Hadhrat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyAllahu ta’ala ‘anhu

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 104, Khulafa’ur Rasyidin Seri 10)

Baca juga:

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Februari 2021 (Sulh 1400 Hijriyah Syamsiyah/23 Jumadil Akhir 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Masih mengenai Hadhrat Utsman ra, yaitu tentang peperangan-peperangan yang beliau ikuti. Ada satu peperangan yang bernama perang Dzatur Riqa’. Nabi yang mulia (saw) berangkat bersama empat ratus sahabat – atau menurut satu riwayat lain sebanyak tujuh ratus sahabat – menuju Banu Tsa’labah dan Banu Muharib yang berasal dari Kabilah ‘Ghatfan di Najd. Beliau (saw) mengangkat Hadhrat Utsman sebagai Amir di Madinah, atau menurut satu riwayat lain beliau (saw) mengangkat Hadhrat Abu Dzar Gifari sebagai Amir.[1]

Hadhrat Rasulullah (saw) sampai di Nejd di suatu tempat bernama Nakhl, yang kemudian disebut dengan nama Dzatur Riqa’. Di sana telah bersiap satu laskar besar untuk memerangi Hadhrat Rasulullah (saw). Kedua laskar telah saling berhadapan, namun peperangan tidak terjadi dan orang-orang satu sama lain menjadi terselimuti dengan kecemasan. Di waktu peperangan inilah untuk pertama kalinya umat Islam melaksanakan shalat khauf.[2]

Mengenai sebab dibalik nama peperangan ini, terdapat juga satu keterangan bahwa peperangan ini dinamakan Dzatur Riqa’ karena di dalamnya para Sahabat telah membalut [luka kakinya] dengan sobekan kain-kain mereka. Dikatakan juga bahwa di tempat itu ada satu pohon atau bukit yang bernama Dzatur Riqa’.[3]

Pada satu riwayat di dalam Bukhari dijelaskan sebagaimana berikut, عَنْ أَبِي مُوسَى ـ رضى الله عنه ـ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي غَزَاةٍ وَنَحْنُ سِتَّةُ نَفَرٍ بَيْنَنَا بَعِيرٌ نَعْتَقِبُهُ، فَنَقِبَتْ أَقْدَامُنَا وَنَقِبَتْ قَدَمَاىَ وَسَقَطَتْ أَظْفَارِي، وَكُنَّا نَلُفُّ عَلَى أَرْجُلِنَا الْخِرَقَ، فَسُمِّيَتْ غَزْوَةَ ذَاتِ الرِّقَاعِ، لِمَا كُنَّا نَعْصِبُ مِنَ الْخِرَقِ عَلَى أَرْجُلِنَا Hadhrat Abu Musa Asy’ari menjelaskan, “Kami secara keluar bersama Nabi (saw) di suatu peperangan. Dari antara kami enam orang saat itu bersama-sama secara bergiliran menunggangi seekor onta.” (Maksudnya, tiap enam orang menungganggi seekor unta dalam perjalanan perang itu.) “Kaki-kaki kami terluka dan kedua kaki saya pun terluka dan kuku-kuku saya terkelupas sehingga kami membalut kaki-kaki kami itu dengan potongan-potongan kain. Maka dari itu, peperangan ini dinamakan Dzatur Riqa’ yang artinya perang dengan mengikatkan potongan-potongan kain karena saat itu kami membalut kaki-kaki kami dengan potongan-potongan kain.”[4]

Ada satu catatan yang akan saya jelaskan – ini pun merupakan bagian dari bahasan tersebutnya – yaitu mengenai kapan waktu terjadinya perang tersebut. Buku-buku rujukan sejarah menyebutkan Peperangan Dzatur Riqa’ terjadi pada tahun keempat Hijirah. Namun, Imam al-Bukhari telah menyatakan bahwa peperangan ini terjadi setelah peperangan Khaibar dikarenakan Hadhrat Abu Musa Asy’ari pun ikut dalam peperangan ini dan beliau memeluk Islam setelah peperangan Khaibar sehingga tahun ketujuh Hijriah sebagai waktu terjadinya peperangan ini adalah dianggap lebih tepat.[5]

Dalam beberapa riwayat tentang peristiwa Fatah Mekkah pun, mengenai peristiwa yang terjadi pada tahun kedelapan Hijriah tersebut, berikut terdapat satu riwayat rinci di dalam Sunan An-Nasai yang di dalamnya tertera penjelasan rinci tentang orang-orang dalam peristiwa Fatah Mekkah, yang tentang terbunuhnya mereka, ada satu perintah yang saat itu datang dari Nabi yang mulia (saw). Hadhrat Mush’ab bin Sa’d meriwayatkan dari ayahnya, “Di Makkah pada hari terjadi Fath Makkah, Rasulullah (saw) telah memberikan perlindungan kepada seluruh kaum kafir selain kepada empat laki-laki dan dua orang perempuan. Beliau (saw) bersabda, ’Bunuhlah keempat orang itu meskipun kalian mendapatkan mereka bersimpuh pada kain-kain ka’bah!’  Mereka itu adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Abdullah bin Khathal, Miqyas bin Shubabah, dan Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh. Tatkala Abdullah bin Khatal tertangkap, saat itu ia tengah memegang kain Ka’bah. Hadhrat Sa’id bin Khurais dan Hadhrat Ammar bin Yasir, keduanya mendekatinya dan Hadhrat Sa’id pun membunuhnya. Miqyas ditangkap di pasar dan ia pun dibunuh.

Ikrimah lari ke arah laut, saat itu taufan di lautan pun menyerang para pelaut sehingga para pelaut pun berkata kepadanya, “Hendaknya kalian berlaku ikhlas dan penuh kebenaran; karena di sini, sembahan kalian sedikit pun tidak akan memberikan manfaat kepada kalian”. Mendengar ini Ikrimah pun mengatakan, ‘Demi Tuhan, seandainya di lautan ada sesuatu yang dapat menyelamatkanku maka itu hanyalah keikhlasan dan kebenaran dan di daratan pun hanya keikhlasan dan kebenaranlah yang dapat menyelamatkanku. Wahai Allah, aku secara sungguh-sungguh bersumpah kepada Engkau, seandainya Engkau melindungiku dari taufan ini, aku pasti akan datang kepada Muhammad (saw) dan akan kuletakkan tanganku diatas tangan beliau, dan pastilah aku akan mendapati beliau sebagai seorang yang pemaaf dan berbelas kasih.’ Maka ia pun pulang dan memeluk Islam.”[6]

Berkenaan dengan ini, riwayat yang lebih masyhur adalah bahwa sebelum ia naik ke kapal, istrinya datang untuk meyakinkan dirinya sehingga istrinya pun dapat membawanya pulang. Riwayat ini pun akan saya sampaikan nanti. Jadi, riwayat ini [yang baru dibacakan] adalah satu riwayat dari Sunan An-Nasai.

Berkenaan dengan Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, ia sembunyi di tempat Hadhrat Utsman bin Affan. Kemudian tatkala Rasulullah (saw) menyerukan kepada semua untuk berbaiat, maka Hadhrat ‘Utsman membawanya ke hadapan Nabi (saw) dan berkata, يَا نَبِيَّ اللَّهِ بَايِعْ عَبْدَ اللَّهِ “Wahai Rasulullah, terimalah baiat Abdullah!”

Beliau (saw) memandang ke arahnya hingga tiga kali dan menolaknya. Namun pada akhirnya beliau menerima baiatnya. Kemudian beliau (saw) pun bersabda, “Tidak adakah dari antara kalian seorang berakal pun yang membunuh orang ini, yang mana saya mengurungkan diri untuk menerima baiatnya?”

Kemudian mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, bagaimana kami dapat mengetahui apakah yang ada di dalam hati Anda? Mengapa Anda tidak memberikan isyarat kepada kami melalui pandangan mata Anda?”

Mendengar ini beliau (saw) bersabda, “Tidaklah diperkenankan bagi seorang Nabi bahwa ia berkhianat melalui pandangan matanya.” Riwayat ini tertera di dalam Sunan Abu Dawud.[7]

Memang di dalam Sunan Abu Dawud tertera juga satu riwayat lain, namun di dalam keterangan-keterangan akhir riwayat tersebut tidak tertera perihal pembunuhan terhadapnya. Di dalam riwayat tersebut dijelaskan, “Hadhrat Ibnu Abbas menjelaskan, ‘Abdullah bin Sa’d bin Abu Sarh dahulu merupakan sosok penulis wahyu Rasulullah (saw), di mana setan telah memperdayanya dan ia pun beralih kepada kaum kafir. Di hari peristiwa Fatah Mekkah, Rasulullah (saw) memerintahkan untuk membunuhnya. Hadhrat ‘Utsman bin ‘Affan memohonkan perlindungan untuknya, di mana Rasulullah (saw)pun memberikan perlindungan kepadanya.’”[8]

Mengenai kenapa Hadhrat (saw)tidak membunuhnya padahal beliau (saw) telah memerintahkan untuk membunuhnya, terkait hal ini pun perlu dijelaskan bahwa di dalam riwayat ini, sabda Hadhrat (saw)kepada para sahabat – bahwa tatkala aku telah urung untuk menerima baiatnya, maka mengapa kalian tidak membunuhnya – adalah patut untuk dipertimbangkan; karena, seandainya Nabi yang mulia (saw)memang benar tidak ingin menerima baiatnya dan beliau (saw) lebih cenderung untuk tetap dalam keputusan membunuhnya, maka saat itu beliau (saw) dapat saja memerintahkan untuk langsung membunuhnya. Beliau (saw) adalah sosok fatih [pemenang atau penakluk] dan beliau adalah kepala pemerintahan saat itu. Keputusan beliau untuk membunuhnya pun telah didasarkan atas keadilan sehingga dapat disimpulkan bahwa di dalam riwayat tersebut telah terkandung juga pendapat atau pandangan dari seseorang diantara perawinya.

Lebih dari itu, riwayat tersebut tidak tertera di dalam Bukhari dan Muslim; dan di dalam Abu Dawud, terdapat satu riwayat terkait hal ini yang diriwayatkan oleh Hadhrat Ibnu ‘Abbas yang mana saya telah menyampaikannya dan di dalamnya sama sekali tidak disebutkan tentang perintah membunuhnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) seraya menafsirkan surah Al-Muminun ayat 15, beliau menjelaskan peristiwa ini sebagai berikut: “Bersama ayat ini terdapat pula satu peristiwa bersejarah yang erat dengannya, di mana sangatlah penting untuk menjelaskannya di sini. Salah seorang juru tulis wahyu yang turun Rasul yang mulia (saw)yang bernama Abdullah bin Abi Sarh. Ketika wahyu turun kepada RasuluLlah (saw), beliau (saw) memanggilnya lalu memerintahkannya untuk menulis wahyu tersebut. Suatu hari RasuluLlah (saw) tengah menuliskan ayat-ayat ini kepadanya [mendiktekan atau menyuruh menuliskan surat Al-Mukminun ayat 14 dan 15].[9]

Ketika beliau (saw) menyebutkan sampai pada kalimat ayat, ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ  ‘…tsumma ansya’naahu khalqan aakhar’, secara spontan (serta-merta) keluar kalimat dari mulut penulis wahyu itu yang berbunyi, فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ fatabaarakallaahu ahsanal khaaliqiin.

RasuluLlah (saw) pun bersabda, كذا أنزلت عليَّ فاكتبها ‘Betul seperti itulah bunyi wahyu selanjutnya. Tulislah itu.’[10]

Lantas tidak terpikir oleh orang yang tidak beruntung itu bahwa ayat yang ia baca pada kenyataannya adalah urutan yang alami berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Ia lalu beranggapan, ‘Sebagaimana ayat yang telah keluar dari mulut saya dan Rasul pun menyatakan kalimat yang saya ucapkan itu sebagai wahyu, seperti itu jugalah RasuluLlah (saw) mengada-adakan keseluruhan Al-Qur’an.’ Na’uzubillah. Ia lalu murtad dan melarikan diri [dari Madinah] ke Makkah.

Pada saat Fath Makkah, Abdullah bin Abi Sarh termasuk salah seorang diantara orang-orang yang mana Rasul yang mulia (saw) telah perintahkan untuk dibunuh, namun Hadhrat Utsman (ra) (ra) memberikan perlindungan padanya. Ia sembunyi di rumah Hadhrat Utsman (ra) selama 3 sampai 4 hari.

Di suatu hari tatkala Rasul yang mulia (saw)tengah menerima baiat orang-orang Mekkah, Hadhrat Utsman (ra) membawanya ke hadapan beliau (saw) dan memohon kepada beliau untuk berkenan menerima baiatnya kembali. Rasul yang mulia (saw) pada awalnya tetap diam hingga beberapa waktu, namun kemudian beliau (saw) menerima baiatnya sehingga dengan demikian ia pun telah kembali memeluk Islam.”[11]

Sesuai riwayat yang telah di jelaskan di dalam Sunan An-Nasai mengenai penjelasan peristiwa Ikrimah bin Abu Jahal tatkala menerima Islam, tertera rincian-rincian yang sedikit berbeda di dalam buku-buku rujukan sejarah tentang peristiwa ia memeluk Islam – sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya, – bahwa Ikrimah bin Abu Jahal adalah seseorang diantara orang-orang yang mana Nabi yang mulia (saw)pada kesempatan Fath Makkah telah memerintahkan untuk membunuhnya. Dahulu Ikrimah dan ayahnya telah senantiasa menimpakan kehinaan dan penganiayaan terhadap Nabi yang mulia (saw), dan dahulu ia telah sangat banyak berlaku aniaya kepada orang-orang Islam. Tatkala ia mengetahui bahwa Rasulullah (saw)telah memerintahkan untuk mengalirkan darahnya, maka ia pun berlari ke arah Yaman dan istrinya pun mengejarnya, sampai ia menerima Islam. Istrinya mendapati Ikrimah di pinggir lautan. Tatkala ia berkeinginan untuk menaiki perahu – menurut penuturan yang lain, istrinya mendapatinya tatkala ia telah menaiki perahu – maka ia berkata kepada Ikrimah untuk menahannya, يَا ابْنَ عَمِّي ، جِئْتُكَ مِنْ عِنْدِ أَوْصَلِ النَّاسِ وَأَبَرِّ النَّاسِ وَأَخْيَرِ النَّاسِ ، فَلَا تُهْلِكْ نَفْسَكَ ، وَقَدِ اسْتَأْمَنْتُ لَكَ مِنْهُ فَأَمَّنَكَ “Wahai putra pamanku (sepupuku), aku datang kepada engkau setelah menghadap seorang insan yang paling unggul dari semua orang dalam menghubungkan persaudaraan, yang paling baik dari antara semua orang dan yang paling setia dari antara semua orang; oleh karena itu, janganlah engkau memasukkan diri engkau ke dalam kebinasaan karena aku telah memohon perlindungan untuk engkau kepada beliau (saw).” Atas hal demikian maka ia pun kembali bersama istrinya.[12]

Ia pun menerima Islam dan kehidupannya dalam Islam adalah sangat baik.[13]

Di dalam riwayat tertera bahwa tatkala Ikrimah hadir di hadapan Rasulullah (saw), maka ia bertanya, “Wahai Muhammad (saw), istri saya memberitahukan kepada saya bahwa engkau telah memberikan perlindungan kepada saya.”

Beliau (saw) bersabda, “Engkau telah mengatakan hal yang benar. Sungguh engkau berada dalam perlindungan.”

Mendengar ini Ikrimah berkata, “Saya bersumpah bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah. Dia adalah Esa dan tidak ada sekutu-Nya. Dan engkau adalah hamba-Nya dan utusan-Nya”, kemudian dengan malu ia menundukkan kepalanya ke bawah.[14]

Melihat ini Rasulullah (saw) bersabda kepadanya, “Wahai Ikrimah, apapun yang engkau minta dariku, apabila aku memiliki kesanggupan, maka aku akan memberikannya kepadamu”,

Ikrimah berkata, استغفر لي كل عداوة عاديتكها “Aku memohon doa kepada engkau demi ampunan dari setiap permusuhan ini, yang telah aku lakukan sebelumnya kepada engkau”.

Atas hal ini, Hadhrat Rasulullah (saw)memanjatkan doa, اللَّهُمُ اغْفِرْ لِعِكْرِمَةَ كُلَّ عَدَاوَةٍ عَادَانِيهَا ، أو منطق تكلم به “Ya Allah, anugrahkanlah ampunan terhadap setiap permusuhan yang telah dilakukan Ikrimah kepadaku dahulu, atau, ampunilah setiap perbuatan buruk yang telah ia lakukan.”

Kemudian Rasulullah (saw)seraya penuh kebahagiaan berdiri dan menyelimutkan kain selendang beliau (saw) kepadanya dan bersabda, مرحبا بمن جاء مؤمنا مهاجرا “Selamat datang saya sampaikan kepada seorang yang telah datang kepada kami dalam keadaan menerima iman dan dalam keadaan melakukan hijrah!” Maka selanjutnya Ikrimah pun termasuk diantara sahabat-sahabat beliau (saw) yang berderajat mulia. [15]

Dengan peristiwa berimannya Ikrimah ini, telah terpenuhi pulalah nubuatan yang dahulu Hadhrat Rasulullah (saw)telah nyatakan kepada para sahabat beliau di mana saat itu beliau (saw) telah melihat di dalam mimpi bahwa beliau tengah berada di dalam surga. Saat itu beliau melihat setangkai buah anggur yang mana beliau sangat menyukainya. Beliau bertanya, “Untuk siapakah ini?”

Dikatakan, “Untuk Abu Jahl.”

Hal ini membuat beliau merasa sangat muram. Beliau tidak menyukainya dan beliau merasa pilu serta bersabda, “Surga selain diperuntukkan bagi orang yang beriman, tidak ada yang lain yang akan masuk, sehingga bagaimana bisa ini teruntuk Abu Jahl?”

Kemudian tatkala Ikrimah bin Abu Jahl menerima Islam, beliau (saw) sangat senang atas hal ini, dan beliau pun menjelaskan ta’bir mimpi tersebut sebagai Ikrimah.[16]

Peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun kesembilan Hijriah; tentang peperangan ini – yang disebut juga dengan Jaisyul ‘Usrah (جیش العسرۃ) yakni laskar yang penuh kesulitan – disebutkan bahwa karunia yang didapat oleh Hadhrat ‘Utsman dalam hal pengorbanan harta untuk mempersiapkan peperangan ini adalah sebagai berikut: Mengenai bagaimana Hadhrat Utsman (ra) mendapatkan taufik untuk memberikan pengkhidmatan harta (ra) untuk persiapan perang ini, mengenai hal ini terdapat riwayat sebagai berikut: Perang Tabuk disebut juga Jaisyul ‘Usrah, yakni laskar yang mengalami kesulitan. Hadhrat Rasulullah (saw) menyerukan untuk persiapan perang ini, maka Hadhrat Utsman (ra) mempersembahkan kafilah yang mulanya disiapkan untuk tujuan perdagangan ke Syam yang terdiri dari seratus unta bersama dengan bawaan dan pelananya. Hadhrat Rasulullah (saw) kemudian memberikan seruan lagi, maka dengan meninjau keperluan-keperluan perang ini, Hadhrat Utsman (ra) kebali menyiapkan seratus unta beserta dengan sadel dan pelananya. Beliau (saw) kemudian menyeru lagi, maka Hadhrat Utsman (ra) kembali menyiapkan seratus unta beserta sadel dan pelananya dan mempersembahkannya ke hadapan beliau (saw). Ketika turun dari mimbar Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذِهِ مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذِهِ “Setelah ini, apa pun yang dilakukan oleh Utsman (ra) tidak akan dituntut. Setelah ini, apa pun yang dilakukan oleh Utsman (ra) tidak akan dituntut.”[17] Selain itu Hadhrat Utsman (ra) mempersembahkan 200 uqiyah emas kepada yang mulia Nabi (saw).

Dalam satu riwayat lainnya dikatakan bahwa Hadhrat Utsman (ra) datang dan memasukkan 1000 dinar ke dalam kantung Hadhrat Rasulullah (saw). Kemudian Hadhrat Rasulullah (saw) membolak balikkan uang-uang dinar yang ada dalam kantung tersebut dan beliau (saw) bersabda sebanyak dua kali, مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ، مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ “Setelah hari ini apa pun yang dilakukan Utsman tidak akan memudharatkannya.”[18]

Berdasarkan satu riwayat Hadhrat Utsman (ra) pada kesempatan itu memberikan 10.000 Dinar, maka Hadhrat Rasulullah (saw) berdoa sebagai berikut untuk Hadhrat Utsman (ra), غَفَرَ اللَّهُ لَكَ يَا عُثْمَانُ مَا أَسْرَرْتَ وَمَا أَعْلَنْتَ وَمَا أَخْفَيْتَ، وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، مَا يُبَالِي عُثْمَانُ مَا فَعَلَ بَعْدَ هَذَا Artinya, “Wahai Utsman! Semoga Allah Ta’ala mengampuni bagi engkau yang engkau lakukan secara tersembunyi dan terbuka dan yang akan datang hingga hari kiamat. Setelah ini apa pun yang dilakukan tidak perlu merisaukannya.”[19]

Berdasarkan satu riwayat beliau (ra) memberikan 1000 unta dan 70 kuda untuk persiapan perang ini. Berdasarkan satu riwayat Hadhrat Rasulullah (saw) pada kesempatan tersebut bersabda kepada Hadhrat Utsman (ra), “Wahai Utsman! Allah Ta’ala telah mengampuni bagi engkau semua yang engkau lakukan secara tersembunyi dan terbuka dan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Setelah amalan ini apa pun yang engkau lakukan Allah Ta’ala tidak akan merisaukannya.”

Berdasarkan satu riwayat Hadhrat Rasulullah (saw) pada kesempatan tersebut mendoakan Hadhrat Utsman (ra) sebagai berikut, اللَّهمّ ارْضَ عَنْ عُثْمَانَ، فَإِنِّي عَنْهُ رَاض yang artinya, “Ya Allah! Semoga Engkau ridha kepada Utsman karena hamba ridha kepadanya.”[20]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Terkadang para sahabat menjual harta di rumahnya untuk mencukupi biaya perang, bahkan nampak juga bahwa mereka menjual harta mereka lalu membelanjakannya untuk orang lain dan menyediakan segala keperluan untuk mereka. Suatu kali Rasulullah (saw) pergi keluar dan bersabda, ‘Pasukan kita akan menempuh suatu perjalanan, namun orang-orang mukmin tidak memiliki apa-apa, apakah di antara kalian ada yang ingin meraih pahala?’

Mendengar ini Hadhrat Utsman (ra) langsung bangkit dan mengeluarkan uangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah (saw) untuk biaya keperluan orang-orang Islam. Ketika melihat ini Rasulullah (saw) bersabda, ‘Utsman (ra) telah membeli surga.’

Suatu kali sebuah sumur dijual kepada orang-orang Islam. Dikarenakan pada waktu itu sangat sulit untuk mendapatkan air, oleh karena itu Hadhrat Rasulullah (saw) pada waktu itu bersabda, ‘Apakah ada yang ingin mendapatkan pahala?’

Hadhrat Utsman (ra) mengatakan, ‘Ya Rasulullah! Saya hadir.’

Lalu beliau membeli sumur tersebut dan mewaqafkannya untuk orang-orang Islam. Rasulullah (saw) kemudian bersabda, ‘Utsman (ra) telah membeli surga.’ Demikian juga dalam satu kesempatan lainnya Rasulullah (saw) mengucapkan kalimat ini mengenai Hadhrat Utsman (ra).

Singkatnya, terdapat tiga kesempatan di mana yang mulia Rasulullah (saw) bersabda berkenaan dengan Hadhrat Utsman (ra) bahwa beliau (ra) telah membeli surga.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Rasulullah (saw) berulangkali bersabda mengenai Hadhrat Utsman (ra) bahwa beliau (ra) telah membeli surga dan beliau (ra) adalah ahli surga dan suatu kali pada kesempatan Perjanjian Hudaibiyah, ketika Rasulullah (saw) mengambil baiat yang kedua kalinya dari orang-orang Islam dan Hadhrat Utsman (ra) waktu itu sedang tidak ada, maka beliau (saw) meletakkan satu tangannya di atas tangan yang lain dan bersabda, ‘Ini adalah tangan Utsman (ra). Saya meletakkan tangan saya atas nama Utsman.’” Demikianlah beliau (saw) menetapkan tangan Hadhrat Utsman (ra) sebagai tangan beliau (saw) sendiri.

Kemudian, suatu kali beliau (saw) bersabda, “Wahai Utsman! Allah Ta’ala akan memakaikan satu baju kepada engkau. Orang-orang munafik ingin melepaskan baju engkau, namun janganlah engkau melepaskan baju itu.”[21]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Sekarang, Muhammad Rasul Allah (saw) bersabda kepada Hadhrat Utsman (ra), ‘Janganlah engkau menanggalkan baju itu dan orang yang meminta engkau untuk menanggalkan baju tersebut adalah orang munafik.’ Maka jelaslah dari hal ini bahwa siapa pun itu, mereka adalah orang munafik karena Hadhrat Rasulullah (saw) sebelumnya telah menyampaikan nubuatan mengenai mereka.”

Menjelaskan mengenai pengorbanan Hadhrat Utsman (ra), di satu tempat Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits (rh) bersabda, “Waktu itu muncul keperluan untuk peperangan. Yang Mulia Nabi (saw) menyampaikan keperluan itu ke hadapan para sahabat dan menasihatkan kepada mereka mengenai memberikan pengorbanan harta. Hasilnya ialah, Hadhrat Abu Bakr (ra) membawa seluruh hartanya. Hadhrat Umar (ra) membawa setengah dari hartanya. Hadhrat Utsman (ra) berkata, ‘Terimalah pemberian saya ini, saya akan menanggung seluruh biaya sepuluh ribu sahabat dan selain itu beliau (ra) memberikan 1000 unta dan 70 kuda.’”

Apa kiprah Hadhrat Utsman (ra) di masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan seperti apa maqom dan kedudukan beliau (ra)? Maqom seperti apa yang diberikan Hadhrat Abu Bakr kepada beliau (ra)? Seperti apa Hadhrat Abu Bakr (ra) menganggap Hadhrat Utsman (ra)?

Pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Utsman (ra) termasuk salah seorang dari para sahabat anggota syura yang dimintai pendapat dalam berbagai urusan yang penting. Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) menghadapi fitnah kemurtadan dan telah mengatasinya, maka beliau (ra) berniat untuk menyerang Romawi dan memberangkatkan para mujahidin ke berbagai penjuru, dan beliau (ra) meminta saran dari orang-orang berkenaan dengan hal ini. Beberapa sahabat memberikan masukannya.

Atas hal itu Hadhrat Abu Bakr terus meminta masukan, yang kemudian Hadhrat Utsman (ra) mengatakan, “Anda adalah orang yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi para penganut agama ini, jadi ketika anda menganggap suatu gagasan bermanfaat bagi khalayak umum, maka kuatkanlah tekad untuk melaksanakan itu, karena tidak mungkin bisa berprasangka buruk terhadap diri anda.” Maksudnya, beliau (ra) mengatakan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) bahwa tidak mungkin bisa berprasangka buruk mengenai terhadap diri beliau (ra).

Mendengar ini, Hadhrat Thalhah (ra), Hadhrat Zubair (ra), Hadhrat Sa’ad (ra), Hadhrat Abu Ubaidah (ra), Hadhrat Sa’id bin Zaid (ra) beserta para muhajirin dan anshor lainnya yang hadir di majlis tersebut mengatakan, “Hadhrat Utsman (ra) telah berkata benar. Laksanakanlah apa yang menurut anda layak, kami tidak akan menentang anda dan tidak juga akan melontarkan suatu tuduhan terhadap anda.”[22]

Setelah itu Hadhrat Ali (ra) berbicara, kemudian Hadhrat Abu Bakr (ra) berdiri di antara orang-orang dan berdzikir kepada Allah Ta’ala serta mengirimkan shalawat kepada Yang Mulia Nabi (saw), kemudian bersabda: “Wahai manusia! Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya kepada kalian melalui perantaraan Islam, dan melalui jihad Dia telah menganugerahkan kehormatan kepada kalian, dan dengan perantaraan agama ini Dia telah memberikan keunggulan kepada kalian di atas semua agama. Alhasil, wahai para hamba Allah! Persiapkanlah pasukan untuk berperang dengan Romawi di Syam.”

Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) meminta saran dari para sahabat mengenai siapa yang akan dikirim ke Bahrain sebagai gubernur setelah Hadhrat Aban bin Sa’id, maka Hadhrat Utsman bin Affan (ra) mengatakan, “Kirimlah orang yang Rasulullah (saw) pernah tetapkan sebagai gubernur orang-orang Bahrain dan menjadi wasilah mereka menerima Islam dan taat, dan ia pun mengetahui dengan baik penduduk serta wilayah di sana. Beliau adalah ‘Ala bin Hadhrami. Atas saran ini Hadhrat Abu Bakr (ra) sepakat untuk mengirim ‘Ala bin Hadhrami ke Bahrain.[23]

Diriwayatkan dari Hadhrat Ibnu Abbas (ra) bahwa dalam masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr (ra) suatu ketika tidak turun hujan. Orang-orang datang ke hadapan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan mengatatakan bahwa hujan tidak turun, tanah tidak menumbuhkan tanaman, orang-orang terancam musibah yang sangat besar. Hadhrat Abu Bakr (ra) bersabda, “Pergilah kalian dan bersabarlah, Allah Ta’ala akan menjauhkan kegelisahan kalian hingga sore.”

Tidak berapa lama kafilah dagang Hadhrat Utsman (ra) yang terdiri dari 100 unta bermuatan gandum dan berbagai bahan makanan tiba di Madinah dari Syam. Mendengar kabar ini orang-orang pergi ke rumah Hadhrat Utsman (ra) dan mengetuk pintu.

Hadhrat Utsman (ra) keluar kepada orang-orang dan bertanya, “Apa yang Anda inginkan?”

Orang-orang mengatakan, “Anda tahu bahwa ini adalah masa tahun paceklik, langit tidak menurunkan hujan, tanah tidak menumbuhkan tanaman. Orang-orang sangat gelisah. Kami tahu bahwa Anda memiliki gandum, juallah itu kepada kami supaya kami bisa membagikannya kepada para fakir miskin.”

Hadhrat Utsman bersabda, “Baiklah, mari masuk!”

Para pedagang itu masuk ke rumah beliau (ra) dan mendapati gandum tersimpan di rumah Hadhrat Utsman (ra). Hadhrat Utsman (ra) bersabda kepada para pedagang, “Berapa keuntungan yang akan Anda berikan terhadap barang-barang yang saya beli dari Yaman?”

Orang-orang yang merupakan para pedagang tersebut yang berkeinginan untuk membagi-bagikan mengatakan, “Kami akan membayar 12 dirham dari harga beli 10 dirham. Jika harganya 10 dirham, maka kami akan membayarnya 12 dirham.”

Hadhrat Utsman (ra) bersabda, “Saya mendapatkan keuntungan lebih besar dari itu.” Mereka berkata, “Kami akan membayar 15 dirham dari harga 10 dirham. Bukan 10 dirham, kami siap untuk membeli dengan harga 15 dirham.”

Hadhrat Utsman (ra) bersabda, “Saya mendapatkan lebih dari itu.”

Para saudagar itu mengatakan, “Wahai Abu Amru! Di Madinah selain kami tidak ada pedagang lain. Lalu siapa yang membayar lebih banyak dari itu kepada Anda.”

Hadhrat Utsman (ra) bersabda, “Allah Ta’ala memberikan kepada saya sepuluh kali lipat sebagai pengganti dari setiap dirham. Apakah Anda sekalian bisa memberikan lebih banyak dari itu?”

Mereka mengatakan, “Tidak! kami tidak bisa memberikan lebih dari itu.”

Mendengar ini Hadhrat Utsman (ra) bersada, “Dengan menjadikan Allah sebagai saksi, aku sedekahkan semua gandum ini untuk orang-orang Islam yang miskin. Yakni aku akan memberikan seluruh gandum tersebut kepada orang-orang miskin dan tidak akan memberikan harga.”[24]

Hadhrat Ibnu Abbas (ra) mengatakan, pada malam ketika peristiwa pembagian gandum ini terjadi, pada malam itu saya melihat Rasulullah (saw) dalam mimpi. Beliau (saw) menunggangi kuda yang bukan kuda Arab yang bertubuh kekar, beliau (saw) memakai baju bercahaya, kaki beliau (saw) mengenakan sepatu yang bercahaya dan pada tangan beliau memegang tongkat cahaya dan beliau (saw) sedang tergesa-gesa.

Saya berkata: Wahai Rasulullah! Saya sangat berkeinginan untuk bercakap cakap dengan tuan, tuan Nampak sedang tergesa gesa, akan pergi kemana gerangan? Rasulullah bersabda: Wahai Ibnu Abbas! ‘Utsman telah bersedekah dan Allah Ta’ala menerima sedekahnya lalu menikahkannya di surga dan kami diundang untuk hadir dalam pernikahannya.[25]

Berkenaan dengan kiprah, maqom dan kedudukan Hadhrat ‘Utsman pada zaman Hadhrat Umar, akan saya sampaikan beberapa hal berikut, Setelah terpilih sebagai Khalifah, Hadhrat Umar meminta musyawarah dari para sahabat besar berkenaan dengan besaran tunjangan beliau dari Baitul Maal.

Hadhrat ‘Utsman berkata: Silahkan penuhi kebutuhan makanan dan untuk membantu orang lain juga. Segala kebutuhan Anda harus terpenuhi dari tunjangan tersebut, begitu juga kebutuhan orang-orang. Tuan tidak perlu menentapkan besarannya.

Ketika cakupan kemenangan Islam semakin meluas dan harta yang diperoleh semakin banyak, Hadhrat Umar mengumpulkan beberapa sahabat untuk meminta musyawarah berkenaan dengan harta yang diperoleh. Hadhrat ‘Utsman berkata: Saya melihat sekarang harta sudah semakin banyak dan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Namun belum diadakan sensus pnduduk, agar bisa diketahui siapa yang telah mengambil bagiannya dan siapa yang belum. Jika tidak dibuat sensus, saya khawatir akan timbul masalah nantinya. (terkadang orang mengambil bagiannya lebih dari satu kali, untuk itu perlu dibuat pengaturan yang baik).

Hadhrat Umar menyetujui usulan Hadhrat ‘Utsman. Setelah itu beliau melakukan sensus dan mendaftar nama penduduk, setelah itu setiap orang mendapatkan bagiannya sesuai dengan pengaturan itu.

Berkenaan dengan kekhalifahan Hadhrat ‘Utsman terdapat nubuatan Rasulullah juga. Ini pernah dijelaskan sebelumnya. Di dalamnya terdapat isyarah dari mengenakan pakaian dan orang-orang munafik berusaha untuk membuka pakaian itu dari beliau.

Hadhrat Abu Bakr meriwayatkan, “Rasulullah (saw) suatu hari pernah bersabda: Apakah diantara kalian ada yang melihat mimpi?

Seseorang berkata: ‘Saya melihat mimpi. Dalam mimpi itu terlihat seakan akan  ada timbangan yang turun dari langit. Lalu Hadhrat Rasulullah dan Hadhrat Abu Bakr ditimbang dengan timbangan tersebut, Hadhrat Rasulullah lebih berat dari Hadhrat Abu Bakr. Kemudian Hadhrat Abu Bakr ditimbang dengan Hadhrat Umar, Hadhrat Abu Bakr lebih berat timbangannya. Lalu Hadhrat Umar dengan Hadhrat ‘Utsman, ternyata Hadhrat Umar lebih berat timbangannya. Lalu timbangan diangkat.’

Setelah itu kami melihat raut ketidaksukaan pada wajah Rasulullah. Beliau tidak memperlihatkan kebahagiaan atas mimpi itu.”

Dalam satu Riwayat, Hadhrat Jabir bin Abdillah meriwayatkan, Rasulullah (saw) bersabda: Pada malam tadi diperlihatkan mimpi kepada seorang yang saleh bahwa Hadhrat Abu Bakr disandingkan dengan Hadhrat Rasulullah saw, Hadhrat Hadhrat Umar dengan Abu Bakr, Hadhrat ‘Utsman dengan Hadhrat Umar, Hadhrat Jabir berkata: Setelah kami Kembali dari menemui Rasulullah, kami berkata: yang dimaksud pria saleh di sini adalah Rasulullah (saw) dan maksud dari bersandingnya antara satu dengan yang lainnya adalah orang-orang tersebut akan menjadi wali bagi agama yang bersamanya Allah Ta’ala mengutus Rasulullah.

Hadhrat Samurah bin Jundub meriwayatkan, “Ada seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah! Saya melihat, seakan akan ada sebuah wadah berisi air yang tergantung dilangit. Pertama, datang Abu Bakr, beliau memegang kedua kayunya lalu meminumnya sedikit darinya. Kemudian datang Umar, beliau memegang kedua kayunya lalu meminumnya sampai kenyang. Kemudian ‘Utsman datang, beliau memegang kedua kayunya lalu meminumnya sampai kenyang. Kemudian datang Hadhrat Ali, beliau memegang kedua kayunya lalu wadah tersebut bergerak sehingga sebagian airnya jatuh keatas beliau.’”

Ini pun merupakan isyarah berdasarkan urutan khalifah. Adapun masa yang dilalui oleh Hadhrat Ali adalah mengisyarahkan pada masa sulit dimana beliau tidak mendapat kesempatan untuk meminum air dari wadah itu dengan baik.

Berkenaan dengan didirikannya Lembaga majlis Syura untuk pemilihan Khalifah setelah Hadhrat Umar, Hadhrat Miswar bin Makhramah meriwayatkan, “Ketika Hadhrat Umar bin Khaththab dalam keadaan baik, disampaikan permohonan kepada beliau untuk menetapkan seseorang sebagai Khalifah. Namun, beliau selalu menolaknya. Suatu hari beliau berdiri di mimbar dan menyampaikan beberapa patah kata dengan bersabda, ‘Jika saya mati nanti maka urusan kalian akan saya serahkan kepada enam orang yang mana tatkala Rasulullah (saw) wafat dalam keadaan beliau (saw) ridha kepada mereka. Hadhrat Ali bin Abi Thalib dan Nazhirnya (orang yang mempunyai kandungan kesamaan dengannya) yaitu Hadhrat Zubair bin Awwam; Hadhrat Abdurrahman bin Auf dan Nazhirnya, Hadhrat ‘Utsman bin Affan; Hadhrat Thalhah bin Ubaidullah dan Nazhirnya, Hadhrat Sa’d bin Malik. Camkan! Saya perintahkan kalian untuk menempuh takwa kepada Allah ketika memutuskan dan adil dalam membagi.’”[26]

(عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ قَالَ :) Abu Ja’far meriwayatkan, “Hadhrat Umar bin Khaththab mengatakan kepada anggota Syura, ‘Bermusyawarahlah dalam urusan kalian. Jika perolehan suara dua dan dua maka musyawarahlah lagi. Jika perolehan suara empat dan dua maka pilihlah yang suara terbanyak.’”

Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya bahwa Hadhrat Umar bersabda, “Jika perolehan suara 3 dan 3 maka dengarkan pihak yang di dalamnya terdapat Abdurrahman bin Auf dan taatlah padanya.”

 Abdurrahman bin Said meriwayatkan, أَنَّ عُمَرَ حِينَ طُعِنَ قَالَ: “Ketika Hadhrat Umar terluka, beliau bersabda, ‘Shuhaib akan memimpin shalat diantara kalian.’ Artinya, Hadhrat Suhaib ditetapkan sebagai Imam Shalat. Beliau mengatakan hal itu tiga kali. ‘Bermusyawarahlah dalam urusan kalian dan urusan tersebut diserahkan kepada enam orang tersebut. Jika ada orang yang menentang keputusannya maka tebaslah lehernya.’”[27]

(عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ :) Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan,  “Beberapa saat sebelum kewafatan, Hadhrat Umar mengirimkan pesan kepada Hadhrat Abu Thalhah dengan bersabda, ‘Abu Thalhah! Bawalah 50 orang dari antara kaum Anshar kepada enam orang anggota Syura tadi. Jangan tinggalkan mereka sampai tiga hari tatkala telah mereka tetapkan seorang Amir (Khalifah) diantara mereka. Allahumma Anta Khalifatii ‘alaihim – Ya Allah! Engkau adalah Khalifah hamba atas mereka.’”[28]

(عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ) Ishaq bin Abdillah bin Abu Thalhah meriwayatkan, “Hadhrat Abu Thalhah dan kawan-kawannya berhenti di kuburan Hadhrat Umar untuk beberapa saat. Setelah itu mereka menyertai para sahabat anggota Syura. Setelah anggota Syura menyerahkan urusannya kepada Hadhrat Abdurrahman bin Auf bahwa beliau diberikan wewenang untuk menetapkan Amir kepada siapapun, sampai saat itu Hadhrat Abu Thalhah dan kawan-kawannya berjaga di pintu rumah Hadhrat Abdurrahman bin Auf sebelum baiat kepada Hadhrat ‘Utsman (ra).”

(عَنْ سَلَمَةَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ :) Hadhrat Salamah bin Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf meriwayatkan dari ayahnya, أَوَّلُ مَنْ بَايَعَ لِعُثْمَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ. “Hadhrat Abdurrahman bin Auf adalah yang pertama kali baiat kepada Hadhrat ‘Utsman (ra) lalu Hadhrat Ali bin Abu Thalib (ra).”

Bekas budak Hadhrat Umar bernama Umar bin Umairah bin Hunayyi meriwayatkan dari kakeknya, “Hadhrat Ali (ra) adalah yang pertama kali baiat kepada Hadhrat ‘Utsman (ra) lalu diikuti oleh semua orang.”[29]

Dalam satu riwayat Bukhari tertulis bahwa Ketika Hadhrat Umar berdiri mengucapkan takbir untuk memulai shalat, saat itu terjadi serangan pembunuhan terhadap beliau. Dalam keadaan luka, Hadhrat Umar (ra) memegang tangan Hadhrat Abdurrahman bin Auf lalu memintanya untuk mengimani shalat menggantikan beliau. Kemudian Hadhrat Abdurrahman bin Auf memimpin shalat dengan singkat.[30]

Dalam sahih Bukhari, pada saat terakhir Ketika Hadhrat Umar (ra) sakit, dan juga nasihat untuk khalifah selanjutnya dan berkenaan dengan Majlis Syura, dijelaskan bahwa orang-orang memohon, أَوْصِ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ اسْتَخْلِفْ‏.‏ “Wahai Amirul Mu-minin! Berikanlah wasiyat dengan menetapkan seseorang yang akan menjadi Khalifah berikutnya.”

Beliau (ra) bersabda, “Saya tidak mendapati orang yang lebih berhak daripada beberapa orang ini atau tokoh-tokoh terkemuka ini untuk menjadi Khalifah. Mereka ialah orang-orang yang diridhai oleh Rasulullah (saw) ketika beliau (saw) wafat.”

Hadhrat Umar menyebut nama Hadhrat Ali, Hadhrat ‘Utsman, Hadhrat Zubair, Hadhrat Thalhah, Hadhrat Sa’d, Hadhrat Abdurahman bin Auf (radhiyallahu ‘anhum).

Hadhrat Umar (ra) berkata lagi, “Abdullah bin Umar akan ikut dalam Dewan Pemilihan ini namun ia tidak memiliki hak untuk dipilih menjadi Khalifah.”[31] (Sebelum ini pernah saya sampaikan juga sehingga saya persingkat saja)

Setelah penguburan Hadhrat Umar (ra) selesai, orang-orang yang namanya disebut oleh beliau (ra) berkumpul. Hadhrat Abdurahman bin Auf berkata [kepada anggota Dewan pemilihan Khalifah], ‘Serahkan urusan [pilihlah calon Khalifah] kepada tiga orang diantara kalian.’

Hadhrat Zubair berkata, ‘Saya berikan wewenang saya kepada [saya memilih] Hadhrat Ali.’ Hadhrat Thalhah berkata, ‘Saya memilih Hadhrat ‘Utsman.’ Hadhrat Sa’d berkata, ‘Saya memilih Abdurrahman bin Auf.’

Hadhrat Abdurrahman berkata kepada Hadhrat Ali dan Hadhrat ‘Utsman, ‘Siapa pun diantara Anda berdua yang lepas tangan dari urusan ini [mundur dari pencalonan atau tidak dicalonkan], akan kami serahkan urusan ini (pemilihan Khalifah) kepada orang tersebut. Semoga Allah dan Islam akan menjadi pengawas baginya. Dia akan memilihkan seseorang yang menurut-Nya utama, yakni yang dalam pandangan Allah Ta’ala utama.’ (Maksudnya Hadhrat Abdurrahman (ra) menawari mereka berdua agar salah seorang menjadi ketua pemilihan Khalifah dan jika tidak ada yang mau maka beliau yang menjadi ketua pemilihan)

Ucapan ini telah membuat kedua wujud suci ini terdiam yakni beliau-beliau tidak menjawab apa-apa. Hadhrat Abdurrahman lalu berkata: ‘Apakah kalian rela menyerahkan pemilihan ini kepada saya sehingga saya memiliki tanggungjawab terhadap Allah untuk tidak meninggalkan seorang yang lebih baik dari antara kalian?’

Keduanya (Ali dan Utsman) menjawab, ‘Ya, kami rela.’

Abdurrahman bin Auf memegang tangan salah satu dari keduanya [Ali bin Abi Thalib] dan berkata kepadanya: ‘Anda memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan Anda terdahulu dalam masuk Islam. Kewajiban Anda atas Allah, seandainya saya mengangkat Anda sebagai pemimpin, hendaklah Anda berbuat adil. Seandainya saya mengangkat Ustman sebagai pemimpin maka Anda harus mendengar dan menaatinya.’

Abdurrahman bin Auf lalu memegang tangan calon lainnya [Utsman] dan mengatakan hal serupa kepadanya. Setelah Abdurrahman bin Auf selesai mengambil perjanjian, dia berkata, ‘Utsman! Julurkanlah tangan Anda!’ Hadhrat Abdurrahman lalu baiat kepada Hadhrat ‘Utsman diikuti Hadhrat Ali. Penghuni rumah yang lainnya pun masuk kemudian baiat kepada Hadhrat ‘Utsman (riwayat Bukhari).” [32]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peranan Hadhrat Abdurrahman bin Auf pada peristiwa pemilihan khalifah Hadhrat ‘Utsman. Sebelumnya telah ada dua riwayat yang mana hanya pada satu tempat terdapat perbedaan sedangkan selebihnya sama. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika Hadhrat Umar terluka dan merasa saat-saat terakhir beliau telah tiba, beliau membuat wasiat mengenai enam orang yang akan memilih salah satu diantara mereka sendiri untuk menjadi Khalifah. Enam orang itu adalah Hadhrat ‘Utsman, Hadhrat Ali, Hadhrat Abdurahman bin Auf, Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash, Hadhrat Zubair dan Hadhrat Thalhah (radhiyallahu ‘anhum). Seiring dengan itu Hadhrat Umar pun memerintahkan, يَشْهَدُكُمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَلَيْسَ لَهُ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ “Abdullah bin Umar akan ikut dalam Dewan Pemilihan ini sebagai pemberi saran namun hendaknya ia tidak dicalonkan menjadi Khalifah.”

Beliau (Hadhrat ‘Umar ra) mewasiatkan supaya Dewan Pemilihan tersebut memutuskan dalam tiga hari dan beliau menetapkan Shuhaib bin Sinan sebagai imam shalat dalam waktu tiga hari tersebut.

Beliau juga menetapkan Miqdad bin Aswad sebagai pengawas Dewan Pemilihan lalu memerintahkan padanya: ‘Kumpulkan para anggota Dewan tersebut di satu tempat. Tegaskanlah pada mereka untuk memutuskan. Kamu sendiri berjaga di dekat pintu dengan membawa pedang.’”[33]

Pada riwayat yang saya sebut terdahulu telah saya sampaikan mengenai perintah Hadhrat ‘Umar (ra) kepada Hadhrat Thalhah untuk menjaga rapat Dewan pemilihan Khalifah. Akan tetapi, kesimpulan yang Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) ambil berdasarkan riwayat dari berbagai rujukan, tugas pengawasan tersebut diserahkan kepada Miqdad bin Aswad untuk mengawasi selama pemilihan Khilafat.

Beliau (Hadhrat ‘Umar ra) bersabda, ‘Siapa pun yang mendapat suara terbanyak, para anggota lainnya harus baiat kepada orang terpilih itu. Jika ada anggota yang menentang keterpilihannya, bunuhlah ia. Namun jika suara terbagi dua dan berjumlah sama yaitu masing-masing tiga suara, Abdullah bin Umar boleh memberikan saran mengenai siapa yang menjadi Khalifah. Jika keputusan tersebut tidak disetujui para anggota, siapapun yang dipilih oleh Abdurahman bin Auf-lah yang akan menjadi Khalifah.’[34]

Akhirnya, kelima sahabat tadi bermusyawarah karena saat itu Thalhah sedang berada di luar Madinah. Namun, mereka tidak menghasilkan satu keputusan. Setelah berdiskusi panjang, Abdurahman bin Auf berkata, ‘Siapa yang ingin menarik namanya, silakan.’

Ketika semuanya terdiam, Hadhrat Abdurahman bin Auf berkata, فَأَنَا أَنْخَلِعُ مِنْهَا، فَقَالَ عُثْمَانُ: أَنَا أَوَّلُ مَنْ رضى ‘Saya adalah orang pertama yang akan menarik nama.’ Hal ini lalu diikuti Hadhrat ‘Utsman dan kedua sahabat lainnya. Hadhrat Ali tetap terdiam.

Akhirnya, para anggota Dewan Pemilihan mengambil janji dari Hadhrat Abdurahman bin Auf bahwa beliau tidak akan berat sebelah dalam memutuskan nanti. Hadhrat Abdurrahman berjanji demikian. Para anggota Dewan Pemilihan menyerahkan semua tugas dan tanggungjawab kepada Hadhrat Abdurahman bin Auf dalam hal keputusan penetapan siapa yang akan menjadi Khalifah.

Selama tiga hari Hadhrat Abdurahman bin Auf (ra) berkeliling Madinah mengunjungi tiap rumah. Beliau menanyakan kepada setiap penduduk, baik pria maupun wanita mengenai siapa yang paling tepat mendapatkan jabatan Khalifah. Semuanya memperlihatkan persetujuannya atas Khilafat Hadhrat ‘Utsman. Selanjutnya, beliau (Hadhrat Abdurahman bin Auf) memberikan keputusannya terhadap Hadhrat ‘Utsman sebagai Khalifah dan Hadhrat ‘Utsman pun menjadi Khalifah.”[35]

Allamah Ibnu Sa’d menulis, “Hadhrat ‘Utsman diambil baiat pada hari senin tanggal 29 Dzul Hijjah tahun ke-23 Hijriah.”[36]

(عَنِ النَّزَّالِ بْنِ سَبْرَةَ قَالَ:) an-Nazzaal bin Sabrah meriwayatkan, “Ketika Hadhrat ‘Utsman terpilih sebagai Khalifah, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud bersabda, ‘Kita telah memilih orang terbaik diantara orang-orang yang masih hidup dan kita tidak melakukan kealpaan dalam pemilihan ini.’”[37]

Paska terpilihnya Hadhrat ‘Utsman sebagai Khalifah, menyampaikan pidato pertama, berkenaan dengan itu terdapat Riwayat. Ismail bin Ibrahim (إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ) meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abu Rabiah Makhzumi meriwayatkan dari ayahnya yang mengatakan, “Ketika Hadhrat ‘Utsman diambil baiat, beliau datang ke hadapan hadirin lalu menyampaikan pidato. Setelah menyampaikan puji sanjung kepada Ilahi Rabbi bersabda, ‘Wahai manusia, sesuatu yang dilakukan pertama kali adalah sulit.” (Pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang pada kali pertama biasanya adalah sulit.) “Setelah hari ini akan datang hari-hari. Jika saya masih hidup, insya Allah akan dapat saya sampaikan pidato yang sesuai dan menyeluruh untuk kalian. Pada hari ini saya sampaikan pidato secara singkat karena saya bukan seorang juru pidato (orator). Namun, Allah Ta’ala akan mengajarkan saya cara untuk berpidato yang baik.’”[38]

Badr bin ‘Utsman meriwayatkan dari pamannya, “Ketika para anggota syura baiat kepada Hadhrat ‘Utsman, Hadhrat ‘Utsman keluar dalam kondisi paling sedih diantara orang-orang. Kemudian beliau menaiki mimbar Rasulullah dan berpidato di hadapan hadirin. Pertama tama beliau menyampaikan puji sanjung ke hadirat Ilahi Rabbi lalu mengirim salawat kepada Rasulullah (saw) dan bersabda:  ‘Sesungguhnya kalian berada didalam suatu rumah yang akan kalian tinggalkan nantinya yakni dunia dan kalian berada pada bagian penghujung usia. Untuk itu sebelum datangnya maut, seberapa banyak kalian dapat berbuat baik, lakukanlah. Sesungguhnya kalian berada dalam kepungan maut dan musuh akan menyerang kalian pagi dan petang. Waspadalah, sesungguhnya dunia ini dipenuhi dengan makar dan tipudaya. Jangan sampai kehidupan duniawi menggelincirkanmu. Jangan sampai syaitan si penipu ulung menjerumuskanmu dalam tipuan berkenaan dengan Allah Ta’ala. Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah berlalu. Berusahalah dengan kuat dan janganlah lalai, karena Allah Ta’ala tidaklah lalai dari kalian. Dimanakah orang-orang materialistic dan saudaranya yang telah merobek robek bumi lalu menghuninya dan dalam jangka waktu yang lama terus mengambil keuntungan darinya. Apakah ia tidak membuangnya keluar. Kalianpun buanglah dunia ini ketempat dimana Allah telah membuangnya. Carilah Akhirat, karena dalam memberikan permisalan perihal akhirat dan sesuatu yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman, وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا ﴿﴾الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا ﴿﴾ ‘Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.’ Setelah itu orang-orang menghampiri untuk berbaiat kepada beliau.”[39]

Saya akan sampaikan perihal penaklukan yang terjadi pada zaman Hadhrat ‘Utsman ra. Pada masa kekhalifahan beliau, Allah Ta’ala memberikan kemenangan kepada umat muslim untuk menaklukan beberapa daerah berikut: [1] Penaklukan Afrika yaitu di kawasan Aljazair dan Marakesy (Maghreb, Maroko); [2] Gerakan pertama untuk menyerang dan menaklukan Andalusia, Spanyol pada tahun 27 Hijriah; [3] Penaklukan Qabras (Cyprus) pada tahun 28 Hijriah; [4] Penaklukan Thabaristan pada tahun 30 Hijriah; [5] Peperangan Dzatus Sawari [dzatush shawari artiya tiang-tiang kapal. Perang melawan Romawi di laut tengah dekat Afrika Utara], [6] Penaklukan Armenia dan [7] Penaklukan Khurasan pada tahun 31 Hijriah; [8] Melakukan agresi ke negeri-negeri jajahan Romawi diantaranya Marwarrauz, Thaliqon, Faryab, Jauzjan dan Thakharstan; [9] Penaklukan Balakh Kharaad pada tahun 32 Hijriah. [10] Selain itu, diterangkan pula pada masa Hadhrat ‘Utsman, Islam sudah masuk ke Hindustan.[40]

Secara singkat pengenalan perihal itu sebagai berikut: Pada tahun 27 Hijriah, Hadhrat ‘Utsman memberangkatkan Hadhrat Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh bersama dengan 10 ribu pasukan ke Ifriqiyyah (Afrika). Maksud Afrika dalam hal ini adalah daerah Marakesh dan Aljazair. Alhasil, Allah Ta’ala memberikan kemenangan kepada pasukan Muslim. Pada tahun 27 Hijriyyah dilakukan penyerangan ke Andalusia, Spanyol. Hal ini dilakukan setelah Hadhrat ‘Utsman memerintahkan Hadhrat Abdullah bin Nafi bin al-Hushain al-Fihri (عبدالله بن نافع بن الحصين) dan Abdullah bin Nafi bin Abdul Qais al-Fihri (عبدالله بن نافع بن عبدالقيس) supaya dari Afrika melakukan agresi ke Andalusia.[41] Mereka bergerak ke Andalusia dan Allah Ta’ala menganugerahkan kemenangan kepada pasukan Muslim.[42]

Pada tahun 28 Hijri berhasil menaklukan Qabrash (Pulau Cyprus). Abu Mahsyar berpendapat bahwa Qabras ditaklukan pada tahun 33 hijri. Sedangkan sebagian lagi berpendapat perang dengan Qabras terjadi pada tahun 27 Hijriah. Adapun Tarikh Thabari dan Bidayah wan Nihaayah keduanya menjelakan kejadian itu terhadi pada tahun 28 Hijriah. Diantara sahabat yang ikut serta pada perang tersebut adalah Hadhrat Abu Dzar Ghaffari, Hadhrat Ubadah bin Samit dan istri beliau Hadhrat Ummu Haram Binti Milhaan, Hadhrat Miqdad, Hadhrat Abu Darda, Hadhrat Syidad bin Auf.

Qabras terletak di sebelah barat negeri Syria, pulau terpisah. Di daerah tersebut dijumpai banyak perkebunan dan bahan tambang. Qabras berhasil ditaklukan pada masa Hadhrat ‘Utsman atas izin dan perintah beliau di bawah pimpinan Amir Muawiyah. Pada perang tersebut ikut serta juga Hadhrat Ummi Haram Binti Mulhaan yang pernah dikabarkan akan mati syahid oleh Rasulullah. Sepulangnya dari perang tersebut dibawakan kendaraan untuk beliau, lalu beliau mengendarainya, namun terjatuh dari atas kendaraan tersebut sehingga tulang leher beliau patah dan mengakibatkan syahidnya beliau.

Pembahasan masih terus berlanjut nanti insya Allah.

Hari ini saya ingin menghimbau juga untuk berdoa, teruslah doakan untuk para Ahmadi Pakistan. Semoga Allah Ta’ala memperbaiki kondisi disana dan semoga para Ahmadi disana diberikan taufik untuk berdoa dan juga mengislah diri, taufik untuk meningkatkan jalinan dengan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala segera mengganti hari hari yang gelap ini dengan cahaya sehingga kita dapat menyaksikan para Ahmadi disana dapat memenuhi kewajiban mereka dengan bebas.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi (London-UK), Mln. Muhammad Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruk (Indonesia). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية – ابن هشام الحميري – ج ٣ – الصفحة ٦٩٢). Tercantum juga dalam As-Sirah an-Nabawiyah kama fi ‘Uyuunil Atsar (السيرة النبوية كما في عيون الأثر), dari Hijrah sampai wafat (من الهجرة حتى الانتقال), Ghazwah Dzatur Riqa’ (غزوة ذات الرقاع), Ghazwah Bani Muharib dan Bani Tsa’labah (غزو بني محارب وبني ثعلبة), Pejabat yang diangkat di Madinah (من استعمل على المدينة): واستعمل على المدينة أبا ذر الغفاري رضي اللهّٰ عنه، و يقال: عثمان بن عفان رضي اللهّٰ عنه فيما قال ابن هشام . Tercantum juga dalam Kelengkapan Tarikh Rasulullah oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

[2] As-Sirah an-Nabawiyah kama fi ‘Uyuunil Atsar (السيرة النبوية كما في عيون الأثر), dari Hijrah sampai wafat (من الهجرة حتى الانتقال), Ghazwah Dzatur Riqa’ (غزوة ذات الرقاع), Ghazwah Bani Muharib dan Bani Tsa’labah (غزو بني محارب وبني ثعلبة), shalat khauf (صلاة الخوف): قال ابن إسحاق: فلقي بها جمعاً من غطفان، فتقارب الناس، ولم يكن بينهم حرب، وقد خاف الناس بعضهم بعضًا، حتى صلى رسول اللهّٰ صلى اللهّٰ عليه وسلم بالناس صلاة الخوف، ثم انصرف بالناس. قال ابن سعد وكان ذلك أول ما صلاها وبين الرواة خلف في صلاة الخوف ليس هذا موضعه .

[3] As-Sirah an-Nabawiyah kama fi ‘Uyuunil Atsar (السيرة النبوية كما في عيون الأثر), dari Hijrah sampai wafat (من الهجرة حتى الانتقال), Ghazwah Dzatur Riqa’ (غزوة ذات الرقاع), Ghazwah Bani Muharib dan Bani Tsa’labah (غزو بني محارب وبني ثعلبة), sebab penamaan demikian (سبب تسميتها): وسميت بذلك لأنهم رَقَعّوُا فيها راياتهم، و يقال: ذات الرقاع شجرة بذلك الموضع، وقيل: لأن أقدامهم نقَبِتَ، فكانوا يلفون عليها الخرِقَ، وقيل: بل الجبل الذي نزلوا عليه كانت أرضه ذات ألوان تشبه الرقاع . Tercantum juga dalam (عمدة القاري – العيني – ج ١٧ – الصفحة ١٩٣).

[4] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كتاب المغازى), bab perang Dzatur Riqa’ (باب غَزْوَةُ ذَاتِ الرِّقَاعِ) nomor 4128.

[5] Kelengkapan Tarikh Rasulullah Oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

[6] Sunan an-Nasa’i nomor 4067, Kitab tentang keharaman menumpahkan darah (كتاب تحريم الدم), bab berkuasa atas orang-orang Murtad (باب الْحُكْمِ فِي الْمُرْتَدِّ).

[7] Sunan Abi Dawud, Kitab Al-Jihad (كتاب الجهاد), bab membunuh tawanan tanpa mengundangnya kepada Islam (باب قَتْلِ الأَسِيرِ وَلاَ يُعْرَضُ عَلَيْهِ الإِسْلاَمُ), 2683.

[8] Sunan Abi Dawud, Kitab al-Hudud atau pelaksanaan hukuman (كتاب الحدود), bab hukum atau perintah mengenai orang Murtad (باب الْحُكْمِ فِيمَنِ ارْتَدَّ). Sunan an-Nasa’i nomor 4069, Kitab tentang keharaman menumpahkan darah (كتاب تحريم الدم), Bab bertaubatnya orang Murtad (باب تَوْبَةِ الْمُرْتَدِّ): عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ فِي سُورَةِ النَّحْلِ ‏{‏ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ ‏}‏ إِلَى قَوْلِهِ ‏{‏ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ‏}‏ فَنُسِخَ وَاسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ ‏{‏ ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ ‏}‏ وَهُوَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الَّذِي كَانَ عَلَى مِصْرَ كَانَ يَكْتُبُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَزَلَّهُ الشَّيْطَانُ فَلَحِقَ بِالْكُفَّارِ فَأَمَرَ بِهِ أَنْ يُقْتَلَ يَوْمَ الْفَتْحِ فَاسْتَجَارَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَأَجَارَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم – “dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata mengenai Surat Nahl: ‘Siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir hingga firmanNya baginya azab yang besar kemudian dihapus dan Allah mengecualikan dari hal tersebut, Allah berfirman: Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Ayat ini mengisyaratkan pada Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, gubernur Mesir. Dahulunya ia menulis untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu syetan menyesatkannya dan ia kembali kepada kekafiran, maka beliau (saw) menyuruh untuk membunuhnya pada hari penaklukan Mekkah lalu Utsman bin Affan meminta untuk dilindungi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melindunginya.”

[9] Teks Arabnya sebagai berikut: وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ()  “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. Al-Mukminun : ayat 13 jika basmalah dihitung ayat pertama). ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ()   “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS. Al-Mukminun : 14) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ()  “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun : 15)

[10] At-Tafsir al-Kabir atau Mafaatihul Ghaib (التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب), Surah al-Muminun (سورة المؤمنون), ayat wa laqad khalaqnal insaan (قوله تعالى ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين); Al-Wahidi dalam kitab Asbabun Nuzul (الواحدي في “أسباب النزول); Tafsir al-Qurthubi; Tafsir Bahrul ‘Uluum juz 2 (تفسير السمرقندي المسمى بحر العلوم 1-3 ج2) karya Abu Laits as-Samarqandi. Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh kagum dengan keindahan ayat Al-Qur’an spontan mengucapkan, فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ fatabaarakallaahu ahsanal khaaliqiin. Ternyata, inilah lanjutan ayat sebelumnya.

[11] Tafsir-e-Kabir, Vol. 6, p. 139; sebagaimana tercantum dalam Al-Sirat al-Halabiyyah, Vol. 3, p. 130, Bab Dhikr Maghaziyah/Fath Makkah, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2002.

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[13] Usdul Ghabah karya Ibnu al-Atsir: إِنَّ زَوْجَتَهُ أُمَّ حَكِيمٍ بِنْتَ عَمِّهِ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ، سَارَتْ إِلَيْهِ، وَهُوَ بِالْيَمَنِ بِأَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ أَسْلَمَتْ قَبْلَهُ يَوْمَ الْفَتْحِ، فَرَدَّتْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمَ وَحَسُنَ إِسْلامُهُ، وَكَانَ مِنْ صَالِحِي الْمُسْلِمِينَ .

[14] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[15] As-Sirah an-Nabawiyah karya al-Halabi (السيرة الحلبية – الحلبي – ج ٣ – الصفحة ٤٠). Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d: ‏‏عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، أَنَّ أُمَّ حَكَيمٍ بِنْتَ الْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ ، كَانَتْ تَحْتَ عِكْرِمَةَ بْنِ أَبِي جَهْلٍ ، فَأَسْلَمَتْ يَوْمَ الْفَتْحِ بِمَكَّةَ ، وَهَرَبَ زَوْجُهَا عِكْرِمَةُ بْنُ أَبِي جَهْلٍ مِنَ الْإِسْلَامِ حَتَّى قَدِمَ الْيَمَنَ ، فَارْتَحَلَتْ أُمُّ حَكِيمٍ حَتَّى قَدِمَتْ عَلَى زَوْجِهَا بِالْيَمَنِ ، وَدَعَتْهُ إِلَى الْإِسْلَامِ ، فَأَسْلَمَ وَقَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الْفَتْحِ ، فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَ إِلَيْهِ فَرِحًا وَمَا عَلَيْهِ رِدَاءٌ حَتَّى بَايَعَهُ ، فَثَبَتَا عَلَى نِكَاحِهِمَا ذَلِكَ  .

[16] Buku atau Kitab Sirah al-Halabiyah, lengkapnya ialah As-Sirah al-Halabiyyah (atau Insanul Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun, Laporan Pandangan Mata atas Sejarah Hidup dia yang Tepercaya lagi Dipercayai/Nabi saw) karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi: وفي (بهحة المجالس في أنس الجالس) لابن عبد البر رحمه الله: أنه رأى في منامه أنه دخل الجنة، ورأى فيها عذقا فأعجبه وقال: لمن هذا؟ فقيل لأبي جهل فشق ذلك عليه وقال: لا يدخلها إلا نفس مؤمنة، فلما جاءه عكرمة بن جهل مسلما فرح به، وأول ذلك العذق لعكرمة . Kitab tarikh Ibnu Wardi (كتاب تاريخ ابن الوردي) karya Zainuddin Ibnu al-Wardi al-Jadd (ابن الوردي الجد، زين الدين), juz 1, bahasan (رأى في منامه أنه دخل الجنة ورأى فيها عذقا مدلى فأعجبه وقال لمن هو فقيل لأبي جهل فشق ذلك عليه وقال ما لأبي جهل والجنة والله لا يدخلها أبدا فلما أتاه عكرمة بن أبي جهل مسلما فرح به وتأول ذلك العذق عكرمة ابنه). Tercantum juga dalam Gharaibut Ru-ya wa Ajaibut Tawil (Keanehan Mimpi dan Keajaiban Penjelasannya) karya Imam Muhammad ibn Sirin dan Kitab Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis (بهجة المجالس وأنس المجالس) karya Ibnu Abdil Barr, hal. 249, MawqiAl Waroq. http://islamport.com/w/adb/Web/558/202.htm

[17] Jami’ at-Tirmidhi, Kitab Manaqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم) Book: 49, Hadith: 4065.

[18] Tuhfatul Ahwadzi (تحفة الأحوذي شرح جامع الترمذي للمباركفوري), bab (باب في مناقب عثمان بن عفان رضي الله عنه وَلَهُ كُنْيَتَانِ يُقَالُ أبُو عَمْرٍو وَأَبُو عَبْدِ اللّه)

[19] Tarikh Madinah Dimaasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 39 – عثمان بن عفان). Ibnu Katsir dalam karyanya al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), bahasan mengenai tahun 35 Hijriyyah (ثم دخلت سنة خمس وثلاثين), Peristiwa-Peristiwa yang diriwayatkan perihal keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan (الأحاديث الواردة في فضائل عثمان بن عفان), Pidato beliau (في ذكر شيء من خطبه). Tercantum juga dalam ar-Riyaadhun Nadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة), pasal ke-6 (الفصل السادس: في خصائصه).

[20] As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Perang Tabuk di bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyyah (غَزْوَةُ تَبُوكَ فِي رَجَبٍ سَنَةَ تِسْعٍ), dorongan berkorban harta (حَثُّ الرَّسُولِ عَلَى النَّفَقَةِ وَشَأْنُ عُثْمَانَ فِي ذَلِكَ).

[21] Hadits Musnad Imam Ahmad, Kitab Sisa musnad sahabat Anshar, No.23427, Hadits Sayyidah ‘Aisyah Radliyallahu ‘anha; Al-Ghadir oleh Syaikh Amini (الغدير – الشيخ الأميني – ج ٩ – الصفحة ٢٦٤). Sunan at-Tirmidzi, Kitab Manaqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab Manaqib ‘Utsman (عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ): يَا عُثْمَانُ إِنَّهُ لَعَلَّ اللَّهَ يُقَمِّصُكَ قَمِيصًا فَإِنْ أَرَادُوكَ عَلَى خَلْعِهِ فَلاَ تَخْلَعْهُ لَهُمْ.

[22] Mukhtashar Tarikh Dimasyq.

[23] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[24] Taisiril Karimil Mannaan fi Sirah ‘Utsman ibni ‘Affaan – Syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu (تيسير الكريم المنان في سيرة عثمان بن عفان – شخصيته وعصره) karya ‘Ali Muhammad ash-Shallabi.

[25] Taisiril Karimil Mannaan fi Sirah ‘Utsman ibni ‘Affaan – Syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu (تيسير الكريم المنان في سيرة عثمان بن عفان – شخصيته وعصره) karya ‘Ali Muhammad ash-Shallabi.

[26] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d bahasan mengenai Syura (ذِكْرُ الشُّورَى وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ)

[27] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d bahasan mengenai Syura (ذِكْرُ الشُّورَى وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ)

[28] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 3, pp. 44-46, Dzikr al-Shura wa maa kana min Amrihim atau bahasan mengenai Syura (ذِكْرُ الشُّورَى وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ), Dzikr Bai’ah Uthman, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[29] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 3, pp. 44-46, Dzikr al-Shura wa maa kana min Amrihim atau bahasan mengenai Syura (ذِكْرُ الشُّورَى وَمَا كَانَ مِنْ أَمْرِهِمْ), Dzikr Bai’ah Uthman, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[30] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang keutamaan para Sahabat (فَضَائِلِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ رَآهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ), bab Kisah Bai’at ‘Utsman (بَاب قِصَّةِ الْبَيْعَةِ وَالِاتِّفَاقِ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ وَفِيهِ مَقْتَلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا) Qissatul Bai‘ah wal-Ittifaq alaa Uthman bin Affan, Hadith 3700. Khalifah ‘Umar (ra) sebenarnya membuat kebijakan tawanan non Islam tidak boleh tinggal di Darul Khilafat (Pusat atau Markas tempat tinggal Khalifah), namun sebagian Sahabat memohon izin dibolehkan membawa tawanan non Muslim untuk dipekerjakan ke Madinah yang dengan berat hati diiznkan. Penyerang Khalifah ‘Umar (ra) saat shalat Shubuh berjamaah ialah orang Persia yang mendapat julukan Abu Lu-luah, budak Mughirah bin Syu’bah. Khalifah ‘Umar (ra) mengimami shalat dengan membaca Surah Yusuf dan An-Nahl. Setelah beliau ditikam 3 kali saat shalat itu, pelaku melarikan diri sambil membabi-buta menikam kanan dan kiri yang menimbulkan korban-korban meninggal dan luka. Kemudian, imam shalat diserahkan kepada Hadhrat ‘Abdurrahman bin ‘Auf (ra). Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Abbas (ra) mendapat tugas dari Khalifah ‘Umar untuk memeriksa identitas pelaku yang akhirnya tertangkap. Setelah dikabari, Khalifah ‘Umar bersabda diantaranya, قَاتَلَهُ اللَّهُ لَقَدْ أَمَرْتُ بِهِ مَعْرُوفًا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَجْعَلْ مِيتَتِي بِيَدِ رَجُلٍ يَدَّعِي الْإِسْلَامَ “Alhamdu lillah Yang telah menjadikan kematianku di tangan orang bukan Islam.” Tiga hari kemudian, wafatlah Khalifah ‘Umar (ra).

[31] Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Umar (ra) menjadi anggota Tim Formatur bukanlah murni tunjukan Khalifah ‘Umar (ra) menjelang wafatnya layaknya ayah menunjuk anaknya di suatu jabatan bersifat kekeluargaan. Sebelum itu, sebagian Sahabat telah menyebut-nyebut dan mengusulkan Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Umar (ra) sebagai calon Khalifah. Para Sahabat menyebutkan nama calon pun setelah ditanya oleh Khalifah ‘Umar (ra) yang saat itu tengah mengalami masa menjelang maut setelah diserang seseorang Persia, Feroz Abu Lu-lu saat shalat Shubuh. Sumber referensi: Khilafat Rashida karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra).

[32] Shahih al-Bukhari, Kitab keutamaan para Shahabat (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), bab mengenai kisah baiat dan kesepakatan terpilihnya Utsman bin Affan (بَابُ قِصَّةُ الْبَيْعَةِ، وَالاِتِّفَاقُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَفِيهِ مَقْتَلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا).

[33] Al-Bidaayah wan Nihaayah (البداية والنهاية – ابن كثير – ج ٧ – الصفحة ١٦٣); Tarikh al-Kaamil karya Ibnu Atsir (الكامل في التاريخ), bab peristiwa yang terjadi pada tahun 23 Hijriyyah (ثم دخلت سنة ثلاث وعشرين):إذا وضعتموني في حفرتي فاجمع هؤلاء الرهط في بيت حتى يختاروا رجلا .. Di samping bertugas sebagai imam shalat, Hadhrat Shuhaib (ra) juga mendapat tugas dari Khalifah Umar (ra) di kepanitiaan pemilihan Khalifah supaya Dewan dipastikan rapat. Abu Thalhah al-Anshari mengumpulkan 50 orang Anshar juga untuk berjaga. Tarikhul Khulafa karya Imam as-Suyuthi ialah yang menyebut pemisahan tugas mereka masing-masing bahwa pengawasan pemilihan berada di pundak Hadhrat Miqdad sementara Hadhrat Shuhaib sebagai Imam shalat.

[34] Tarikh ath-Thabari.

[35] Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra) dalam karyanya Khilafat-e-Rashidah, Anwar-ul-Ulum, Vol. 15, pp. 484-485

[36] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d. Tercantum juga dalam Aujazul Masaalik ila Muwatha Malik  (أوجز المسالك إلى موطأ مالك – ج 1 – 1وقوت الصلاة – 2الطهارة – 1 – 145); ‘Uyuunul Ma’arif wa Funuunul Akhbaril Khala-if (عيون المعارف وفنون أخبار الخلائف) karya Abu ‘Abdullah Muhammad bin Salamah al-Qudha’i (أبو عبد الله محمد بن سلامة بن جعفر بن علي القضاعي); Musnad Ahmad (مسند أحمد) karya Imam Ahmad [أحمد بن حنبل], (مسند العشرة المبشرين بالجنة), (مسند الخلفاء الراشدين), (مُسْنَدُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ): بُوِيعَ له يوم الاثنين لليلة بقيت من ذي الحجة سنة ثلاث وعشرين، وقُتِلَ يوم الجمعة لثمان عشرة خَلَت من ذي الحجة بعد العصر، ودُفِنَ ليلة السبت بين المغرب والعشاء، وهو ابن اثنين وثمانين سنةً وأَشهُر على الصحيح المشهور . Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري – الطبري – ج ٣ – الصفحة ٣٠٤): حدثني أبو بكر بن عبد الله بن أبي سبرة عن يعقوب بن زيد عن أبيه قالا بويع عثمان بن عفان يوم الاثنين لليلة بقيت من ذي الحجة سنة 23 فاستقبل بخلافته المحرم سنة 24 .

[37] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٣ – الصفحة ٦٣).

[38] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٣); Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 39 – عثمان بن عفان) karya Ibnu Asakir. Ibnu Katsir dalam karyanya al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), bahasan mengenai tahun 35 Hijriyyah (ثم دخلت سنة خمس وثلاثين), Peristiwa-Peristiwa yang diriwayatkan perihal keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan (الأحاديث الواردة في فضائل عثمان بن عفان), Pidato beliau (في ذكر شيء من خطبه).

[39] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), tahun ke-24 (ثم دخلت سنة أربع عشرين), peristiwa-peristiwa terkenal di tahun itu (ذكر مَا كَانَ فِيهَا من الأحداث المشهورة), pidato ‘Utsman (ra) dan pembunuhan Hurmuzan oleh ‘Ubaidullah putra ‘Umar bin al-Khaththab (خطبة عُثْمَان رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وقتل عُبَيْد اللَّهِ بن عُمَرَ الهرمزان). Hurmuzan ialah orang Persia yang dicurigai ‘Ubaidullah berkonspirasi membunuh ayahnya berdasarkan kesaksiannya sebelum upaya pembunuhan itu ia melihat Hurmuzan, Abu Luluah dan Jufainah berbincang-bincang dan pisau yang ada pada mereka sama dengan pisau yang digunakan Abu Luluah menyerang Hadhrat ‘Umar (ra).

[40] The Spread of Islam Throughout the World diedit oleh Idris El Hareir, Ravane Mbaye berdasarkan narasi Futuhul Buldaan karya al-Baladhuri dan Kitab Tarikh Khalifah ibnu Khayyat. Dijelaskan juga dalam buku Islam: Dari Invasi Mongol ke Penaklukan Muslim di India karya Willem Brownstok, Stanford Mc Krause, Yuri Galbinst. Penaklukan Muslim yang Mengubah Dunia oleh Hugh Kennedy. Sejarah Muslim India oleh Dr. Muhammad Abdul Azhim An-Nashr.  Hindustan yang dimaksud di sini ialah Balochistan, Makran dan daerah di dekat sungai Shindu atau Indus. Khalifah ‘Umar (ra) dan Khalifah ‘Utsman (ra) melarang pasukan Muslim lebih jauh melewati sungai Indus. Lebih dari 300 tahun kemudian pasukan Muslim yang melewati sungai Indus dan mantap menaklukkan India utara ialah bangsa Turki, Afghan dan Moghul (Mongol Islam) dengan pengaruh budaya dan bahasa Persia yang kuat hingga Inggris datang dan menggusurnya.

[41] Al-Kaamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ), Peristiwa pada tahun 27 Hijriyyah (ثم دخلت سنة سبع وعشرين), Perang melawan Andalusia (ذكر غزوة الأندلس): لما افتتحت إفريقية أمر عثمان عبد الله بن نافع بن الحصين وعبد الله بن نافع ابن عبد القيس أن يسيرا إلى الأندلس فأتياها من قبل البحر وكتب عثمان إلى من انتدب معهما‏:‏ أما بعد فإن القسطنطينية إنما تفتح من قبل الأندلس‏.‏ فخرجوا ومعهم البربر ففتح الله على المسلمين وزاد في سلطان المسلمين مثل إفريقية‏.  . Tercantum juga dalam Bayān al-muġrib fī aḵbār al-Maġrib diedit oleh Reinhart Pieter Anne Dozy. Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam karyanya al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), juz ke-7 (الجزء السابع) bahasan mengenai tahun 27 Hijriyyah (ثم دخلت سنة سبع وعشرين), Ghazwah al-Ifriqiyah (غزوة إفريقية) dan Ghazwah Al-Andalus (غزوة الأندلس).

[42] Tarikh al-Umam wal Muluuk (تاريخ الأمم والملوك) karya ath-Thabari (محمد بن جرير الطبري أبو جعفر), Darul Kutubil ‘Ilmiyyah – Beirut, Lebanon (دار الكتب العلمية – بيروت), terbitan pertama – 1407: عن أبي حارثة وأبي عثمان قالا لما ولي عثمان أقر عمرو بن العاص على عمله وكان لا يعزل أحدا إلا عن شكاة أو استعفاء من غير شكاة وكان عبدالله بن سعد من جند مصر فأمر عبدالله بن سعد على جنده ورماه بالرجال وسرحه إلى إفريقية وسرح معه عبدالله بن نافع بن عبدالقيس وعبدالله بن نافع بن الحصين الفهريين وقال لعبدالله بن سعد إن فتح الله عز و جل عليك غدا إفريقية فلك مما أفاء الله على المسلمين خمس الخمس من الغنيمة نفلا وأمر العبدين على الجند ورماهما بالرجال وسرحهما إلى الأندلس وأمرهما وعبدالله بن سعد بالاجتماع على الأجل .

(Visited 58 times, 1 visits today)