai).

Pada waktu umat Islam telah memperoleh kemenangan atas lasykar quresh dan mereka mulai mengumpulkan harta ghanimah maka 50 pemanah yang diperintahkan oleh Rasulullah (saw) untuk tidak meninggalkan posisinya, meninggalkan posisinya setelah melihat kemenangan mereka. Padahal Rasulullah (saw) melarang keras mereka untuk tidak meninggalkan posisinya. Khalid bin walid – yang saat itu belum masul Islam – melihat pemandangan ini melancarkan serangan pada umat Islam dari situ. Serangan itu begitu tiba-tiba, sporadis dan sedemikian rupa kerasnya sehingga umat Islam kocar-kacir. Nama Hadhrat ‘Utsman juga disebutkan termasuk dalam para sahabat yang kocar-kacir itu.

Berkenaan dengan mereka disebutkan dalam al-Quran Karim bahwa menimbang keadaan saat itu, derajat luhur keimanan dan keikhlasan mereka, Allah Taala memaafkan mereka sebagaimana firman-Nya, اِنَّ الَّذِيۡنَ تَوَلَّوۡا مِنۡكُمۡ يَوۡمَ الۡتَقَى الۡجَمۡعٰنِۙ اِنَّمَا اسۡتَزَلَّهُمُ الشَّيۡطٰنُ بِبَعۡضِ مَا كَسَبُوۡا ‌ۚ وَلَقَدۡ عَفَا اللّٰهُ عَنۡهُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوۡرٌ حَلِيۡمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari ketika dua pasukan saling berhadapan, sesungguhnya syaitanlah yang menggelincirkan mereka disebabkan sebagian perbuatan mereka, dan sesungguhnya Allah mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (Surah Ali Imran, 3: 156)[5]

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyin berkenaan dengan keadaan umat Muslim dalam perang itu, “Lasykar Quraisy mengepung umat Muslim hampir dari segala penjuru dan terus menekan dan mendesak dengan serangannya yang bertubi-tubi terhadap umat Muslim. Memang, meskipun umat Muslim tidak lama setelah itu masih dapat bertahan, namun seorang pasukan pemberani Quraisy bernama Abdullah bin Qami-ah [atau Qum-ah] dengan pedangnya menyerang pemegang bendera Muslim bernama Mush’ab bin Umair dengan menebas tangan kanannya. Mush’ab segera menahan bendera dengan tangan yang satu lagi lalu maju untuk menghadapi Ibnu Qami-ah, namun Ibnu Qami-ah menebas lagi tangan beliau yang kedua sampai putus. Setelah itu Mush’ab berusaha untuk mendekap bendera Islam dengan menggabungkan kedua tangan beliau yang telah terputus ke dadanya. Ibnu Qami-ah menyerang untuk yang ketiga kalinya sehingga menyebabkan syahidnya beliau dan terjatuh.[6]

Bendera langsung ditahan oleh pasukan Muslim lainnya, namun karena perawakan Mush’ab bin Umair mirip dengan Rasulullah (saw) sehingga Ibnu Qami-ah beranggapan telah berhasil membunuh Rasulullah (saw). Mungkin juga itu hanya sebagai kenakalan dan tipu muslihatnya saja. Bagaimanapun juga, ia berhasil mensyahidkan Mush’ab lalu ribut mengatakan, ‘Telah kubunuh Muhammad (saw).[7] Mendengar itu ketenangan pasukan Muslim pun menjadi hilang sehingga mereka sama sekali cerai-berai. Banyak para Sahabat yang mengundurkan diri dari medan perang.

Saat itu umat Islam terbagi dalam tiga kelompok. Satu kelompok adalah mereka yang kabur dari medan perang setelah mendengar kabar syahidnya Rasulullah (saw). Namun jumlah mereka paling sedikit. Dengan kata lain mereka bercerai berai karena putus asa.[8] Di kalangan mereka juga termasuk Hadhrat ‘Utsman Bin Affan.[9] Namun sebagaimana yang disebutkan dalam Quran karim, disebabkan keadaan khusus saat itu serta keimanan dan keikhlasan mereka, Allah Taala telah memaafkan mereka. (Surah Ali Imran, 3: 156)

Dari antara mereka ada yang sudah sampai di Madinah. Dengan begitu sampailah di sana kabar burung syahidnya Rasulullah (saw) dan kekalahan pasukan Islam yang mana menimbulkan kegelisahan mendalam di seluruh kota Madinah. Kemudian para pria, wanita, anak anak, orang tua dalam keadaan yang kalut keluar dari kota lalu pergi menuju bukit Uhud. Sebagian dari mereka pergi dengan tergesa-gesa lalu sampai di medan perang. Mereka menembus pasukan musuh dengan menyebut nama Allah.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang memang tidak melarikan diri, namun setelah mendengar kabar syahidnya Rasulullah (saw) mereka kehilangan ketetapan hati dan beranggapan sudah tidak ada gunanya lagi bertempur. Untuk itu mereka menyingkir ke suatu sisi lalu duduk sembari menundukkan kepala.

Sedangkan kelompok Muslim ketiga adalah mereka yang terus bertempur. Diantara mereka sebagiannya berkumpul di sekeliling Rasulullah (saw) sambil menampilkan keberanian untuk mengorbankan jiwa yang mana tidak ada bandingannya; dan kebanyakan dari antara mereka sedang bertempur melawan musuh secara menyebar satu demi satu. Seketika mereka dan kelompok kedua mengetahui kabar masih hidupnya Rasulullah (saw) lantas mereka bertempur layaknya orang yang tergila-gila dan mengelilingi Rasulullah (saw).”[10]

Keadaan peperangan pada saat itu seolah olah layaknya badai laut pasukan Quraisy menyerang dari ke empat penjuru sambil menghujani anak panah dan batu. Ketika melihat bahaya itu, para pejuang yang gagah berani mengitari Rasulullah (saw) dan menyembunyikan tubuh beberkat beliau di balik badan mereka, namun tetap saja ketika dihujani serangan, segelintir sahabat itu terdesak kesana-kemari sehingga dalam keadaan demikian Rasulullah (saw) terkadang tinggal sendiri. Dijelaskan juga bahwa Hadhrat ‘Utsman pergi dari sana karena mungkin merasa putus asa atau sangat bersedih disebabkan suatu alasan pada saat itu setelah mendengar kabar syahidnya Rasulullah (saw). Meskipun tidak meninggalkan medan perang, namun nama Hadhrat Umar pun disebutkan juga termasuk diantara orang-orang yang menghentikan bertempur dikarenakan kesedihan dan kehilangan harapan. Hal ini pada waktunya juga akan diuraikan rinciannya [di khotbah khusus tentang beliau ra].

Sekarang saya akan sampaikan perihal pengiriman duta pada kesempatan perjanjian Hudaibiyah dan Baiat Ridhwan. Apa saja sepak terjang Hadhrat ‘Utsman dan hal-hal mengenai beliau pada masa itu. Hadhrat Rasulullah (saw) melihat rukya dimana Rasulullah (saw) dan para sahabat dapat memasuki Baitullah dengan aman dan mencukur rambut. Berdasarkan rukya tersebut Hadhrat Rasulullah (saw) bersama dengan 1400 sahabat berangkat dari Madinah untuk melaksanakan umrah. Beliau memasang tenda di daerah Hudaibiyah. Bangsa Quraisy menahan Rasulullah (saw) untuk melaksanakan umrah. Ketika dimulai pengiriman perwakilan antara kedua belah pihak, dan ketika Rasulullah (saw) mengetahui amarah bangsa Quraisy, beliau mengutus seorang figur yang berpengaruh dari antara Muslim untuk berangkat ke Makkah. Yakni orang yang berlatar belakang dari Makkah dan berasal dari keturunan kabilah terhrmat Quraisy. Atas hal itu Hadhrat ‘Utsman diutus untuk tugas tersebut.

Saya akan sampaikan disini penjelasn Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra), beliau menulis,”Hadhrat Rasulullah (saw) melihat rukya (mimpi) dimana beliau bersama dengan para sahabat tengah bertawaf di Baitullah.[11] Pada saat itu dekat dengan bulan Dzul Qa’dah yang mana pada zaman jahiliyah termasuk diantara empat bulan yang dianggap penuh berkat. Di dalam bulan-bulan itu berbagai peperangan dilarang. Seolah-olah di satu sisi beliau (saw) melihat mimpi ini dan di sisi lain ini adalah masa di mana rangkaian peperangan di seluruh Arab berhenti dan terjadi perdamaian. Meskipun ini bukanlah hari haji dan sampai saat itu dalam Islam belum ditetapkan peraturan haji, namun melakukan tawaf di Ka’bah setiap saat bisa dilakukan.

Oleh karena itu setelah melihat mimpi ini beliau (saw) menyerukan kepada para sahabat untuk bersiap-siap melaksanakan umroh. Pada kesempatan itu beliau (saw) juga mengumumkan kepada para sahabat beliau (ra) bahwa dikarenakan dalam perjalanan ini tujuannya bukan untuk menghadapi suatu peperangan, melainkan tujuannya untuk melaksanakan suatu ibadah keagamaan yang penuh kedamaian, oleh karena itu orang-orang Islam pada perjalanan ini tidak membawa senjata, meskipun demikian sesuai dengan tradisi Arab mereka bisa memasukkan pedang-pedang mereka ke dalam sarung dan membawanya dengan cara selayaknya seorang musafir dan bersamaan dengan itu beliau (saw) menyerukan kepada orang-orang Badui di sekitar Madinah yang pada lahiriahnya bersama orang-orang Islam supaya mereka juga ikut serta bersama orang-orang Islam melaksanakan Umroh.

Namun, sayangnya orang-orang Badui yang merupakan Muslim yang hanya sekedar nama tersebut, yang tinggal di sekitar Madinah, menolak untuk pergi bersama Rasulullah (saw), karena mereka beranggapan bahwa meskipun niat orang-orang Islam tiada lain kecuali umroh, namun bagaimanapun juga orang-orang Quraisy akan mencegah orang-orang Islam dan dengan demikian akan timbul konfrontasi dan dikarenakan konfrontasi ini terjadi dekat dengan Makkah dan jauh dari Madinah sehingga orang-orang Islam tidak akan bisa kembali dengan selamat.[12] Oleh karena itu mereka merasa takut dan tidak ikut serta di dalamnya.

Alhasil, Hadhrat Rasulullah (saw) bersama rombongan para sahabat yang berjumlah kurang lebih 1400 orang berangkat dari Madinah pada senin pagi di bulan Dzuqa’dah, tahun 6 Hijriah. Dalam perjalanan ini istri beliau (saw), yang terhormat Hadhrat Ummu Salamah (ra) berkendara bersama beliau (saw). Numailah bin Abdullah ditetapkan oleh beliau (saw) menjadi Amir Madinah dan Abdullah bin Ummi Maktum yang penglihatannya rusak ditetapkan sebagai Imam Shalat.[13]

Ketika beliau (saw) sampai di Dzul Hulaifah yang terletak di jalan menuju Makkah berjarak kurang lebih 6 mil dari Madinah, beliau (saw) memerintahkan setiap orang dari rombongan untuk berhenti.[14] Setelah melaksanakan shalat Zhuhur beliau (saw) memerintahkan untuk menandai unta-unta kurban yang berjumlah 70 ekor dan mengintruksikan kepada para sahabat untuk mengenakan pakaian khusus untuk haji yang secara istilah disebut Ihram dan beliau (saw) sendiri pun mengenakan ihram.[15] Untuk mendapatkan informasi mengenai situasi orang-orang Quraisy karena dikhawatirkan mereka memiliki suatu niatan buruk maka beliau (saw) mengirim seorang pencari informasi yang bernama Busr bin Sufyan yang berasal dari Kabilah Khuza’ah dan tinggal di dekat Makkah. Beliau (saw) pun berangkat perlahan-lahan menuju Makkah.[16] Sebagai upaya kehati-hatian lebih lanjut beliau (saw) menetapkan suatu pasukan berkuda berjumlah 20 orang di bawah komando Abbad bin Bisyr supaya rombongan besar orang-orang Islam bisa terus maju.[17]

Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, beliau (saw) sampai di dekat ‘Usfan yang terletak kurang lebih dua hari persinggahan dari Makkah, diceritakan bahwa satu persinggahan berjarak 9 mil. Lalu pencari informasi beliau (saw) pulang dan menginformasikan ke hadapan beliau (saw) bahwa orang-orang Quraisy Makkah sangat marah dan bertekad kuat untuk menghentikan beliau (saw).[18] Beberapa di antara mereka untuk mengungkapkan kemarahan dan kebuasannya memakai kulit cheetah (harimau) dan bertekad untuk berperang serta berniat menghentikan orang-orang Islam dengan segala cara.

Diketahui juga bahwa orang-orang Quraisy mengirimkan satu unit pasukan berkuda pemberani mereka di bawah komando Khalid bin Walid yang pada waktu itu belum masuk Islam, dan pada waktu itu pasukan tersebut telah sampai di dekat orang-orang Islam dan dalam pasukan itu ikut serta juga Ikrimah bin Abu Jahl dan lain-lain.

Mendengar kabar ini, Hadhrat Rasulullah (saw) dengan tujuan untuk menghindari bentrokan memerintahkan kepada para sahabat untuk meninggalkan jalan yang telah dikenal menuju Makkah dan melaju dengan berbelok ke arah kanan. Karena itu, orang-orang Islam mulai melaju melalui jalan yang jelek dan sulit dilalui di dekat pantai.[19]

Ketika Nabi (saw) menyusuri rute jalan yang baru ini dan tiba di dekat Hudaibiyah yang dari Makkah berjarak satu persinggahan[20], yakni hanya berjarak 9 mil dan setelah celah Hudaibiyah mulai masuk lembah Makkah, unta beliau (saw) yang dikenal dengan nama Al-Qoshwa dan telah beliau (saw) gunakan dalam banyak Ghazwah (peperangan) tiba-tiba duduk dengan memanjangkan kakinya di atas tanah dan tidak mau diberdirikan. Para sahabat mengatakan bahwa mungkin ia sedang kelelahan. Namun, Hadhrat Rasululah (saw) bersabda, مَا خَلأَتِ الْقَصْوَاءُ، وَمَا ذَاكَ لَهَا بِخُلُقٍ، وَلَكِنْ حَبَسَهَا حَابِسُ الْفِيلِ ‘Tidak, ia tidak kelelahan, tidak juga menjadi kebiasaannya ia kelelahan dan terduduk dalam gaya seperti ini, melainkan yang sebenarnya terjadi adalah, Dzat Yang Maha Tinggi yang sebelumnya telah menghentikan gajah Ashhaabul Fiil, Dia jugalah yang sekarang telah menghentikan unta ini. وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يَسْأَلُونِي خُطَّةً يُعَظِّمُونَ فِيهَا حُرُمَاتِ اللَّهِ إِلاَّ أَعْطَيْتُهُمْ إِيَّاهَا Alhasil, demi Allah! Tuntutan orang-orang Quraisy terhadapku untuk menghormati Haram pun akan kuterima.’[21] Ini yang dikatakan beliau (saw).

Setelah itu beliau (saw) menyeru untanya untuk bangkit dan dengan kekuasaan Allah Ta’ala saat itu seketika ia bangun dan siap untuk berjalan. Kemudian beliau (saw) mengarahkannya ke sisi lain lembah Hudaibiyah dan berhenti di dekat satu mata air lalu turun dari unta dan atas perintah beliau (saw) di tempat itu para sahabat mendirikan kemah.[22]

Kemudian selanjutnya diriwayatkan mengenai bagaimana awal pembicaraan perjanjian damai dengan orang-orang Quraisy. Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) sampai dan berhenti di lembah Hudaibiyah, beliau (saw) berhenti di dekat mata air. Ketika para sahabat telah mendirikan kemah di tempat tersebut, seorang pemimpin kabilah Khuza’ah yang terkenal bernama Budail bin Warqa yang tinggal dekat dari sana bersama dengan beberapa orang kawannya datang untuk menemui Hadhrat Rasulullah (saw) dan ia mengatakan kepada beliau (saw) bahwa para pemimpin Makkah telah siap untuk berperang dan tidak akan pernah membiarkan beliau (saw) untuk masuk ke Makkah. Beliau (saw) bersabda, إِنَّا لَمْ نَجِئْ لِقِتَالِ أَحَدٍ، وَلَكِنَّا جِئْنَا مُعْتَمِرِينَ، وَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ نَهِكَتْهُمُ الْحَرْبُ، وَأَضَرَّتْ بِهِمْ، فَإِنْ شَاءُوا مَادَدْتُهُمْ مُدَّةً، وَيُخَلُّوا بَيْنِي وَبَيْنَ النَّاسِ، فَإِنْ أَظْهَرْ فَإِنْ شَاءُوا أَنْ يَدْخُلُوا فِيمَا دَخَلَ فِيهِ النَّاسُ فَعَلُوا، وَإِلاَّ فَقَدْ جَمُّوا، وَإِنْ هُمْ أَبَوْا فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لأُقَاتِلَنَّهُمْ عَلَى أَمْرِي هَذَا حَتَّى تَنْفَرِدَ سَالِفَتِي، وَلَيُنْفِذَنَّ اللَّهُ أَمْرَهُ ‘Kami tidak datang dengan tujuan untuk berperang, melainkan datang hanya dengan niat untuk umrah dan sayangnya meskipun api peperangan telah membakar orang-orang Quraisy dan menghancur-leburkan mereka, namun tetap saja orang-orang ini tidak jera dan saya pun siap untuk berkompromi dengan orang-orang ini supaya mereka menghentikan peperangan melawan saya dan membiarkan saya untuk orang-orang lain. Saya tidak akan berselisih dengan orang-orang Makkah. Saya tidak akan menjalin hubungan dengan mereka dan akan menyampaikan pesan Islam kepada yang lain. Namun, jika mereka pun menolak usulan saya ini dan bagaimanapun tetap menyalakan api peperangan, maka demi Dzat yang nyawa saya berada di tangan-Nya, saya tidak akan berpaling dari peperangan ini hingga jiwa saya berkorban di jalan ini atau Allah Ta’ala memberikan kemenangan. Jika saya mati melawan mereka, kisah ini selesai, namun jika Allah Ta’ala menganugerahkan kemenangan kepada saya dan agama saya meraih kemenangan maka tidak ada keraguan bagi orang-orang Makkah untuk beriman.’

Budail bin Warqa sangat terkesan dengan pidato yang penuh ketulusan dan keperihan ini dan ia mengatakan kepada beliau (saw), ‘Beri saya waktu, saya akan pergi ke Makkah untuk menyampaikan pesan Anda dan mengusahakan rekonsiliasi.’ Beliau (saw) memberikan izin dan Budail berangkat ke Makkah dengan membawa serta beberapa orang dari kabilahnya.[23]

Ketika Budail bin Warqa (بُدَيْلُ بْنُ وَرْقَاءَ) sampai di Makkah, ia mengumpulkan orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada mereka, ‘Saya datang setelah bertemu dengan Muhammad (saw) dan ia menyampaikan satu usulan di hadapan saya. Jika kalian mengizinkan, saya akan sampaikan.’

Atas hal ini, orang-orang yang temperamental dan tidak bisa dipercaya dari kalangan Quraisy mengatakan, ‘Kami tidak ingin mendengar perkataan orang itu.’

Namun orang-orang yang berpengaruh dan bisa dipercaya di kalangan Quraisy mengatakan, ‘Ya! Apapun usulan itu sampaikanlah kepada kami.’

Budail lalu mengulangi usulan yang disampaikan oleh Hadhrat Rasulullah (saw).

Atas hal tersebut seseorang yang bernama Urwah bin Mas’ud (عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ) yang merupakan seorang pemimpin yang sangat berpengaruh dari Kabilah Tsaqif dan saat itu sedang berada di Makkah berdiri dan dengan gaya orang Quraisy zaman dahulu mengatakan, ‘Wahai manusia! Bukankah aku seperti ayah bagi kalian?’

Mereka menjawab, ‘Ya!’

Kemudian ia mengatakan, ‘Bukankah kalian seperti layaknya anak-anakku?’

Mereka menjawab, ‘Ya!’

Kemudian Urwah mengatakan, ‘Apakah kalian memiliki semacam ketidakpercayaan terhadapku?’

Orang-orang Quraisy mengatakan, ‘Sama sekali tidak.’

Atas hal ini ia mengatakan, ‘Kalau begitu, ini pendapatku, orang ini yakni Muhammad (saw) mengemukakan satu hal yang sangat indah kepada Anda sekalian. Hendaknya Anda menerima usulannya dan izinkanlah aku menemuinya dari pihak kalian dan berbincang lebih lanjut.’

Orang-orang Quraisy mengatakan, ‘Tentu saja. Pergilah dan berbincanglah dengannya.’[24]

Pada waktu itu ketika ia sampai di Majlis Hadhrat Rasulullah (saw), ia melihat suatu pemandangan yang menggugah jiwa. Urwah datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) dan mulai berbincang dengan beliau (saw). Beliau (saw) di hadapannya mengulangi lagi pidato yang sebelumnya beliau sampaikan di hadapan Budail bin Waraqa. Urwah secara prinsip sepakat dengan pendapat Hadhrat Rasulullah (saw), namun ingin menunaikan kewajiban sebagai duta Quraisy dan menjaga sebanyak mungkin persyaratan bagi pihak Quraisy. Setelah berbincang dengan beliau (saw), ia kembali kepada orang-orang Quraisy dan setelah sampai ia mengatakan kepada mereka, يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، إنِّي قَدْ جِئْتُ كِسْرَى فِي مُلْكِهِ، وَقَيْصَرَ فِي مُلْكِهِ. وَالنَّجَاشِيَّ فِي مُلْكِهِ. وَإِنِّي وَاَللَّهِ مَا رَأَيْتُ مَلِكًا فِي قَوْمٍ قَطُّ مِثْلَ مُحَمَّدٍ فِي أَصْحَابِهِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُ قَوْمًا لَا يُسْلِمُونَهُ لِشَيْءِ أَبَدًا، فَرَوْا رَأْيَكُمْ ‘Wahai manusia! Telah kulakukan banyak perjalanan di dunia. Aku hadir di singgasana para raja dan datang sebagai delegasi ke hadapan Qaisar, Kisra dan Najasyi, namun demi Tuhan! Penghormatan yang diberikan kepada Muhammad (saw) oleh para sahabatnya, tidak pernah kulihat di tempat lain.’ Kemudian ia menyampaikan seluruh kesaksian yang ia lihat dalam Majlis Hadhrat Rasulullah (saw) dan di akhir mengatakan, ‘Saya ingin memberikan saran bahwa usulan yang diberikan Muhammad (saw) adalah usulan yang adil. Hendaknya itu diterima.’[25]

Mendengar pembicaraan Urwah ini seorang pemimpin kabilah Bani Kinanah yang bernama Hulais bin ‘Alqamah mengatakan kepada orang-orang Quraisy, ‘Jika kalian suka, aku akan pergi kepada Muhammad (saw).’

Mereka berkata, ‘Ya tentu! Pergilah.’[26]

Orang itu lalu datang ke Hudaibiyah dan ketika Rasulullah (saw) melihatnya datang dari jauh, beliau (saw) bersabda kepada para sahabat, ‘Orang yang datang kepada kita ini berasal dari suatu kabilah yang menyukai pemandangan pengorbanan. Segera kumpulkan hewan kurban kalian dan bawa ke hadapannya supaya ia tahu dan menyadari untuk tujuan apa kita datang.’

Para sahabat lalu menggiring hewan kurban mereka dan berkumpul di hadapannya sambil mengumandangkan takbir. Ketika orang itu melihat pemandangan ini ia berkata, ‘Subhanallah! Subhanallah! Ini adalah rombongan haji. Mereka tidak boleh dihalangi dari bertawaf di Baitullah.’

Ia segera kembali kepada orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada orang-orang Quraisy, ‘Aku melihat bahwa orang-orang Islam memakaikan kalung kurban pada leher hewan-hewan mereka dan memberikan tanda pengorbanan padanya. Jadi, bagaimanapun juga tidaklah layak menghalangi mereka bertawaf di Ka’bah.’[27]

Di kalangan orang-orang Quraisy pada waktu itu timbul suatu keadaan perpecahan yang luar biasa dan orang-orang terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bersikeras untuk bagaimana pun caranya memulangkan orang-orang Islam dan bersiteguh pada pemikiran untuk berperang, namun kelompok kedua menganggap itu bertentangan dengan tradisi lama kepercayaan mereka dan merasa takut dan berharap adanya kompromi. Karena hal itu, keputusan masih tergantung.

Pada saat itu seorang tokoh Arab bernama Mikraz Bin Hafsh (مِكْرَزُ بْنُ حَفْصٍ) mengatakan kepada orang-orang Quraisy, ‘Izinkan saya pergi, saya akan tempuh cara untuk mencari keputusan.’

Quraisy berkata, ‘Silahkan kamu juga berusaha.’

Lalu ia datang ke hadapan Rasulullah (saw). Ketika Rasulullah (saw) melihatnya dari kejauhan, bersabda, ‘Semoga ALlah Ta’ala memberikan kebaikan, karena orang ini tidak baik.’

Mikraz menemui Rasulullah (saw) lalu berdialog. Namun ketika menyampaikan sesuatu, seorang tokoh terkenal Makkah bernama Suhail Bin Amru (سُهَيْلُ بْنُ عَمْرٍو) hadir ke hadapan Rasulullah (saw) yang tampaknya diutus oleh Quraisy dalam kekhawatiran yang dalam tanpa menunggu kedatangan Mikraz. Ketika Rasulullah (saw) melihat Suhail datang bersabda, لَقَدْ سَهُلَ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ ‘Suhail (artinya mudah) datang. Jika Tuhan menghendaki, perkara akan dimudahkan.’[28]

Terjadilah perbincangan dan pada saat itu terjadi juga suatu peristiwa yakni ketika saling bergiliran datang para duta dari pihak Quraisy sehingga Rasulullah (saw) pun merasa perlu untuk diutus seorang yang bijak dari pihak Muslim kepada mereka yang dengan penuh simpati dan cerdas dapat memberikan pemahaman kepada bangsa Quraisy mengenai pandangan pihak Muslim. Rasulullah (saw) memilih seseorang yang bernama Khirasy Bin Umayyah (خِرَاشُ بْنُ أُمَيَّةَ) dari kabilah Khuza’ah untuk tugas tersebut. Artinya, ia berasal dari kabilah yang sama dengan duta pertama dari pihak Quraisy bernama Budail bin Warqa. Pada saat itu Rasulullah (saw) memberikan unta beliau sendiri untuk ditunggangi oleh Khirasy. Lalu Khirasy berangkat menemui bangsa Quraisy, namun karena saat itu merupakan tahap awal dari perbincangan dan para pemuda Quraisy sedang diliputi amarah, seorang pemuda garang bernama Ikrimah bin Abu Jahl menyerang untanya Khirasy dan melukainya yang mana berdasarkan tradisi Arab itu maksudnya adalah, ‘Kami akan menghentikan paksa gerak-gerik kalian.’ Selain itu, kelompok Quraisy yang garang juga ingin menyerang Khirasy, namun para senior menengahinya dan menyelamatkan nyawa Khirasy. Kemudian Khirasy kembali ke perkemahan pihak Muslim.[29]

Quraisy Makkah tidak hanya mencukupkan sampai di sana bahkan mereka telah membabi buta dengan berencana untuk menyerang Rasulullah (saw) dan para sahabat yang telah begitu dekat dari Makkah dan jauh dari Madinah lalu sebisa mungkin untuk menimpakan kerugian kepada pihak Muslim.[30] Kemudian untuk tujuan tersebut mereka memberangkatkan sekelompok orang yang berjumlah 40 sampai 50 orang ke hudaibiyah, mereka diperintahkan untuk bersiaga sambil mengitari perkemahan Muslim yang mana saat itu kedua belah pihak tengah melakukan dialog dan ketika mendapatkan kesempatan timpakanlah kerugian kepada pihak Muslim bahkan dalam beberapa riwayat sampai diketahui bahwa mereka berjumlah 80 orang. Pada saat itu juga mereka berencana untuk membunuh Rasulullah (saw).[31] Namun dengan karunia Allah Ta’ala umat Muslim tetap waspada di tempatnya masing masing. Akhirnya terungkaplah rahasia rencana jahat Quraisy ini. Mereka berhasil ditangkap. Melihat sikap Quraisy pada bulan Haram dan juga tempat yang diharamkan untuk melakukan hal demikian, pihak Muslim sangat marah. Namun Rasulullah (saw) memaafkan mereka dan tidak membiarkan hal itu menjadi hambatan bagi dialog perdamaian.[32]

Al-Quran pun menyebutkan perbuatan penduduk Makkah tersebut dalam Al Quran, sebagaimana difirmankan, وَهُوَ الَّذِي كَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ عَنْهُم بِبَطْنِ مَكَّةَ مِن بَعْدِ أَنْ أَظْفَرَكُمْ عَلَيْهِمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا  ‘Dan Dialah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.’ Al-Fatḥ (48:25)”[33]

Alhasil, jika kita melihat kesabaran Rasulullah (saw) yang berkesinambungan, ketabahan dan upaya beliau dalam menegakkan kedamaian dalam segenap keadaan dan latar belakang ini yang telah sampai pada puncaknya, maka akan tampak kepada kita suatu kesabaran dan upaya menegakkan kedamaian yang tidak akan dapat ditemukan tandinganya, beliau terus berusaha untuk tercipta keadaan damai.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin,“Ketika Rasulullah (saw) mengetahui itikad buruk kaum Quraisy dan bersamaan dengan itu juga mendengar dari Khirasy bin Umayyah berkenaan dengan keadaan warga Makkah yang diliputi api amarah. Maka dari itu, untuk mendinginkan kaum Quraisy dan untuk tujuan mengajak mereka pada jalan yang benar, Rasulullah (saw) berencana untuk mengutus seorang figur yang berpengaruh ke Makkah , yang berlatar belakang dari antara penduduk Makkah juga dan berasal dari kabilah Quraisy yang terpandang.”[34] Yakni setelah itu pun beliau tetap tidak melepaskan upaya bahkan beliau mengambil resiko untuk mengirimkan seseorang lagi.

“Oleh karena itu, Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Umar Bin Khaththab, ‘Akan lebih baik jika Anda yang berangkat ke Makkah untuk mengemban tugas sebagai duta dari pihak Muslim.’

Hadhrat Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Tuan mengetahui bahwa orang Makkah sangat memusuhi saya dan saat ini tidak ada orang dari antara kabilah saya yang berpengaruh di Makkah yang dapat digunakan untuk menekan penduduk Makkah. Untuk itu saya mengusulkan untuk memudahkan jalan untuk menuju keberhasilan, untuk pengkhidmatan ini hendaknya ‘Utsman Bin Affan lah yang dipilih, karena kabilahnya yakni Banu Umayyah saat ini sangat berpengaruh, sehingga orang Makkah tidak akan berani untuk berbuat jahat kepada ‘Utsman dan peluang untuk meraih keberhasilan lebih besar jika beliau yang diutus.’

Hadhrat Rasulullah (saw) menyukai usulan tersebut dan bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman untuk berangkat ke Makkah untuk menyampaikan niatan umat Muslim untuk menegakkan kedamaian dan rencana umrah kepada orang Quraisy.[35] Hadhrat Rasulullah (saw) pun mengirimkan surat melalui Hadhrat ‘Utsman untuk disampaikan kepada pemuka Makkah. Dalam surat tersebut Rasulullah (saw) menjelaskan tujuan pengutusan beliau dan meyakinkan bangsa Quraisy, ‘Niatan kami hanya semata mata untuk beribadah. Setelah melakukan umrah dengan damai kami akan kembali pulang ke Madinah.’

Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman, ‘Upayakanlah untuk menemui orang Islam yang lemah di Makkah, semangati mereka dan sampaikan untuk bersabar karena tidak lama lagi ALlah Ta’ala akan membuka pintu kesuksesan.’[36]

Lalu Hadhrat ‘Utsman berangkat ke Makkah dengan membawa surat tersebut. Hadhrat ‘Utsman menemui Abu Sufyan yang merupakan pemimpin tertinggi pada zaman itu dan juga kerabat dekat Hadhrat ‘Utsman. Hadhrat ‘Utsman menyampaikannya juga di hadapan satu perkumpulan orang-orang Makkah. Pada kesempatan itu Hadhrat ‘Utsman menyampaikan memperlihatkan surat dari Rasulullah (saw). Satu per satu para tokoh Makkah membaca surat tersebut, namun meskipun demikian mereka semua tetap bersikeras dalam pendiriannya yakni umat Islam bagaimanapun tidak bisa memasuki Makkah tahun ini.[37]

Atas tekanan dari Hadhrat ‘Utsman, mereka mengatakan, ‘Jika kamu betul-betul ingin umrah, kami secara pribadi mengizinkan kamu saja untuk melakukan tawaf di Baitullah, namun tidak lebih dari itu.’

Hadhrat ‘Utsman berkata, ‘Bagaimana mungkin saya bertawaf sementara Rasulullah (saw) tertahan diluar Makkah?’

Namun Quraisy tetap tidak mau menuruti. Pada akhirnya, Hadhrat ‘Utsman merasa putus asa lalu mulai bersiap-siap untuk pulang. Pada saat itu orang-orang jahat di Makkah memiliki niatan jahat yakni mereka berfikir dengan cara ini mereka akan mendapatkan syarat syarat yang lebih bermanfaat dalam upaya damai ini. Untuk itu mereka menahan Hadhrat ‘Utsman dan kawan kawannya di Makkah. Atas hal itu menyebarlah kabar burung dikalangan umat Islam bahwa penduduk Makkah telah membunuh Hadhrat ‘Utsman.[38]

Ketika kabar tersebut diketahui Rasulullah (saw), beliau sangat marah dan sangat terpukul. Sehingga beliau mengambil Baiat Ridhwan di sana sebagaimana tertulis.

Ketika kabar tersebut sampai di Madinah menimbulkan kemarahan besar di kalangan umat Islam, karena Hadhrat ‘Utsman saat itu adalah menantu Rasulullah (saw) dan termasuk diantara sahabat terhormat yang pergi ke Makkah sebagai duta Islam. Itu terjadi pada bulan Haram dan Makkah sendiri merupakan tempat yang diharamkan untuk melakukan perbuatan demikian. Segera Rasulullah (saw) mengumumkan kepada segenap umat Muslim lalu mengumpulkan mereka di bawah pohon Ara (akasia).

Setelah sahabat berkumpul, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Jika memang kabar ini benar, maka demi Tuhan kita tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum mengambil balas atas kematian ‘Utsman.’ Rasul bersabda kepada para sahabat, ‘Marilah, letakkan tangan kalian diatas tanganku lalu berbaiatlah sesuai car acara Islami bahwa diantara kalian tidak akan ada yang mundur dan walau bagaimanapun tidak akan meninggalkan tempat kalian.’

Setelah mendengar pengumuman tersebut, sahabat bergegas untuk baiat sehingga saling mendahului satu sama lain.[39] Kemudian 1400 atau 1500 sahabat yang merupakan jumlah total umat Islam dan harta kekayaan Islam, satu per satu seakan akan menjual diri kepada junjungannya untuk yang kedua kalinya.[40]

Ketika mengambil janji baiat, Rasulullah (saw) meletakkan tangan kiri beliau sendiri diatas tangan kanan beliau sendiri lalu bersabda, ‘Ini adalah tangan ‘Utsman, karena jika ia di sini, ia tidak akan pernah berpaling untuk prosesi baiat yang suci ini.[41] Namun saat ini ia (‘Utsman) tengah sibuk mengerjakan tugas dari Allah dan rasulNya.’[42]

Demikianlah pemandangan yang layaknya kilat yang terang-benderang itu akhirnya selesai.

Dalam sejarah Islam, baiat tersebut dikenal dengan baiat Ridhwan yakni baiat yang didalamnya umat Muslim meraih nikmat keridhaan sempurna dari Allah ta’ala. Al Quran juga menyebutkan secara khusus baiat tersebut sebagaimana difirmankan: لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ‘Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).’ (Surah al-Fath, 48:19)

Para sahabat pun senantiasa menceritakan baiat tersebut dengan penuh rasa bangga dan rasa cinta. Mereka selalu menceritakannya kepada generasi berikutnya dengan mengatakan, ‘Kalian menganggap Fatah Makkah sebagai kemenangan, padahal kami menganggap peristiwa baiat Ridhwan lah yang merupakan kemenangan.’[43]

Memang tidak diragukan lagi bahwa baiat ini dengan segala keadaannya merupakan kemenangan agung. Tidak hanya membuka pintu kemenangan di masa yang akan datang bahkan dengan peristiwa menjual diri yang merupakan titik pusat Islam yakni agama Muhammad telah muncul dalam corak yang sangat agung. Dengan amalannya, para pejuang Islam itu telah memberitahukan bahwa untuk membuktikan kebenaran yang dibawa oleh Rasul itu dalam setiap medan, mereka selalu bersedia untuk menjual kematian dan kehidupannya dalam setiap Langkah. Karena itu, ketika menceritakan Baiat Ridhwan para sahabat selalu mengatakan, ‘Baiat tersebut merupakan baiat perjanjian maut. Yakni baiat untuk berjanji bahwa setiap Muslim bersedia untuk mengorbankan jiwanya demi Islam dan demi tegaknya kehormatan Islam, dan tidak akan mundur.’[44]

Sisi yang khas dari baiat ini adalah tekad tersebut bukanlah pernyataan di mulut yang sifatnya sementara yang biasa diperlihatkan dalam keadaan menggebu-gebu untuk sesaat, melainkan merupakan suara kedalaman kalbu yang dibelakangnya segenap kekuatan umat Muslim berkumpul pada satu titik markas.

Ketika Quraisy mengetahui kabar baiat ini, mereka ketakutan sehingga tidak hanya membebaskan Hadhrat ‘Utsman dan kawan-kawannya, bahkan memerintahkan para utusannya untuk bagaimanapun melakukan perjanjian dengan pihak Muslim.[45]

Namun syaratnya adalah bukan tahun ini, umat Islam silahkan melakukan umrah tahun depan, sementara untuk kali ini, silahkan umat Islam segera pulang ke Madinah.[46]

Di satu sisi, sejak awal Hadhrat Rasulullah (saw) telah bertekad, ‘Pada kesempatan ini saya tidak akan mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan kesucian bulan haram dan Baitullah. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memberikan kabar suka bahwa menempuh jalan damai dengan Quraisy kali ini akan memberikan kesuksesan di masa yang akan datang.’ Dengan kata lain, dari sisi kedua belah pihak, suasana saat itu merupakan peluang yang sangat baik untuk terciptanya perdamaian.

Pada kesempatan itu Suhail Bin Amru datang ke hadapan Rasulullah (saw). Ketika melihatnya, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Sekarang permasalahannya tampak semakin mudah.’

Dimulailah dialog perdamaian.

Ketika Suhail tampil di hadapan Rasulullah (saw), Rasulullah (saw) bersabda seperti yang dijelaskan sebelumnya, ‘Suhail telah datang, sekarang jika Tuhan menghendaki, urusannya akan dipermudah.’

Suhail berkata kepada Rasulullah (saw), ‘Mari, sekarang tidak perlu berdialog panjang-panjang lagi, kami sudah siap untuk melakukan perjanjian.’

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Kami pun sudah siap.’ Seiring dengan itu Hadhrat Rasulullah (saw) memanggil juru tulis beliau, Hadhrat Ali.”[47]

“Beberapa syarat perjanjian tersebut diantaranya ialah: Tahun ini, Hadhrat Rasulullah (saw) dan para pengikutnya akan Kembali pulang dan dapat melakukan umrah di Makkah tahun depan juga tidak diperkenankan untuk membawa senjata selain pedang yang berada didalam sarungnya. Rasulullah (saw) dan umat Islam tidak diperkenankan tinggal di Makkah lebih dari tiga hari.[48]

Jika ada pria dari antara penduduk Makkah pergi ke Madinah, sekalipun orang itu Muslim maka ia tidak boleh diberikan perlindungan di medinah dan harus dipulangkan ke Makkah ,.[49]

Dalam Riwayat lain dikatakan, jika ada penduduk Makkah yang datang ke Madinah tanpa izin dari walinya, maka ia harus dikembalikan ke Makkah. [50]

Dipersilakan bagi kabilah Arab mana saja yang ingin menjadi pendukung (sekutu) umat Muslim atau menjadi pendukung (sekutu) penduduk Makkah itu sendiri.[51]

Perjanjian ini akan berlangsung selama 10 tahun. Pada masa tersebut tidak akan terjadi perang antara Quraisy dan Muslim.[52]

Akan dibuat dua salinan teks perjanjian lalu para tokoh terhormat dari antara dua belah pihak membubuhkan tanda tangan sebagai saksi.[53] Yang bertanda tangan dari pihak Muslim diantaranya adalah Hadhrat Abu Bakar, Hadhrat Umar, Hadhrat ‘Utsman yang saat itu telah dilepaskan oleh kuffar dan kembali dari Makkah. Kemudian Abdurrahman Bin Auf, Saad Bin Abi Waqas dan Abu Ubaidah.[54]

Setelah menyelesaikan perjanjian, Suhail bin Amru membawa satu Salinan teks perjanjian lalu Kembali ke Makkah. Sementara satu salinan lagi dipegang oleh Rasulullah (saw).”[55]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peristiwa tersebut dalam untaian kalimat beliau. Beliau bersabda, “Sebagian penduduk sekitar, menekan orang-orang Makkah dengan menyampaikan bahwa umat Muslim hanya beriradah untuk tawaf, kenapa kalian melarangnya? Namun orang-orang Makkah tetap keras kepala. Lalu orang-orang kabilah sekitar Makkah berkata, ‘Sikap kalian ini mengindikasikan bahwa yang kalian memiliki niatan jahat, bukannya jalan damai. Untuk itu kami tidak bersedia untuk membantu kalian.’”

Ini adalah point baru yang disampaikan oleh Hadhrat Muslih Mauud bahwa ada tekanan dari penduduk kabilah sekitar Makkah sehingga hal itu membuat Quraisy Makkah khawatir dan memperlihatkan kesediannya untuk mengadakan dialog dengan pihak Muslim.

“Ketika informasi tersebut sampai kepada Rasulullah (saw), beliau mengutus Hadhrat ‘Utsman yang di kemudian hari menjadi khalifah ketiga, untuk berdialog dengan penduduk Makkah. Sebagaimana Hadhrat ‘Utsman memiliki kerabat yang banyak di Makkah sehingga sesampainya di sana, beliau dikerumuni oleh kaum kerabat. Mereka berkata kepada Hadhrat ‘Utsman, ‘Silahkan jika Anda ingin bertawaf, namun biarkan Muhammad Rasulullah (saw) tawafnya tahun depan.’

Hadhrat ‘Utsman berkata, ‘Saya tidak bisa bertawaf tanpa junjungan saya.’

Karena para tokoh Makkah telah berdialog panjang lebar dengan Hadhrat ‘Utsman, sebagian orang Makkah berniat jahat dengan menyebarkan kabar palsu bahwa Hadhrat ‘Utsman telah mereka bunuh. Akhirnya kabar tersebut sampai kepada Rasulullah (saw). Kemudian Rasulullah (saw) mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Nyawa seorang duta adalah dilindungi dalam setiap kaum. Sebagaimana telah kalian dengar bahwa ‘Utsman telah dibunuh oleh orang Makkah. Jika memang kabar ini benar adanya, maka kita akan memasuki Makkah dengan segenap kekuatan.’ Artinya, ‘Rencana kita pada awalnya adalah untuk memasuki Makkah dengan jalan damai. Namun karena keadaannya berubah, sehingga kita tidak terikat lagi dengan tujuan awal. Bagi mereka yang mau berjanji untuk bersedia menghadapi dua pilihan jika terpaksa harus bergerak memasuki Makkah, yakni, pilihan pertama adalah pulang dengan membawa kemenangan atau terbunuh satu persatu di medan perang, jika bersedia untuk itu, silahkan berbaiat kepada saya.’

Ketika beliau (saw) mengumumkan itu,1500 peziarah yang menyertai Rasulullah (saw) seketika berubah menjadi 1500 lasykar pasukan. Mereka tergila gila saling berlomba satu sama lain, berusaha untuk mendahului kawannya berbaiat di tangan Rasulullah (saw).

Baiat tersebut memiliki keutamaan yang sangat besar dalam sejarah Islam. Peritiwa itu disebut dengan perjanjian di bawah pohon. Karena Rasulullah (saw) mengambil baiat tersebut dibawah sebatang pohon. Selama orang terakhir dalam baiat tersebut masih hidup di dunia ini, ia selalu menceritakan kejadian itu dengan bangganya kepada orang-orang karena diantara 1500 orang itu tidak ada satu orang pun yang takut untuk berjanji bahwa jika memang musuh membunuh duta Islam maka pada hari ini diantara dua pilihan, pasti kami akan menghadapi salah satunya yakni kalau tidak meninggalkan Makkah setelah berhasil menaklukannya, kami akan terbunuh di medan perang sebelum sore tiba.

Namun belum saja prosesi baiat itu selesai, Hadhrat ‘Utsman kembali dari Makkah. Hadhrat ‘Utsman mengabarkan bahwa penduduk Makkah tidak akan mengizinkan kita umrah tahun ini, namun mereka bersedia untuk mengizinkan umrah tahun depan. Sebagaimana demi itu penduduk Makkah menetapkan perwakilan untuk mengadakan perjanjian dengan pihak Muslim. Tidak lama setelah tibanya Hadhrat ‘Utsman, seorang tokoh Makkah bernama Suhail datang menemui Rasulullah (saw) untuk menempuh perjanjian dan perjanjian tersebut tertulis.”

Kisah ini masih bersambung, insya Allah akan saya lanjutkan nanti.

Hari ini pun saya ingin menarik perhatian pada doa. Panjatkanlah doa secara khusus untuk keadaan di Pakistan. Para Ahmadi tidak merasakan keamanan bahkan di dalam empat penjuru rumah mereka. Kemana pun para Maulwi memerintahkan untuk pergi, polisi menurutinya. Ada beberapa polisi yang baik mengatakan, “Kami menaruh rasa simpati terhadap para Ahmadi, namun apalah daya, kami ditekan sedemikian rupa, sehingga kami terpaksa melakukan apa yang diperintahkan oleh atasan kami.”

Semoga Allah Ta’ala melepaskan kita dan juga negeri dari para pejabat seperti itu dan semoga memberikan taufik kepada para Ahmadi untuk dapat hidup di negerinya dengan bebas dan aman. Doakanlah terus secara khusus, jika doa ini terus kita panjatkan, insya Allah kita segera akan menyaksikan akhir kehidupan dari para penentang yang akan memberikan banyak pelajaran. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk memanjatkan doa sebanyak-banyaknya dan Allah Ta’ala mengabulkannya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim dan Mln. Saefullah M.A. (Indonesia) dan. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 266, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Ghaṭafān, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[2] Perihal jumlah pasukan Muslim terdapat dalam Kitab Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 266, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Ghaṭafān, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996). Perihal tanggal kejadian tercantum dalam dua versi dalam As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 513, Ghazwatu Dhī Amrin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001) dan dalam Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 266, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Ghaṭafān, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[3] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 513, Ghazwatu Dzī Amrin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); * Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 266, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Ghaṭafān, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[4] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III), Ghazwah of Dhi ‘Amr – Muḥarram 3 A.H. or Ṣafar 4 A.H.

[5] Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah.

[6] Sharhul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusthalānī, Volume 2, p. 414, Ghazwatu Uhud, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[7] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 529, Maqtalu Mush‘ab ubnu ‘Umair, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[8] Sharhul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusthalānī, Volume 2, p. 415, Ghazwatu Uhud, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[9] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Qaulillāhi Ta‘ālā Innalladhīna Tawallau Minkum, Ḥadīth No. 4066.

[10] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III). rujukan tercantum dalam Sharhul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusthalānī, Volume 2, p. 416, Ghazwatu Uhud, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[11] Surah Al-Fatḥ (48:28). Penjelasan tercantum juga dalam Kitab Tafsir Jāmi‘ul-Bayāni ‘An Ta’wīli Āyatil-Qur’ān (Tafsīruṭ-Ṭabari), By Imām Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 2, p. 123, Commentary of Sūrah Al-Fatḥ, Verse No. 27, Dāru Iḥyā’it Turāthil-‘Arabī, Beirut (2001); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 170, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 2, p. 16, Ghazwatul-Ḥudaibiyyah, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut.

[12] Al-Fatḥ (48:28); * Tafsīrul-Qur’ānil-‘Aẓīm (Tafsīru Ibni Kathīr), By ‘Imāduddīn Abul-Fidā’ Ismā‘īl bin ‘Umar Ibni Kathīr, Volume 6, p. 312, Tafsīru Sūratil-Fatḥ, Under verses 11-12, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (1998); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 681, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[13] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 297, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al-Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 681, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Wa Dhikri Bai‘atir-Riḍwāni…, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 123/133, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 170/172, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[14] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 173, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Mu‘jamul-Buldān, By Shihābuddīn Abī ‘Abdillāh Yāqūtubnu ‘Abdillāh, Volume 2, p. 177, Under Al-Ḥulaifātu/Al-Hulaifatu, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon.

[15] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 297, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[16] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, pp. 681-682, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Wa Dhikri Bai‘atir-Riḍwāni…, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[17] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 297, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Tārīkhul-Khamīs Fī Aḥwāli Anfasi Nafīs, By Ḥusain bin Muḥammad bin Ḥasan, Volume 2, p. 16, Ghazwatul-Ḥudaibiyyah, Mu’assasatu Sha‘bān, Beirut.

[18] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ghazwatil-Ḥudaibiyyah, Ḥadīth No. 4178-4179; As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, pp. 681-682, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Wa Dhikri Bai‘atir-Riḍwāni…, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[19] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, pp. 681-682, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Wa Dhikri Bai‘atir-Riḍwāni, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 124-125, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[20] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 297, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[21] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ).

[22] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ).

[23] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ).

[24] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ).

[25] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam. Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ).

[26] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 684, Amrul-Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Quraishun Tab‘athul-Ḥulais-abna ‘Alqamah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, pp. 297-298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al-Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[27] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 2529 – Kitab Syarat-syarat (كتاب الشروط), bab Syarat-syarat dalam jihad dan perdamaian dengan kafir harbi (باب الشُّرُوطِ فِي الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ). tercantum juga dalam karya Shalih asy-Syami berjudul Subuulul Huda (الصالحي الشامي، سُبُل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد 5: 46، تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود وعلي محمد عوض، دار الكتب العلميّة، ط1، بيروت، 1414هـ ـ 1993م).

[28] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, pp. 195-197, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996). Kata Suhail diambil dari kata bahasa Arab Sahl yang bermakna, ‘mudah’.

[29] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 685, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Khirāsh-ubnu Umaiyyata Rasūlu Rasūlillāhi Ilā Quraish, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 222, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996). tercantum juga dalam karya Shalih asy-Syami berjudul Subuulul Huda (الصالحي الشامي، سُبُل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد 5: 46، تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود وعلي محمد عوض، دار الكتب العلميّة، ط1، بيروت، 1414هـ ـ 1993م); Al-Waqidi dalam al-Maghazi; Tafsir al-Mazhhari (التفسير المظهري 1-7 ج6) karya Muhammad Tsanaullah al-‘Utsmani al-Mazhhari (محمد ثناء الله العثماني المظهري); Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق 1-37 ج21) karya Ibnu Asakir (أبي القاسم علي بن الحسن/ابن عساكر الدمشقي‎); Imta’ul Asma (إمتاع الأسماع – ج 1); Jami’ul Atsar Fis Siyar wa Maulidil Mukhtar (جامع الآثار في السير ومولد المختار – الجزء الثامن) karya Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi (ابن ناصر الدين الدمشقي); al-Kamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ), (ودخلت سنة ست من الهجرة), (ذكر عمرة الحديبية).

[30] Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 129, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 685, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Quraishun Tursilul-‘Uyūna Listiṭlā‘i Akhbārin-Nabi, Dārul Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[31] Tafsīrul-Qur’ānil-‘Aẓīm (Tafsīru Ibni Kathīr), By ‘Imāduddīn Abul-Fidā’ Ismā‘īl bin ‘Umar Ibni Kathīr, Volume 7, p. 317, Tafsīru Sūratil-Fatḥ, Under verses 20-24, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon (1998)

[32] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 685, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Khirāsh-ubnu Umaiyyata Rasūlu Rasūlillāhi Ilā Quraish, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 129, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 223, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[33] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III), Treaty of Ḥudaibiyyah & its Magnificent Outcomes.

[34] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III), Treaty of Ḥudaibiyyah & its Magnificent Outcomes, Ḥaḍrat ‘Uthmān (ra) as an Ambassador of the Muslims.

[35] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 685, Amrul-Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Rasūlullāhisa Yab‘athu ‘Uthmān-abna ‘Affāna Ilā Makkata, Dārul-Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[36] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 222, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[37] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 222, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[38] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 685, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Rasūlullāhisa Yab‘athu ‘Uthmān-abna ‘Affāna Ilā Makkata, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[39] baiat ini tidak terjadi sekaligus tapi dalam tiga antrian rombongan. Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 130, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002).

[40] Tidak termasuk baiat dari rombongan tersebut ialah seorang bernama Jadd bin Qais, seorang yang dikenal Munafik. As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 686, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Man Takhallafa ‘Anil-Bai‘at, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Usdul-Ghābah Fī Ma‘rifatiṣ-Ṣaḥābah, By ‘Izzuddīn Ibnul-Athīr Abul-Ḥasan ‘Alī bin Muḥammad, Volume 1, pp. 373-374, Jadd-ubnu Qaisin, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon (2003); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 130, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 299, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al-Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[41] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Faḍā’ili Aṣḥābin-Nabiyyisa, Bābu Manāqibi ‘Uthmān-abna ‘Affāna, Ḥadīth No. 3698.

[42] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[43] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ghazwatil-Hudaibiyyah, Ḥadīth No. 4172.

[44] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ghazwatil-Hudaibiyyah, Ḥadīth No. 4169.

[45] Sharḥul ‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, pp. 225-226, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[46] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 686, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Amrul-Hudnah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 131, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002).

[47] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III), Treaty of Ḥudaibiyyah & its Magnificent Outcomes.

[48] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu ‘Umratil-Qaḍā’i, Ḥadīth No. 4251-4252; Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Jizyati Wal-Muwāḍa‘ah, Ḥadīth No. 3184; Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābuṣ-Ṣulḥ, Bābuṣ-Ṣulḥi Ma‘al-Mushrikin, Ḥadīth No. 2700; Ṣaḥīḥu Muslim, Kitābul-Jihādi Was-Siyar, Bābu Ṣulḥil-Ḥudaibiyyah, Ḥadīth No. 4631.

[49] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābuṣ-Ṣulḥ, Bābuṣ-Ṣulḥi Ma‘al-Mushrikin, Ḥadīth No. 2700; Ṣaḥīḥu Muslim, Kitābul-Jihādi Was-Siyar, Bābu Ṣulḥil-Ḥudaibiyyah, Ḥadīth No. 4632; Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 300, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[50] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 687, Amrul-Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/‘Aliyyun Yaktubu Shurūtaṣ-Ṣulḥi, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[51] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 687, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/‘Aliyyun Yaktubu Shurūtaṣ-Ṣulḥi, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 131, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[52] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Jihād, Bābu Fī Ṣulḥil-‘Aduwwi, Ḥadīth No. 2766; As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 687, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/‘Aliyyun Yaktubu Shurūtaṣ-Ṣulḥi, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[53] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 198, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[54] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām atau as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية (ابن هشام)), p. 688, Amrul Ḥudaibiyyati Fī Ākhiri Sanati Sittin/Man Shahidū ‘Alaṣ-Ṣulḥi, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); (أمر الحديبية في آخر سنة ست وذكر بيعة الرضوان والصلح بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وبين سهيل بن عمرو), (من شهدوا على الصلح): فَلَمّا فَرَغَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكِتَابِ أَشْهَدَ عَلَى الصّلْحِ رِجَالًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَرِجَالًا مِنْ الْمُشْرِكِينَ أَبُو بَكْرٍ الصّدّيقُ، وَعُمَرَ بْنَ الْخَطّابِ، وَعَبْدَ الرّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، وَعَبْدَ اللهِ بْنَ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو، وَسَعْدَ بْنَ أَبِي وَقّاصٍ، وَمَحْمُودَ بْنَ مَسْلَمَةَ، وَمِكْرَزَ بْنَ حَفْصٍ، وَهُوَ يَوْمَئِذٍ مُشْرِكٌ وَعَلِيّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَكَتَبَ وَكَانَ هُوَ كَاتِبَ الصّحِيفَةِ. . Setelah teks perdamaian ditulis, perdamaian tersebut disaksikan sejumlah orang dari kaum Muslimin dan kaum musyrikin. Para saksi tersebut adalah Abu Bakr, Umar bin Khaththab, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Suhail bin Amru, Sa’ad bin Abu Waqqash, Mahmud (Muhammad) bin Maslamah, Mikraz bin Hafsh yang masih musyrik ketika itu, dan Ali bin Abi Thalib yang menulis teks perdamaian tersebut.” Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al-Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996). Hadhrat ‘Umar (ra) kendati mengeluhkan isi perjanjian, juga ikut menandatangani.

[55] Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume III), Treaty of Ḥudaibiyyah & its Magnificent Outcomes, Conditions of the Treaty. Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 298, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Al-Ḥudaibiyyata, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 132, Dhikrul-Aḥdāthillati Kānat Fī Sanati Sittim-Minal-Hijrah/Dhikrul-Khabari ‘An ‘Umratin-Nabiyyisa Allati Ṣaddahul-Mushrikūna Fīhā ‘Anil-Bait, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 198, Amrul-Ḥudaibiyyah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

(Visited 35 times, 1 visits today)